Showing posts with label komunikasi. Show all posts
Showing posts with label komunikasi. Show all posts

Monday, February 08, 2016

Watch Your Mouth, Dude!

Malam-malam pesan kue di sebuah toko kue yang sudah berusia matang.
Tibalah giliran bayar. Rencana bayar lunas. Metode pembayaran tunai.
Kasir menggesek kartu debit BCA. Status: Decline.
Kasir nyeletuk, "Ga cukup."
Jreng! Ucapan yang enteng. Two simple words. Tapi bagi obyek pemilik kartu, saya, serasa angin diiringi hujan yang mengguyur Jakarta di awal pekan Februari menyiram badan saya seketika itu.

Muka saya langsung gigi taring. Sayangnya demi komitmen: usia baru, tahun baru, resolusi mulut harus dicuci bersih tanpa bicara nyinyir dan kasar.

Saya pun berkata, "Mbak, saya yakin lho saldo saya cukup untuk membayar lunas."
Ibu Supervisor mulai menangkap gelagat customer mulai gahar. Ia mendekat ke posisi kasir.
Selanjutnya uji coba lagi masih tetap gagal. Decline. Si kasir ngomong, "Tuh kan ga bisa mbak," terus dia ke Supervisor seraya berkata, "Tapi ibu/mbak ini yakin uangnya cukup!"

Ngok!

"Oke mbak, bayar pas pengambilan. Saya utang ya!"

Bagi saya status "Decline" terjadi kalau saya: lagi-lagi salah memasukkan pin. Kartu diblokir *Ini sudah pengalaman pribadi lebih dari satu atau dua kali. Bahkan seandainya bank punya promo get stamp untuk masalah kesalahan pin dsb kayak di suatu convenience store, saya sudah berhasil bawa pulang piring, mug dll*

Apalagi saya sempat melihat koneksi dua mesin EDC di meja kasir tidak stabil karena pengaruh cuaca Jakarta malam ini memang tidak kondusif. Teman-teman yang paham perbankan juga pasti dengan senang hati menjelaskan supaya berbagai latar belakang penyebab status Decline makin komprehensif dan melengkapi pemahaman saya :)

Moral of story: tidak gampang menjadi pribadi MELAYANI jika Anda jadi pekerja di dunia jasa atau apapun industri yang Anda geluti. Mulutmu harimau mu. Teman kita memaklumi cara dan gaya kita berucap. Tapi imbas ucapan enteng berbeda di telinga customer.

Dari kuping lalu dicerna emosi dan otak, berujung pada bad experience. Akibatnya bisa jadi customer dengan senang hati menuliskan pengalamannya ke dalam blog, seperti saya. Bahkan membubuhkan judul "Dipermalukan Kasir" di artikel. Mulut pun dengan senang berceloteh menceritakan pengalaman ini menjadi mouth-to-mouth.

Apa nama toko kue-nya? Ahh.. Dewi Retno Siregar kan mau menjadi pribadi positif. Mau jadi orang yang mampu mengunci mulut agar tak enteng bicara. Psst, nanti suatu hari teman-teman juga tahu *wink*

Noted: "Dude" dibaca "Dud" adalah panggilan sayang saya dari keluarga. Jadi tulisan ini menjadi bagian refleksi diri.

Friday, January 20, 2012

Menantang Diri Tetap Update Blog

Sejak hari pertama tahun baru 2012 hingga pertengahan Januari ini Saya belum mengupdate blog. 

Blog memang sesuatu yang fun. Dikerjakan dengan fun dan jika pada dasarnya blog berisi hal-hal remeh yang tercetus dari kehidupan harian, mungkin kesibukan sehari-hari sudah cukup menyita waktu tanpa sempat menceritakan kembali dalam rangkaian kalimat tertulis.

Mungkin pikiran dan tenaga dan pikiran sudah habis terserap dalam kegiatan sehari-hari. Sisa waktu digunakan untuk lepas dari depan laptop.

Atau bisa jadi tiada kisah atau hal-hal kecil yang mampu meletupkan inspirasi mencoret puisi. Kehilangan passion untuk nge-blog.

Lebih apes lagi jika mantan pacar adalah stalker yang memantau isi blog kamu.. *amit-amit ..ketok meja*

Godaan lain adalah situs micro-blogging seperti Twitter yang hanya membutuhkan 140 karakter lebih menarik, apalagi kemudahan tinggal me-RT postingan following kita. (baca tulisan  terkait: Riset Pew Internet Tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial).

Ada suatu masa hingga saya punya total lima blog di situs blogger:
  1. Ruang Resensi Bacaan dan Tontonan
  2. Life is too Short to be Sad
  3. Kumpulan Tulisan Eno
  4. Eno’s Journal of Travel
  5. Shelf of Myself

Mencoba menantang diri sendiri tetap mengupdate blog .. #365 hari

Wednesday, October 19, 2011

Belajar dari Cara Menkes Memberi Pidato Sambutan yang Menarik

Selasa 18 Oktober 2011 saya datang ke sebuah acara yang berlangsung di kawasan Thamrin Jakarta Pusat. Acara tersebut diselenggarakan oleh sebuah optik  terkemuka di Indonesia dan saya tentu hadir dalam kapasitas sebagai penulis iklan (copywriter). Optik tersebut mengadakan kontrak kerjasama pembuatan advertorial.

Acara berupa donasi kacamata bagi 1000 anak-anak ini dalam undangan ditulis berlangsung dari jam 09.30 pagi, namun ternyata hingga hampir jam 11.00 wib acara belum mulai. Semua sudah gelisah. Tamu-tamu cilik alias murid-murid sudah tampak suntuk dan adapula yang sempat menangis resah sehingga ditenangkan oleh guru. Rombongan anak Sekolah Dasar yang berasal dari Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Pusat itu padahal sudah datang dari jam 8.00 wib.

Ngaret terjadi karena menunggu tamu kehormatan yang terdiri dari Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dan istri Gubernur DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo yang juga menjabat sebagai Kepala Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta, belum juga datang.

Anak-anak media pun mulai bosan. Kami bahkan melemparkan joke mungkin ibu-ibu itu masih sibuk mensasak rambut. Dan ketika rombongan datang tepat jam 11.00 wib, otomatis mata saya mengarah pada kepala. ”Hey.. kedua ibu ini tidak mengenakan sasak atau sanggul tinggi,” batinku.

Kedua ibu berambut pendek. ”Ohhh bukan sasakan dong yaa....”.

Setelah pidato pembukaan dari Lions Club, Menkes Endang Rahayu maju ke podium untuk memberikan kata sambutan. Saya belum pernah meliput acara dengan Menkes ini sebagai pemberi pidato sambutan. Saat melihat parasnya saat maju ke podium, saya membayangkan seorang yang tegas, dan gaya tenang memberikan salam pembuka dan sebagainya hingga Menkes berkata, ”Adik-adik kok wajahnya lesu. Sudah datang jam berapa kesini?”

Anak-anak itu secara polos menjawab nyaring datang pada jam 8.00 wib. Ibu berkacamata itu tersenyum tipis dan berkata, “Maaf tadi saya harus ke Jakarta Timur dulu untuk meresmikan imunisasi campak dan polio. Kalau kacamata ini untuk anak Sekolah Dasar (...dia ingat garis besar Donasi ditujukan bagi anak SD....). Adik-adik sudah dapat imunisasi? Lupa ya karena masih kecil. Bedanya imunisasi ini untuk anak balita. Di rumah coba tanyakan apa adik kecilnya sudah dapat imunisasi itu bedanya kalau campak berbentuk suntikan, sedangkan polio dalam bentuk tetes yang manis rasanya,” suaranya tenang menjelaskan.

Saya pribadi pun menjadi duduk manis menyimak. Sebagai audiens saya tertarik dengan caranya minta maaf atas keterlambatannya dan masuk ke bahasan lain yang membuat kita mulai lupa ‘kesalahan terlambat’ dan menggiringnya ke topik lain yang informatif.

Menkes lalu menyinggung slide presentasi yang ditampilkan sebelumnya, dan menyebutkan kalau gambaran khas tentang anak-anak adalah senyumnya. Kemudian Menkes mengajak anak-anak tersenyum bahkan tertawa memamerkan gigi. ”Tidak ompong ternyata,” kurang lebih dia berkata demikian. Anak-anak ketawa. Apa ini maksudnya menyindir sekedar cari lelucon? Ternyata ibu itu menjelaskan anak berusia kelas 1-2 SD khas dengan 2 gigi besar di depan atau gigi kelinci, sedangkan yang tertawa di hadapannya punya tampilan gigi rapi sehingga dia memperkirakan kelas 4 s/d 6 yang kemudian diamini pihak Optik kalau anak-anak yang hadir duduk di kelas 3, 4, dan 5.

*she got the clue: blend her medicine background into information to the public.

Saya kembali terpesona…. Wanita itu memasukkan informasi yang membuat kita manggut-manggut dan membatin, “panteslah dia mengerti..wong dia dokter,” … intonasi suaranya tegas sekaligus tenang. Dengan artikulasi yang jelas.

Menkes secara akrab menasehati murid sekolah dasar itu resep mata sehat, yaitu agar tidak membaca buku di dalam kondisi pencahayaan ruangan yang kurang.

Ia melanjutkan himbauan kepada guru atau kepala sekolah yang mendampingi murid-murid agar memperhatikan pencahayaan di ruangan dalam kelas. “Jangan memilih cat tembok berwarna gelap, lebih baik warna terang. Hal lain yang bisa diupayakan pencahayaan langsung matahari dan atap tinggi,” katanya.

Endang pun menyisipkan kinerja kementerian dengan mengatakan tahun depan akan memasukkan  penyakit gigi dan mata sebagai salah satu yang dicegah dalam program kampanye promotif dan preventif penyakit tidak menular.
Saya merasa selama berpuluh kali meliput, baru kali menemukan gaya pidato menteri yang rileks, tidak perlu text-minded,  tidak harus angka-angka kinerja perusahaan (kementerian/departemen), dan gaya yang tenang.

Saya membagi pengalaman ini murni karena (merasa) gaya pidatonya bisa menjadi masukan ketika kita menjadi pembicara di depan audiens. Berikut tips yang coba kurangkum:
- Sebagai perempuan tidak perlu bergaya orator berapi-api (karena kodrat perempuan suaranya juga tidak mungkin bariton tinggi menggelegak),
- masukkan humor atau informasi ringan yang mengena,
- sikap diri yang tenang,
- tahu audiens-nya siapa... terlihat Ibu Menteri ini lebih memusatkan pidato kepada audiens cilik yang berada di samping kanan saat ia berdiri di podium. Endang Rahayu menyampaikan informasi yang menarik perhatian anak-anak (baca: audiens-nya) bak guru TK mendongengkan cerita khayal yang bukan pengantar tidur, justru membuat anak menyimak apa akhir dari cerita,
- Dia juga berhasil ‘menyihir’ rekan-rekan lain dari bangku media dan penyelenggara acara. Ingat: fokus pada salah satu sayap peserta tapi sebagai pemberi pidato dia juga sesekali melakukan sapuan mata ke seluruh audiens yang hadir di dalam ruangan.  



(Gambar dikutip dari: SINDO) 

Wednesday, July 20, 2011

Bikin Advertorial

Membuat advertorial sama kayak pedekate: kenalan, selami dia, penuh semangat menuliskan dia dalam cinta yang kamu mengerti, lalu putus: Tulisan Sudah Tayang.

Akan tetapi bedanya: urusan pedekate cinta tak bisa dipaksa, tapi ide harus bisa dikawin paksa sama deadline :D



Thursday, January 20, 2011

Tentang Blog yang Hilang dan Timbul


“Ayo, rajin mengupdate blog yuk!”

“Tulisan tentang apa?”

“Apa saja! Dari opini kamu tentang berita di media, coretan curhat, atau amati saja sekitar kamu. Bisa saja kamu ceritakan tentang suasana rumah yang berisik karena pengerjaan renovasi rumah, pilekmu yang ga sembuh-sembuh, kucing gendut kamu, atau apapun.”

“Boleh saat sedang bad mood?”

“Aghh… jangan ah, ntar emosi tinggi kamu jadi milik publik, trus nanti tulisan kamu ‘kering’ tak menarik dibaca.”

Angguk-angguk kepala. “Oh ya, kalau gitu memang saya sering bad mood yaa…”
*melipir pergi*



P.S. : inspirasi dari curchat (curhat via chatting) dengan teman tadi siang ;-)


Thursday, December 02, 2010

Masa Depan Penerbitan

Apakah penerbitan dan buku masih punya prospek ke depan?
Pertanyaan saya diatas berangkat dari beberapa hal.

Pertama, ketika saya pribadi divonis oleh dokter alergi debu yang gejalanya bisa sama dengan flu, salah satu cara menghindari serangan adalah tidak menempatkan lemari buku di kamar. Ah, bagaimana saya si penggemar baca sekaligus kolektor buku bisa mengatasi hal ini?

Beralih ke e-book adalah salah satu alternatif, dan seiring semakin banyaknya vendor meluncurkan PC Tablet, rasanya tawaran cara baca paperless semakin menggoda. PC Tablet ini antara lain Apple iPad, Samsung Galaxy Tab, Archos 9 dan Blackberry PlayBook.

Belum lagi varian lain seperti perangkat Amazon-Kindle atau Sony's E-Reader.

Mencetak buku menelan biaya produksi tinggi, mencakup berbagai komponen, misalnya biaya desain isi dan naskah buku, cetak cover, plate dan pengomplitan. Silahkan cek web disini adalah sumber kutipan dan tentang kalkulasi harga cetak buku.

Sedangkan dari sisi marketing, penerbitan mungkin bisa menekan biaya dengan memanfaatkan social media dan microblogging, komunitas milis, atau jaringan toko buku sebagai tempat meluncurkan buku.

Dibawah ini ada video menarik tentang masa depan penerbitan yang membuat saya tertarik menulis artikel diatas. Silahkan komentari jika ada saran-saran dari Anda.


The Future of Publishing - created by DK (UK)
DK = Dorling Kindersley

Sunday, August 22, 2010

Kiat-Kiat Menulis

Ada dua pendekatan dalam menulis. Pertama, seperti yang biasa diajarkan di sekolah yaitu menyiapkan dahulu kerangka tulisan sebelum menulis. Sedangkan pendekatan kedua adalah menulis saja tanpa kerangka.

Pendekatan kedua ini kita terapkan karena kita sering mengalami kesulitan untuk mengembangkan sebuah kerangka tulisan sebelum kita menulis. Bisa jadi karena kekurangan ide, atau buntu pikiran. Nah, lebih baik coba cara menuliskan apa saja yang terlintas di benak kita –tanpa mengedit- tanpa mempedulikan apakah itu konsisten atau tidak. Intinya : Tulis Saja!

Tulisan yang kita buat sebelumnya itu tentu masih kacau. Tulisan kacau itu hanya bersifat brainstorming. Dari tulisan itu kita tarik ide-ide menarik dan dihasilkan tulisan yang tentu lebih baik dibandingkan dengan yang pertama. Tulisan ini sudah lebih teratur dan jadi.

Tahapan menulis yang pertama hingga selesai, kemudian kita baca ulang disebut : Proses Penggodokan. Tulisan pertama digodok menjadi tulisan kedua, dan seterusnya sampai mencapai draft final.

Hindari untuk mengedit terlalu awal. Curahkan semua isi pikiran ke dalam tulisan. Mengedit hanya dilakukan pada hasil akhir. Mengedit terlalu awal membuat pikiran tidak dapat keluar dengan lancar karena sudah mengalami sensor internal.

Untuk menggodok tulisan menjadi lebih baik ada satu syarat yang harus diperhatikan. Tulisan yang baik bisa terjadi jika merupakan konflik/konfrontrasi/beberapa pikiran yang berlawanan. Dalam dunia jurnalistik atau membuat berita dikenal istilah cover both side atau berita berimbang dengan mengonfirmasi subyek berita dari berbagai stakeholders yang terpengaruh.

Konfrontasi ini bisa diperoleh dengan berkomunikasi dengan orang lain, membaca tulisan orang lain, atau melakukan konfrontasi sendiri dengan melihat masalah itu dari beberapa sudut pandang berbeda.



Membaca Adalah Satu Kesatuan

Membaca menjadi satu kesatuan agar bisa menulis. Penulis Ayu Utami dalam suatu diskusi penulisan berkata, “Jika kamu (mau) menulis, bacalah 7 kali buku lebih banyak.”

Hal ini bisa kita asumsikan bahwa untuk menulis satu buku = 7 referensi buku.  Atau, asumsi lain adalah kita rajin membaca buku hingga tujuh, 21, 42, 49, 77,…..dst sebelum kita berada pada tahap berani menulis atau mengungkapkan ide atau buah pikiran ke dalam bentuk tertulis.

Membaca berguna untuk menyerap pikiran seseorang, mempelajari gaya bahasa tulisan dan tata bahasa, mencari ide, dan masih banyak kegiatan positif lainnya. 

Khususnya untuk buku non fiksi, kita bisa menerapkan teknik membaca cepat (speed reading), dimana kita hanya perlu tahu framework (kerangka tulisan). Lalu utamakan membaca buku secara mendetil pada bagian sesuai yang menjadi perhatian kita, dan terakhir latihan membuat kesimpulan dari buku itu untuk menyaring argumen-argumen yang ada di buku.

Salah satu cara lancar menulis adalah memang : latihan..latihan…latihan… Setiap hari memang luangkan waktu untuk menulis. Misalkan dosen Filsafat FIB Universitas Indonesia sekaligus penulis, Donny Gahral Ardian, menyarankan agar meluangkan waktu 5 menit/hari untuk menulis.

Cara latihan yang lain adalah membuat tulisan dalam 3000 kata/hari. Saya asumsikan 3000 kata/hari adalah membuat tulisan dalam 18.892 karakter tanpa spasi dalam satu hari. Wah, bagi saya yang berprofesi sebagai Penulis Iklan ini berarti membuat tulisan untuk sebanyak lebih kurang 6 halaman majalah! Silahkan pilih mana yang lebih praktis Anda ikuti……..

Sedangkan penulis buku Fira Basuki mengatakan kiatnya dalam menulis kreatif, “Kita bisa memasukkan realitas dan khayalan (dalam menulis fiksi). Jangan stress dengan detil atau kebenaran obyek seperti menyebutkan nama toko sesuai kenyataan,” katanya. (Dewi Retno Siregar)

Riset Pew Internet tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial



Lembaga penelitian Pew Internet (
http://www.pewinternet.org) menyebutkan bahwa remaja dan anak muda kurang menyukai blog dan lebih suka situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.


Riset yang mensurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika Serikat untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.

Hasil riset yang dilakukan pada September 2009 dan diumumkan di awal 2010 ini (dikutip dari Koran Tempo, Februari 2010) mengatakan bahwa remaja dan anak muda AS jauh lebih banyak menggunakan internet dibanding orang dewasa, yaitu sebesar 93 persen dibandingkan dengan 38 persen (orang dewasa diatas 65 tahun).

Apa saja yang responden lakukan di Internet? Pew menemukan bahwa 73 persen responden berusia 12-17 tahun remaja adalah pengguna aktif jejaring sosial, seperti Facebook, Flickr, dan YouTube. Mereka menggunggah foto, memperbaharui dan mengomentari status, dan mengirim pesan singkat melalui layanan seperti Yahoo! Messengers, AIM, dan MSN.

Yang mengejutkan, hasil riset juga menemukan remaja semakin kurang menyukai blog. Riset Pew pada 2006 menunjukkan bahwa 28 persen remaja memiliki blog, tahun ini menurun drastis menjadi hanya 14 persen. Remaja tampaknya menganggap Facebook dan media-media sosial lebih gampang untuk memperbaharui status, sehingga blog tak diperlukan lagi.

Kesimpulannya, membuat sesuatu tulisan –seperti memposting di blog- memakan lebih banyak waktu dan energi ketimbang mengubah status atau mengunggah foto di Facebook. Blog lebih bersifat membagi pengalaman dan memperkaya pengetahuan lebih dalam, ketimbang  mempublikasikan kata dalam media sosial yang hanya membutuhkan 620 karakter atau 140 karakter.

Kehidupan sosial remaja jauh lebih sempit dan tertutup sementara blog lebih merupakan tempat membagi pengalaman secara terbuka. Menurut Pew, blog-blog yang masih aktif rata-rata dimiliki oleh mereka yang berusia di atas 25 tahun. Mereka yang aktif berkicau di Twitter pun umurnya rata-rata diatas 20 tahun.

Ahaha… Saya merasa telah pada fase dimana pengalaman, kehidupan dan apa yang saya serap bisa saya bagi ke dalam blog. Saya telah punya akun di blogspot sejak 2005. Tapi persoalannya, apakah hingga kini saya masih aktif menambahkan artikel ke dalam blog?

Saya pribadi belakangan jarang memperbaharui blog dan membuat puisi. Rasanya energi dan pikiran sudah terkuras untuk pekerjaan sehari-hari, sehingga akhir pekan pun saya enggan menggunakan otak untuk menyusun huruf-huruf, membangun kata dan merajut kalimat sehingga menghasilkan suatu tulisan lepas.


Thursday, July 29, 2010

Media, Seminar, Informasi


Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami pada Sabtu 24 Juli lalu, di sebuah seminar. Mungkin masih ada penyelenggara/panitia seminar yang bingung menghadapi kedatangan seorang penulis dari media.


Seorang jurnalis/penulis biasanya menjadikan seminar sebagai suatu ajang berkenalan atau kesempatan bertemu dengan narasumber, memperoleh informasi terkini, dan menambah wawasan di suatu bidang.

Sehingga ketika kami pertama kali membaca suatu acara seminar yang biasanya dipublikasikan di media massa atau elektronik, atau memang ada undangan dikirim ke redaksi, maka di otak kami akan segera melihat judul seminar, apa materi presentasi dan siapa tokoh yang berbicara, lalu kira-kira apakah topik sesuai dengan bidang liputan yang digarap. Tentu saja lokasi dan waktu acara menjadi pertimbangan.

Seperti Sabtu kemarin saya datang ke acara seminar yang diselenggarakan di suatu perguruan tinggi yang berlokasi di Depok. Seminar ini menyajikan tema peran profesi X di era pasar bebas AFTA. Suatu topik yang rasanya cukup menarik karena saya kebetulan akan membuat artikel tentang profesi dan kebutuhan sumber daya manusianya.

Sebenarnya bagai orang mau kulo nuwon ke hajatan seseorang, sehari sebelumnya saya mengirimkan surat elektronik berisi keinginan untuk datang dan konfirmasi ke alamat e-mail panitia yang tertera di iklan seminar tersebut. Iklan itu terdapat di dalam website perguruan tinggi terkait. (Tapi ternyata memang baru sampai di hari Minggu …thanks to office network*lemot’mode’on*).

Kemudian di hari-H saya pun datang ke tempat acara seminar sekitar pukul 09.00 wib. Di depan pintu saya disambut oleh panitia dan saya pun memperkenalkan diri dari institusi media dan menyampaikan maksud ingin mengikuti seminar tersebut.

“Tapi berarti mbak kan mau meliput?” kata panitia perempuan yang mengajak saya bicara.

Di otak saya segera melintas definisi “meliput” berarti saya akan mengulas acara seminar ini.

“Iya saya masih mencari informasi, mbak,” balas saya kepada panitia berjilbab berperawakan padat tersebut. Ini jawaban standar pula karena kami para jurnalis biasanya malas menerima pertanyaan beberapa hari atau minggu kemudian dari penyelenggara acara, apakah liputan sudah naik cetak atau belum. Ini secara tidak langsung membebani perasaan seolah suatu acara yang didatangi sudah pasti layak muat.

“Tapi mbak, kami sudah punya media partner,” balasnya.

Lha…!

Memang suatu seminar membutuhkan dana dan publikasi. Makanya panitia menggandeng sponsor acara untuk memberikan dana berupa uang tunai maupun non tunai, termasuk punya media rekan kerjasama sebagai tempat mempublikasikan acara guna menggaet peserta seminar. Media partner ini biasanya juga akan memuat liputan dari penyelenggaraan acara. Tapi bukan berarti seminar itu menjadi privilege media partner sehingga wartawan media lain tidak boleh datang dan meliput selama kegiatan berlangsung.

Akan tetapi, saya rasanya lebih terbiasa jika panitia minta kartu nama atau silahkan juga jika ingin melihat ID-card (meskipun yang ada cuma ID-card untuk absensi kantor). Seandainya saya menjadi panitia acara, ini adalah cara sopan atau tersamar untuk mengetahui apakah orang di depan saya adalah jurnalis benar atau gadungan.

Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”

Nah, biasanya jurnalis yang ditanya akan menjawab misalkan bahwa nama tersebut sudah pindah ke desk liputan lain atau mengakui dirinya anak bawang sementara nama yang disebutkan panitia adalah senior.

Tapi memang saya dipersilahkan untuk mengikuti kegiatan seminar. Lalu saya pun duduk di kursi baris belakang. Ahya, kursi baris belakang favorit para wartawan karena dekat dengan pintu keluar. Ketika kami merasa bahan tulisan sudah cukup maka kami bisa berlalu pulang dengan mudah tanpa mendapat pandangan mata dari peserta lain. Alasan lain duduk di baris tepi supaya gampang mencegat pembicara keluar ruangan.

Saat itu presentasi sedang berlangsung…dan voila, kuping saya mendengar penyaji materi mengucapkan kalimat, “Kompetensi yang dibutuhkan seorang (profesi) di saat ini ….” wauw pas dengan hal yang saya butuhkan. Saya pun segera sibuk mencatat, tapi tiba-tiba seseorang menyapa saya, “Maaf kursi paling belakang ini untuk panitia,” seorang perempuan panitia berambut lurus sebahu berperawakan ramping berkata demikian. Suaranya sopan dan ramah, tapi tetap saya setengah tidak percaya dengan perkataan wanita tersebut. Muka bengong saya membuat dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih sama.

“Tapi gapapa kan saya disini dulu? Oh ya kalau memang saya diusir suruh pindah juga bilang saja,” kata saya seraya melihat sisi kiri kanan bangku sederetan yang masih kosong melompong. (memancing bad mood di pagi hari ….)

Akhirnya perempuan itu mengiyakan dan berlalu. Selama mengikuti presentasi saya menyapu pandangan, dan melihat pria maupun perempuan berdiri di pinggir ruangan dalam jumlah cukup banyak dan tersebar. Di belakang saya pun ada yang berdiri dan duduk berbaur bersama meja penjualan produk sponsor. Mereka berpakaian seragam dalam atasan batik berwarna kelam, seperti baju yang dikenakan oleh dua wanita yang tadi berbicara dengan saya. Berarti mereka adalah panitia.

Saya jadi berpikir, panitia seperti apa yang tidak mengharapkan peserta seminar datang membludak dan berharap bisa duduk di kursi?

Lama-lama saya tidak merasa nyaman. Mungkin memang saya tidak diterima sejak awal? Tidak ada inisiatif panitia untuk memberikan saya materi presentasi. Saya pun sudah enggan bertanya dan lebih baik meminjam materi presentasi dari rekan sebelah saya. Seorang jurnalis pantang pulang tanpa bawa hasil, menjadi pikiran saya saat itu mengingat perjuangan datang dan rencana awal datang ke seminar.

Setelah puas membaca cepat materi presentasi para pembicara yang dikemas dalam satu buku seukuran buku tulis, mencatat poin-poin penting dan memotret materi dengan kamera BlackBerry, saya pun berlalu pergi.

Tulisan ini saya buat bukan ingin jurnalis disanjung ketika datang ke suatu acara. Ini bukan pikiran bijaksana di era media sudah membludak jumlahnya dan di sisi lain masyarakat bisa menyerap informasi dari media mainstream, microbloging dan web forum.

Akan tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi cerita kecil yang cukup berguna jika lain kali datang ke peliputan acara atau suatu waktu saya atau Anda menjadi panitia kegiatan seminar.

Saya jadi berpikir apakah panitia seminar lebih mengharapkan kehadiran peserta yang membayar daripada seorang jurnalis yang ingin cari informasi gratis? Saya memang terlambat berpikir tentang hal ini, tapi jika dari awal panitia mengatakan harus membayar untuk masuk, tentu akan ada pertimbangan untuk merogoh kocek dengan asumsi perusahaan media tempat saya bekerja akan mengganti biaya tersebut demi kepentingan bahan penulisan.


*Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan minuman air kelapa F***** yang mengguyur haus tenggorokan, tapi sekaligus menyesal telah mengunyah pizza P*** *** yang dibagikan. Dalam perjalanan pulang saya merasa telah menjadi seorang tamu tak diundang mencari makan siang gratis. 

Sunday, May 23, 2010

Tidak Peka adalah Alasan Tidak (Sempat) Memperbaharui Blog

Seorang teman punya komentar terhadap blog pribadi saya yang belakangan jarang saya perbaharui.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.

Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.

Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.

Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.

Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.

Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.

Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.

Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.

Thursday, January 07, 2010

AlasanTidak nge-Blog

Lagi menebak-nebak penyebab saya belakangan ini jarang nge-blog, alias memposting tulisan di dalam blog. Dan saya menemukan beberapa alasan.

Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.

Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.

Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).

Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.

Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.

Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.

Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.

Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.

Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.

Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.

Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.

Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.

Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.

Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.

Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.

Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.

Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.

Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.

Friday, January 30, 2009

Jum'at....Lagi-lagi Sibuk dan Senang

Jumat ini ada yang bikin bahagia.

Sebelumnya, order pembuatan advertorial dengan deadline yang mepet :
Rabu - konfirmasi pemasangan iklan (nyampai ke saya dan baru malam itu saya bikin konsep)
Kamis siang - wawancara
Kamis sore - olah tulisan dan kirim draft materi iklan
Jumat siang - klien tsbt sudah approval.

Kalimat paling gw suka di Jumat siang yang penuh urusan :
"Sip, Accepted! Bungkus...."

Makasih Pak, untuk kerjasamanya.

Hehe.. saya bisa segera pindah pikiran ke tugas berikutnya : bakal berangkat tugas ke luar negeri Senin pekan depan, sementara rapat dan persiapan materi baru Jumat sore ini.

Gara-gara deadline yang mepet, saya justru terpacu untuk kerja-cerdas dan untung juga klien-nya kooperatif:
1. Sebelum hari wawancara, klien sudah memberikan bahan penulisan. Selembar kertas press release. Tuh kan, terkadang 'banyak' bahan belum tentu lebih baik ketimbang 'sedikit'.
2. Tapi sebenarnya bukan di jumlah bahan. Tapi yang lebih penting, klien memang sudah menjelaskan FOKUS UTAMA dari isi tulisan advertorial yang ingin ia kemukakan kepada pembaca.
3. Ketika datang ke tempat klien, sebelumnya saya sudah punya KONSEP AWAL isi advertorial seperti apa, sehingga saat wawancara saya tinggal bertanya untuk melengkapi artikel.
4. Selain wawancara tatap muka sekalian sesi pemotretan

Ohya, saya jadi membenarkan peribahasa "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, senang-senang kemudian."

Saya sempat menyebutkan nama penghuni pusat primata Smutzer dan kambing di hari Kamis kemarin gara-gara satu hal. Nah, Jumat ini...masih sibuk browsing sih..tapi setidaknya saya bisa berkata : Malay, here I come :)

* Psst, kalau nanti ada "episode kambing, domba, babon seri ke-2" pasca balik dari luar negeri, yah urusan nanti ya :)

Thursday, January 29, 2009

Belajar Membuat Tulisan Pendidikan

Agghh!
Ini baru awal tahun.
Rasanya ingin teriak, ”Gw kan masih baru di bidang ini. Tapi, kok sudah disuruh tancap gas, persneling gigi-3?”

Tahun baru mendapat penambahan job desk, bisa dikata pembelajaran hal yang benar-benar baru karena sebelumnya pernah meliput bidang ini, yaitu membuat Tulisan/Iklan Pendidikan. Contohnya, membuat advertorial kampus atau program perguruan tinggi.

Yang jelas, kini saya sedang ’terpatah-patah’ belajar tentang :
- Isu pendidikan. Narasumbernya tentu multidimensi karena berarti dari seluruh stakeholders pendidikan: pelaku pasar (sekolah, kampus, rektor, dekan dsb), pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional), dan masyarakat (termasuk pemerhati pendidikan).
- Menemukan istilah-istilah baru dan harus tahu artinya. Seperti : SPMB, SNMPTN, atau PAUD.
- Jadi pendengar yang baik bagi kakak2 perempuanku, serta teman-teman berstatus ibu-bapak untuk mengetahui kapan kenaikan kelas anak SD s/d SMU, musim penerimaan mahasiswa baru dll. Ini cara (istilah para wartawan) memahami isu yang terjadi di lapangan kan?!

Sebelumnya, menurutku pribadi, saya cukup sukses menggarap Iklan Apparel. Salah satu cara memulai ide tulisan adalah dengan menempatkan diri sebagai pembaca. Dengan posisi itu, kita sebagai Copywriter tentu punya EQ untuk memahami informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Bisa jadi itu merupakan : kenyamanan, kemewahan, desain produk, style, atau where to buy.

Tapi –jujur- saat ini saya pusing. Saking pusingnya, sampai-sampai lebih sanggup menuliskan blog ketimbang menyelesaikan kerja.....

Hari ini saya sedang jungkir balik mengerjakan Suplemen Pendidikan, as project officer on her first duty supaya tidak malu-maluin.....setelah deadline Jum’at ini, saya langsung pindah ’jiwa dan raga’ ke negeri jiran untuk seminggu ke depan, kemudian mendarat lagi untuk mengerjakan Tulisan Pendidikan Informal.

Saya bergumam, berupaya memotivasi diri, ”Pekerjaan (menulis) kan kamu sukai... Bekerja dengan cinta ya... Semua bisa kamu kerjakan dengan baik kok....”

Thanks juga untuk semangat kerjasama dan koordinasi dari para AE, tim penulis, fotografer, desain, dan tim trafik. (Ohya, thx untuk office boy yang beliin makanan jam 8 malam..gara-gara baru sadar belum makan setelah badan keringat dingin.. aih ga jadi kurus deh :p ..plus ditemani kopi susu instan bercangkir-cangkir dan Silver Queen fruit & nuts. nah lho! gimana mau langsing...).

Nantikan yaa... Majalah Tempo pada 2 Feb’09. Itu bakal jadi pembuktian hasil kerja perdanaku.... :)

Monday, August 25, 2008

Ide Penulisan Iklan melalui Pertanyaan Esensial




Perhatikan gambar berikut ini. Mata (eye = jika diucapkan, lafal terdengar hampir sama dengan pengucapan ”I” dalam Bahasa Inggris), Lebah (bee = dalam pengucapannya terdengar hampir sama dengan ”B” dalam Bahasa Inggris), dan garis horisontal tersusun teratur membentuk huruf ”M” yang khas untuk logo IBM.

Yap! Logo tersebut memang untuk IBM. Saya suka ide permainan kata/sanjak; atau permainan ucapan (akibat penulisan dan lafal yang berbeda seperti dalam Bahasa Inggris). Karena terdengar lebih ’unik’, terkesan lebih komunikatif, santai, namun bisa pula berpikir sejenak lalu tersenyum.

Contohnya seperti dalam logo tersebut. Bukan logo kaku seolah merepresentasikan dunia korporasi yang birokratis, formil dengan mengatas namakan ’profesionalisme’.

Nah, baru tahu setelah baca buku ”Citizen Brand” yang ditulis oleh Marc Gobé bahwa logo tersebut hasil kreatifitas Paul Rand. Rand, pencipta ilustratif logo ABC, Westinghouse, UPS, dan logo IBM, yang juga dosen Yale University dan desainer grafis paling berpengaruh di abad ke-20. (Karya-karya Rand lainnya bisa dilihat dengan mengetikkan namanya sebagai kata kunci di Google. Haha.. memang ini masih tetep situs pencarian favorit..... dan termudah dalam ingatan saya, yang antara lain menghasilkan alamat www.logoblog.org).

Rand, mengutip dari buku Citizen Brand, mengatakan bahwa efektivitas logo berdasarkan 6 faktor penting, meliputi :
1. keunikan
2. visibilitas
3. kemampuan adaptasi
4. keterkenangan
5. universalitas
6. keabadian

Selain itu, menjawab tiga pertanyaan esensial :
1. siapa audiensinya?
2. bagaimana merek ini dipasarkan?
3. apa medianya?

Saya berpendapat, pertanyaan esensial itu pun cocok ketika kita membuat tulisan iklan (advertorial) di suatu media massa. Yang jika dijabarkan yaitu :
1. Fokus tulisan atau apa isu yang mau diangkat oleh pemasang iklan. Misalkan apakah topik yang mau diangkat itu menyangkut keunggulan produk, kegiatan kampanye perusahaan baik berkaitan bisnis maupun fungsi sosial (CSR), kemajuan yang dicapai berkaitan dengan ulang tahun korporasi dll.
2. Penggunaan kaidah tulisan non fiksi berupa data 5W + 1H
3. Siapa target pembaca (mengikuti segmen pembaca media pemasangan advertorial)

Berpegang dalam pertanyaan esensial untuk advertorial ini, dalam prakteknya penulis juga –mau tidak mau- harus memahami klien. Kita akan mengalami perbedaan gaya dengan konsep menulis berita yang independen. Wartawan hanya menyesuaikan dengan visi & misi media, gaya penulisan media, maupun segmen pembacanya.

Sementara karakter klien (pemasang iklan) bermacam-macam. Ada yang bertipe easy. Mereka tinggal membrief apa saja yang mereka mau dimuat (poin 1) dan selebihnya (di poin 2 dan 3) terserah pada penulis. Lalu setelah penulisan jadi, koreksi dan membaca ulang yang mereka lakukan, lebih kepada persoalan kebenaran atau kevalidan data dalam penulisan.

Ada pula yang bergaya toko serba ada. Istilah kerennya ’multiangle’. Alias semua musti masuk untuk dituliskan dalam 1 space yang mereka bayar. Misalkan komentar dari beberapa petinggi harus masuk semua. Atau meskipun tulisan menyangkut keunggulan A, si klien juga senang jika keunggulan lainnya B,C,...Z juga disinggung.

Sehingga, intinya penulis iklan yang kudu mampu menerjemahkan kemauan klien.

(Gambar dikutip dari : www.logoblog.org)

Thursday, August 07, 2008

Kreatif Kalau Kepepet

Kurang dari seminggu sebelum konser di Jakarta, Alicia Keys menuntut seluruh pernak-pernik berbau rokok harus dihilangkan dari arena konser. ”Saya tidak mendorong anak-anak di dunia untuk merokok,” katanya.

Semua berawal dari langkah Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Campaign for Tobacco Free Kids mengirimkan surat kepada Keys, mempertanyakan komitmen penyanyi R&B asal AS itu untuk tidak ikut serta mempromosikan rokok, yang notabene menjadi sponsor utama pertunjukan Alicia Keys di Jakarta, awal Agustus lalu.

Seperti dikutip dari Majalah Tempo, Edisi 4-10 Agustus 2008, Amerika melarang perusahaan rokok menjadi sponsor acara musik dan olahraga sejak 1998. Tiga tahun berikutnya, perusahaan rokok membuat standar pemasaran internasional, yang antara lain, tak menggunakan selebritas untuk promosi, tidak mendorong anak muda merokok, dan tidak beriklan secara masif.

Ini kondisi yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun ada koridor Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Dalam PP tersebut juga mencantumkan aturan materi iklan.

Di sini, ada dualisme dalam memandang rokok. Industri rokok sebagai salah satu pemberi pemasukan besar bagi negara melalui cukai, dan membuka lapangan kerja cukup besar. Di pasar modal, saham-saham perusahaan rokok termasuk yang blue chips.

Di sisi lain, sisi kesehatan menjadikan produk berbahan baku tembakau ini juga digebuk, serta diikat kebebasannya dalam beriklan.

Namun, justru di tengah ketatnya tata cara mengiklankan diri, rokok merupakan salah satu dari sekian produk dengan iklan yang paling inovatif. Tim marketing atau perusahaan periklanan mereka menjadi putar otak dengan sejumlah larangan pemerintah.

Saya acungkan jempol untuk kreator A-Mild. Saya kagum dengan gaya Bentoel mengangkat ke-Indonesiaan, mengingatkan kita akan negeri yang elok, yang sama rasanya ketika melihat salah satu iklan rokok Marlboro membuatku ingin pergi ke Grand Canyon. Atau gelitik aura mistis para peri (ibunda Pertiwi?)dari negeri dongeng-nya Gudang Garam.

Etika Pariwara Indonesia menyebutkan dalam iklannya : Tidak menampilkan produk rokok, atribut rokok maupun perlengkapan merokok, atau memperagakan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, rokok atau orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok. Selain itu, penayangan di televisi hanya boleh disiarkan malam hari. Mulai dari 21.30 hingga 05.00 waktu setempat.

Industri rokok termasuk paling wahid dalam aktivitas below the line dengan mensponsori pertunjukan musik, olahraga, hingga beasiswa.

Ini mungkin salah satu bukti nyata bahwa kreativitas dan inovasi justru muncul akibat sejumlah pembatasan. Mungkin analogi serupa ketika mepet deadline (tenggat waktu) membuat ide paling oke muncul?!

Duh.. kalau yang terakhir ini jangan dibiasakan deh :D

Friday, July 11, 2008

Idealisme Bersama Sekotak Nasi

Dalam posting di milis/blog Mas Rio dari Trans TV membuat saya tertarik mengomentari. Ia menuliskan (saya singkat saja) pada rapat program Reportase Sore, Rabu (25/6/08) memberi teguran keras kepada reporternyaTrans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.

Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.

Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.

Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.

Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”


Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.

Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.

Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.

Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.

Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.

Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”

Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.

Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.

Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.

Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.

Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.

Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."

Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?

Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....

Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).

Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.

Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.

Wednesday, June 18, 2008

Katakan dengan "Blog"



Speak out! Jadilah Blogger!

Ada pepatah sederhana yang diwakili tiga monyet lucu : “Three monkeys – See No Evil –Hear No Evil –Say No Evil”. Pepatah tsbt lahir saat belum ada yang namanya Teknologi Informasi.

Daripada ngurusin orang lebih baik tidak usah memandangi, tidak usah mengomentari, tidak usah mendengar gosip (apalagi pembicaraan miring ngomongin orang lain).

Zaman sekarang, kemukakan opini/pendapat/pikiran dll yg positif di blog.

(Gambar ini tidak tahu pasti bersumber dari mana. Cuma hasil kiriman teman di e-mail)

Monday, May 26, 2008

Mending Abaikan dan Delete

Orang (ngaku) sibuk tapi kok masih bisa meluangkan waktu untuk mengetuk-ketuk jari di keyboard untuk tulisan semacam ini :

Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku


Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.

Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....

Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.

Saturday, May 03, 2008

Indonesia - Inggris, Please

Suatu klien, maskapai penerbangan asing minta Saya meng-Indonesiakan ”most frequent traveller” dan tidak merasa cocok dengan penerjemahan sebagai “pelanggan”.

Hmm.. suatu penerjemahan yang simpel dan sederhana, bukan?
Akan tetapi, klien tidak mau. Dan, namanya juga mengikuti apa kata klien, saya harus mencari padanan yang tepat. Selain menunjukkan diri cerdas mampu menjawab permintaan mereka. Tiba-tiba pusing. Ke dalam materi awal tulisan, Saya memang meletakkan bahasa Indonesia dan Inggris secara campur aduk jadi padu. Suatu maskapai penerbangan nasional saja menggunakan kata ”Frequent Flyer” dan tidak meng-Indonesia-kannya menjadi ”Konsumen Loyal” dan toh, kebanyakan dari kita secara sadar (atau tidak) sudah mengerti apa yang hendak disampaikan tulisan itu.

Ketika Saya dan kebanyakan manusia Indonesia terbiasa dengan media publikasi –seperti majalah lisensi asing dan tayangan televisi- atau lagu yang campur sari. Padu padankan bahasa ibu dengan asing. ”Liga Premiere”, ”Bonus : Free Magazine...”, ”Cara Pakai Mr. Happy (haha.. ini mungkin memang cocok untuk memperhalus bahasa yang jika di-Indonesia-kan jadi kena isu pornografi bagi masyarakat kita yang sering tabu membicarakan hal-hal begituan), ”Jadi Pacar Perfect”...dsb.

Tayangan infotainment pun menampilkan selebritas yang menyampaikan komentar dalam bahasa aduk-aduk.

Saya terpesona memandangi kecantikan seorang model peranakan Indonesia dan bule. Bahasa Indonesianya yang patah-patah pun Saya tak peduli (padahal dia mengais Rupiah di Indonesia hehe...).

Nah, permintaan klien asing ini untuk meng-Indonesiakan semua kata, justru membuat saya garuk kepala. Tersadar kalau si klien dari negeri tetangga saja justru mengingatkan, ”Gunakan Bahasa Indonesia yang Baku dan Benar” di majalah nasional.

Saya pun sore itu segera lari-lari ke perpustakaan kantor. Buka-buka kamus, cari-cari inspirasi di belantara media. Lidah tiba-tiba terasa asam, ingin memantik sebatang rokok tapi sudah berjanji tidak bakal ngebul. Akhirnya, saya pun menemukan ide. Dan maskapai penerbangan itu setuju dengan : ”most frequent traveller” dialih bahasakan menjadi ”pengguna loyal transportasi udara”.

Saya jadi tersadar diri ini –seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya- sudah terbiasa menggunakan Indonesia Inggris secara gado-gado. Ketimbang cari padanan kata dalam bahasa nasional, kita lebih memilih memiringkan bahasa asing ke dalam tulisan. Dalam membuat tulisan terkait profesi jurnalis dan penulis, Saya juga biasa memiringkan kata-kata. ”Orang juga sudah mengerti maksudnya,” demikian pemikiran kita. Lebih gampang. Walaupun jadi lupa untuk memperkaya kosa kata :)

Monday, March 10, 2008

Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data

Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?

Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.

Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.

Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.

Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.

"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."

Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".

Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.

Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.

Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.

Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.

Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.

Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.

(Tulisan ini pernah diposting di www.netsains.com dengan judul "Kiat Menulis: Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data" by Dewi Retno in Category : Communication on 2007-08-30 atau klik judul diatas).