Showing posts with label renungan diri. Show all posts
Showing posts with label renungan diri. Show all posts

Saturday, September 30, 2023

Cerita Baru

Buat cerita baru 

menikmati memori baru 

fokus dan yakin kalau aku akan bahagia dengan pilihan baru 

komitmen itu butuh: siap dan yakin 


Jangan menunda

Jangan buang waktu 


Tidak ragu untuk mempertegas hati! 


Wednesday, March 01, 2017

Sepenggal Cerita Remeh bak Rempeyek

Sore itu tidak biasanya saya sudah tiba di hunian sebelum kelam menelan mentari. Dan mata tertuju pada warteg depan apartemen yang masih buka.

Warteg ini sebetulnya sebuah halaman depan rumah yang dimodifikasi berjualan makanan dan tempat orang bersantap. Di warteg ini ada satu penganan saya suka, yaitu rempeyek udang yang renyah dan besarnya seukuran tampah (noted:superlative statement sih…). Taburan udangnya pun melimpah. Tidak seperti umumnya warteg yang lebih banyak tepung ketimbang isian. Enak dan, tentu saja, cepat habis. Laku.


“Pak, pesan nasi putih satu, peyek udang dua,” ucap saya dengan artikulasi (dibuat) jelas. Setahuku Bapak itu memang agak tuli. Penampilan pun cukup renta. Jalannya sudah tertatih dan setiap gerakan menjadi slow motion. Dia menjaga warung sendiri malam itu. Biasanya ada istri, yang juga tentunya renta, menemani berjualan.

Yap, sebenarnya saya sih malas kalau berurusan sama Bapak ini, karena berkali-kali “drama”, tapi mau galak kok  jadi membayangkan seandainya Papa-ku punya warteg.... Saya rasa cara mengatasi kendala itu dengan berbicara dengan suara keras dan artikulasi yang jelas. 
   
Bapak tersebut mengambil sebuah kantung plastik bening dan mulai memindahkan isi sebuah mangkuk yang berisi racikan daging dan sayuran, memasukkannya  ke dalam kantung plastik yang dipegangnya di tangan kiri. Saya diam dan menyimak setiap langkah slow motion Bapak itu. Lama-kelamaan baru sadar kalau menu andalan  warung tersebut adalah sop iga sapi. Waduh, Bapak ini pasti mengira saya pesan sop.

Saya sontak bersuara, daripada seluruh isian mangkuk berpindah ke kantung plastik. “Pak, pesanan saya nasi dan peyek udang,” jelasku. Bapak yang biasanya nyolot tapi kali ini hanya berkata, “Oh saya kira sop. Maaf,” katanya sambil membalik badan menghadap rak kaca yang semula dipunggungi olehnya. Rak kaca bagai di resto Padang ini memang menyajikan tumpukan rempeyek udang yang memancing mata menghampiri warteg seperti kusampaikan di awal cerita.

“Maklum Bu, sudah umur 70 tahun,” celetuknya.

Bagi saya kejadian tadi tidak masalah. Saya asli tidak dalam kondisi cumulonimbus menggantung yang tersurat pada raut muka. Tidak juga menjadi bad mood meski baru mengalami kondisi harus menerabas jalanan macet brengsek dari wilayah Thamrin. Meskipun bangku ojek terasa hanya secuil luasan pantat, dan bang ojek pengen dikeplak gara-gara selipan-selipan nekat diantara mobil.  

Saya malah ketawa sambil melempar guyon, “Yah Pak, 70 tahun mah masih muda. Bapak saya saja sudah 80 tahun,” candaku.

Bapak tersebut balik berkilah, “Iya tapi Bapaknya Ibu kan beda kondisi ekonomi.”

Saya langsung terdiam. Saya langsung ingat Papa saya dan pernyataan saya murni apa adanya buat menghibur. Umumnya orang pasti punya satu gambaran massal tentang: “Tua dalam usia lebih dari ¾ abad” seperti Papa saya. 

Entahlah, saya benar-benar tak paham maksud Bapak tersebut dengan definisi “kondisi ekonomi”. Apa kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan maintenance something old item? dan situ memangnya sudah lihat rekening tabungan saya. Ketika pengunjung datang dari bangunan apartemen sementara dia di landed house itu dikatakan beda kondisi ekonomi, tentu Bapak tak tahu kadang manusia pencakar langit, punya kisah menggadaikan hidup dalam pay to bill.

Hidup terasa banal.  Tampilan kadang beda dengan isian. Setiap orang lahir dengan tujuan dan fungsi dalam hidup, meskipun kadang bagai keranjang sampah, ditaruh di pojokan atau buangan.

Malam sudah mewarnai langit ketika saya melangkahkan kaki meninggalkan warteg bersama sekantung rempeyek udang. Saya masih bisa tersenyum dan membalas sapa bapak-bapak security yang saya lalui menuju unit apartemen. Sepertinya “mood awan kumulonimbus” memang tak mampir.  Pada akhirnya saya berpikir, “Yang baper Bapak itu atau perasaan saya serapuh rempeyek? Karena benak ini  terketuk-ketuk hingga mampu menulis blog sepanjang ini.” 

Pada paruh sisa malam, saya pun menyantap peyek sampai remah terakhir. Sambil menuntaskan tulisan remeh nan ringan. Terima kasih bagi teman-teman yang membaca tulisan ini dari awal hingga habis.    

Tuesday, April 26, 2016

Cinta dan Blink Blink in the Eye


Entah berapa lama blog ini terbengkalai. Masih sempat mengunggah satu per satu artikel tapi dengan jeda yang jauh. Kalau membaca kembali artikel-artikel yang saya posting, saya mengakui blog ini bak benih yang berkembang menjadi pohon. Blog ini menjadi saksi sejak bibit disemai di ladang biner hingga dia bertumbuh terus menerus menantang matahari, hujan badai, dan tegar merekah menambah bilah cerita sejalan rintik kisah yang disiram olehNya.

Dari lajang radikal nan tersamar di balik puisi dan larik puitis, ketika saya jatuh cinta dengan pria yang kusematkan nama: Bintang Jatuh, Pria beraroma tembakau, si bibir silet, hingga akhirnya menyimpan nama itu di nadi dan dikemas di dalam sudut hati.

"Cinta" ternyata sumber inspirasi terbesar kemampuanku menggurat syair puisi. Dan puisi-puisi mengalir menjadi kebanyakan artikel di blog ini. Namun meskipun dia masih ada, dan dia kini menjelma menjadi binar mata, glowing in my skin, dan saat saya tanpa sadar menyunggingkan senyum saat bersitatap, atau sekadar mengingat untuk menyapa Dia nama yang kuingat di pagi hari saat saya terbangun. Mungkin usia membuat saya berdamai dengan perbedaan, meredam mood-swing, dan memperkecil semua masalah yang memang ga benar-benar masalah.

Blink Blink in the Eye vs Kentang Goreng French Fries 

"Kenapa baikan?"
"Sepertinya saya menjadi sosok yang lebih baik sejak bersama dia."
"Hatimu gimana? Tapi, kamu harus tanya, hatimu maunya apa."

[Silent. Sesi pertemuan dengan sobat berpikir penuh logika terasa jadi salah kisah.]

"Kamu sebenernya dah males juga. Kenapa diteruskan?"

[silent]

[krauk....krauk... suara gigi bersentuhan dengan french fries yang dingin dan mengeras]

[tiba-tiba menganalogikan hati ini seperti kentang goreng fast food yang crunchy saat baru tersaji, namun ketika dibiarkan di nampan menjadi dingin kempos pengen dilepeh. Hati ini lalu bertanya, hal apa yang membuat kita mau baikan dengan pasangan setelah badai...   ]

Gambar dikutip dari: www.isharequote.com


Wednesday, August 15, 2012

Renungan Ramadan


Aku mengambil wudhu, membentangkan sejadah dan melakukan ritual agama yang sering kulewatkan.

Selama ini aku mencerca Dia yang tidak pernah mengabulkan permintaanku. Ketika aku meminta dan kamu membalas dengan pembalikan harapanku.

Si ambisius. Si terencana yang yakin semua langkah bisa berhasil ketika direncanakan. Langkah pemutakhiran ada pada doa harap padaMu, yang Engkau jawab dengan tidak seperti harapan.

Namun seiring waktu kulalui, permintaan tak terkabul adalah jawaban Dia atas kehidupan terbaikku. Setiap cobaan mengasah ketegaranku, mengikis tabiat "harus dapat" serta meningkatkan pendewasaan pikiran dan batin.

Dan pada malam ini, aku berupaya sholat dengan bening. Tanpa pamrih dan keinginan meminta.

Hanya ingin memintal waktu bersama Dia, membisikkan ucap terima kasih atas kehidupanku selama ini yang penuh limpahan rezeki, berkat dan kasih sayang sesama.

Malam ini aku mengucap syukur. 

Wednesday, May 02, 2012

Bekerja Adalah Ibadah


Pada suatu sesi kuliah Komunikasi Organisasi, membahas tentang Budaya dan Iklim Organisasi. Sampai pada sesi pertanyaan, apa tujuan Anda (peserta kuliah) bekerja. Kemudian terlontar jawaban seperti : memperoleh gaji, atau saya lebih melihat bekerja sebagai wujud eksistensi dan aktualisasi diri.
Silahkan jawab macam-macam, sesuai isi pikiran Anda…

Tapi yang mengena pada saya ketika Bapak Dosen mengatakan ada satu kalimat bijaksana yang sesuai dengan tujuan kita bekerja di usia produktif: BEKERJA ADALAH IBADAH.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , “ibadah” mengandung pengertian sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kuliah malam itu sangat cocok bagi orang-orang yang dalam kondisi demotivated dalam bekerja, atau memaknai kembali mengapa dia rela setiap hari bangun pagi, mandi, sarapan, bergegas menuju tempat beraktivitas. Kadang mengalami hari mendung dan di lain waktu mentari bersinar cerah menemani diri.
Jika bekerja adalah ibadah, berarti kita mampu bersyukur atas berkah Yang Kuasa dimana kita bisa memberikan kemampuan kita untuk kebaikan diri sendiri, bersama dan organisasi tempat kita bernaung. Alhamdullilah juga jika itu memberi berkah berkelanjutan bagi masyarakat, meskipun itu tidak berimbas secara langsung.

Untuk semangat bekerja, kita membutuhkan Motivasi, dan hal ini tercipta melalui dua cara:
  1. Motivasi berasal dari dalam diri sendiri.
  2. Motivasi diciptakan oleh orang lain. Karena konteks pembicaraan malam itu tentang budaya organisasi (perusahaan swasta, perusahaan negara, lembaga swadaya dsb), maka bisa jadi motivasi itu muncul karena lingkungan yang mendukung. Misalkan ada hadiah bagi pekerja yang berkinerja baik, penghargaan, atau pimpinan yang menciptakan iklim kondusif. Seorang pimpinan menentukan iklim lingkungan yang dia pimpin. Sehingga akan tergantung pimpinan yang berkuasas dan bagaimana anak buah merespon. Sehingga dalam suatu konsep organisasi dikenal faktor “X Efficiency” yaitu faktor X mengapa misalkan ada dua karyawan yang diterima dalam waktu sama di suatu perusahaan, namun tidak memiliki kondisi termotivasi yang sama.


Jadi, sudah bisa mendapat gambaran tentang bagaimana Anda mewujudkan rasa bekerja sebagai ibadah?
Izinkan saya mengutip kembali sebuah penggalan puisi yang diciptakan oleh Kahlil Gibran yang dulu sangat saya sukai untuk memotivasi saya berkarya.
Kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan apabila engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka akan lebih baik jika engkau meninggalkannya, dan mengambil tempat di depan gapura candi dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cinta …
(Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Jika tertarik mengetahui lebih lanjut tentang Budaya dan Iklim Organisasi dari sudut Ilmu Komunikasi, bisa membaca buku Organizational Communication 6th Edition oleh Gerald M. Goldhaber (Penerbit: McGrawHill) dan Komunikasi Organisasi – Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan oleh R. Wayne Pace & Don. F. Faules (edisi bahasa Indonesia, dengan editor Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung) sebagai rujukan. 

Wednesday, January 25, 2012

Setiap Kejadian Proses Kehidupan

Kita tidak bakal kenal Cassius Clay Junior jika dia tidak terkena musibah pada 1954.

Saat itu usianya baru 12 tahun, sepedanya digondol maling. Sambil menangis Cassius melaporkan sepedanya yang hilang kepada seorang polisi yang merangkap pelatih tinju, Joe Martin.

Joe Martin menyarankan si remaja asal Kentucky, AS, disarankan untuk berlatih supaya bisa memukul si maling. Akhirnya tinju menjadi jalan hidup remaja pria yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Ali. (diolah dari artikel Olahraga Koran Tempo, Sabtu 15 Januari 2012 “Tujuh Hari untuk Juara Tujuh Dekade”).

Cerita diatas memberi inspirasi bahwa setiap kejadian di dalam kehidupan memiliki arti. Cassius kecil karena kehilangan sepeda yang baru dibelikan orangtua, menjadi bertemu dengan  pelatih yang menuntun langkahnya ke kehidupan masa dewasa.  Meskipun ada kejadian negatif tetapi ada hikmah di ujungnya.

Masa-masa menderita mungkin kita lihat sebagai cobaan tiada akhir, dan ketika kita melaluinya, akhirnya kita bisa menoleh ke belakang dan menemukan itu sebagai rangkaian proses pendewasaan.

Saya bisa mengatakan ini karena beberapa tahun kemarin mengalami fase yang kusebut sebagai “badai” dalam kehidupan. Tentu pernah kupikir fase itu tiada akhir. Dan sekarang ternyata saya dan keluarga bisa lalui, dan menjadikannya pengalaman dalam kehidupan. Adapula perasaan menjadi lebih bijaksana dan pendewasaan berpikir.

Akhirnya saya bisa memaknai istilah “Gusti Allah Ora Sare” yang lebih kurang berarti
“Allah Tidak Tidur” .. dan merasakan pembenaran dari ucapan bahwa Tuhan tidak akan menguji umatNya melebih batas kemampuan dirinya.   

Wednesday, December 21, 2011

Syukur atau Sombong

Ya Allah,
Ketika aku di dalam mobil dan memandang abang odong-odong mengayuh sepedanya, dalam batinku bersyukur berada di dalam roda empat berpendingin AC dan ada supir siap mengantarkanku.

Namun, seketika aku juga bertanya apakah diriku sombong jika melihat 'yang kurang' dan membisikkan syukur?

*Ada pesan agar selalu “lihat ke bawah” dan ingat diatas langit masih ada langit* 

Thursday, October 13, 2011

Perubahan (Oktober 2011)

Blog saya tampilannya beda sejak Rabu lalu (12 Oktober 2011). Sebenarnya karena ‘kecelakaan’, karena Eno yang agak-agak gaptek ini dengan berani-beraninya mengklik suatu pilihan yang kalau diterjemahkan kurang lebih berarti “desain baru”.

Klik.

Abrakadabra…..! Tampilan pun baru. Ciamik! Tapi kaget karena ada format berubah, berantakan, saling menimpa, dan akhirnya saya menghilangkan kolom Jejak Pesan yang difasilitasi oleh oggix.com, semata karena saya bingung mengubah format html.

Saya mengucapkan maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang pernah mengisi di Jejak Pesan…. L … Namun sekiranya blog ini tetap menarik dikunjungi dan dibaca oleh teman-teman pengunjung.


Hidup Memang Dinamis

Tapi hidup memang dinamis, seperti halnya saya juga menikmati perubahan perwajahan blog pribadiku per Oktober 2011.

Blog aura-azzura ini ibarat taman hatiku. Aku tanami cerita, kusiram dengan berbagai kisah (meski tidak setiap hari diperbaharui), dan kesibukan seringkali membuatku tidak mengasuh taman dan dia pun terbengkalai.

Azzura berarti warna biru dalam bahasa Italia, dan kukembalikan blog ke nuansa biru. Sedangkan Aura dalam pengertian bebas sebagai cerminan dari sifat sejati kita setiap saat.

Biru bisa bahagia, bisa pula berarti sedih. Saya membuka blog ini dengan puitis mewakili perasaan diri yang jatuh cinta, patah, jatuh, cinta, cinta, patah…cinta.. dst.. Maka tidak heran di awal-awal blog penuh dengan puisi.

Namun sepertinya kemampuan menggores puisi ini semakin tumpul, terbukti kalau puisi (tags: coretan sastra) semakin berkurang hadir. Hanya saja, saya tetap yakin bahwa kemampuan menulis puisi bisa hadir berkat tekun dilatih…. Cuma keinginan atau diri ini sedang berubah dan meminati hal lain. Konsentrasi ke hal yang satu dan dengan berat memang terpaksa membuat saya melupakan sejenak fokus untuk menjadi peramu puisi.

Saya menikmati dinamisnya hidup saya. Menjalani hidup harus punya tujuan yang ingin dicapai. Seperti mengutip pesan seorang dosen Manajemen Strategi, untuk mencapai tujuan kita harus merumuskan dan mengimplementasikan strategi. Dan strategi itu untuk mencapai sebuah tujuan berjangka pendek, menengah dan panjang.

Dan jangan takut untuk berubah demi mencapai tujuan. Dengan catatan semua perubahan itu positif dan menuju diri yang lebih baik. 

Tuesday, September 20, 2011

24 Jam yang Tidak Cukup


Now I can't do it for ya, I'm too old. I look around, I see these young faces and I think, I mean, I've made every wrong choice a middle-aged man can make. I've pissed away all my money, believe it or not. I chased off anyone who's ever loved me. And lately, I can’t even stand the face I see in the mirror. (Tony D’Amato – the movie “Any Given Sunday”)


“Semakin tua semakin banyak kehilangan dari dalam diri kita,” demikian lebih kurang terjemahan bebas kalimat yang diucapkan pelatih Tony D’Amato saat membangkitkan semangat anak asuhnya yang tergabung dalam tim football Miami Sharks.

Aktor kawakan Al Pacino yang memerankan D’Amato punya wajah tua yang pas. Tim football yang sudah lama tidak memegang trofi kemenangan. Semua mengisi bagian tentang putaran waktu yang berlalu.

Hidup adalah sebuah buku putih, dan manusia masing-masing memiliki 24 jam sehari untuk mengisinya.

Ada masa ketika kita sibuk dengan sekolah dan bersenang-senang. Lalu berganti masa bekerja sambil bersenang-senang.

Suatu hari, tiba masanya ketika kebutuhan hidup bertambah, bertambah pula upaya kita mencari uang. Sekaligus juga tiba masanya kegiatan diukur dalam parameter materi dan eksistensi diri.

Kemudian tiba-tiba diri ini merasa 24 jam sehari tidak cukup. Bangga terhadap hal yang dilalui, hanya saja kali ini merasa banyak aktivitas yang ingin dikerjakan, namun bertanya: rasanya waktu itu dalam sehari kurang.

Ahya, saya jadi teringat satu lagi ucapan menarik yang kukutip dari film. Kali ini yang mengatakan adalah Carrie Bradshaw, karakter yang diperankan oleh Sarah Jessica Parker di film Sex and the City.

Umur 20 – masa bersenang-senang
Umur 30 – menebus kesalahan
Umur 40 – saya yang membayar

(Lalu Carrie bangkit membayarkan minuman yang dipesan wanita lebih muda yang baru saja diterimanya menjadi personal assistant). 

Yang saya sukai dan mengena dari kalimat ini adalah rangkaian kesuksesan seorang wanita. Dari masanya bersenang-senang dalam konteks menikmati hidup, kemudian memasuki pendewasaan cara berpikir dan perilaku, dan ditopang kemapanan finansial pula :)

Semoga hari-hari yang saya lalui memang selalu diisi hal yang bermanfaat. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan hari ini adalah persiapan untuk menyambut hari esok. Dengan catatan: meski saat ini saya sedang bekejaran dengan waktu. 





Saturday, July 09, 2011

Semesta Mendukung ala Yohanes Surya


Ini sebuah catatan dari liputan lama. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu. Waktu itu saya mengikuti seminar anak-anak yang salah satu pembicaranya adalah Prof. Yohanes Surya, Ph.D, seorang fisikawan dan dikenal sebagai pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

Ia menceritakan pengalamannya membawa anak asuhnya untuk mengikuti kejuaraan fisika seluruh dunia, dari nothing, tiada biaya, masa persiapan singkat, hingga akhirnya torehan keberhasilan anak-anak Indonesia meraih medali untuk olimpiade tingkat dunia membuat respon positif dari berbagai pihak.

Yohanes mengenang awal keikutsertaan tim olimpiade fisika pada 1995 tanpa sponsor dan hanya punya waktu persiapan diri selama 7 bulan. Namun terus saja setiap tahun mereka ikut. Dalam kondisi serba minim, Yohanes menjadi motivator bagi diri sendiri dan anak asuhnya karena menemukan Mestakung = SeMESTA menduKUNG, yaitu hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta –dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar diri- akan mendukung diri kita untuk keluar dari kondisi kritis.

“Begitu kita menetapkan kondisi kritis, maka Mestakung terjadi,” kata Yohanes Surya.

Mestakung berhasil kalau: bekerja keras, konsisten dan fokus, dalam arti bukan sesuatu yang diperoleh secara instan.

Ada 3 hukum Mestakung yaitu, dalam setiap kondisi kritis ada jalan keluar. Ketika seorang melangkah maka dia akan melihat jalan keluar, lalu ketika seorang tekun melangkah, dia akan mengalami mestakung.

Seperti prinsip pegas dimana berada pada titik terendah lalu naik.

Kesimpulannya, apapun kondisi kritis yang kita alami, percayalah Tuhan Yang Maha Kuasa akan menciptakan Mestakung untuk membantu keluar dari kondisi kritis itu.

*Liputan ini jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” dan ternyata prinsip yang ada di buku tersebut mirip konsep motivasi ala Yohanes Surya.*

(Gambar dikutip dari: www.1wd.co)

Thursday, July 07, 2011

Rezeki

Tadi pagi adzan Subuh terdengar lamat-lamat. Angka jarum jam digital menunjukkan pukul 4 sekian, ketika badan terjaga. Mungkin dosis ngantuk yang ditimbulkan obat flu sudah mereda, atau memang badan mengirim sinyal sudah cukup masa istirahatku.

Teringat semalam ada diskusi diantara kepala pening efek flu, badan ngegereges, dan kesadaran pagi hari adalah semangat baru.

Lalu saya berdoa dalam hati :

Ya Allah,
Aku percaya Engkau telah mengatur rezeki umatNya,
bagai kerang diantara hamparan pasir.
Tinggal kita melangkah menjumputnya.
Amin..

Masa bangun pagi karena bersiap-siap ke sekolah sudah lama berlalu. Bukan lagi masa siap lahir batin untuk ulangan dari guru killer, pelajaran Fisika yang tidak saya sukai, dan janji jalan-jalan pulang sekolah.

Bangun pagi saat ini adalah hari berikutnya kita menjemput rezeki. Menikmati jalan raya ibukota yang macet, sampai di portal gedung kantor, mengembangkan senyum sapaan di pagi hari mulai dari depan pintu kantor, kepada pak satpam, office boy dan beberapa rekan yang sudah datang, lalu menhempaskan pantat ini di kursi merah di cubicle kantor.

Menyalakan laptop, membuka akun e-mail kantor dan memeriksa isi surat yang masuk. Membalas beberapa poin, menyimpan surat atau kebanyakan masuk dalam kolom ‘delete’. Buka file pekerjaan, inilah masa bekerja, diikuti jeda, tau-tau sudah magrib dan saatnya berkemas pulang.

Ritual ini menjadi rutinitas. Sudah pasti pula tidak hanya saya yang punya ritual ini. Lihat saja wajah-wajah di kemacetan sore hari. Muka lelah, bedak yang memudar, bibir yang tak berpoles lipstik meski ada sisa semburat pemulas warna bibir itu di raut muka, diantara jalur kereta api ada gadis mengenakan rok span dan kaki dibalut stoking tapi ditemani oleh sepasang sepatu flat shoes, seolah mengatakan “High-heels ku masuk garasi di bawah meja kantor.”

Eno penulis menikmati rutinitas bersama sejumlah orang lain yang kulihat, kenal selintas hingga profesi lain nun di belahan lain. Mulai dari tukang bangunan yang menjadikan tiap pagi adalah hari lain menyemen bata dan mengaduk semen. Supir bis, perawat di rumah sakit, rekan-rekan kantor, hingga pak direktur.

Rutinitas ini menyerap energi tubuh, hingga tiba-tiba datanglah usia pensiun. Dan kalimat “berezeki” memiliki arti sebagai menjadi tua bersama keluarga, dikaruniai tubuh yang masih sehat di senja usia.

Tapi rezeki esok hari adalah rangkaian persiapan hari ini. Saya pun kadang masih menjadi makhluk hari ini, masa lalu adalah hari yang berlalu, tapi sedang merancang masa depan. Setiap orang hanya manusia biasa yang mencoba yakin melangkah, walau sesekali ada rasa mundur dan takut terhadap pilihan rencana hidup. Namun pada akhirnya si anak banyak mau sedikit ambisius ini berucap bismillah sebelum ambil keputusan, tarik nafas panjang, kemudian yakin bahwa rezeki dari Tuhan sudah ada yang mengatur.

Monday, June 27, 2011

Lelah

Aku bukan tak bersyukur. 
Tapi bolehkah satu kali ini berteriak, “Ya Tuhan… Aku lelah.” 

(Bogor, 27 Juni 2011 - dini hari)

Monday, June 20, 2011

Sabar

“Patience – Our real blessings often appears to us in the shapes of pain, looses, and disappointment. But let us have patience. .. We soon shall see ‘them’ in their proper figures. With lots of true.”


Kalimat diatas saya simpan di dalam memori komputer dan ketemu saat bongkar-bongkar arsip. Saya ingat kembali sumber kata-kata mutiara itu berasal dari kiriman berantai blackberry messenger dari rekan kerja.

Sumbernya anonim atau tidak tahu siapa yang mengatakannya. Hanya saja kalimat itu kuterima di saat yang tepat. Pesan diterima pada 2010 ketika Bapak saya keluar masuk rumah sakit, dan saya bisa mengatakan saat itu kesabaran kami sekeluarga sedang diuji, dan secara pribadi saya merasa pula akan arti ‘keluarga’.

Keluar masuk rumah sakit, masuk Unit Gawat Darurat, operasi dan masa pemulihan selama setahun, Alhamdullilah kini Bapak saya sehat walafiat. Dan ini membuat saya punya kesabaran yang baru. Jika Bapak saya bawel dan keras kepala, saya mengingat masa-masa kritis dan perasaan takut kehilangan saat Papa dioperasi dan masuk ICU, saat beliau sesak nafas, untuk jadi bersabar atas gaya Papa yang sudah saya pahami sejak saya lahir.

Bagi saya yang terencana, ketidakteraturan bisa jadi cobaan. Bisa berarti pemicu ledakan amarah.

Ketika ambisi menjadi terlalu ambisius.

Ketika di atas langit masih ada langit.

Ketika batal menikah.

Ketika rencana pindah rumah tidak sesuai harapan karena kondisi yang berkembang di lapangan.

Ketika keinginan terealisasi 10 tahun kemudian, kita jadi mengingat kembali poin-poin kehidupan kita mengapa tertunda hingga 1 dasawarsa. Dan menyadari memang ini saat yang tepat untuk merealisasikan, ketimbang misalkan 2, 5 atau 9 tahun lalu.

Sabar bisa memakan waktu tunggu seperkian detik, menit, jam, hari, hingga tahun.

(Kini saya menambahkan pasangan kata: niat – ulet – kesabaran – keteguhan – doa).

“Berkah seringkali hadir melalui bentuk cobaan, kehilangan dan rasa kecewa. Kita harus belajar bersabar, dan pada waktunya kita akan melihatnya dengan baik. Dalam alasan yang tepat.”

Friday, June 03, 2011

Ambisi, Perubahan, dan Konsekuensi

Apa yang salah jika kamu punya “ambisi” atau “ambisius”?

Beda tipis atau lain dengan “mewujudkan mimpi”?


Kurasa hanya masalah setiap mimpi itu ada jumlahnya. Ada yang sedikit, sedang atau banyak.

Ketika dalam mewujudkan keinginan membawa konsekuensi-konsekuensi, tiba-tiba ada ketakutan bahwa saya akan menghadapi perubahan, yaitu: kehilangan zona nyaman, serta mengatasi perasaan-perasaan takut yang menyertai.

Saya sedang mencoba menenangkan diri. Jika saat ini saya menyendiri, bukan berarti tidak membutuhkan sahabat atau saya berubah. Hanya saya butuh pemikiran matang, kesiapan mental dan siap dengan konsekuensi yang harus kuambil.

#Perubahan; Perbedaan 

Sunday, May 22, 2011

22.05.2011

Hari ini saya bersyukur kepada Allah SWT.

Merasa beruntung dengan kehidupan yang saya jalani, sekaligus membenarkan bahwa setiap ada cobaan pasti ada penyelesaian.

Saya coba membongkar diary lama, dan ternyata hampir semua wish list, target atau impian besar saya terealisasi. Mimpi itu terwujud dengan cara dan jangka waktu yang punya ceritanya masing-masing. 

Pembelajaran yang saya petik adalah : berani bermimpi dan jangan pernah pesimis

Don’t you ever underestimate your power!

*Siap-siap membuat wish list baru*

Tuesday, May 10, 2011

Buku dan Julukan Bu Guru

Setelah renovasi rumah dan kamar berjalan lebih kurang 4 bulan, awal Mei lalu saya mulai “mengisi kamar”.

Pusat kebahagiaan baru saya di kamar itu adalah sebuah lemari buku berdiri manis di salah satu sudut kamar. Lemari buku ini barang lama milik mamaku kemudian dibetulkan dan dipernis oleh tukang kayu. Semula lemari kayu itu agak terkelupas, warna kayu yang redup dan tidak berpintu. Saya minta agar dipasangkan pintu kaca di lemari tersebut untuk meminimalkan penumpukan debu diatas permukaan buku-buku, karena saya alergi debu.

Kemudian permintaan saya yang lain kepada tukang kayu agar dipasangkan kunci pada pintu-pintu tersebut.

Saya menjadikan koleksi buku sebagai milik berharga. Daripada buku atau majalah berpindah ke tangan-tangan peminjam yang lupa mengembalikan, karena kamar jarang saya tempati, lebih baik lemari buku itu dikunci.

Sebelum punya lemari buku pribadi, koleksi hanya tersimpan di rak-rak kecil atau disimpan di dalam kardus. Minggu kemarin, dibantu beberapa asisten, kardus-kardus itu dimasukkan ke dalam kamar supaya saya gampang membuka dan menyusun isinya ke dalam lemari di waktu luang nanti.

Mang Sugi, salah seorang asisten, berceletuk, “Isi kardus ini semuanya buku, mbak?

“Ya,” jawabku.

“Dibaca semua mbak?”

“Iya,” jawabku lagi.

“Hebat. Bisa jadi Bu Guru. Kalau saya jadi guru, buku-buku ini pasti saya jual,” katanya.

LOL….kontan saya tertawa spontan mendengar celetukannya. Mungkin maksudnya, buku identik sebagai sumber ilmu. Guru pun sebagai sumber ilmu, biasanya punya banyak buku dan bahan referensi agar menjadi orang yang lebih pintar daripada murid.

Amin…amin.. kalau buku-buku yang banyak itu menjadikan benak saya berisi informasi dan pengetahuan. Tapi buku-buku kumiliki untuk dijual alias diloakkan?? Hmmm… saya masih susah melakukannya.  

Wednesday, March 30, 2011

Hilang Orientasi dan Hilang Kemampuan Mengatur Diri

Bukan tidak punya mimpi.

Justru saat ini sedang panik.
Sepertinya ada jalan setapak sedang kubangun, nama jalan tersebut adalah “Jalan X”.

Itu adalah jalan mencapai salah satu mimpiku yang bernama X.

Cara merealisasikan mimpi ini dengan punya niat, sedikit fokus, dan banyakan nekat.

Dan sepertinya semesta sedang mendukungku untuk membangun jalan tersebut. Namun ketika faktor eksternal, lingkungan,  atau “ini saatnya” sedang mengarah membantu diriku, justru saya yang saat ini jadi bingung.

Bingung karena diri yang lebih senang berada di zona terencana tahu-tahu menjadi manusia serba dadak dan nekat.

Tapi apabila ada yang berkata jalani dulu tanpa perlu banyak berpikir, sepertinya memang benar adanya.

Lalu kenapa saya bilang hilang orientasi? Karena setelah semesta pun mendukung, rasanya masih ada halangan. Ada ketakutan dalam diri tidak mampu menjalani.

Tarik nafas, dan berpikir: kuncinya di kemampuan kamu mengatur diri. Kalau perlu, ambil agenda dan tuliskan to do list.

Kalau sudah begitu, saya coba tuliskan apa yang saya akan lakukan untuk menyelesaikan Jalan X tersebut.

Bismillah…


(Gambar dikutip dari: www.pdwhite.com) 



Monday, March 07, 2011

DVD di Akhir Pekan

Sabtu sewaktu tanggalan merah, saya jalan-jalan ke Kelapa Gading. Melewati suatu toko CD di lantai 2 Mal Artha Gading, mata saya tertumbuk pada DVD “Resident Evil-Afterlife” yang dijual seharga Rp. 17.500.

Lumayan murah untuk harga DVD orisinil. Apalagi rasanya sayang kalau memutar bajakan drive DVD laptop. Takut kenapa-kenapa, wong mahalan laptop-nya ketimbang sekeping DVD bajakan, bukan?!

Dari tertarik membeli satu, saya malah akhirnya membeli 4 keping DVD masing-masing:  Resident Evil-Afterlife, The Painted Veil, The Imaginarium of Doctor Parnassus, dan Wimbledon.

Wimbledon bukan film yang kucari-cari selama ini, tapi justru paling kusuka diantara cakram film yang kubeli, dan cocok melepas penat di akhir pekan. Untuk posting resensi bakal kuposting di blog Ruang-Resensi, tapi ada kalimat menarik diucapkan tokoh perempuan utama di film Wimbledon. Lebih kurang begini: that’s what I like from this game. That one the winner, that one the looser. And tomorrow one of you are going to be the loser.  

Sebuah kalimat layak jadi semangat dalam beraktivitas sehari-hari…. hidup ini memang sebuah perjuangan! 

Thursday, December 30, 2010

Tahun Baru


30.12.2010

Tulisan ini dibuat dua hari menjelang pergantian tahun dari 2010 ke 2011.
Jalur lalu lintas Jakarta terasa lebih lengang sehingga jalanan mengalir lancar hanya pada beberapa titik tersendat karena lampu merah atau persimpangan jalan.

Semalam sebelumnya menyaksikan pertandingan kedua final Piala Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) antara Indonesia vs Malaysia. Indonesia memang kalah, dan hanya keluar sebagai runner up. Tapi menyadari bahwa sepak bola memang bisa menyatukan semua umat dan membangkitkan rasa nasionalisme.

Terus hari ini saya menatap layar laptop, memantau pekerjaan yang akan menanti mulai diselesaikan pada 3 Januari mendatang. Hari pertama bekerja di 2011, dan sepertinya membuatku merasa sebenarnya tahun baru hanyalah penanda 365 hari telah berakhir dan masuk ke fase baru dari 365 hari berikutnya.

Sebenarnya apa sih arti “tahun baru”? Apakah pesta, jalanan ibukota yang lengang, atau kesempatan berlibur adalah bagian dari ritme yang dirasakan menjelang tutup tahun.

Namun saya juga beranggapan tahun baru adalah momen baik untuk Resolusi dan Semangat Baru. Titik mula Harapan Baru dan berharap akan menjalani satu tahun kedepan dengan gemilang.


(Sumber gambar : www.knox.villagesoup.com)

Thursday, October 28, 2010

Jenuh

Saya pernah merasa beruntung karena bekerja sesuai hobi. Hobi menulis dan bekerja sebagai penulis.


Tapi ternyata bekerja menurutkan hobi pun ada jenuhnya juga. Ketika ide tak berseliweran diotak, enggan memulai kerja meskipun konsep dan bahan telah ada.

Memulai langkah pertama memang sulit. Padahal saya sadar kalau menulis dimulai dulu dengan lead pembuka dan selanjutnya artikel akan mengalir.

Saya sadar sedang dilanda kejenuhan. Cape berpikir, tak ada ide, dan ini berimbas pada kerja, menunda hingga tenggat tulisan sudah dekat. Menonton sebagai fungsi menghibur dan menghilangkan kejenuhan juga kadang tidak efektif. Karena mencerna jalan cerita film membuatku harus berpikir juga :D

Buntutnya, paling enak membuang perasaan jenuh dengan bermain game. Hati-hati keenakan main, ntar bablas waktu pun habis terbuang. Main game melepas penat harus tahu batasan dan ingat: kerja yang lebih produktif masih menunggu.