Saturday, December 31, 2005

Bahagia Adalah Pilihan Hidup

Perasaan baru beberapa minggu lalu saya mengalami episode haru biru dalam kehidupan cinta. Kini, beberapa minggu ini saya memperoleh SMS berisikan kalimat “selamat pagi” di kala mentari terbit, dan “selamat malam, may have sweetest dream” di saat saya beranjak tidur.

Sukakah saya?

Tidak.

Tiba-tiba ada yang menyebut saya : dear, habibi, the sweetest one….

Sukakah saya?

Tidak.

Oke. Silahkan katakan saya tidak puas. Silahkan bertanya, “Maunya yang kayak apa sih?”

Tetapi saya tidak suka ditelepon ketika saya sakit. Karena saya sudah mengatakan saya barusan minum obat dan ingin beristirahat.

Saya merasa terganggu karena saya sudah mengatakan saya sibuk.

Saya tidak butuh lagi kata-kata membuai. Rayuan gombal. Saya lebih butuh sharing, saling berdiskusi dan berpendapat. Menceritakan keinginan pribadi, atau kehidupan sehari-hari yang kita alami dalam mengisi 24 jam kehidupan yang diberikan oleh-Nya. (Dimana setiap malam kuucapkan terima kasih kepada-Nya dan berharap Ia masih memberikan lagi 24 jam kehidupan kepada kita di hari esok).

Bahagia adalah pilihan hidup. Pilihan kita sendiri. Kita ciptakan sendiri. Dan… saya tidak merasa harus menunggu ada seseorang untuk membangkitkan rasa bahagia itu.

Thursday, December 08, 2005

A-HA

Sometimes world is the fast line!

A-HA merupakan grup band favorit saya. Disamping ‘menjejali’ kuping dengan lagu-lagu dari Duran-Duran, Alphaville, dan Spandau Ballet semasa tahun 80-an.

Grup musik asal Norwegia ini dibentuk tahun 1982. Anggotanya hanya tiga orang saja, Morten Harket (lead vocals), Pål 'Paul' Waaktaar-Savoy (gitar) dan Magne 'Mags' Furuholmen (keyboard, piano).

Tiga tahun kemudian, keluar album pertama mereka : “Hunting High and Low” (1985), dan berturut-turut selanjutnya "Scoundrel Days" (1986), "Stay On This Roads" (1988), “East Of The Sun, West Of The Moon" (1990), "Memorial Beach" (1993), “Minor Earth Major Sky" (2000), "Lifelines" (2002) dan "Analogue" (2005).

Sudah 20 tahun berlalu. Tentu saja si mata tajam Morten Harket yang kelahiran tahun 1959 sudah bukan lagi pria muda berambut jambul. Atau Pal yang imut-imut kini bergurat kerut di wajahnya. Mags? Duh, dulu tidak gua ‘lirik’.

Oke. Kembali ke maksud semula aku ingin menceritakan A-HA. “Hunting High and Low” (HH&L) adalah album pertama yang langsung meledak dan membuat mereka mendunia. Sometimes world is the fast line!

Salah satu lagunya, 'Take on Me' direkam dan diedarkan di bulan September 1985 memakan video klip setengah animasi berbiaya $(US)100.000 (dan memenangkan penghargaan). Dan, lagu ini menjadi nomor 1 di 9 negara, termasuk Amerika Serikat. Ada peraturan tidak tertulis industri musik bahwa grup asal Eropa ‘belum menaklukkan dunia’ bila belum menembus pasar Paman Sam.

Albumnya sendiri terjual hampir 8 juta copy. Masih ada tiga lagu lain dari album yang sama yang sukses di tangga 20 lagu teratas di seluruh dunia, yaitu 'The Sun Always Shines on T.V', 'Hunting High and Low' dan 'Train of Thought’.

Album HH&L adalah salah satu album yang menurut saya termasuk ‘tidak tergerus zaman.’ Everlasting dan tetap enak didengar. Hampir semua lagu di dalam album itu. Suara Morten dalam artikulasi British yang jelas, suara tinggi dan khas, disamping beat yang memang A-HA banget, sampai sekarang bikin saya melayang-layang.

Ada satu lagu yang sampai sekarang saya sukai dengan lirik yang touchy :

"And You Tell Me"

Please don't hurt me
I have told you
All my love is all I've got
And tomorrow is the day
When I for your sake
I'm coming back

And you tell me
That I don't love you

I'm trying hard to make you jealous
Trying harder to make you stay
Days are longer
Night are crazy
It's so strange when you're away

And you tell me
That I don't love you

Because I love you
I’ll show you
All the faces my love can have
So please
Let me come to you
And stay this time

And you tell me
That I don't love you
Oh you know
That it's just not true


Sampai saat ini saya masih menyimpan kasetnya. Masih mendengarkan lagunya seperti saat ini (ketika saya menulis artikel ini). Akan tetapi, kualitas suaranya memang sudah tidak jernih. Mungkin kaset saya ini sudah termakan zaman dan terlalu sering diputar, di fast forward & rewind :-)

Saya memang ada niat untuk mengumpulkan CD penyanyi/grup band yang menurut saya layak simpan sebagai collectible items. Mengenai daftar CD yang ingin saya kumpulkan mungkin bisa saya tulis lain waktu di blog ini.

Nah, ada yang bisa bantu saya untuk mencari CD “Hunting High and Low” ?

Tuesday, December 06, 2005

Bagaimana Menemukan Kebahagiaan?

(Tulisan ini kiriman teman. Saya tidak tahu dia mengutipnya dari mana. Tapi yang jelas, menurutku menarik sebagai perenungan.)

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu, Tuhan berkata, "Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih".

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, "Letakan dipuncak gunung yang tinggi". Tetapi para malaikat yang lain kurang
setuju. Lalu malaikat kedua berkata, "Latakkan di dasar samudera". Usul itupun kurang disepakati.

Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari,tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?

Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di
lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang
menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll.

Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan. Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan.

Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat
yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?
DI HATI YANG BERSIH...

Sunday, December 04, 2005

Perenungan

Pernah mendengar kalimat kurang lebih seperti ini, “Yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Tuhan” ?

Saya termasuk yang pernah. Dan, sejujurnya, sampai saat ini masih susah untuk menerimanya. Walaupun dalam pengalaman hidup (ku) sepertinya memang mengabsolutkan pernyataan tersebut.

Merasa bahwa Dia “bercanda” dengan kehidupanku. Dan itu sering. Sepertinya apa yang kumau, tidak diridhoi. Langkah-langkah yang kurasa telah kupikirkan matang, ternyata tidak tuntas. Lebih sering gagal tidak sesuai kemauan.

Seperti hal terakhir ini. Temanku mengatakan saya kurang meng-Amini.
Ah, temanku itu memang sering menggunakan kalimat tersirat.

Apa salahnya kalau saya keukeuh? Memang saya suka ngotot. Kalau ingin sesuatu, dikejar! Tidak peduli saran dan pendapat orang bahwa tidak cocok, saya tetap konstan dengan ide, “Gua mau! Gua kudu dapat!” Bahkan meski logika pernah mengirimkan pikiran bahwa ‘itu tidak pantas’.

“Saya mau yang itu!”
Seperti anak kecil ingin pedang-pedangan yang ada di rak teratas toko mainan. Meski penjaga toko mengatakan mainan itu tidak pantas untuk anak manis seperti saya. Meski menurut Mama boneka beruang lebih menarik. Meski terlarang tapi saya akan panjat. Ada kepuasan tersendiri jika mendapat apa keinginan kita. Bukan begitu teman?

Temanku berkata kurang meng-Amini dalam arti aku tidak bersyukur dengan yang ada. Yang sudah ada, masih kurang. Kalau ada kesulitan, aku segera marah. Ohh, …apakah itu berarti aku kurang menerima?

Temanku berkata, Tuhan baik kepadaku. Berarti Ia bukan yang terbaik buatku. Berarti Ia tidak ingin aku terluka karena dia memang hadir hanya untuk menyakitiku.

Saya mulai menangis. Saya bukan anak yang cengeng. Tapi emosional. Kesedihan membuat airmataku mengalir, kematian membuat mataku berkaca-kaca, luapan kemarahan juga membuat bendungan di pelupuk mata jebol. Bila marah, saya lebih baik membalikkan badan dan pergi, ketimbang orang melihat lelehan bening mulai mengalir dari sudut indera penglihatanku ini.

"Saya mau."

"Kenapa?"

"Ya....karena saya suka."

Temanku kembali mengeluarkan sejumlah kata-kata tersirat.

Teman saya mengatakan bahwa diriku harus bisa. Saya berkata, “Ya! Saya mencoba untuk meresapi bahwa yang baik menurut.....”

“Menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Tuhan,” tukas temanku menyambung omonganku. Sambil menatapku tajam. Saya suka jengah dengan tatapannya. Sepertinya ia mampu menelanjangi diriku dengan bola matanya. Memang iya. Itu sebenarnya. Ia mampu menjabarkan keresahan hatiku meski aku susah menguraikannya karena benteng ego menahanku untuk mengakui. Tapi saya seperti addict untuk curhat dengannya.

“Sebelum torehan perasaan terlalu dalam, sebelum melangkah terlalu jauh, sebelum bibit disemai, lebih baik kita hentikan. Rela. Ini pembelajaran dalam hidup. “

Lintasan obrolan itu sudah terjadi dua minggu lalu. Dan, hari ini otak saya penuh dengan lintasan kata-kata yang terlontar saat itu. Berupaya mengingat dan mencerna kembali.

Bendungan ini kembali jebol. Lelehan bening mulai mengalir dari sudut mata. Segera saya beranjak mengambil sejadah, mukena dan berwudhu. Ah....ketika saya gundah, saya teringat denganNYA.

I have learnt my lesson well
But my soul still dwelling in nowhere
Don’t look back and never regret
There will be the day
Someday....

Dermaga

Aku si perahu kecil
Merindukan dermaga
Diriku sarat muatan bernama harapan, ambisi dan mimpi
Perahu saya sudah berkarat luka dan pengalaman

Aku si perahu kecil
Butuh dermaga
Tempat bersandar, beristirahat, sembunyi dari gelombang
Hangat pasirmu merengkuh,
Menggoda diriku untuk tinggal

Namun, maaf jika suatu hari
Si perahu kecil mengangkat sauh
Mengejar bintang utara

Dermaga, terima kasih untuk rengkuhan hangatmu,
Elusan riak ombak, malam-malam merajut mimpi
Ingat selalu bahwa perahu kecil ini pernah melabuh jangkar di dirimu

Ternyata si perahu kecil hanya butuh sandaran
Mentari dan angin lautan tetap menarik dirinya
Engkau bukan pelabuhan terakhir
Si perahu kecil masih (harus) mencari azzura land


[Si perahu kecil kembali berlayar dengan karat luka, pengalaman, dan tangis]

Friday, November 18, 2005

Syair Tengah Malam

Cinta itu meneduhkan
Bukan pedang terhunus
Bagai kobaran api menyala,
Ia penerang, bukan membakar

Cinta sebenarnya tidak menyakitkan
Namun bila demikian adanya,
Lebih baik engkau lari ke altar Dia
Memohon agar jadikan cinta itu abu,
Dan terbang terbawa angin

Thursday, November 17, 2005

Atas Nama Kerelaan (Atas Nama Cinta?)

Suatu sore di suatu tempat. Dua perempuan saling memandang. Satu pihak menjadi konsultan, pihak lain menjadi orang yang berkonsultasi.

“Tuhan baik kepada Mbak. Kalau Mbak dengan Mas, Mas main tangan yang dapat berakibat buruk pada Mbak,” kata konsultan yang berinisial L tersebut.

“Tapi saya ingin bersamanya!” cetus wanita yang berkonsultasi. Wanita yang menjadi orang yang berkonsultasi merasa dadanya sesak ketika L mengucapkan kata-kata tersebut sembari mengelus pipinya sendiri.

“Lebarkan sayap. Masih ada orang lain yang menyukai Mbak (dan tidak dengan cara Si Mas).”

Mata wanita yang berkonsultasi itu berkaca-kaca.

“Tapi kalau itu agar saya tersadar akan kesalahan saya?”

L menatap lurus ke mata A. A, wanita yang berkonsultasi itu, lalu berbicara. Namun lebih kepada dirinya sendiri.

“Tuhan, kalau saya rela diintimidasi, rela diremas jemarinya dengan keras seraya mendengar dia berbisik,’kamu jangan berbuat kayak begitu lagi ya,’ rela menjadi obyek posesif, apakah Mas boleh menjadi milik saya?”

“Tuhan, kalau saya rela diperiksa handphone pribadiku, dibaca sms, address book, dan segala yang ada didalamnya, apakah artinya Mas kubahagiakan?”

“Tuhan, kalau saya rela menangis di sudut kamar ketika yang lain sudah terlelap, apakah Mas boleh menjadi milikku selamanya?”

“Tuhan, kalau saya rela menunggunya disaat Mas sibuk bekerja, rela disentuh dengan cara yang sebenarnya tidak kusuka, rela mengikuti kemauannya, rela bersabar ketika Mas sedang bad mood, mengapa Mas tetap merasa kurang?”

“Tuhan, kalau saya rela berubah demi Mas, mengapa Mas tetap tidak terpuaskan?”


Tak ada jawaban. Tak ada keajaiban seperti di film atau dongeng.

Wanita berinisial A meraih handphonenya. Mengakses layanan horoskop.


ASTROLOGI HARI INI :

CINTA :
Kamu jgn selalu yg berkorban krn didlm suatu hubungan hrs ada keseimbangan, & kamu terlalu banyak memberi. Rubahlah sikap itu.


Tiba-tiba A ingat sosok lembut yang senantiasa ada untuk dirinya. Sosok setengah abad yang selalu memeluk dan membelainya saat ria, badai, menghampiri dirinya. Sosok yang tidak pernah pamrih meski pernah dibohongi, dibantah, ataupun dilawan. Sosok tersebut pernah mengatakan, “Kamu disayang seluruh keluarga. Ibu tidak mau justru orang lain menyakiti kamu.”

A memencet beberapa tombol angka di handphonenya.

“Bu, ini Ade. Kangen dan ingin pulang.”

Suara di ujung sana menyambut lembut. (pembicaraan pribadi). Dengan suara lirih, pelan, Ade menyambung ucapan, “.....mmm, Iya. ada yang mau Ade ceritakan.”


[PS : Ini cerita khayal – tapi mungkin ada yang pernah mengalami hal semacam ini? Wanita yang bukan penggemar disakiti, bukan sadomasokis, tapi rela berkorban atas nama cinta]

Wednesday, November 09, 2005

Si Romantis Sejati

"Cinta itu seperti lautan. Ia adalah benda yang bergerak, dan ia berbeda di setiap tepian"

kalimat diatas kukutip dari blog teman. Aku merasa kata-kata yang terangkum didalamnya tepat. Atau, dengan kata lain, mewakili perasaan saya saat ini.

Atau karena saya “si romantis sejati.” Saya tidak mau membahas lebih lanjut makna kutipan diatas dengan perasaan saya saat ini. Cuma saya ingin mengakui, kalau “Saya gampang jatuh cinta.”

Positifnya, berpengaruh pada pancaran muka saya. Katanya, saya “sangat cerah,” “tersenyum,” “selalu dandan.” Istilahnya, cinta = doping hidup saya. Sama halnya dengan sebatang coklat, atau secangkir kopi.
Tapi negatifnya, kalau jadi melankolis dan emosi tidak stabil.

Bentuk perhatian seperti kado, sms, dan ucapan menyanjung atau genggaman tangan, masih penting bagi saya. Film-film Holywood seperti : American Sweethearts, French Kiss, ……menina bobokkan saya.
Padahal, kisah cinta saya sampai sejauh ini belum happy end.
Tapi saya percaya, saya ini adalah pemeran utama wanita dalam suatu sekuel drama. Cuma pemeran utama pria belum ada yang bertahan. Bergonta-ganti. Dengan menyuguhkan cerita yang berbeda. Dan, belum akan tamat sebelum waktu saya habis di dunia ini.


I’m not looking for someone to talk to
I’ve got my friend, I’m more than O.K.
I’ve got more than a girl could wish for
I live my dreams but it’s not all they say
Still I believe (I’m missing) I’m missing something real
I need someone who really sees me

Don’t wanna wake up alone anymore
Still believing you’ll walk through my door
All I need is to know it’s for sure
Then I’ll give all the love in the world
(All the Love in the World – The Corrs)

Aku dan Minyak Bulus

Pagi tadi saya bangun dengan mencium bau amis.
Baru ingat, semalam sebelum tidur, saya mengoleskan minyak bulus di bawah mata (kantung mata). Maklum, bayang-bayang hitam dan kerut mulai muncul disana. Entah karena pola hidup saya yang tidak sehat atau karena waktu mulai tidak bersahabat dengan diriku. Aging...Tanda-tanda penuaan. Hehe..

Tapi, ya ampun. Minyak bulus!
Iya bener. Minyak bulus dipercaya bisa mengencangkan kulit wajah, menghaluskan kulit badan lainnya, membuat kencang payudara, atau bikin gede “anu” pria...
Saya sudah mendengar dan mempraktekkan dari zaman kuliah. Kalau ‘p’ saya indah (sejauh ini, menurut saya sendiri lho) maka terima kasih kepada para bulus.

Minyak bulus keluaran 2 buah perusahaan kosmetik yang –katanya- mengusung nilai-nilai tradisional, sudah pernah saya coba. Baunya enak. Tapi...itu dulu banget. Seperti saya katakan diatas, waktu zaman kuliah.

Nah, yang semalam saya pakai itu produk bukan merek terkemuka. Mungkin istilahnya produk rumahan skala usaha kecil dan menengah (UKM). Saya beli saat berada di Yogya beberapa bulan lalu di toko batik. Sebotol kecil harganya tidak lebih dari Rp. 10.000,-.

Botol disegel. Jadi saya tidak tahu kalau baunya amis. Ingat bau di pasar tradisional? Seperti itu bau yang tercium dari minyak bulusnya. Sampai-sampai ‘nempel’ di baju, dan kalau dicuci, baju tersebut perlu direndam lama serta dibilas dengan pewangi pakaian. Beda dengan 2 produk yang pernah saya coba sebelumnya. Tapi, jadi yakin kalau itu asli.

Hanya saja, terbayang tidak, minyak bulus itu berasal dari hewan bulus (penyu). Dan untuk mendapatkan minyaknya, hewan itu harus dibunuh. Padahal, penyu adalah hewan langka dan dilindungi. Sudah dibunuh, harga jualnya tidak lebih dari Rp. 10.000,- seperti yang saya dapatkan di Yogya tadi.

Saya penyayang binatang. Pernah memelihara kucing, anjing, dan yang masih hidup sekarang ini adalah burung.

Waktu kecil saya penggemar telur penyu. Tetapi sejak menyadari dengan mengkonsumsi, maka secara tidak langsung saya melakukan genosida terhadap ‘generasi penerus’ penyu, saya tidak mau makan lagi.

Akan tetapi, bagaimana dengan minyak bulus?
Bagaimana dengan lipstik? Lemak ikan paus, katanya, dipergunakan untuk menghasilkan lipstik yang berminyak dan tidak mengeringkan bibir.
Aduh, kalau sudah berurusan dengan kecantikan, rasanya saya dan sebagian besar kaum hawa di dunia ini menjadi sadis.

Tuesday, October 11, 2005

Semoga Masih Ada Kesempatan (Bertemu Perempuan Berambut Terurai itu)

Suatu Sabtu pagi di tempat kursus.
Sembari beristirahat, Saya berpikir untuk tahu berita hari ini. Anak perempuan beranjak remaja, memeluk tumpukan koran di lengan. Saya menghampiri dia dan seraya menyebutkan nama sebuah surat kabar. Ia mengambilkan dan dalam jarak dekat, ia berbicara sebagai berikut, "Kakak bisa bantu Saya? Saya belum bayar uang sekolah."

Perempuan itu menanyakan hal yang tidak kusangka di sabtu pagi.
Di suatu hari di awal puasa, saat otak masih miskin oksigen dan kata hati sebenarnya lebih memilih tempat tidur ketimbang tempat belajar.

Ia bukan mencoba menawarkan nama koran atau majalah lain sebagaimana biasa penjaja koran/majalah lakukan.

Pertanyaan yang dilontarkannya membuat otak 'metropolitan' Saya 'bekerja'.
Benarkah omongan anak ini?
Bertahun-tahun di kota Jakarta membuat Saya kebal (atau alergi?) dengan segala bentuk minta-minta, sumbangan, sedekah. Saya menjadi imun dan memprogram hal tersebut sebagai bentuk memanipulasi rasa belas kasihan.
Minta uang untuk beli nasi hari ini, tapi masih bisa membuat tatoo di badan.
Ngamen kok pakai giwang emas?
Saya saja polos tanpa perhiasan. Selain cari aman, memang saya belum punya alokasi khusus untuk membeli aksesori yang katanya berhias sambil berinvestasi itu.

Kembali pada si remaja tanggung tadi.
Mengapa dia 'memilih' Saya?
Apa Saya punya tampang 'welas asih'? Atau punya penampilan seorang filantropi?

Yang Saya lakukan hanyalah mengatakan, "Maaf ya nggak bisa bantu. Ini ambil saja sisanya buat kamu (sambil menyerahkan selembar rupiah yang nominalnya lebih besar daripada harga koran yang Saya ambil)."
Dan...Saya segera berlalu.

Hanya saja, Saya tidak bisa menghapus bayangan perempuan tanggung berambut terurai itu. Dirinya tercampur dengan materi listening dan reading yang Saya terima saat itu. "Kalau dia cuma cari duit untuk senang-senang, kenapa dia masih mau 'susah' menawarkan koran?" tanya Saya dalam hati. Kenapa tidak 'jual' suara saja atau -lebih gampang- ngamen di bis kota sembari membagikan amplop putih bertuliskan "mohon bantuan untuk bayar uang sekolah?"

Berbuat baik jangan dengan pikiran yang membuntuti.
Ikhlas.
Dan, kalau diri Saya menganggap diri sendiri dalam kategori 'susah' atau 'sulit (ekonomi sulit)', tapi Saya masih bisa mengharumkan tubuh dengan merek parfum luar negeri setiap hari. Bukan body cologne yang harganya paling-paling puluhan ribu.
Kalau Saya kategori 'susah', mengapa Saya masih bisa 'membuang' lembaran puluhan ribu untuk secangkir Macchiato? Atau double Kahlua?
Atau mengagendakan perawatan rambut dan kulit secara teratur?
Dan berbagai agenda hang-out di sela rutinitas kerja.

Dua jam kemudian, Saya melewati kembali tempat anak itu berjualan. Tapi, perempuan berambut terurai itu sudah tidak ada lagi.
Masih bisakah Saya bertemu anak tersebut minggu depan di tempat yang sama?
Saya seolah kehilangan kesempatan emas.
Bagaimana kalau cerita anak berambut terurai itu benar adanya?
Bagaimana kalau benar adanya dia tidak bisa membayar uang sekolah, dia drop-out dan berakhir seperti perempuan-perempuan di Kramat Tunggak, Pasar Kembang, sudut Simpang Lima di malam hari? (suatu kisah klasik...)

Saya berharap masih dapat bertemu dengan perempuan tanggung berambut terurai itu di minggu ini, di tempat yang sama.
Saya berharap masih punya kesempatan untuk mendengar kisahnya, bertanya namanya, sekolah di mana, agar intuisi Saya bekerja dan mengambil kesimpulan.
Memberi, memberi atau memberi?

Friday, October 07, 2005

You’re the Owner of My Heart

Pernahkah kamu jatuh cinta dengan cara berbeda?
Mmm......maksudku, tetap ada yang sama. Namun, ada yang lain.

Yang sama : jantung berdebar-debar, hari selalu cerah dan senyum selalu tersungging.

Yang berbeda, kini saya merindukan pagi.
Merindukan kecupan dan rengkuhan.
Merindukan dia.

Kalau kamu 'click' dengan seseorang, katanya jangan lagi tunda sampai malam menjelang.
Saya rindu rumah untuk bersarang.
Bersama dia yang menyejukkan.

Apakah dia sadar bahwa saya merasa dia adalah 'mentari pagi-ku'?

Monday, October 03, 2005

Dimana Bisa Beli Percaya Diri?

Kata teman, Saya seorang narsis.
Tapi menurut Saya, itu beda tipis dengan Percaya Diri.

Dan sepertinya Saya belum punya yang namanya Percaya Diri.
Seseorang mengatakan, “Kamu punya kemampuan. Kenapa tidak Percaya Diri, sih?”

Saya lahir sebagai perempuan. Mau tidak mau, selama bumi berputar, orang menempati kecantikan fisik perempuan pada prioritas lebih dibanding terhadap pria.

Dan, Saya lahir dengan yang apa yang disebut manusia “cacat fisik.”
Tapi, Saya lahir dengan otak normal. Maka sedari kecil Saya tahu, Saya harus menggunakan otak Saya. Bukan fisik Saya.

Saya pernah bikin patah hati seorang perempuan.
Karena katanya Saya merebut pacarnya.
Namun, Saya juga pernah menjadi obyek taruhan.
Makanya, Saya bangun benteng keangkuhan.
“Meski Saya begini, Saya bukan untuk dipermainkan,” batin Saya.

Saya tetap tidak bisa menipu diri.
Saya meninggikan dagu. Ketika melihat orang memandang diri Saya, Saya langsung merasa : Pasti orang itu dalam hatinya tengah mengasihani Saya karena Saya lahir “begini.”

Lelaki tetap memilih perempuan lain.
Mungkin mereka lebih butuh yang enak dipandangi dan dinikmati.
Bukan otak Saya yang mungkin bisa memperbaiki keturunan mereka.
Mungkin Saya dalam daftar “teman kencan.” Bukan dalam daftar “pasangan hidup (baca : istri).”

Makanya, sedari kecil Saya tidak suka Cinderella, Putri Salju, atau aneka dongeng yang senantiasa menggunakan kalimat, “Kemudian, putri cantik dan pangeran tampan hidup bahagia bersama selama-lamanya.”
Logika Saya menolak. “Kenapa hanya orang cantik dan ganteng saja yang berhak punya nasib bagus?”

Saya lebih memilih bermimpi menjadi anggota Fantastic Four, atau Putri Leia dari Star Wars, atau Emma Peel dari film ‘The Avengers’.

Bolehkah Saya marah kepada Tuhan?
Saya bertanya mengapa Saya lahir begini dan Ia tidak menjawab.
Saya menyusun rencana dan Ia juga menggagalkan rencana Saya.
Heran?
Lihat nilai Agama di rapor Saya. Tapi itu sekedar angka.

Namun, sekarang Saya menelaah dari sudut pandang berbeda.
Bukankah Ia baik hati memberikan Saya kecerdasan?
Karena kecantikan fisik akan keriput tersapu usia.
Ia memberikan Saya orangtua dan saudara-saudara yang melindungi dan menyayangi Saya.
Dia tidak sedang bad mood ketika menciptakan diriku.

Mungkin supaya Saya tidak sombong.
Supaya Saya bertutur kata manis dan berperilaku baik.
Memiliki empati.
Kalau tidak demikian, apa lagi yang dilihat dari Saya?

Oke, sekarang Saya ‘berdamai’ dengan Tuhan.
Saya minta maaf kepadaNya.
Tapi bagaimana ‘mencuci otak’ Saya supaya Saya Percaya Diri?

Ada yang mengatakan kebahagiaan tidak terbeli dengan uang.
Apakah orang tersebut bisa menjawab pertanyaan Saya, “Dimana Saya bisa beli Percaya Diri?”

Friday, September 30, 2005

Romantic Mind

Sometimes I want to be an Eagle
Flying high, tough and alone
Know to love, giving care and cradle for the kids
But need no man.

But I’m just a woman with girly mind
I want to go out with my Saturday man in this night
Be sweet little hubby and hug for
Start with wishy washy and kissing in the end.

Saturday, August 13, 2005

Time & Love

What do you think about “time”?
Something precious cannot U buy
Slept away from your hand before you realize
Must use wisely, must be your partner
When U stop and look behind, you know so many things already done.

What do you think about “love”?
Make U smile and make U cry
You spend your time, energy but don’t U dare to think always happiness will back
Make your face sparkling
Your power to fight all against you

(I am the romantic person)

Sunday, July 24, 2005

Masa Lalu

Masa lalu membuat saya kembali menangis.
Menjadi berpikir, "Mengapa saya tidak begini?" ; "Mengapa saya mengambil langkah seperti itu?"
Membuat saya menangis. Mengingat kamu.

But, the wheel still running.

Ada beberapa masa lalu yang tidak perlu disesali dan ditangisi. And I don't want to cry. Let it past, honey...

Thursday, July 07, 2005

Lama tidak Ngisi Blog

Hmm...lama tidak ngisi blog. Ga sempet, banyak kerjaan, bla bla bla dan segudang alasan.

Tapi apa yang harus kuceritakan?

Still the same, and everything goin' normally. Atau, karena sudah terlalu banyak yg terlewatkan sehingga bingung memulainya?

Mmmm.....aku pindah meja kerja. Lebih mojok (nomor dua dari dinding dan tembok berada di belakang kursiku. Tidak seperti rekan lain yg kayak meja kursus komputer...hehe). Aku pindahan meja kira2 awal Juni. Semua dokumen, pernak pernik kupindahkan, then ada liputan keluar kota, trus bolak balik ijin ada urusan, dan sampai sekarang masih bingung bagaimana menjadikan mejaku itu "bersih." Mungkin bersih bener tidak mungkin, tapi paling tidak bikin mood kerja jadi tinggi. Pulang ke kamar kos, juga aku menemukan kondisi berantakan. Hehe...saatnya untuk beres2.

Tumpukan koran& majalah, berkas-berkas, buku2 company profile dsb, novel, komik dan album foto, saling tumpang tindih. Dan, membentuk bubungan di setiap sudut kamarku, paling tidak agar kakiku tidak tersandung kalau melangkah. "Jebakan-jebakan ini harus kukurangi!" kataku dalam hati. Rasanya, semalam baru langkah pertama.

Saturday, April 09, 2005

My First Blog

Yap!
Akhirnya Aku b'gabung bersama rekan2 lain yang memiliki blog. Sebelumnya, saya merasa "something weard" memiliki tulisan yang diposting dan dibaca orang yang belum tentu/tidak kukenal.

Sama seperti memiliki diary dan orang lain mencuri baca.

Tapi…bukankah manusia adalah makhluk sosial? Ingin menyuarakan opini, pikiran, curhat dll….dan membaginya kepada orang lain?