Thursday, December 30, 2010

Tahun Baru


30.12.2010

Tulisan ini dibuat dua hari menjelang pergantian tahun dari 2010 ke 2011.
Jalur lalu lintas Jakarta terasa lebih lengang sehingga jalanan mengalir lancar hanya pada beberapa titik tersendat karena lampu merah atau persimpangan jalan.

Semalam sebelumnya menyaksikan pertandingan kedua final Piala Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) antara Indonesia vs Malaysia. Indonesia memang kalah, dan hanya keluar sebagai runner up. Tapi menyadari bahwa sepak bola memang bisa menyatukan semua umat dan membangkitkan rasa nasionalisme.

Terus hari ini saya menatap layar laptop, memantau pekerjaan yang akan menanti mulai diselesaikan pada 3 Januari mendatang. Hari pertama bekerja di 2011, dan sepertinya membuatku merasa sebenarnya tahun baru hanyalah penanda 365 hari telah berakhir dan masuk ke fase baru dari 365 hari berikutnya.

Sebenarnya apa sih arti “tahun baru”? Apakah pesta, jalanan ibukota yang lengang, atau kesempatan berlibur adalah bagian dari ritme yang dirasakan menjelang tutup tahun.

Namun saya juga beranggapan tahun baru adalah momen baik untuk Resolusi dan Semangat Baru. Titik mula Harapan Baru dan berharap akan menjalani satu tahun kedepan dengan gemilang.


(Sumber gambar : www.knox.villagesoup.com)

Monday, December 13, 2010

Status Gunung Berapi


Beberapa waktu lalu, media cetak dan elektronik ramai memberitakan tentang pengembangan status gunung berapi. Berikut pemahaman tentang status gunung berapi, supaya masyarakat tidak bingung. Ini dikutip dari sebuah milis media yang dipostingkan oleh Mas Satrio Arismunandar.

Ternyata, gunung berapi ada empat status :

1. Status normal aktif. (NOTES: normal aktif itu sebenarnya bukan peningkatan dari normal ke normal aktif. Normal aktif itu status terendah atau Level I, karena semua gunung api itu sifatnya "aktif" -- jadi normal aktif itu sebenarnya normal. Namun, meski status normal aktif, masyarakat tetap dilarang mendekati dengan radius 500 m)

2. Waspada : Level II dengan radius 1-5 kilometer

3. Siaga : Level III dengan radius 5-7 kilometer (ring I hrs mengungsi, ring II-III masih aman)

4. Awas : Level IV dengan radius lebih dari itu (ring I - III harus steril)


(Gambar dikutip dari : www.chattahbox.com)


Sunday, December 12, 2010

Nona Belanja


Nona G berdiri kukuh diatas high heels
Jinjing tas dan wangi parfum berkata "Envy Me"

Ibu Kartini pasti bangga pada dia
Wanita tangguh cari duit sendiri
Independen, cerdas dan bisa pergi sendiri
Tapi tekuk lutut depan bendera duty-free-shop

Sayup-sayup teringat ucapan tante Gandari di kedai kopi
sembari cicip pie dan kopi impor
"Tak ingin kau beranak bagai yuyu?"
Lalu Nona G senyum manis berkata,
"Dunia terlalu cepat berputar dalam satu poros waktu"

Tante Gandari angguk-angguk tanda tak mengerti

Nona G berputar dalam maskara hitam, lipstik nude,
dan sepatu tinggi beralas merah
Sibuk berkejaran dalam asap menthol dan aroma nomor 5
Kini berdiri depan gerai merek yang mahal itu
Sejenak teringat pemandian air panas dan keramik tradisional
Ingat nona-nona gendong kendi ambil air nun disana
Tapi sekejap ingatan lenyap
Tersapu deretan tas menguarkan aroma kemewahan
Rayu hati terbang menjamah satin, chifone, dan rantai emas

Candu marka kosmopolitan itu terlalu kuat, tante!

Saturday, December 11, 2010

Amsal Hujan


Dan mendung masih menggantung hari ini
menyisakan murung di relung hati

teringat kamu aku termangu di kotamu
tentang teh panas dan kisah seru
haru biru senang riang aku bagi waktu lalu

Aku tahu mengapa aku mencarimu
ada cerita tentang hujan dan senyummu


Bogor, 11 Desember 2010

(Gambar dikutip dari : www.last.fm)

Thursday, December 02, 2010

Masa Depan Penerbitan

Apakah penerbitan dan buku masih punya prospek ke depan?
Pertanyaan saya diatas berangkat dari beberapa hal.

Pertama, ketika saya pribadi divonis oleh dokter alergi debu yang gejalanya bisa sama dengan flu, salah satu cara menghindari serangan adalah tidak menempatkan lemari buku di kamar. Ah, bagaimana saya si penggemar baca sekaligus kolektor buku bisa mengatasi hal ini?

Beralih ke e-book adalah salah satu alternatif, dan seiring semakin banyaknya vendor meluncurkan PC Tablet, rasanya tawaran cara baca paperless semakin menggoda. PC Tablet ini antara lain Apple iPad, Samsung Galaxy Tab, Archos 9 dan Blackberry PlayBook.

Belum lagi varian lain seperti perangkat Amazon-Kindle atau Sony's E-Reader.

Mencetak buku menelan biaya produksi tinggi, mencakup berbagai komponen, misalnya biaya desain isi dan naskah buku, cetak cover, plate dan pengomplitan. Silahkan cek web disini adalah sumber kutipan dan tentang kalkulasi harga cetak buku.

Sedangkan dari sisi marketing, penerbitan mungkin bisa menekan biaya dengan memanfaatkan social media dan microblogging, komunitas milis, atau jaringan toko buku sebagai tempat meluncurkan buku.

Dibawah ini ada video menarik tentang masa depan penerbitan yang membuat saya tertarik menulis artikel diatas. Silahkan komentari jika ada saran-saran dari Anda.


The Future of Publishing - created by DK (UK)
DK = Dorling Kindersley

Friday, October 29, 2010

Time Management

"Apa pendapat kamu tentang Eno?"


Ini kalimat iseng kulontarkan kepada seorang sahabat. Awalnya kami berdiskusi tentang istilah di dunia media (karena dia bukan bekerja di perusahaan media) dan akhirnya kami iseng seandainya dia narasumber dan saya adalah wartawan, bakal seperti apa pertanyaan yang bakal kulontarkan.

Entah bagaimana obrolan ngalor ngidul itu ke urusan pembagian waktu. Ia menanyakan bagaimana saya membagi waktu pribadi, gara-gara setiap dia menyapa diriku selalu kujawab, “Lagi ngetik kerjaan”.

Ia jadi bertanya apakah aku tidak mampu mengelola waktu sehingga hampir selalu membawa pulang pekerjaan ke rumah? Melanjutkan mengetik di rumah? Padahal sebagai Penulis saya sudah memiliki waktu 8 jam sehari dalam 5 hari kerja dalam seminggu.

8 jam x 5 hari = 40 jam/minggu untuk bekerja.

Saya menjawab kalau lembur dilakukan demi mengejar deadline... Maklum pekerja kreatif tentu tergantung tuntutan klien yang kadang-kadang mengorder secara dadakan dan harus selesai dalam waktu cepat.

Alasan lain adalah memang kerjaannya yang banyak.. ehem..

Dengan pertimbangan banyak pekerjaan yang diselesaikan (demi duit agar tercukupi kebutuhan primer, sekunder dan tersier …hehe..), tapi juga tetap terpenuhi keperluan pribadi dan urusan keluarga, saya harus harus belajar  “time management” alias membagi waktu. Arghh! … Mungkin istilah tepatnya bukannya belajar, akan tetapi efisiensi dalam manajemen waktu  sekaligus teguh dalam menjalankan schedule tsbt.

Mengintip dari Wikipedia, Manajemen Waktu mencakup perencanaan dan delegasi. Yaitu mulai dari menetapkan rencana dan alokasi waktu, termasuk mendelegasi tugas, lalu menganalisis waktu yang harus dialokasikan, monitoring, organizing, scheduling dan memprioritaskan waktu.

Ohya, godaan di depan laptop dan kemajuan internet saat ini memancing orang untuk tidak efektif dalam memanfaatkan waktu. Cek e-mail, browsing, chatting, dan sebagainya.  Tahu-tahu waktu berlalu cepat gara-gara iseng membuka link dengan judul menarik.  

Untuk mengatasinya maka coba jalankan berikut ini :
  1. Catat setiap rencana aktivitas
  2. Tentukan prioritas
  3. Follow up dan review rencana aktivitas yang sudah kita buat sebelumnya, dan sekali-kali beri hadiah bagi diri sendiri jika rencana aktivitas berhasil kita selesaikan. Sebaliknya kita coba laksanakan kerja yang belum selesai atau analisis mengapa pekerjaan tersebut belum selesai.

Saya sudah tahu tips mengatasi problem manajemen waktu, semoga saya berhasil menjalaninya. Semoga ketika sobatku bertanya tentang saya, dia mengatakan diri ini banyak bekerja tapi masih bisa meluangkan waktu untuknya. 

Thursday, October 28, 2010

Jenuh

Saya pernah merasa beruntung karena bekerja sesuai hobi. Hobi menulis dan bekerja sebagai penulis.


Tapi ternyata bekerja menurutkan hobi pun ada jenuhnya juga. Ketika ide tak berseliweran diotak, enggan memulai kerja meskipun konsep dan bahan telah ada.

Memulai langkah pertama memang sulit. Padahal saya sadar kalau menulis dimulai dulu dengan lead pembuka dan selanjutnya artikel akan mengalir.

Saya sadar sedang dilanda kejenuhan. Cape berpikir, tak ada ide, dan ini berimbas pada kerja, menunda hingga tenggat tulisan sudah dekat. Menonton sebagai fungsi menghibur dan menghilangkan kejenuhan juga kadang tidak efektif. Karena mencerna jalan cerita film membuatku harus berpikir juga :D

Buntutnya, paling enak membuang perasaan jenuh dengan bermain game. Hati-hati keenakan main, ntar bablas waktu pun habis terbuang. Main game melepas penat harus tahu batasan dan ingat: kerja yang lebih produktif masih menunggu. 

Monday, October 11, 2010

Anarki dalam Pandangan Franz Magnis-Suseno

Kamis (23/9) saya meliput acara seminar kampus yang menghadirkan Franz Magnis-Suseno, tokoh Katolik dan budayawan Indonesia, sebagai pembicara.


Hasil liputannya bisa dibaca disini.

Tapi kesempatan bertemu Romo Magnis melontarkan pertanyaan pribadi saya tentang kondisi sosial saat ini dimana masyarakat gampang sekali marah. Ada ‘gesekan’ sedikit sudah bisa menimbulkan demo atau anarki. Apakah ini merupakan cerminan sikap apatis, dan hal ini bisa dihilangkan jika meningkatkan pendidikan bangsa dan memperbesar lapangan kerja?

Beliau membenarkan teori ini, tapi perlu pula disadari bahwa kondisi hidup modern semakin membuat manusia bersaing, dimana yang kuat akan menang. Akibatnya ‘ketika perut lapar’ maka orang gampang merasa terancam, emosi tinggi, dan marah.

Perlu pemahaman dan pendekatan agar kondisi ini tidak mengarah pada ideologi baru yang sesat.   

“Menurut saya masih terlalu banyak orang yang susah. Perlu berjuang setiap hari sehingga dengan demikian mereka dalam kehidupan pribadi juga belum bisa membuat rencana jangka panjang. Orang-orang seperti itu tidak banyak bisa memikirkan bangsa tetapi bisa bereaksi emosional,” kata Romo Magnis.

Romo Magnis mengakui seseorang yang memiliki profesi atau pekerjaan, akan bisa bersikap tenang, seimbang dan tidak marah-marah.

Suasana persaingan juga menyebabkan manusia sekarang terindividualisasi dimana hukum alam satu-satunya “persaingan” termasuk merasa terancam ketika hadir pendatang baru atau umat baru masuk. Kuncinya adalah kita harus memiliki pengetahuan dasar tentang perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat kecil. “Karena orang-orang dalam kelas ekonomi mantap, yaitu kelas menengah keatas, sebetulnya sudah merasa mantap dalam kondisi modern seperti sekarang ini. Tapi hal ini tidak berlaku bagi (masyarakat) dibawah,” ujarnya. 

Saturday, October 09, 2010

Kekuatan Doa

Berdoa menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan saat melakukan wisata religi. Peneliti banyak menjadikan doa sebagai obyek penelitian dalam pengobatan alternatif. Sebetulnya mereka bukan melihat doa dikabulkan atau tidak sebagai obyek penelitian. Melainkan efek dari melakukan doa terhadap tubuh manusia.


Dr. Elizabeth Targ pernah melakukan penelitian tentang doa pada 150 penderita HIV. Hasilnya, mereka yang rajin berdoa hidup lebih lama dibandingkan orang yang tak melakukannya. Selain itu, tingkat kekebalan tubuh mereka juga lebih tinggi. Pertumbuhan bakteri dan kuman dalam tubuh jadi melambat, padahal semua pasien mengalami pengobatan yang sama.

Ternyata berdoa membuat pemikiran seseorang menjadi lebih positif.

Sedangkan dr. Daniel J. Benor, MD, seorang psikiater asal Amerika Serikat penulis buku Spiritual Healing mengatakan, “Mungkin satu-satunya efek samping berdoa hanya rasa kecewa jika doa tidak terkabulkan. Namun pikiran Anda akan jauh lebih jernih dengan berdoa. Meski tak dikabulkan, Anda akan bisa mencari sisi positif atau hikmah mengapa doa tak terkabul.”

Sunday, August 22, 2010

Kiat-Kiat Menulis

Ada dua pendekatan dalam menulis. Pertama, seperti yang biasa diajarkan di sekolah yaitu menyiapkan dahulu kerangka tulisan sebelum menulis. Sedangkan pendekatan kedua adalah menulis saja tanpa kerangka.

Pendekatan kedua ini kita terapkan karena kita sering mengalami kesulitan untuk mengembangkan sebuah kerangka tulisan sebelum kita menulis. Bisa jadi karena kekurangan ide, atau buntu pikiran. Nah, lebih baik coba cara menuliskan apa saja yang terlintas di benak kita –tanpa mengedit- tanpa mempedulikan apakah itu konsisten atau tidak. Intinya : Tulis Saja!

Tulisan yang kita buat sebelumnya itu tentu masih kacau. Tulisan kacau itu hanya bersifat brainstorming. Dari tulisan itu kita tarik ide-ide menarik dan dihasilkan tulisan yang tentu lebih baik dibandingkan dengan yang pertama. Tulisan ini sudah lebih teratur dan jadi.

Tahapan menulis yang pertama hingga selesai, kemudian kita baca ulang disebut : Proses Penggodokan. Tulisan pertama digodok menjadi tulisan kedua, dan seterusnya sampai mencapai draft final.

Hindari untuk mengedit terlalu awal. Curahkan semua isi pikiran ke dalam tulisan. Mengedit hanya dilakukan pada hasil akhir. Mengedit terlalu awal membuat pikiran tidak dapat keluar dengan lancar karena sudah mengalami sensor internal.

Untuk menggodok tulisan menjadi lebih baik ada satu syarat yang harus diperhatikan. Tulisan yang baik bisa terjadi jika merupakan konflik/konfrontrasi/beberapa pikiran yang berlawanan. Dalam dunia jurnalistik atau membuat berita dikenal istilah cover both side atau berita berimbang dengan mengonfirmasi subyek berita dari berbagai stakeholders yang terpengaruh.

Konfrontasi ini bisa diperoleh dengan berkomunikasi dengan orang lain, membaca tulisan orang lain, atau melakukan konfrontasi sendiri dengan melihat masalah itu dari beberapa sudut pandang berbeda.



Membaca Adalah Satu Kesatuan

Membaca menjadi satu kesatuan agar bisa menulis. Penulis Ayu Utami dalam suatu diskusi penulisan berkata, “Jika kamu (mau) menulis, bacalah 7 kali buku lebih banyak.”

Hal ini bisa kita asumsikan bahwa untuk menulis satu buku = 7 referensi buku.  Atau, asumsi lain adalah kita rajin membaca buku hingga tujuh, 21, 42, 49, 77,…..dst sebelum kita berada pada tahap berani menulis atau mengungkapkan ide atau buah pikiran ke dalam bentuk tertulis.

Membaca berguna untuk menyerap pikiran seseorang, mempelajari gaya bahasa tulisan dan tata bahasa, mencari ide, dan masih banyak kegiatan positif lainnya. 

Khususnya untuk buku non fiksi, kita bisa menerapkan teknik membaca cepat (speed reading), dimana kita hanya perlu tahu framework (kerangka tulisan). Lalu utamakan membaca buku secara mendetil pada bagian sesuai yang menjadi perhatian kita, dan terakhir latihan membuat kesimpulan dari buku itu untuk menyaring argumen-argumen yang ada di buku.

Salah satu cara lancar menulis adalah memang : latihan..latihan…latihan… Setiap hari memang luangkan waktu untuk menulis. Misalkan dosen Filsafat FIB Universitas Indonesia sekaligus penulis, Donny Gahral Ardian, menyarankan agar meluangkan waktu 5 menit/hari untuk menulis.

Cara latihan yang lain adalah membuat tulisan dalam 3000 kata/hari. Saya asumsikan 3000 kata/hari adalah membuat tulisan dalam 18.892 karakter tanpa spasi dalam satu hari. Wah, bagi saya yang berprofesi sebagai Penulis Iklan ini berarti membuat tulisan untuk sebanyak lebih kurang 6 halaman majalah! Silahkan pilih mana yang lebih praktis Anda ikuti……..

Sedangkan penulis buku Fira Basuki mengatakan kiatnya dalam menulis kreatif, “Kita bisa memasukkan realitas dan khayalan (dalam menulis fiksi). Jangan stress dengan detil atau kebenaran obyek seperti menyebutkan nama toko sesuai kenyataan,” katanya. (Dewi Retno Siregar)

Riset Pew Internet tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial



Lembaga penelitian Pew Internet (
http://www.pewinternet.org) menyebutkan bahwa remaja dan anak muda kurang menyukai blog dan lebih suka situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.


Riset yang mensurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika Serikat untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.

Hasil riset yang dilakukan pada September 2009 dan diumumkan di awal 2010 ini (dikutip dari Koran Tempo, Februari 2010) mengatakan bahwa remaja dan anak muda AS jauh lebih banyak menggunakan internet dibanding orang dewasa, yaitu sebesar 93 persen dibandingkan dengan 38 persen (orang dewasa diatas 65 tahun).

Apa saja yang responden lakukan di Internet? Pew menemukan bahwa 73 persen responden berusia 12-17 tahun remaja adalah pengguna aktif jejaring sosial, seperti Facebook, Flickr, dan YouTube. Mereka menggunggah foto, memperbaharui dan mengomentari status, dan mengirim pesan singkat melalui layanan seperti Yahoo! Messengers, AIM, dan MSN.

Yang mengejutkan, hasil riset juga menemukan remaja semakin kurang menyukai blog. Riset Pew pada 2006 menunjukkan bahwa 28 persen remaja memiliki blog, tahun ini menurun drastis menjadi hanya 14 persen. Remaja tampaknya menganggap Facebook dan media-media sosial lebih gampang untuk memperbaharui status, sehingga blog tak diperlukan lagi.

Kesimpulannya, membuat sesuatu tulisan –seperti memposting di blog- memakan lebih banyak waktu dan energi ketimbang mengubah status atau mengunggah foto di Facebook. Blog lebih bersifat membagi pengalaman dan memperkaya pengetahuan lebih dalam, ketimbang  mempublikasikan kata dalam media sosial yang hanya membutuhkan 620 karakter atau 140 karakter.

Kehidupan sosial remaja jauh lebih sempit dan tertutup sementara blog lebih merupakan tempat membagi pengalaman secara terbuka. Menurut Pew, blog-blog yang masih aktif rata-rata dimiliki oleh mereka yang berusia di atas 25 tahun. Mereka yang aktif berkicau di Twitter pun umurnya rata-rata diatas 20 tahun.

Ahaha… Saya merasa telah pada fase dimana pengalaman, kehidupan dan apa yang saya serap bisa saya bagi ke dalam blog. Saya telah punya akun di blogspot sejak 2005. Tapi persoalannya, apakah hingga kini saya masih aktif menambahkan artikel ke dalam blog?

Saya pribadi belakangan jarang memperbaharui blog dan membuat puisi. Rasanya energi dan pikiran sudah terkuras untuk pekerjaan sehari-hari, sehingga akhir pekan pun saya enggan menggunakan otak untuk menyusun huruf-huruf, membangun kata dan merajut kalimat sehingga menghasilkan suatu tulisan lepas.


Thursday, August 19, 2010

Di Sebuah Bank

Terkantuk-kantuk menahan suntuk
Menanti antrian sambil otak mengutuk
Kapan nomorku dipanggil?



Kluk..klak..kluk..klak
Hak sepatu pertugas layanan konsumen
Berdetuk ketuk lantai
Menimbulkan irama tidur di otakku...

Thursday, July 29, 2010

Media, Seminar, Informasi


Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami pada Sabtu 24 Juli lalu, di sebuah seminar. Mungkin masih ada penyelenggara/panitia seminar yang bingung menghadapi kedatangan seorang penulis dari media.


Seorang jurnalis/penulis biasanya menjadikan seminar sebagai suatu ajang berkenalan atau kesempatan bertemu dengan narasumber, memperoleh informasi terkini, dan menambah wawasan di suatu bidang.

Sehingga ketika kami pertama kali membaca suatu acara seminar yang biasanya dipublikasikan di media massa atau elektronik, atau memang ada undangan dikirim ke redaksi, maka di otak kami akan segera melihat judul seminar, apa materi presentasi dan siapa tokoh yang berbicara, lalu kira-kira apakah topik sesuai dengan bidang liputan yang digarap. Tentu saja lokasi dan waktu acara menjadi pertimbangan.

Seperti Sabtu kemarin saya datang ke acara seminar yang diselenggarakan di suatu perguruan tinggi yang berlokasi di Depok. Seminar ini menyajikan tema peran profesi X di era pasar bebas AFTA. Suatu topik yang rasanya cukup menarik karena saya kebetulan akan membuat artikel tentang profesi dan kebutuhan sumber daya manusianya.

Sebenarnya bagai orang mau kulo nuwon ke hajatan seseorang, sehari sebelumnya saya mengirimkan surat elektronik berisi keinginan untuk datang dan konfirmasi ke alamat e-mail panitia yang tertera di iklan seminar tersebut. Iklan itu terdapat di dalam website perguruan tinggi terkait. (Tapi ternyata memang baru sampai di hari Minggu …thanks to office network*lemot’mode’on*).

Kemudian di hari-H saya pun datang ke tempat acara seminar sekitar pukul 09.00 wib. Di depan pintu saya disambut oleh panitia dan saya pun memperkenalkan diri dari institusi media dan menyampaikan maksud ingin mengikuti seminar tersebut.

“Tapi berarti mbak kan mau meliput?” kata panitia perempuan yang mengajak saya bicara.

Di otak saya segera melintas definisi “meliput” berarti saya akan mengulas acara seminar ini.

“Iya saya masih mencari informasi, mbak,” balas saya kepada panitia berjilbab berperawakan padat tersebut. Ini jawaban standar pula karena kami para jurnalis biasanya malas menerima pertanyaan beberapa hari atau minggu kemudian dari penyelenggara acara, apakah liputan sudah naik cetak atau belum. Ini secara tidak langsung membebani perasaan seolah suatu acara yang didatangi sudah pasti layak muat.

“Tapi mbak, kami sudah punya media partner,” balasnya.

Lha…!

Memang suatu seminar membutuhkan dana dan publikasi. Makanya panitia menggandeng sponsor acara untuk memberikan dana berupa uang tunai maupun non tunai, termasuk punya media rekan kerjasama sebagai tempat mempublikasikan acara guna menggaet peserta seminar. Media partner ini biasanya juga akan memuat liputan dari penyelenggaraan acara. Tapi bukan berarti seminar itu menjadi privilege media partner sehingga wartawan media lain tidak boleh datang dan meliput selama kegiatan berlangsung.

Akan tetapi, saya rasanya lebih terbiasa jika panitia minta kartu nama atau silahkan juga jika ingin melihat ID-card (meskipun yang ada cuma ID-card untuk absensi kantor). Seandainya saya menjadi panitia acara, ini adalah cara sopan atau tersamar untuk mengetahui apakah orang di depan saya adalah jurnalis benar atau gadungan.

Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”

Nah, biasanya jurnalis yang ditanya akan menjawab misalkan bahwa nama tersebut sudah pindah ke desk liputan lain atau mengakui dirinya anak bawang sementara nama yang disebutkan panitia adalah senior.

Tapi memang saya dipersilahkan untuk mengikuti kegiatan seminar. Lalu saya pun duduk di kursi baris belakang. Ahya, kursi baris belakang favorit para wartawan karena dekat dengan pintu keluar. Ketika kami merasa bahan tulisan sudah cukup maka kami bisa berlalu pulang dengan mudah tanpa mendapat pandangan mata dari peserta lain. Alasan lain duduk di baris tepi supaya gampang mencegat pembicara keluar ruangan.

Saat itu presentasi sedang berlangsung…dan voila, kuping saya mendengar penyaji materi mengucapkan kalimat, “Kompetensi yang dibutuhkan seorang (profesi) di saat ini ….” wauw pas dengan hal yang saya butuhkan. Saya pun segera sibuk mencatat, tapi tiba-tiba seseorang menyapa saya, “Maaf kursi paling belakang ini untuk panitia,” seorang perempuan panitia berambut lurus sebahu berperawakan ramping berkata demikian. Suaranya sopan dan ramah, tapi tetap saya setengah tidak percaya dengan perkataan wanita tersebut. Muka bengong saya membuat dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih sama.

“Tapi gapapa kan saya disini dulu? Oh ya kalau memang saya diusir suruh pindah juga bilang saja,” kata saya seraya melihat sisi kiri kanan bangku sederetan yang masih kosong melompong. (memancing bad mood di pagi hari ….)

Akhirnya perempuan itu mengiyakan dan berlalu. Selama mengikuti presentasi saya menyapu pandangan, dan melihat pria maupun perempuan berdiri di pinggir ruangan dalam jumlah cukup banyak dan tersebar. Di belakang saya pun ada yang berdiri dan duduk berbaur bersama meja penjualan produk sponsor. Mereka berpakaian seragam dalam atasan batik berwarna kelam, seperti baju yang dikenakan oleh dua wanita yang tadi berbicara dengan saya. Berarti mereka adalah panitia.

Saya jadi berpikir, panitia seperti apa yang tidak mengharapkan peserta seminar datang membludak dan berharap bisa duduk di kursi?

Lama-lama saya tidak merasa nyaman. Mungkin memang saya tidak diterima sejak awal? Tidak ada inisiatif panitia untuk memberikan saya materi presentasi. Saya pun sudah enggan bertanya dan lebih baik meminjam materi presentasi dari rekan sebelah saya. Seorang jurnalis pantang pulang tanpa bawa hasil, menjadi pikiran saya saat itu mengingat perjuangan datang dan rencana awal datang ke seminar.

Setelah puas membaca cepat materi presentasi para pembicara yang dikemas dalam satu buku seukuran buku tulis, mencatat poin-poin penting dan memotret materi dengan kamera BlackBerry, saya pun berlalu pergi.

Tulisan ini saya buat bukan ingin jurnalis disanjung ketika datang ke suatu acara. Ini bukan pikiran bijaksana di era media sudah membludak jumlahnya dan di sisi lain masyarakat bisa menyerap informasi dari media mainstream, microbloging dan web forum.

Akan tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi cerita kecil yang cukup berguna jika lain kali datang ke peliputan acara atau suatu waktu saya atau Anda menjadi panitia kegiatan seminar.

Saya jadi berpikir apakah panitia seminar lebih mengharapkan kehadiran peserta yang membayar daripada seorang jurnalis yang ingin cari informasi gratis? Saya memang terlambat berpikir tentang hal ini, tapi jika dari awal panitia mengatakan harus membayar untuk masuk, tentu akan ada pertimbangan untuk merogoh kocek dengan asumsi perusahaan media tempat saya bekerja akan mengganti biaya tersebut demi kepentingan bahan penulisan.


*Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan minuman air kelapa F***** yang mengguyur haus tenggorokan, tapi sekaligus menyesal telah mengunyah pizza P*** *** yang dibagikan. Dalam perjalanan pulang saya merasa telah menjadi seorang tamu tak diundang mencari makan siang gratis. 

Wednesday, July 21, 2010

Hikmah dibalik Doa Tak Dikabulkan


Saya mendapat cerita ini dari milis, sebuah kiriman berantai, yang cukup mengena. Jangan melihat ini sebagai sikap mensyukuri kejadian yang bagi orang lain adalah musibah. Pada bagian akhir tulisan menjadi pesan moral bahwa Ia memberikan yang terbaik bagi umatnya. 

Sebuah pesan berantai di milis bisa jadi adalah hoax, tidak jelas siapa pengirim pertama dan kebenaran sumbernya. Akan tetapi saya memposting ini tulisannya karena saya suka pesan yang ingin disampaikan. 


Good Story from "Challenger"

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.

Siapakah di antara kami yg bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yg terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yg menghancurkan itu.

NASA memilih Christina McAuliffe .

Aku kalah.

Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.

Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.

Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku berpaling pada Ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman2 untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu,dan Aku menantang impianku untuk terakhir kali.

TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?

73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dlm penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku dibumi ini.

Aku memiliki misi lain dalam hidup.

Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.


Ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA yang KITA MINTA,

2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendptkan yang LEBIH BAIK,

3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendptkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak-NYA. 

Total Football

Saya sering mendengar istilah total football dalam permainan sepak bola. Sering dengar istilah dan menonton pertandingan sepak bola di televisi, hanya saja saya sebenarnya belum tahu definisi pasti dari total football.

Nah, akhirnya dari artikel di Koran Tempo, Minggu 11 Juli 2010, saya mendapat penjelasan tentang konsep ini dan mencoba mensarikan artikel di koran tersebut ke dalam tulisan singkat.

Konsep total football adalah dimana semua pemain bertahan harus menjadi penyerang, dan semua penyerang harus menjadi pemain bertahan. Bola dijalankan secara cepat, pemain berpindah-pindah posisi setiap saat. Pola 4-3-3 menjadi skema yang dipegang teguh.

Pemain yang menguasai bola selama mungkin melalui umpan satu-dua kali sentuhan antarpemain yang terus bergerak untuk membuka ruang pertahanan dan mempermainkan konsentrasi lawan.

Sebagian orang berpendapat bahwa asal total football ini adalah permainan tim Hungaria pada awal 1950-an. Tim asal Eropa Timur ini menjalani 32 pertandingan berturut-turut tanpa kalah. Ah,ya, saya jadi ingat cerita Papa saya tentang legenda sepakbola Hungaria bernama Puskas, yang punya tendangan geledek. Jari-jari kiper gawang lawan sampai patah akibat menahan laju tendangan pemain tersebut.

Dua legenda sepak bola Belanda, Rinus Michels dan Johan Cruyff, adalah orang yang punya peran penting dalam mematangkan konsep ini. Peletak dasar konsep ini adalah pelatih Ajax Amsterdam asal Inggris, Jack Reynolds pada awal abad ke-20, dengan murid terbaiknya adalah striker Rinus Michels. Setelah gantung sepatu dan menjadi pelatih Ajax Amsterdam pada 1960-an, Rinus Michels menyempurnakan konsep Reynolds.

Saat Rinus Michels menjadi pelatih, anak didik terbaiknya adalah Johan Cruyff yang mampu menerjemahkan konsep ini di lapangan hijau.

Namun sebagai pemain nasional, Cruyff tidak bisa membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya karena tim Belanda dikalahkan Jerman pada final 1974.

Lalu Cruyff menerjemahkan total football ke gaya permainan klub Ajax saat menjadi pelatih pada 1985-1988. Kemudian mantan striker ini membawa gaya ini saat melatih  FC Barcelona antara 1988-1996. Torehan prestasi saat Cruyff menjadi pelatih di klub asal Spanyol ini dengan menjadi manajer paling sukses dan terlama dan memenangkan 11 trofi.


Tuesday, July 20, 2010

Eclipse dan Saya






Ketika di bioskop sedang memutar Despicable Me atau Inception yang gres, saya justru baru punya waktu luang menonton Eclipse.

Ini merupakan film ketiga yang diangkat dari tetralogi novel karya Stephanie Meyers , yang terdiri dari : Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Down.

Pertama saya jelaskan bahwa saya sama sekali belum pernah membaca buku novel tersebut. Lalu saya pun tak pernah menonton film sejak dari Twilight maupun New Moon.

Menonton film Eclipse ini sekadar ingin tahu, seperti apa sih cerita yang dihebohkan itu. Lalu ketika saya menyaksikan film ini, yampun!!! maaf, saya mengantuk hingga tertidur di pojok dinding ruang bioskop bersama pashmina bagai selimut menghangatkan tubuh di ruangan yang berpendingin.

Yaa.. tapi memang inilah khayalan remaja abege. Bella Swan berwajah melankolis dan nyaris menunjukkan raut serupa selama berpuluh-puluh menit durasi film, diperebutkan oleh dua pria dengan keunikan masing-masing. Si Edward Cullen dari klan penghisap darah, versus Jacob yang merupakan keturunan serigala jadi-jadian.

Stephanie Meyers memang secara piawai memainkan konflik dalam cerita novelnya, dimulai dari kepindahan Bella ke kota kecil lalu berkenalan dan jatuh cinta kepada Edward nan pucat, berwajah misterius mengundang siapapun wanita normal ingin menaklukkan hatinya.  Lalu ketika ‘jadian’ dan menerima diri masing-masing apa adanya, muncullah konflik orang ketiga yaitu Jacob yang tak kalah ganteng plus doyan bertelanjang dada berperut bak papan cuci menonjolkan 6-packsnya.

Omygod! Kok rezeki Bella digandrungi pria ‘tidak normal’ ya? Untung di buku ketiga bunda Mayers tak menambah rumit jalinan asmara dengan menceritakan Bella yang bingung diantara dua pilihan pria remaja, tiba-tiba jatuh cinta dan memilih pria yang jauh lebih tua tapi ternyata Highlander, ksatria hidup abadi tak mati-mati.

Tokoh vampir/penghisap darah, werewolf/serigala jadi-jadian sudah menjadi pakem cerita horor klasik barat, hanya terjadi perbedaan saja dalam ramuan skenario. Misalkan jika di film Underworld diceritakan bahwa bangsawan vampir memang sengaja memelihara serigala jadi-jadian sebagai budaknya. Sedangkan di film Eclipse diceritakan bahwa serigala garis keturunan Jacob berasal dari bangsa Indian.

Kemudian muncullah Victoria menuntut balas akan kematian pacarnya, James yang mati dibunuh Edward. Victoria mengerahkan prajurit –para vampir baru- untuk mengejar Bella. Tujuannya, agar Edward merasakan sakitnya jika kekasih hati meninggal dunia.

Nilai plus dari cerita ini adalah Edward dan Bella mempertahankan keperawanan dan menanti ‘hal itu’ hingga resmi menikah. Sebuah cara sosialisasi yang bagus bagi remaja ketika bahaya kanker serviks, hamil tak siap, penyakit kelamin atau HIV/AIDS menjadi isu sentral di masa kini.

Lalu nilai apa lagi yang saya peroleh? Saya menyimpulkan yang mainstream atau tengah popular belum tentu cocok bagi diri ini. Sebagai Eno Siregar si penikmat (kegiatan nonton) film memang saya mengupdate diri dengan sebuah cerita yang tengah menjadi trending topics. Akan tetapi saya pribadi sudah membuktikan tak semua yang tren cocok bagi si Eno Siregar. 

Wednesday, July 07, 2010

Belajar dari Ibu Pekerja

Saya belum menikah. Masih individu bebas yang waktunya dihabiskan untuk diri sendiri.

Tapi seperti umumnya perusahaan, di kantor saya gawe ada wanita pekerja yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga, disebutkan sebagai Ibu Pekerja. Nah, yang aku perhatikan dari mereka adalah hampir sebagian besar dari mereka adalah orang yang fokus nine to five di kantor, jarang pulang malam kecuali ada hal-hal tertentu, beberapa dari mereka kedapatan melakukan percakapan telepon pribadi.

Percakapan telepon seputar pertanyaan apakah anak sudah sampai di rumah. Bagaimana kondisi si A, rumah, pelajaran lancar dsb.

Saya melihat mereka serius di kantor karena punya kehidupan lain menanti setelah bekerja, yaitu ngurusin keluarga dan rumah.

Saya hanya menarik ke dalam konteks diri, akibat me-time atau self-centric terlalu besar. Fokus hanya pada pekerjaan dan bersenang-senang.

Ketika pulang kantor masih melanjutkan pekerjaan di rumah. Yang  terjadi adalah, karena saya merasa waktu bekerja saya memang 18 jam lebih (potong 24 jam sehari dengan tidur sekitar 6 jam). Nah lho! baru setelah saya menulis ini saya sadar, waktu saya untuk pekerjaan sangat besar. Akan tetapi, kadang bawa pekerjaan di rumah karena kadang saya tidak fokus di kantor.

“Bisa lanjut di rumah kok,” kata saya membatin. Namun ini berarti saya membuang waktu yang seharusnya bisa untuk kegiatan lain.

Bekerja, have fun, bekerja, have fun, bekerja.

Si individualis perlu juga ingat keluarga. Ingat meluangkan waktu bersama orangtua dan saudara.


Keterangan :
Gambar : Mothers Love by Kolongi1 dikutip dari : http://bitsnbytesoflife.files.wordpress.com

Wednesday, June 23, 2010

Memelihara Mimpi Pendaki Gunung

Saya pernah membaca cerita tentang seorang pendaki yang ingin menaklukkan puncak Gunung Everest.
Dia mengatakan, “Suatu hari aku akan mencapai puncakmu.” Lalu sang pendaki tekun berlatih dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya keinginan itu terwujud pada beberapa tahun kemudian.

Namun arti cerita ini sebenarnya bukan tentang keberhasilan pendakian gunung. Makna cerita adalah Gunung Everest melambangkan tujuan akhir/target yang ingin dicapai. Dan pendaki adalah seseorang yang fokus mencapai puncak gunung sebagai tujuan akhir.

Puncak gunung itu tetap berdiri angkuh pada 8.850 meter jika dihitung dari atas permukaan laut (kecuali ada kejadian geologi mahadashyat mengubah morfologi bumi secara drastis).

Sementara sang pendaki adalah manusia yang hidup. Ia tekun mempersiapkan diri. Olah fisik, membuat daftar perbekalan dan mempelajari rute mana yang harus dilalui. Bahkan ketika memulai pendakian pun butuh waktu berhari-hari. Jika ditotalkan maka proyek pendakian itu memakan waktu bertahun-tahun.

Hidup adalah kumpulan kebiasaan. Pendaki membiasakan diri dengan persiapannya untuk mencapai si ‘atap dunia’. Ia sebenarnya bisa berpaling dan menikmati hidup yang ia jalani di tempatnya berada. Mengatakan bakal susah, tak mau beresiko kena hipotermia, dan daripada menghabiskan biaya besar. Tapi si pendaki tetap memelihara mimpi menginjakkan kaki di sana hingga ia berhasil merealisasikan mimpinya.

Saat ini saya bagai seorang pendaki yang ingin mencapai puncak Everest. Tapi di otak ini yang terpikir adalah susahnya mendaki, penuh batu-batu, bakal kehausan di tengah pendakian, nafas terengah-engah. Belum lagi cemooh orang lain bertanya mengapa si penderita asma mau mengejar gunung dan bukan menghirup udara segar pantai.

Akibatnya : saya tidak berani memulai. Sering menunda. Malas karena di dalam benak ini yang terpikirkan adalah betapa susahnya langkah yang harus kujalani. Padahal –ternyata- batu terbesar penghalang langkah adalah diri kita sendiri.

Padahal coba berpikir, “Fokus di tujuan akhir, dan nikmati prosesnya.”



*Thanks untuk sahabat-sahabatku yang memberiku semangat dan menjadi tempat curhat beberapa waktu lalu. Tulisan ini tertuang berkat motivasi dari kalian*

Monday, June 14, 2010

Visi


Usai mengedit suatu wawancara profil, saya teringat ucapan narasumber itu yang lebih kurang sebagai berikut, “Visi menurut saya adalah tujuan jangka panjang dan berkelanjutan, ….” kata dia.
Sering melakukan wawancara profil kepada berbagai narasumber, hampir pasti akan menanyakan apa visi dan misi dalam memajukan perusahaan, institusi/lembaga atau dalam posisi kapasitas yang beliau pimpin.

Sebuah perusahaan tidak bakal maju jika seorang pendiri perusahaan tak tahu juga apa yang ingin dicapai dari keberadaan perusahaan tersebut. Sebagai pribadi, saya atau siapapun kadang pernah dalam kondisi bingung. Entah mau menjadi apa seorang “Eno” (baca : nama kamu).

Alasannya macam-macam. Mungkin pernah tahu apa yang ingin dikejar, ketika yang diinginkan telah tercapai maka kamu hilang tujuan dan berada di zona nyaman.  Atau punya sejumlah resolusi diri yang diucapkan di momen-momen tertentu, seperti saat tahun baru, pertengahan tahun, ulang tahun, atau saat kamu menemukan pencerahan, tetapi kenapa mewujudkannya susah ya?
Saya seolah baru menyadari akan lebih gampang jika kamu menyarikan dulu dalam satu kalimat, kemudian draft resolusi adalah pengejawantahan dari Visi.

            Visi kamu sebagai individu bernama Eno adalah ……

             Dengan demikian, cara kamu mewujudkan Visi itu adalah…..

…..Hope this way could help me find the way….

Friday, June 11, 2010

This Time for Africa - World Cup 2010

Siapkan diri untuk menyaksikan Piala Dunia 2010, berlangsung antara 11 Juni-11 Juli 2010.
Ini pertandingan sepak bola antar negara yang pertama kali diselenggarakan di benua Afrika. Tepatnya di Afrika Selatan.

Nama bolanya lucu, Jabulani, didesain oleh Adidas.

Penyanyi lagu theme songnya Shakira yang suaranya dashyat, goyangnya yahud.....lha :p

Semua menyuarakan semangat...

This Time for Africa (Waka Waka)

Tsamina mina eh eh

Waka waka eh eh

Tsamina mina zangalewa

This time for Africa