Saturday, April 09, 2005

My First Blog

Yap!
Akhirnya Aku b'gabung bersama rekan2 lain yang memiliki blog. Sebelumnya, saya merasa "something weard" memiliki tulisan yang diposting dan dibaca orang yang belum tentu/tidak kukenal.

Sama seperti memiliki diary dan orang lain mencuri baca.

Tapi…bukankah manusia adalah makhluk sosial? Ingin menyuarakan opini, pikiran, curhat dll….dan membaginya kepada orang lain?

2 comments:

Garuda said...

Harga Sebuah Mukjizat

Sally baru berumur 8 tahun, saat ia mendengar ayah dan ibunya
Berbicara tentang adiknya, Georgi, yang sedang sakit keras dan mereka telah
melakukan segala cara sebatas kemampuan untuk mengobatinya. Hanya
tinggal operasi yang sangat mahal yang dapat membantu adiknya dan itu
sangat sukar karena keterbatasan keuangan keluarga Sally. Sally
mendengar ayahnya berbisik dengan putus asa, "Hanya tinggal mukjizat
yang dapat menyelamatkan Georgi."

Sally kembali ke ruang tidurnya dan mengambil tabungan dari tempat ia
menyembunyikannya. Ia mengeluarkan semua uang receh yang ada dan
menghitungnya dengan seksama. Tiga kali ia menghitung karena jumlahnya
harus benar-benar tepat. Tidak bisa ada kemungkinan berbuat salah.

Ia membungkus uang receh itu dalam sapu tangannya, lalu ia menyelinap
Ke luar dari rumah dan menuju ke apotek terdekat. Sally menunggu dengan
sabar sampai apoteker dapat memberi perhatian padanya! , tetapi
apoteker
sedang sibuk bicara dengan seorang yang perlente, dia itu tidak mau
direpotkan oleh seorang anak umur 8 tahun. Sally menggesekkan kakinya
dilantai serta berdehem beberapa kali untuk menarik perhatian, tidak
ada hasilnya. Lalu ia mengambil sekeping uang receh dari bungkusan sapu
tangan dan memukulkannya pada konter kaca.

Tindakan itu berhasil. "Dan apa yang kau kehendaki?", apoteker itu
bertanya dengan nada suara yang tinggi karena merasa terganggu. "Aku
hendak berbicara dengan bapak mengenai saudaraku," jawab Sally dengan
nada suara yang juga tinggi.

"Saudaraku sakit ....... dan aku mau membeli suatu mukjizat. Ayahku
berkata hanya sebuah mukjizat yang dapat menyelamatkan adikku sekarang
ini, maka berapa harga sebuah mukjizat?". "Maafkan aku," kata apoteker
itu. "Di sini kami tidak menjual mukjizat, gadis kecil. Aku tidak dapat
membantumu."

"Dengar, aku mempunyai uang untuk membayarnya. Hanya katakan saja
padaku berapa harga mukjizat itu." Orang perlente itu membungkuk dan
bertanya, "Apa mukjizat yang dibutuhkan adikmu itu?" "Aku tidak tahu,"
jawab Sally. Sebutir airmata mulai mengalir dari matanya. "Aku hanya
tahu adikku sakit keras dan ibu mengatakan dia perlu dioperasi. Tetapi
keluargaku tidak mampu untuk membiayainya, tetapi aku mempunyai uangku
sendiri." "Berapa uang yang kau miliki?", tanya orang perlente itu.
"Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "Dan itu
adalah semuanya yang kumiliki di dunia ini." "Tentu, ini suatu
kebetulan," jawab orang perlente sambil tersenyum. "Satu dolar dan
sebelas sen, harga yang tepat untuk sebuah mukjizat untuk menolong
seorang adik." Ia mengambil uang Sally dengan satu tangan, sambil
tangan lain menggapai tangan Sally sambil berkata: "Bawalah aku ke rumahmu.
Aku ingin melihat adikmu dan berjumpa dengan kedua orang tuamu." Orang
perlente itu adalah Dr. Carlton Armstrong, ahli bedah yang ternama dan
mengkhususkan diri dalam penyakit Georgi.

Operasi dilakukan tanpa biaya dan tidak lama kemudian Georgi pulang
kembali ke rumah dan berangsur mulai sembuh. Ayah dan ibu Sally
berbicara dengan bahagia tentang rangkaian peristiwa-peristiwa sehingga
itu semua terjadi. "Operasi itu,'" bisik ibu. "Bagaikan mukjizat. Aku
sebenarnya ingin tahu berapa biaya operasi itu sesungguhnya". Sally
tersenyum sendiri. Ia mengetahui berapa harga sebuah mukjizat, satu
dolar dan sebelas sen ditambah iman seorang gadis kecil.

Garuda said...

Berapa Besar Bobot Sebuah Doa ?

Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah
supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon, agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

"Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya
uang." John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi," alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal
mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata : "Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu,Pak. Saya
sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja ?"

" Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal." Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut." Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan.

Mata si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke
bawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil
berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat." Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.

Disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi. Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas
daftar belanja si ibu kumal tadi. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek : " Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu."

Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu Louise berterimakasih kepadanya, dan
meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.