Monday, March 03, 2008

Penantian


Kami bertemu kembali semalam,
Menganyam benang putus di tepi danau,
Melebur dalam masa lalu.

Hari ini aku duduk termangu,
Menanti sembari memintal benang tak terajut
Hanya menanti dan termangu
Hujan deras pun meluapkan telaga.


Bogor, 10 Feb’08
(photo by Eno, Bali 7 Feb'08)

Tuesday, February 26, 2008

Pagi

Ia melukis pagi
Bersama langit, mentari, bayu
hanya pikiran bebas merangkul
memilih biru atau kelabu.

(Jakarta, 22-1-08 di suatu pagi )

Beri Bulan Jika Rakyat Membutuhkan

Filsuf dan sastrawan Prancis, Jean-Paul Sartre bertandang ke Kuba setahun setelah Fidel Castro menggulingkan diktator Fulgencio Batista pada 1959. Perjalanan yang akhirnya dibukukan dalam Sartre on Cuba (terbit pada 1961) memuat dialog menarik antara Castro dengan filsuf eksistensialisme itu. Sartre bertanya apakah Castro akan memenuhi semua permintaan rakyat?
+ ”Ya, karena semua permintaan merefleksikan kebutuhan.”
- ”Bagaimana jika mereka meminta bulan?”

Fidel terdiam. Dia mengisap cerutunya dalam-dalam.
+ “Kalau itu mereka minta, berarti rakyat memang membutuhkannya.”

Haha.. menurut gw itu jawaban cerdas untuk pertanyaan abstrak.

(dikutip dari Majalah Mingguan Tempo, 2 Maret 2008, ”Bulan di Atas Kuba”)
Gambar dikutip dari :www.susanderges.com/full-moon-briars

Monday, February 25, 2008

Jagalah Ucapanmu

Eno, gua order untuk (nama kolom). Nanti materi kukirim yaa... bla bla.. ” kata seorang Account Executive (AE) cowok kepada saya. Biasanya materi yang umumnya berupa press release perlu saya baca & edit sebelum dimuat ke dalam rubrik yang memang saya tangani.

Ohya? Tapi kalau materi dikirim lewat email, cc-kan juga ke email yahoo-ku karena yang kantor ga bisa kubuka. Komputerku lagi rusak,” jawab saya.

Komputer lu rusak? Lu makan gaji buta dong...” kata cowo yang gayanya memang sok cool itu.

Monyet! Gaji buta?? Gw panas nih!

Iya memang. Saking giatnya gw kerja, komputer gw sampai mampus,” akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.

Kejadian tadi saya alami saat sedang ngelembur setiap malam untuk mengerjakan tulisan suplemen. Padahal selain itu masih bagi waktu dgn kerjaan lain, dan di saat tidak tepat komputerku di kantor rusak.

Nah, rasanya mendengar ucapan itu sangat tidak enak di kuping. Mungkin saja, dia murni bercanda, atau memang ucapan itu datang dari lubuk hati yang menyangka, ”Jadi penulis iklan enak ya.. Datang ke kantor duduk terus di depan komputer. Ga susah-susah me-lobbying klien dan presentasi supaya klien pasang iklan di tempat kita. Sudah gitu pakai acara bilang komputer rusak!”

Memangnya tulisan kayak bikin panci? Kita juga kayak Empu Gandring yg dapat order keris dari Ken Arok. "Semedi" dulu cari inspirasi supaya keinginan klien matching dengan tulisan kita, browsing data, dilanjutkan menulis, lalu membrief fotografer untuk cari foto yang cocok, lalu menongkrongi anak desain menyelesaikan layout iklan.

Dan hal tsbt bisa membuat para penulis lembur sampai malam. Gua ga pernah tahu lagi sinetron Asia (hehe..kl tidak salah Jak TV pernah memutar film-film model begini), sampai di kos cuma hai..hai... sama temen-temen kos yang kebetulan lagi nonton TV di ruang tengah, cuci muka, ganti baju lalu tidur.

Yah, inti dari kasus saya ini, sekadar mengingatkan diri maupun rekan-rekan : cobalah bercanda dengan cara elegan. Gaji dan desk job bukan hal menarik untuk menjadi bahan guyonan (meski kamu berniat nothing heart feeling dgn pernyataan tsbt). Kita tidak tahu apakah itu saat yang tepat. Apalagi, jika rekan yang diajak bercanda sehari-hari bukan teman dekat. Lebih baik bicaralah seperlunya dan too the point.

Sensor : maaf jika dalam tulisan di atas ada jenis primata yang saya sebutkan.

Tuesday, February 19, 2008

Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Hari Selasa menjelang magrib di ruang penulis. Ruangan terasa senyap, hanya ada bunyi-bunyi yang sama datang dari beberapa sudut. Bunyi itu berasal dari ketukan jari yang lincah mengetik tombol-tombol simbol huruf di keyboard.

Ya ampun! saya kenapa terhibur mendengarnya? Rasanya diri ini sedang 'ada teman'. hehe.. Dari minggu lalu, dengan kondisi badan belum fit, saya hampir setiap malam begadang mengerjakan tulisan-tulisan yang menyita waktu. Puncaknya Selasa ini karena ada deadline tulisan wisata. Berhubung tulisan ini untuk edisi Majalah bahasa Inggris, maka prosesnya lebih panjang. Ada urusan kirim ke penerjemah segala. Dan malam Selasa ini saya harus membereskan semua tulisan yang harus di-translate.

Saat itu, ternyata hampir semua teman satu ruangan punya deadline masing-masing. Dan beberapa teman adalah yang 'repot' saya bebani dengan tugas penulisan dari saya. Yah, beginilah nasib Project Officer (P.O.)untuk tulisan wisata tsbt. Mampus juga kan untuk mengurusi semua tulisan? Bagi tugas lah sesuai waktu dan kemampuan masing-masing. Ga! Ga bangga jadi P.O. penulisan. Rasanya saya lebih senang mengurusi tulisan reguler saja.

Hehe.. tapi suara ketik-ketik keyboard di hampir semua sudut ruang, sangat mempesona gendang telinga saya. Seolah saya tiba-tiba tersadar, "busyet.. semua lagi pada konsentrasi kerja.." Dan timbul ide menulis puisi ini :


Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Tuk...tuk tuk tuk tuk...
Tuk tuk tuk.... tuk tuk.. tuk tuk tuk tuk..
Alunan itu terdengar nyaring mengejar sore
Mendesir indah di gendang telinga

Jari-jari makin lincah menari
Keyboard pun bersenandung
’deadline.... deadline...deadline...’


(untuk teman-temanku yang senasib dikejar tenggat tayang. Ketukan jari di tombol2 keyboard itu terasa indah terdengar....)

Saturday, February 09, 2008

Terima Kasih Masih Diberi Umur

Gong Xi Fa Cai…. Happy New Year.

Dari mitos kuketahui bahwa masyarakat Cina mengganggap hujan di hari pertama tahun baru merupakan pertanda keberuntungan dan rezeki. Namun, pengalaman saya di hari pertama Tahun Tikus rasanya bukan menyenangkan.

Kamis lalu (7/2), saya melewatkan Tahun Baru Cina ke 2559, di angkasa. Dlaam penerbangan pulang dari Denpasar ke Jakarta.

Sebelum saya terbang, orang rumah sudah menelpon bahwa Jakarta sempat hujan lebat. Demikian pula dengan kondisi Bali di hari terakhir saya berada, sedang mendung dan sempat diguyur hujan. Apalagi pengalaman terjebak banjir Jumat sepekan sebelumnya dan ’perjuangan’ menempuh jalur ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang tergenang air setinggi ban mobil masih melekat.

Penumpang Garuda Indonesia A330-300 pada malam itu tidak terlalu banyak. Menurut informasi pramugari, pesawat kami ini maskapai ekstra karena banyaknya penumpang yang terbang dari Jakarta ke Denpasar. Dan kondisi sebaliknya terjadi dari Denpasar-Jakarta. ”Sigh, pastilah banyak orang yang memanfaatkan hari libur Imlek dari Kamis itu untuk berlibur ke Pulau Dewata. Sementara saya justru pulang sehabis menunaikan tugas,” kata saya dalam hati.

Penerbangan jam 19.00 WITA on time. Dengan jarak tempuh sekitar 993 kilometer, pesawat berpintu 8 buah melintas di atas kota: Denpasar, Jember, Surabaya, Bandung sebelum sampai di Jakarta. Perjalanan semula terasa lancar. Seperti umumnya, setelah take-off hingga mencapai kestabilan mengangkasa, penumpang boleh melepaskan sabuk pengaman (seat belt). Setelah itu, pramugari mulai membagikan makanan. Saya jadi ingat bahwa hari itu ’spesial’ dari sajian yang dibagikan di pesawat Garuda. Sebuah plum manis yang disimpan dalam plastik dan diikat dalam pita emas, disajikan bersama kartu merah tertera ucapan ”Selamat merayakan Tahun Baru Imlek”.

Namun sekitar 25 menit sebelum kami tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, pesawat bernomor GA 441 mengalami turbulensi. Penumpang musti memasang sabuk pengaman. Dan tak lama kemudian kami yang duduk terasa berguncang, bahkan dua kali kami melompat dari tempat duduk. Hanya tali pengencang seat belt yang menahan kami agar tetap dalam posisi aman.

Kaget? Yap. Jantung terasa berdebar-debar. Dan denyutan tersebut baru hilang setelah pesawat mendarat mulus di landasan. Seusai momen terkaget yang mendebarkan itu, ”Asuransi” menjadi satu kata melintas dalam benak saya.

Kemudian, saya memandang sekeliling. Tiba-tiba saya ‘meratapi’ kesendirian saya. Duduk di pojok jendela deretan bangku A, bersebelahan dengan sayap pesawat tanpa penumpang di sebelah saya. Saya memandang sebelah kanan. Seorang bapak keturunan asing (sepertinya Jepang) duduk terpekur sendirian. Bapak itu sepertinya dalam perjalanan bisnis dilihat dari sisi penampilan dan tas laptopnya. Sementara di ujungnya pasangan muda –sepertinya pengantin baru- tampak saling merangkul. Sang pria memeluk erat pasangan wanitanya yang duduk di dekat jendela yang sepertinya ketakutan.

Bangku deret tiga penumpang di sebelah belakang, sepasang wisatawan Cina setengah baya saling berpegangan tangan.

Saya tiba-tiba merasa na’if. Kenapa hal pertama yang saya ingat adalah ”asuransi”. Saya memang telah dibekali asuransi dari kantor, belum lama ini juga melengkapi diri dengan asuransi pribadi yang melindungi diri dari kecelakaan di kendaraan umum. (Sebagai orang yang sering ditugaskan pergi-pergi, saya memutuskan perlu mengambil asuransi itu). Dan tersadar saya tidak punya pasangan, baik kekasih maupun suami, yang bakal meratapi atau kehilangan saya.

Saya merasa jika saya sampai pada ujung umur, tidak ada orang yang kehilangan. Dalam arti tiada ’anak yang kehilangan ibu’ , maupun ’pria kehilangan pasangan’. Tanpa beban. Mata saya menumbuk kursi di depan yang diduduki pasangan suami istri paruh baya. Mungkin mereka saat itu sedang saling menggenggam tangan dan menerawang memikirkan anak atau cucu mereka yang tengah menunggu di rumah.

Aigh... kenapa saya lupa pada kedua orangtua saya? Kenapa saya lupa saya punya banyak teman-teman yang kemungkinan besar juga meratapi ’kepergian’ku. Saya merasa ingin ketemu bapak dan ibu, serta para ’cuplis’ di rumah Bogor. Di rumah ortu, ada dua keponakan tinggal, masing-masing berusia 6 tahun dan 13 tahun dengan kenakalan yang bikin kangen. Air mulai menitik di kedua bola mata. Saya langsung memutuskan harus pulang ke rumah Bogor, bukan ke kos seperti rencana semula.

Saya segera mengucapkan doa, melantunkan berbagai ayat yang melekat dalam otak, di dalam hati. Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya masih diberi umur. Saat mata menumbuk pada kilau cahaya lampu –kota Jakarta- saya merasa bahagia. Betapa saya cinta kota metropolitan tempat saya mencari nafkah yang sebentar lagi akan kujejakkan kaki.

Thanks God! Saya berjanji tidak mau menikmati wahana permainan yang sengaja mencari debar jantung di Dunia Fantasi (Dufan) untuk sementara waktu. Untuk beberapa waktu saya tidak bakal mencari-cari permainan yang memacu adrenalin. Ternyata ketika kita berada dalam kondisi seperti bermain roller coaster namun dalam kondisi ’pacuan adrenalin sebenarnya,’ antara hidup dan mati, itu bukan hal lucu.

Terima kasih Tuhan. Engkau masih memberi saya kesempatan mengisi hidup ini, semoga dengan hal-hal berguna dan amal kebaikan. Amin.

Thursday, January 31, 2008

Melebur Bersama Malam

Secangkir cappucino, secangkir black coffee
Sekarung cerita untuk dituang
Ada rindu untukku? Ada cerita untuk dipintal?
Sebongkah kisah'tuk dicecap hingga larut memagut


Jakarta, 24 Jan'08
di sebuah sudut kafe

Terkapar di Ranjang

Kau membuatku terkapar di ranjang
Setiap jengkal tubuh meriang kau gigiti
Perlahan, kesadaranku melayang
Bersama antibiotik, rhinos, entah kimiawi apa
Pharingitis, Engkau memang bajingan!



(Pharingitis = peradangan tenggorokan)
(thx kepada dokter yg menyuruhku istirahat :) ..aku jd rajin berpuisi )

Bunga Cinta



Petik… tidak… petik…tidak…
Bunga cinta itu menggoda
Ingin kusemai dalam hati
Bikin jantung dug... dug.. dug....


(photo location : Senayan City, 2 Feb'08)

Pada Sebuah Resah

Engkau masih pribadi resah
Menghitung hutan yang meranggas
Kamu tak sadar, taman hati kita juga mencadas

Kamu yang resah,
Aku yang kalut
Kita yang tak satu pikiran

Engkau melompat pergi
Mencangklong ransel
Aku baru tersadar kita lupa berpelukan
Lupa bertukar harum kota dan aroma liar
Bayangku juga terinjak sepatumu

Pada sebuah keresahan, aku menangis
Firasatku... ini pertemuan terakhir
Kamu yang pergi, saya yang minggat
Rasanya sama saja.

Sedih

Badanku bergetar
Menahan amuk ombak meriak
Kedua mata tak kuat
Bolehkah aku menangis?
Duh! Si perkasa juga butuh buaian

Tiba-tiba aku merindu kehangatan rahim ibu

Puisi

Puisiku saksi bisu kebebasan otak
Ketika kata demi kata melayang
Kurangkai, kuungkap,
Lepas tanpa beban

Saturday, January 26, 2008

Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu (1)

Hidup ini merah jambu
Ketika degup diri melonjak
Menanti sapa dirinya

Hidup ini merah jambu
Saat kami berbalas kisah
Hidupku jadi merah jambu
Gara-gara Cupido mengacak otakku


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)
(Also posted in : auraazzura.multiply.com)

***

Cinta Merah Jambu (2)

Pipi jambu, merona merah
si dia berstatus 'Available'
ia pun menyapa

jari tergetar mengetuk balas "Hai"
dug..dug.. jantung laju berdegup
menanti menit dia membalas

Auch! disconnect
net error di saat tidak tepat
dan hati merah jambu pun meleleh


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)

Cerita Pagi Peramu Kata

Jam delapan lewat tigapuluh menit
Cukup pagi bagi pemerah kata untuk mulai bekerja
Ada kopi pagi menyalakan simpul otak
Ada setumpuk koran untuk ditelisik
Ada satu komputer setia menemani

Jam sembilan lewat bermenit-menit
Satu surat elektronik berbisik,
”Tulisan kamu oke! Klien puas!”
Puas? Saya menarik nafas panjang,
Bukan bangga, tapi berarti’misi telah selesai’

Satu surat elektronik lainnya menohok,
”....Sudah menarik, tapi coba lebih bikin gregetan
lagi.”
Email kamu juga bikin saya gregetan!
Tunggu! Tunggu! Saya kurang apa ya?
Rasanya semua bahan sudah dicampur : kreatifitas,
marketing, dan 'penyedap'
Mungkin adukannya belum merata?

Jam sembilan lewat berpuluh menit
Agh, belum bisa mikir nih
Inspirasiku baru ketok pintu kalau matahari tenggelam
Butuh usaha bagi pengantin drakula menjadi makhluk
mentari.


(Also posted at : mailing list BungaMatahari)
(Jakarta, 17-1-2008)

Manajemen Waktu

Satu hari tetap 24 jam, sementara kegiatan bertambah padat. Saat ini saya sedang mencoba menerapkan Manajemen Waktu, semoga membantu efisiensi kerja. Dengan demikian, meminimalkan penumpukan kerja yang berdampak pada harus lembur atau melek sampai jauh malam gara-gara kerja yang mepet deadline. Buka-buka tip di sejumlah majalah dan akhirnya dari kompilasi, saya coba rumuskan untuk diamanatkan dlm kehidupan. Semoga efektif pula bagi pembaca blog ku :

1. Membuat list. Catat semua kegiatan di agenda :jam meeting & janji temu, pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Kalau semua mengandalkan ingatan, kasihan otak kamu juga kan? Ohya, buat pula skala prioritas mana yang harus didahulukan.
2. Susun file secara teratur dan tega membuang file-file yang sudah tidak lagi diperlukan. Daripada menumpuk di meja kantor dan membuat kamu malas untuk bekerja. Selain itu, penempatan yang ringkas akan memudahkan pencarian yang akhirnya mengefisienkan kerja.
3. Disiplin – strict kepada agenda. Meski memang kadang perlu fleksibel pula misalkan tiba-tiba diagendakan meeting penting, ga mungkin kita bilang ’tidak’ kan?
4. ”Bang A Nasty Job Off” alias BANJO. Yaitu, selesaikan tugas “menyebalkan” dengan segera. Kadang karena tidak suka atau malas, kita kadang menunda menyelesaikan tugas yang terasa tidak menyenangkan. Apabila selalu ditunda, akhirnya tidak pernah diselesaikan. Atau baru dikerjakan saat kepepet karena tugas tsbt ditagih, padahal di depan mata sudah menunggu pekerjaan berikutnya.
5. Membatasi waktu untuk membuka ataupun membalas Yahoo Messenger dan surat-surat yang ada di dalam inbox e-mail pribadi. Jujur YM adalah sarana komunikasi efektif dan simpel dengan rekan kerja di ruangan lain, atau teman-teman yang belakangan jarang saya temui. Akan tetapi membiarkan YM nyala (seperti yang selama ini saya lakukan) sama seperti membiarkan pintu terbuka untuk orang masuk, menyapa dan diskusi dsb. Dengan demikian, kadang konsentrasi kamu terpecah ketika ’sapaan’ masuk, atau malah saya sendiri yang suka iseng menyapa teman ketika teman berstatus Available (maafkan saya teman-teman... ).

semoga tip ini berguna, dicoba dilaksanakan, dan membuat hidup ibarat "bekerja cerdas, bermain pintar, hidup menjadi lebih mudah".

Saya dan Manajemen Waktu

”Wah, SMS nya pagi banget. Jam 4 lewat...,” kata Saya.
”Lho. Memang biasa bangun pagi-pagi gitu,” ujarnya.
Ups. Tiba-tiba sejumlah perasaan khas wanita menyerang saya. Saya jadi takut, dia berpikir, ”Pasti nih cewek tidak sholat subuh (memang iya..)”, atau ”jadi cewek kok malas ya. Bangunnya siang boo....”

Saya speechless... Cuma berkomentar, ”Iya nih bangun kesiangan....” dan terusan yang tidak kukatakan: makanya aku baru balas SMS dengan telpon ini di saat jam makan siang.

”Lho, memangnya ga kenapa-kenapa sama kantor?” tanyanya.
”Mmm.... kantorku lumayan fleksibel sih. Asalkan kerjaan beres, memenuhi 8 jam kerja sehari.”

(hehe Eno bo’ong ah. Liat tuh lembaran daftar absensi yang dibagiin setiap awal bulan. Di selembar kertas itu tercetak lengkap tanggal dan hari kerja, jam masuk, dan jam pulang. Ada pula keterangan jumlah jam kerja, lembur dan keterlambatan dari jam masuk yang seharusnya 08.30 ! Memang benar tidak ada punishment, alias resiko tanggung sendiri. Datang siang hari berarti menyelesaikan kerja jauh di malam hari.)

”Iya..Iya...” balasnya. Setelah itu kami mengobrol singkat ga penting dibahas di blog ini. Tapi di hari berikutnya dia menyapa saya via SMS dalam waktu lebih siang. . :))

***

Saya mau membahas Time Management atau Manajemen Waktu. Saya ga ngerti deh apakah memang orang itu sudah bawaan dari sononya bisa bangun pagi, cara membagi waktunya yang baik, atau memang kantornya yang strict terhadap jam kerja.

Saya juga tidak mengerti apakah bidang engineering memang lebih teratur ketimbang pekerja kreatif. Rasanya selama saya menyandang profesi sebagai wartawan, dan kini penulis iklan, adalah hal susah untuk masuk kantor di pagi hari.

Sewaktu menjadi wartawan media cetak harian, teman-teman di kantor tertawa kalau melihat jam undangan yang pagi hari. Pagi hari ini berarti dibawah jam 10.00 WIB. Bukan karena kita doyan acara menjelang makan siang (ups sori...pasti wartawan sanggup bayar makan siang dari kantong sendiri!), akan tetapi rata-rata kami baru bisa bangun jam 9.00-an. Bahkan ada yang lebih. Ini terjadi karena ketika orang lain/pekerja kantoran sudah balik ke rumah atau masih terjebak kemacetan otw home, kami masih sibuk mengetik, mengejar deadline, bahkan tak jarang masih menelpon narasumber minta konfirmasi. Selesai kirim tulisan ke redaktur belum tentu langsung pulang. Kadang itu saatnya kita ngumpul di warung kopi, ngobrol, membahas liputan hari ini, dan kalau mau serius adalah memikirkan suatu isu untuk dikembangkan dalam liputan esok hari.

Kalau pulang ke kos, kadang ada rasa sirik dengan teman kos yang sudah istirahat dan bersiap tidur, sementara kita baru pulang. Tapi menjadi kenikmatan tersendiri pula ketika mendengar ’gedebak-gedebuk’ rekan kos yang berangkat kerja, takut terkena macet dan tak mau terlambat datang, sementara kita masih bisa melingkar di tempat tidur. Keuntungan lain adalah tidak mengantri kamar mandi.

Namun, persoalan yang kini saya hadapi adalah jika kamu baru kerja di saat mentari sudah bersinar galak (dengan asumsi datang kantor jam 10-an ke atas) maka terjadilah ritme kerja yang mundur dan baru kelar malam hari.) Akhirnya, ada pula beberapa urusan tertunda keesokan hari. Asumsi Jika baru pulang malam hari, maka otomatis bangun siang, dan terjadilah ritme masuk kerja siang hari dan pulang malam hari..

Masalahnya mata saya sudah terbiasa menjadi makhluk malam. Sekali saya disentil begadang, maka waktu tidur saya bergeser menjadi jam 3 atau 4 pagi. Dan bangun bukannya bisa cepat.. minimal baru bangun jam 9.00 pagi.

Insomniakah ini termasuk? Saya sendiri kuat melek sejak kecil. Akan tetapi, saya berusaha di tahun ini untuk mencoba mengatur waktuku lebih baik.

Monday, December 31, 2007

Selamat Tinggal

Bintang itu masih menemani di Sabtu pagi
Ketika saya memintal rindu
Bersama pria pemilik senyum lengkung bulan sabit

Namun bintang hanya ilusi di Sabtu pagi
Terhapus hujan di sore hari
Bakal tiada lagi coretan cinta
Ketika jejak di pasir terhapus badai

Thanks God for this Year





Akhir 2007 ini gw kenapa jadi desperate ya? Ga semangat! Seperti cacing tanpa tulang yang tak berdaya di batu cadas nan panas, aku merasa tahun ini ’busuk’ banget deh. Hmm.. mungkin akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat akhir tahun berakhir sedih untuk kehidupan pribadi gw kali ya.

Tapi tunggu! Hal positif memang suka ketutup hal negatif. Ada baiknya aku coba list dulu hal-hal berarti dalam hidupku selama tahun 2007 :
1.Suplemen Tren & Style’07 yang ku-komandani dari sisi tulisan mendapat pujian
dan dari sisi billing juga mendapat target yang memuaskan. Tentu saja ini
berkat kerjasama dengan teman-teman sekantor, khususnya partner kerja yang solid
seperti Hiras yang jago jualan (hehe, salut sama abang satu ini...), mas Koko
dengan desainnya yang ciamik, mas Dian, mas Adhi, serta para penulis,
fotografer dan teman-teman Trafik yang bersedia gw cerewetin dan kutelpon jauh-
jauh dari Aceh :D
2.Pertengahan tahun ini aku tugas ke Aceh. Bahkan sempat menyeberang dan merasakan
snorkling di Sabang. So, sepertinya aku sudah bisa mengatakan puas pernah
melanglang ke berbagai daerah di Indonesia, meliputi Sumatra (Aceh, Medan,
Pekanbaru, Batam, Palembang, Musi Banyuasin, Silungkang & Bukittinggi Sumbar,
Lampung), Jawa (Anyer, Bandung, Jakarta, Purwakarta, jalur Pantura, Semarang,
Yogyakarta), Bali, NTB (Lombok), dan Kalimantan Timur. Sedangkan wilayah Sulawesi
(Manado & Ujung Pandang) dan Irian Barat pernah saya diami ketika ikut orangtua
bertugas.
3.Juara ke-2 Writing & Photo Competition dari salah satu pusat belanja di Jakarta.
4.Mempercantik dan memperbaharui website blogspot yang sudah lama tidak
kuurus. Serta menambah situs blog baru di Multiply (dan mendapat teman-teman baru
yang kukenal via MP).
5.Dapat teman-teman baru di luar lingkungan kantor.
6.Mengganti kamera digital saku Kodak-ku yang 4 megapiksel ke Nikon beresolusi 7
megapiksel.
7.Niat berolahraga teratur lumayan terealisasi dengan sempat rutin berenang dan
aerobik.
8.Februari’07 dapat kos baru, yang nyaman dan dekat dari kantor.
9.Pertama kali merasakan kenaikan gaji di kantor baru :p
10.Dapat bonus di akhir tahun :D
11.Anehnya.... tahun ini tahun gw paling tidak bisa menabung. Tapi alhamdullilah
rezeki ada saja...hehe...
12.Mencoba menulis ilmiah tentang komunikasi dan teknik penulisan –berdasarkan
pengalaman kerja- untuk diposting di situs Netsains.
13.Berkat tulisan tersebut, memperoleh undangan sharing pengalaman dlm pelatihan
penulisan di Kementerian Ristek.
14.Bermimpi suatu hari dapat melihat dan berkunjung ke observatorium Boscha,dan hal
ini terealisasi hanya dalam hitungan minggu karena bersama komunitas Netsains aku kesana awal Desember’07.

Apakah sejumlah pencapaian yang kubanggakan selama 2007 cukup worthy dibalas dengan kondisi ”tutup buku yang tidak indah” ?

(ohya, salah satu resolusi 2008 adalah mengecilkan pipi gembilku spt tampak dalam foto..sebenarnya bikin gw terlihat cute tapi apadaya orang lebih bilang itu 'gembil' hehe)

Wednesday, December 12, 2007

Perpustakaan Pribadi




Setiap pulang ke rumah Bogor, saya sering merasa bersalah terhadap tumpukan buku-bukuku. Mereka tersebar, ada di lemari, ditumpangkan di lemari buku Papa, atau tersimpan dalam kardus-kardus bekas.

I’m a bookaholic. Pecinta baca buku, termasuk (membeli dan) mengkoleksinya. Mulai dari komik dan serial bergambar, novel, hingga text book zaman kuliah. Termasuk juga sayang membuang majalah-majalah. Bahkan, beberapa company profile ada yang saya simpan. Cetakannya yang luks dengan sejumlah foto pendukung yang eye catching, membuat saya rela menyimpannya. Sepertinya, saya memang jatuh hati setengah mati dengan hasil karya berkat ciptaan Johannes Gutenberg ini.

Keinginan saya suatu hari memiliki perpustakaan pribadi untuk buku-bukuku. Suatu tempat yang layak untuk koleksi buku, termasuk CD dan album perangko (iya! Saya masih bisa menyatakan diri sebagai kolektor perangko dan kartu pos yang kukumpulkan sejak zaman SD)...Toh saya mengeluarkan sejumlah uang untuk membelinya.

Pernah pula Saya berandai-andai memiliki Taman Bacaan, lengkap dengan sofa berbantal empuk untuk membuat betah para tamu menikmati bacaan. Tapi, berarti hal itu high maintenance dan butuh modal bukan?



Gambar biblo :
http://www.istockphoto.com
http://www.elpais.com

Pemanasan Global (versi Pemahaman Standar)

Hujan kali ini tidak meruapkan aroma tanah
Harum yang kukangeni saat pulang ke rumah
Rerumputan hijau berganti tembok pucat
Manusia bertambah butuh rumah

Hujan kali ini tidak seperti biasanya
Aku semakin tidak mengenalnya,
Kata orang ini gara-gara pemanasan global
Iklim tak terprediksi
Es di kutub mencair
Dan membuat akhiran ”...Ber” bukan mutlak bulan penghujan

Saya tak punya mobil hybrid
Cuma tahu sejumlah tips hemat ala diri sendiri
Kantung plastik dipakai berkali-kali, produk refil lebih murah ketimbang dalam botol, Pakai kertas bolak-balik hingga lecek dan di-kilo-in ke pemulung

Kata orang sebenarnya kita cukup punya 5 pasang pakaian dalam setahun
Mungkin yang ngomong itu jagoan mix n’match handal?
Atau bukan anak kos yang ngantri mencuci?

Semua membahas perubahan iklim
Sekarang selebritas berkata “go green”
Apakah mereka masih pakai sepatu kulit asli dan berpengeras rambut?
(Katanya sih produk sekarang non aerosol)

Saya masih merindu hujan berbau ilalang
Sambil terpekur di bale-bale sembari mengulum tusuk gigi
Ugh! serat daging hamburger menyelip di geligi
Saya baru tahu pula untuk membuat daging yummy berlapis roti ini menghabiskan ribuan energi,
Dan aku memandangi tusuk gigi, ”Agh, apakah si batang kecil ini juga mengakibatkan hutan meranggas?”

Membuat Resolusi Tahun Baru

Sebentar lagi tutup tahun, ya?
Desember yang tinggal hitungan hari, bakal kamu penuhi dengan tenggat waktu berbagai target akhir tahun, resolusi yang ingin dicapai di 2008, membuka ingatan kembali apakah tujuan yang digoreskan di awal 2007 apakah sudah tercapai.

Ketika melangkah ke rak penjualan koran atau majalah, sejumlah media pasti mengingatkan kita untuk mencanangkan resolusi, lengkap dengan tips membangkitkan semangat dan susun target di tahun baru.

Kenapa sepertinya –harus- tahun baru kita mengadakan pembaharuan? Titik tolak yang idealkah? Rasanya titik mula tetapkan goal setting bisa kapan saja bukan? Bisa saja dimulai dari hari ulang tahun, saat menimbang berat badan ternyata berat sudah melewati ukuran ideal, atau saat ’ditampar’ oleh kejadian yang membuatmu tersadar bahwa kamu harus berubah.

Desember adalah bulan terakhir dalam kalender masehi, dan lingkaran tarikh itu kembali di awal pada Januari. Bagi pekerja kantor ritme kerja tetap 5 hari dari total 7 hari dalam seminggu. Tidak ada jeda Rencana, Target, Prioritas atau Deadline gara-gara ”Ini kan Tahun Baru”.

Tahun baru hanya pembenaran pesta bagi partygoers, party organizers atau industri jasa : End of The Year Sale, Gebyar Akhir Tahun, New Year’ Party, so on and bla.. bla.. bla..

Tahun baru berarti saya harus menyusun rencana di 2008, sembari tetap menyelesaikan tugas yang di depan mata. Dalam catatan agenda pun sudah mulai terisi beberapa catatan-catatan kecil dan posting.

Aghh.. kenapa saya jadi makhluk yang sinis? Tahun 2007 ini saya memulainya tanpa memiliki resolusi tahun baru. Saya sangat menikmati let it flow, kemana air mengalir. Bukan tanpa alasan. Jenuh dengan target dan kecewa dengan realisasi? Mmmm....Saya hampir 2 tahun bekerja di perusahaan sekarang –satu tahun penyesuaian dan satu tahun berikutnya dalam fase menyelami, menikmati (dan berusaha menikmati setiap keruwetan) perpindahan kerja dan penyesuaian diri.

Mungkin sudah saatnya di tahun berikutnya si ‘ranting’ pasif ini memutuskan berubah aktif, melawan arus, mengikuti riak, maupun menerabas. Ataupun menepi dalam hening untuk menguatkan langkah. Perlu membuat ”Resolusi Tahun Baru” sebelum tenggelam membiarkan waktu, hari, minggu dan bulan berlalu statis.

Oke, sebelum jam 12 malam berdentang pada 31 Desember 2007, saya sudah menggoreskan niat dan tujuan yang ingin saya capai di 2008.

Sunday, December 09, 2007

Saya Ga Bisa Posting di Blogspot (Merawat Kesetiaan)

Ternyata lebih susah merawat ketimbang membuat blog.

Posting di alamat blogspot-ku ini seperti perasaan gw pulang ke rumah ortu di Bogor :

- kangen rumah tapi ga bisa pulang karena kesibukan kerja
- pengen pulang, tapi malas untuk jalan ke terminal lebak bulus
- ingat rumah tapi punya mainan baru yang lebih menarik untuk diselami (nama mainan itu : multiply)

Iya, ada jeda yang lama saat mengisi blog ini karena kerja yang menyita waktu (walaupun ada yang bilang, seseorang yg produktif tidak menjadikan "kesibukan" sebagai alasan). Tapi kalau mau jujur, saya nge-blog di kantor, dan ternyata di kantor yg sekarang saya tidak bisa posting blog...hehe...

Ups, jangan kategorikan saya pekerja tidak produktif karena mencuri waktu melakukan hal yg bukan kerja inti. Nggak! Cuma, saya mengalami masalah kemudahan posting. Ga tau kenapa di kantor yg sekarang, saya tidak menemukan masalah untuk bisa membuka situs blog diri & milik sendiri. Hanya saja, kalau saya mau membuka account blog, maka setelah itu web menampilkan pesan error dsb (maaf ndak ngerti teknologi jd ga bisa jelasin masalah secara terperinci). Intinya saya tdk bisa posting tulisan secara lancar di blogspot, keinginan menulis tetap menggebu-gebu, dan akhirnya punya pelabuhan baru di layanan blog yang lain.

Akhirnya saya membangun rumah kedua di ranah maya pada layanan multiply. Web itu membawa kebahagiaan baru ketika saya bisa posting foto, tulisan, dsb, serta bisa menambah kenalan baru sesama pemilik account multiply. Ego pribadi saya terasa dielus-elus ketika tahu blog saya membuat teman lain mampir berkunjung. (Ups, saya sudah mengarah pada narsistik kah?)

Saya tidak bermaksud membandingkan dua fasilitas layanan online diary itu. Blogspot adalah rumah pertama, yang selalu menjadi tempat perdana untuk berlabuh. Namun, saya juga ingin merawat kesetiaanku pada situs yg sudah kubuat di MP. Saya sendiri tidak membuat klasifikasi apa yang harus kuposting di blog dan kategori layaknya kutuliskan di dalam MP. Jalani saja. Mmm, adakah orang yang kehilangan tulisanku di blogspot? duh, ge er sekali saya ini :))

Adakah yang mau mampir bertamu ke rumah pertama dan rumah kedua Saya? Saya bakal sambut dengan senyum manis si emoticon :) dan secangkir kopi hangat nan harum.

:)

Kalau dipikir-pikir, emoticon :) rasanya paling sering kugunakan. Saat menuliskan pesan di SMS, membalas dialog teman di YM, atau ketika menyapa rekan di shoutbox, tulisan email dsb.

:) mewakili senyuman manis. Menjadi pengganti lengkung senyum bibir saat kita berdiskusi dalam tatap muka langsung. Menandakan kita mengamini pembicaraan lawan diskusi.

:) sebagai penanda sikap ramah, dan menjadi salam penutup bahasa tertulis ketimbang sekadar tanda titik atau "."

Monday, November 12, 2007

Alasan Pindah Kerja

“Eh, tau si A mau resign ? Dia kan bakal pindah ke perusahaan X,” kata teman saya di suatu pagi yang belum sibuk di hari kerja.

“Oh.. kapan cabutnya? Akhir bulan ini?” tanyaku sambil menyesap kopi encer yang kini harus kunikmati setelah berkali-kali maagku kambuh akibat addict kopi super kental.

“Idih, malah udah mengajukan surat resign say… Katanya gaji di perusahaan X besar lho,” balas temanku itu. Saya pun manggut-manggut. Kami, saya dan teman minum kopi di pagi hari, serta si A yang menjadi obyek pembicaraan, bekerja di perusahaan sama. Di tingkatan strata jabatan yang hampir sama meski beda divisi, maka tentu tanpa bertanya, atau tepatnya saya malas bertanya, saya mengerti definisi “besar” di akhir kalimat teman saya tersebut.

“Iya ya. Orang berhak mencari yang lebih baik,” sahutku. Teman saya menyahut tanda setuju hal itu.

Mungkin jika kamu dalam posisi saya, mendengar kabar tersebut, apa yang terbersit dalam otakmu? Macam-macam. Betapa beruntungnya si A dengan rezeki yang lebih “besar” itu. Tiba-tiba menghitung sudah berapa lama bekerja di kantor yang sama, dan merasa perlu mencari pekerjaan baru dengan alasan ternyata masih ada rumput tetangga yang lebih hijau. Atau, jadi teringat resolusi kerja yang kamu niatkan di awal tahun dan bertanya-tanya apakah sudah tercapai?

Mungkin saja “besar” bagi seseorang tidak identik dengan gaji. Tapi bisa saja misalkan keseimbangan pribadi antara kerja dengan pengembangan pribadi. Kalau mengutip tips karier di media massa atau media online, gaji dan fasilitas menjadi salah satu komponen penentu alasan kamu pindah kerja atau bertahan.

Semakin menggilanya kemacetan di Jakarta bisa juga menjadi alasan mengapa Anda memutuskan pindah kerja atau ganti kuadran profesi seperti ajaran Robert Kiyosaki. Seandainya kamu bangun 05.00 pagi untuk persiapan ke kantor, terus jarak tempuh rumah-kantor bisa memakan waktu 1,5-2 jam, kemudian jam pulang pun memakan waktu 2 jam bahkan lebih, rasanya berapa banyak waktu yang terbuang di jalan. Kalau sudah demikian, saya kadang berandai-andai perusahaan memperbolehkan pekerjanya untuk bekerja di rumah dan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti Internet, fax dan telepon. Tentu saja biaya yang ditimbulkan perangkat ini menjadi komponen fasilitas yang dibayar oleh kantor :p

Apapun pilihan kerja, termasuk bertahan atau pindah, itu adalah bagian pilihan hidup. Setiap orang punya alasan menemukan dan menentukan pilihan-pilihannya.

Friday, November 02, 2007

Nasionalisme dan Produk Dalam Negeri

Suatu majalah internal pusat perbelanjaan dalam edisi 17 Agustusan mewawancarai beberapa konsumennya soal nasionalisme. Mereka ditanya bagaimana mempertahankan nasionalisme dan rata-rata menjawab dengan menggunakan produk dalam negeri.

Jika saya disuruh merealisasikan jawaban tersebut dalam sikap, tentu paling gampang adalah : memilih mengenakan daster. Iya kan. Daster batik yang memang asli dibuat di Yogyakarta, dikerjakan secara handmade oleh pengrajin batik ber-KTP D.I. Yogyakarta dengan memanfaatkan lilin malam. Sekalian saja, saya rajin mencuci batik tersebut dengan Lerak.

Tapi sekarang jadi balik bertanya, definisi produk dalam negeri itu seperti apa : merek lokal; dibuat di dalam negeri sendiri dan dihasilkan oleh SDM lokal; atau berarti menggunakan produk kerajinan UKM?

Padahal, sebut saja kita minum air mineral berlabel Aqua. Merek itu memang buatan lokal dan sumber bahan baku berasal dari mata air dalam negeri. Akan tetapi pemegang saham perusahaan kan Danone yang notabene perusahaan asing.

Semen memang berbahan baku gamping asli Sukabumi atau daerah di Indonesia lainnya. Namun apakah kita jadi tidak membangun rumah karena nama-nama pemodal asing seperti Holcim, HeidelbergCement, dan Cemex masuk di dalam jajaran pemegang saham perusahaan semen lokal?

Apa kamu, atas nama cinta dalam negeri, tidak mau memanfaatkan komunikasi via telepon selular gara-gara pemegang saham operator telekomunikasinya adalah negeri jiran dan pembangun jaringannya juga perusahaan asing? Padahal kamu tentu sudah merasakan hidup lebih mudah gara-gara yang namanya Handphone dan Internet.

Saya pribadi tentu tidak mau menukar kosmetik saya ke merek lokal demi cinta produk dalam negeri. Daripada muka saya jerawatan dan merah-merah gara-gara tidak cocok, lebih baik saya merogoh kocek untuk merek asing yang memang sesuai kulit saya.

Mungkin sebenarnya kompleks ya? Tidak sekadar slogan “Aku Cinta Produk Indonesia” yang rasanya itu sudah menjadi romantisme awal negara kemerdekaan. Dan kini kita hidup di dalam bumi yang mengenal istilah ‘kapitalis’, ‘liberalisme’, dan ‘pasar bebas’. Ketika mencomot barang belanjaan di gerai hipermarket tentu tidak (jarang) mempedulikan apakah itu dibuat oleh perusahaan PMA atau PMDN, apakah produsen taat bayar pajak. Yang penting cocok harga, cocok mutu, sesuai kebutuhan, lalu pindahkan ke keranjang belanja.

Tapi, bagaimana jika menjawab cinta tanah air dan nasionalisme melalui tidak melakukan illegal logging dan tidak membuang sampah sembarangan yang berujung pada banjir dan longsor.

Cara lain dengan meminimalkan pemakaian kantung plastik kresek dan siap sedia membawa tas tenteng dari bahan kain. Lebih memilih kemasan refill, dan mendaur ulang botol beling atau plastik untuk perangkat lain.

Tertib dalam mengantri dan tertib mematuhi perundang-undangan, maupun rambu lalu lintas. Memenuhi kewajiban membayar pajak dan juga agar pengemban uang pajak memanfaatkan dana tersebut dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat seperti slogannya.

Seandainya ada yang perhatian terhadap pembangunan ruang publik berupa taman, perpustakaan umum, scientific center dan gedung kesenian.

Apakah saya juga mesti berdamai dengan e-book gara-gara berjuta hektare pohon musti ditebang demi memenuhi kebutuhan kertas bahan baku buku, majalah, dan koran?

Wednesday, October 24, 2007

Selamat Jalan, Mbah Dauzan...

Saya ‘mengenal’ dirinya dari Kompas tahun 2004. Dan dari posting milis yang dikirimkan oleh teman, saya mengetahui bahwa beliau meninggal. Beliau yang kumaksud adalah Dauzan Farouk, sosok yang dikenal dengan Perpustakaan Keliling Majalah dan Buku Keliling Bergilir (MABULIR) meninggal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu pagi (6/10/2007).

Bapak delapan putra-putri kelahiran Kampung Kauman, Yogyakarta pada 1925 itu, mendirikan Mabulir karena terinspirasi dari masa kecilnya membantu ayahnya, H. Muhammad Bajuri, yang mengelola Taman Pustaka Muhammadiyah pada zaman sebelum Indonesia Merdeka.

Sosok yang saya lihat di media cetak nasional pada 3 tahunan lalu, saat itu sudah ringkih termakan usia. Namun, sebagai bookaholic, saya terpesona dengan “perjuangannya”. Pada tahun 1989 Mbah Dauzan menghabiskan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 untuk membeli buku kemudian mendirikan perpustakaan bergilir bernama Mabulir. Mbah Dauzan pun berkeliling kota Gudeg mengedarkan buku-bukunya secara gratis.

Setiap hari sejak bangun tidur, lelaki tua itu membaca buku, merapikan dan memperbaiki sampul sebagian buku-bukunya yang mulai rusak. Aktifitas meminjamkan aneka buku dilakukannya sore hari dengan bersepeda atau naik bis kota. Ia mendatangi kelompok bermain anak, siswa-siswa di sekolah, remaja mesjid, dan pemuda Karang Taruna. Kelompok pengajian, tukang becak yang tengah mangkal, bahkan para ibu penjual di pasar-pasar, tak luput menjadi ‘sasaran’ untuk dipinjami buku secara gratis.

Konsistensinya membuahkan penghargaan seperti Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tahun 2005 , Paramadina Award 2005 dan Lifetime Achievement Award dari Sabre Foundation, sebuah NGO di Massachusetts, Cambridge. Pada April 2007 di acara World Book Day Indonesia, Mbah Dauzan Farouk mendapat gelar sebagai Pejoeang Literasi Indonesia.

Tapi tentu bukan penghargaan yang Mbah Dauzan cari. Namun tentu ini adalah kata hati yang direalisasikan dalam bentuk nyata untuk suatu nilai yang tidak kuantitatif.

Saat kecil, saya memang lumayan hidup berkecukupan aneka buku dari orangtua. Mulai dari buku pengetahuan umum, biografi ringan, komik-komik, buku dogeng, maupun majalah dan Koran. Saat berkunjung ke perpustakaan daerah saya sempat berkomentar dalam hati, “Lho, ternyata masih lebih menarik koleksi buku di rumah saya.” Tapi mohon maaf kepada siapapun yang tersinggung pada pikiran saya saat itu, karena saya baru sadar setelah beranjak dewasa bahwa tidak semua orang bernasib seperti saya. Orangtua saya, meski kondisi hidup bukan terbilang mewah, namun masih meluangkan uangnya untuk menambah khazanah pengetahuan semua anak-anaknya. Selain itu, saya kebetulan mengenyam pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas di sekolah yang perpustakaan nya memadai dari segi fisik ruangan maupun koleksi.

Akan tetapi, tentu tidak semua bisa seperti saya kecil. Ongkos produksi buku yang terus menerus melambungkan harga jual, begitu banyak pilihan buku yang tidak bisa diikuti kondisi finansial, atau karena kebutuhan primer yang mau tidak mau harus dicukupi sehingga buku menjadi prioritas tersier, masalah aksesbilitas bacaan, dan problematika mencerdaskan bangsa, tentu menjadi salah satu dari sekian banyak alasan mengapa kita membutuhkan banyak Mbah Dauzan.

Mbah Dauzan selalu membaca semua buku sebelum dipinjamkan kepada para pelanggan, walaupun untuk membacanya harus menggunakan kaca pembesar, sebagai bentuk ingin memberikan bacaan yang terbaik.

Lelaki yang tidak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Timur Universitas Gadjah Mada itu telah mengambil peran dalam mencerdaskan manusia melalui buku bacaan yang dipinjamkan dari satu tangan ke tangan lain. Namun satu hal yang harus diingat pula, ketika berurusan dengan ‘pinjam meminjam buku’ maka problem lainnya adalah kadang pembaca buku tidak memperlakukan buku dengan layak. Pernah menemukan buku perpustakaan yang disobek pada halaman tertentu? (Bahkan saya pernah menemukan hal ini di koleksi skripsi S1 di perpustakaan). Pernah mendapat buku yang dikembalikan dalam kondisi lecek, keriting, atau, lebih parah, terkena minyak? Nah, saatnya kita juga memulai menumbuhkan semangat “Sayang Buku”. Meski itu bukan milik kamu pribadi.

Namun, sosok seperti Mbah Dauzan tidak berpikir materi. Ia meminjamkan dengan sistem bergilir, yang disebutnya sebagai sistem multilevel reading. "Mengelola perpustakaan keliling adalah bisnis dengan keuntungan abstrak. Landasannya kepercayaan sehingga aturannya tidak perlu birokratis. Dagangan Tuhan. Tidak perlu ada KTP atau apa.
Sesama manusia saudara, harus bisa dipercaya," ujarnya seperti dikutip dari Kompas.

Perjuangan Mbah Dauzan telah berhenti hingga hembusan nafas terakhir dan jazad dimakamkan di Makam Pejuang 45, Gamping Sleman Yogyakarta. Selamat jalan Pejuang Literasi Indonesia….

(sebagian sumber tulisan dikutip dari www. muhammadiyah. or.id dan Kompas)

Sunday, October 21, 2007

Merenungi Hidup (Umur Tambah Setahun)



Selang sehari setelah hari ulangtahun, Saya justru jatuh sakit. Dimulai dari demam, dan diikuti perut perih. Kukira radang tenggorokan biasa, hingga akhirnya perutku semakin melilit (hm, kurasa maag kambuh), pusing, dan lemas.

Hingga membuat diriku merasakan terbaring di IGD rumah sakit. Pertama kalinya merasakan jarum infus membantu pemulihan cairan di dalam tubuh.

Membuat saya ingat bahwa lagi-lagi saya belum menghargai hidup. Si kopi addict ini masih melanggar aturan, dan masih ‘bermain-main’ dengan hembusan nafas karunia Tuhan. Ia ‘menampar’ diriku kalau saya perlu merawat diri, belum banyak rencana yang kurealisasikan, dan semua itu bakal tak terwujud jika kesehatan tidak dijaga.

Tambah usia artinya tambah bijak, tambah cantik, tambah banyak rezeki, tambah tabah dalam cobaan. Semua harap itu pasti akan direstui olehNya.

Hehehe… terima kasih kepada orangtua, kakak, abang, keponakan, sahabat-sahabat, mantan teman kuliah, maupun teman kantor yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada diriku. Terima kasih atas doanya :)

Friday, October 19, 2007

Aku dan Bintang (Berharap Bertaut)



Aku dan Bintang terpisah rentang
Berharap bercengkerama di padang ilalang
Menikmati kelam, mengecup kasih
Berteman langit malam

Aku dan Bintang tengah mengatup harap
Menyebutkan satu permintaan
Semoga kisah ini abadi

Aku dan Bintang bertemu di padang ilalang
Merajut mimpi, mengait degup
Hingga sang mentari membunuh ksatria kejora

Monday, October 01, 2007

Mumet

Tik tok
Tik tok
Sejumlah menit berganti jam
Tampilan layar di depan mata masih kosong
Tiada kata terpampang
Agh! Ga punya ide nih!

Maaf, Kalau Blog Ini Lama Dikosongkan

Maaf kalau blog ini lama dikosongkan.
Bukan saya melupakan ranah pribadi tempat mencoret-coret segala yang saya mau.
Cuma karena keterbatasan net, tidak punya ide, dsb....

Sunday, September 30, 2007

Bercabang


Kau tawarkan senyum indah
Saat aku merindu dia
Ku menikmati sanjungan
Setiap degup rinduku terbagi

Thursday, September 20, 2007

Renungan Ramadhan


Saya lagi tidak puasa, tapi harus menahan haus dan lapar. Alasannya, saya harus menghormati yang sedang menjalankan ibadah tersebut. Ketika saya mulai berpuasa, tidak ada yang memahami saya baru tahap penyesuaian, sementara orang sudah menghitung hari ke-4.

Para penjaja makanan dekat kantor rata-rata pulang kampung, tanpa berpikir masih ada peluang konsumen (dengan kata lain, ada peluang penghasilan). Kenapa orang harus mudik di saat awal Ramadan, padahal masih ada waktu lebih kurang 30 hari berjualan buat tambahan uang pulang saat Lebaran?

Di antara 12 bulan dalam setahun, kenapa hanya 1 bulan menjadi momen kita beramal dan beribadah?

Dan kenapa hanya 1 bulan, kita harus menahan emosi, memilih tutur kata untuk dilontarkan, menata perilaku, di atas menahan haus & lapar?

Berapa kali kamu membicarakan orang, baik kelebihan maupun kekurangannya? Berapa kali sehari kamu berkeluh kesah yang ujung-ujungnya menunjuk orang lain sebagai biang problematika? Berapa kali kamu ‘menginjak’ orang demi kesenangan dan kenyamanan pribadi?

Mengapa harus saya yang menahan diri, padahal orang itu menyebalkan? Katanya emosi gampang meledak kalau lagi menjalankan ibadah puasa, tapi aku rasa di luar bulan Ramadan pun ada kelakuan seseorang yang sudah dari sononya……. Harus orang tersebut yang bercermin dan mengubah perilaku, dan bukan kita (saya dan orang lain di sekitarnya).

Jadi, mending saya cabut tidak usah melihat mukanya. Terserah momen Ramadan akan berlanjut menjadi perayaan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan, tapi kadang ada perilaku yang tidak bisa dibasuh dengan bersidekap tangan dan cium pipi kiri dan kanan, lalu mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Lebih baik saya angkat kaki, dan mencari keteduhan di tempat lain.

(photo by : Eno)
(location : Pantai Senggigi, Lombok, 9 Nov'06)

Wednesday, September 05, 2007

Dreams (2)



Mau lanjutin lagi cerita Mimpi Saya...
Oke, Mimpi no.2 saya adalah bisa membeli dan memakai Sepatu Manolo Blahnik :p Tahukah kamu kalau sepatu tinggi adalah lambang keseksian seorang wanita? I wish I could buy Manolo Blahnik tanpa rasa bersalah :p

[mungkin gara-gara kejadian yang saya posting di http://auraazzura.multiply.com/journal/item/5/Kaki_Orang_Kaya_?replies_read=2 ]

Sekolah lagi : Saya pengen kembali ke bangku kuliah. Mengambil strata S2 dari dulu ga kesampaian. Hehehe.. saya kadang terkesan doyan kursus. Tapi walaupun pembelajaran bisa didapat dari mana saja (komunikasi, pengalaman hidup, baca dsb) tapi rasanya saya masih ingin menaikkan pendidikan saya secara formal. Sudah pernah mengalami mencari info sana sini dan prepare TOEFL, tapi trus dapat kesempatan kerja. "Bukankah bekerja adalah kesempatan tidak datang 2 kali, sementara belajar alias kuliah bisa dikejar di lain waktu?" pikir saya dulu begitu. Akan tetapi, pekerjaan memang membuat waktu saya tersita. Ups, saat ini membangkitkan semangat untuk sekolah lagi saja susah. Membayangkan kuliah sambil kerja, rasanya tidak sanggup deh! Saya mengaku salut kepada temanku Hazis yang berani memutuskan meninggalkan pekerjaan & serius dgn studi S2-nya:) Yap! tapi itu tadi kan? Keinginan boleh saja saya tuliskan. Semoga suatu hari terealisasi... :)

Keinginan lain, jika saya memiliki waktu luang adalah mencoba belajar menjahit. Mama dan kakak-kakak perempuan saya rata-rata jago memasak. Setidaknya masing-masing punya keahlian mengolah bumbu2 dan bergaul dengan panci dan sodet. Kalau saya? Hmm, memang belum pernah dibuktikan. Walaupun sewaktu sekolah di SD Tarakanita II, saya pernah mendapatkan pelajaran tambahan tsbt, namun saya termasuk tidak minat pelajaran tsbt. Namun, ketika di SMP saya mendapat pelajaran Menjahit, saya menyukainya. Rasanya ketrampilan yang identik dunia wanita tsbt sama spt saya membuat prakarya. Nilai menggambar pola dan kerapihan menjahit saya termasuk tinggi. Saya menyukai kain, pakaian indah, dan meski sekarang paling terbatas membuatkan gambar wanita lengkap dgn busananya untuk ponakan saya, Rani, yang sangat girly. Niat lainnya, seandainya punya suami dan anak, bakalan saya buatkan mereka baju jahitan saya sendiri.. (tips hemat ala Eno hehe).

Tuesday, September 04, 2007

Dreams (1)

Sori ya kalau judulnya saja yang berbahasa Inggris. Dalam artikel ini saya menempatkan “Dreams” atau “Impian” sebagai etalase hal2 yang ingin kita capai dalam kehidupan kita. Katanya, kalau kita punya impian, maka kita termotivasi untuk bekerja merealisasikannya.

Saya sendiri merasa lagi hilang motivasi setelah menabung untuk membeli laptop secara tunai sudah tercapai, dan bekerja menjadi copywriter di institusi media yang dulu saya idamkan.

Saat ini saya sangat menikmati pola “let it flow” dan saat ini tengah ketakutan bakal terhanyut. Maka saya berniat menuliskan daftar impian saya. Boleh saja gila-gilaan, karena namanya juga Mimpi. Mana yang akan saya realisasikan atau prioritas untuk dikejar, tentu berdasarkan logika dan itu urusan pribadiku. Saya cuma mencoba men-share kepada teman-teman yang membaca blog ini.

Salah satu keinginan adalah Punya Rumah Pribadi.
Waktu kecil saya sering berenang di kolam ikan di rumah ortu. Benar! kolam ikan kebetulan berbentuk persegi panjang. Untuk tubuh saya yang saat itu SD kelas 1, berenang di dalamnya bisa membuat 3 kali gerakan gaya kodok untuk bergerak dari ujung yang satu mencapai ujung lain. Meski tante dan nenek saya sering memarahi kebiasaan saya, karena sering berujung jadi pilek:p Saya sempat berkhayal punya rumah yang dihuni sendirian dan punya kolam renang pribadi (supaya tidak ada yang marah2 kalau saya nyemplung). Hanya saja, sekarang saya tahu kalau kolam renang pribadi itu high maintenance dan harga rumah juga selangit, maka sekarang impian memiliki Rumah mungil dengan taman berumput hijau, dipenuhi pada beberapa bagian dengan bunga-bunga seperti anyelir dan dahlia hasil bercocok tanam sendiri.

Sunday, September 02, 2007

Pengingkaran Rencana

Rencananya sih, Sabtu mau ke kantor. Rajin? Lagi banyak kerjaan, butuh merapikan meja kantor dan file, dan semua hal yang lebih enak di saat sendiri, tanpa ada rekan-rekan kerja di sekeliling kita. Namun, ternyata godaan pulang kampung lebih besar:D Jadinya, Sabtu siang saya segera mengemas kerjaan, my pal Buttercup, dan tumpukan cucian, cabut ke terminal Lebak Bulus.

Akhirnya, sih saya memang begadang. Tapi begadang untuk browsing Internet dan menulis blog ini.. Ah, memang 1 minggu itu idealnya kerja selama 5 hari, 1 hari libur, dan 1 hari tambahan untuk istirahat sebelum memulai daywork.

Rencana lain, saya sudah berencana pada Sabtu untuk membuat bola-bola coklat. Satu resep yang simpel, membutuhkan bahan terdiri dari biskuit regal yang ditumbuk jadi tepung, mentega cair, susu coklat, dan meses. Tapi, lagi-lagi tidak terealisasi. Masalahnya, saya sampai sekitar jam 1 siang di terminal Baranangsiang Bogor. Rencana mampir ke Giant di Botani Square yang tidak terlalu jauh dari terminal. Namun siang yang terik, kemacetan lalu lintas ditambah kondisi gerah di angkot sudah membuat saya malas untuk turun dan menyeberang ke pusat belanja tsbt. Yah, toh masih ada hari libur dan hari istirahat lainnya.

Monday, August 20, 2007

Nama Pena

Sayap patah?
Dudy funny clown?

Hmm…otak saya segera memikirkan berbagai ide nama, yang pasti konyol, ketika saya disuruh mencantumkan "Nama Pena” untuk keperluan penulisan puisi.

Nama Pena? Pilot, Zebra, Standard, … hehe dasar dodol. Tentu bukan nama Merek pena dalam arti harfiah.

Tetapi saya memang ‘kering otak’ dan tidak punya ide kalau harus mencari nama samaran yang indah untuk diri sendiri. Nama penulis yang harus kucantumkan bersama karya yang kubuat. Yang setidaknya bisa membuat orang termehek-mehek atau ‘eye-catching’ dan berlanjut menjadi ‘ear-catching’ saat melihat dan menyebut Nama Pena-ku. (Toh sekarang era penulis online, jadi perlu melihat, baca dan sebut…) lalu membaca karyaku..

Dan, membaca nama-nama cantik yang tercantum dalam milis puisi yang kuikuti, semakin membuatku terintimidasi....Mungkin karena, “hari gini pake nama samaran?”
Meski kadang sampai sekarang aku masih sering dapat pertanyaan atas namaku yang tidak nyambung, memakai nama yang lazim digunakan 2 suku di Indonesia, tapi saya hanya tersenyum dan begitulah nama pemberian dari ortu saya.

Walaupun nama saya pasaran, tapi saya tetap punya panggilan sayang dari keluarga. Makanya saya ingin mencantumkan nama “Dudy”… walaupun saya bukan pelawak di keluarga …But, that’s my nick name.

Argh, apalah artinya nama? Ah, Shakespeare asal ngecap tuh! Jelas-jelas supaya ga salah manggil orang. Misalkan, jika kita mencari yang namanya Dewi di kantor, orang akan memastikan lagi, siapa yang dicari. Dewi Retno, Retno Dewi, Restu Dewi, Dewi Sulistyowati, dsb… atau Dewi yang kerja di divisi apa? (Rasanya lama-lama memang selain nama, job desk dan jabatan menjadi berperan besar).

Gimana kalau, “Menanti Pagi?”
Karena saya –cenderung- makhluk nocturnal. Pemalas di pagi hari, dan baru menemukan semangat bekerja ketika mentari mulai terbenam. Bukankah Pagi identik dengan ‘kebahagiaan’, ‘awal yang baru’, ‘sesuatu yang bagus’, sementara malam identik dengan kelam?

Dan, nama adalah doa. Seperti orang tua yang menaruh doa kebahagiaan dan harapan di nama sang anak. Jika saya mencantumkan nama “Menanti Pagi” maka kerjaan saya menunggu melulu……… :p

Hmm… Hmmm… Saya suka tokoh mandiri Srikandi. Gimana kalau “Srikandi Pena” hua haha lebih huancur lagi… Kayak julukan di zaman bela negara dan kemerdekaan deh!

Duh! Belum nemu ide nih. So far ya sudahlah nama sesuai KTP dan nama blog ini saja ya....

[Saya mulai menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis blog]

Tuesday, September 19, 2006

Oh Idea, Where aRe YoU?

Oh Idea, Where aRe YoU

Idea = inspirasi = ide =…


Seorang teman pernah mengatakan dia tidak bisa membayangkan bekerja berdasarkan inspirasi seperti profesi saya yang tukang nulis.


Dan saya pun tidak bisa membayangkan diri saya seperti dia yang (dalam bayangan saya) menekuni komputer, kode angka, program dsb.


Mendengar kata ‘fisika’ seperti jurusan dia kuliah dulu saja, sudah membuat diri saya terlempar pada ingatan pelajaran fisika SMA saya yang banyakan nilai merah.


Meski di SMA dulu saya memilih bidang ilmu pasti, tetapi saya bego fisika. Sumpah! Saya cuma senang disuruh ngitung2 kayak pelajaran Aritmatika dan Aljabar tanpa mengerti gunanya hitungan ini untuk apa….. Belajar kimia pun tertatih-tatih. Dan waktu milih A2 (ilmu biologi) karena pemikiran saya paling tidak dengan masuk jurusan eksakta saya masih bisa tes di itb untuk masuk jurusan seni rupa. [Dan saya pun akhirnya tidak pernah ikut tes disana :p]


Tetapi memang belakangan ini saya merasa otak telah dalam kondisi ‘terperas-peras’ untuk menghasilkan advertorial.


Dari mana ide saya muncul? Dari mana saja termasuk ketika saya bengong. Betul! Dengerin lagu, sambil mengkhayal tiba-tiba cling…timbul inspirasi tulisan. Sedang mandi, tiba-tiba saya punya arah penulisan artikel pendukung minuman isotonik.


Atau dengan menghisap sebatang rokok ketika otak lagi buntu. Tapi, ini tidak sehat bukan? Jangan membiarkan si tembakau membakar paru-paru demi tulisan.


Ide bisa muncul melalui baca buku, majalah, nonton film, atau diskusi sama teman. Membaca buku dan majalah selain tambah ilmu juga bisa menjadi sarana menjelajahi kosa kata.


Jika di kantor saya belum menemukan inspirasi padahal hampir deadline, maka saya akan memandangi poster Zidane yang saya tempel di dinding kubikel. Browsing di Internet dan ngintip blog temen. Atau mulai bongkar-bongkar dan membaca majalah (pantas saja meja kantor saya tidak pernah rapi). Kalau meja atau tempat kerja saya berantakan, itu tandanya saya mulai bekerja


Fotografer saya membuat saya tahu kalau sedang berpikir tanpa sadar saya akan mengerutkan dahi dan tatapan mata saya bengong-bengong kosong. Ketahuan otak saya melayang tidak menyimak omongan orang :>>


Bahkan, saat menjelang tidur, inspirasi juga bisa muncul. Cara terbaik adalah begitu ada ide di otak, segera tuliskan. Paling efektif adalah menuliskannya di kertas. Makanya sampai saat ini saya suka menyimpan sebuah agenda di tas. Berhubung saya masih naik turun kendaraan umum, notebook (baca : buku notes) adalah cara efektif dan tidak mencolok seperti PDA atau communicator. Dua benda terakhir ini pernah saya tenteng, dan sst bener gua tetep masih lebih doyan cara konvensional nan tradisional:D


Tetapi bukan berarti gua anti teknologi kok. Karena cara lain menyimpan ide yang melintas di otak, adalah memasukkannya ke dalam draft SMS ponsel.


Dan terakhir, ‘practice make it better’. Banyak menulis atau jika ide belum muncul, tuliskan apa saja yang ada di otak atau bahan penulisan yang kamu punya. And let it flow…..:)

Monday, September 18, 2006

18 September 2006

Bogor, 18 September 2006

Berharap seseorang malam ini menyadari bahwa dirinya membuat saya merasa nyaman.

Membuat saya bisa kembali merasakan arti rindu dan penantian.

Membuat saya ingin berlindung dan menghembuskan cinta di dirinya.




Thursday, September 07, 2006

I Don’t Want to Miss A Thing

I Don’t Want to Miss A Thing

Saya suka banget denger suara Steven Tyler di lagu “I Don’t Want to Miss A Thing”. Lepas dari memang penggemar Aerosmith, Suara Tyler sangat, ughh, cadas! Tapi menyanyikan lagu berlirik menyentuh. Gahar namun menyuarakan cinta. Jadi terasa sangat jujur;)

Rasanya saya memang terbawa dalam khayalan berharap ada seorang lelaki yang akan membisikkan kata-kata ini jika bersama saya : “I could stay awake just to hear you breathing/ watch you smile while you’re sleeping/ while you’re far away in your dreaming/I could spend my life in this sweet surrender/…..”

Melontarkan mimpi romantisme bahwa memang ada seorang pria yang memandangi wajahku sembari membayangkan diriku adalah bidadari. Meski saat itu saya tanpa polesan make up yang mendongkrak rasa percaya diri dan perasaan cantik saya. Menelusuri wajah saya yang (sayangnya) tidak mewarisi muka oval dan hidung mancung ibu saya, ditambah lagi tulang pipi saya yang tinggi sangat khas Batak..mm..

Lying close to you, feeling your heart beating/ And I’m wondering what your dreaming/Wondering if it’s me you’re seeing/ Then I kiss your eyes/ And thank God we are together, …..”

Indahnya kehidupan, bila dalam kenyataan ada seseorang bersyukur menemukan dan memiliki Saya;)

Aghh…. saat ini saya memang menikmati menjadi si platonis dan yakin dia tidak punya perasaan seperti saya.

Basa basi dan tegur sapa memang kerap dilakukan karena memang kami saling mengenal. Namun, jika dia punya perasaan sama seperti saya, maka dia pasti menunjukkannya. Memberikan perhatian lebih dan mengungkapkannya. Karena saya sudah terbiasa akan perhatian, dan butuh pernyataan. [Meski seorang teman berkata gaya seperti itu kelakuan anak SMP yang butuh ‘ditembak’ dulu. Biarin deh…toh memang dari dulu saya mengalami hal seperti itu.]


Dan saya dengarkan lagu itu sampai selesai : ... I Don’t Want to close my eyes/ I don’t want to fall asleep/ Cause I’d miss you babe/ And I don’t want to miss a thing!!!



Monday, September 04, 2006

Bukit Baros

Bukit Baros

Sejak bekerja, saya sudah tidak tertarik lagi yang namanya naik gunung, hiking atau camping. Sudah cukup semasa sekolah atau kuliah, untuk berlibur cari tantangan, cara gembel atau gaya pramuka. Liburan bukan bikin badan pegal. Makanya saya tidak bakal melirik liburan seperti ke kampong Badui, arung jeram atau rafting. Makasih deh….


Lebih baik saya walking menyusuri Orchard Road, Kuta, atau aneka pasar cenderamata karena radar belanja saya segera bekerja jika berada di tempat wisata.

Untuk keperluan dinas, rasanya sudah standar harus di hotel. Dari hotel bintang lima sekelas Nusa Dua atau paling tidak punya shower air panas, tv menyiarkan HBO, dan kolam renang. Minimal melati 3 seperti waktu saya ke Bontang, itu pun sudah ber-AC, dengan kamar luas dan cukup bersih.

Cuma satu yang ingin saya coba, naik gunung Bromo jika nanti honeymoon :-p

Makanya cukup kaget ketika saya harus merasakan lagi yang namanya tidur di tenda. Undangan suatu perusahaan elektronik memang sudah jelas mengatakan untuk ‘back to nature’ dengan susunan acara presentasi dan outbound. Tetapi ketika datang ke Bukit Baros, Sukabumi, yang acaranya berlangsung antara 2-3 September 2006, benar-benar mengagetkan ketika sadar bahwa memang kita disuruh tidur di tenda. Ada kapling tenda cewek, dan tenda cowok. Ada kamar mandi khusus wanita dan pria. Pokoknya mengingatkan saya dengan keadaan taman wiladatika Cibubur (aduh, bener ga gini tulisannya? Pokoknya tempat biasa kemping anak Pramuka itu lho..)

Jadi terbayang, kenapa tadi pagi saya tidak kesiangan bangun supaya ditinggal bis rombongan? Ditambah lagi, kunjungan bulanan saya masih berlangsung saat itu. Duh lengkap sudah penderitaan…..

Tetapi ternyata ke-bete-an itu terhapus dengan rekan-rekan yang asyik dan baik-baik. Saya dapat kenalan-kenalan cewek baru. Mbak Dita (thx u for being the Mam for all the girls in the camp..hehe), Yohana (aduh jeng, kamu super duper rame ya..), mbak Suli, Nadia, dan banyakan sudah saya kenal sebelumnya seperti Evi, Dwi, Ovi, Yuni, mbak Tati, mbak Ida. Meski jumlah peserta cewek kalah banyak dari pria, tetapi justru paling heboh….

Malam hari kondisi Sukabumi berubah menjadi dingin. Penerangan cuma bersumber dari lampu senter ditambah penerangan minyak tanah.

Aku sendiri kebagian tidur di tenda ujung bersama Metha dan Evi. Dan malamnya ketambahan satu orang lagi, Mbak Noor, dari perusahaan terkait. Cukup menimbulkan kehangatan di tenda kami yang lumayan lapang. Tidur menjadi ajang ‘kemulan’ di dalam sleeping bag masing-masing.

Paginya, saya disambut guyuran air yang segar dan dingin. Asli rugi kalau tidak mandi :D

Senam pagi, minum susu segar…dan dilanjutkan acara ‘penggojlokan’. Nah ini dia! Acara kelompok dengan mengikuti games-games membangun teamwork. Termasuk juga main paint ball, nyusur sungai, turuni lereng tebing, dan nyebrang sungai. Tetapi meski lusuh, kami semua tetap style jika difoto. Thanks untuk Pak Nanang fotografer Republika yang rajin foto-fotoin kita:-p

Minggu sore kami pulang ke Jakarta. Dari dalam bis saya menikmati pemandangan sawah nan hijau, atau singkapan-singkapan batuan yang terbentuk secara alami. Selanjutnya : tentu lebih baik tidur. Selain capek, ini cara terbaik daripada bete lihat kemacetan yang terjadi sepanjang jalur lampu merah perempatan Ciawi.

Hari Senin saya terbangun dengan badan pegal-pegal. Baru tersadar kalau bagian tubuh saya lebam-lebam biru (termasuk di pergelangan tangan gara-gara jadi sasaran tembak paint ball), merah-merah bekas gigitan serangga (ternyata lotion anti nyamuk tidak mempan) dan goresan luka. Kondisi badan saya seperti korban kekerasan domestik. Yap, ‘korban kekerasan’ Bukit Baros. Tetapi seru……




Wednesday, August 30, 2006

Copy Writer

Kali ini saya mau menceritakan diri sendiri

Setelah bekerja 4,5 tahun sebagai wartawan di media cetak ekonomi,saya pindah profesi.Menjadi penulis iklan atau diistilahkan sebagai ‘copy writer’. Tetapi bukan bekerja sebagai penulis iklan di perusahaan periklanan. Saya masih bekerja di lingkup perusahaan media dengan nama cukup ternama untuk majalah mingguan, koran dan website beritanya.


Tentu saja lingkup tulisan bukan di pembuatan display. Melainkan tulisan ‘soft’ bersifat advertorial (iklan dalam bentuk berita). Sekarang saya bukan berada di departemen redaksi, melainkan di bawah departemen pemasaran (marketing).


Kenapa pindah? Saya merasa bekerja di dunia periklanan menarik. Duh, klise banget kayak menjawab pertanyaan HRD saat wawancara kerja.Tapi memang begitu perasaan saya. Merasa menjadi wartawan sudah mentok dan tidak mungkin menjadi Rosiana Silalahi, Desi Anwar, Veronica Guerrin, Christiana Ammampour, SK Trimurti dsb. Sudah cukup keinginan saya menjadi Tintin, dan mungkin saat ini saya sedang mimpi menjadikan diri seperti Leo Burnett atau David Ogilvy.


Apa bedanya menjadi penulis berita dengan penulis iklan?


Persamaan adalah sama-sama menulis. Menjadi wartawan adalah kebebasan sejati. Kebebasan memilih angle (meski ada rambu-rambu penulisan sesuai jenis, visi dan misi media kita bekerja), kebebasan meliput dan tidak menuliskannya kalau memang tidak menarik untuk diberitakan. Malas memberitakannya kalau tidak ada unsur kebaruan ditambah narasumbernya brekele dan bikin ill-fell. Bisa juga mood lagi tidak bagus dan akhirnya berita itu basi tergantikan oleh berita lain yang lebih hangat.


Tetapi, menjadi copy writer adalah persoalan deadline yang tidak bisa ditawar. Masalah mood yang mesti dimunculkan meski di sisi lain otak kamu ingin window shopping di semanggi. Angle penulisan yang kompromistis dengan klien (kalau dalam status wartawan, klien= narasumber, dan kamu berhak banget untuk tidak disetir oleh narasumber).


Sebaliknya, tantangan menjadi copy writer adalah kebebasan mengeksplorasi ide-ide. Bagaimana membuat pembalut wanita menjadi topik menarik untuk dibaca. Menjadikan kamera DSLR produk perlu dibeli.


Kebebasan saya adalah permainan kata-kata yang membuat pembaca tergugah membaca dari awal sampai akhir.


Kerjasama tim akan terasa kental dalam membuat advertorial. Dimana saya harus bisa menentukan foto dan men-drive fotografer untuk memotret sesuai keinginan saya. Dan anak-anak desain di ruang produksi adalah partner kamu untuk menjadikan tulisan akhir tampil menarik secara keseluruhan.


Tanggung jawab lebih besar. Saat menjadi wartawan, pekerjaan saya selesai di titik menulis berita. Setelah itu terserah redaktur. Entah diedit dan potong sana-sini karena tulisan terlalu panjang (maaf, abisnya gua udah janji nonton bareng temen2 wartawan di TIM…).Biar itu menjadi tugas redaktur (kan gajinya lebih besar ketimbang reporter:>) Toh ada konsep piramida terbalik. Dimana tulisan terpenting berada di awal tulisan, dan semakin melebar sehingga bagian akhir boleh dibuang kalau halaman kekecilan.


Copy writer dalam profesi saya, adalah tanggung jawab rangkap. Menjadi reporter sekaligus redaktur. Menjawab keinginan saya untuk pengakuan posisi karena ketika rapat evaluasi penulisan,saya sudah duduk bersama level redaktur dari departemen redaksi.


Pilihan saya yang sekarang ini, sempat saya sesali. Benar lho….Mengutuk diri sendiri yang sok pindah kuadran dan meninggalkan anyaman kenyamanan yang sudah saya bangun dengan status wartawan.


Tidak ada lagi schedule perawatan tubuh dan body-ku mekar kembali. Tidak ada lagi penyelinapan ke mal, toko buku atau kafe kalau lagi jenuh dan usai mengikuti jumpa pers. Apalagi pergi ke bioskop Cineplex…duh, kapan terakhir gua mampir ke Setiabudi?


Stres pada awal kerja, benar! Bagaimana dalam hitungan 5 menit saya sudah punya ide di otak untuk tulisan pendukung artikel (angle, bentuk dan arah tulisan ditambah konsep foto yang dikehendaki) jika AE tiba-tiba datang membawa work order.Memikirkan masuk ke dunia kerja baru di lingkungan baru. Bagaimana setiap pagi perut saya mules membayangkan harus melewati pintuk masuk kantor. Mengubah ritme kehidupan berpengaruh pada timbulnya jerawat di mukaku. Namun profesi ini pula yang telah membuatku melalui 8 bulan di 2006. September ini saya dipercayakan memegang desk sendiri. Dan membuat diriku berpikir, “Ok little girl! Sudah cukup waktunya main-main. Kini saatnya serius menekuni kerja!”


Semoga saya bisa mengemban tanggung jawab yang dipercayakan. Jalani dan mungkin suatu hari saya punya mimpi lain…who knows?

Friday, August 25, 2006

Putri Indonesia, Putri Impian, Putri Hiburan, Putri Ibu Bapa...

Jum’at malam saya menonton hiburan Putri Indonesia di Indosiar

Jum’at malam saya menonton hiburan acara pemilihan Putri Indonesia 2006 di Indosiar. Iya menghibur karena saya menyaksikan sejumlah perempuan muda, cantik-cantik, bergaun indah dan senyum selalu terkembang.

Sudah tentu dong itu tontonan asyik di akhir pekan. Ketika kesibukan 5 hari kerja di kantor selesai & benar-benar tidak ada yang tersisa menjadi pekerjaan rumah. Tayangannya tidak bikin otak pusing dan kening berkerut.

Apalagi saya bisa sesekali tertawa. Contohnya, seorang juri yang terkenal sebagai pengusaha sukses sekaligus ibu yang berhasil, mengajukan pertanyaan berikut, “Seandainya kamu menjadi ibu, apa kata-kata singkat yang tepat untuk menasehati anak kamu yang bandel? Dibilangin susah bener?” Nah, saya langsung berpikir : nak jangan bandel / dengarkan pendapat orang dong sayang……

Tetapi si Putri menjawab bahwa ada 3 jawaban yaitu dengarkan apa masalahnya; (lupa jawaban dia yang no.2); dan yang ketiga beri nasehat win-win solution. (Dengan senyum terus tersungging. Dan saya jadi berpikir ‘wah pikiran gua ga match ya…’)

Atau, ketika ada pertanyaan apa langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan lumpur Lapindo, saya seolah mendapat jawaban dari seorang pakar geologi. Katanya, yang pertama tutup lubang sumber lumpur dengan semen (wuah….), kemudian buat water treatment penampungan air, dan realokasi penduduk (maaf, bahasa yang benar bukan ‘relokasi’ ya?)…

Dan saya baru tahu, katanya, tujuan Putri Indonesia adalah Perdamaian. Tetapi tentu dia tidak turun ke daerah konflik di tanah air. Saat gambar lepas kegiatan-kegiatan sang Putri Indonesia yang bakal lengser ditampilkan, mengingatkan saya dengan foto-foto Lady Diana (Di) dalam kegiatan sosialnya yang saya lihat di Majalah Jakarta-Jakarta. Artifisial dan menyentuh. Foto Nadine bermain uler-uleran bersama anak kampung menimbulkan perasaan sama dengan melihat foto Lady Di menggendong anak korban ranjau darat.

Kita, manusia, memang senang melihat Putri. Dongeng-dongeng menceritakan putri berwajah dan berhati cantik, pasti dipinang pangeran ganteng dan kaya (pangeran kere tentu ditendang). Seolah kehidupan bahagia milik wanita cantik nan anggun. Melihat gemulai Putri Inggris dalam deretan kegiatan kemanusiaan, tentu lebih menyentuh hati ketimbang meyaksikan Putri Stephanie dari Monaco berpesta di klab.

Ketika kerajaan bukan zamannya lagi, kita menciptakan kontes putri, ratu, miss, dsb.

Meski terkesan sinisme di awal, tapi saya bukan anti Putri Indonesia. Saya tidak termasuk golongan anti Putri-nya Ibu Pertiwi dikirim berlaga di luar negeri dan menyaksikan Ia berbikini dengan alasan tidak sesuai budaya bangsa.

Toh, itu kemasan zaman dan modernisasi. Memadukan kerinduan kita akan sosok putri dengan ekonomi. Salon menjadi laku karena ratusan gadis remaja melakukan perawatan tubuh sebelum mengirimkan foto ke panitia juri. Studio foto pun kecipratan rezeki. Penjualan lipstick atau bedak merek tertentu jadi meningkat karena dalam persyaratan ikut serta harus menyertakan bungkus kemasan produk sponsor. Tayangan pemilihan di TV memancing slot iklan, dan ada target penonton sebagai calon pembeli produk yang diiklankan. Karena produk ‘ini’ dipakai sang Putri lho….

Saya juga tergoda untuk ambil kursus pengembangan diri di Lembaga Pendidikan Ibu Anu. Kenapa? Karena saya melihat bukti nyata para murid yang notabene para Putri dari 33 provinsi di Indonesia tampil penuh percaya diri, anggun dan bisa bersilat lidah menjawab berbagai pertanyaan sambil terussss tersenyum.

Saya tidak mau sibuk diskusi dalam pro kontra kontes-kontes semacam. Karena maaf, setiap hari saya punya kesibukan yang harus diisi. Alasan lainnya, seperti prinsip ekonomi di mana ada pasar karena ada permintaan, maka kontes terjadi kalau ada yang tertarik menjadi peserta. Dalam hidup sebagai perempuan, saya memegang konsep Beauty, Brain, Behaviour. Cuma memang diri saya tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan untuk menjadi Putri Indonesia:p

Jadi, bagi para perempuan Indonesia di seluruh Indonesia, be your self! Karena setiap perempuan adalah Putri dan pantas punya kepercayaan dan kebanggaan diri. Menghargai diri sendiri berarti Anda telah menempatkan diri sebagai Putri. Teman saya menempatkan anak perempuan semata wayangnya sebagai Putri didalam hatinya, saya adalah Putri dari bapak ibu saya, Anda adalah Putri Impian sang kekasih, dll.



Wednesday, August 23, 2006

Niat Hari Ini

Niat Hari Ini

Mulai hari ini, Saya berniat untuk tidak lagi membiarkan tembakau membakar paru-paru saya. Berniat untuk mengurangi asupan kopi paling banyak secangkir sehari.


Mulai hari ini, Saya tidak lupa mengoleskan pelembab badan dan muka. Mengurangi coklat, cemilan dan makanan berlemak.

(Apalagi ya??)

Duh, ternyata Saya tidak cukup menyayangi tubuh Saya. Padahal, usia Saya semakin menanjak………

[Gara-gara hari ini menemani nyokap check-up di Rumah Sakit. Disana menyaksikan orang-orang tua yang sedang ke dokter, periksa darah di lab, dan menceritakan penyakit-penyakitnya].





Tuesday, August 22, 2006

Dunia Firdaus

Dunia Firdaus

Libur 5 hari di pertengahan Agustus kemarin membuat Saya kembali menyentuh dan membuka buku. Maklum, dengan alasan kesibukan kerja, Saya lebih cocok disebut hobi membeli ketimbang membaca buku. Untuk menyelesaikan 1 buku berbentuk novel mungkin Saya butuh waktu berbulan-bulan (bahkan ada buku yang sudah dibeli beberapa tahun sebelumnya, tapi sampai saat ini belum Saya baca!).


Dunia Firdaus

Pilihan saya membaca “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi. Ups, terlambat menjadi feminis? Ah, bukan. Saya membaca karya dokter perempuan asal Mesir itu sebagai penggemar sastra semata. Dan ini sentuhan pertama Saya dengan buah tulisan el-Saadawi yang memposisikan dirinya sebagai penulis & pengarang feminis.


Isi buku tentang wanita bernama Firdaus, seorang pelacur yang sedang menanti hukuman mati karena membunuh seorang germo (catat : jenis kelaminnya laki-laki). Ia justru menolak mengajukan grasi kepada presiden. Menurutnya, vonis ini justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.


Firdaus adalah perempuan yang sedari kecil tidak menerima perlakuan baik dari kaum lelaki. Pelecehan, perkawinan paksa supaya tidak jadi tanggungan sang Paman, dan setiap perlindungan harus dibayar dengan layanan tempat tidur. Belum lagi kekecewaan yang dialami saat jatuh cinta. Sang pujaan hati justru memilih menikah dengan putri direktur tempatnya bekerja. Yap, Firdaus kalah telak karena Ia cuma punya badan. Tidak harta, tidak nama orangtua untuk mengatrol jabatan si pria.


Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak,” kata Firdaus. Tapi, mungkin Ia lupa berpikir kalau menjadi “Pelacur” ia tetap di bawah kuasa kaum pria. Dunia yang diciptakan kaum Adam dari adonan libido dan uang.


Hanya saja, mungkin menjalani profesi itu dianggap Firdaus yang terbaik bagi dirinya dari berbagai rangkaian kejadian yang dialami dalam hidupnya. Katakanlah Firdaus adalah contoh perempuan yang tidak punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi sehingga tidak bisa menjajal pekerjaan yang membutuhkan ijazah sekolah. Atau, dia pun tidak punya keterampilan yang bisa ditawarkan untuk menghasilkan uang. Kecuali jualan fisik…


Bukan disengaja, pada liburan yang sama, Saya juga menonton film “Human Trafficking.” Yap ide cerita tentang kasus penjualan perempuan. Mereka ditipu, diculik, dan diintimidasi untuk menjadi pemuas kaum pria! Bukan karena kesadaran diri sendiri. Nadia mengikuti lomba model dengan tawaran go internasional. Ternyata, ketika sampai di negeri Paman Sam, dijadikan pelacur dan pemeran video bokep. Helena yang bekerja siang malam demi anak dan ibunya, diiming-imingi cinta tapi kemudian disekap dan dipaksa untuk menjadi perek. Bahkan, seorang anak dibawah 17 tahun diculik untuk dijadikan pemuas bapak tua gembrot. Yaks!


Aduh, mengapa ada pria-pria yang tidak pakai akal seperti itu? Menipu remaja miskin dan menjadi kaya dari tangisan perempuan dan rusaknya masa depan seseorang? Atau, adakah pria pengguna yang akan melakukan wawancara terlebih dahulu sebelum ‘memakai’ sang perempuan? Apakah “Pemakai” sebelum “Memakai” bertanya mengapa dan bagaimana awalnya perempuan itu menjadi pelacur?


Saat liburan pula, Saya menonton berita dalam negeri, beberapa cewek ABG berhasil melepaskan diri dari sindikat penjual wanita berkedok tawaran kerja.


Kemiskinan adalah alasan terjadinya pelacuran. Rendahnya tingkat pendidikan dan pengangguran menjadi alasan seorang perempuan menjadi pelacur menjual badan. Tapi apa latar belakang ‘human trafficking’? Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya atau homo homini lupus?


Mungkin kepada pelaku penjualan harus ditanyakan, apakah ia keluar dari rahim perempuan? (Dalam tulisan ini saya lebih suka menyebut kata ‘perempuan’ ketimbang sinonim lainnya karena asal katanya adalah ‘empu’ yang mengandung pengertian penuh kehormatan dan kesaktian.)


Melacurkan otak = memberikan ide untuk kemajuan perusahaan tempat bekerja dan mendapat gaji setiap bulan; melacurkan tangan = punya usaha kerajinan dan menjadikannya benda menarik berdaya jual; adalah contoh-contoh ‘pelacuran’ dalam segi positif, tapi please bagaimana menghentikan pelacuran dalam konotasi asusila?


Dan malam ini, sebelum terlelap, saya menjadi mengucapkan syukur kepadaNya atas perlindunganNya. Jadi menghargai wajah standar saya tapi masih punya otak yang bisa dioperasikan, bisa melahirkan ide-ide dan dibayar untuk itu. Serta, bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang menyayangi saya.

Friday, January 27, 2006

Kubik Bata Diri

Saya suka mendengarkan satu radio di Jakarta, frekuensi FM letaknya agak di ujung kiri. Kalau jam 24.00, siaran berakhir dan terdengar “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai lagu penutup. Liriknya kurang lebih begini :
“Tanah air ku tidak kulupakan/ kan terkenang sepanjang
hidupku/ biarpun saya pergi jauh .....”

Kalau mendengar lagu itu, Saya membayangkan diri sedang berada di negeri empat musim, ditemani salju putih, tengah menyusun kubik bata salah satu impian diri.

Berbagai hal telah kupersiapkan : tumpukan brosur sekolah, kelengkapan administrasi, tes TOEFL, dan beragam brosur notebook untuk mencari yang sesuai kemampuan kantong.

Tapi kayaknya kubik tersebut harus di-postpone. Ada kumpulan bata lain, dan sepertinya menarik untuk kubangun. Mungkin kubik-kubik itu menjadi bangunan ambisi diri yang lain. Atau, bisa juga ternyata dia menjadi jembatan cita-citaku/mimpi/apa yang akhirnya membuatku bahagia. Tidak ada yang tahu karena Tuhan tidak menunjukkan skenario hidup kita sebelum kita menjalaninya.

Dan hidup adalah pilihan.

Karena kesempatan tidak datang dua kali. Dan saya berjanji untuk tidak lupa membangun bata-bata 'Rayuan Pulau Kelapa.'

Jadi inget kata salah seorang teman saya, “Bro, may the force with me ya............!"

(Untuk semua teman-teman saya -tidak mencantumkan apa titel dia dalam kehidupan ini- terimakasih ya! Doakan saya lancar dan sukses. Amin)