Showing posts with label Karir. Show all posts
Showing posts with label Karir. Show all posts

Tuesday, April 14, 2020

Ilmu Padi: Semakin Merunduk Semakin Berisi



A: Pagi ini ada cerita yang menggugah untuk aku ceritakan. Tadi pagi di seminar, diriku mengajukan pertanyaan kepada semua peserta, "Apa tujuan Anda kuliah kembali?" Nah, diantara peserta ada seorang Ibu yang cukup berumur mengacungkan tangan keatas. Tebak apa jawaban si Ibu?

B: Hmm... pastinya dia akan menjawab, untuk memperluas wawasan dan networking

A: Tebak lagi...

B: Oh aku tahu! Ibu tersebut katamu sudah cukup berumur, jadi dia mengatakan bahwa kuliah lagi untuk menaikkan jabatan.

A: Salah! Dia mengatakan, "To be wise. Untuk lebih bijaksana."

B: "To be wise" dengan kuliah lembali?Agak-agak weird sih. Berasa kayak jawaban di audisi kontes kecantikan dengan memberi jawaban 'aman'. Jujur saja, diriku kembali kuliah ke S2 tujuan utamanya adalah mencari ilmu. Saat kembali kuliah, diriku sudah merasa nyaman ketika ijazah S1 dan  seminar singkat, training dan workshop selama bekerja kurasakan sudah menunjang pekerjaan. Tapi ada juga perasaan bahwa pekerjaan menjadi suatu rutinitas dan ingin mencari tantangan (hidup) baru. Jadi, dengan melanjutkan kuliah S2 bakal menambah ilmu, wawasan baru dan sudut pandang yang lebih multi-angle atau strategis. Dan kenyataannya, selama diriku mengikuti kuliah S2 diriku memperoleh banyak teman baru yang berpotensi memperluas jejaring sosial. Mereka, teman kuliahku, menjadi tempat aku berbagi keluh kesah kerja dan jawaban mereka multiangle sesuai dengan posisi jabatan dan pengalaman bekerja. Dan di kampus, aku pun jadi bertemu para rekan sesama mahasiswa karena mereka dibiayai perusahaan. Mereka ketika kembali ke perusahaan sudah dipastikan mengisi posisi jabatan lebih tinggi. Jadi, kuliah S2 berpotensi meningkatkan jenjang karir seseorang di dunia profesional. 

(Wow, B cukup panjang lebar menguraikan pendapatnya).

A: Kata kunciku kan, "Ibu tersebut adalah perempuan yang cukup berumur." Tanda-tanda orang berilmu kan lebih wise, bijaksana, dan low profile. Ibu tersebut sudah pada fase yang mampu menempatkan pengalaman diri pada praktek ilmu padi. Semakin merunduk, semakin berisi. 

B: Oh ic... Tapi kan tidak selalu semakin tua seseorang maka dirinya semakin bijaksana.

A: Ho oh sayank....

B: Oke lah.


(Suatu cerita pada suatu hari)
Foto diambil dari: Freepik.com

Sunday, August 04, 2013

Konsekuensi Pekerja Kembali ke Bangku Kuliah

Lama tidak mengupdate blog. Kali ini alasannya karena banyak hal yang baru dalam kehidupan saya yang membuat saya melipir dari dunia per-bloggeran.

Sejak saya memutuskan kembali ke bangku perkuliahan, dengan mengambil studi pascasarjana (S2) memang hidup saya hanya terpusat pada dua hal: kantor vs kuliah. Apa rasanya kuliah sambil kerja?
Bukan hal mudah! Dari persoalan urusan finansial yang terkuras, waktu selama 24 jam yang terasa kurang, menyusutnya aktifitas hangout bersama teman-teman, hingga penyakit yang mampir akibat badan kelelahan dan stres.

Akhirnya saya menyimpulkan pembelajaran terbesar yang saya petik dari kuliah sambil bekerja yaitu: bagaimana saya harus berdamai dengan kenyataan bahwa menempuh studi sambil bekerja membuat saya menerima kenyataan tidak bisa mencapai peringkat terbaik.

Ini kawah candradimuka buat saya yang suka ambisius dan do everything perfectly. Saya harus belajar berdamai bahwa “terbaik tidak selalu 100% bagus” dan belajar sabar.

Ga bisa dipungkiri ketika mengeluarkan biaya cukup besar (saya membiayai sendiri kuliah S2 saya), ada perasaan tidak ingin sia-sia. Tolok ukur keberhasilan bangku formal adalah nilai Ujian Akhir Semester (UAS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IP.K). Tapi pada akhirnya saya merasa prioritas utama adalah menciptakan win-win solution memiliki sikap profesional dalam menghadapi pekerjaan kantor sementara kuliah S2 bukan mengejar nilai, melainkan sebagai sarana pengayaan ilmu, membuka wawasan dan menciptakan sudut pandang berbeda.

Justru saat-saat kuliah menjadi oase saya dari kepenatan kantor. Karena pergi ke kampus untuk kuliah adalah kesempatan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang pekerjaan dan perusahaan. Jadi intinya S2 adalah membangun jejaring (networking) termasuk dengan para pengajar.

Dan ketika nama saya sudah tertera sebagai salah satu nama wisudawan untuk Semester Genap 2012/2013, saya bahagia telah merealisasikan salah satu impian saya: suatu hari kembali ke bangku kuliah dengan mengambil S2.

Sudah bisa menarik nafas lega bersyukur pada Allah SWT telah mengabulkan doa terbesarku yaitu: lulus tepat waktu selama empat semester.

Friday, November 02, 2012

Bekerja untuk Apa




Saya mampir ke blog sahabat dan *jleb* ..*jleb* http://langit-jingga.blogspot.com/2012/10/ad-maiorem-dei-gloriam_10.html  saat membaca isi tulisannya.

*Jleb* #1:
Ketika saya merasakan sendiri menjadi pekerja Jakarta yang harus bolak balik rumah-kantor PP dan ‘menikmati’ kemacetan di jalan. Jika saya naik taksi berarti bisa multitasking mulai dari hal hiburan semata seperti membaca Twitter dan meng-RT, chatting dengan rekan via bbm, membuat to-do-list hari ini, hingga membaca buku. Tapi lain halnya jika saya memanfaatkan moda angkutan lain misalkan menjadi penumpang ojek yang belakangan ini kurasakan efektif dalam memampatkan waktu di jalan.  

*Jleb* #2:
Hari Sabtu dan Minggu semakin terasa singkat sebagai hari libur. Padahal harus bersyukur karena adapula rekan-rekan kita yang tidak mengenal hari libur atau tanggalan merah dalam bekerja.

*Jleb* #3:
Mari bertanya pada diri sendiri tentang apa passion kita, yang membuat kita bekerja bukan hanya demi: label pekerja, gaji semata, serta memenuhi kuantitas absensi dan output hasil. Tapi seperti membuatmu bak jatuh cinta dari bangun pagi hingga istirahat malam hari.

*Jleb* #4:
Bekerja demi Tuhan. Ia yang menciptakan kita, lalu kita apresiasi dengan memanfaatkan talenta kita supaya bermanfaat bagi orang lain. Namun yang terjadi seringkali lupa ibadah dengan alasan sibuk menyelesaikan proyek. 

(Gambar dikutip dari: http://designmind.frogdesign.com/magazine/work---life/)

Wednesday, August 15, 2012

7 Langkah untuk Maju


Berani berubah merupakan kiat untuk maju, atau peningkatan karir khususnya. Berikut ini beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan diri:

1.       Lihat sekeliling kamu. Kemudian tanamkan keinginan untuk berubah : menjadi lebih baik dibandingkan mereka, lebih baik daripada sekarang!

2.       Perluas pengetahuan dan wawasan. Banyak mencari informasi melalui buku, koran, majalah, Internet, dan sebagainya. Atau ikuti kursus yang menunjang karir.

3.       Perluas pergaulan positif. Ikut organisasi profesi/sosial di lingkungan kita. Ikuti pula jika ada seminar/forum diskusi yang bermanfaat bagi pengembangan diri kita.

4.       Tentukan target hidup. Sebagai catatan: target tersebut tentu harus rasional dan asertif.

5.       Jangan ragu untuk menanyakan perubahan diri ini kepada rekan-rekan atau sanak saudara.

6.       Jauhi sifat-sifat yang tidak mendukung kemajuan kita.

7.       Lakukan perubahan penampilan atau ubah rute yang biasa kita lalui untuk pulang-pergi antara tempat bekerja dengan tempat tinggal. 

Sunday, May 13, 2012

Mensiasati “Cobaan” Zaman Digital


Era kemajuan Teknologi Informasi memang memudahkan hidup. Ambil contoh sebagai Penulis, saya bisa mendapatkan berbagai informasi dengan mudah. Tinggal koneksikan perangkat computer/laptop dengan koneksi Internet, maka pencarian bisa melalui Google, Wikipedia, media berita versi online dan sebagainya.
Bahan rilis atau cek layout bisa dikirim melalui e-mail, dan koreksi pun dalam versi soft-copy. Paperless, tanpa coretan bolpen atau tinta merah. Semua dalam visual.

Tapi berapa banyak waktu terbuang akibat konsentrasi terpecah? Distracted?

Bangun pagi, nyalakan BlackBerry lalu memeriksa fitur BlackBerry Messenger, SMS (Short Message Service), e-mail dan ternyata beberapa rekan milis semalam tadi mempostingkan artikel, kemudian masuk ke Twitter dan akhirnya tangan pun gatal untuk men-scroll linimasa. Mencek, mengomentari dan nge-RT Twitter membuat badan masih ‘lengket’ di kasur.

Bangkit dari tempat tidur, tangan gatal untuk menyalakan  televisi dan sarapan pun bisa menjadi ritual memakan waktu akibat mata lebih sering menatap layar kaca sementara sarapan pagi yang sederhana masih tak tersentuh di meja makan.

Demikian pula ketika bekerja di kantor. Kadang gangguan itu terjadi ketika menyimak e-mail dan website. Media sosial seperti Twitter dan Facebook membuat kita masih memiliki ikatan sosial dengan mantan teman masa kecil, masa kuliah, sahabat sehobi dan sebagainya. Tahu-tahu hal ini membuang waktu 1-2 jam. Lebih parah lagi jika niat semula cuma mencari informasi tambahan guna menyelesaikan tulisan yang belum rampung.

Akhirnya kemudahan yang kualami sebagai pekerja media zaman modern mengundang berbagai konsekuensi. Kadang ini menjadi semacam “cobaan” tetap fokus dan bekerja teliti sekaligus cepat.

Dari membaca tentang tips karir di suatu media digital, ada tips tentang cara meminimalkan gangguan konsentrasi yang disebabkan oleh kemajuan bidang komunikasi di era modern. Yaitu:

Jangan jawab telepon dan email langsung. Kecuali memang sangat diperlukan, Anda bisa mengabaikan setiap panggilan telepon yang masuk. Begitu juga dengan pesan instan di komputer atau ponsel. Anda tak perlu langsung menjawabnya. Anda bisa mengalihkan panggilan telepon ke kotak pesan suara (voicemail) dan Anda bisa membiarkan jendela chat sebentar. Lalu Anda bisa mematikan ponsel jika tidak perlu.

Hal yang sama juga berlaku untuk email. Anda tak perlu meninggalkan kotak masuk terus menerus terbuka. Anda bekerja dengan lebih efisien jika Anda memroses email dalam waktu tertentu saja daripada mencoba untuk menghadapinya seketika itu juga.

Solusi lain adalah menerapkan konsep: bekerja lebih awal/ lebih larut. Misalnya jika masuk kantor jam 07.00 pagi, kita memiliki waktu 1 -2 jam sebelum rekan-rekan kerja Anda berdatangan. Sebaliknya, jika terjaga hingga larut malam dan menulis esai Anda setelah anak-anak tertidur, Anda akan jauh lebih tenang dalam bekerja.

Tapi yang paling utama adalah: Niat. Niat utama adalah ingin bekerja cepat agar waktu yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Yuk, kuatkan niat....! 

Thursday, December 01, 2011

Melakukan Pekerjaan dengan Hati

:R


Libatkan hati dalam bekerja.
Mainkan emosi untuk mencintai bidang yang kamu ceburi.
Dengan demikian, kamu melakukan pekerjaan dengan hati.

Menulis aku lakukan karena cinta.
Maka pelihara cinta itu.
Atau bisa jadi kamu bekerja di lapangan.
Maka semaikan terus lapangan itu.


*Memotivasi diri dengan letupan semangat*


Sunday, July 17, 2011

Mati Ide

Minggu sore ini saya masih duduk di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 17.43 wib.

Benar, hari Minggu pekan ini aku berada di kantorku untuk mengejar tulisan-tulisan yang akan tayang di Suplemen lembar take-out di halaman koran Selasa besok.

Sebagai catatan, saya sudah berhasil menyelesaikan total 4 tulisan. Dengan catatan, satu dari total tulisan sepanjang satu halaman koran.

Fiuh….

Dan dari hasil rapat komposisi halaman, ternyata membutuhkan total 5 tulisan. Berarti ada 1 tulisan lagi dan saya sedang mati ide.

Just thinking… Get thinking.. the idea is…

#deadline

Monday, December 14, 2009

Bekerja Keras

……”She is fantastic and I love her and I wish her the best,” Ellen told her audience. “She deserves to rest. She has worked really, really hard.”

Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.

Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”

Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.

Wednesday, November 04, 2009

Tidak Menunda Pekerjaan

Jangan tunda hingga esok apa yang bisa Anda kerjakan hari ini.

Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.

Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?

Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.

Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.

Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.

Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.

Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.

Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.

Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.

Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.

Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.

Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.

Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.

Wednesday, July 15, 2009

Sindrom Pasca Cuti

Berdasarkan pengalaman pribadi, Penulis mengalami problem susah menulis pasca cuti.

Otak tumpul. (Pengaruh tidak mikir selama seminggu)

Selama berlibur, kegiatan mengetukkan jemari di papan keyboard digantikan dengan tangan cekatan menggerakkan tetikus bermain game.

Selama seminggu kemarin bagai ular tanpa tulang. Ketemu sofa, karpet atau kasur bawaannya ingin rebahan dan tidur. Kini harus terbiasa kembali duduk tegak di meja kantor sembari memandangi layar monitor.

Selama cuti tetap menyalakan fasilitas YM untuk online. Chit-chat sana sini, ujung-ujungnya saya pasti mengatakan sedang cuti. Ada di rumah. Seperti ada kenikmatan tersendiri ketika teman chat lebih kurang balas mengatakan, ”Duh enaknya...” karena mereka ngantor...hahaha..... Duh maaf daku kejam ya, bersenang-senang di atas penderitaan orang lain yang bekerja.

Dan tiba-tiba datanglah ”Hari Pembalasan”. Ketika saya kembali masuk bekerja.


Ini pengalamanku selama 3 hari kembali bekerja :
Merasa asing dengan rute perlintasan kantor – tempat tinggal.

Praktis hanya mampu menyelesaikan 4 alinea tulisan dalam satu hari kerja. Berada di kantor yang lebih kurang 8 jam –belum dipotong acara makan siang di depan meja komputer dan cek e-mail yang meluap selama ditinggal- ini sangat...sangat.. tidak..produktif.

Ini mengingatkan saya pada posisi tukang jahit di Pasar Baru yang mengklaim dalam hitungan jam bisa menyelesaikan order, tapi nyatanya 3 jam berubah menjadi 3 hari!

(Gambar dikutip dari : www.incentivedirect.com)

Monday, April 20, 2009

Sun Tzu (The Art of War) @My Gloomy Monday

Rapat Senin pagi :
Kamu kok tidak ingat berapa jumlah pemasang iklan hingga Jumat lalu? (Hihi.. tersindir nih.. ngakunya pakai BB, kok teutep ga update)

Kenapa kamu belum mulai membuat partitur? (hei! sekarang pihak yang terkait belum kasih on hands order, dah ditanya lho, sehingga pihak kami belum bisa memastikan jumlah space kosong untuk kami garap).

Kenapa...... (Ih, waktu itu Anda langsung berkata demikian, sekarang kok lempar kesalahan di gw...)

Anda kan Jenderal bermukim di dalam benteng pertahanan, sementara Saya si Panglima di lapangan. Jadi siapa yang lebih tahu medan perang????

Siap, ga siap, Saya harus siap menang perang, membawa bintang tanda jasa untuk Anda.

(Pelajaran kupetik : Siapkan Data; Sikap Manajerial; dan Komunikasi Lintas Koordinasi!)

Saturday, April 18, 2009

Hakuna Matata

Did you know :
40% of your worries may never happen
30% of your worries are about past events and nothing can be done about them
10% of your worries are about petty things
12% of your worries are about your health or diet, your weight, etc. and will only aggravate the situation

So : STOP WORRYING TODAY!

(Source : Raffles HealthNews – a Publication Magazine by Raffles Medical Group Singapore)

**
Film kartun produksi Walt Disney pada pertengahan 90-an, Lion King, memuat kalimat yang saat ini kujadikan tagline hidup. ”Hakuna Matata” yang artinya lebih kurang ”Tak Perlu Khawatir”.

Jalani saja : every journey has the end….every step has the finish line to stop. Every problem has the way to solve.

**

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

Hakuna Matata?
Yeah. It's our motto!
What's a motto?
Nothing. What's a-motto with you?
Those two words will solve all your problems


...

...

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!


(Lirik lagu “Hakuna Matata” yang musiknya digarap oleh Elton John, dan lirik oleh Tim Rice --- dalam film terjalin sebagai dialog antara Timon, Pumbaa dan Simba)

Monday, April 06, 2009

Karma

Kaka……: eno bogooooooorrrrrrrrr

Me: iyaaaaaaaaaaaaa

Kaka……: lg ngapain buuuuuuukkkkkk.......

Me: biasa deh.. update antivirus. ugh besok dah kerja lagi ya 

Me : lagi ngapain? siapin berita besok?

Kaka.......: yup...........supersib nih...... reporter pade bandelllllllllllll

Me: pada ga masuk ya? jd teringet saat dirimu jd reporter?

Kaka..... : iya.........karma kallliiiiiiiiiiiii he he he

Me: hehehe



Ini cuplikan chat antara Saya dengan "Kaka" yang bukan Kaka pemain bola Brasil yang sedang merumput di AC Milan. Namun kesamaan keduanya adalah semangatnya -satu semangat ngejar bola, yang teman saya ini semangat ngejar berita- buktinya teman saya ini sudah naik posisi jadi Redaktur, sementara saya menyingkir dari dunia kewartawanan dan beralih jadi Tukang Nulis.

Obrolan ranah maya ini terjadi Minggu malam. Para pekerja media harian, seperti wartawan, redaktur, fotografer, hingga anak disain yang bertanggung jawab di bagian layout, umumnya bekerja dan masuk kantor pada Minggu. Karena mereka menyiapkan berita untuk koran terbit Senin.

Nah, bagi kami (saya, Kaka, dan teman wartawan lainnya) kadang atau beberapa kali terjadi bahwa Minggu menjadi hari ”paceklik berita”. Kerja mencari berita bagi wartawan harian terjadi antara Senin sampai Jumat. Syukur banget jika pada hari sebelumnya, Jumat, kami memperoleh berita yang bisa ’disimpan’ untuk tayang Senin. Tapi kalau momen liputan itu ramai-ramai dengan wartawan media lain atau merupakan isu hangat tentu hasil pencarian berita di hari Jumat tak bisa ’ditabung’ untuk Ahad nanti.

Salah satu poin berita adalah "kebaruan", jadi dari hasil liputan menjelang weekend kami tambahkan dengan komentar atau dari narasumber lain (bisa pengamat, ahli, atau cross opinion dari sumber terkait). Nah masalah lain jika narasumber tak bisa dihubungi di hari yang galibnya sebagai hari libur. Makanya, beberapa dari kami kadang punya narasumber favorit karena bisa dihubungi kapan saja dan tidak pelit kasih statement hehehe... Lebih baik lagi jika memang kami punya persediaan...tapi itu kan idealnya?! Seringkali selama sepekan itu sudah pusing dengan ”berita kejar hari ini tayang hari esok” ketimbang menyimpan berita.

Belum lagi godaan lain, misalkan melihat teman, saudara dsb yang memang hari Minggu libur. Duh.. tidur di rumah atau enakan jalan-jalan (Ka, jadi mencoba ingat-ingat siapa yaa yang sering nonton sama pacarnya dulu, setelah itu baru ke kantor??? Hehe....)!

Ga heran pula ada yang ngakalin ngetik di hari Sabtu dan ga nongol di hari Minggu. Keuntungan cara tersebut : bisa berakhir pekan dengan santai, ga ketemu sama bos (Redaktur), dan matikan ponsel supaya ga bisa dihubungi sama orang kantor hahaha....

Anehnya pula kondisi tubuh tiba-tiba sering drop di akhir pekan. Demam, meriang, sakit perut, dsb akhirnya absen tidak masuk kantor. Nah, kalau sudah begini, serahkan pada Redaktur untuk kelimpungan mengisi halaman...haha, makanya ini yang antara Saya dan Kaka diskusikan sebagai ”Karma” ketika dia sudah pada posisi Redaktur.

Tulisan ini bukan bermaksud membuka pikiran ’nakal’ dari junior lho...Yah, that's reality ketika kamu bergelut menjadi wartawan media harian bahkan reporter televisi. Ketika jadwal kerja kamu ber-anomali dengan jadwal kerja umumnya orang.

”Itulah minggu....kadang bawa kesenangan kadang bawa kesusahan..........tapi ga papa kan, masih bs dihandle???” begitu kata Kaka.

Yap, saya sih yakin temanku ini bukan redaktur yang cuma sekadar terima berita dari anak buah. Tapi masih semangat cari berita dan menjalin relasi dengan narasumber supaya tetap ter-update isu di lapangan.

Sunday, March 22, 2009

21 Saran Sukses

Dari portal internal kantor, saya mengutip "21 Saran Sukses" dari H. Jackson Brown, Jr., dan mencoba menerjemahkannya secara bebas. Terasa bernas dan semoga menarik bagi rekan lain yang baca.... :

1. Nikahi orang yang tepat. Hal ini mempengaruhi 90% kebahagiaan atau kesedihan Anda.

2. Bekerja pada bidang yang Anda minati, sehingga waktu dan talenta Anda tak terbuang percuma.

3. Berikan lebih dari yang orang lain minta, dan lakukan hal tersebut dengan senang hati.

4. Jadilah orang yang paling bersemangat dan paling positif yang pernah Anda kenal.

5. Jadilah pemaaf bagi diri sendiri maupun orang lain.

6. Jadilah murah hati (dermawan)

7. Jadilah orang yang berlapang dada

8. Rajin, rajin, rajin. Alias tekun.

9. Disiplin menabung, lakuka hal ini bahkan dalam kondisi pendapatan Anda kecil sekalipun.

10. Perlakukan orang lain sebagaimana cara kamu ingin diperlakukan.

11. Komitmen pada diri sendiri untuk senantiasa melakukan peningkatan atau perbaikan diri.

12. Komitmen pada diri sendiri untuk kualitas

13. Sadari bahwa sumber kebahagiaan bukan berasal dari barang yang dimiliki, jabatan atau martabat/gengsi, tapi berbasis pada relasi dengan orang-orang yang Anda cintai dan hormati.

14. Jadilah orang yang setia (loyal)

15. Jadilah orang yang jujur

16. Berinisiatif atau self-starter

17. Jadilah orang yang tegas atau berani ambil keputusan, meski kadang keputusan itu salah.

18. Berhenti mencari kambing hitam. Bertanggung jawablah pada kehidupan Anda sendiri.

19. Berani dan teguh hati. Jika kamu menelisir kembali jejak kehidupan yang sudah kamu alami, kamu hanya menyesali apa yang tidak berani kamu (coba) lakukan, dan bukan sebaliknya menyesali apa yang sudah kamu perbuat.

20. Sayangi dan tunjukkan kasih sayang pada orang-orang yang kamu cintai.

21. Jangan melakukan sesuatu yang TIDAK membuat Ibu-mu bangga.

Friday, March 06, 2009

Me-Time

Saya sedang merasa tidak mau melakukan apa-apa. Ingin mengunci diri di kamar, menghabiskan waktu bersama setumpukan buku maupun film.

Buku yang kupilih bergenre fiksi, chicklit, komik, atau apapun kisah yang ringan. Saya masih memiliki setumpuk buku yang sudah dibeli, namun hingga saat ini belum kubaca sama sekali. Kemudian mengisi hari bersama film bergenre komedi romantis. Menikmati setiap scene film yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, atau sebaliknya, menangis termehek-mehek. Lebih seru lagi sambil bergelung di balik bed cover kuning favoritku.

Yang penting : tidak mau berpikir dan menjadi orang paling malas di dunia. Gejala ini mungkin erat hubungannya dengan tanggalan merah pada Senin besok (9/3). Buat karyawan dengan jam kerja 5 hari seminggu, dari Senin sampai Jumat, berarti kesempatan libur panjang.

Setiap orang membutuhkan ”Me-Time”, yaitu sejumlah waktu yang dihabiskan untuk diri sendiri.

(Foto : buku-buku koleksi pribadi. Gambar dikutip dari : http://imagecache2.allposters.com)

Thursday, February 12, 2009

Menulis Kok Disetir???

Begini nih nasib Penulis Iklan : dapat brief ini itu. Bisa berasal dari klien dan/atau AE.

Menulis itu (pekerjaan) menyenangkan. Tapi.... jadi bingung dan ga mood kalau kriteria penulisannya ’bersyarat’. Ada wanti-wanti si ini harus dikutip, si itu ga mau digabungkan sama kompetitornya, eh si AZ juga harus ada...


Tantangannya : Bagaimana mengakomodir semua ’pesan sponsor’ dan memasukkannya secara halus ke dalam tulisan. Supaya pembaca tidak hanya membaca beberapa alinea lalu pindah halaman berikutnya, gara-gara artikel tidak punya info bermanfaat. Atau si pembaca langsung mencium ’aroma pesanan’.

Tantangan lain, bagaimana dengan sejumlah prasyarat plus ide besar tulisan masuk ke dalam jumlah halaman yang terbatas. Misalkan cuma disediakan untuk 1 halaman display majalah, atau kolom sekian mm x mm koran.

Dulu saya yakin berbakat jadi Penulis Iklan. Karena mampu secara gampang menautkan kata : membuat kalimat singkat yang enak dibaca, judul singkat dalam 4 kata dan ear-catching dsb. Dan, maaf, saya dulu bisa menemukan julukan tepat untuk guru garing zaman sekolah, bos yang dibenci bersama di kantor lama, atau memberi nama sandi untuk seorang trouble maker yang kelakuannya bikin il-feel anak-anak kos.

Ternyata itu peace of cakes karena didasari ”fun”. Iseng belaka. Otak ini langsung blank bila sudah dibuntuti pesan : angle tulisan, syarat penulisan, dan mengakomodir pasar.

Dalam kondisi begitu, saya berpikir mungkin enak ya jadi penulis lepas? Nulis novel saja, atau bikin skenario film : terserah gw mau nulis gaya horror kering nan standar (seputar wanita bergaun putih rambut terjurai mati dan arwahnya balas dendam, bangkit dari kubur, plus pasti ada adegan mandi-nya dari pemeran utama atau siapapun di dalamnya) ataupun komedi norak slapstick tinggal bumbui judul yang membangkitkan pikiran miring-miring... Buktinya ada tuh produser mau mensponsori pembuatan filmnya :p

Tapi siang tadi dapat curhat dari karib yang sedang menggarap tulisan non-fiksi untuk sebuah penerbitan. Dia lagi sebal dengan komentar editor buku yang menyuruh dia merombak gaya bahasa supaya lebih gaul. Dia malah bilang lebih enak jadi ghostwriter. Pekerjaan yang sebelumnya ia tekuni. Alasannya, belum kerja sudah dapat DP, trus setelah kelar, dapat duit lagi plus klien yang nurut.

Hehe.. saya hibur sahabat tersebut, itu konsekuensinya kalau mau jadi penulis beken. ”Supaya mengalami peristiwa book-signing. Haha..”

Sang editor mungkin punya penciuman lebih tajam apa yang disukai pasar terhadap sebuah buku. Topik & isi tulisan, gaya bahasa, atau hal yang ingin dibaca konsumen sehingga mereka mau merogoh kocek untuk membeli suatu buku.

Memang sekarang ini ’pasar’ memegang kendali. Seperti kukutip dari perkataan R, ”Mohon dimaklumi aza, kalo saat ini pasar mengendalikan segalanya. Rasanya sulit mengedepankan idealisme yang benar-benar murni.”

Hayo Eno! jalani semua itu. jika kamu hanya pandangi tumpukan kertas dan monitor laptop tanpa memulai, maka hasil kreatifitas itu tidak mengalir dari otak ke bentuk nyata.

Hmm.. kalau dipikirkan lagi, saya menikmati kerja sebagai Penulis Iklan. Terserah kadang merasa jadi bagian dari kapitalisme, tapi bisa tugas ke luar kota sembari melihat sudut Indonesia yang lain; dapat gaji yang bikin saya bisa belanja kebutuhan primer, sekunder hingga tersier; atau bisa membeli si Buttercup, Be’ib, Popo, dan Pinky Binky.(Semua itu hadir dengan konsekuensi?!).

(Gambar dikutip dari http://it.coe.uga.edu/~treeves/edit6900/images/writing.jpg)

Sunday, December 07, 2008

Liburan di Rumah

Hari 1 :
Bangun dalam kondisi badan pegal-pegal, tenggorokan mulai gatal-gatal, bersin-bersin. Berarti kepalaku yang pusing beberapa hari sebelumnya, penanda bahwa badan ini memang sudah perlu break.

Bangun, minum air putih seteguk, mandi, telan suplemen vitamin C, pulang ke Bogor. Saatnya butuh perbaikan gizi dengan mengonsumsi makanan bunda... :-p

Sampai di Terminal Baranangsiang tengah hari, saya merasa salah kostum. Jakarta yang mendung dan gerimis, membuat saya mengenakan kaus lengan panjang bertudung hujan (capucon) yang memberi hangat pula di bis ber-AC.

Namun ketika tiba di Bogor, kota hujan menyambutku dalam panas  makan siang dulu di Air Mancur -daerah ini kawasan jajanan terkenal di Bogor dan tidak jauh dari lokasi rumahku- menikmati somay bersama jus melon (igh, ternyata rasa somay-nya tidak seenak dulu. Jus melon juga lebih cair). Tidak lupa belanja oleh-oleh coklat buat Yakob. Siapa Yakob? Dia burung kakaktuaku. Selera coklatnya malah lebih mahal ketimbang majikannya haha..


Hari 2 :
Bangun tidur dan melihat jam menunjukkan pukul 07.00 (wah! masih terlalu pagi untuk orang yang sedang berlibur...)

Sarapan gorengan (ini menu tak sehat dan hanya berlaku di hari liburan di Bogor) beli dari tukang yang mangkal dekat Dinas Kesehatan. Pembantuku sudah hafal kebiasaan satu ini. Bakal menawarkan diri untuk membeli. Catatan : berlibur berarti menikmati kondisi-kondisi yang tidak kita nikmati di hari biasa.


Hari 3 :
Tidak cuma bekerja, menikmati liburan pun perlu penyesuaian. Hari ini aku sudah terbiasa dengan ritme berlibur : bangun siang, nonton film, lalu menyaksikan televisi : berita utama seputar Ananda Mikola sebagai tersangka utama kasus penganiayaan. Hehe, ternyata pembalap nasional beralih profesi menjadi debt collector.....

Beberapa hari sebelumnya, orang kantor meng-SMS ku untuk membuat tulisan advertorial ber-deadline Selasa besok. Tugas mendadak yang bakal membuatku harus menulis di akhir pekan. Ugh! ...Sniff...sniff.. cari ide nih!

Namun, aku dapat berita gembira pula dari Merry. Usaha yang rencananya kami (Ajeng, Merry, Eno) mau rintis sepertinya mulai menemukan titik terang. Yap! Yap! Hayo, Eno, semangat! Semangat!

Rencana malam ini : bakal begadang ngetik bersama Buttercup.

Thursday, October 09, 2008

Semangat ReCharge


Sudah hari ke-4 masuk kantor sejak Senin (6/10) sebagai hari resmi bekerja usai Lebaran. Saya selalu masih bangun kesiangan, meski sepertinya memang keterlambatan bisa ’dimaafkan’ karena pekerjaan belum banyak.

Lalu meski kesiangan datang ke kantor, bisa cek e-mail yang menumpuk dalam inbox. Maklum, selama seminggu tidak menjelajah internet. Mengirimkan ucapan selamat hari raya kepada rekan-rekan yang belum sempat kusapa, membaca komentar di milis dengan tenang, serta meng-update blog.... haha....

Tapi tadi pagi berangkat dari kos ke kantor, sepertinya kendaraan bermotor sudah lebih padat ketimbang hari-hari sebelumnya. Mungkin orang lain sama seperti saya yang perlu waktu pemulihan untuk kembali bersemangat dalam beraktivitas.

Seperti kemarin saya kembali ber-aerobik, nafasku terasa pendek-pendek. Hayo! Jujur saja! Kapan kamu terakhir berolah fisik? Hehe.... semua harus dimulai lagi dari awal dan butuh waktu.

Pemulihan melalui olahraga supaya badan bugar (plus menggerus lemak yang tertimbun akibat kue-kue kering dan tart Lebaran). Penyegaran penampilan supaya semangat bekerja. Atau rombak kamar di akhir pekan supaya tidur lebih nyaman?!


(Gambar dikutip dari : www.netstate.com)

Tuesday, July 22, 2008

Sedih

Pagi ini, datang ke kantor (Selasa 22/7) dan lihat pengumuman.
Saya tidak lulus tes Business Conversation. Sedih! Mengikuti kursus bahasa Inggris bertujuan memperbaiki keterampilan bahasa asing, dan karena dibayari kantor karena ada pengakuan kompetensi diri diantara sekian pekerja di kantor, selain ini kesempatan untuk meningkatkan skor TOEFL/TOEIC untuk tujuan sekolah lagi.
Yah, masih ada kesempatan lain..... :(

Monday, June 23, 2008

Nasionalisme atau Profesionalisme

Bagi Belanda, Guus Hiddink adalah 'pengkhianat'.
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.

Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.

Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"

Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....

Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"

Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".

Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"

Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.

Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar

”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.

Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).

Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.

(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).