Showing posts with label sudut narsis. Show all posts
Showing posts with label sudut narsis. Show all posts

Tuesday, May 03, 2011

Puisiku Dimuat Lagi

April 2011 bisa jadi bulan super sibuk bagi diriku. Jumlah pekerjaan yang harus kuselesaikan, plus rencana izin dan cuti hingga di minggu terakhir April, saya berlibur ke Medan – Pematang Siantar.
Yap. Nama saya yang paduan Jawa-dan marga Batak membuktikan dalam darah ini ada kombinasi suku di Indonesia, serta punya beberapa pilihan mudik.


Dan ketika saya mulai ngantor per 2 Mei, tahu-tahu mendapat kabar dari mas Yo untuk mencek website Perempuan.com.


Hura! Puisi-puisiku dimuat. Kalau mencek tanggal coretan puisi dan tanggal posting, pembaca bisa memperkirakan berapa lama rentang waktu akhirnya puisiku dimuat. Jujur saja, saya sempat capek ‘mengintip’ website untuk memantau posting terbaru puisi, sudah merasa yakin tidak dimuat karena kualitas karya para pemuisi sebelumnya sangat diatas diri ini, dan kebetulan selama bulan lalu memang pekerjaan utama menulis menyita waktu dan pikiranku hehehehe…


Kemudian, maaf, jika judul tulisan ini sedikit narsis, saya pribadi masih belum punya jam terbang tinggi. Meskipun hingga saat ini media yang memuat masih bisa dihitung dengan lima jari tangan. Tapi tentu ada kebahagiaan tersendiri ketika karya puisi lagi-lagi dimuat.  ^_^

Berikut karya puisiku yang dimuat dan link puisiku di website: disini


Tato – 1
Lengking Motley Crue Dr Feelgood
Hitam kelam The Girl with the Dragon Tattoo
Naga terbang menari bersama keluwung
Bikin aku ngidam tato malam malam

****


Tato – 2
Hari ini
Kau cium tato di punggungku
rajah ular memilin hati
pagut bibir kita bertaut
menjalin bak akar sulur

Jakarta, 18-11-2010
****


Bosan
Aku (pernah) menanti kamu menjemput hatiku
Mengayam hari memburai waktu menunggu
Hingga hati ini beku terpahat kisah sambil lalu

Bogor, 16 Mei 2010
****


Cerita Pagi
Wajah-wajah beku
Sibuk bergegas
Tinggalkan sarang
Memetik hari

Debu knalpot
Deru mesin
Bensin campur setengah isi
Menu pagi

Kaki-kaki kuda besi
Berderap hentakkan mata lengket
Lekas beranjak sebelum tenggat
Namun jalan susah beranjak
Usia pun tergerus di aspal kelabu



Jakarta, awal Desember 2010

****


Jatuh Cinta Lagi
Ini cerita kita
Saat hangat genggam tangan menyatakan rasa
tanpa kata cuma mata menjawab degup di dada

Ini sebuah kisah usang
Hanya selalu tercecap baru
Sejak senyum tautan rembulanmu menjemputku
Dan mata kilau pekat menyiramku dengan pagi

Ini kisah sederhana
Janji kita hanya “kamu dan aku”



Jakarta, 24 Juli 2010


****


Penggal Kisah


Ada sebuah kisah
Kita jemput dalam satu masa
Mengajak kita menulis cerita di buku jiwa
Tentang pelangi, bintang dan bulan.

Pada pelangi kita bentangkan layar cinta
Gantungkan asa di kemilau bintang
Menjalin kisah romansa di ujung senja.

Kini pada bening mata saling memandang
Bertanya dimana bara itu ada menyala
Kita jatuh cinta semusim kemarin
Bergulir jadi kisah selewat angin.


Friday, July 24, 2009

Puisiku-Oase Kompas

Puisi-puisiku dimuat di rubrik Oase (Puisiku) www.kompas.com.
Tepatnya di edisi :Rabu, 22 Juli 2009

Link : http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/22/0011264/puisi-puisi.dewi.retno.siregar

Hampir sebagian besar puisi, kecuali "Kamu", belum pernah kuposting sebelumnya di blog pribadiku.

***

Taman Milik Kita

Mari jadikan cerita kita taman bermain
Tanam pohon cemara di tanah seluas hasta
Kita gemburkan tanah kita
Sirami air mata dan semai derai tawa ketika kita berangkul pilu


Mari saksikan pohon cemara saksi cinta kita
Saat matamu bertumbuk dengan degup jantungku
Ketika aku tak mampu menipu merah pipiku
Saat kau sodorkan kembang gula merah jambu


Mari kita bakar kembang api dalam taman cinta
Lontarkan cahaya dalam langit berbintang binar
Jilati pelangi menyapu mendung pergi


Jakarta, 16 April 2009

***

Bayang

Hanya menggenggam wajahmu di otakku
Kubayangkan tanganku menelusuri lekukmu
Di suatu pagi yang lusuh tersapu mendung

Kupintal bayangmu di jelajah pikiran
Di mendung kelabu hatiku pun sendu


Jakarta, awal Juni 2009

***

Kamu
: Birthday Guy


Kamu dan Saya pernah berbagi nikotin dan kafein
Saling cerita di taman kota suatu hari
Kamu dan Saya pernah menikmati masa berderai hujan

Kamu adalah hujan mencium bumi
Menguarkan bau tanah mengajakku berdansa
Sampai musim semi tiba mengajak Saya dan Kamu bersarang
Kamu mengeja huruf, kata dan bait dalam senandung
Saya menyusun gambar membentuk bayang

Kamu marah ya?
Kamu ngambek ya?
Kamu menghapus saya dari pikiran dan hati?

Saya tak sadar, tak mengerti
Kamu lebih dari perhatian kamu
Saya tak sensitif membuka kunci hati


Jakarta, 28 Juni 2009

***

Ketika Senja Kuganti Pagi

Mengapa cinta berkait senja?
Aku bosan menulis kalimat ”Dan kau temani aku hingga senja”
Aku jenuh mencumbu melankoli romantis
Mungkin aku terlambat bangun pagi dan tergopoh memulai hari
Terlalu singkat untuk menikmati gradasi mentari

Dan senja identik matahari berlabuh
Menuju malam lalu kita ikut terlarut bersama kelam
Menikmati istirahat setelah lelah mencari jarum diantara jerami
Ya! Kadang kamu beruntung meraih cinta
Seringkali keringat membulir dalam menangkapnya

Bagaimana jika aku ganti cinta adalah pagi?
Menikmati detik kelam berganti fajar
Lamat-lamat menikmati azan subuh
Mengetuk ingatan senandung yang sama menemanimu pada awal membuka mata
Ketika kita terlahir buta dan tak berdaya
Cinta pula yang menuntun kita menatap dunia

Bagaimana jika kau kusambut bagai mentari pagi?
Pagi ini kecup embun dan menyesap kopi
Ada riuh mengalir ke pembuluh nadi


***

Kopi Tubruk

Kamu cintaku dalam kopi tubruk
Langsung nempel di hati
Nancap di lidah
Ingin kucecap sampai ke ampas


Jakarta, 4 Juli 2008

Monday, September 08, 2008

Narsis



“Yang ini kayak pake konde di depan,” komentar teman sambil menunjuk salah satu foto.

”Lha.. abis fotografernya ga kasih kesempatan dandan dulu,” kataku. Haha... memang dasarnya gembil.. ya tetap gembil aja. Padahal komentar teman itu sih bukan soal ’pipi’, tetapi soal ’rambut poni ga jelas’ di atas mataku itu.

Sudahlah.. yang penting ternyata tampangku bisa masuk media ... Jadi ingat cerita-cerita masa wartawan dulu, katanya ada teman yang sering sengaja berdiri melakukan wawancara di belakang sang narasumber. Usai sesi wawancara guyub (alias, rame-rame) bersama berbagai media dari televisi, cetak, radio, bahkan internet, sang teman wartawan itu nelpon ke keluarga di rumah. ”Mak.. Anakmu masuk tipi.... ntar liat siaran berita.......”