
Memberikan kado jelas harus berguna bagi penggunanya. Makanya, saya paling malas dapat kado Cuma untuk hiasan meja, dan tentu saya tidak suka pula memberikan kado hal demikian.
Dalam hal mencari kado, biasanya juga mempertimbangkan selera. Dan kenapa bagiku mencariku kado buat laki-laki, kurasa lebih sulit ketimbang wanita. Selain itu, rasanya budget harga barang lebih mahal :-))
Bayangkan : memberi kado buat perempuan bisa salah satu item dari ujung rambut hingga kaki. Aksesoris rambut, anting-anting, gelang, lipstik, atau bros. Baju, sepatu, dompet. Sisir hingga satu set
body lotion atau sekotak sabun lavender made in England.
Cowok? Yang harus digarisbawahi pertama adalah desain barang yang lebih konservatif. Dompet kulit (ga mungkin kasi dompet receh batik), dompet berfungsi sekaligus gantungan kunci, mini mp3, album CD, senar gitar (yang ternyata juga banyak itemnya..sigh), baju (ternyata selera saya untuk pilihan busana pria ala metroseksual. Dan itu ternyata cuma disegani segelintir pria),
toilettries untuk pria pun memiliki wangi terbatas. Arloji, atau kaus.
Adapula kado
unisex yang tidak butuh uang, asalkan diberikan dengan penuh ketulusan, yaitu cium pipi kiri dan kanan.. halah!
Nah, kali ini saya mengalami kebingungan memilih kado untuk ayahku. Saya sendiri lupa, rasanya tradisi memberi kado atau merayakan ulang tahun papaku bukan dari dulu. Dalam tanggal ultah tenggelam dalam rutinitas kerja beliau. Kami bersaudara pun hanya mengucapkan selamat ulang tahun, lalu pergi dengan kesibukan sekolah.
Mungkin juga karena putri kecilnya sekarang punya penghasilan sendiri, saya sejak beberapa tahun terakhir memberikan kado. Buat papaku yang tak banyak pernik, kado paling pas menurutku adalah Buku! Sesuai hobi beliau, khususnya sejak dokter menyarankan papaku tidak kerja berat akibat lemahnya klep jantungnya.
Tahun lalu kadoku –yang menurutku- yang paling sukses. Dua buah buku impor masing-masing berjudul : The Gurkhas (oleh John Parker) dan The End of Sukarno (oleh John Hughes). Kado itu sangat...sangat.... sesuai selera beliau. Dan sudah kupersiapkan jauh hari.
Tahun ini dapat digambarkan dalam situasi saya melihat kalendar, hitung mundur, dan tersadar bahwa ultah Papa tinggal beberapa hari. Seminggu sebelum hari-H, bagi saya sudah mepet :(
Ubek-ubek PIM, mampir di Sogo melihat sebuah jaket coldoray. Sayangnya size yang kumau sudah tinggal satu-satunya yang dipajang. Sudah bluwek dan ada bolong kecil (mungkin terkait sesuatu).
Mampir ke bagian jam tangan, rasanya tidak ada arloji yang kurasa bakal memenuhi selera bapakku yang klasik, sekaligus spesifik. Jelajahi Metro depstore pun aku tak berhasil menemukan yang kurasa cocok.
Terakhir, saya mampir ke Gramedia dan membeli ”Membongkar Kegagalan CIA” versi terjemahan dari Legacy of Ashes karya Tim Weiner. Sempat bertanya pula pada
customer service-nya apa menjual versi bahasa Inggrisnya, dijawab tidak ada. Yah setelah at glance membaca isinya (kekhawatiran membeli versi terjemahan adalah tata bahasa/pilihan kata yang tidak tepat, sehingga pembaca tidak paham apa maksud yang mau disampaikan) akhirnya saya beli buku tersebut.
Saya sempat berpikir, apakah mencari barang di sore hari, setelah cape kerja, membuat
mood saya tidak asyik? Rasanya diri ini tidak konsentrasi untuk melihat-lihat barang.
Tapi yah sudahlah. Memberi hadiah kepada orangtua toh tak harus di hari ulang tahun. Mereka juga bangga jika anaknya melangkah di jalan yang halal. Jadi ingat sebuah kutipan menarik bagiku dari penggalan surat R.A. Kartini :
Kasihan benar orang-orangtua yang bernasib buruk mempunyai anak-anak perempuan seperti kami. Kami berharap dan berdoa, panjanglah usianya hendaknya dan semoga kelak mereka bangga pada kami, sekalipun kami tiada kan berjalan di bawah payung keemasan yang berkilauan (Surat R.A. Kartini kepada Nyonya Abendanon – dikutip dari buku ”Panggil Aku Kartini Saja: karya Pramoedya Ananta Toer)
(Gambar Smurf dikutip dari :
)