Friday, November 02, 2012

Bekerja untuk Apa




Saya mampir ke blog sahabat dan *jleb* ..*jleb* http://langit-jingga.blogspot.com/2012/10/ad-maiorem-dei-gloriam_10.html  saat membaca isi tulisannya.

*Jleb* #1:
Ketika saya merasakan sendiri menjadi pekerja Jakarta yang harus bolak balik rumah-kantor PP dan ‘menikmati’ kemacetan di jalan. Jika saya naik taksi berarti bisa multitasking mulai dari hal hiburan semata seperti membaca Twitter dan meng-RT, chatting dengan rekan via bbm, membuat to-do-list hari ini, hingga membaca buku. Tapi lain halnya jika saya memanfaatkan moda angkutan lain misalkan menjadi penumpang ojek yang belakangan ini kurasakan efektif dalam memampatkan waktu di jalan.  

*Jleb* #2:
Hari Sabtu dan Minggu semakin terasa singkat sebagai hari libur. Padahal harus bersyukur karena adapula rekan-rekan kita yang tidak mengenal hari libur atau tanggalan merah dalam bekerja.

*Jleb* #3:
Mari bertanya pada diri sendiri tentang apa passion kita, yang membuat kita bekerja bukan hanya demi: label pekerja, gaji semata, serta memenuhi kuantitas absensi dan output hasil. Tapi seperti membuatmu bak jatuh cinta dari bangun pagi hingga istirahat malam hari.

*Jleb* #4:
Bekerja demi Tuhan. Ia yang menciptakan kita, lalu kita apresiasi dengan memanfaatkan talenta kita supaya bermanfaat bagi orang lain. Namun yang terjadi seringkali lupa ibadah dengan alasan sibuk menyelesaikan proyek. 

(Gambar dikutip dari: http://designmind.frogdesign.com/magazine/work---life/)

Wednesday, August 15, 2012

Renungan Ramadan


Aku mengambil wudhu, membentangkan sejadah dan melakukan ritual agama yang sering kulewatkan.

Selama ini aku mencerca Dia yang tidak pernah mengabulkan permintaanku. Ketika aku meminta dan kamu membalas dengan pembalikan harapanku.

Si ambisius. Si terencana yang yakin semua langkah bisa berhasil ketika direncanakan. Langkah pemutakhiran ada pada doa harap padaMu, yang Engkau jawab dengan tidak seperti harapan.

Namun seiring waktu kulalui, permintaan tak terkabul adalah jawaban Dia atas kehidupan terbaikku. Setiap cobaan mengasah ketegaranku, mengikis tabiat "harus dapat" serta meningkatkan pendewasaan pikiran dan batin.

Dan pada malam ini, aku berupaya sholat dengan bening. Tanpa pamrih dan keinginan meminta.

Hanya ingin memintal waktu bersama Dia, membisikkan ucap terima kasih atas kehidupanku selama ini yang penuh limpahan rezeki, berkat dan kasih sayang sesama.

Malam ini aku mengucap syukur. 

Toko Bangunan Mengalihkan Dunia Belanjaku...





Sejak setahun lalu saya akrab dengan toko bahan bangunan, dan keakraban ini mengalihkan dunia mall dari hidupku.

Di satu sisi, terima kasih kepada cara Mama-ku untuk membuat fokus hidup yang berbeda dengan sebelumnya. Mamaku gerah dengan aktivitasku yang sepertinya cuma seputar kerja kantor dari Senin hingga Jumat, dan “absen” di Pondok Indah Mall di akhir pekan.

Berbagai alasan saya pergi ke mall. Mulai dari membeli kebutuhan hingga keinginan. Termasuk sekadar makan siang atau belanja sekotak havermut daripada ngendon di kos. Ternyata Mama juga berpikir jika putrinya hanya sibuk hangout dengan teman berarti membuang uang hasil pencaharian yang padahal dikomentari sendiri oleh putrinya seperti banting tulang as literally.   

Dengan mengajak saya ke Panti Asuhan, Mama membuka mataku bahwa dua lembaran ratusan ribu bukan hanya pengisi dompet yang dalam waktu sebentar bisa berpindah ke kafe, tempat makan atau bioskop. Akan tetapi menjadi sekarung beras yang menjadi kebutuhan makan anak-anak panti asuhan. Sekaligus menerima bonus pandangan mata berbinar ucap terima kasih dari mata bak malaikat cilik.

Kemudian Mama juga mengubah sekaligus memberi warna baru dalam kehidupanku, sejak ‘memaksa’ saya membeli rumah pada akhir 2010.  

Sudah pasti memutuskan membeli rumah berdampak besar dibandingkan membeli sehelai baju. Beli rumah ternyata membawa konsekuensi lanjutan seperti perlu biaya pengurusan surat-surat di Notaris, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan renovasi.

Dua lembar uang ratusan ribu ternyata bisa membawa pulang keramik kamar mandi, dan menghasilkan kamar mandi bergaya black-white yang walaupun weard bagi Mama-ku, tapi membawa kenikmatan tersendiri di mata ini saat memandanginya. Atau ketika memilih warna lantai, ubin rumah, plesteran cat tembok terasa mengasyikkan ketika menyadari itu membuat nothing menjadi something bagai menikmati foto-foto di rubrik Interior majalah.  

Konsekuensi lain baru saya sadari ketika suatu hari ke department store sebuah plaza di tengah kota Jakarta. Mata saya sepertinya terbelalak menyaksikan cahaya lampu yang menghujam ke tas, sepatu dan areal kosmetik. Sepertinya semua barang di display toko terlihat “bersinar”.

Hahaha .. ternyata Neng Eno sudah lama tidak ke mall. Baru sadar bahwa saya belakangan ini lebih banyak ke toko bahan bangunan, mengendus pengap non-AC sambil mengamati pilihan keramik dan membedakan istilah Marmer Tulungagung versus Marmer Sulawesi.

Lalu mengenal istilah batako, bata, dak, kaso, dan mencoba memahami proses renovasi rumah satu langkah demi langkah berikutnya.

Membeli rumah memang perjuangan sangat... amat .... besar. Ada gaya hidup yang harus dikorbankan atau tepatnya diubah, dan fokus pada tujuan. Tapi seperti proses pembuatan bangunan yang bertahap dari dasar hingga atap, menjalani tahapan penuh perjuangan (terutama dari sisi keuangan) tersebut ternyata sangat menantang sekaligus menyenangkan. J

7 Langkah untuk Maju


Berani berubah merupakan kiat untuk maju, atau peningkatan karir khususnya. Berikut ini beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan diri:

1.       Lihat sekeliling kamu. Kemudian tanamkan keinginan untuk berubah : menjadi lebih baik dibandingkan mereka, lebih baik daripada sekarang!

2.       Perluas pengetahuan dan wawasan. Banyak mencari informasi melalui buku, koran, majalah, Internet, dan sebagainya. Atau ikuti kursus yang menunjang karir.

3.       Perluas pergaulan positif. Ikut organisasi profesi/sosial di lingkungan kita. Ikuti pula jika ada seminar/forum diskusi yang bermanfaat bagi pengembangan diri kita.

4.       Tentukan target hidup. Sebagai catatan: target tersebut tentu harus rasional dan asertif.

5.       Jangan ragu untuk menanyakan perubahan diri ini kepada rekan-rekan atau sanak saudara.

6.       Jauhi sifat-sifat yang tidak mendukung kemajuan kita.

7.       Lakukan perubahan penampilan atau ubah rute yang biasa kita lalui untuk pulang-pergi antara tempat bekerja dengan tempat tinggal. 

Friday, August 03, 2012

Jalan-Jalan Tugas ke Enrekang



Akhir Juli lalu, saya punya kesempatan menjejakkan kaki di Sulawesi Selatan (Sulsel). Ini bukan kesempatan pertama kali berada di provinsi di ujung selatan Pulau Sulawesi karena saya pernah ikut orangtua bertugas di ibukota provinsi, Makassar atau dulu dikenal dengan nama kota Ujung Pandang. Tapi apalah arti ingatan masa kecil?

Kesempatan lain hanya untuk transit di bandara internasional Sultan Hasanuddin juga untuk kemudian lanjut ke kota lain. Nah, sekitar jam 8.25 wita pada 24 Juli 2012 lalu, saya bersama pesawat dari Jakarta mendarat di bandara internasional yang terlihat lebih efisien dalam hal penataan ketimbang bandara Soekarno-Hatta ini.

Dari bandara internasional yang berada di kabupaten Maros ini saya bersama rekan-rekan menaiki kendaraan roda empat menuju Kabupaten Enrekang. Jarak tempuh dari bandara-kota Enrekang, ibukota kabupaten, sekitar 230 kilometer atau 5 jam perjalanan.

Sulawesi Selatan di peta memang berbentuk seperti jantung, dan Kabupaten Enrekang (Enrekang) berada di jantung jazirah dan merupakan pintu masuk ke Kabupaten Tana Toraja. Dalam arti, jika Anda ingin menuju daerah wisata Tana Toraja maka Anda harus melewati dulu Enrekang.

Ketika saya mendapat penugasan ke kabupaten Enrekang juga seperti “wish come true” karena sebelumnya saya menulis artikel dengan bahan wawancara dan bahan-bahan tertulis tentang Kabupaten Enrekang ini, saya sebagai si pencinta kopi langsung jatuh cinta dengan wilayah penghasil kopi arabika ini. Melihat foto-foto daerah melalui berselancar di Internet juga membuat saya membatin semoga bisa kesana. (baca: Pemerintah Kabupaten Enrekang - Potensi Daerah Seharum Kopi Arabika

Menyusuri jalan darat menuju Enrekang ternyata berbeda dengan kota di Jawa, karena sepanjang jalan menyaksikan pantai/laut dan sawah yang menunjukkan kontur topografi wilayah tersebut relatif datar. Adapun kabupaten yang kami harus lewati antara lain berturut-turut Maros, Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan), Barru, Parepare, Pinrang  dan Enrekang.

Tiba di Enrekang, saya malah teringat dengan kampung ayah saya di Tapanuli Selatan yang kaya perbukitan dan masyarakatnya mayoritas mengandalkan hidup dari pertanian. Enrekang berasal dari bahasa Bugis yang berarti daerah pegunungan, memang hampir 85 persen dari luas wilayah dikelilingi oleh gunung dan bukit yang membentang di kabupaten seluas 1.786,01 kilometer persegi.

Topografi terdiri dari pegunungan, perbukitan, diikuti lembah dan sungai dengan ketinggian antara 47-3.293 meter di atas permukaan laut, tanpa wilayah pantai, justru membuat saya menikmati keindahan alam yang mayoritas hijau. Selama di sana menjadi kesempatan saya menggunakan Canon G-12 milik pribadi mengasah minat fotografiku.

Wisata andalan di kabupaten yang juga dikenal dengan sebutan Massenrempulu (artinya: daerah pinggiran gunung atau menyusur gunung) adalah menikmati pemandangan  Buntu Kabobong di lereng gunung Bambapuang, berupa lereng gunung berada di sisi kanan jalan poros Tana Toraja dan disebut juga Gunung Nona karena menyerupai kelamin wanita *silahkan interpretasi sendiri dari gambar yang foto yang sempat dibuat saat saya berdiri dengan Buntu Kabobong dari kejauhan*

Adapula pemandian alam air terjun Lewaja, atau situs kuburan batu Tontonan yang berada pada tebing gunung batu.

Sayang, selama di sana saya tidak sempat menyesap Kopi Arabica typica asal Enrekang yang terkenal. Tapi jangan lupa mencicip dangke, makanan khas terbuat dari susu sapi atau susu kerbau sehingga citarasa seperti keju. Bisa menjadi olahan seperti tahu dan kini Pemkab mengembangkan kripik dangke yang rasanya manis gurih.

Selain itu liputan selama masa puasa Ramadan membuat suasana di wilayah yang mayoritas beragama Islam ini tidak maksimal. Misalkan aktivitas yang bergeser ke lebih sore, atau saat mengunjungi instansi seperti UPTD Balai Pengembangan Teknologi Tekstil, sentra penggilingan kopi dan Kebun Raya Enrekang ternyata sudah tutup karena jam kerja pegawai negeri sipil hanya sampai jam 14.00 wita selama bulan suci Ramadan. 



Tuesday, July 31, 2012

Cantik Menurut Kamu


Hasil survey yang dilakukan Dove menemukan bahwa mayoritas perempuan Indonesia tidak merasa cantik. Mereka justru lebih mudah menemukan kecantikan pada perempuan lain. Survey ini dilakukan pada 1.244 perempuan yang tersebar di 10 kota.

Personal Care Vice President PT Unilever Indonesia Tbk., Deby Sadrach mengatakan kebanyakan perempuan mengeluhkan masalah kulit dan rambut. (Komodifikasi – Kompas Minggu, 24 Juni 2012).
Survey ini ternyata berkaitan dengan produk pelembab badan yang dipromosikan oleh Dove. Namun yang saya tangkap, survey ini semakin membuktikan definisi “cantik” ini selalu berkonotasi tampilan fisik.

Di sisi lain survey juga membuktikan mayoritas perempuan memang senang membandingkan diri dengan perempuan lain. Sama seperti saya yang selalu merasa cukup manis tapi tidak cantik karena berat badan yang susah diturunkan.. *haish..* dan sering mengagumi badan perempuan lain yang jauh lebih langsing.

Dan saya juga membenarkan bahwa dalam kehidupan nyata, orang sering terpesona lebih dulu kepada tampilan fisik. Wajah rupawan, penampilan rapi, baru kemudian berlanjut pada obrolan yang mungkin bisa menunjukkan kualitas berpikir dan daya tangkap seseorang. Kadang pun orang ga peduli bahwa rekan diskusinya dongo atau ga nyambung dalam obrolan, karena raut muka sudah mempesona mata.

Berpikir positif dan hati yang baik memang bisa memberikan inner beauty. Dan percaya atau tidak, dari pengalaman pergaulan saya sekarang ini yang semakin luas, saya bisa mengatakan orang yang rajin beribadah, diikuti juga dengan hati yang tulus, akan membawa pancaran aura rupawan di wajahnya.

Tapi suka atau tidak, saya atau Anda bakal dinilai duluan dari sisi fisik. Terlahir cantik rupa atau ganteng seperti aktor laga Joe Taslim memang sudah suratan rezeki dari Yang Kuasa. Namun kita bisa terlihat menarik jika berpenampilan rapi, seperti baju yang terlihat kena setrikaan, penampilan mix n’ match, kulit bersih dan badan tidak memancarkan bau karena rajin mandi dan berganti baju. Cara lain untuk tampil cantik adalah dengan rajin merawat tubuh. Saya juga pernah bertemu seorang pengusaha besar di Batam yang lebih senang pegawainya bertubuh ramping, karena gemuk identik malas dan gerakannya lambat.

Usai menulis blog ini, membuat saya ingin mengambil sepatu olahraga dan melakukan lari-lari kecil di sekitar komplek rumahku.  *smile*


Tuesday, July 17, 2012

Tulis Ceritamu Rangkai Keinginanmu


 “Dear old diary, please forgive me that let you go same as memories diminish.” (Eno Siregar)

Dengan profesi saya kini sebagai penulis di media, masa kecilku tidak kulalui dengan rajin menulis diary.

Buku bersampul karakter Disney ini praktis sebagai awal mula saya rajin mengisi diary atau buku harian. Buku ini hadiah dari kakak tertua. Dimulai dari coretan iseng dari setiap tahun saya menuliskan pencapaian tahunan dan resolusi, lalu semakin rajin kuisi ketika mengalami kesendirian saat menjalani hari-hari diriku di perusahaan perminyakan Caltex Rumbai, dalam kaitan tugas akhir sekaligus ikut ambil bagian dalam proyek seorang ahli geologi asing di perusahaan tersebut.

Buku yang telah terisi penuh itu kemudian lama tersimpan di suatu sudut kamar dan ‘kutemukan dan kuselamatkan’ ketika rumahku di Bogor direnovasi. Itu terjadi tahun lalu. Dan baru di tengah malam hari ini saya membuka kembali lembaran-lembaran di dalamnya.

Lucu melihat tulisan tanganku –yang sampai sekarang tidak disebut indah oleh ayah, ibu dan kakak-kakak saya- dalam berbagai warna bolpen. Ada juga tempelan kliping gambar yang kuanggap bagus dan kliping berita yang isinya -saat itu- menarik.

Lalu aku semakin menyimak isi diary perdanaku. Ada kisah crush on heart di bangku sekolah, cerita “I think I like him (someone I met in Caltex)” sambil memikirkan yang di Jakarta, lalu lompatan cerita tentang sidang, kemudian konsisten kuisi saat mulai bekerja sebagai wartawan di harian Investor Daily.

Isi tulisanku ternyata semakin bervariasi. Entah faktor karena pekerjaanku sebagai wartawan media cetak yang notabene sebagian besar perlu menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk bahasa tertulis, atau karena memang saya semakin suka atas kegiatan menuliskan pengalaman pribadi dan isi pikiran ke dalam lembaran kertas.

Tulisan di dalam diary semakin berkembang: cerita pengalaman kerja, pikiran dan kejadian yang kualami, hingga kutipan kalimat semangat dan tips karir yg kucomot dari majalah atau surat kabar. Ada kejar target TOEFL, beasiswa dan sekolah. Impian mencicil rumah susun serta skema target “What I would to be in the short, middle, and long-term”. 
   
Tahun terakhir aku mengisi buku diary tsbt sekitar 2005. Selain tutup buku karena habisnya halaman kosong, saya jadi merasa unik karena buku pengganti diary bersampul empat karakter Disney itu diisi oleh kisah baru.  Pengalaman baru, kehidupan kerja baru dengan kekasih baru (yang akhirnya jadi mantan juga).

Aku juga terpesona, bahwa ketika aku melakukan kilas balik isi diary bersampul dasar putih itu: ternyata hampir sebagian besar keinginan-keinginan kutulis didalamnya terealisasi!

Aku jadi ingat dengan teori The Secret dalam bukunya yang pernah kuresensi dalam website ruang-resensi.blogspot.com. 
Ketika kita mengucapkan atau menuliskan keinginan, maka alam bawah sadar kita menuntun kita merealisasikan mimpi-mimpi tersebut. Dalam jangka waktu cepat atau lambat tergantung seberapa fokus kita pada niat tersebut. Dan tentu ada kuasa Yang Diatas untuk menentukan kapan saat tepat untuk memperolehnya.

Saya memutuskan akan menghancurkan buku itu. Detil kisah di dalam diary Disney ini tentu milik saya pribadi, biar selalu menjadi milik pribadi, yang seperti seperti halnya memori masa lalu bakal dikenang, atau memudar dalam ingatan.

Tapi saya menjadi percaya akan kekuatan mimpi. Kekuatan alam bawah sadar yang dimulai dari menggoreskan pena tentang keinginan kita (termasuk hal yang sepertinya tidak masuk akal karena kondisi kita saat itu), jadikan semacam kompas hidup dan biarkan waktu akan menjawab. 

Friday, May 25, 2012

Jailolo, Sakit dan Waktu yang Berlalu


Thanks God atas rezekiku untuk pergi ke Jailolo, ibukota Kabupaten Halmahera Barat antara Rabu 16-Sabtu 19 Mei 2012. Tujuan ke sana dalam rangka meliput Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2012.

Ketika tiba di pelabuhan Jailolo yang harus diseberangi dari Ternate, provinsi Maluku Utara, saya segera terpesona dengan keindahan teluk di bagian barat Pulau Halmahera ini. Dan tepat di depan mata, Gunung Jailolo seperti menyambut kehadiran pendatang di kabupaten yang baru dimekarkan sekitar 6 tahun lalu. 

Uniknya ketika puncak Gunung Jailolo tidak tertutup awan, maka tampak gunung yang menyerupai sebuah segitiga utuh seperti gambar gunung umumnya yang dibuat oleh anak sekolah taman kanak-kanak. 

Lalu Senin 21 Mei 2012. Sudah tengah hari dan saya sedang duduk di kursi memandangi layar monitor laptop dengan tulisanku yang setengah selesai. Padahal tulisan sudah kucicil ketik di perangkat tablet selama liputan di luar kota. Namun untuk menjadikan sebuah tulisan utuh, konsentrasi ini rasanya susah dikumpulkan.
Selesai mengetik, badan terasa sakit. Lemas. Pegal dan entahlah.. yang jelas saya tidur seperti orang jet lag. Apa penerbangan selama 4 jam (dengan PP berarti total 8 jam), naik speedboat Pelabuhan Ternate-Pelabuhan Jailolo total 2 jam bolak balik, dan mata menderita insomnia selama di luar kota, menyebabkan sakit?


Dan Selasa 22 Mei 2012 saya terbaring di ruang Instalasi Gawat Darurat RS Palang Merah (PMI) Bogor dalam kondisi maag akut, dan katanya, ditambah karena badan kecapaian.
Waktu tetap berlalu. Tapi berlalu dalam kondisi istirahat terasa berbeda dengan menghabiskan waktu dengan kesibukan.
Ketika sudah jatuh sakit, jadi ingat betapa alpanya dirinya ini menjaga gaya hidup. Dan ini telah yang kesekian kali. Diri ini malu juga pada diri sendiri.  Lalu sekali lagi pula saya mencoba berjanji untuk menjaga kesehatan.

Saya tidak mau menggurui juga bukan ikl, tapi menyarankan kepada teman-teman yang membaca tulisan blog ini, agar : makan teratur, hindari begadang, dan coba mengelola stress. Jika perlu karena kondisi fisik atau lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan, maka konsumsi suplemen penambah daya tahan tubuh atau vitamin C secara teratur.

Karena sehat fisik dan pikiran membuat kita lancar beraktivitas. Mengisi hari dengan manfaat positif sekaligus sebagai tanda mensyukuri anugerah Tuhan yang Maha Kuasa atas tubuh, jiwa, dan pikiran. 
Olahraga juga perlu. Siasati diantara waktu 24 jam kita yang berharga untuk berkarya dan beristirahat.
Ohya, salah satu penyebab insomnia karena ada pikiran. Saya memang sedang sibuk, stres, dan kini mencoba mengingat kembali ‘mantra’ Simba the Lion King: Hakuna Matata (no problem – there are no worries here)!


Sunday, May 13, 2012

Mensiasati “Cobaan” Zaman Digital


Era kemajuan Teknologi Informasi memang memudahkan hidup. Ambil contoh sebagai Penulis, saya bisa mendapatkan berbagai informasi dengan mudah. Tinggal koneksikan perangkat computer/laptop dengan koneksi Internet, maka pencarian bisa melalui Google, Wikipedia, media berita versi online dan sebagainya.
Bahan rilis atau cek layout bisa dikirim melalui e-mail, dan koreksi pun dalam versi soft-copy. Paperless, tanpa coretan bolpen atau tinta merah. Semua dalam visual.

Tapi berapa banyak waktu terbuang akibat konsentrasi terpecah? Distracted?

Bangun pagi, nyalakan BlackBerry lalu memeriksa fitur BlackBerry Messenger, SMS (Short Message Service), e-mail dan ternyata beberapa rekan milis semalam tadi mempostingkan artikel, kemudian masuk ke Twitter dan akhirnya tangan pun gatal untuk men-scroll linimasa. Mencek, mengomentari dan nge-RT Twitter membuat badan masih ‘lengket’ di kasur.

Bangkit dari tempat tidur, tangan gatal untuk menyalakan  televisi dan sarapan pun bisa menjadi ritual memakan waktu akibat mata lebih sering menatap layar kaca sementara sarapan pagi yang sederhana masih tak tersentuh di meja makan.

Demikian pula ketika bekerja di kantor. Kadang gangguan itu terjadi ketika menyimak e-mail dan website. Media sosial seperti Twitter dan Facebook membuat kita masih memiliki ikatan sosial dengan mantan teman masa kecil, masa kuliah, sahabat sehobi dan sebagainya. Tahu-tahu hal ini membuang waktu 1-2 jam. Lebih parah lagi jika niat semula cuma mencari informasi tambahan guna menyelesaikan tulisan yang belum rampung.

Akhirnya kemudahan yang kualami sebagai pekerja media zaman modern mengundang berbagai konsekuensi. Kadang ini menjadi semacam “cobaan” tetap fokus dan bekerja teliti sekaligus cepat.

Dari membaca tentang tips karir di suatu media digital, ada tips tentang cara meminimalkan gangguan konsentrasi yang disebabkan oleh kemajuan bidang komunikasi di era modern. Yaitu:

Jangan jawab telepon dan email langsung. Kecuali memang sangat diperlukan, Anda bisa mengabaikan setiap panggilan telepon yang masuk. Begitu juga dengan pesan instan di komputer atau ponsel. Anda tak perlu langsung menjawabnya. Anda bisa mengalihkan panggilan telepon ke kotak pesan suara (voicemail) dan Anda bisa membiarkan jendela chat sebentar. Lalu Anda bisa mematikan ponsel jika tidak perlu.

Hal yang sama juga berlaku untuk email. Anda tak perlu meninggalkan kotak masuk terus menerus terbuka. Anda bekerja dengan lebih efisien jika Anda memroses email dalam waktu tertentu saja daripada mencoba untuk menghadapinya seketika itu juga.

Solusi lain adalah menerapkan konsep: bekerja lebih awal/ lebih larut. Misalnya jika masuk kantor jam 07.00 pagi, kita memiliki waktu 1 -2 jam sebelum rekan-rekan kerja Anda berdatangan. Sebaliknya, jika terjaga hingga larut malam dan menulis esai Anda setelah anak-anak tertidur, Anda akan jauh lebih tenang dalam bekerja.

Tapi yang paling utama adalah: Niat. Niat utama adalah ingin bekerja cepat agar waktu yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Yuk, kuatkan niat....! 

Wednesday, May 02, 2012

Bekerja Adalah Ibadah


Pada suatu sesi kuliah Komunikasi Organisasi, membahas tentang Budaya dan Iklim Organisasi. Sampai pada sesi pertanyaan, apa tujuan Anda (peserta kuliah) bekerja. Kemudian terlontar jawaban seperti : memperoleh gaji, atau saya lebih melihat bekerja sebagai wujud eksistensi dan aktualisasi diri.
Silahkan jawab macam-macam, sesuai isi pikiran Anda…

Tapi yang mengena pada saya ketika Bapak Dosen mengatakan ada satu kalimat bijaksana yang sesuai dengan tujuan kita bekerja di usia produktif: BEKERJA ADALAH IBADAH.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , “ibadah” mengandung pengertian sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kuliah malam itu sangat cocok bagi orang-orang yang dalam kondisi demotivated dalam bekerja, atau memaknai kembali mengapa dia rela setiap hari bangun pagi, mandi, sarapan, bergegas menuju tempat beraktivitas. Kadang mengalami hari mendung dan di lain waktu mentari bersinar cerah menemani diri.
Jika bekerja adalah ibadah, berarti kita mampu bersyukur atas berkah Yang Kuasa dimana kita bisa memberikan kemampuan kita untuk kebaikan diri sendiri, bersama dan organisasi tempat kita bernaung. Alhamdullilah juga jika itu memberi berkah berkelanjutan bagi masyarakat, meskipun itu tidak berimbas secara langsung.

Untuk semangat bekerja, kita membutuhkan Motivasi, dan hal ini tercipta melalui dua cara:
  1. Motivasi berasal dari dalam diri sendiri.
  2. Motivasi diciptakan oleh orang lain. Karena konteks pembicaraan malam itu tentang budaya organisasi (perusahaan swasta, perusahaan negara, lembaga swadaya dsb), maka bisa jadi motivasi itu muncul karena lingkungan yang mendukung. Misalkan ada hadiah bagi pekerja yang berkinerja baik, penghargaan, atau pimpinan yang menciptakan iklim kondusif. Seorang pimpinan menentukan iklim lingkungan yang dia pimpin. Sehingga akan tergantung pimpinan yang berkuasas dan bagaimana anak buah merespon. Sehingga dalam suatu konsep organisasi dikenal faktor “X Efficiency” yaitu faktor X mengapa misalkan ada dua karyawan yang diterima dalam waktu sama di suatu perusahaan, namun tidak memiliki kondisi termotivasi yang sama.


Jadi, sudah bisa mendapat gambaran tentang bagaimana Anda mewujudkan rasa bekerja sebagai ibadah?
Izinkan saya mengutip kembali sebuah penggalan puisi yang diciptakan oleh Kahlil Gibran yang dulu sangat saya sukai untuk memotivasi saya berkarya.
Kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan apabila engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka akan lebih baik jika engkau meninggalkannya, dan mengambil tempat di depan gapura candi dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cinta …
(Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Jika tertarik mengetahui lebih lanjut tentang Budaya dan Iklim Organisasi dari sudut Ilmu Komunikasi, bisa membaca buku Organizational Communication 6th Edition oleh Gerald M. Goldhaber (Penerbit: McGrawHill) dan Komunikasi Organisasi – Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan oleh R. Wayne Pace & Don. F. Faules (edisi bahasa Indonesia, dengan editor Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung) sebagai rujukan. 

Saturday, April 21, 2012

Jabrix Kucingku Telah Mati


 Jabrix hadir dalam kehidupanku sejak Agustus 2010.
Dan mati Sabtu 14 April 2012. 
Kucing jantan ini sepanjang usianya memang sakit-sakitan. Mulai dari sakit mata (seperti belekan) yang diobati dengan salep Erlamycetin. Hilang sehari semalam dan ternyata jatuh ke got. Akibat terperosok tanpa bisa bangkit lagi, tidak makan seharian, mengakibatkan Jabrix terkena flu kucing yang membuat dia harus berobat ke drh. Dudung Abdullah, SM, SKH. Sejak itu pula dia menjadi pasien langganan beliau.
Terakhir, Desember tahun lalu Jabrix harus menjalani rawat inap selama hampir 3 minggu karena ginjal. Pasca penyembuhan tersebut, Jabrix sempat gemuk, besar, hingga aku memanggilnya, “Si kucing berbulu itu”. Hihihi.. Kucing Arab :p
Namun April kemarin, Tuhan YME telah memanggil Jabrix. Mungkin itu yang terbaik bagi Jabrix daripada melewati tahun-tahun dengan badan ringkih dan penuh pengobatan. Mungkin ini yang terbaik karena akhirnya Jabrix bisa berkumpul bersama induknya yang mati tertabrak sepeda motor. Awalnya kami sekeluarga memelihara Jabrix bersaudara karena induknya yang kucing liar melahirkan di pojok garasi rumah, dan suatu hari induk tersebut tidak pernah muncul dan 4 ekor anak kucing pun berjalan kesana-kemari mencari makan dan tempat berteduh. 
Sedangkan bagi diriku yang terakhir secara khusus memelihara kucing sekitar 25 tahun lalu, rasa kehilangan hewan kesayangan : sangat menyakitkan. Seperti halnya kehilangan sesuatu yang kita sayangi teramat sangat. Bedanya, ketika putus pacaran, saya simpan pedih di dalam hati, sementara ketika kucing yang meninggal, tangisan dan mata bengkak bebas saya tunjukkan di depan orangtua, kakak-kakak, keponakan, supir, pembantu rumah tangga yang membantu penguburan.
Saya sempat memasang foto Jabrix sebagai pic profile di BlackBerry Messenger dengan status “Jabrix kucingku: RIP” … Namun lama-kelamaan saya tidak kuat juga untuk setiap kali menangis melihat fotonya dan bercerita tentang kematiannya kepada teman-teman di list kontak-ku.
Seorang teman yang bukan penyayang hewan, meskipun dia berusaha memahami kesedihanku, tapi membuatku merasa seolah aku lebay….. tapi memang kenyataannya karena saya sayang dan dia salah satu motivasiku untuk bekerja cari duit (demi pengobatan dan perawatannya yang ekstra spesial).  
Kini tidak ada lagi kucing mengeong nyaring saat menyambutku datang dan melengos pergi saat saya menenteng tas besar tanda saya pulang ke Jakarta selama sepekan atau lebih. Sejauh ini saya tidak ingin punya kucing kesayangan, dan mengalihkan perhatian pada kucing-kucing lain yang kebetulan memang ada di rumah, selain si kakak tua jambul kuning yang sudah kumiliki dari kecil. 

Wednesday, April 18, 2012

Gadget Uzur atau Masalah Data

Akhir Maret, saya mengalami ‘kecelakaan’ fatal dunia modern. Yaitu terkait manusia bersama masalah laptop-nya. Salah membuang piranti lunak berakibat file-file di dalam laptop sebagian tidak bisa dibaca.
Dibawa ke toko komputer di Bogor, diinstal ulang sekaligus membuang virus-virus yang beberapa waktu belakangan membawa masalah menduplikasi file yang sedang kubuka.

Tapi ternyata tampilan baru, fitur Office yang tiba-tiba terasa asing, beberapa data yang hilang (meskipun saya sudah menyerahkan sebuah External HD kepada Mas bagian install, untuk menjadikannya tempat backup data dari semua file-file yang saya miliki, meski sepertinya tidak dia kerjakan, dan tetap saja ada yang hilang).

Hari-hari berikutnya  laptop yang kunamai BeetleBug  ini seperti kebalikan dari Tomcat. Jika kumbang Paederus fuscipes ini dikenal sebagai serangga  penjelajah dan aktif berjalan-jalan, bahkan wuzz wuzz bikin heboh dengan cairan berbisanya, dan kebalikannya si BeetleBug menjadi kumbang yang sekarat. Mati tidak, hidup juga kembang kempis.

Pernah pada suatu hari mengalami hang dengan kondisi batere masih melekat di badan laptop. Baru bisa lancar berjalan setelah copot batere. Hari berikutnya file-file terbuka dalam jeda waktu lama, atau pernah hang hingga restart.
    
Seorang teman mengatakan coba melakukan langkah defragmented. Dan pindahkan sebagian file-file yang jarang atau tidak terpakai ke dalam External HD. Dan hasilnya selama 30 menit saya masih duduk manis menunggu file-file dipindahkan ke External HD sambil menulis blog ini. *smile*

Menduplikasi 56.856 items atau 32,5GB ke dalam alat penyimpan data eksternal menimbulkan status "1 day remaining: rrrrrrr....  ^.^ ......  Atau memang usia laptop menjelang 3 tahun, merek Adv*n, Intel Core2 Duo, dengan kapasitas memori 1 GB DDR2 sudah memasuki uzur?

Dan tiba-tiba melihat BlackBerry ku pun sudah mengelupas, tombol huruf yang asik asoy untuk dipencet-pencet tapi kata orang di showroom BB sebagai tanda trackpad dan keypad sudah jleb..jleb.. secara verbal, bak patok-patok kayu masuk ke dalam lumpur. 

Sepertinya saya butuh waktu khusus membersihkan data-data di dalam gadget, menghindari tiba-tiba hilang, mengurangi memori, hingga tiba kesempatan saya membeli perangkat yang baru. *Doa*  


Tuesday, February 14, 2012

Whitney Houston dan The Greatest Love of All

Minggu pagi sambil sarapan di hotel tempat menginap di Medan, iseng saya mencek timeline (TL) Twitter.

Berita meninggalnya penyanyi Whitney Houston itu menebar di sepanjang layar gadget saya gerakkan atas maupun ke bawah. Benarkah? Meninggal di usia 48 tahun terhitung masih terlalu muda untuk menutup catatan kehidupan.

Penyanyi bersuara 5 oktaf ini ini sangat terkenal pada era 80-90an. Namun tragisnya berita-berita terakhir bukan tentang prestasi menyanyi atau main film. Justru sepurta masalah yang membelit mulai dari perceraian, ketergantungan obat bius, hingga bangkrut.

Oke, saya skip berpanjang lebar tentang berita kematiannya pada Sabtu 11 Februari lalu karena kita bisa membaca dan menonton melalui berita-berita di media cetak dan elektronik.

Saya bukan penggemar berat namun dalam catatan ingatan saya ada dua lagunya yang ternyata sebagai pembangkit motivasi diri ini.

Pertama kali menyimak lirik lagu “The Greatest Love of All” saat masih bocah cilik belajar bahasa Inggris. Saat itu saya penyendiri dan sebagai bungsu terbiasa semua ada. Ada supir antar jemput, ada pembantu mengurus kebutuhan, ada kucing teman bermain, tidak punya masalah dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Tetapi ketika pindah dari kota kecil ke ibukota, saya mengalami yang namanya ‘belajar berteman’ dan itu rasanya susah banget. Saya tidak mau menyapa bukan karena sombong, tetapi karena malu.

Soal pelajaran, ternyata persaingan kecerdasan sangat kompetitif di tempat baru. Lalu mulai menyadari bahwa wajah menarik adalah titik perhatian orang lain. Dan sebagai anak berwajah biasa-biasa membuat rasa rendah diri makin dalam.  

Lagu The Greatest Love of All sebenarnya lagu lawas. Dibuat oleh Michael Masser dan Linda Creed dan dinyanyikan pertama kali oleh Jane Olivor kemudian George Benson pada 1977.

Tapi lagu tersebut memang terkenal saat dinyanyikan oleh Whitney yang menurutku saat itu gayanya sangat serius. Dalam pikiran saya, “Kok penyanyi Amerika cara menyanyinya sama kayak saya atau teman-teman kalau menyanyi di kelas sih: berdiri tegak.” Karena menurut saya kalau penyanyi luar negeri misalkan kayak Madonna yang lincah dan dandanannya ramai.

Lagunya pun bukan bikin loncat menari. Namun ketika menyimak lirik lagunya sambil sesekali mencari padanan bahasa Indonesia di kamus pada kata yang tidak dimengerti, lagu dan lirik sangat menancap di hati saat mendengarnya.

Lirik lagunya silahkan cari sendiri dengan berselancar di internet, namun ada bagian yang paling saya sukai: I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows, If I fail if I succeed, At least I live as I believe, No matter what they take from me, They cant take away my dignity……(garis bawahi kata Dignity).

Lirik yang membangkitkan rasa percaya diri seorang anak yang menghadapi masa pubertas atau peralihan dari anak kecil menjadi remaja. Ingat bahwa kamu bukan bayang-bayang kakak-kakak, siapa ayah atau ibumu, dan intinya semua karena kamu harus usahakan. Mungkin lagu ini akan saya sarankan jika kelak saya memiliki anak.

Sedangkan lagu kedua penuh inspirasi berupa duet Whitney Houston dengan Mariah Carey, “When You Believe” … when you believe somehow you will, you will when you believe --- prinsip The Secret. Percaya dengan kemampuan dan mimpi-mimpi yang kamu buat, maka ada jalan terbuka untuk merealisasikannya.

Hingga saat ini televisi dan media online masih terus mengembangkan berita seputar akhir hidup Whitney Houston, seorang diva musik pop yang memang tragis dan ironis. Lagunya tidak memberi enlightenment bagi dirinya. Tapi tentu saja lagu dan suaranya tetap dikenang, bisa memberi inspirasi dan memberi jalan terang bagi orang lain. 

Wednesday, January 25, 2012

Setiap Kejadian Proses Kehidupan

Kita tidak bakal kenal Cassius Clay Junior jika dia tidak terkena musibah pada 1954.

Saat itu usianya baru 12 tahun, sepedanya digondol maling. Sambil menangis Cassius melaporkan sepedanya yang hilang kepada seorang polisi yang merangkap pelatih tinju, Joe Martin.

Joe Martin menyarankan si remaja asal Kentucky, AS, disarankan untuk berlatih supaya bisa memukul si maling. Akhirnya tinju menjadi jalan hidup remaja pria yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Ali. (diolah dari artikel Olahraga Koran Tempo, Sabtu 15 Januari 2012 “Tujuh Hari untuk Juara Tujuh Dekade”).

Cerita diatas memberi inspirasi bahwa setiap kejadian di dalam kehidupan memiliki arti. Cassius kecil karena kehilangan sepeda yang baru dibelikan orangtua, menjadi bertemu dengan  pelatih yang menuntun langkahnya ke kehidupan masa dewasa.  Meskipun ada kejadian negatif tetapi ada hikmah di ujungnya.

Masa-masa menderita mungkin kita lihat sebagai cobaan tiada akhir, dan ketika kita melaluinya, akhirnya kita bisa menoleh ke belakang dan menemukan itu sebagai rangkaian proses pendewasaan.

Saya bisa mengatakan ini karena beberapa tahun kemarin mengalami fase yang kusebut sebagai “badai” dalam kehidupan. Tentu pernah kupikir fase itu tiada akhir. Dan sekarang ternyata saya dan keluarga bisa lalui, dan menjadikannya pengalaman dalam kehidupan. Adapula perasaan menjadi lebih bijaksana dan pendewasaan berpikir.

Akhirnya saya bisa memaknai istilah “Gusti Allah Ora Sare” yang lebih kurang berarti
“Allah Tidak Tidur” .. dan merasakan pembenaran dari ucapan bahwa Tuhan tidak akan menguji umatNya melebih batas kemampuan dirinya.   

Friday, January 20, 2012

Menantang Diri Tetap Update Blog

Sejak hari pertama tahun baru 2012 hingga pertengahan Januari ini Saya belum mengupdate blog. 

Blog memang sesuatu yang fun. Dikerjakan dengan fun dan jika pada dasarnya blog berisi hal-hal remeh yang tercetus dari kehidupan harian, mungkin kesibukan sehari-hari sudah cukup menyita waktu tanpa sempat menceritakan kembali dalam rangkaian kalimat tertulis.

Mungkin pikiran dan tenaga dan pikiran sudah habis terserap dalam kegiatan sehari-hari. Sisa waktu digunakan untuk lepas dari depan laptop.

Atau bisa jadi tiada kisah atau hal-hal kecil yang mampu meletupkan inspirasi mencoret puisi. Kehilangan passion untuk nge-blog.

Lebih apes lagi jika mantan pacar adalah stalker yang memantau isi blog kamu.. *amit-amit ..ketok meja*

Godaan lain adalah situs micro-blogging seperti Twitter yang hanya membutuhkan 140 karakter lebih menarik, apalagi kemudahan tinggal me-RT postingan following kita. (baca tulisan  terkait: Riset Pew Internet Tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial).

Ada suatu masa hingga saya punya total lima blog di situs blogger:
  1. Ruang Resensi Bacaan dan Tontonan
  2. Life is too Short to be Sad
  3. Kumpulan Tulisan Eno
  4. Eno’s Journal of Travel
  5. Shelf of Myself

Mencoba menantang diri sendiri tetap mengupdate blog .. #365 hari