Tuesday, February 26, 2008

Pagi

Ia melukis pagi
Bersama langit, mentari, bayu
hanya pikiran bebas merangkul
memilih biru atau kelabu.

(Jakarta, 22-1-08 di suatu pagi )

Beri Bulan Jika Rakyat Membutuhkan

Filsuf dan sastrawan Prancis, Jean-Paul Sartre bertandang ke Kuba setahun setelah Fidel Castro menggulingkan diktator Fulgencio Batista pada 1959. Perjalanan yang akhirnya dibukukan dalam Sartre on Cuba (terbit pada 1961) memuat dialog menarik antara Castro dengan filsuf eksistensialisme itu. Sartre bertanya apakah Castro akan memenuhi semua permintaan rakyat?
+ ”Ya, karena semua permintaan merefleksikan kebutuhan.”
- ”Bagaimana jika mereka meminta bulan?”

Fidel terdiam. Dia mengisap cerutunya dalam-dalam.
+ “Kalau itu mereka minta, berarti rakyat memang membutuhkannya.”

Haha.. menurut gw itu jawaban cerdas untuk pertanyaan abstrak.

(dikutip dari Majalah Mingguan Tempo, 2 Maret 2008, ”Bulan di Atas Kuba”)
Gambar dikutip dari :www.susanderges.com/full-moon-briars

Monday, February 25, 2008

Jagalah Ucapanmu

Eno, gua order untuk (nama kolom). Nanti materi kukirim yaa... bla bla.. ” kata seorang Account Executive (AE) cowok kepada saya. Biasanya materi yang umumnya berupa press release perlu saya baca & edit sebelum dimuat ke dalam rubrik yang memang saya tangani.

Ohya? Tapi kalau materi dikirim lewat email, cc-kan juga ke email yahoo-ku karena yang kantor ga bisa kubuka. Komputerku lagi rusak,” jawab saya.

Komputer lu rusak? Lu makan gaji buta dong...” kata cowo yang gayanya memang sok cool itu.

Monyet! Gaji buta?? Gw panas nih!

Iya memang. Saking giatnya gw kerja, komputer gw sampai mampus,” akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.

Kejadian tadi saya alami saat sedang ngelembur setiap malam untuk mengerjakan tulisan suplemen. Padahal selain itu masih bagi waktu dgn kerjaan lain, dan di saat tidak tepat komputerku di kantor rusak.

Nah, rasanya mendengar ucapan itu sangat tidak enak di kuping. Mungkin saja, dia murni bercanda, atau memang ucapan itu datang dari lubuk hati yang menyangka, ”Jadi penulis iklan enak ya.. Datang ke kantor duduk terus di depan komputer. Ga susah-susah me-lobbying klien dan presentasi supaya klien pasang iklan di tempat kita. Sudah gitu pakai acara bilang komputer rusak!”

Memangnya tulisan kayak bikin panci? Kita juga kayak Empu Gandring yg dapat order keris dari Ken Arok. "Semedi" dulu cari inspirasi supaya keinginan klien matching dengan tulisan kita, browsing data, dilanjutkan menulis, lalu membrief fotografer untuk cari foto yang cocok, lalu menongkrongi anak desain menyelesaikan layout iklan.

Dan hal tsbt bisa membuat para penulis lembur sampai malam. Gua ga pernah tahu lagi sinetron Asia (hehe..kl tidak salah Jak TV pernah memutar film-film model begini), sampai di kos cuma hai..hai... sama temen-temen kos yang kebetulan lagi nonton TV di ruang tengah, cuci muka, ganti baju lalu tidur.

Yah, inti dari kasus saya ini, sekadar mengingatkan diri maupun rekan-rekan : cobalah bercanda dengan cara elegan. Gaji dan desk job bukan hal menarik untuk menjadi bahan guyonan (meski kamu berniat nothing heart feeling dgn pernyataan tsbt). Kita tidak tahu apakah itu saat yang tepat. Apalagi, jika rekan yang diajak bercanda sehari-hari bukan teman dekat. Lebih baik bicaralah seperlunya dan too the point.

Sensor : maaf jika dalam tulisan di atas ada jenis primata yang saya sebutkan.

Tuesday, February 19, 2008

Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Hari Selasa menjelang magrib di ruang penulis. Ruangan terasa senyap, hanya ada bunyi-bunyi yang sama datang dari beberapa sudut. Bunyi itu berasal dari ketukan jari yang lincah mengetik tombol-tombol simbol huruf di keyboard.

Ya ampun! saya kenapa terhibur mendengarnya? Rasanya diri ini sedang 'ada teman'. hehe.. Dari minggu lalu, dengan kondisi badan belum fit, saya hampir setiap malam begadang mengerjakan tulisan-tulisan yang menyita waktu. Puncaknya Selasa ini karena ada deadline tulisan wisata. Berhubung tulisan ini untuk edisi Majalah bahasa Inggris, maka prosesnya lebih panjang. Ada urusan kirim ke penerjemah segala. Dan malam Selasa ini saya harus membereskan semua tulisan yang harus di-translate.

Saat itu, ternyata hampir semua teman satu ruangan punya deadline masing-masing. Dan beberapa teman adalah yang 'repot' saya bebani dengan tugas penulisan dari saya. Yah, beginilah nasib Project Officer (P.O.)untuk tulisan wisata tsbt. Mampus juga kan untuk mengurusi semua tulisan? Bagi tugas lah sesuai waktu dan kemampuan masing-masing. Ga! Ga bangga jadi P.O. penulisan. Rasanya saya lebih senang mengurusi tulisan reguler saja.

Hehe.. tapi suara ketik-ketik keyboard di hampir semua sudut ruang, sangat mempesona gendang telinga saya. Seolah saya tiba-tiba tersadar, "busyet.. semua lagi pada konsentrasi kerja.." Dan timbul ide menulis puisi ini :


Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Tuk...tuk tuk tuk tuk...
Tuk tuk tuk.... tuk tuk.. tuk tuk tuk tuk..
Alunan itu terdengar nyaring mengejar sore
Mendesir indah di gendang telinga

Jari-jari makin lincah menari
Keyboard pun bersenandung
’deadline.... deadline...deadline...’


(untuk teman-temanku yang senasib dikejar tenggat tayang. Ketukan jari di tombol2 keyboard itu terasa indah terdengar....)

Saturday, February 09, 2008

Terima Kasih Masih Diberi Umur

Gong Xi Fa Cai…. Happy New Year.

Dari mitos kuketahui bahwa masyarakat Cina mengganggap hujan di hari pertama tahun baru merupakan pertanda keberuntungan dan rezeki. Namun, pengalaman saya di hari pertama Tahun Tikus rasanya bukan menyenangkan.

Kamis lalu (7/2), saya melewatkan Tahun Baru Cina ke 2559, di angkasa. Dlaam penerbangan pulang dari Denpasar ke Jakarta.

Sebelum saya terbang, orang rumah sudah menelpon bahwa Jakarta sempat hujan lebat. Demikian pula dengan kondisi Bali di hari terakhir saya berada, sedang mendung dan sempat diguyur hujan. Apalagi pengalaman terjebak banjir Jumat sepekan sebelumnya dan ’perjuangan’ menempuh jalur ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang tergenang air setinggi ban mobil masih melekat.

Penumpang Garuda Indonesia A330-300 pada malam itu tidak terlalu banyak. Menurut informasi pramugari, pesawat kami ini maskapai ekstra karena banyaknya penumpang yang terbang dari Jakarta ke Denpasar. Dan kondisi sebaliknya terjadi dari Denpasar-Jakarta. ”Sigh, pastilah banyak orang yang memanfaatkan hari libur Imlek dari Kamis itu untuk berlibur ke Pulau Dewata. Sementara saya justru pulang sehabis menunaikan tugas,” kata saya dalam hati.

Penerbangan jam 19.00 WITA on time. Dengan jarak tempuh sekitar 993 kilometer, pesawat berpintu 8 buah melintas di atas kota: Denpasar, Jember, Surabaya, Bandung sebelum sampai di Jakarta. Perjalanan semula terasa lancar. Seperti umumnya, setelah take-off hingga mencapai kestabilan mengangkasa, penumpang boleh melepaskan sabuk pengaman (seat belt). Setelah itu, pramugari mulai membagikan makanan. Saya jadi ingat bahwa hari itu ’spesial’ dari sajian yang dibagikan di pesawat Garuda. Sebuah plum manis yang disimpan dalam plastik dan diikat dalam pita emas, disajikan bersama kartu merah tertera ucapan ”Selamat merayakan Tahun Baru Imlek”.

Namun sekitar 25 menit sebelum kami tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, pesawat bernomor GA 441 mengalami turbulensi. Penumpang musti memasang sabuk pengaman. Dan tak lama kemudian kami yang duduk terasa berguncang, bahkan dua kali kami melompat dari tempat duduk. Hanya tali pengencang seat belt yang menahan kami agar tetap dalam posisi aman.

Kaget? Yap. Jantung terasa berdebar-debar. Dan denyutan tersebut baru hilang setelah pesawat mendarat mulus di landasan. Seusai momen terkaget yang mendebarkan itu, ”Asuransi” menjadi satu kata melintas dalam benak saya.

Kemudian, saya memandang sekeliling. Tiba-tiba saya ‘meratapi’ kesendirian saya. Duduk di pojok jendela deretan bangku A, bersebelahan dengan sayap pesawat tanpa penumpang di sebelah saya. Saya memandang sebelah kanan. Seorang bapak keturunan asing (sepertinya Jepang) duduk terpekur sendirian. Bapak itu sepertinya dalam perjalanan bisnis dilihat dari sisi penampilan dan tas laptopnya. Sementara di ujungnya pasangan muda –sepertinya pengantin baru- tampak saling merangkul. Sang pria memeluk erat pasangan wanitanya yang duduk di dekat jendela yang sepertinya ketakutan.

Bangku deret tiga penumpang di sebelah belakang, sepasang wisatawan Cina setengah baya saling berpegangan tangan.

Saya tiba-tiba merasa na’if. Kenapa hal pertama yang saya ingat adalah ”asuransi”. Saya memang telah dibekali asuransi dari kantor, belum lama ini juga melengkapi diri dengan asuransi pribadi yang melindungi diri dari kecelakaan di kendaraan umum. (Sebagai orang yang sering ditugaskan pergi-pergi, saya memutuskan perlu mengambil asuransi itu). Dan tersadar saya tidak punya pasangan, baik kekasih maupun suami, yang bakal meratapi atau kehilangan saya.

Saya merasa jika saya sampai pada ujung umur, tidak ada orang yang kehilangan. Dalam arti tiada ’anak yang kehilangan ibu’ , maupun ’pria kehilangan pasangan’. Tanpa beban. Mata saya menumbuk kursi di depan yang diduduki pasangan suami istri paruh baya. Mungkin mereka saat itu sedang saling menggenggam tangan dan menerawang memikirkan anak atau cucu mereka yang tengah menunggu di rumah.

Aigh... kenapa saya lupa pada kedua orangtua saya? Kenapa saya lupa saya punya banyak teman-teman yang kemungkinan besar juga meratapi ’kepergian’ku. Saya merasa ingin ketemu bapak dan ibu, serta para ’cuplis’ di rumah Bogor. Di rumah ortu, ada dua keponakan tinggal, masing-masing berusia 6 tahun dan 13 tahun dengan kenakalan yang bikin kangen. Air mulai menitik di kedua bola mata. Saya langsung memutuskan harus pulang ke rumah Bogor, bukan ke kos seperti rencana semula.

Saya segera mengucapkan doa, melantunkan berbagai ayat yang melekat dalam otak, di dalam hati. Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya masih diberi umur. Saat mata menumbuk pada kilau cahaya lampu –kota Jakarta- saya merasa bahagia. Betapa saya cinta kota metropolitan tempat saya mencari nafkah yang sebentar lagi akan kujejakkan kaki.

Thanks God! Saya berjanji tidak mau menikmati wahana permainan yang sengaja mencari debar jantung di Dunia Fantasi (Dufan) untuk sementara waktu. Untuk beberapa waktu saya tidak bakal mencari-cari permainan yang memacu adrenalin. Ternyata ketika kita berada dalam kondisi seperti bermain roller coaster namun dalam kondisi ’pacuan adrenalin sebenarnya,’ antara hidup dan mati, itu bukan hal lucu.

Terima kasih Tuhan. Engkau masih memberi saya kesempatan mengisi hidup ini, semoga dengan hal-hal berguna dan amal kebaikan. Amin.

Thursday, January 31, 2008

Melebur Bersama Malam

Secangkir cappucino, secangkir black coffee
Sekarung cerita untuk dituang
Ada rindu untukku? Ada cerita untuk dipintal?
Sebongkah kisah'tuk dicecap hingga larut memagut


Jakarta, 24 Jan'08
di sebuah sudut kafe

Terkapar di Ranjang

Kau membuatku terkapar di ranjang
Setiap jengkal tubuh meriang kau gigiti
Perlahan, kesadaranku melayang
Bersama antibiotik, rhinos, entah kimiawi apa
Pharingitis, Engkau memang bajingan!



(Pharingitis = peradangan tenggorokan)
(thx kepada dokter yg menyuruhku istirahat :) ..aku jd rajin berpuisi )

Bunga Cinta



Petik… tidak… petik…tidak…
Bunga cinta itu menggoda
Ingin kusemai dalam hati
Bikin jantung dug... dug.. dug....


(photo location : Senayan City, 2 Feb'08)

Pada Sebuah Resah

Engkau masih pribadi resah
Menghitung hutan yang meranggas
Kamu tak sadar, taman hati kita juga mencadas

Kamu yang resah,
Aku yang kalut
Kita yang tak satu pikiran

Engkau melompat pergi
Mencangklong ransel
Aku baru tersadar kita lupa berpelukan
Lupa bertukar harum kota dan aroma liar
Bayangku juga terinjak sepatumu

Pada sebuah keresahan, aku menangis
Firasatku... ini pertemuan terakhir
Kamu yang pergi, saya yang minggat
Rasanya sama saja.

Sedih

Badanku bergetar
Menahan amuk ombak meriak
Kedua mata tak kuat
Bolehkah aku menangis?
Duh! Si perkasa juga butuh buaian

Tiba-tiba aku merindu kehangatan rahim ibu

Puisi

Puisiku saksi bisu kebebasan otak
Ketika kata demi kata melayang
Kurangkai, kuungkap,
Lepas tanpa beban

Saturday, January 26, 2008

Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu (1)

Hidup ini merah jambu
Ketika degup diri melonjak
Menanti sapa dirinya

Hidup ini merah jambu
Saat kami berbalas kisah
Hidupku jadi merah jambu
Gara-gara Cupido mengacak otakku


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)
(Also posted in : auraazzura.multiply.com)

***

Cinta Merah Jambu (2)

Pipi jambu, merona merah
si dia berstatus 'Available'
ia pun menyapa

jari tergetar mengetuk balas "Hai"
dug..dug.. jantung laju berdegup
menanti menit dia membalas

Auch! disconnect
net error di saat tidak tepat
dan hati merah jambu pun meleleh


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)

Cerita Pagi Peramu Kata

Jam delapan lewat tigapuluh menit
Cukup pagi bagi pemerah kata untuk mulai bekerja
Ada kopi pagi menyalakan simpul otak
Ada setumpuk koran untuk ditelisik
Ada satu komputer setia menemani

Jam sembilan lewat bermenit-menit
Satu surat elektronik berbisik,
”Tulisan kamu oke! Klien puas!”
Puas? Saya menarik nafas panjang,
Bukan bangga, tapi berarti’misi telah selesai’

Satu surat elektronik lainnya menohok,
”....Sudah menarik, tapi coba lebih bikin gregetan
lagi.”
Email kamu juga bikin saya gregetan!
Tunggu! Tunggu! Saya kurang apa ya?
Rasanya semua bahan sudah dicampur : kreatifitas,
marketing, dan 'penyedap'
Mungkin adukannya belum merata?

Jam sembilan lewat berpuluh menit
Agh, belum bisa mikir nih
Inspirasiku baru ketok pintu kalau matahari tenggelam
Butuh usaha bagi pengantin drakula menjadi makhluk
mentari.


(Also posted at : mailing list BungaMatahari)
(Jakarta, 17-1-2008)

Manajemen Waktu

Satu hari tetap 24 jam, sementara kegiatan bertambah padat. Saat ini saya sedang mencoba menerapkan Manajemen Waktu, semoga membantu efisiensi kerja. Dengan demikian, meminimalkan penumpukan kerja yang berdampak pada harus lembur atau melek sampai jauh malam gara-gara kerja yang mepet deadline. Buka-buka tip di sejumlah majalah dan akhirnya dari kompilasi, saya coba rumuskan untuk diamanatkan dlm kehidupan. Semoga efektif pula bagi pembaca blog ku :

1. Membuat list. Catat semua kegiatan di agenda :jam meeting & janji temu, pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Kalau semua mengandalkan ingatan, kasihan otak kamu juga kan? Ohya, buat pula skala prioritas mana yang harus didahulukan.
2. Susun file secara teratur dan tega membuang file-file yang sudah tidak lagi diperlukan. Daripada menumpuk di meja kantor dan membuat kamu malas untuk bekerja. Selain itu, penempatan yang ringkas akan memudahkan pencarian yang akhirnya mengefisienkan kerja.
3. Disiplin – strict kepada agenda. Meski memang kadang perlu fleksibel pula misalkan tiba-tiba diagendakan meeting penting, ga mungkin kita bilang ’tidak’ kan?
4. ”Bang A Nasty Job Off” alias BANJO. Yaitu, selesaikan tugas “menyebalkan” dengan segera. Kadang karena tidak suka atau malas, kita kadang menunda menyelesaikan tugas yang terasa tidak menyenangkan. Apabila selalu ditunda, akhirnya tidak pernah diselesaikan. Atau baru dikerjakan saat kepepet karena tugas tsbt ditagih, padahal di depan mata sudah menunggu pekerjaan berikutnya.
5. Membatasi waktu untuk membuka ataupun membalas Yahoo Messenger dan surat-surat yang ada di dalam inbox e-mail pribadi. Jujur YM adalah sarana komunikasi efektif dan simpel dengan rekan kerja di ruangan lain, atau teman-teman yang belakangan jarang saya temui. Akan tetapi membiarkan YM nyala (seperti yang selama ini saya lakukan) sama seperti membiarkan pintu terbuka untuk orang masuk, menyapa dan diskusi dsb. Dengan demikian, kadang konsentrasi kamu terpecah ketika ’sapaan’ masuk, atau malah saya sendiri yang suka iseng menyapa teman ketika teman berstatus Available (maafkan saya teman-teman... ).

semoga tip ini berguna, dicoba dilaksanakan, dan membuat hidup ibarat "bekerja cerdas, bermain pintar, hidup menjadi lebih mudah".

Saya dan Manajemen Waktu

”Wah, SMS nya pagi banget. Jam 4 lewat...,” kata Saya.
”Lho. Memang biasa bangun pagi-pagi gitu,” ujarnya.
Ups. Tiba-tiba sejumlah perasaan khas wanita menyerang saya. Saya jadi takut, dia berpikir, ”Pasti nih cewek tidak sholat subuh (memang iya..)”, atau ”jadi cewek kok malas ya. Bangunnya siang boo....”

Saya speechless... Cuma berkomentar, ”Iya nih bangun kesiangan....” dan terusan yang tidak kukatakan: makanya aku baru balas SMS dengan telpon ini di saat jam makan siang.

”Lho, memangnya ga kenapa-kenapa sama kantor?” tanyanya.
”Mmm.... kantorku lumayan fleksibel sih. Asalkan kerjaan beres, memenuhi 8 jam kerja sehari.”

(hehe Eno bo’ong ah. Liat tuh lembaran daftar absensi yang dibagiin setiap awal bulan. Di selembar kertas itu tercetak lengkap tanggal dan hari kerja, jam masuk, dan jam pulang. Ada pula keterangan jumlah jam kerja, lembur dan keterlambatan dari jam masuk yang seharusnya 08.30 ! Memang benar tidak ada punishment, alias resiko tanggung sendiri. Datang siang hari berarti menyelesaikan kerja jauh di malam hari.)

”Iya..Iya...” balasnya. Setelah itu kami mengobrol singkat ga penting dibahas di blog ini. Tapi di hari berikutnya dia menyapa saya via SMS dalam waktu lebih siang. . :))

***

Saya mau membahas Time Management atau Manajemen Waktu. Saya ga ngerti deh apakah memang orang itu sudah bawaan dari sononya bisa bangun pagi, cara membagi waktunya yang baik, atau memang kantornya yang strict terhadap jam kerja.

Saya juga tidak mengerti apakah bidang engineering memang lebih teratur ketimbang pekerja kreatif. Rasanya selama saya menyandang profesi sebagai wartawan, dan kini penulis iklan, adalah hal susah untuk masuk kantor di pagi hari.

Sewaktu menjadi wartawan media cetak harian, teman-teman di kantor tertawa kalau melihat jam undangan yang pagi hari. Pagi hari ini berarti dibawah jam 10.00 WIB. Bukan karena kita doyan acara menjelang makan siang (ups sori...pasti wartawan sanggup bayar makan siang dari kantong sendiri!), akan tetapi rata-rata kami baru bisa bangun jam 9.00-an. Bahkan ada yang lebih. Ini terjadi karena ketika orang lain/pekerja kantoran sudah balik ke rumah atau masih terjebak kemacetan otw home, kami masih sibuk mengetik, mengejar deadline, bahkan tak jarang masih menelpon narasumber minta konfirmasi. Selesai kirim tulisan ke redaktur belum tentu langsung pulang. Kadang itu saatnya kita ngumpul di warung kopi, ngobrol, membahas liputan hari ini, dan kalau mau serius adalah memikirkan suatu isu untuk dikembangkan dalam liputan esok hari.

Kalau pulang ke kos, kadang ada rasa sirik dengan teman kos yang sudah istirahat dan bersiap tidur, sementara kita baru pulang. Tapi menjadi kenikmatan tersendiri pula ketika mendengar ’gedebak-gedebuk’ rekan kos yang berangkat kerja, takut terkena macet dan tak mau terlambat datang, sementara kita masih bisa melingkar di tempat tidur. Keuntungan lain adalah tidak mengantri kamar mandi.

Namun, persoalan yang kini saya hadapi adalah jika kamu baru kerja di saat mentari sudah bersinar galak (dengan asumsi datang kantor jam 10-an ke atas) maka terjadilah ritme kerja yang mundur dan baru kelar malam hari.) Akhirnya, ada pula beberapa urusan tertunda keesokan hari. Asumsi Jika baru pulang malam hari, maka otomatis bangun siang, dan terjadilah ritme masuk kerja siang hari dan pulang malam hari..

Masalahnya mata saya sudah terbiasa menjadi makhluk malam. Sekali saya disentil begadang, maka waktu tidur saya bergeser menjadi jam 3 atau 4 pagi. Dan bangun bukannya bisa cepat.. minimal baru bangun jam 9.00 pagi.

Insomniakah ini termasuk? Saya sendiri kuat melek sejak kecil. Akan tetapi, saya berusaha di tahun ini untuk mencoba mengatur waktuku lebih baik.

Monday, December 31, 2007

Selamat Tinggal

Bintang itu masih menemani di Sabtu pagi
Ketika saya memintal rindu
Bersama pria pemilik senyum lengkung bulan sabit

Namun bintang hanya ilusi di Sabtu pagi
Terhapus hujan di sore hari
Bakal tiada lagi coretan cinta
Ketika jejak di pasir terhapus badai

Thanks God for this Year





Akhir 2007 ini gw kenapa jadi desperate ya? Ga semangat! Seperti cacing tanpa tulang yang tak berdaya di batu cadas nan panas, aku merasa tahun ini ’busuk’ banget deh. Hmm.. mungkin akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat akhir tahun berakhir sedih untuk kehidupan pribadi gw kali ya.

Tapi tunggu! Hal positif memang suka ketutup hal negatif. Ada baiknya aku coba list dulu hal-hal berarti dalam hidupku selama tahun 2007 :
1.Suplemen Tren & Style’07 yang ku-komandani dari sisi tulisan mendapat pujian
dan dari sisi billing juga mendapat target yang memuaskan. Tentu saja ini
berkat kerjasama dengan teman-teman sekantor, khususnya partner kerja yang solid
seperti Hiras yang jago jualan (hehe, salut sama abang satu ini...), mas Koko
dengan desainnya yang ciamik, mas Dian, mas Adhi, serta para penulis,
fotografer dan teman-teman Trafik yang bersedia gw cerewetin dan kutelpon jauh-
jauh dari Aceh :D
2.Pertengahan tahun ini aku tugas ke Aceh. Bahkan sempat menyeberang dan merasakan
snorkling di Sabang. So, sepertinya aku sudah bisa mengatakan puas pernah
melanglang ke berbagai daerah di Indonesia, meliputi Sumatra (Aceh, Medan,
Pekanbaru, Batam, Palembang, Musi Banyuasin, Silungkang & Bukittinggi Sumbar,
Lampung), Jawa (Anyer, Bandung, Jakarta, Purwakarta, jalur Pantura, Semarang,
Yogyakarta), Bali, NTB (Lombok), dan Kalimantan Timur. Sedangkan wilayah Sulawesi
(Manado & Ujung Pandang) dan Irian Barat pernah saya diami ketika ikut orangtua
bertugas.
3.Juara ke-2 Writing & Photo Competition dari salah satu pusat belanja di Jakarta.
4.Mempercantik dan memperbaharui website blogspot yang sudah lama tidak
kuurus. Serta menambah situs blog baru di Multiply (dan mendapat teman-teman baru
yang kukenal via MP).
5.Dapat teman-teman baru di luar lingkungan kantor.
6.Mengganti kamera digital saku Kodak-ku yang 4 megapiksel ke Nikon beresolusi 7
megapiksel.
7.Niat berolahraga teratur lumayan terealisasi dengan sempat rutin berenang dan
aerobik.
8.Februari’07 dapat kos baru, yang nyaman dan dekat dari kantor.
9.Pertama kali merasakan kenaikan gaji di kantor baru :p
10.Dapat bonus di akhir tahun :D
11.Anehnya.... tahun ini tahun gw paling tidak bisa menabung. Tapi alhamdullilah
rezeki ada saja...hehe...
12.Mencoba menulis ilmiah tentang komunikasi dan teknik penulisan –berdasarkan
pengalaman kerja- untuk diposting di situs Netsains.
13.Berkat tulisan tersebut, memperoleh undangan sharing pengalaman dlm pelatihan
penulisan di Kementerian Ristek.
14.Bermimpi suatu hari dapat melihat dan berkunjung ke observatorium Boscha,dan hal
ini terealisasi hanya dalam hitungan minggu karena bersama komunitas Netsains aku kesana awal Desember’07.

Apakah sejumlah pencapaian yang kubanggakan selama 2007 cukup worthy dibalas dengan kondisi ”tutup buku yang tidak indah” ?

(ohya, salah satu resolusi 2008 adalah mengecilkan pipi gembilku spt tampak dalam foto..sebenarnya bikin gw terlihat cute tapi apadaya orang lebih bilang itu 'gembil' hehe)

Wednesday, December 12, 2007

Perpustakaan Pribadi




Setiap pulang ke rumah Bogor, saya sering merasa bersalah terhadap tumpukan buku-bukuku. Mereka tersebar, ada di lemari, ditumpangkan di lemari buku Papa, atau tersimpan dalam kardus-kardus bekas.

I’m a bookaholic. Pecinta baca buku, termasuk (membeli dan) mengkoleksinya. Mulai dari komik dan serial bergambar, novel, hingga text book zaman kuliah. Termasuk juga sayang membuang majalah-majalah. Bahkan, beberapa company profile ada yang saya simpan. Cetakannya yang luks dengan sejumlah foto pendukung yang eye catching, membuat saya rela menyimpannya. Sepertinya, saya memang jatuh hati setengah mati dengan hasil karya berkat ciptaan Johannes Gutenberg ini.

Keinginan saya suatu hari memiliki perpustakaan pribadi untuk buku-bukuku. Suatu tempat yang layak untuk koleksi buku, termasuk CD dan album perangko (iya! Saya masih bisa menyatakan diri sebagai kolektor perangko dan kartu pos yang kukumpulkan sejak zaman SD)...Toh saya mengeluarkan sejumlah uang untuk membelinya.

Pernah pula Saya berandai-andai memiliki Taman Bacaan, lengkap dengan sofa berbantal empuk untuk membuat betah para tamu menikmati bacaan. Tapi, berarti hal itu high maintenance dan butuh modal bukan?



Gambar biblo :
http://www.istockphoto.com
http://www.elpais.com

Pemanasan Global (versi Pemahaman Standar)

Hujan kali ini tidak meruapkan aroma tanah
Harum yang kukangeni saat pulang ke rumah
Rerumputan hijau berganti tembok pucat
Manusia bertambah butuh rumah

Hujan kali ini tidak seperti biasanya
Aku semakin tidak mengenalnya,
Kata orang ini gara-gara pemanasan global
Iklim tak terprediksi
Es di kutub mencair
Dan membuat akhiran ”...Ber” bukan mutlak bulan penghujan

Saya tak punya mobil hybrid
Cuma tahu sejumlah tips hemat ala diri sendiri
Kantung plastik dipakai berkali-kali, produk refil lebih murah ketimbang dalam botol, Pakai kertas bolak-balik hingga lecek dan di-kilo-in ke pemulung

Kata orang sebenarnya kita cukup punya 5 pasang pakaian dalam setahun
Mungkin yang ngomong itu jagoan mix n’match handal?
Atau bukan anak kos yang ngantri mencuci?

Semua membahas perubahan iklim
Sekarang selebritas berkata “go green”
Apakah mereka masih pakai sepatu kulit asli dan berpengeras rambut?
(Katanya sih produk sekarang non aerosol)

Saya masih merindu hujan berbau ilalang
Sambil terpekur di bale-bale sembari mengulum tusuk gigi
Ugh! serat daging hamburger menyelip di geligi
Saya baru tahu pula untuk membuat daging yummy berlapis roti ini menghabiskan ribuan energi,
Dan aku memandangi tusuk gigi, ”Agh, apakah si batang kecil ini juga mengakibatkan hutan meranggas?”

Membuat Resolusi Tahun Baru

Sebentar lagi tutup tahun, ya?
Desember yang tinggal hitungan hari, bakal kamu penuhi dengan tenggat waktu berbagai target akhir tahun, resolusi yang ingin dicapai di 2008, membuka ingatan kembali apakah tujuan yang digoreskan di awal 2007 apakah sudah tercapai.

Ketika melangkah ke rak penjualan koran atau majalah, sejumlah media pasti mengingatkan kita untuk mencanangkan resolusi, lengkap dengan tips membangkitkan semangat dan susun target di tahun baru.

Kenapa sepertinya –harus- tahun baru kita mengadakan pembaharuan? Titik tolak yang idealkah? Rasanya titik mula tetapkan goal setting bisa kapan saja bukan? Bisa saja dimulai dari hari ulang tahun, saat menimbang berat badan ternyata berat sudah melewati ukuran ideal, atau saat ’ditampar’ oleh kejadian yang membuatmu tersadar bahwa kamu harus berubah.

Desember adalah bulan terakhir dalam kalender masehi, dan lingkaran tarikh itu kembali di awal pada Januari. Bagi pekerja kantor ritme kerja tetap 5 hari dari total 7 hari dalam seminggu. Tidak ada jeda Rencana, Target, Prioritas atau Deadline gara-gara ”Ini kan Tahun Baru”.

Tahun baru hanya pembenaran pesta bagi partygoers, party organizers atau industri jasa : End of The Year Sale, Gebyar Akhir Tahun, New Year’ Party, so on and bla.. bla.. bla..

Tahun baru berarti saya harus menyusun rencana di 2008, sembari tetap menyelesaikan tugas yang di depan mata. Dalam catatan agenda pun sudah mulai terisi beberapa catatan-catatan kecil dan posting.

Aghh.. kenapa saya jadi makhluk yang sinis? Tahun 2007 ini saya memulainya tanpa memiliki resolusi tahun baru. Saya sangat menikmati let it flow, kemana air mengalir. Bukan tanpa alasan. Jenuh dengan target dan kecewa dengan realisasi? Mmmm....Saya hampir 2 tahun bekerja di perusahaan sekarang –satu tahun penyesuaian dan satu tahun berikutnya dalam fase menyelami, menikmati (dan berusaha menikmati setiap keruwetan) perpindahan kerja dan penyesuaian diri.

Mungkin sudah saatnya di tahun berikutnya si ‘ranting’ pasif ini memutuskan berubah aktif, melawan arus, mengikuti riak, maupun menerabas. Ataupun menepi dalam hening untuk menguatkan langkah. Perlu membuat ”Resolusi Tahun Baru” sebelum tenggelam membiarkan waktu, hari, minggu dan bulan berlalu statis.

Oke, sebelum jam 12 malam berdentang pada 31 Desember 2007, saya sudah menggoreskan niat dan tujuan yang ingin saya capai di 2008.