Showing posts with label girly mind. Show all posts
Showing posts with label girly mind. Show all posts

Tuesday, November 06, 2018

2018


Pada suatu malam hari ulang tahun, doa yang kupanjatkan adalah :

Ingin bahagia

Ingin dikelilingi orang-orang yang menyayangi diriku

Ingin ringan dan lancar melangkah pada setiap niat


Tahun ini adalah tahun pertama diriku melewati hari ulang tahun tanpa adanya orang tua karena mereka telah berpulang.

Tepat jam 00.00 wib di hari ulang tahun yang pertama terjadi: diriku menangis di pojokan kamar tidur! How miserable I’am, I tough, karena biasanya akan ada Mama dan Papa yang akan menelpon saya mengucapkan selamat ulang tahun.

Namun cerita berlanjut dengan ucapan selamat ulang tahun dari kakak dan teman-teman, pesta kejutan di kantor, dan selanjutnya Dia - yang tak rajin kusebut dan kudekati – sepertinya membalas pintaku dalam bentuk hari-hari yang kulalui terjalani sesuai doaku.


Ternyata bahagia adalah perkara hati.
Semua diawali dari niat dan semesta mendukung. 
Jika diri ini ingin bahagia, maka awali dari diri. Segera simpul bentuk senyummu dan yakinlah bahwa itu menjadi aura kebahagiaan yang menebar.



I feel like reborn .. 





Tuesday, February 07, 2017

Hidup untuk Hari Ini & Lupakan Masa Lalu


Setiba di kantor pada Senin pagi ini, pencarianku tertuju pada secarik kertas kecil di atas meja kantor. Entah kenapa sepanjang akhir pekan pikiranku melayang pada lembaran kertas yang tak lebih dari 1 x 5 sentimeter itu.

Sebuah lembaran dari fortune cookies, sebuah kue yang selayaknya tipis dan renyah, dengan isian sepotong kertas berisi kata-kata yang berisi petuah atau ramalan. Kata-kata itu lebih kurang seperti ini, "Live for today. Learn from yesterday and hope for tomorrow".

Kalimat bijak yang bisa dikutip dari 101 Quotes lalu dicetak untuk pesanan massal meriuhkan New Year. Lalu gunakan probabilitas ketika tangan dimasukkan ke dalam kantung plastik besar, cap, cip, cup sambil membatin, "Semoga ramalan fortune cookies ini tak memperkeruh awan mendung yang selalu bergelayut dalam paruh tahun."

Lalu... Damn! Saat pertama kali membaca lembaran kertas sambil mengunyah kue yang sudah setengah masuk angin itu tidak ada yang istimewa.

Skeptis? Cendrung sinis? Yes, that's me!

Tapi entah kenapa silly though senantiasa membawa saya kembali ke tulisan itu. Entah cerita film tentang relativitas ramalan lembar fortune cookies dengan kejadian yang dialami, ada hal pelecut diri menampar muka sendiri, hingga berpuluh minggu  telah dilalui untuk pada satu hari di tengah duduk termenung sendiri di rumah, diantara tumpukan memorabilia bagian dari masa lalu, meneriakkan pengakuan, "Ada yang salah dengan diri ini!"

Hidup tidak selalu indah, tapi selalu percaya kalau awan mendung pun punya garis perak, bahkan senyum lengkung pelangi akan menanti setelah hujan badai.  Kita mampu membalikkan cerita jadi kisah semanis gulali. Setiap orang punya rahasia. Tapi bak buku terbuka ketika setiap orang yang menatap kita bakal mendesah, "Ada yang tidak beres nih!"

Jika setiap manusia punya lembar Laporan Kinerja periodik, maka rapor Semester II-2016 tidak indah. Kinerja tercapai tapi dengan tertatih. Nilai tinggi hanya di angka, tapi silakan mematut diri, meskipun akan menghabiskan energi karena cermin pun entah dimana (karena entah berapa lama cermin disingkirkan).

Saya tertawa tapi saya bohong. 
Saya ada diantara keramaian, tapi jiwa ada di ruang sunyi.  
Saya tidak semangat. Bahkan make up bukan sahabat penutup luka.  

Masa lalu kadang hanya jadi cerita dulu. Saya atau manusia manapun  tidak bisa mengubah suratan Tuhan.

Takdir adalah teman pengalaman.

Seperti lembaran fortune cookie di meja saya yang sudah dibuang petugas Cleaning Service kantor, lembaran itu itu seperti masa lalu yang perlu dibuang, karena dia tak lebih secarik kertas yang sudah berminggu-minggu di meja kerja.

Hanya kalimat bijak yang sedang kurapal menjadi mantra: 
Hidup untuk Hari Ini. Lupakan Masa Lalu. Kumpulkan cerita di saat ini menjadi helai benang untuk memintal masa depan. 

Dan sebaris puisi kukutip menutup renungan malam:

“Death and Light are everywhere, always, and they begin, end, strive, attend, into and upon the Dream of the Nameless that is the world, burning words within Samsara, perhaps to create a thing of beauty.” - Roger Zelazny 

Oh ya, kadang lagu lama adalah  #moodbooster , karena syair yang melantun adalah teman menyusun puing-puing diri:

Tuesday, April 26, 2016

Cinta dan Blink Blink in the Eye


Entah berapa lama blog ini terbengkalai. Masih sempat mengunggah satu per satu artikel tapi dengan jeda yang jauh. Kalau membaca kembali artikel-artikel yang saya posting, saya mengakui blog ini bak benih yang berkembang menjadi pohon. Blog ini menjadi saksi sejak bibit disemai di ladang biner hingga dia bertumbuh terus menerus menantang matahari, hujan badai, dan tegar merekah menambah bilah cerita sejalan rintik kisah yang disiram olehNya.

Dari lajang radikal nan tersamar di balik puisi dan larik puitis, ketika saya jatuh cinta dengan pria yang kusematkan nama: Bintang Jatuh, Pria beraroma tembakau, si bibir silet, hingga akhirnya menyimpan nama itu di nadi dan dikemas di dalam sudut hati.

"Cinta" ternyata sumber inspirasi terbesar kemampuanku menggurat syair puisi. Dan puisi-puisi mengalir menjadi kebanyakan artikel di blog ini. Namun meskipun dia masih ada, dan dia kini menjelma menjadi binar mata, glowing in my skin, dan saat saya tanpa sadar menyunggingkan senyum saat bersitatap, atau sekadar mengingat untuk menyapa Dia nama yang kuingat di pagi hari saat saya terbangun. Mungkin usia membuat saya berdamai dengan perbedaan, meredam mood-swing, dan memperkecil semua masalah yang memang ga benar-benar masalah.

Blink Blink in the Eye vs Kentang Goreng French Fries 

"Kenapa baikan?"
"Sepertinya saya menjadi sosok yang lebih baik sejak bersama dia."
"Hatimu gimana? Tapi, kamu harus tanya, hatimu maunya apa."

[Silent. Sesi pertemuan dengan sobat berpikir penuh logika terasa jadi salah kisah.]

"Kamu sebenernya dah males juga. Kenapa diteruskan?"

[silent]

[krauk....krauk... suara gigi bersentuhan dengan french fries yang dingin dan mengeras]

[tiba-tiba menganalogikan hati ini seperti kentang goreng fast food yang crunchy saat baru tersaji, namun ketika dibiarkan di nampan menjadi dingin kempos pengen dilepeh. Hati ini lalu bertanya, hal apa yang membuat kita mau baikan dengan pasangan setelah badai...   ]

Gambar dikutip dari: www.isharequote.com


Saturday, February 13, 2016

Hujan

Hujan selalu membawa lamunan.
Ketika di dalam taksi, menikmati kemacetan jalan raya di Jumat malam jam 20.00 wib lebih. Iya. Nikmati saja daripada kesal hanya membawa sesak dada.

"Masih di kantor kamu?"
Whatsapp ini pertanyaan senada hampir setiap malam. Kecuali di akhir pekan.

Mungkin ini nasib kisah kasih orang dewasa di belantara Jakarta. Bukan lagi tentang tanya lagi dimana kah, sudah makan kah, bukan pula tentang betapa 'what the hell' hari ini.

Kesibukan kerja. Kemacetan Jakarta.  Tidak ada curhat tentang kerja yang rempong. Karena daripada ngomong dan berbagi omelan, mending diatasi.

Waktu yang singkat bagi kami terlalu sayang untuk digilas emosi gara-gara masalah ga penting. Masalah itu ga selesai dengan curhat, tapi dengan aksi dan hati yang lapang.

Kerjakan dan temukan solusi. Dia juga turut membantu mengubah sifat kewanitaanku yang tukang gerutu dan berceloteh lepas.

Sebenarnya Saya mau cerita apa?
Tidak ada.

Hanya sekadar menikmati sisa hujan, kemacetan jalan raya.
Hanya sepenggal kisah kecil menunjukkan diri ini berubah. Termasuk dalam cara menikmati hujan.
Hujan telah berkali-kali menjadi sumber inspirasi menulis. Hujan bak derai tangis langit yang hendak melarungkan debu dan kotoran ke antah berantah. Namun derai air dari langit sangat spesial untuk menjadi pembangkit cerita.

Jakarta, Jumat 12 Februari 2016


Saturday, October 03, 2015

Rumah Tempat Pulang


Berawal dari "Hai"
Berlanjut ke jutaan hari yang selalu terselip kalimat "Hai, sedang apa?"
Hanya tiga kata tidak pernah terucap
Tiga kata yang selalu tak pernah kita katakan 
Cuma selalu ada tentang kamu di hidup saya
Demikian pula ada saya di bagian hidup kamu

Terselip pula kisah The Other Guy/Girl di perjalanan hidup kita
Kita bukan selingkuh. Kita toh bukan berada di pernyataan tiga kata
Dan saya selalu bebas mengetuk pintu kamu ketika menangis 
Ketika butuh dekap maka lenganmu selalu hangat merengkuh
Selalu...lebih hangat merangkul daripada dia yang lain

Lalu hari ini saya hendak melangkahkan kaki keluar pintu
Biasanya membiarkan kamu di belakang. Cuma kali ini terasa berbeda 

Berawal dari "Hai"
dan berlanjut sebuah tanya "Maukah kamu tiap hari menjadi pembuka hariku?" 
Entah mengapa.. lirih bibir mengucap, "Ya, saya bersedia. Kamu adalah rumah tempatku pulang" 

** Bruce Springsteen - Secret Garden



Monday, January 12, 2015

Senin Pagi di Januari 2015

Senin pagi di pekan ketiga di 2015. Cuaca hari itu menyapa Jakarta dengan derai hujan yang mungkin membuat sebagian orang masih terbayang bergelung di kasur saat akhir pekan, sebagian lagi mempercepat langkah bergegas beraktivitas sebelum hujan semakin besar, sementara saya berada tidak diantara keduanya.

Pagi ini saya telah duduk manis di meja kerja, sambil menatap layar monitor. Kali ini pendingin udara cukup bersahabat dengan kulit yang rentan dingin, sementara mata dan otak pun sudah siaga konsentrasi. Biasanya saya senang menyimak suara hujan samar terdengar saat butir-butir air menyentuh atap, daun jendela, atau menghantam permukaan tanah. Tapi ini bukan yang saya nikmati pagi ini. Suasana hati pun tidak semendung langit kelabu di pertengahan Januari ini.

Ada sejumlah pekerjaan rencana kukerjakan saat ini, sembari menyumpal telinga dengan alunan musik, dan sesekali membiarkan pikiran menerawang tentang Dia. Ahay! Rasanya lama saya tidak menyebut tentang seseorang yang kusematkan panggilan "Lelaki beraroma kretek", "Pria Utara", atau apapun asalkan bukan inisial. Karena abjad terasa tak spesial bagi seorang yang teramat istimewa.

Kusebut saja "Dia" memang saat ini belum kutemukan julukan yang tepat.
Kulampirkan kata “memang” karena sedang kusemat doa suatu hari menjadi Kejadian.
Dia yang derai tawanya membuatku terpana di suatu sore jelang malam.
Dia yang biasa menjadi terasa Tak Biasa.
Suatu malam pasca pulang kerja di suatu tempat nongkrong chit chat tanpa teman kopi.
Menjadi tidak biasa karena tidak kupilih kopi. Dan diapun tidak memilih kopi, melainkan air jeruk.
Ah! sejak mula kami memintal cerita perkenalan dengan tidak biasa. Selanjutnya juga ada percikan-percikan yang berbeda dari caranya dia menemani diri ini dalam berkisah.

Aha! Aku jadi ingin menjulukinya pria "Orange Juice". Seperti nama minuman yang dia pilih, dan sedang kugandrungi kejutan-kejutan bak “janji umumnya buah jeruk”.

Ternyata yang tidak biasa itu bisa membawa bahagia. Seperti kilau bintang berbinar di tengah gulita, indah dan berguna bukan?!

Sepertinya, Dia mewakili sisi manusia baru dalam diri ini.
Ketika saya saat ini menjadi Pecinta Pagi.
Ketika kawan menyebut aku "dewasa" di usia yang tak muda. 
Ketika bukan lagi meledak-ledak bak kompor bledug.
Ketika saya yakin bukan si pasangan labil serta ego-sentris.
Ketika kompromi ternyata lebih menarik ketimbang hitam-putih. 

Cerita ini masih terlalu pagi untuk kuceritakan.
Tapi pagi ini membuat saya ingin menulis blog dan mengupas kisah meskipun hanya selembar tulisan dangkal :)
Pagi ini kutandai sebagai suatu awal tahun baru yang masih penuh pengharapan.

Thursday, August 14, 2014

Hari-Hari Penuh Warna

Hampir seminggu ini hariku penuh warna. Paling tidak, sejak Senin hingga Kamis malam ini ada cerita yang kuingin share di blog ini.

Senin dimulai dengan bangun kesiangan! Ouch! The d*mn thing-nya karena hari itu aku sebenarnya harus mempresentasikan sebuah materi yang kubuat semalam suntuk selama weekend L

Rasanya jleb..jleb. ingin memaki tapi yang perlu kutampol adalah diri sendiri. Membuat presentasi dalam bentuk powerpoint –jujur- memang jadi ‘masalah’ tersendiri bagiku yang biasa bermain di area kata, kalimat dan alinea.  Karena ga bisa, ga biasa, serta cari akal, misalkan dibantu teman (ssst!) jadi merasa bagai kancil cerdik yang selama ini berhasil keluar dari masalah pembuatan laporan presentasi.

Tapi entah mengapa sepertinya semesta mendukungku untuk saatnya bermain di bahasa gambar (baca: slide presentasi) dengan berada di pekerjaan sekarang.

Dan kali ini saya berusaha maksimal, termasuk dengan melakukan riset, mengutak-atik bahasa dan bermain template,  tapi kaboom! Berakhir sebagai ironi karena di hari-H justru saya kesiangan bangun.

Selasa? Ada obrolan kecil di sore hari dilanjutkan dengan melepas endorfin di lapangan tenis. Obrolan kecil terkesan chit chat, hanya saja ada cerita menggantung yang membuatku jadi berpikir ulang mungkin selama ini aku melihat suatu hal cuma 180 derajat, jadi perlu mengaji ulang dan mencoba melebarkan sudut pandang. Mungkin cerita ketok-ketok logikaku itu yang mempengaruhi mood malam itu di lapangan tenis sehingga semangat latihan tanding ganda dan serve-ku di lapangan dikomentarin pelatih terlihat lebih baik.
  
Berlanjut di hari Rabu ada janji temu, satu pertemuan memang terencana, namun malam hari ada pertemuan mendadak. Tapi dari hasil bertemu ada inspiring idea untuk pekerjaanku. Ohya biar cerita inspirasi ini jadi tulisan blog tersendiri atau lebih baik aku coba praktekkan dulu J

Kamis? Yah galau-galau kecil yang selalu terjadi di diri ini. Nope! tak akan kulanjutkan ceritanya di dalam tulisan ini *wink*


Hmm....apa membaca tulisanku tidak terasa warna-warni? Di benakku ada semburat pelangi dalam cerita kehidupanku seminggu ini. Tapi memampatkan dalam tarian jemari di keyboard mungkin saat ini terasa susah buat si blogger malas update. *tunggu tulisan-tulisanku yang lain*

Wednesday, April 17, 2013

Margareth Thatcher: In Memoriam dan Inspirasi bagi Wanita


Rubrik Internasional majalah Tempo edisi 15-21 April 2013, secara istimewa mengangkat tulisan yang terkait in memoriam Margareth Thatcher.  Diulas secara cover both sides, sehalaman untuk berita tentang sukacita masyarakat Inggris atas meninggalnya mantan perdana menteri wanita pertama sekaligus dengan periode jabatan terlama di Inggris (1979-1990).

Btw, bandingkan dengan masa jabatan Winston Churchill yang tidak menerus, tapi terjadi dalam dua periode berbeda (antara 1940-1945 dan 1951-1955).

Beberapa kebijakan Thatcher  tidak populis. Saya baru pahami sekarang, dan bisa dibaca pada artikel-artikel terkait.

Tapi 1,5 halaman artikel dari Bambang Harymurti tentang sisi humanis putri pemilik toko kelontong ini, plus satu halaman dalam rubrik Tempo Doeloe membuat saya merasa beliau adalah salah seorang tokoh wanita yang bisa menjadi inspirasi kita.

Ketika saya kecil, saya pernah membaca artikel biografi wanita yang terlahir dengan nama Margaret Hilda Roberts adalah sarjana TeknikKimia lulusan Universitas Oxford yang bergengsi. Tapi karirnya justru meroket sebagai politisi yang berada di bawah Partai Konservatif.  Poin yang diambil:  latar belakang pendidikan dan gelar sarjana bukan mutlak landasan meniti karir. Tapi seperti Maggie yang dikenal sebagai mahasiswi ulet dan rajin, dimanapun kamu berada lakukan dengan benar dan maksimal.  

Seperti dikutip dari Tempo pada halaman 18, “...Thatcher –menikah dengan Denis Thatcher- selalu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi suatu acara. Karena itu, dia tak toleran kepada orang yang tak bersungguh-sungguh.”

Kemudian, dia memiliki “jimat” di dalam tas. Tapi bukan cincin batu akik seperti yang kulihat di jari pejabat Indonesia. Bukan pula mantra melainkan sebuah kutipan kata-kata pidato Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln berbunyi lebih kurang begini, “Anda tak dapat memperkuat si  lemah dengan melemahkan si kuat, Anda tak dapat menolong si miskin dengan menghancurkan si kaya, Anda tak dapat membantu orang dengan cara mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakannya sendiri.”

Sepertinya dalam menjalankan karir, Margareth memiliki sosok panutan atau sekarang ini sering kita dengar sebagai “mentor”. Mentor memang sosok langsung yang masih hidup, dan bisa menjadi tempat kita berkonsultasi atau bertanya layaknya  seorang guru. Tapi bisa juga menelisik ke profil dan biografi Steve Jobs, Leo Burnett,  atau Sir Richard Branson dll.

Tegas? Yap.  Margareth yang berjuluk “Iron Lady” adalah sosok pemimpin yang tegas. That’s why
meninggalnya pada Senin 8 April 2013 tidak diratapi tangis seheboh kepergian Lady Diana si wanita dengan senyum manis tersipu-sipu yang khas. Buktinya ada kemeriahan (dan bukan isak tangis) dalam suasana duka yang terjadi di Lapangan Trafalgar London, Manchester, Newscastle, Liverpool, Bristol, Brixton, atau Derry dan Belfast di Irlandia.

Yah, menjadi pemimpin pasti menciptakan kebijakan. Dan apapun keputusan atau kebijakan tidak bisa memuaskan semua pihak.  Pasti ada yang suka/tidak.  Ada yang jadi merasa diuntungkan/dirugikan.  Tapi dasarnya keputusan Margareth Thatcher demi perbaikan ekonomi Inggris Raya saat itu meskipun mengorbankan subsidi kegiatan kebudayaan demi menghemat anggaran, kebijakan hibah bagi siswa perguruan tinggi menjadi pinjaman yang harus dicicil setelah lulus, dan memangkas anggaran perguruan tinggi dan memindahkannya ke program renovasi sekolah di daerah miskin.  

Kebijakan Margareth Thatcher pernah menuai cacian. Makanya berita wafatnya wanita berzodiak Libra di usia 87 tahun ini disambut kemeriahan di kawasan Brixton, selatan London. Insiden di daerah kantung buruh pernah terjadi pada April 1981 dan September 1985, setelah Thatcher memberangus serikat pekerja, melakukan deregulasi sektor keuangan, dan melakukan privatisasi perusahaan negara. 

Dan akhirnya pro atau cons, like atau dislike, Margareth Thatcher dikebumikan pada Rabu 17 April 2013 dengan pemakaman khusus satu level di bawah upacara kenegaraan dan dilengkapi penghormatan militer penuh, serta dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dan suami, Duke of Edinburgh. Mengutip tulisan Tempo, inilah pertama kalinya Ratu hadir di pemakaman warga biasa setelah mantan perdana menteri Winston Churchill pada 1965.

Ada lagi yang lain? Ah, saya sudah ngantuk.. Saya hanya bisa menutup artikel ini dengan mengucapkan: Selamat Jalan Baroness Margareth Thatcher. 


(Gambar dikutip dari: www.number10.gov.uk dan www.taylormarsh.com)

Sunday, February 17, 2013

Hey, Independent Ladies....

Scene pembuka film layar lebar “Sex and the City 2” hingga detik ini masih terasa hip dalam bayangan saya. Carrie Bradshaw dalam bentuk narasi berkilas balik saat menginjakkan kaki di New York, bertemu dengan tiga perempuan lain yang akhirnya menjadi sahabat sejati: Samantha Jones, Charlotte York dan Miranda Hobbes.

Suara Alicia Keys menyanyikan “New York - Empire State of Mind” menjadi balutan yang pas mengimbangi narasi Carrie tentang perjalanan hidup empat orang wanita menaklukkan kota besar. Mencari pekerjaan, menapaki karir, mengalami berbagai peristiwa termasuk kisah cinta.Hingga akhirnya Carrie, Samantha, Charlotte, dan Miranda tampil bersinar, tidak hanya glitters di balutan busana, tapi telah menjadi upper class dari big apple.

Yeah, memiliki pekerjaan, menghasilkan uang, dan memiliki independensi dalam berbagai hal bisa disamakan sebagai impian para career women di Jakarta. Namun ganti suasana Manhattan yang sangat kelas mewah dengan sebuah kawasan padat pemukiman di ibukota, pilihan transportasi umum adalah bis Patas, Transjakarta, mikrolet atau kereta api. Kami, para pekerja Jakarta, akan mengenakan masker wajah selama perjalanan kantor-rumah PP demi mengurangi sesak nafas yang timbul akibat udara Jakarta sudah bercampur debu knalpot dan bau tak sedap dari sampah atau imbas ketidak pedulian warga terhadap kebersihan kota.

Sepatu kami bukan Manolo Blahnik (meskipun saya yakin adapula wanita berkarir di segitiga bisnis yang mampu membeli dan mengenakannya) tapi sebuah flat shoes harga terjangkau yang nantinya kami ganti dengan sepatu lebih modis (biasanya sepatu lebih mahal ditaruh di kantor) jika tiba di kantor sekaligus selama bekerja. Karena sepatu tersebut biasanya mewakili desain lebih bagus, terbuat dari bahan cukup bermutu dan berhak tinggi. 

Film-film Hollywood mewakili mimpi kita tentang wanita mandiri, menikmati perjalanan Liz Gilbert di “Eat Pray Love” yang bisa pergi ke Roma, berpindah ke Calcutta, Bali demi mencari Tuhan berbalut “kedamaian diri”. Sementara bagaimana dia membiayai perjalanannya tentu akan berbeda dengan makna travelling bagi kami yang dimulai dari memantau website maskapai penerbangan low-cost carrier membuka pendaftaran promosi tiket murah.

Rrrr.... if I could be like Carrie Bradshaw someday, yang mengetik naskah tulisan dari sebuah meja yang berhadapan dengan jendela di apartemen yang sekaligus sanctuary pribadi. Apartemen yang dibeli dari penghasilan diri sendiri yang dilengkapi interior cantik. Ohya, tak lupa sebuah ruangan khusus untuk penyimpanan busana dan berbagai pernak perniknya. So, mau mencoba bayangkan who do you want to be as the independent lady? Kutip dari berbagai karakter di film sebagai inspirasi, tetap mengasah intelegensia dan mau membuka diri untuk berbagai perubahan. Ohya, last but not least, kita jangan lupa bersosialisasi karena kita tetap butuh sahabat untuk berbagi.

Tuesday, July 31, 2012

Cantik Menurut Kamu


Hasil survey yang dilakukan Dove menemukan bahwa mayoritas perempuan Indonesia tidak merasa cantik. Mereka justru lebih mudah menemukan kecantikan pada perempuan lain. Survey ini dilakukan pada 1.244 perempuan yang tersebar di 10 kota.

Personal Care Vice President PT Unilever Indonesia Tbk., Deby Sadrach mengatakan kebanyakan perempuan mengeluhkan masalah kulit dan rambut. (Komodifikasi – Kompas Minggu, 24 Juni 2012).
Survey ini ternyata berkaitan dengan produk pelembab badan yang dipromosikan oleh Dove. Namun yang saya tangkap, survey ini semakin membuktikan definisi “cantik” ini selalu berkonotasi tampilan fisik.

Di sisi lain survey juga membuktikan mayoritas perempuan memang senang membandingkan diri dengan perempuan lain. Sama seperti saya yang selalu merasa cukup manis tapi tidak cantik karena berat badan yang susah diturunkan.. *haish..* dan sering mengagumi badan perempuan lain yang jauh lebih langsing.

Dan saya juga membenarkan bahwa dalam kehidupan nyata, orang sering terpesona lebih dulu kepada tampilan fisik. Wajah rupawan, penampilan rapi, baru kemudian berlanjut pada obrolan yang mungkin bisa menunjukkan kualitas berpikir dan daya tangkap seseorang. Kadang pun orang ga peduli bahwa rekan diskusinya dongo atau ga nyambung dalam obrolan, karena raut muka sudah mempesona mata.

Berpikir positif dan hati yang baik memang bisa memberikan inner beauty. Dan percaya atau tidak, dari pengalaman pergaulan saya sekarang ini yang semakin luas, saya bisa mengatakan orang yang rajin beribadah, diikuti juga dengan hati yang tulus, akan membawa pancaran aura rupawan di wajahnya.

Tapi suka atau tidak, saya atau Anda bakal dinilai duluan dari sisi fisik. Terlahir cantik rupa atau ganteng seperti aktor laga Joe Taslim memang sudah suratan rezeki dari Yang Kuasa. Namun kita bisa terlihat menarik jika berpenampilan rapi, seperti baju yang terlihat kena setrikaan, penampilan mix n’ match, kulit bersih dan badan tidak memancarkan bau karena rajin mandi dan berganti baju. Cara lain untuk tampil cantik adalah dengan rajin merawat tubuh. Saya juga pernah bertemu seorang pengusaha besar di Batam yang lebih senang pegawainya bertubuh ramping, karena gemuk identik malas dan gerakannya lambat.

Usai menulis blog ini, membuat saya ingin mengambil sepatu olahraga dan melakukan lari-lari kecil di sekitar komplek rumahku.  *smile*


Tuesday, February 14, 2012

Whitney Houston dan The Greatest Love of All

Minggu pagi sambil sarapan di hotel tempat menginap di Medan, iseng saya mencek timeline (TL) Twitter.

Berita meninggalnya penyanyi Whitney Houston itu menebar di sepanjang layar gadget saya gerakkan atas maupun ke bawah. Benarkah? Meninggal di usia 48 tahun terhitung masih terlalu muda untuk menutup catatan kehidupan.

Penyanyi bersuara 5 oktaf ini ini sangat terkenal pada era 80-90an. Namun tragisnya berita-berita terakhir bukan tentang prestasi menyanyi atau main film. Justru sepurta masalah yang membelit mulai dari perceraian, ketergantungan obat bius, hingga bangkrut.

Oke, saya skip berpanjang lebar tentang berita kematiannya pada Sabtu 11 Februari lalu karena kita bisa membaca dan menonton melalui berita-berita di media cetak dan elektronik.

Saya bukan penggemar berat namun dalam catatan ingatan saya ada dua lagunya yang ternyata sebagai pembangkit motivasi diri ini.

Pertama kali menyimak lirik lagu “The Greatest Love of All” saat masih bocah cilik belajar bahasa Inggris. Saat itu saya penyendiri dan sebagai bungsu terbiasa semua ada. Ada supir antar jemput, ada pembantu mengurus kebutuhan, ada kucing teman bermain, tidak punya masalah dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Tetapi ketika pindah dari kota kecil ke ibukota, saya mengalami yang namanya ‘belajar berteman’ dan itu rasanya susah banget. Saya tidak mau menyapa bukan karena sombong, tetapi karena malu.

Soal pelajaran, ternyata persaingan kecerdasan sangat kompetitif di tempat baru. Lalu mulai menyadari bahwa wajah menarik adalah titik perhatian orang lain. Dan sebagai anak berwajah biasa-biasa membuat rasa rendah diri makin dalam.  

Lagu The Greatest Love of All sebenarnya lagu lawas. Dibuat oleh Michael Masser dan Linda Creed dan dinyanyikan pertama kali oleh Jane Olivor kemudian George Benson pada 1977.

Tapi lagu tersebut memang terkenal saat dinyanyikan oleh Whitney yang menurutku saat itu gayanya sangat serius. Dalam pikiran saya, “Kok penyanyi Amerika cara menyanyinya sama kayak saya atau teman-teman kalau menyanyi di kelas sih: berdiri tegak.” Karena menurut saya kalau penyanyi luar negeri misalkan kayak Madonna yang lincah dan dandanannya ramai.

Lagunya pun bukan bikin loncat menari. Namun ketika menyimak lirik lagunya sambil sesekali mencari padanan bahasa Indonesia di kamus pada kata yang tidak dimengerti, lagu dan lirik sangat menancap di hati saat mendengarnya.

Lirik lagunya silahkan cari sendiri dengan berselancar di internet, namun ada bagian yang paling saya sukai: I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows, If I fail if I succeed, At least I live as I believe, No matter what they take from me, They cant take away my dignity……(garis bawahi kata Dignity).

Lirik yang membangkitkan rasa percaya diri seorang anak yang menghadapi masa pubertas atau peralihan dari anak kecil menjadi remaja. Ingat bahwa kamu bukan bayang-bayang kakak-kakak, siapa ayah atau ibumu, dan intinya semua karena kamu harus usahakan. Mungkin lagu ini akan saya sarankan jika kelak saya memiliki anak.

Sedangkan lagu kedua penuh inspirasi berupa duet Whitney Houston dengan Mariah Carey, “When You Believe” … when you believe somehow you will, you will when you believe --- prinsip The Secret. Percaya dengan kemampuan dan mimpi-mimpi yang kamu buat, maka ada jalan terbuka untuk merealisasikannya.

Hingga saat ini televisi dan media online masih terus mengembangkan berita seputar akhir hidup Whitney Houston, seorang diva musik pop yang memang tragis dan ironis. Lagunya tidak memberi enlightenment bagi dirinya. Tapi tentu saja lagu dan suaranya tetap dikenang, bisa memberi inspirasi dan memberi jalan terang bagi orang lain. 

Thursday, November 10, 2011

Karena Kita Memilih Dalam Hidup

Saya : perempuan, umur 30-an dan belum menikah.

Dan lagi-lagi mendapat pertanyaan yang cukup standar, ”Sudah menikah atau belum?”

Nah, kebetulan yang bertanya adalah kenalan baru. Seorang perempuan yang mantan teman satu kantor sepupu saya. Kenalan via bbm, saya kira semula dia adalah penulis lepas yang ingin diperkenalkan oleh kawan saya, dan ternyata dia pun karena ingin menambah kawan yang terlink dalam jaring bbm group dibuat oleh sepupu saya.

Saya jawab pertanyaannya bahwa saya belum menikah.

Dia lalu melemparkan teks yang intinya kurang lebih: pasti kamu cantik dan pandai, hingga pandai milih-milih dan akhirnya belum married.

Dan kemudian menambahkan kata di bbm-nya ... ”Rasain...”

Ohohoho...secara pilihan kata, sangat ...sangat... judging under social culture. Walaupun bercanda atau bagi dia adalah standar berakrab diri? Entahlah.

Kenapa orang selalu menuding ”terlalu pilih-pilih” terhadap perempuan lain yang belum menikah di usia cukup umur?

Tanyakan kepada perempuan yang menikah, apakah dia melakukan pilihan terhadap pria sebelum melangkah ke pelaminan?
Pacaran pun tahap pilih-pilih.

Bukankah saat kita bangun tidur dan memilih baju yang akan dikenakan pun merupakan ”pilihan”? Memilih sepatu pun harus pas di kaki dan nyaman di kaki saat melangkah. Demikian pula dalam kehidupan kita pasti melakukan sejumlah pilihan.

Tetapi ketika menuding wanita yang belum menikah akibat dia terlalu pilih-pilih, itu berarti terlalu mengeneralisir keadaan.

Terlebih saya menyayangkan yang menyatakan ”terlalu pilih-pilih” adalah kaum sesama jenis dengan diri saya. Saya tidak marah. Saya hanya membalas perkatannya dengan menyatakan bahwa jalan hidup orang memang berbeda-beda. Saya dengan sepupu saya saja berbeda. Cerita cinta saya cukup menjadi konsumsi pribadi.

Tapi semoga dengan menuliskan ini memberi inspirasi kepada siapa saja dalam memandang pilihan menikah seseorang.

Saya yakin setiap wanita punya tahap seperti diri saya. Saat lahir pasti mengenal cinta dan kasih sayang keluarga, lalu masuk sekolah mengenal arti teman: ada teman berbagi dan merasa kehilangan ketika dia tiada. Kemudian beranjak ke masa puber ketika mengenal cinta antar lawan jenis, dan mencoba membangun mimpi-mimpi pribadi maupun bersama.

Ketika agama menyatakan bahwa menikah dan berpasangan-lah, pasti juga Tuhan ingin kita hidup bahagia dalam pernikahan. Jatuh cinta dan menikah pun menjadi satu pilihan. Akan tetapi, bayangkan jika sebelum menikah Anda telah menemukan ketidakcocokan prinsip atau perilaku? Atau apa Anda bakal mau melanjutkan ke pelaminan jika sebelum menikah pun pasangan Anda sangat posesif dan tidak bakal mendukung Anda mencapai mimpi-mimpi pribadi?

Itu sebagai contoh lho.... (Maaf kepada para mantan pengisi ruang hatiku: saya mengatakan ini bukan berarti menuding kalian pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal. Mereka justru memperkaya otak dan pengalaman batinku. Tulisan di atas hanya mewakili pikiran saya secara umum.

Hanya saja langkah hubungan seseorang ada yang tidak seperti penutup dongeng “..and they live happily ever after.. the end”. Sebenarnya pendongeng malas meneruskan cerita kehidupan setelah perkawinan. *Smile*

Di abad 21 saat ini memang perjalanan kehidupan yang klasik tetap bertahan: lahir, sekolah, pacaran, menikah, lalu mati. 

Akan tetapi, memang jalan hidup orang berbeda-beda. Mungkin ada orang (wanita) yang cukup smooth menjalani episode dari pacaran, menikah, lalu menjalani kehidupan berpasangan dan beranak cucu dengan lancar.

Balik kepada perempuan kenalan baru tersebut, dia berusia hampir 40 tahun, sudah menikah, punya anak 4 orang. Saya cuma tidak ingin menghabiskan energi negatif dengan menjelaskan bahwa saya punya kehidupan bahagia meskipun belum menikah.

Nasehat saya secara umum kepada rekan yang single: meski tidak atau belum menikah adalah hidup yang Anda jalani, coba lihat dari sisi positif : punya keluarga yang selalu menyayangi, sahabat sesama wanita yang selalu siap ’memeluk’ di saat gundah dan bahagia, dan pasti tetap ada rekan lawan jenis yang mencerdaskan dan membuatmu menerapkan istilah ”di balik wanita tangguh, ada pria yang menginspirasi” .

Dan teman-teman, coba biasakan mulai sekarang jangan judging under social culture terhadap orang lain yang belum menikah di usia matang. Mungkin saja si rekan belum menikah punya sejumlah alasan mengapa demikian: memang bahagia dengan pilihan hidupnya, memang menemukan ”belang” calon pasangan hidup yang tidak mungkin dikompromikan, sedang mengejar mimpi lain (karir atau sekolah lagi), ingin membahagiakan kedua orangtua dulu, anti-berbagi kasur tidur, sedang giat mengumpulkan duit untuk membeli rumah, telah divonis dokter tidak bisa memiliki anak dan belum bertemu pria yang siap tidak memiliki keturunan dalam pernikahan, ........... (silahkan isi titik-titik dengan jawaban telaah positif dan empati).





Friday, July 15, 2011

Ikon Badan Langsing

Lupakan Bar Refaeli, kini lirik Cody Young.

Bar Refaeli bertubuh jangkung dan ‘berisi’ di tempat yang harusnya ‘terisi’. Tapi kini muncul Cody Young, model Topshop untuk mempromosikan rangkaian busana 'Prim and Polished'.

Cody Young super kurus, membuat diriku makin harus kerja keras kalau mau menjadikan dara asal Australia ini ikon pelangsingan badan.. ahahahahha..

Ukuran bajunya saja 0 (zero) dan di Inggris size zero sama dengan size 4 (four).

Ketika menatap nanar tampilan Bar Refaeli, maka diri merasa perlu memperbanyak latihan sit up, hitting the gym dengan body combat, dan cardio.

Tapi saat menatap lengkungan pinggang di badan Cody Young… apa era Twiggy kembali lagi? Aih, tapi kudu percaya bahwa: bohay is the sexiest untuk tetap tampil pede :)

Friday, June 03, 2011

Find Your Mojo

Find your “mojo” atau “jimat” jadikan semacam “lucky charm” atau penyemangat ketika kamu merasa bosan, jenuh atau sedang menghadapi masalah di tempat kerja (atau dimanapun kamu berada).  
 
Mendapatkan jimat ini tidak perlu ke dukun. Jimat ini bisa berupa foto keluarga, kado favorit dari seseorang anda sayangi, atau apa saja yang membuat Anda berarti dan mengingatkan akan cinta yang Anda miliki dalam hidup.

Love is all around and surrounding me.

Ia seolah menemani kita dan memberi kekuatan ketika kita sedang menghadapi masalah. Dan tiba-tiba saya melirik sebuah bandulan kalung berinisial huruf “R” di meja kerja saya. Ini pemberian dari keponakan saya, Rani, kepada tantenya yang bernama Retno. 

It’s my lucky charm since right now ;-)

Wednesday, July 07, 2010

Belajar dari Ibu Pekerja

Saya belum menikah. Masih individu bebas yang waktunya dihabiskan untuk diri sendiri.

Tapi seperti umumnya perusahaan, di kantor saya gawe ada wanita pekerja yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga, disebutkan sebagai Ibu Pekerja. Nah, yang aku perhatikan dari mereka adalah hampir sebagian besar dari mereka adalah orang yang fokus nine to five di kantor, jarang pulang malam kecuali ada hal-hal tertentu, beberapa dari mereka kedapatan melakukan percakapan telepon pribadi.

Percakapan telepon seputar pertanyaan apakah anak sudah sampai di rumah. Bagaimana kondisi si A, rumah, pelajaran lancar dsb.

Saya melihat mereka serius di kantor karena punya kehidupan lain menanti setelah bekerja, yaitu ngurusin keluarga dan rumah.

Saya hanya menarik ke dalam konteks diri, akibat me-time atau self-centric terlalu besar. Fokus hanya pada pekerjaan dan bersenang-senang.

Ketika pulang kantor masih melanjutkan pekerjaan di rumah. Yang  terjadi adalah, karena saya merasa waktu bekerja saya memang 18 jam lebih (potong 24 jam sehari dengan tidur sekitar 6 jam). Nah lho! baru setelah saya menulis ini saya sadar, waktu saya untuk pekerjaan sangat besar. Akan tetapi, kadang bawa pekerjaan di rumah karena kadang saya tidak fokus di kantor.

“Bisa lanjut di rumah kok,” kata saya membatin. Namun ini berarti saya membuang waktu yang seharusnya bisa untuk kegiatan lain.

Bekerja, have fun, bekerja, have fun, bekerja.

Si individualis perlu juga ingat keluarga. Ingat meluangkan waktu bersama orangtua dan saudara.


Keterangan :
Gambar : Mothers Love by Kolongi1 dikutip dari : http://bitsnbytesoflife.files.wordpress.com

Wednesday, November 18, 2009

Malu Aku….

Minggu ini sepertinya adalah momen saya kembali konsentrasi bekerja di kantor, setelah sebulan lebih jarang terlihat akibat urusan pribadi.

Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.

Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.

Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.

Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.

Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.

Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.

“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.

“Vidi, mbak..”

Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.

“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”

“Salah sambung mbak”

Wuaks!

Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.

Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.

Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.

Tuesday, November 17, 2009

Ilusi (Iklan) Layar Kaca

Cinta gampang diraih berkat hilang noda di wajah.
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.

Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???

Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?

Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.

Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.

*September Story*

Tuesday, August 04, 2009

Gitar = Romantis (?)

Coba perhatikan kedua lagu ini : “Wonderful Tonight” Eric Clapton dan “You’re Body is Wonderland” John Mayer.

Pemicu awal gara-gara lihat status FB seorang teman, seorang cowok yang merasa aneh dengan ceweknya yang tidak puas dengan penampilan diri. Padahal, cewe itu sudah tampil oke.

Aku kasih komentar status dia mengingatkan aku akan lirik lagu ...”Wonderful Tonight”... is late in the evening/wondering what the clothes to wear/put some makeup/brushes her long long hair/and then she ask me/do I look wonderful tonight/and I said yes you look wonderful tonight/go to the party/everybody turn to see/the beauty lady walking around with me/and then she ask me/do you feel alright/i said yes, i feel wonderful tonight...

Lalu coba bandingkan dengan syair John Mayer : your skin is like porcelain/one pair of candy lips/bubblegum tounge/….. Secara keseluruhan liriknya "mengungkapkan kasih sayang cara dewasa". Maklum beda generasi, jadi Mayer lebih outspoken dalam bersyair hahaha...

Kenapa saya compare? Lirik milik Eric Clapton dan John Mayer sama-sama berbentuk cerita beruntun. Keduanya juga sangat jujur tentang pernyataan hati yang memuja pasangan. Dan keduanya jago main gitar....haha saya jadi ingat sahabat cewek di waktu SMA, si C teman saya ini suka sama cowok yang bisa main gitar. Sedangkan saya terpesona sama si B yang jago olahraga, lalu ketika putus saya pun beralih ke E yang juga jago olahraga.

Ternyata C sudah menyadari kalau jalan bersama pria yang jago nge-gitar, minimal acara kencan terisi si pria memetik gitar sembari melagukan syair cinta yang membuat kita melayang-layang. Dalam hal ini perempuan merasa disanjung.

Momen yang tentu lebih mesra ketimbang kencan harus mencari ring basket atau bola keranjang dulu :p

Eh, tapi bagaimana pendapat kalian tentang lirik lagu om Satria Bergitar, Rhoma Irama? Romantiskah.........….idih!!!

Wednesday, June 24, 2009

Keponakan Cerdas Tante Baik Hati

Sabtu lalu, beberapa keponakan melapor pada saya. Laporannya berupa prestasi kenaikan kelas dan hasil rapor. Maklum, Sabtu (20/6) lalu para pelajar memperoleh rapor hasil belajar selama satu tahun, termasuk pengumuman kelulusan SD.

Pertama, Rani via telpon mengabarkan dirinya berhasil naik dari kelas 2 ke kelas 3 SMP. Yang menakjubkan adalah dirinya juara pertama dari total 3 kelas. Ck..ck.. memang keponakan saya ini lebih cerdas ketimbang diri saya di usia sebaya. Finalis olimpiade Matematika se-Bogor, bisa lari keliling stadion sepakbola 3 putaran lebih, cepat menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, serta punya bakat dasar memperbaiki peralatan listrik (termasuk sudah ujicoba membetulkan alat perekam micro-tape milik saya).

Ohya, tapi dalam pembagian rapor semester sebelumnya, diingatkan guru untuk berlatih dalam pelajaran Mengarang sekaligus bahasa Indonesia (haha... dalam hal ini perlu berilmu dari tantenya yang bekerja sebagai peracik kata dalam industri media). Tapi sepertinya dia sudah memperbaiki nilai-nilai pelajaran yang kurang.

Lalu, menyusul Libby mengabari via pesan pendek, kalau pada hari itu dia lulus dan memperoleh medali Silver.. Aih, Libby ini smart, kritis dan punya sejumlah pertanyaan yang seandainya saya menjadi mamanya pasti bingung menjawabnya....haha.. Kini si Blossom Junior siap memasuki dunia SMP. Congrat Libby!

Sore hari, Ammar yang berusia 7 tahun mengabarkan naik ke kelas 2 SD. Memperoleh hadiah tabungan dari sebuah bank syariah.

Hoa.. senangnya punya keponakan-keponakan cerdas. Ini enaknya jadi Single Bahagia, tak perlu menanti 9 bulan 10 hari (plus strech mark, varises, mual-mual...hehe..maaf ya buat para ibu. Tidak bermaksud memojokkan cuma ini adalah contoh tanda-tanda kehamilan yang sampai saat ini belum saya alami) untuk memiliki unyil-unyil dari saudara maupun sahabat.

Tentu saja saya jadi berpikir hadiah apa yang menarik untuk mereka... Ohya, jangan berpendapat karena kita punya uang tentu bisa membeli perhatian anak-anak.

Anak kecil tentu tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tak hangat pada mereka. Jadi, saya bersyukur telah menjadi Tante Baik Hati.

Tuesday, June 23, 2009

Ingat Masa Lalu


Kadang-kadang terasa menyenangkan saat menepi dan mengenang masa lalu. Salah satu cara, mendengarkan kembali lagi lagu lama. Hanya diam, sambil otak mengingat suatu kejadian atau seseorang di waktu silam.

Seperti saat ini, saya mendengarkan lagu lama dari Def Leppard berjudul ”When Love and Hate Collide”. Lagunya bercorak slow rock asyik, mengingatkan saya pada seseorang.

Seseorang itu masa lalu saya. Seseorang yang penggemar dan sering memutar lagu-lagu grup band asal AS ini. Seseorang dari periode saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jago olahraga (I don’t know why I often have crush with Basketball player or Volleyball player, someone who love sport..), cakep (pastinya menurut ukuran dan hati saya), dan cara mata dia menatap diri ini (ahya, kalau saya jadi seleb dan wartawan bertanya apa yang menjadi daya tarik fisik saat saya pertama kali bertemu pria, maka saya bisa katakan “mata… pesona mata”.

Saya cemburu ketika dia akrab dengan seorang wanita yang konon ditaksir. Tapi saya juga punya yang lain. Lalu ketika saya akhirnya bersama dia, saya merasa menjadi makhluk paling bahagia. Bersama pria hangat dan good loooking.

Kami lalu terpisah jarak. Antar kota, antar provinsi.... hmm sound like the bus.

Salahkan dulu sarana komunikasi hanya telepon dan surat. Masih ingat dapat kartu pos dari dirinya yang membuat saya berulang kali membacanya. Salahkan saat itu tidak ada sarana e-mail, YM atau ponsel. Tapi walau prasarana telekomunikasi canggih, urusan relasi kan tergantung manusianya.

Salahkan diri yang suka gampang terpesona, lalu meredup, tak mampu menjaga hati. Gaya Libra sejati (ini kata temanku...). Pembicaraan di telepon yang..bikin..dia.. tapi sudahlah, memang saat itu masa naif bukan?

Kami ada pada masa sedang melihat dunia baru yang lebih lebar daripada sekadar gedung sekolah dan lapangan upacara.

Menjalin cinta pun butuh pembelajaran dan pengalaman. Saya ingat dia suka lagu ini, dia bilang kalau dengar lagu ini mengingatkan tentang kami. Saya cuma ngeh lagu ini enak di kuping, tahu arti judul jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan berulang disebutkan pas Reffrain. Tapi baru mencari lirik secara keseluruhan sekarang. Dan...Hah???.... Entahlah...

Saya hanya jadi merasa he was the precious one....it was!


When Love And Hate Collide

You could have a change of heart, if you would only change your mind
Instead of slamming down the phone girl, for the hundredth time
I got your number on my wall, but I ain't gonna make that call
When divided we stand baby, united we fall

Got the time got a chance gonna make it
Got my hands on your heart gonna take it
All I know I can't fight this flame
You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby, time after time

Without you
One night alone Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide

I don't wanna fight no more, I don't know what we're fighting for
When we treat each other baby, like an act of war
I could tell a million lies and it would come as no surprise
When the truth is like a stranger, hits you right between the eyes

There's a time and a place and a reason
And I know I got a love to believe in
All I know got to win this time

[Repeat Chorus]

[SOLO]

You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby...Crazy...Crazy

Without you
One night alone
Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
One night alone
Is like a year without you baby
If you have a heart at all
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide