Wednesday, June 23, 2010

Memelihara Mimpi Pendaki Gunung

Saya pernah membaca cerita tentang seorang pendaki yang ingin menaklukkan puncak Gunung Everest.
Dia mengatakan, “Suatu hari aku akan mencapai puncakmu.” Lalu sang pendaki tekun berlatih dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya keinginan itu terwujud pada beberapa tahun kemudian.

Namun arti cerita ini sebenarnya bukan tentang keberhasilan pendakian gunung. Makna cerita adalah Gunung Everest melambangkan tujuan akhir/target yang ingin dicapai. Dan pendaki adalah seseorang yang fokus mencapai puncak gunung sebagai tujuan akhir.

Puncak gunung itu tetap berdiri angkuh pada 8.850 meter jika dihitung dari atas permukaan laut (kecuali ada kejadian geologi mahadashyat mengubah morfologi bumi secara drastis).

Sementara sang pendaki adalah manusia yang hidup. Ia tekun mempersiapkan diri. Olah fisik, membuat daftar perbekalan dan mempelajari rute mana yang harus dilalui. Bahkan ketika memulai pendakian pun butuh waktu berhari-hari. Jika ditotalkan maka proyek pendakian itu memakan waktu bertahun-tahun.

Hidup adalah kumpulan kebiasaan. Pendaki membiasakan diri dengan persiapannya untuk mencapai si ‘atap dunia’. Ia sebenarnya bisa berpaling dan menikmati hidup yang ia jalani di tempatnya berada. Mengatakan bakal susah, tak mau beresiko kena hipotermia, dan daripada menghabiskan biaya besar. Tapi si pendaki tetap memelihara mimpi menginjakkan kaki di sana hingga ia berhasil merealisasikan mimpinya.

Saat ini saya bagai seorang pendaki yang ingin mencapai puncak Everest. Tapi di otak ini yang terpikir adalah susahnya mendaki, penuh batu-batu, bakal kehausan di tengah pendakian, nafas terengah-engah. Belum lagi cemooh orang lain bertanya mengapa si penderita asma mau mengejar gunung dan bukan menghirup udara segar pantai.

Akibatnya : saya tidak berani memulai. Sering menunda. Malas karena di dalam benak ini yang terpikirkan adalah betapa susahnya langkah yang harus kujalani. Padahal –ternyata- batu terbesar penghalang langkah adalah diri kita sendiri.

Padahal coba berpikir, “Fokus di tujuan akhir, dan nikmati prosesnya.”



*Thanks untuk sahabat-sahabatku yang memberiku semangat dan menjadi tempat curhat beberapa waktu lalu. Tulisan ini tertuang berkat motivasi dari kalian*

2 comments:

Heny said...

bener banget mbak....."kita dimasa depan adalah apa yg kita fikirkan saat ini"....so berfikirlah positif dan jangan pernah UBAH mimpi2-mu jika ingin mewujudkannya...Salam Kenal :-)

aura-azzura said...

@Heny :
setuju.
Salam kenal juga, terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Sukses juga mbak Heny :)