Saturday, September 30, 2023

Cerita Baru

Buat cerita baru 

menikmati memori baru 

fokus dan yakin kalau aku akan bahagia dengan pilihan baru 

komitmen itu butuh: siap dan yakin 


Jangan menunda

Jangan buang waktu 


Tidak ragu untuk mempertegas hati! 


Tuesday, April 14, 2020

Ilmu Padi: Semakin Merunduk Semakin Berisi



A: Pagi ini ada cerita yang menggugah untuk aku ceritakan. Tadi pagi di seminar, diriku mengajukan pertanyaan kepada semua peserta, "Apa tujuan Anda kuliah kembali?" Nah, diantara peserta ada seorang Ibu yang cukup berumur mengacungkan tangan keatas. Tebak apa jawaban si Ibu?

B: Hmm... pastinya dia akan menjawab, untuk memperluas wawasan dan networking

A: Tebak lagi...

B: Oh aku tahu! Ibu tersebut katamu sudah cukup berumur, jadi dia mengatakan bahwa kuliah lagi untuk menaikkan jabatan.

A: Salah! Dia mengatakan, "To be wise. Untuk lebih bijaksana."

B: "To be wise" dengan kuliah lembali?Agak-agak weird sih. Berasa kayak jawaban di audisi kontes kecantikan dengan memberi jawaban 'aman'. Jujur saja, diriku kembali kuliah ke S2 tujuan utamanya adalah mencari ilmu. Saat kembali kuliah, diriku sudah merasa nyaman ketika ijazah S1 dan  seminar singkat, training dan workshop selama bekerja kurasakan sudah menunjang pekerjaan. Tapi ada juga perasaan bahwa pekerjaan menjadi suatu rutinitas dan ingin mencari tantangan (hidup) baru. Jadi, dengan melanjutkan kuliah S2 bakal menambah ilmu, wawasan baru dan sudut pandang yang lebih multi-angle atau strategis. Dan kenyataannya, selama diriku mengikuti kuliah S2 diriku memperoleh banyak teman baru yang berpotensi memperluas jejaring sosial. Mereka, teman kuliahku, menjadi tempat aku berbagi keluh kesah kerja dan jawaban mereka multiangle sesuai dengan posisi jabatan dan pengalaman bekerja. Dan di kampus, aku pun jadi bertemu para rekan sesama mahasiswa karena mereka dibiayai perusahaan. Mereka ketika kembali ke perusahaan sudah dipastikan mengisi posisi jabatan lebih tinggi. Jadi, kuliah S2 berpotensi meningkatkan jenjang karir seseorang di dunia profesional. 

(Wow, B cukup panjang lebar menguraikan pendapatnya).

A: Kata kunciku kan, "Ibu tersebut adalah perempuan yang cukup berumur." Tanda-tanda orang berilmu kan lebih wise, bijaksana, dan low profile. Ibu tersebut sudah pada fase yang mampu menempatkan pengalaman diri pada praktek ilmu padi. Semakin merunduk, semakin berisi. 

B: Oh ic... Tapi kan tidak selalu semakin tua seseorang maka dirinya semakin bijaksana.

A: Ho oh sayank....

B: Oke lah.


(Suatu cerita pada suatu hari)
Foto diambil dari: Freepik.com

Tuesday, November 06, 2018

2018


Pada suatu malam hari ulang tahun, doa yang kupanjatkan adalah :

Ingin bahagia

Ingin dikelilingi orang-orang yang menyayangi diriku

Ingin ringan dan lancar melangkah pada setiap niat


Tahun ini adalah tahun pertama diriku melewati hari ulang tahun tanpa adanya orang tua karena mereka telah berpulang.

Tepat jam 00.00 wib di hari ulang tahun yang pertama terjadi: diriku menangis di pojokan kamar tidur! How miserable I’am, I tough, karena biasanya akan ada Mama dan Papa yang akan menelpon saya mengucapkan selamat ulang tahun.

Namun cerita berlanjut dengan ucapan selamat ulang tahun dari kakak dan teman-teman, pesta kejutan di kantor, dan selanjutnya Dia - yang tak rajin kusebut dan kudekati – sepertinya membalas pintaku dalam bentuk hari-hari yang kulalui terjalani sesuai doaku.


Ternyata bahagia adalah perkara hati.
Semua diawali dari niat dan semesta mendukung. 
Jika diri ini ingin bahagia, maka awali dari diri. Segera simpul bentuk senyummu dan yakinlah bahwa itu menjadi aura kebahagiaan yang menebar.



I feel like reborn .. 





Wednesday, March 01, 2017

Sepenggal Cerita Remeh bak Rempeyek

Sore itu tidak biasanya saya sudah tiba di hunian sebelum kelam menelan mentari. Dan mata tertuju pada warteg depan apartemen yang masih buka.

Warteg ini sebetulnya sebuah halaman depan rumah yang dimodifikasi berjualan makanan dan tempat orang bersantap. Di warteg ini ada satu penganan saya suka, yaitu rempeyek udang yang renyah dan besarnya seukuran tampah (noted:superlative statement sih…). Taburan udangnya pun melimpah. Tidak seperti umumnya warteg yang lebih banyak tepung ketimbang isian. Enak dan, tentu saja, cepat habis. Laku.


“Pak, pesan nasi putih satu, peyek udang dua,” ucap saya dengan artikulasi (dibuat) jelas. Setahuku Bapak itu memang agak tuli. Penampilan pun cukup renta. Jalannya sudah tertatih dan setiap gerakan menjadi slow motion. Dia menjaga warung sendiri malam itu. Biasanya ada istri, yang juga tentunya renta, menemani berjualan.

Yap, sebenarnya saya sih malas kalau berurusan sama Bapak ini, karena berkali-kali “drama”, tapi mau galak kok  jadi membayangkan seandainya Papa-ku punya warteg.... Saya rasa cara mengatasi kendala itu dengan berbicara dengan suara keras dan artikulasi yang jelas. 
   
Bapak tersebut mengambil sebuah kantung plastik bening dan mulai memindahkan isi sebuah mangkuk yang berisi racikan daging dan sayuran, memasukkannya  ke dalam kantung plastik yang dipegangnya di tangan kiri. Saya diam dan menyimak setiap langkah slow motion Bapak itu. Lama-kelamaan baru sadar kalau menu andalan  warung tersebut adalah sop iga sapi. Waduh, Bapak ini pasti mengira saya pesan sop.

Saya sontak bersuara, daripada seluruh isian mangkuk berpindah ke kantung plastik. “Pak, pesanan saya nasi dan peyek udang,” jelasku. Bapak yang biasanya nyolot tapi kali ini hanya berkata, “Oh saya kira sop. Maaf,” katanya sambil membalik badan menghadap rak kaca yang semula dipunggungi olehnya. Rak kaca bagai di resto Padang ini memang menyajikan tumpukan rempeyek udang yang memancing mata menghampiri warteg seperti kusampaikan di awal cerita.

“Maklum Bu, sudah umur 70 tahun,” celetuknya.

Bagi saya kejadian tadi tidak masalah. Saya asli tidak dalam kondisi cumulonimbus menggantung yang tersurat pada raut muka. Tidak juga menjadi bad mood meski baru mengalami kondisi harus menerabas jalanan macet brengsek dari wilayah Thamrin. Meskipun bangku ojek terasa hanya secuil luasan pantat, dan bang ojek pengen dikeplak gara-gara selipan-selipan nekat diantara mobil.  

Saya malah ketawa sambil melempar guyon, “Yah Pak, 70 tahun mah masih muda. Bapak saya saja sudah 80 tahun,” candaku.

Bapak tersebut balik berkilah, “Iya tapi Bapaknya Ibu kan beda kondisi ekonomi.”

Saya langsung terdiam. Saya langsung ingat Papa saya dan pernyataan saya murni apa adanya buat menghibur. Umumnya orang pasti punya satu gambaran massal tentang: “Tua dalam usia lebih dari ¾ abad” seperti Papa saya. 

Entahlah, saya benar-benar tak paham maksud Bapak tersebut dengan definisi “kondisi ekonomi”. Apa kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan maintenance something old item? dan situ memangnya sudah lihat rekening tabungan saya. Ketika pengunjung datang dari bangunan apartemen sementara dia di landed house itu dikatakan beda kondisi ekonomi, tentu Bapak tak tahu kadang manusia pencakar langit, punya kisah menggadaikan hidup dalam pay to bill.

Hidup terasa banal.  Tampilan kadang beda dengan isian. Setiap orang lahir dengan tujuan dan fungsi dalam hidup, meskipun kadang bagai keranjang sampah, ditaruh di pojokan atau buangan.

Malam sudah mewarnai langit ketika saya melangkahkan kaki meninggalkan warteg bersama sekantung rempeyek udang. Saya masih bisa tersenyum dan membalas sapa bapak-bapak security yang saya lalui menuju unit apartemen. Sepertinya “mood awan kumulonimbus” memang tak mampir.  Pada akhirnya saya berpikir, “Yang baper Bapak itu atau perasaan saya serapuh rempeyek? Karena benak ini  terketuk-ketuk hingga mampu menulis blog sepanjang ini.” 

Pada paruh sisa malam, saya pun menyantap peyek sampai remah terakhir. Sambil menuntaskan tulisan remeh nan ringan. Terima kasih bagi teman-teman yang membaca tulisan ini dari awal hingga habis.    

Tuesday, February 07, 2017

Hidup untuk Hari Ini & Lupakan Masa Lalu


Setiba di kantor pada Senin pagi ini, pencarianku tertuju pada secarik kertas kecil di atas meja kantor. Entah kenapa sepanjang akhir pekan pikiranku melayang pada lembaran kertas yang tak lebih dari 1 x 5 sentimeter itu.

Sebuah lembaran dari fortune cookies, sebuah kue yang selayaknya tipis dan renyah, dengan isian sepotong kertas berisi kata-kata yang berisi petuah atau ramalan. Kata-kata itu lebih kurang seperti ini, "Live for today. Learn from yesterday and hope for tomorrow".

Kalimat bijak yang bisa dikutip dari 101 Quotes lalu dicetak untuk pesanan massal meriuhkan New Year. Lalu gunakan probabilitas ketika tangan dimasukkan ke dalam kantung plastik besar, cap, cip, cup sambil membatin, "Semoga ramalan fortune cookies ini tak memperkeruh awan mendung yang selalu bergelayut dalam paruh tahun."

Lalu... Damn! Saat pertama kali membaca lembaran kertas sambil mengunyah kue yang sudah setengah masuk angin itu tidak ada yang istimewa.

Skeptis? Cendrung sinis? Yes, that's me!

Tapi entah kenapa silly though senantiasa membawa saya kembali ke tulisan itu. Entah cerita film tentang relativitas ramalan lembar fortune cookies dengan kejadian yang dialami, ada hal pelecut diri menampar muka sendiri, hingga berpuluh minggu  telah dilalui untuk pada satu hari di tengah duduk termenung sendiri di rumah, diantara tumpukan memorabilia bagian dari masa lalu, meneriakkan pengakuan, "Ada yang salah dengan diri ini!"

Hidup tidak selalu indah, tapi selalu percaya kalau awan mendung pun punya garis perak, bahkan senyum lengkung pelangi akan menanti setelah hujan badai.  Kita mampu membalikkan cerita jadi kisah semanis gulali. Setiap orang punya rahasia. Tapi bak buku terbuka ketika setiap orang yang menatap kita bakal mendesah, "Ada yang tidak beres nih!"

Jika setiap manusia punya lembar Laporan Kinerja periodik, maka rapor Semester II-2016 tidak indah. Kinerja tercapai tapi dengan tertatih. Nilai tinggi hanya di angka, tapi silakan mematut diri, meskipun akan menghabiskan energi karena cermin pun entah dimana (karena entah berapa lama cermin disingkirkan).

Saya tertawa tapi saya bohong. 
Saya ada diantara keramaian, tapi jiwa ada di ruang sunyi.  
Saya tidak semangat. Bahkan make up bukan sahabat penutup luka.  

Masa lalu kadang hanya jadi cerita dulu. Saya atau manusia manapun  tidak bisa mengubah suratan Tuhan.

Takdir adalah teman pengalaman.

Seperti lembaran fortune cookie di meja saya yang sudah dibuang petugas Cleaning Service kantor, lembaran itu itu seperti masa lalu yang perlu dibuang, karena dia tak lebih secarik kertas yang sudah berminggu-minggu di meja kerja.

Hanya kalimat bijak yang sedang kurapal menjadi mantra: 
Hidup untuk Hari Ini. Lupakan Masa Lalu. Kumpulkan cerita di saat ini menjadi helai benang untuk memintal masa depan. 

Dan sebaris puisi kukutip menutup renungan malam:

“Death and Light are everywhere, always, and they begin, end, strive, attend, into and upon the Dream of the Nameless that is the world, burning words within Samsara, perhaps to create a thing of beauty.” - Roger Zelazny 

Oh ya, kadang lagu lama adalah  #moodbooster , karena syair yang melantun adalah teman menyusun puing-puing diri:

Tuesday, April 26, 2016

Cinta dan Blink Blink in the Eye


Entah berapa lama blog ini terbengkalai. Masih sempat mengunggah satu per satu artikel tapi dengan jeda yang jauh. Kalau membaca kembali artikel-artikel yang saya posting, saya mengakui blog ini bak benih yang berkembang menjadi pohon. Blog ini menjadi saksi sejak bibit disemai di ladang biner hingga dia bertumbuh terus menerus menantang matahari, hujan badai, dan tegar merekah menambah bilah cerita sejalan rintik kisah yang disiram olehNya.

Dari lajang radikal nan tersamar di balik puisi dan larik puitis, ketika saya jatuh cinta dengan pria yang kusematkan nama: Bintang Jatuh, Pria beraroma tembakau, si bibir silet, hingga akhirnya menyimpan nama itu di nadi dan dikemas di dalam sudut hati.

"Cinta" ternyata sumber inspirasi terbesar kemampuanku menggurat syair puisi. Dan puisi-puisi mengalir menjadi kebanyakan artikel di blog ini. Namun meskipun dia masih ada, dan dia kini menjelma menjadi binar mata, glowing in my skin, dan saat saya tanpa sadar menyunggingkan senyum saat bersitatap, atau sekadar mengingat untuk menyapa Dia nama yang kuingat di pagi hari saat saya terbangun. Mungkin usia membuat saya berdamai dengan perbedaan, meredam mood-swing, dan memperkecil semua masalah yang memang ga benar-benar masalah.

Blink Blink in the Eye vs Kentang Goreng French Fries 

"Kenapa baikan?"
"Sepertinya saya menjadi sosok yang lebih baik sejak bersama dia."
"Hatimu gimana? Tapi, kamu harus tanya, hatimu maunya apa."

[Silent. Sesi pertemuan dengan sobat berpikir penuh logika terasa jadi salah kisah.]

"Kamu sebenernya dah males juga. Kenapa diteruskan?"

[silent]

[krauk....krauk... suara gigi bersentuhan dengan french fries yang dingin dan mengeras]

[tiba-tiba menganalogikan hati ini seperti kentang goreng fast food yang crunchy saat baru tersaji, namun ketika dibiarkan di nampan menjadi dingin kempos pengen dilepeh. Hati ini lalu bertanya, hal apa yang membuat kita mau baikan dengan pasangan setelah badai...   ]

Gambar dikutip dari: www.isharequote.com


Saturday, February 13, 2016

Hujan

Hujan selalu membawa lamunan.
Ketika di dalam taksi, menikmati kemacetan jalan raya di Jumat malam jam 20.00 wib lebih. Iya. Nikmati saja daripada kesal hanya membawa sesak dada.

"Masih di kantor kamu?"
Whatsapp ini pertanyaan senada hampir setiap malam. Kecuali di akhir pekan.

Mungkin ini nasib kisah kasih orang dewasa di belantara Jakarta. Bukan lagi tentang tanya lagi dimana kah, sudah makan kah, bukan pula tentang betapa 'what the hell' hari ini.

Kesibukan kerja. Kemacetan Jakarta.  Tidak ada curhat tentang kerja yang rempong. Karena daripada ngomong dan berbagi omelan, mending diatasi.

Waktu yang singkat bagi kami terlalu sayang untuk digilas emosi gara-gara masalah ga penting. Masalah itu ga selesai dengan curhat, tapi dengan aksi dan hati yang lapang.

Kerjakan dan temukan solusi. Dia juga turut membantu mengubah sifat kewanitaanku yang tukang gerutu dan berceloteh lepas.

Sebenarnya Saya mau cerita apa?
Tidak ada.

Hanya sekadar menikmati sisa hujan, kemacetan jalan raya.
Hanya sepenggal kisah kecil menunjukkan diri ini berubah. Termasuk dalam cara menikmati hujan.
Hujan telah berkali-kali menjadi sumber inspirasi menulis. Hujan bak derai tangis langit yang hendak melarungkan debu dan kotoran ke antah berantah. Namun derai air dari langit sangat spesial untuk menjadi pembangkit cerita.

Jakarta, Jumat 12 Februari 2016


Monday, February 08, 2016

Watch Your Mouth, Dude!

Malam-malam pesan kue di sebuah toko kue yang sudah berusia matang.
Tibalah giliran bayar. Rencana bayar lunas. Metode pembayaran tunai.
Kasir menggesek kartu debit BCA. Status: Decline.
Kasir nyeletuk, "Ga cukup."
Jreng! Ucapan yang enteng. Two simple words. Tapi bagi obyek pemilik kartu, saya, serasa angin diiringi hujan yang mengguyur Jakarta di awal pekan Februari menyiram badan saya seketika itu.

Muka saya langsung gigi taring. Sayangnya demi komitmen: usia baru, tahun baru, resolusi mulut harus dicuci bersih tanpa bicara nyinyir dan kasar.

Saya pun berkata, "Mbak, saya yakin lho saldo saya cukup untuk membayar lunas."
Ibu Supervisor mulai menangkap gelagat customer mulai gahar. Ia mendekat ke posisi kasir.
Selanjutnya uji coba lagi masih tetap gagal. Decline. Si kasir ngomong, "Tuh kan ga bisa mbak," terus dia ke Supervisor seraya berkata, "Tapi ibu/mbak ini yakin uangnya cukup!"

Ngok!

"Oke mbak, bayar pas pengambilan. Saya utang ya!"

Bagi saya status "Decline" terjadi kalau saya: lagi-lagi salah memasukkan pin. Kartu diblokir *Ini sudah pengalaman pribadi lebih dari satu atau dua kali. Bahkan seandainya bank punya promo get stamp untuk masalah kesalahan pin dsb kayak di suatu convenience store, saya sudah berhasil bawa pulang piring, mug dll*

Apalagi saya sempat melihat koneksi dua mesin EDC di meja kasir tidak stabil karena pengaruh cuaca Jakarta malam ini memang tidak kondusif. Teman-teman yang paham perbankan juga pasti dengan senang hati menjelaskan supaya berbagai latar belakang penyebab status Decline makin komprehensif dan melengkapi pemahaman saya :)

Moral of story: tidak gampang menjadi pribadi MELAYANI jika Anda jadi pekerja di dunia jasa atau apapun industri yang Anda geluti. Mulutmu harimau mu. Teman kita memaklumi cara dan gaya kita berucap. Tapi imbas ucapan enteng berbeda di telinga customer.

Dari kuping lalu dicerna emosi dan otak, berujung pada bad experience. Akibatnya bisa jadi customer dengan senang hati menuliskan pengalamannya ke dalam blog, seperti saya. Bahkan membubuhkan judul "Dipermalukan Kasir" di artikel. Mulut pun dengan senang berceloteh menceritakan pengalaman ini menjadi mouth-to-mouth.

Apa nama toko kue-nya? Ahh.. Dewi Retno Siregar kan mau menjadi pribadi positif. Mau jadi orang yang mampu mengunci mulut agar tak enteng bicara. Psst, nanti suatu hari teman-teman juga tahu *wink*

Noted: "Dude" dibaca "Dud" adalah panggilan sayang saya dari keluarga. Jadi tulisan ini menjadi bagian refleksi diri.

Saturday, October 03, 2015

Rumah Tempat Pulang


Berawal dari "Hai"
Berlanjut ke jutaan hari yang selalu terselip kalimat "Hai, sedang apa?"
Hanya tiga kata tidak pernah terucap
Tiga kata yang selalu tak pernah kita katakan 
Cuma selalu ada tentang kamu di hidup saya
Demikian pula ada saya di bagian hidup kamu

Terselip pula kisah The Other Guy/Girl di perjalanan hidup kita
Kita bukan selingkuh. Kita toh bukan berada di pernyataan tiga kata
Dan saya selalu bebas mengetuk pintu kamu ketika menangis 
Ketika butuh dekap maka lenganmu selalu hangat merengkuh
Selalu...lebih hangat merangkul daripada dia yang lain

Lalu hari ini saya hendak melangkahkan kaki keluar pintu
Biasanya membiarkan kamu di belakang. Cuma kali ini terasa berbeda 

Berawal dari "Hai"
dan berlanjut sebuah tanya "Maukah kamu tiap hari menjadi pembuka hariku?" 
Entah mengapa.. lirih bibir mengucap, "Ya, saya bersedia. Kamu adalah rumah tempatku pulang" 

** Bruce Springsteen - Secret Garden



Monday, January 12, 2015

Senin Pagi di Januari 2015

Senin pagi di pekan ketiga di 2015. Cuaca hari itu menyapa Jakarta dengan derai hujan yang mungkin membuat sebagian orang masih terbayang bergelung di kasur saat akhir pekan, sebagian lagi mempercepat langkah bergegas beraktivitas sebelum hujan semakin besar, sementara saya berada tidak diantara keduanya.

Pagi ini saya telah duduk manis di meja kerja, sambil menatap layar monitor. Kali ini pendingin udara cukup bersahabat dengan kulit yang rentan dingin, sementara mata dan otak pun sudah siaga konsentrasi. Biasanya saya senang menyimak suara hujan samar terdengar saat butir-butir air menyentuh atap, daun jendela, atau menghantam permukaan tanah. Tapi ini bukan yang saya nikmati pagi ini. Suasana hati pun tidak semendung langit kelabu di pertengahan Januari ini.

Ada sejumlah pekerjaan rencana kukerjakan saat ini, sembari menyumpal telinga dengan alunan musik, dan sesekali membiarkan pikiran menerawang tentang Dia. Ahay! Rasanya lama saya tidak menyebut tentang seseorang yang kusematkan panggilan "Lelaki beraroma kretek", "Pria Utara", atau apapun asalkan bukan inisial. Karena abjad terasa tak spesial bagi seorang yang teramat istimewa.

Kusebut saja "Dia" memang saat ini belum kutemukan julukan yang tepat.
Kulampirkan kata “memang” karena sedang kusemat doa suatu hari menjadi Kejadian.
Dia yang derai tawanya membuatku terpana di suatu sore jelang malam.
Dia yang biasa menjadi terasa Tak Biasa.
Suatu malam pasca pulang kerja di suatu tempat nongkrong chit chat tanpa teman kopi.
Menjadi tidak biasa karena tidak kupilih kopi. Dan diapun tidak memilih kopi, melainkan air jeruk.
Ah! sejak mula kami memintal cerita perkenalan dengan tidak biasa. Selanjutnya juga ada percikan-percikan yang berbeda dari caranya dia menemani diri ini dalam berkisah.

Aha! Aku jadi ingin menjulukinya pria "Orange Juice". Seperti nama minuman yang dia pilih, dan sedang kugandrungi kejutan-kejutan bak “janji umumnya buah jeruk”.

Ternyata yang tidak biasa itu bisa membawa bahagia. Seperti kilau bintang berbinar di tengah gulita, indah dan berguna bukan?!

Sepertinya, Dia mewakili sisi manusia baru dalam diri ini.
Ketika saya saat ini menjadi Pecinta Pagi.
Ketika kawan menyebut aku "dewasa" di usia yang tak muda. 
Ketika bukan lagi meledak-ledak bak kompor bledug.
Ketika saya yakin bukan si pasangan labil serta ego-sentris.
Ketika kompromi ternyata lebih menarik ketimbang hitam-putih. 

Cerita ini masih terlalu pagi untuk kuceritakan.
Tapi pagi ini membuat saya ingin menulis blog dan mengupas kisah meskipun hanya selembar tulisan dangkal :)
Pagi ini kutandai sebagai suatu awal tahun baru yang masih penuh pengharapan.

Monday, October 20, 2014

Miskomunikasi Kata


Suatu Minggu siang di halte Transjakarta Salemba UI.  Saat itu tengah hari bolong di suatu musim panas. Suasana di dalam halte relatif sepi, hanya ada dua orang petugas karcis di dalam loket, beberapa penjaga plang pintu dan nyaris tidak ada penumpang lain sedang menunggu TransJakarta.

Saya bertanya ke salah seorang bapak penjaga palang  pintu.

“Pak, ada yang ke Atrium Senen?”

“Ada. Nanti naik aja bis yang abu-abu panjang.”

Oke. Saya pun masuk setelah kartu e-money berhasil diproses di mesin pembaca kartu. Menanti tidak pasti memang bikin resah. Saya pun tidak sabar setiap kali ada busway abu-abu berhenti. Sebagai bukan pengguna rutin moda bus khas ibukota ini, tapi definisi “yang panjang” tidak tergambar jelas di benak ini.

Setiap TransJakarta berhenti di halte, saya akan bertanya ke kondektur bus yang biasanya akan berdiri di samping pintu bus TransJakarta saat pintunya terbuka. Dan jawabannya cuma pendek, “Bukan.”

Sudah dua bus abu-abu berlalu dan bukan “si panjang”. Lalu dua remaja putri yang berpenampilan meyakinkan, definisi ‘meyakinkan’ bagi saya: sepertinya sudah pakar dengan moda transportasi TransJakarta.

“Mbak, kalau yang ke Atrium Senen yang mana ya?”

“Oh yang bus-nya cakep, mbak”

(melongo)... Ini rasanya makin blunder, batinku.

Akhirnya, TransJakarta merah-kuning (yang belakangan saya ketahui menuju Gunung Sahari-Mangga Dua) lewat, dan ketika saya mengajukan pertanyaan sama, mbak petugas pintu di dalam busway menarik saya dan mengatakan nanti turun saja di Halte Senen untuk kemudian berganti dengan yang ke arah Atrium Senen.

Dan....akhirnya setelah turun di Halte Senen Sentral, saya pun mengerti yang dimaksud ‘si abu-abu panjang’ adalah TransJakarta berwarna  abu-abu berbentuk bus gandeng.


*tepok jidat* Hadeh, ternyata miskomunikasi kata nih.. akibat asumsi dan pemahaman yang tidak berada dalam satu jalur yang sama :D 

Thursday, August 21, 2014

Tentang Waktu

Seandainya ini momen tepat
Ketika diri siap dihampiri

waktu akan memberi kesempatan kita bertemu 

Seperti dikatakan sahabat
Semua tentang waktu yang tepat
hanya perlu memintal renjana hingga membentang cita

Seandainya ini kesempatan yang menghampiri
lengan siap membentang rengkuh
mengalirkan cerita yang siap kita pilin

Jakarta, 21 Agustus 2014

Friday, August 15, 2014

LDR

Jatuh cinta ini masih untuk kamu
Kamu yang selalu dan selalu inspirasi larik puisiku

Hanya jauh dan sangat jauh berani memandangmu
Jatuh dan jatuh cinta dari sebuah tatap dan harap
Merangkai sebait cerita sambil menganyam asa  

Jika dan jika masih bisa aku menulis puisi
Inspirasi ini dari keping merah jambu kusimpan untuk kamu



#CeritaKamis


Thursday, August 14, 2014

Hari-Hari Penuh Warna

Hampir seminggu ini hariku penuh warna. Paling tidak, sejak Senin hingga Kamis malam ini ada cerita yang kuingin share di blog ini.

Senin dimulai dengan bangun kesiangan! Ouch! The d*mn thing-nya karena hari itu aku sebenarnya harus mempresentasikan sebuah materi yang kubuat semalam suntuk selama weekend L

Rasanya jleb..jleb. ingin memaki tapi yang perlu kutampol adalah diri sendiri. Membuat presentasi dalam bentuk powerpoint –jujur- memang jadi ‘masalah’ tersendiri bagiku yang biasa bermain di area kata, kalimat dan alinea.  Karena ga bisa, ga biasa, serta cari akal, misalkan dibantu teman (ssst!) jadi merasa bagai kancil cerdik yang selama ini berhasil keluar dari masalah pembuatan laporan presentasi.

Tapi entah mengapa sepertinya semesta mendukungku untuk saatnya bermain di bahasa gambar (baca: slide presentasi) dengan berada di pekerjaan sekarang.

Dan kali ini saya berusaha maksimal, termasuk dengan melakukan riset, mengutak-atik bahasa dan bermain template,  tapi kaboom! Berakhir sebagai ironi karena di hari-H justru saya kesiangan bangun.

Selasa? Ada obrolan kecil di sore hari dilanjutkan dengan melepas endorfin di lapangan tenis. Obrolan kecil terkesan chit chat, hanya saja ada cerita menggantung yang membuatku jadi berpikir ulang mungkin selama ini aku melihat suatu hal cuma 180 derajat, jadi perlu mengaji ulang dan mencoba melebarkan sudut pandang. Mungkin cerita ketok-ketok logikaku itu yang mempengaruhi mood malam itu di lapangan tenis sehingga semangat latihan tanding ganda dan serve-ku di lapangan dikomentarin pelatih terlihat lebih baik.
  
Berlanjut di hari Rabu ada janji temu, satu pertemuan memang terencana, namun malam hari ada pertemuan mendadak. Tapi dari hasil bertemu ada inspiring idea untuk pekerjaanku. Ohya biar cerita inspirasi ini jadi tulisan blog tersendiri atau lebih baik aku coba praktekkan dulu J

Kamis? Yah galau-galau kecil yang selalu terjadi di diri ini. Nope! tak akan kulanjutkan ceritanya di dalam tulisan ini *wink*


Hmm....apa membaca tulisanku tidak terasa warna-warni? Di benakku ada semburat pelangi dalam cerita kehidupanku seminggu ini. Tapi memampatkan dalam tarian jemari di keyboard mungkin saat ini terasa susah buat si blogger malas update. *tunggu tulisan-tulisanku yang lain*

Saturday, May 03, 2014

See-Do-Get: Menjadi Manusia Produktif Luar Biasa


Hosh... hosh...
hosh...

Hihihi...itu suara nafas saya saat menaiki tangga darurat apartemen. Bukan! Bukan karena lift apartemen under maintenance (yang memang kadang terjadi) sehingga menapaki tangga hingga mencapai ke lantai unit kita berdomisili, terasa lebih cepat ketimbang menanti giliran menjadi pemakai lift.

Tapi awal pekan ini saya menjalani dua training dari Dunamis yang berjudul The 5 Choices to Extraordinary Productivity. Kalau aku coba berbagi kepada pembaca blogger tentang kesimpulan menarik yang saya dapatkan selama training adalah sebagai berikut: intinya kita musti mengetahui mana yang (paling) penting sehingga kita bisa menentukan prioritas. Mengutip Leigh Stevens, “Extraordinary productivity is not just about time management. It’s about managing your decisions, attention, and energy.”

Hoo okelah, selama ini saya mencoba membagi waktu untuk menjadi profesional dan personal. Punya agenda pribadi dan menyusun to-do-list. Tapi yang baru sadari dari hasil training itu, yang saya lakukan selama ini baru sekadar produktif setiap hari. ‘Hanya mengisi’ hidup 24 jam dan di malam hari saya sisipkan perbincangan bersama Tuhan saya mengatakan, “Thanks God untuk hari ini. Semoga saya bisa tidur dan besok masih kau beri aku kesempatan mengisi hari.” Filosofis? Yap! Tapi salah arah. hehe..karena yaaa itu tadi, belum mikir tentang goals atau tujuan jangka panjang.

Padahal kita harus sadar diri ini punya peran sebagai: Personal, Profesional, dan Social. Saya tiba-tiba jadi ‘ketampar’ teringat lagi berbagai hal yang terjadi dalam diri ini. Di sisi profesional saya cuma produktif secara daily task, di Personal pun saya jumpalitan antara menjadi anak yang baik apalagi menjadi yayang yang baik, sementara di sisi Sosial saya sering abai kepada teman-teman yang mengajak saya ketemuan di weekend dengan mengatakan “sibuk”. Damn! benar lho, saya saat itu bukan ‘sibuk’ dalam arti mengelak, tapi sibuk dalam arti sebenarnya.

Nah, saya kudu menentukan dulu peran yang ingin saya wujudkan sebagai seorang personal. Termasuk berjanji meminimalkan Sabtu menjadi Hari Apa Saja... termasuk menjadi Hari Menyelesaikan Kerja! Aih, saya jadi ingat suatu kejadian bersama seseorang sebut aja si Zorro. Malam minggu yang sebenarnya saat hangout santai, malahan Zorro duduk manis di apartemenku menonton MotoGP yang disiarkan di salah satu stasiun TV swasta, sambil makan McD hasil pesan antar. Sementara saya ngapain??? Saya duduk di meja makan yang beralih fungsi menjadi tempat saya mengetik paper ditemani setumpuk buku-buku kuliah. Hingga dia pulang setelah pertandingan kelar, saya masih duduk manis mengetik!

Sebuah konsekuensi menjadi pekerja yang kembali kuliah adalah  waktu memang bakal tersedot untuk menyelesaikan tugas kantor ditambah paper tugas dari dosen baik yang sifatnya individual maupun kelompok. Tapi kalau dipikir sekarang ini, jangan-jangan ada pola salah dalam diriku yang menjadikan Sabtu sebagai hari menyelesaikan pekerjaan tak terselesaikan selama weekday?

Karena memang pola ini berlanjut hingga kini. Jadi harusnya saya menjadikan hari Sabtu sebagai hari Personal atau Social, malah menjadi: let it flow babe, Saturday is the work day also!

Jadi, meskipun saat ini menjadi masa-masa mengejar karir, role Social dan Personal harus kita masukkan dalam prioritas hidup. Misalkan menjadi : Best Friend-nya lovely one; the good daughter; menerbitkan buku puisi, Ve Dhanito wanna be, hingga ingin jadi Runaway Darling..  

Dari memilih mana Peran yang ingin kita capai, baru kemudian kita turunkan menjadi apa saja kegiatan  yang ingin kita lakukan. Misalkan konsekuensi ingin menjadi menerbitkan buku puisi diikuti  kembali rajin ikut Sastra Reboan (nah!), kembali membuat coretan-coretan sajak, serta membangun diskusi silaturahmi bersama komunitas penyair.

Nah, terus apa urusannya cerita tentang naik tangga darurat apartemen dengan tips menjadi manusia luar biasa?

Begini, sejak sebulan lalu saya kembali berolahraga. Betul! Saya sudah lama tidak beraktivitas olah fisik secara rutin dengan alasan sibuk, tidak ada waktu, atau beralasan ada prioritas lain yang lebih penting. Tapi saya ingin badan bugar, dan menempatkan rajin berolahraga sebagai salah satu resolusi tahun 2014.  

Meskipun ngaret beberapa bulan memulai resolusi tahun baru tersebut, tapi saya bisa katakan sejak Maret lalu saya menyisipkan aktivitas olahraga dalam rutinitas mingguan. Meskipun 20 menit, tapi saya harus mengapresiasi diri ini...dan hasilnya sempat terasa juga ketika saya sempat jatuh sakit karena flu. Biasanya saya orang yang gampang ‘ketepaan’ orang sekitar saya yang lagi flu, atau cape sedikit kontak badan langsung nge-drop. Tapi rasanya butuh terpaan hampir sebulan dari kondisi rekan bersin dan hidung meler, deadline kerja, tugas luar kota hingga nongkrong di udara terbuka malam hari demi dapat hasil foto ciamik, yang akhirnya membuat badan ini ‘mengibarkan bendera putih’ alias jatuh sakit.

Lalu saya menyimpulkan bahwa olahraga memang bermanfaat buat diri saya. Dan hasil dari training ini saya menambahkan satu lagi yang harus saya tambahkan dalam menjaga kebugaran, yaitu memilih naik turun tangga ketimbang lift.

Ketika berangkat kerja sehari setelah training tersebut, di lampu merah saya berpapasan dengan mobil operasional Bintan Triathlon, rasanya semesta mendukung ucap membatin saya suatu ketika “Pingin ikut triathlon....tapi  mampu ga ya?? ”perlu dikejar! haha... Personal dream J



Sunday, April 27, 2014

Maaf, Blog Ini Menjadi Kering



Maaf, blog ini menjadi kering
karena hidup terlanjur garing

terhempas angin otak pun pening

(Gambar dikutip dari: artfabrik.com)

Thursday, March 27, 2014

Level Acceptance = Zero


How long you accept your pressure as your acceptance?

You make a promise, then being the broken promises. And also you being left behind with other people. Then tomorrow is still the cloudy sky.

Being the nice person sometimes not the good enough.

Being the one not yet  you are the best.

So let me see you tomorrow as my silver lining. Maybe you are not my northen star anyway.


#tentangjenuh
(Gambar dikutip dari wall.alphacoders.com)



Kok Saya Lemot Sih?

Beberapa hari ini saya punya pengalaman menjadi "si lemot". Mulai dari ketinggalan mengikuti langkah-langkah pengisian SPT saat bersama-sama diajari, ketinggalan dari teman-teman kantor saat nge-mall, hingga ketepok bola tenis gara-gara saya bengong. 

Aduh! jangan-jangan ini gejala tua ya? Prosesor tubuh saya berupa Intel Pentium IV, sementara rekan-rekan di sekitar saya berprosesor Intel Core i7 sehingga super responsif, gesit dan cepat. Kebanyakan mikir juga bisa ya, memperlambat daya pikir dan kecepatanku bereaksi? 

Tapi seperti dikemukakan Harvard Medical School kalau suatu hari kita mengalami kejadian mengobrak-abrik rumah demi mencari kunci mobil atau kacamata yang terlupa entah ditaruh dimana, ini salah satu pertanda gejala pertambahan usia. Atau lupa dengan nama rekan saat berpapasan di jalan, juga salah satu tanda penuaan.

"Umumnya manusia mengalami alpa gara-gara pertambahan usia," kata Dr. Anne Fabiny, Chief of Geriatrics at Cambridge Health Alliance dan assistant professor of medicine di Harvard Medical School.   

Tapi Fabiny memberi tips sederhana untuk menjaga daya ingat, dan menolong otak kita agar mampu mengingat dengan lebih baik. Yaitu: 

Lakukan rutinitas: misalkan meletakkan kunci, kacamata, dan handphone di tempat yang sama setiap hari, untuk memudahkan pencarian yang istilahnya ga perlu pake putar otak atau “no brainer.”

Konsentrasi atau perlambat kerja agar otak diberi waktu untuk mengumpulkan sejumlah memori. 

Hindari multitasking atau lingkungan yang noisy, dua hal yang memacu memori bekerja lebih keras.

Dan tiga hal terakhir yang cukup penting: pastikan cukup tidur, hindari stres, dan konsultasikan ke dokter tentang obat yang dikonsumsi apa akan berpengaruh pada daya ingat.  

Hoamm.. hari ternyata sudah malam saat saya menulis tips ini. Oke, saya mau segera tidur demi menjaga daya ingat, menjaga daya tahan tubuhku yang Pentium IV, dan demi beauty sleep  :-) 


Gambar dikutip dari: Images.sodahead 


Sunday, August 04, 2013

Konsekuensi Pekerja Kembali ke Bangku Kuliah

Lama tidak mengupdate blog. Kali ini alasannya karena banyak hal yang baru dalam kehidupan saya yang membuat saya melipir dari dunia per-bloggeran.

Sejak saya memutuskan kembali ke bangku perkuliahan, dengan mengambil studi pascasarjana (S2) memang hidup saya hanya terpusat pada dua hal: kantor vs kuliah. Apa rasanya kuliah sambil kerja?
Bukan hal mudah! Dari persoalan urusan finansial yang terkuras, waktu selama 24 jam yang terasa kurang, menyusutnya aktifitas hangout bersama teman-teman, hingga penyakit yang mampir akibat badan kelelahan dan stres.

Akhirnya saya menyimpulkan pembelajaran terbesar yang saya petik dari kuliah sambil bekerja yaitu: bagaimana saya harus berdamai dengan kenyataan bahwa menempuh studi sambil bekerja membuat saya menerima kenyataan tidak bisa mencapai peringkat terbaik.

Ini kawah candradimuka buat saya yang suka ambisius dan do everything perfectly. Saya harus belajar berdamai bahwa “terbaik tidak selalu 100% bagus” dan belajar sabar.

Ga bisa dipungkiri ketika mengeluarkan biaya cukup besar (saya membiayai sendiri kuliah S2 saya), ada perasaan tidak ingin sia-sia. Tolok ukur keberhasilan bangku formal adalah nilai Ujian Akhir Semester (UAS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IP.K). Tapi pada akhirnya saya merasa prioritas utama adalah menciptakan win-win solution memiliki sikap profesional dalam menghadapi pekerjaan kantor sementara kuliah S2 bukan mengejar nilai, melainkan sebagai sarana pengayaan ilmu, membuka wawasan dan menciptakan sudut pandang berbeda.

Justru saat-saat kuliah menjadi oase saya dari kepenatan kantor. Karena pergi ke kampus untuk kuliah adalah kesempatan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang pekerjaan dan perusahaan. Jadi intinya S2 adalah membangun jejaring (networking) termasuk dengan para pengajar.

Dan ketika nama saya sudah tertera sebagai salah satu nama wisudawan untuk Semester Genap 2012/2013, saya bahagia telah merealisasikan salah satu impian saya: suatu hari kembali ke bangku kuliah dengan mengambil S2.

Sudah bisa menarik nafas lega bersyukur pada Allah SWT telah mengabulkan doa terbesarku yaitu: lulus tepat waktu selama empat semester.

Wednesday, April 17, 2013

Margareth Thatcher: In Memoriam dan Inspirasi bagi Wanita


Rubrik Internasional majalah Tempo edisi 15-21 April 2013, secara istimewa mengangkat tulisan yang terkait in memoriam Margareth Thatcher.  Diulas secara cover both sides, sehalaman untuk berita tentang sukacita masyarakat Inggris atas meninggalnya mantan perdana menteri wanita pertama sekaligus dengan periode jabatan terlama di Inggris (1979-1990).

Btw, bandingkan dengan masa jabatan Winston Churchill yang tidak menerus, tapi terjadi dalam dua periode berbeda (antara 1940-1945 dan 1951-1955).

Beberapa kebijakan Thatcher  tidak populis. Saya baru pahami sekarang, dan bisa dibaca pada artikel-artikel terkait.

Tapi 1,5 halaman artikel dari Bambang Harymurti tentang sisi humanis putri pemilik toko kelontong ini, plus satu halaman dalam rubrik Tempo Doeloe membuat saya merasa beliau adalah salah seorang tokoh wanita yang bisa menjadi inspirasi kita.

Ketika saya kecil, saya pernah membaca artikel biografi wanita yang terlahir dengan nama Margaret Hilda Roberts adalah sarjana TeknikKimia lulusan Universitas Oxford yang bergengsi. Tapi karirnya justru meroket sebagai politisi yang berada di bawah Partai Konservatif.  Poin yang diambil:  latar belakang pendidikan dan gelar sarjana bukan mutlak landasan meniti karir. Tapi seperti Maggie yang dikenal sebagai mahasiswi ulet dan rajin, dimanapun kamu berada lakukan dengan benar dan maksimal.  

Seperti dikutip dari Tempo pada halaman 18, “...Thatcher –menikah dengan Denis Thatcher- selalu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi suatu acara. Karena itu, dia tak toleran kepada orang yang tak bersungguh-sungguh.”

Kemudian, dia memiliki “jimat” di dalam tas. Tapi bukan cincin batu akik seperti yang kulihat di jari pejabat Indonesia. Bukan pula mantra melainkan sebuah kutipan kata-kata pidato Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln berbunyi lebih kurang begini, “Anda tak dapat memperkuat si  lemah dengan melemahkan si kuat, Anda tak dapat menolong si miskin dengan menghancurkan si kaya, Anda tak dapat membantu orang dengan cara mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakannya sendiri.”

Sepertinya dalam menjalankan karir, Margareth memiliki sosok panutan atau sekarang ini sering kita dengar sebagai “mentor”. Mentor memang sosok langsung yang masih hidup, dan bisa menjadi tempat kita berkonsultasi atau bertanya layaknya  seorang guru. Tapi bisa juga menelisik ke profil dan biografi Steve Jobs, Leo Burnett,  atau Sir Richard Branson dll.

Tegas? Yap.  Margareth yang berjuluk “Iron Lady” adalah sosok pemimpin yang tegas. That’s why
meninggalnya pada Senin 8 April 2013 tidak diratapi tangis seheboh kepergian Lady Diana si wanita dengan senyum manis tersipu-sipu yang khas. Buktinya ada kemeriahan (dan bukan isak tangis) dalam suasana duka yang terjadi di Lapangan Trafalgar London, Manchester, Newscastle, Liverpool, Bristol, Brixton, atau Derry dan Belfast di Irlandia.

Yah, menjadi pemimpin pasti menciptakan kebijakan. Dan apapun keputusan atau kebijakan tidak bisa memuaskan semua pihak.  Pasti ada yang suka/tidak.  Ada yang jadi merasa diuntungkan/dirugikan.  Tapi dasarnya keputusan Margareth Thatcher demi perbaikan ekonomi Inggris Raya saat itu meskipun mengorbankan subsidi kegiatan kebudayaan demi menghemat anggaran, kebijakan hibah bagi siswa perguruan tinggi menjadi pinjaman yang harus dicicil setelah lulus, dan memangkas anggaran perguruan tinggi dan memindahkannya ke program renovasi sekolah di daerah miskin.  

Kebijakan Margareth Thatcher pernah menuai cacian. Makanya berita wafatnya wanita berzodiak Libra di usia 87 tahun ini disambut kemeriahan di kawasan Brixton, selatan London. Insiden di daerah kantung buruh pernah terjadi pada April 1981 dan September 1985, setelah Thatcher memberangus serikat pekerja, melakukan deregulasi sektor keuangan, dan melakukan privatisasi perusahaan negara. 

Dan akhirnya pro atau cons, like atau dislike, Margareth Thatcher dikebumikan pada Rabu 17 April 2013 dengan pemakaman khusus satu level di bawah upacara kenegaraan dan dilengkapi penghormatan militer penuh, serta dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dan suami, Duke of Edinburgh. Mengutip tulisan Tempo, inilah pertama kalinya Ratu hadir di pemakaman warga biasa setelah mantan perdana menteri Winston Churchill pada 1965.

Ada lagi yang lain? Ah, saya sudah ngantuk.. Saya hanya bisa menutup artikel ini dengan mengucapkan: Selamat Jalan Baroness Margareth Thatcher. 


(Gambar dikutip dari: www.number10.gov.uk dan www.taylormarsh.com)