Wednesday, November 04, 2009

Tidak Menunda Pekerjaan

Jangan tunda hingga esok apa yang bisa Anda kerjakan hari ini.

Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.

Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?

Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.

Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.

Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.

Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.

Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.

Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.

Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.

Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.

Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.

Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.

Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.

Monday, November 02, 2009

Narablog

Saya baru tahu kalau istilah "Blogger" telah diterjemahkan menjadi "Narablog".

Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".

Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?

Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".

Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.

Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.

Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.

Mengambil Langkah dalam Satu Sesi Kehidupan

Kadang logika dan intuisi telah mengarahkan ke satu hal yang benar. Akan tetapi, hati (baca “perasaan”) sering bertolak belakang. Ingin bermain-main lebih lama.

Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.

Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).

Keberhasilan Tertunda

Adilkah hidup ini?”

Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?

Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.

"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"

Hanya diam yang menjawab.

Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.

Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.

(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)

Tuesday, September 29, 2009

Kembali ke Titik Nol

Mata air itu telah menjelma menjadi sendang
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret




* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….

Monday, September 28, 2009

Anak Usaha RIM

Foto ini kiriman Rahadian Seno alias Mas Seno di http://seno.or.id atau http//jaringankomputer.net

Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).

Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….

Friday, September 25, 2009

Selembar Kartu Buatan Tangan

Kartu ini datang Jumat siang tadi ke alamat kantorku.
Amplop coklat, tanpa nama pengirim, tanpa kop surat ataupun surat bukti kurir.
Amplop distapler sebanyak 4 sisi di sepanjang permukaan atas, ditambahkan 2 stapler lagi ke dekat permukaan bibir amplop, tempat mengelem amplop.

Pada permukaan aku bisa merasakan bentuk bergelombang di dalamnya.

Ih, kayak misterius ya?

Ternyata setelah kubuka, isi amplop (seperti perkiraanku) kartu ucapan Selamat Idul Fitri dari suatu korporat. Yang unik, kartu ini buatan tangan. Desain sampul berupa kubah mesjid yang dibuat dari kain flannel. Di tengahnya ada lingkaran bulat membentuk wujud bedug, ditempeli dua butir cengkeh sebagai bentuk pemukul bedug.

Lengkap di atas kubah, ada bintang yang biasa kita beli di toko prakarya atau alat-alat jahit.

Pada bagian belakang, ada tertera tulisan : Khusus diproduksi untuk Carrefour oleh Kelompok Belajar anak-anak Dhuafa/Pemulung “Sekolah Kami”.

Saya jadi berpikir, “Kapan terakhir kali mendapat kartu Lebaran buatan sendiri?”

Ingatan saya kembali ke masa kuliah, ketika bersama temanku Hanny dan Tantri, membuat kartu ucapan Lebaran bersama yang kami buat sendiri di saat libur kuliah. Sembari menanti bedug magrib kah saat itu? Sudah lupa…..

Tumpukan kartu ucapan yang datang menjadi kebahagiaan sendiri ketika merasa ada yang care kepada kita. Kerepotan mencari kartu ucapan di toko buku pun menjadi kehebohan bersama teman-teman SMP/SMA.

Sekarang Kartu Lebaran pun jadi benda jarang kuterima. kemajuan zaman melalui pesan pendek ponsel, status di Facebook, atau kiriman surat elektronik (e-mail) telah menggantikan fungsi selembar Kartu Lebaran.Saya termasuk salah satu di antara pemanfaat cara mengirimkan ucapan era serat optik.

Lebih simpel, langsung cepat sampai, menghemat waktu dan mengikis biaya pengiriman. Selain itu, di era pemanasan global dan isu lingkungan, kartu juga menambah kebutuhan kertas yang berasal dari pemotongan pohon di hutan.

Meski belum pernah pula saya menemukan data valid berapa biaya energi terkuras untuk menyalakan internet, memindahkan data kilobyte dari suatu server, atau transponder, ah don’t know what exactly cara kerjanya… yang penting kabar cepat sampai... ;)

Hari ini ada perasaan melankolis menerima selembar kartu buatan tangan di tahun 2009.

Jari-Jari Istirahat Seminggu

Internet dan gadget sering dianalogikan sebagai alat yang membuat kita merasa dunia dalam genggaman.

Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!


Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.

Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?

Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.

Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).

Friday, September 11, 2009

Bintang Jatuhku

Kamu dulu Bintang Jatuhku
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok

Monday, August 10, 2009

Kubuka Buku untuk Kubaca

Sebentar lagi bulan Ramadhan, saatnya menjalankan ibadah puasa. Aktivitas biasanya mengalami perubahan : mulai dari ritme tidur, acara makan digeser menjadi buka puasa bersama, hingga waktu makan yang hilang seharusnya bisa dipakai untuk menelaah kegiatan kerja.

Logikanya sih karena kita bekerja, maka kondisi puasa tak berasa. Tiba-tiba sudah waktu berbuka, meskipun kenyataannya badan biasanya sudah lemas dan tidak konsentrasi lagi di sore hari.

Puasa juga sering diisi dengan kegiatan memperdalam agama.

Saya pribadi, sejak tahun lalu menetapkan untuk mengisi waktu menunggu bedug magrib, dengan membaca buku-buku yang belum sempat kujamah.

Selain membaca, bisa pula bermain game PC. Eng ing eng....saya (sebenarnya) maniak game komputer ;))

Sering tangan ini gatal untuk meng-klik permainan yang ku-save di dalam laptop, sementara di waktu yang sama logika saya mengingatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan inti untuk menulis advertorial.

Ohya, favoritku seputar mini games genre hiding object atau time management yang membutuhkan ketangkasan tangan.

Sebagai contoh Natalie Brooks – Secrets of Treasure House kuselesaikan dalam 5 jam. Seri hiding object seperti Agatha Christie – Peril at the End House dan Cate West – The Vanishing Files membutuhkan waktu berhari-hari karena jeda menulis pekerjaan inti serta menyelesaikan urusan kantor.

Tapi memang buku adalah favoritku tersendiri. Apalagi di tempat saya bekerja kadang ada penjualan buku-buku dalam harga diskon. Buat penggila buku –ingat, ada beda antara penggemar baca dengan pengkoleksi buku- seperti saya sering ikutan pesan buku berharga miring. ”Kesempatan tak datang dua kali, urusan membaca nantilah,” kilahku.

Akhirnya repetisi terjadi. Buku menumpuk lalu saya berjanji tidak membeli buku sebelum menghabiskan yang sudah kubeli. Tahun lalu saya sudah merealisasikan janji dengan membaca buku dongeng “Disney’s Family Story Collection”. Ketika membeli buku hard cover warna ungu itu sebagai romantisme masa kecil ingin membaca kisah-kisah klasik dari Walt Disney.

Gara-gara hilang, saya kembali membeli Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sampai saat ini : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, terbungkus plastik.

Karya Pram yang lain, ”Panggil Aku Kartini Saja” sudah saya baca habis.

Tahun ini realisasi janji bisa dimulai dari membaca Un Lun Dun. Saya membeli buku ini awal Mei lalu dan baru kubuka di permulaan Agustus. Hingga hari ke-5 belum kelar pula kubaca.

Ohya, dalam membaca saya bukan pelahap buku novel dalam hitungan jam. Bisa berhari-hari bahkan ada pula yang kutinggalkan setengah kelar kemudian kulanjutkan membaca beberapa bulan berikutnya.

Jadi bukan karena buku setebal 534 halaman tak menarik, justru saya tercerahkan kembali dengan buku fiksi yang melambungkan daya khayal.

Mungkin ini sensasi yang dirasakan pembaca Harry Potter (saya sampai sekarang belum membaca Harpot....karena saya berprinsip kalau sudah ada filmnya, mending nonton deh daripada membaca bukunya yang tebal-tebal itu).

Salut buat China MiƩville yang bisa mengisahkan topik masa kini, soal sampah dan polusi lingkungan, menjadi kisah UnLondon atau London dalam bentuk lain.

Nanti cek resensi bukunya di Ruang-Resensi.blogspot.com yaaa.....

Buku apa lagi yang sudah kupunya? Buku Fiqih Wanita dan The Great Women yang kubeli di pameran buku Islam beberapa bulan lalu tentu bacaan cocok di bulan puasa.

Balthasar’s Odyssey yang setiap kali ke toko buku selalu kutimang-timang akan tetapi baru bisa kubeli ketika harganya didiskon. Ternyata setelah memiliki buku karya Amin Maalouf belum juga kubaca.

Versi Indonesia dari Breakfast at Tiffany’s, Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo, versi Inggris karya Shusaku Endo, ......, ...... Hadoh! Saya perlu puasa beli buku dan menghabiskan baca buku-buku yang sudah terlanjur kubeli nih ;))