Wednesday, August 15, 2012

Toko Bangunan Mengalihkan Dunia Belanjaku...





Sejak setahun lalu saya akrab dengan toko bahan bangunan, dan keakraban ini mengalihkan dunia mall dari hidupku.

Di satu sisi, terima kasih kepada cara Mama-ku untuk membuat fokus hidup yang berbeda dengan sebelumnya. Mamaku gerah dengan aktivitasku yang sepertinya cuma seputar kerja kantor dari Senin hingga Jumat, dan “absen” di Pondok Indah Mall di akhir pekan.

Berbagai alasan saya pergi ke mall. Mulai dari membeli kebutuhan hingga keinginan. Termasuk sekadar makan siang atau belanja sekotak havermut daripada ngendon di kos. Ternyata Mama juga berpikir jika putrinya hanya sibuk hangout dengan teman berarti membuang uang hasil pencaharian yang padahal dikomentari sendiri oleh putrinya seperti banting tulang as literally.   

Dengan mengajak saya ke Panti Asuhan, Mama membuka mataku bahwa dua lembaran ratusan ribu bukan hanya pengisi dompet yang dalam waktu sebentar bisa berpindah ke kafe, tempat makan atau bioskop. Akan tetapi menjadi sekarung beras yang menjadi kebutuhan makan anak-anak panti asuhan. Sekaligus menerima bonus pandangan mata berbinar ucap terima kasih dari mata bak malaikat cilik.

Kemudian Mama juga mengubah sekaligus memberi warna baru dalam kehidupanku, sejak ‘memaksa’ saya membeli rumah pada akhir 2010.  

Sudah pasti memutuskan membeli rumah berdampak besar dibandingkan membeli sehelai baju. Beli rumah ternyata membawa konsekuensi lanjutan seperti perlu biaya pengurusan surat-surat di Notaris, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan renovasi.

Dua lembar uang ratusan ribu ternyata bisa membawa pulang keramik kamar mandi, dan menghasilkan kamar mandi bergaya black-white yang walaupun weard bagi Mama-ku, tapi membawa kenikmatan tersendiri di mata ini saat memandanginya. Atau ketika memilih warna lantai, ubin rumah, plesteran cat tembok terasa mengasyikkan ketika menyadari itu membuat nothing menjadi something bagai menikmati foto-foto di rubrik Interior majalah.  

Konsekuensi lain baru saya sadari ketika suatu hari ke department store sebuah plaza di tengah kota Jakarta. Mata saya sepertinya terbelalak menyaksikan cahaya lampu yang menghujam ke tas, sepatu dan areal kosmetik. Sepertinya semua barang di display toko terlihat “bersinar”.

Hahaha .. ternyata Neng Eno sudah lama tidak ke mall. Baru sadar bahwa saya belakangan ini lebih banyak ke toko bahan bangunan, mengendus pengap non-AC sambil mengamati pilihan keramik dan membedakan istilah Marmer Tulungagung versus Marmer Sulawesi.

Lalu mengenal istilah batako, bata, dak, kaso, dan mencoba memahami proses renovasi rumah satu langkah demi langkah berikutnya.

Membeli rumah memang perjuangan sangat... amat .... besar. Ada gaya hidup yang harus dikorbankan atau tepatnya diubah, dan fokus pada tujuan. Tapi seperti proses pembuatan bangunan yang bertahap dari dasar hingga atap, menjalani tahapan penuh perjuangan (terutama dari sisi keuangan) tersebut ternyata sangat menantang sekaligus menyenangkan. J

No comments: