Friday, July 25, 2008

(Friday.. I Love) This Day

How beautiful I start my day.
I’m look beautiful with my new hair.
Across the street with Barry White tune’s dancing in my head.


I’ve heard people say that
Too much of anything is not good for you, baby
Oh no

……
Can't get enough of your love babe
Oh, some things i can't get used to
No matter how I try
Just like the more you give, the more I want
And baby, that's no lie
Oh no, babe


Na..na..na.. I love this day.
Start a new day.

Berharap dalam Malam


Ketika malam memeluk
Hangat mendekap dalam peraduan
Berharap dalam mimpi kau dekap aku
Dan menghapus sesalku

Saat malam merambat
Ada setangkup rindu kusemat
Ku tak berani menyatakannya....

Kusemakin menggelung
Sesak menangkap udara
Ada bulir mata membasahi bantal



Jakarta, 23 Juli 2008
(Gambar dikutip dari www.yoganga.com)

Tajam Lidahmu Menyambar Kesombonganku (Izinkan Aku)

Izinkan aku
Berpeluk dalam dekap mu
Sekali lagi......

Izinkan aku
Menghapus bimbangmu
Membisikkan maaf

Agh!!!
Tajam lidahmu
menyambar kesombonganku
Pedas! Pedas! Pedas!


Jakarta, 23 Juli 2008

Berhenti Merokok

Kubakar tembakau
Sedot, kepul dan buang
Agh!
Ada bayangmu di sela asap
Leherku tersedak
Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Selalu ada kamu
di sudut euforia pribadiku

Puih! Ini saatnya berhenti menyulut api
Di bibir merah jambu
Ingat pesan kamu, tak mau ingat kamu
Ku buang rokok ke dalam keranjang sampah
Fotomu pun terbakar



Jakarta, 23 Juli 2008

Thursday, July 24, 2008

Lengkung Senyum Cantelan Rindu

Maaf sedikit melupakanmu
Ketika Ku tak mampu mengirim sandek untukmu
Ketika Ku tak kuasa menahan waktu
Untuk sejenak mengingatmu

Namun, percaya padaku
Aku hendak mengatakan,
"Di ujung lengkung senyummu, Ku kaitkan rinduku"



Dec 7, '07
Multiply 8:23 AM

Tuesday, July 22, 2008

Dari Bidadari Untuk Bintang

Wahai bintang di langit terang,
Mengapa kau dekap hujan membawa kelabu,
Tak tahukah kamu sang bidadari gundah karenanya?

”Ingin kusampaikan semburat cinta di ujung lengkung langit, untuk sang kejora,” kata bidadari.

Dan sembari menghela nafas, sang bidadari pun berbisik, ”Cinta membutuhkan ketulusan, pengorbanan, rasa percaya, dan cinta itu sendiri.”



21 Juli 2008 – dalam dekap langit di sudut jagad raya.

Sedih

Pagi ini, datang ke kantor (Selasa 22/7) dan lihat pengumuman.
Ternyata gw tidak lulus tes Business Conversation.
Yah, masih ada kesempatan lain.....

Thursday, July 17, 2008

Terbang

Nomormu, kuhapus ya?
Tak bakal ada tanya kabar
Tak bakal ada pesan pendek

Hanya ada peluk rindu via udara
dan kutahu...
itu bakal memudar bersama waktu



Posting BuMa, 28 Maret 2007

(Note : kutemukan coretan ini setelah bongkar2 arsip lama)

Wednesday, July 16, 2008

Perbaikan Kemampuan Diri

Hari sudah malam. Hampir jam 9 malam, dan mata ku pun berkunang-kunang memandangi selembar kertas yang penuh dengan gambar bulatan berderet rapi.

Ternyata hampir 2 jam saya konsentrasi dengan tes Bahasa Inggris sebagai bentuk placement test atau tes awal sebelum kursus, untuk mengetahui kemampuan kita dan disesuaikan dengan level kursus.

Uff! Tapi saya jadi bisa membayangkan kondisi diri jika mau kuliah sambil kerja. Yap! Dari awal terjun ke dunia kerja, saya berpikir suatu waktu harus ambil strata pendidikan S2. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan, peningkatan karir, atau memang kondisi eksternal seperti faktor lingkungan keluarga yang memang menempatkan pentingnya pendidikan. Dalam niat saya –pada waktu itu- saya mencari pengalaman dalam dunia kerja, lalu berhenti pada satu titik (masa) untuk kembali sekolah lagi. Inginnya sih sekolah di luar negeri.

Akan tetapi, ternyata keinginan ini tenggelam bersama kesibukan kerja. Gaji yang disisihkan untuk menabung pun selalu kembali ke titik nol disebabkan hal-hal lain.

Akhirnya, saya menjadi realistis : saya butuh pekerjaan, menikmati karir, dan tidak ingin melepas pekerjaan kantor. Jadi, keinginan berikutnya adalah kuliah sambil kerja. Profesi tidak kutinggalkan sementara niat menimba ilmu tetap jalan.

Sekolah atau pendidikan pascasarjana bukan di prioritas saya. Kesempatan pembelajaran bisa diperoleh dari mana saja. Pekerjaan sehari-hari, orang yang engkau temui dalam kehidupan, orang tua, bahkan anak kecil.

Pendidikan formal pun bisa diperkaya melalui kursus, seminar, diskusi bersama orang berkompeten. Dengan terbatasnya waktu luang karena kerja, tentu kesempatan kursus Bahasa Inggris yang dibiayai kantor, tidak ingin saya lewatkan.

Maka saya semalam pun ’terdampar’ di ruang meeting kantor. Bersama sekitar 30 rekan lain, kami relakan waktu pulang kantor untuk mengikuti tes reading, listening, dsb yang bikin pusing.

Pusing karena saya tanpa persiapan belajar sebelumnya. ”Lho, tapi ngapain belajar? Ambil kursus karena belum mahir. Ini kan baru tes penempatan untuk mengetahui semahir apa kamu dan pantasnya di Level mana?”

Pusing karena memang otak sudah terlalu jenuh untuk berpikir selewat 8 jam konsentrasi kerja.

Tapi rela pusing demi suatu perbaikan. Perbaikan kemampuan Bahasa Inggris ku.

Semoga hasilnya cukup bagus & saya rajin mengikuti kursus Business Conversation tsbt sampai tamat :)

Friday, July 11, 2008

Idealisme Bersama Sekotak Nasi

Dalam posting di milis/blog Mas Rio dari Trans TV membuat saya tertarik mengomentari. Ia menuliskan (saya singkat saja) pada rapat program Reportase Sore, Rabu (25/6/08) memberi teguran keras kepada reporternyaTrans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.

Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.

Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.

Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.

Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”


Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.

Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.

Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.

Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.

Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.

Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”

Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.

Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.

Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.

Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.

Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.

Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."

Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?

Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....

Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).

Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.

Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.

Thursday, July 10, 2008

OCD.... Obsesif...

Oprah Show merupakan tayangan televisi yang tak ingin saya lewatkan. Makanya, saya berusaha untuk memasang kanal TV di saluran tersebut setiap jam 10.00 wib di kantor. Apalagi pada jam tsbt biasanya ruangan kantor juga masih sepi. Walaupun teman-teman sudah ada di ruangan, mereka juga tidak terlalu peduli apa acara yang sedang ditayangkan di TV. Semua pada berkonsentrasi pada monitor komputer masing-masing dan suara dari kotak kaca itu cuma menjadi ”alunan merdu” teman bekerja.

Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.

Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.

Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”

Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.

Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.

Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).

Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.

Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.

Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!

Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.

Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.

Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.

Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.

Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)

Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?

Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.

Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.

(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)

Sunday, July 06, 2008

Ketika Cinta


Aku suka ekspresi manjamu
Ketika kerlingmu menyiratkan rasa


(Foto : Rama & Sinta, karya pengukir kayu di Intercontinental –Bali. Foto by Eno – Feb’08).

Hanya Dalam Satu Batas Waktu


Ada janji diucapkan saat kita bertemu
Kamu mencumbu sembari bilang hatimu untuk aku
Sementara aku berjanji kita setia selamanya
Hingga waktu melapukkan cinta kita
Dan aku mengatakan, ”Beruntung Aku pernah memilikimu”
Terima kasih untuk rengkuh kecupmu
Hapus bayangku dari benakmu ketika bertemu untuk berpisah


(Gambar dikutip dari www.housetohome.co.uk)

Tuesday, July 01, 2008

Nenek dan Kayu

Tubuh renta mengusung kayu
Asam garam terukir di gurat wajahmu
Seolah sama dengan urat umur yang tergores di pepohonan
Mau kemana kau bawa kayu itu, Mbah?
Mengutip persenan dari sampah kerat sisa ukiran
Atau kau jadikan energi terbarukan dalam kapasitas otakmu?


(Energi terbarukan =kayu bakar)

Jepara, 28 Juni 2008

Belanja di Jepara

Setelah tugas di Pati selesai, saya sempatkan melanglang ke Jepara. Kebetulan jam berangkat Kereta Api (KA) jam 21.00 WIB dari Semarang. Maka jam 14.00 WIB mobil pun melaju dari Pati, menuju Jepara, menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam perjalanan akhirnya sekitar jam 15.30 WIB kami sampai di pintu masuk Jepara.

Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan kerajinan ukir kayu. Dan ternyata, selama 4 jam belanja-belanja di wilayah berjuluk ”Jepara Bumi Kartini” (karena tempat kelahiran RA. Kartini), kesimpulan saya : daerah yang cukup resik dengan jalan raya beraspal yang rapi, memiliki andalan desa-desa yang menjadi sentra kerajinan rakyat seperti : Sentra Konveksi Kalinyamatan, Sentra Tenun Ikat Troso, dan Sentra Meubel Ukir Tahunan. Semua sentra itu kelihatan jelas dari pinggir jalan raya karena adanya plang besar di depan pintu masuk desa sentra.

Tempat pertama kami singgahi Desa Troso sebagai kawasan Sentra Tenun Ikat. Patokan mencapai daerah itu adalah dekat Pasar Pecangaan. Khas kain adalah bahan dasar yang berasal dari kain rayon/katun yang ditenun dan diikat. Pelayan di salah satu toko yang kami sambangi mengatakan, untuk menghasilkan kain 2,25 x 1,16 meter (m) bisa mencapai 10 potong per hari. Kebetulan tempat memproduksi berada di belakang toko.

Ciri lain adalah potongan kain yang tidak rata (tidak seperti umumnya kain pabrikan). Mereka menjual kain panjang untuk taplak meja, jenis kain bercorak lukis, katun panjang untuk ikat leher, dan jumputan.

Setelah mabok pilih-pilih –maklum, saya memang penggemar kerajinan kain tradisional- akhirnya saya memilih kain syal panjang yang bisa membalut leher yang sedang didera radang tenggorokan dan sepotong kain lebar 2,25 x 1,16 meter yang bisa digunakan sebagai selimut di KA. (foto : kain lebar yang kusuka).

Ohya, saya juga membeli Palang Panjang dari kayu berfungsi sebagai penyangga kain tradisional yang hendak dipajang di dinding. Maksudnya sih, buat oleh-oleh untuk nyokap yang punya berbagai kain songket. (hehe.. ketauan kan hobi berburu kain ini turunan dari siapa?).

Setelah agak lama berburu kain, kami melanjutkan perjalanan ke Sentra Meubel Ukir Tahunan, yang memang berseberangan tempat dengan Pasar Tahunan. Yah kalau di tempat ini barang-barang juga menarik mata. Akan tetapi, sebagai orang yang belum punya rumah (alias masih tinggal bersama orangtua), maka saya tidak terlalu semangat dengan produk yang ditawarkan : kursi Thailand (istilah untuk kursi bale-bale), kursi berbentuk gendang yang cukup unik, hingga set kaca rias bersama mejanya.

Adapula ”benda-benda kecil” seperti tempat meletakkan Al Qu’ran, kotak tisu, congklak, rak penyimpan koran, dan kotak perhiasan.

Kelebihan dari produk, mereka cukup mengikuti tren desain furnitur/interior masa kini dipadu dengan permainan warna yang menarik mata. Maklum saja, kerajinan ukir Jepara sudah tersohor hingga diekspor. Dan akhirnya, saya juga membeli beberapa item dari tempat ini.

(jika ingin melihat foto-foto lebih banyak, silahkan berkunjung ke Multiply saya. Atau klik judul di atas).

Jkt-Semarang-Pati (Dream Come True)

Kamis siang, 26-6-2008.
“Eno, kamu mau liputan 3 hari ke Pati?” tanya Mas Dian, senior penulis di kantor.
“Hah?” saya berpikir tentang batuk-batuk yang menjajah tenggorokan. Berpikir tentang akhir pekan yang bakal kulewatkan dengan makan vitamin, minum obat batuk, tidur.... dan tidur.

Tapi.. tapi.. ke Pati dan naik kereta api?!

Hehe.. itu sih Dream Come True. Aku pertama kali ke Pati, sebuah wilayah karesidenan di Jawa Tengah sekitar tahun 1997. Jalan darat bersama teman kuliah untuk melakukan pemetaan, sebagai bagian dari skripsi, di wilayah Grobogan. Kami berbekal peta menelusuri jalur Pantura dan melewati Pati. Dalam ingatan saya, Pati terkenal sebagai pusat 2 pabrik cemilan berbasis kacang terbesar di Indonesia, Kacang Garuda dan Kacang Cap Dua Kelinci. Kotanya relatif bersih sekaligus panas. Meski berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani”, seolah menunjukkan sebagai daerah sentra pertanian (di tengah kota kamu bakal menemukan patung Pak Tani dengan tubuh kekarnya yang menjinjing kacang-kacangan, seolah menegaskan ’inilah jantung kehidupan Pati’) akan tetapi kabupaten ini sekaligus berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Nah, salah satu yang terkenal adalah Terasi Juwana.

Di sana pertama kalinya saya makan Nasi Gandul di suatu warteg yang dekat dengan stadion olahraga. Nasi berkuah santan dimakan bersama jeroan yang kita pilih-pilih dulu, seperti lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, termasuk juga tempe dan perkedel. Lalu jeroan itu ibu penjualnya gunting-gunting (benar lho, jeroan dicacah dengan gunting. Bukan pisau seperti umumnya dalam pengolahan masakan). Nasi khas Pati itu dihidangkan di alas daun pisang.

Wah! Rasanya eunak banget!! (Mungkin juga faktor kelaparan hehe..). Dari rasanya ada kuah santan trus dicampur kecap manis-pedas.

Berbeda dengan nasi liwet ala Solo, atau nasi Gudeg ala Yogya, ataupun nasi timbel ala Sundaan, yang mudah ditemui di Jakarta, maka nasi Gandul khas Pati ini jarang ditemukan di ibukota.

Selain itu, belakangan ini saya kangen berwisata kere ala zaman kuliah. Menjadi backpacker menyandang ransel, naik bis menyusuri kota Semarang atau ke Solo (daerah yang memang relatif asyik untuk dijelajahi, kebetulan banyak saudara di sana sehingga ada perasaan sebagai kampung ke-2).

Intinya, saya tidak ingat lagi menuliskan secara detil diskusi saya bersama Mas Dian. Yang jelas, akhirnya Jumat sore saya sudah berada di dalam KA Sembrani tujuan Jakarta-Surabaya, untuk pergi ke Semarang. Berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.45 WIB, saya pertama kalinya pula menikmati perjalanan KA yang lebih jauh dari Jakarta-Bogor ala KA Pakuan.

Tentengan saya? Carill merah jambu berukuran 3 liter (tas ransel merek Explorer yang masih awet dari zaman kuliah dan mempertahankan ciri feminin saya melalui pilihan warna pink-nya), berisi beberapa potong baju yang dikemas di dalam plastik trash bag (ingat : supaya tidak basah jika tertembus air ataupun ’kecelakaan’ lain yang terjadi dalam penyimpanan barang), serta berbagai pernak-pernik liputan. Pokoknya harus pakai carill pinky tersebut!

KA Sembrani ini ber-AC, kebetulan pula saya duduk di baris paling depan dalam Gerbong 5 (nomor kursi di deret ke-13 dan ternyata PT KAI termasuk yang tidak percaya takhyul misalkan menggantinya dengan angka 12A atau langsung lompat ke angka bangku 14).

Setiap kursi dilengkapi bantal, kita juga memperoleh makanan dan pinjaman selimut dari petugas. Cuma.... silahkan terkaget selimut itu ditarik sama petugas sambil berteriak ”Semarang.....Semarang....” (maksudnya sudah hampir sampai ke Semarang dan penumpang silahkan bersiap-siap).

Hehe.. cara yang jitu untuk membangunkan penumpang yang tengah terlelap pukul 01.00 pagi! Btw, sebelum sampai di Stasiun Tawang-Semarang, KA akan berhenti dulu di Stasiun Poncol. Ohya, seperti dikutip dari Wikipedia, Stasiun Poncol itu terletak di Jalan Poncol Semarang, khusus untuk kereta ekonomi dan angkutan barang. Ada sekitar 10 menit KA berhenti distasiun tsbt, sampai akhirnya saya pun menjejak di Stasiun Tawang pada pukul 2.30 WIB.

Dari stasiun, sudah menunggu pihak dari Departemen Sosial yang menjemput kami dan langsung menuju Pati. Melewati Demak dan Kudus, serta jalan yang pada beberapa bagian sedang mengalami peningkatan kondisi jalan, akhirnya sampailah kami ke kota berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani” pada pukul 04.00 pagi.

Catatan lain : jika ingin naik kereta api di malam hari, jangan lupa bawa topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat. Untuk rekan-rekan yang sulit tidur (seperti saya) mungkin perlu pula menelan Antimo. Ssst.. obat anti mabuk itu punya fungsi sebagai pelelap tidur lho! Tapi jangan sering-sering makan obat ini sebagai pengganti obat tidur ya! Saya sangat tidak menyarankan....!! :D

Ohya, amankan juga barang-barang berharga kamu. Masukkan semua barang berharga (seperti dompet, kamera, handphone, bahkan laptop) di dalam satu tas yang kamu kepit selama perjalanan. Karena meski gerbong eksekutif, rekan saya mengalami kecopetan kamera digital SLR yang diselipkan di laci kursi di depannya. Bahkan, si pencuri punya waktu untuk mengganti isi tas kamera dengan aqua gelas! Dan berdasarkan cerita porter kami, ada pula orang yang kehilangan laptop. Tas notebook yang disimpan di bagasi atas kursi, tetap di tempat. Akan tetapi, isinya diganti dengan koran-koran!

Ohya, sebagai catatan mungkin berguna bagi teman-teman yang mau mencoba naik KA. Dari Semarang, saya pulang naik KA Kamandanu kelas eksekutif (walaupun tidak menjamin keamanan, karena rekan saya kehilangan kameranya justru di sana). Kami naik kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI tujuan Semarang-Jakarta (PP) ini jam 21.00 WIB. Dalam lembaran tiket tertera jam tiba di Jakarta kurang lebih 3.00 dinihari. Namun ternyata, KA sampai di Gambir pada jam 7.00 WIB. Yah! Kebanyakan berhenti-berhenti untuk menunggu kereta dari jalur lain lewat.

Barang layak bawa :
- Topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat.
- Tas kemas yang kita peluk selama perjalanan untuk menyimpan barang penting
- Botol aqua (meski dapat minum juga dari pihak KAI, tapi air mineral ini berguna juga untuk urusan ke toilet), tisu basah, tisu saku, dan obat kumur-kumur (sebagai pengganti acara sikat gigi bersama pasta gigi).
- Obat-obatan
- Buku bacaan sebagai teman perjalanan (meski jika tidak beruntung kita mendapat kursi yang lampunya mati).

PS : bagaimana rencana makan Nasi Gandul? Terealisasi meski bukan di tempat yang sama, dan dengan rasa yang tidak senikmat pertama kali.