Wednesday, August 31, 2011

Petasan = Bakar Duit


Bogor dini hari ketika tanggalan beralih dari 30 ke 31 Agustus tahun 2011.

Saya sudah merebahkan diri di kasur sementara kaki diselonjorkan dengan kaki sedikit terangkat keatas.

Rasanya badan ini perlu istirahat setelah seharian beraktivitas dalam rangka menerima tamu bersilaturahmi Idul Fitri ke rumah orang tua.

Namun tangan masih iseng membaca BlackBerry Messanger (BBM) sembari memantau linimasa twitter. Tiba-tiba ada posting dengan topik membahas “petasan”.

Hari Lebaran identik dengan petasan. Saat saya kecil pun pernah memainkan kembang api atau melempar petasan banting usai berbuka puasa di bulan Ramadan.

Kini aktivitas itu telah hilang di keluarga. Bahkan kepada keponakan-keponakan tidak pernah diajak bermain kembang api, air mancur, atau mercon. Tidak kenal pula mereka dengan istilah: petasan kentut, cabe rawit, jangwe, petasan 5 sampai 10 bola, atau petasan gangsing.

Kembali ke posting teman saya tadi, pernyataannya lebih kurang menunjukkan keheranannya kepada orang yang menggunakan ratusan ribu hingga jutaan untuk membakar petasan. “Tidak sadarkah ada orang-orang lain yang tidak tahu hari ini mau makan apa karena tidak punya duit,” katanya.

Intinya petasan = bakar duit. Orang selalu mengidentikkan kalimat bakar duit kepada perokok, tapi menurutku derajat membakar duit lebih parah pada orang yang bermain petasan.

Saya sering menemukan perokok ketika menghisap batang rokoknya, membangkitkan impuls syaraf saat mengetik atau menuangkan pikiran. Tapi orang membakar petasan tidak jelas menemukan kenikmatan apa kecuali mendengar ledakan keras dari tersulutnya bubuk mesiu dengan bara api.

Malah beresiko celaka selain memberi polusi suara di malam hari, sehingga rentan disumpahin orang. :p

Saya hanya bisa menghimbau agar rekan-rekan tidak usah bermain petasan. Bahkan walaupun kembang api sekalipun. Tidak usah perkenalkan anak, adik kecil atau keponakannya dengan permainan membakar petasan.

Lebih baik beberapa ribu atau ratus ribu Rupiah uang pembeli petasan dialihkan ke kotak keropak mesjid. Itu bakal memberi pahala ketimbang dimaki-maki oleh orang lain (seperti : saya) di jam 00.36 tak bisa tidur gara-gara mendengar dar.. der.. dor.. petasan meledak di depan rumah.




Sunday, August 14, 2011

Aroma Hujan (Petrichor)


Minggu sore (14/8) jelang magrib, hujan turun di kota Bogor.

Suasana langsung terasa adem.... apalagi belakangan ini panas kemarau terasa memeluk bagi saya, maupun dari keluhan teman-teman.  Belakangan terik mentari terasa garingnya ketika sambil menjalani puasa Ramadan. 

Dan suara azan magrib sore tadi terasa damai berpadu hembusan angin sore, bersatu dengan indra penciuman kita ketika membaui aroma tanah menguar saat air hujan mencumbu permukaan bumi.

Bogor + hujan + permukaan tanah yang kering = aroma hujan … yang kusuka. Bau yang mengendurkan simpul-simpul syaraf dan ingin rebahan sambil dipeluk angin sepoi. Hanya bunyi hujan tanpa ada guntur menyalak atau kilat menyelak langit.

Jadi teringat penjelasan teman saya kalau bau tanah yang khas berasal dari kombinasi dua senyawa geosmin dan methylisobomeol yang tersintesa oleh bakteri tanah.

Nama ilmiah untuk bau hujan yang menyentuh permukaan tanah = Petrichor. 

(Gambar dikutip dari : www.viktr.net)