Sunday, May 13, 2012

Mensiasati “Cobaan” Zaman Digital


Era kemajuan Teknologi Informasi memang memudahkan hidup. Ambil contoh sebagai Penulis, saya bisa mendapatkan berbagai informasi dengan mudah. Tinggal koneksikan perangkat computer/laptop dengan koneksi Internet, maka pencarian bisa melalui Google, Wikipedia, media berita versi online dan sebagainya.
Bahan rilis atau cek layout bisa dikirim melalui e-mail, dan koreksi pun dalam versi soft-copy. Paperless, tanpa coretan bolpen atau tinta merah. Semua dalam visual.

Tapi berapa banyak waktu terbuang akibat konsentrasi terpecah? Distracted?

Bangun pagi, nyalakan BlackBerry lalu memeriksa fitur BlackBerry Messenger, SMS (Short Message Service), e-mail dan ternyata beberapa rekan milis semalam tadi mempostingkan artikel, kemudian masuk ke Twitter dan akhirnya tangan pun gatal untuk men-scroll linimasa. Mencek, mengomentari dan nge-RT Twitter membuat badan masih ‘lengket’ di kasur.

Bangkit dari tempat tidur, tangan gatal untuk menyalakan  televisi dan sarapan pun bisa menjadi ritual memakan waktu akibat mata lebih sering menatap layar kaca sementara sarapan pagi yang sederhana masih tak tersentuh di meja makan.

Demikian pula ketika bekerja di kantor. Kadang gangguan itu terjadi ketika menyimak e-mail dan website. Media sosial seperti Twitter dan Facebook membuat kita masih memiliki ikatan sosial dengan mantan teman masa kecil, masa kuliah, sahabat sehobi dan sebagainya. Tahu-tahu hal ini membuang waktu 1-2 jam. Lebih parah lagi jika niat semula cuma mencari informasi tambahan guna menyelesaikan tulisan yang belum rampung.

Akhirnya kemudahan yang kualami sebagai pekerja media zaman modern mengundang berbagai konsekuensi. Kadang ini menjadi semacam “cobaan” tetap fokus dan bekerja teliti sekaligus cepat.

Dari membaca tentang tips karir di suatu media digital, ada tips tentang cara meminimalkan gangguan konsentrasi yang disebabkan oleh kemajuan bidang komunikasi di era modern. Yaitu:

Jangan jawab telepon dan email langsung. Kecuali memang sangat diperlukan, Anda bisa mengabaikan setiap panggilan telepon yang masuk. Begitu juga dengan pesan instan di komputer atau ponsel. Anda tak perlu langsung menjawabnya. Anda bisa mengalihkan panggilan telepon ke kotak pesan suara (voicemail) dan Anda bisa membiarkan jendela chat sebentar. Lalu Anda bisa mematikan ponsel jika tidak perlu.

Hal yang sama juga berlaku untuk email. Anda tak perlu meninggalkan kotak masuk terus menerus terbuka. Anda bekerja dengan lebih efisien jika Anda memroses email dalam waktu tertentu saja daripada mencoba untuk menghadapinya seketika itu juga.

Solusi lain adalah menerapkan konsep: bekerja lebih awal/ lebih larut. Misalnya jika masuk kantor jam 07.00 pagi, kita memiliki waktu 1 -2 jam sebelum rekan-rekan kerja Anda berdatangan. Sebaliknya, jika terjaga hingga larut malam dan menulis esai Anda setelah anak-anak tertidur, Anda akan jauh lebih tenang dalam bekerja.

Tapi yang paling utama adalah: Niat. Niat utama adalah ingin bekerja cepat agar waktu yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Yuk, kuatkan niat....! 

Wednesday, May 02, 2012

Bekerja Adalah Ibadah


Pada suatu sesi kuliah Komunikasi Organisasi, membahas tentang Budaya dan Iklim Organisasi. Sampai pada sesi pertanyaan, apa tujuan Anda (peserta kuliah) bekerja. Kemudian terlontar jawaban seperti : memperoleh gaji, atau saya lebih melihat bekerja sebagai wujud eksistensi dan aktualisasi diri.
Silahkan jawab macam-macam, sesuai isi pikiran Anda…

Tapi yang mengena pada saya ketika Bapak Dosen mengatakan ada satu kalimat bijaksana yang sesuai dengan tujuan kita bekerja di usia produktif: BEKERJA ADALAH IBADAH.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , “ibadah” mengandung pengertian sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kuliah malam itu sangat cocok bagi orang-orang yang dalam kondisi demotivated dalam bekerja, atau memaknai kembali mengapa dia rela setiap hari bangun pagi, mandi, sarapan, bergegas menuju tempat beraktivitas. Kadang mengalami hari mendung dan di lain waktu mentari bersinar cerah menemani diri.
Jika bekerja adalah ibadah, berarti kita mampu bersyukur atas berkah Yang Kuasa dimana kita bisa memberikan kemampuan kita untuk kebaikan diri sendiri, bersama dan organisasi tempat kita bernaung. Alhamdullilah juga jika itu memberi berkah berkelanjutan bagi masyarakat, meskipun itu tidak berimbas secara langsung.

Untuk semangat bekerja, kita membutuhkan Motivasi, dan hal ini tercipta melalui dua cara:
  1. Motivasi berasal dari dalam diri sendiri.
  2. Motivasi diciptakan oleh orang lain. Karena konteks pembicaraan malam itu tentang budaya organisasi (perusahaan swasta, perusahaan negara, lembaga swadaya dsb), maka bisa jadi motivasi itu muncul karena lingkungan yang mendukung. Misalkan ada hadiah bagi pekerja yang berkinerja baik, penghargaan, atau pimpinan yang menciptakan iklim kondusif. Seorang pimpinan menentukan iklim lingkungan yang dia pimpin. Sehingga akan tergantung pimpinan yang berkuasas dan bagaimana anak buah merespon. Sehingga dalam suatu konsep organisasi dikenal faktor “X Efficiency” yaitu faktor X mengapa misalkan ada dua karyawan yang diterima dalam waktu sama di suatu perusahaan, namun tidak memiliki kondisi termotivasi yang sama.


Jadi, sudah bisa mendapat gambaran tentang bagaimana Anda mewujudkan rasa bekerja sebagai ibadah?
Izinkan saya mengutip kembali sebuah penggalan puisi yang diciptakan oleh Kahlil Gibran yang dulu sangat saya sukai untuk memotivasi saya berkarya.
Kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan apabila engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka akan lebih baik jika engkau meninggalkannya, dan mengambil tempat di depan gapura candi dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cinta …
(Kahlil Gibran – Sang Nabi)

Jika tertarik mengetahui lebih lanjut tentang Budaya dan Iklim Organisasi dari sudut Ilmu Komunikasi, bisa membaca buku Organizational Communication 6th Edition oleh Gerald M. Goldhaber (Penerbit: McGrawHill) dan Komunikasi Organisasi – Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan oleh R. Wayne Pace & Don. F. Faules (edisi bahasa Indonesia, dengan editor Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung) sebagai rujukan. 

Saturday, April 21, 2012

Jabrix Kucingku Telah Mati


 Jabrix hadir dalam kehidupanku sejak Agustus 2010.
Dan mati Sabtu 14 April 2012. 
Kucing jantan ini sepanjang usianya memang sakit-sakitan. Mulai dari sakit mata (seperti belekan) yang diobati dengan salep Erlamycetin. Hilang sehari semalam dan ternyata jatuh ke got. Akibat terperosok tanpa bisa bangkit lagi, tidak makan seharian, mengakibatkan Jabrix terkena flu kucing yang membuat dia harus berobat ke drh. Dudung Abdullah, SM, SKH. Sejak itu pula dia menjadi pasien langganan beliau.
Terakhir, Desember tahun lalu Jabrix harus menjalani rawat inap selama hampir 3 minggu karena ginjal. Pasca penyembuhan tersebut, Jabrix sempat gemuk, besar, hingga aku memanggilnya, “Si kucing berbulu itu”. Hihihi.. Kucing Arab :p
Namun April kemarin, Tuhan YME telah memanggil Jabrix. Mungkin itu yang terbaik bagi Jabrix daripada melewati tahun-tahun dengan badan ringkih dan penuh pengobatan. Mungkin ini yang terbaik karena akhirnya Jabrix bisa berkumpul bersama induknya yang mati tertabrak sepeda motor. Awalnya kami sekeluarga memelihara Jabrix bersaudara karena induknya yang kucing liar melahirkan di pojok garasi rumah, dan suatu hari induk tersebut tidak pernah muncul dan 4 ekor anak kucing pun berjalan kesana-kemari mencari makan dan tempat berteduh. 
Sedangkan bagi diriku yang terakhir secara khusus memelihara kucing sekitar 25 tahun lalu, rasa kehilangan hewan kesayangan : sangat menyakitkan. Seperti halnya kehilangan sesuatu yang kita sayangi teramat sangat. Bedanya, ketika putus pacaran, saya simpan pedih di dalam hati, sementara ketika kucing yang meninggal, tangisan dan mata bengkak bebas saya tunjukkan di depan orangtua, kakak-kakak, keponakan, supir, pembantu rumah tangga yang membantu penguburan.
Saya sempat memasang foto Jabrix sebagai pic profile di BlackBerry Messenger dengan status “Jabrix kucingku: RIP” … Namun lama-kelamaan saya tidak kuat juga untuk setiap kali menangis melihat fotonya dan bercerita tentang kematiannya kepada teman-teman di list kontak-ku.
Seorang teman yang bukan penyayang hewan, meskipun dia berusaha memahami kesedihanku, tapi membuatku merasa seolah aku lebay….. tapi memang kenyataannya karena saya sayang dan dia salah satu motivasiku untuk bekerja cari duit (demi pengobatan dan perawatannya yang ekstra spesial).  
Kini tidak ada lagi kucing mengeong nyaring saat menyambutku datang dan melengos pergi saat saya menenteng tas besar tanda saya pulang ke Jakarta selama sepekan atau lebih. Sejauh ini saya tidak ingin punya kucing kesayangan, dan mengalihkan perhatian pada kucing-kucing lain yang kebetulan memang ada di rumah, selain si kakak tua jambul kuning yang sudah kumiliki dari kecil. 

Wednesday, April 18, 2012

Gadget Uzur atau Masalah Data

Akhir Maret, saya mengalami ‘kecelakaan’ fatal dunia modern. Yaitu terkait manusia bersama masalah laptop-nya. Salah membuang piranti lunak berakibat file-file di dalam laptop sebagian tidak bisa dibaca.
Dibawa ke toko komputer di Bogor, diinstal ulang sekaligus membuang virus-virus yang beberapa waktu belakangan membawa masalah menduplikasi file yang sedang kubuka.

Tapi ternyata tampilan baru, fitur Office yang tiba-tiba terasa asing, beberapa data yang hilang (meskipun saya sudah menyerahkan sebuah External HD kepada Mas bagian install, untuk menjadikannya tempat backup data dari semua file-file yang saya miliki, meski sepertinya tidak dia kerjakan, dan tetap saja ada yang hilang).

Hari-hari berikutnya  laptop yang kunamai BeetleBug  ini seperti kebalikan dari Tomcat. Jika kumbang Paederus fuscipes ini dikenal sebagai serangga  penjelajah dan aktif berjalan-jalan, bahkan wuzz wuzz bikin heboh dengan cairan berbisanya, dan kebalikannya si BeetleBug menjadi kumbang yang sekarat. Mati tidak, hidup juga kembang kempis.

Pernah pada suatu hari mengalami hang dengan kondisi batere masih melekat di badan laptop. Baru bisa lancar berjalan setelah copot batere. Hari berikutnya file-file terbuka dalam jeda waktu lama, atau pernah hang hingga restart.
    
Seorang teman mengatakan coba melakukan langkah defragmented. Dan pindahkan sebagian file-file yang jarang atau tidak terpakai ke dalam External HD. Dan hasilnya selama 30 menit saya masih duduk manis menunggu file-file dipindahkan ke External HD sambil menulis blog ini. *smile*

Menduplikasi 56.856 items atau 32,5GB ke dalam alat penyimpan data eksternal menimbulkan status "1 day remaining: rrrrrrr....  ^.^ ......  Atau memang usia laptop menjelang 3 tahun, merek Adv*n, Intel Core2 Duo, dengan kapasitas memori 1 GB DDR2 sudah memasuki uzur?

Dan tiba-tiba melihat BlackBerry ku pun sudah mengelupas, tombol huruf yang asik asoy untuk dipencet-pencet tapi kata orang di showroom BB sebagai tanda trackpad dan keypad sudah uzur jleb..jleb.. secara verbal, bak patok-patok kayu masuk ke dalam lumpur. 

Sepertinya saya butuh waktu khusus membersihkan data-data di dalam gadget, menghindari tiba-tiba hilang, mengurangi memori, hingga tiba kesempatan saya membeli perangkat yang baru. *Doa*  


Tuesday, February 14, 2012

Whitney Houston dan The Greatest Love of All

Minggu pagi sambil sarapan di hotel tempat menginap di Medan, iseng saya mencek timeline (TL) Twitter.

Berita meninggalnya penyanyi Whitney Houston itu menebar di sepanjang layar gadget saya gerakkan atas maupun ke bawah. Benarkah? Meninggal di usia 48 tahun terhitung masih terlalu muda untuk menutup catatan kehidupan.

Penyanyi bersuara 5 oktaf ini ini sangat terkenal pada era 80-90an. Namun tragisnya berita-berita terakhir bukan tentang prestasi menyanyi atau main film. Justru sepurta masalah yang membelit mulai dari perceraian, ketergantungan obat bius, hingga bangkrut.

Oke, saya skip berpanjang lebar tentang berita kematiannya pada Sabtu 11 Februari lalu karena kita bisa membaca dan menonton melalui berita-berita di media cetak dan elektronik.

Saya bukan penggemar berat namun dalam catatan ingatan saya ada dua lagunya yang ternyata sebagai pembangkit motivasi diri ini.

Pertama kali menyimak lirik lagu “The Greatest Love of All” saat masih bocah cilik belajar bahasa Inggris. Saat itu saya penyendiri dan sebagai bungsu terbiasa semua ada. Ada supir antar jemput, ada pembantu mengurus kebutuhan, ada kucing teman bermain, tidak punya masalah dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Tetapi ketika pindah dari kota kecil ke ibukota, saya mengalami yang namanya ‘belajar berteman’ dan itu rasanya susah banget. Saya tidak mau menyapa bukan karena sombong, tetapi karena malu.

Soal pelajaran, ternyata persaingan kecerdasan sangat kompetitif di tempat baru. Lalu mulai menyadari bahwa wajah menarik adalah titik perhatian orang lain. Dan sebagai anak berwajah biasa-biasa membuat rasa rendah diri makin dalam.  

Lagu The Greatest Love of All sebenarnya lagu lawas. Dibuat oleh Michael Masser dan Linda Creed dan dinyanyikan pertama kali oleh Jane Olivor kemudian George Benson pada 1977.

Tapi lagu tersebut memang terkenal saat dinyanyikan oleh Whitney yang menurutku saat itu gayanya sangat serius. Dalam pikiran saya, “Kok penyanyi Amerika cara menyanyinya sama kayak saya atau teman-teman kalau menyanyi di kelas sih: berdiri tegak.” Karena menurut saya kalau penyanyi luar negeri misalkan kayak Madonna yang lincah dan dandanannya ramai.

Lagunya pun bukan bikin loncat menari. Namun ketika menyimak lirik lagunya sambil sesekali mencari padanan bahasa Indonesia di kamus pada kata yang tidak dimengerti, lagu dan lirik sangat menancap di hati saat mendengarnya.

Lirik lagunya silahkan cari sendiri dengan berselancar di internet, namun ada bagian yang paling saya sukai: I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows, If I fail if I succeed, At least I live as I believe, No matter what they take from me, They cant take away my dignity……(garis bawahi kata Dignity).

Lirik yang membangkitkan rasa percaya diri seorang anak yang menghadapi masa pubertas atau peralihan dari anak kecil menjadi remaja. Ingat bahwa kamu bukan bayang-bayang kakak-kakak, siapa ayah atau ibumu, dan intinya semua karena kamu harus usahakan. Mungkin lagu ini akan saya sarankan jika kelak saya memiliki anak.

Sedangkan lagu kedua penuh inspirasi berupa duet Whitney Houston dengan Mariah Carey, “When You Believe” … when you believe somehow you will, you will when you believe --- prinsip The Secret. Percaya dengan kemampuan dan mimpi-mimpi yang kamu buat, maka ada jalan terbuka untuk merealisasikannya.

Hingga saat ini televisi dan media online masih terus mengembangkan berita seputar akhir hidup Whitney Houston, seorang diva musik pop yang memang tragis dan ironis. Lagunya tidak memberi enlightenment bagi dirinya. Tapi tentu saja lagu dan suaranya tetap dikenang, bisa memberi inspirasi dan memberi jalan terang bagi orang lain. 

Wednesday, January 25, 2012

Setiap Kejadian Proses Kehidupan

Kita tidak bakal kenal Cassius Clay Junior jika dia tidak terkena musibah pada 1954.

Saat itu usianya baru 12 tahun, sepedanya digondol maling. Sambil menangis Cassius melaporkan sepedanya yang hilang kepada seorang polisi yang merangkap pelatih tinju, Joe Martin.

Joe Martin menyarankan si remaja asal Kentucky, AS, disarankan untuk berlatih supaya bisa memukul si maling. Akhirnya tinju menjadi jalan hidup remaja pria yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Ali. (diolah dari artikel Olahraga Koran Tempo, Sabtu 15 Januari 2012 “Tujuh Hari untuk Juara Tujuh Dekade”).

Cerita diatas memberi inspirasi bahwa setiap kejadian di dalam kehidupan memiliki arti. Cassius kecil karena kehilangan sepeda yang baru dibelikan orangtua, menjadi bertemu dengan  pelatih yang menuntun langkahnya ke kehidupan masa dewasa.  Meskipun ada kejadian negatif tetapi ada hikmah di ujungnya.

Masa-masa menderita mungkin kita lihat sebagai cobaan tiada akhir, dan ketika kita melaluinya, akhirnya kita bisa menoleh ke belakang dan menemukan itu sebagai rangkaian proses pendewasaan.

Saya bisa mengatakan ini karena beberapa tahun kemarin mengalami fase yang kusebut sebagai “badai” dalam kehidupan. Tentu pernah kupikir fase itu tiada akhir. Dan sekarang ternyata saya dan keluarga bisa lalui, dan menjadikannya pengalaman dalam kehidupan. Adapula perasaan menjadi lebih bijaksana dan pendewasaan berpikir.

Akhirnya saya bisa memaknai istilah “Gusti Allah Ora Sare” yang lebih kurang berarti
“Allah Tidak Tidur” .. dan merasakan pembenaran dari ucapan bahwa Tuhan tidak akan menguji umatNya melebih batas kemampuan dirinya.   

Friday, January 20, 2012

Menantang Diri Tetap Update Blog

Sejak hari pertama tahun baru 2012 hingga pertengahan Januari ini Saya belum mengupdate blog. 

Blog memang sesuatu yang fun. Dikerjakan dengan fun dan jika pada dasarnya blog berisi hal-hal remeh yang tercetus dari kehidupan harian, mungkin kesibukan sehari-hari sudah cukup menyita waktu tanpa sempat menceritakan kembali dalam rangkaian kalimat tertulis.

Mungkin pikiran dan tenaga dan pikiran sudah habis terserap dalam kegiatan sehari-hari. Sisa waktu digunakan untuk lepas dari depan laptop.

Atau bisa jadi tiada kisah atau hal-hal kecil yang mampu meletupkan inspirasi mencoret puisi. Kehilangan passion untuk nge-blog.

Lebih apes lagi jika mantan pacar adalah stalker yang memantau isi blog kamu.. *amit-amit ..ketok meja*

Godaan lain adalah situs micro-blogging seperti Twitter yang hanya membutuhkan 140 karakter lebih menarik, apalagi kemudahan tinggal me-RT postingan following kita. (baca tulisan  terkait: Riset Pew Internet Tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial).

Ada suatu masa hingga saya punya total lima blog di situs blogger:
  1. Ruang Resensi Bacaan dan Tontonan
  2. Life is too Short to be Sad
  3. Kumpulan Tulisan Eno
  4. Eno’s Journal of Travel
  5. Shelf of Myself

Mencoba menantang diri sendiri tetap mengupdate blog .. #365 hari

Tuesday, December 27, 2011

Ingat




Kemarin tak peduli, hari ini ingat
Semua tentang perasaan mengalir hangat
Menggubah jiwa jadi merah muda

*tentang kangen yg timbul tenggelam*

Wednesday, December 21, 2011

Syukur atau Sombong

Ya Allah,
Ketika aku di dalam mobil dan memandang abang odong-odong mengayuh sepedanya, dalam batinku bersyukur berada di dalam roda empat berpendingin AC dan ada supir siap mengantarkanku.

Namun, seketika aku juga bertanya apakah diriku sombong jika melihat 'yang kurang' dan membisikkan syukur?

*Ada pesan agar selalu “lihat ke bawah” dan ingat diatas langit masih ada langit* 

Monday, December 12, 2011

Gingerbread di Hari Natal

Semasa kecil saya masih ingat pernah membaca dongeng Gingerbread man, dimana suatu hari nenek tua sedang membuat roti jahe berbentuk manusia. ? Dongeng ini mengisahkan tentang suatu hari nenek tua membuat adonan roti jahe berbentuk manusia. Lengkap dengan blackcurrant sebagai mata dan menyusun cherry di bagian tengah tubuh sebagai kancing.

Ketika telah matang dan keluar dari oven, si roti jahe berubah menjadi hidup dan meloncat keluar dari jendela. Si roti jahe menolak untuk dimakan. Ia menantang nenek jika ingin memakannya maka harus mengejar dan berhasil menangkapnya terlebih dahulu.

Si manusia jahe membuat nenek, bahkan babi, sapi dan kuda yang ditemui di sepanjang lintasan pelariannya ikut mengejar karena tertarik mencicipinya. Namun akhirnya nasib si gingerbread man tetap berakhir ditelan menjadi santapan. Ia tertipu oleh rubah yang berjanji menyeberangkan dirinya melewati sungai. Ia malah menjadi pengisi perut si rubah. 

Saya tidak tahu persis hikmah di balik cerita dongeng tersebut. Mungkin jangan nakal, atau memang sekadar cerita lucu-lucuan. Di sisi lain, cerita ini seolah menggambarkan betapa nikmatnya rasa gingerbread man. Bayangkan saja adonan kue beraroma jahe menguar sesaat setelah keluar dari oven. Hmmm.... pasti memang bikin perut menimbulkan orkestra. 

Sesuai namanya, kue ini beraroma jahe dan berbentuk orang-orangan. Kudapan ini termasuk jajanan tradisional Eropa dan banyak dijual di toko-toko kue di Eropa, Amerika Serikat dan Kanada pada saat menjelang perayaan Natal. Bahkan sering menjadi hiasan pohon Natal.

Kadang roti jahe disebut juga ginger snap, berbentuk kue kering, berbentuk tipis dan renyah. Atau adapula yang mengolahnya menjadi bentuk rumah-rumahan di musim salju.

Istilah gingerbread berasal dari bahasa Latin, zingiber atau dalam bahasa Perancis kuno, gingebras,  yang artinya membuat manisan jahe, yang dalam pengolahannya  melibatkan madu dan rempah-rempah.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat roti jahe adalah madu, gula pasir, telur, amoniak (ammoniac), susu segar, rempah-rempah dan tepung. Bahan lain berupa bubuk jahe (ginger powder) dan bubuk kayu manis (cinnamon powder), dan semua ini bisa dibeli di supermarket atau toko khusus menjual bahan-bahan kue.

Kesulitan yang harus dihadapi pada saat pembakaran. Temperatur pembakaran oven perlu disetel pada derajat tinggi atau hingga 200ºC. Jika temperatur kurang dan hangus sedikit saja, akibatnya roti bisa gampang pecah. Hasilnya, tercipta roti berwarna kecoklatan yang memberikan suasana warna kayu alami.

Roti jahe juga tahan lama. Bisa mencapai 1 bulan meski tidak dimasukkan kedalam kulkas. Amoniak berfungsi sebagai pengembang dan agar tahan lama. Selain itu, pastikan  adonan dibakar sampai matang untuk mencegah agar kue tidak berjamur atau berubah rasa. Pastikan pula untuk menyimpannya di tempat yang kering.  

(Gambar 1: Rumah roti jahe/gingerbread house - dokumen Shangri-La Hotel Jakarta)
(Gambar 2: gingerbread man) 

Thursday, December 08, 2011

Penyebab Kemacetan Jakarta

Apa lagi yang bisa diceritakan tentang jalanan di Jakarta, kalau bukan tentang macet.

Sejak tidak menjadi anak kos, praktis saya mengalami seperti umumnya warga Jakarta. Berusaha pergi pagi menuju ke kantor, dan pulang sore.

Namun, selalu masalahnya di kondisi jalan raya. Ketika memilih berangkat pagi ternyata membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke kantor. Berangkat siang, sekitar jam 10.00 wib, juga ternyata tidak jaminan bakal nyampai dalam setengah waktu waktu tempuh ketika berangkat pagi hari.

Saya pernah disarankan kalau berangkat pagi, pilihlah jalur melewati Semanggi menuju Slipi. Tapi apesnya, hari itu Senin (5/12/2011) dan ternyata ada demo aparat desa. Taksi saya terpaksa memutar di bawah Taman Ria Senayan, hingga akhirnya 1 jam lebih membuat saya menyuruh pak supir untuk menuju kantor yang lain.

Memang, ternyata ada untungnya pula bekerja di perusahaan yang memiliki beberapa gedung kantor. Akhirnya saya menepi di Kebayoran Baru dan bekerja dari ruang perpustakaan.

Selain masalah demo, kemacetan Jakarta bisa terjadi gara-gara ada penggalian jalan di lokasi yang bakal dilalui.

Ohya, dari obrolan ringan bersama rekan-rekan, katanya menjelang akhir tahun memang sering banyak galian di jalan. Dengan tujuan perbaikan dan peningkatan fasilitas, atau alasan lainnya. Alasan lain ini perlu konfirmasi dari pihak terkait, hehehe...

Menurut saya, gara-gara kemacetan Jakarta, jika memiliki temu janji dengan orang di tempat lain, sekurang-kurangnya perlu berangkat satu (1) jam dari waktu pertemuan. Meskipun ada satu hal lagi yang siap-siap dihadapi, jika orang yang diajak bertemu ngaret dengan alasan ”macet”. 


(Gambar dikutip dari: www.rumah123.com)

Thursday, December 01, 2011

Melakukan Pekerjaan dengan Hati

:R


Libatkan hati dalam bekerja.
Mainkan emosi untuk mencintai bidang yang kamu ceburi.
Dengan demikian, kamu melakukan pekerjaan dengan hati.

Menulis aku lakukan karena cinta.
Maka pelihara cinta itu.
Atau bisa jadi kamu bekerja di lapangan.
Maka semaikan terus lapangan itu.


*Memotivasi diri dengan letupan semangat*


Thursday, November 10, 2011

Karena Kita Memilih Dalam Hidup

Saya : perempuan, umur 30-an dan belum menikah.

Dan lagi-lagi mendapat pertanyaan yang cukup standar, ”Sudah menikah atau belum?”

Nah, kebetulan yang bertanya adalah kenalan baru. Seorang perempuan yang mantan teman satu kantor sepupu saya. Kenalan via bbm, saya kira semula dia adalah penulis lepas yang ingin diperkenalkan oleh kawan saya, dan ternyata dia pun karena ingin menambah kawan yang terlink dalam jaring bbm group dibuat oleh sepupu saya.

Saya jawab pertanyaannya bahwa saya belum menikah.

Dia lalu melemparkan teks yang intinya kurang lebih: pasti kamu cantik dan pandai, hingga pandai milih-milih dan akhirnya belum married.

Dan kemudian menambahkan kata di bbm-nya ... ”Rasain...”

Ohohoho...secara pilihan kata, sangat ...sangat... judging under social culture. Walaupun bercanda atau bagi dia adalah standar berakrab diri? Entahlah.

Kenapa orang selalu menuding ”terlalu pilih-pilih” terhadap perempuan lain yang belum menikah di usia cukup umur?

Tanyakan kepada perempuan yang menikah, apakah dia melakukan pilihan terhadap pria sebelum melangkah ke pelaminan?
Pacaran pun tahap pilih-pilih.

Bukankah saat kita bangun tidur dan memilih baju yang akan dikenakan pun merupakan ”pilihan”? Memilih sepatu pun harus pas di kaki dan nyaman di kaki saat melangkah. Demikian pula dalam kehidupan kita pasti melakukan sejumlah pilihan.

Tetapi ketika menuding wanita yang belum menikah akibat dia terlalu pilih-pilih, itu berarti terlalu mengeneralisir keadaan.

Terlebih saya menyayangkan yang menyatakan ”terlalu pilih-pilih” adalah kaum sesama jenis dengan diri saya. Saya tidak marah. Saya hanya membalas perkatannya dengan menyatakan bahwa jalan hidup orang memang berbeda-beda. Saya dengan sepupu saya saja berbeda. Cerita cinta saya cukup menjadi konsumsi pribadi.

Tapi semoga dengan menuliskan ini memberi inspirasi kepada siapa saja dalam memandang pilihan menikah seseorang.

Saya yakin setiap wanita punya tahap seperti diri saya. Saat lahir pasti mengenal cinta dan kasih sayang keluarga, lalu masuk sekolah mengenal arti teman: ada teman berbagi dan merasa kehilangan ketika dia tiada. Kemudian beranjak ke masa puber ketika mengenal cinta antar lawan jenis, dan mencoba membangun mimpi-mimpi pribadi maupun bersama.

Ketika agama menyatakan bahwa menikah dan berpasangan-lah, pasti juga Tuhan ingin kita hidup bahagia dalam pernikahan. Jatuh cinta dan menikah pun menjadi satu pilihan. Akan tetapi, bayangkan jika sebelum menikah Anda telah menemukan ketidakcocokan prinsip atau perilaku? Atau apa Anda bakal mau melanjutkan ke pelaminan jika sebelum menikah pun pasangan Anda sangat posesif dan tidak bakal mendukung Anda mencapai mimpi-mimpi pribadi?

Itu sebagai contoh lho.... (Maaf kepada para mantan pengisi ruang hatiku: saya mengatakan ini bukan berarti menuding kalian pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal. Mereka justru memperkaya otak dan pengalaman batinku. Tulisan di atas hanya mewakili pikiran saya secara umum.

Hanya saja langkah hubungan seseorang ada yang tidak seperti penutup dongeng “..and they live happily ever after.. the end”. Sebenarnya pendongeng malas meneruskan cerita kehidupan setelah perkawinan. *Smile*

Di abad 21 saat ini memang perjalanan kehidupan yang klasik tetap bertahan: lahir, sekolah, pacaran, menikah, lalu mati. 

Akan tetapi, memang jalan hidup orang berbeda-beda. Mungkin ada orang (wanita) yang cukup smooth menjalani episode dari pacaran, menikah, lalu menjalani kehidupan berpasangan dan beranak cucu dengan lancar.

Balik kepada perempuan kenalan baru tersebut, dia berusia hampir 40 tahun, sudah menikah, punya anak 4 orang. Saya cuma tidak ingin menghabiskan energi negatif dengan menjelaskan bahwa saya punya kehidupan bahagia meskipun belum menikah.

Nasehat saya secara umum kepada rekan yang single: meski tidak atau belum menikah adalah hidup yang Anda jalani, coba lihat dari sisi positif : punya keluarga yang selalu menyayangi, sahabat sesama wanita yang selalu siap ’memeluk’ di saat gundah dan bahagia, dan pasti tetap ada rekan lawan jenis yang mencerdaskan dan membuatmu menerapkan istilah ”di balik wanita tangguh, ada pria yang menginspirasi” .

Dan teman-teman, coba biasakan mulai sekarang jangan judging under social culture terhadap orang lain yang belum menikah di usia matang. Mungkin saja si rekan belum menikah punya sejumlah alasan mengapa demikian: memang bahagia dengan pilihan hidupnya, memang menemukan ”belang” calon pasangan hidup yang tidak mungkin dikompromikan, sedang mengejar mimpi lain (karir atau sekolah lagi), ingin membahagiakan kedua orangtua dulu, anti-berbagi kasur tidur, sedang giat mengumpulkan duit untuk membeli rumah, telah divonis dokter tidak bisa memiliki anak dan belum bertemu pria yang siap tidak memiliki keturunan dalam pernikahan, ........... (silahkan isi titik-titik dengan jawaban telaah positif dan empati).





Sunday, October 23, 2011

Susahnya Nge-bis Nyaman di Jakarta-2

Sabtu ini (22/10/2011), saya mau hunting Jakarta menggunakan bis. Sejak pindah ke apartemen di wilayah Jakarta Pusat, praktis saya mengalami kondisi berbeda dari sebelumnya yang hanya jalan kaki kantor-kos sekitar 15 menit.

Ketika aku ceritakan rencana ini kepada Ak, dia berkomentar, “Hah? Ga salah denger?”.

Alasanku kan aku baru pindah. Selama ini mengandalkan taksi. Atau mobil dan seorang supir siap mengantarkan. Alasanku selain mencoba tahu rute sekitar tempat tinggal, misalnya mikrolet, poin perhentian dan terminal setempat.

”Lagian kan dulu jadi anak sekolahan biasa gitu. Liputan (sebagai wartawan-Eno)  ngebis juga,” kilahku.


Sebagai catatan, saya tidak bisa membawa kendaraan bermotor, baik motor atau mobil. Hanya bisa mengayuh sepeda tapi tidak punya keberanian untuk mencoba gowes di ibukota. 

Kaus hitam, jeans kelam, ransel besar, dan sepatu kets menjadi padanan siap menjadi busana wisata transportasi massal Jakarta.

Jam 10.30 wib saya mampir di Apotik-Optik Melawai Salemba, tebus resep sakit maag sekaligus mencari kacamata baru. Selesai urusan disana, naik mikrolet M01 jurusan Senen-Kampung Melayu, berkilah turun di Gramedia Matraman. Akhirnya hanya mampir makan siang dan melirik stan sebuah merek komputer yang ada disana.

Pulang pun memilih mikrolet jurusan menuju Senen. Dalam hati yang semula mau membatalkan niat, akhirnya berpikir karena hari cerah tidak ada salahnya untuk lanjut naik mikrolet ini hingga ke terminal Senen.

Di terminal saya menyusuri lorong pasar berisi penjual buku-buku dan majalah bekas, lanjut lihat bis AC, ”Nah! Ada bis ACjurusan Senen ke Ciputat via Blok M.”

Selama di bis, banyaknya tukang jualan sih saya pahami. Bis ngetem lama saya maklumi: tidak ada urusan buru-buru. Tapi ini yang saya benci, ketika bis AC keluar dari mulut terminal dan baru beberapa meter, di depan pintu kolam renang naiklah 3 pria muda. Tidak nyanyi, tidak baca puisi, hanya berpidato. Tapi dengar koar-koar tiga pria yang kuperkirakan berusia 20-tahunan itu menyebalkan atau mengancam.

”Hidup di Jakarta susah..... bla..bla.. (lha, jadi kuli pasar, tukang batu, atau pindah aja ke kota lain menjadi ......) “ ,.....”Daripada kami menodong bla...bla...bla.. (naj*s masuk neraka aja kalian sekalian)... dst ..dsb..” dan mulai minta duit satu persatu kepada penumpang. Saya hanya menyorongkan telapak tangan seraya berkata maaf (tidak memberi) sambil menatap mata pria tersebut. Laki-laki itu pun berlalu.

Dari kaca jendela saya melihat tiga pria itu turun, menghitung recehan yang mereka terima. Saya tidak kasihan, malah membatin semoga orang tak berguna seperti itu jadi korban tabrak lari di malam hari. Kemudian menjadi mayat percobaan bedah anak-anak kedokteran *ada amalnya* Saya sempat berpikir ternyata Jakarta Pusat bukan hanya kawasan cantik Menteng, MH Thamrin, melainkan si kumuh Senen, bioskop tua dengan tayangan film tidak bagus tapi bingung kenapa banyak yang nongkrong disitu, kantung-kantung yang cenderung bagai bronx kota Jakarta.

Sesampai di Blok M saya iseng menyusuri kios buku di bawah Blok M Square. Masih mau lanjut ke PIM? Atau tempat lain? ternyata jam 16.00 wib, Blok M basah diguyur hujan, kaki yang pegal, cape, sampai lupa apa sebenarnya yang mau dicari. Akhirnya saya putuskan balik saja. Jika saya naik taksi, berarti saya masih bisa rileks atau menikmati berenang sore hari di apartemen.

Tapi saya pikir yaudah pilih saja Kopaja 19 yang kalau tidak salah melewati Grand Indonesia (GI). Saya mau ngaso, makan dan lihat-lihat laptop model baru disana. (Biasanya kalau masuk mall ber-AC dengan suasana interior nyaman, pasti penat hilang..terbayang tumbler saya diisi secangkir kopi hangat Starbucks, nge-sushi or what else...dst...dsb).

Saya pilih duduk di pojok kiri pas dekat pintu depan Kopaja. Wanita cantik yang duduk di sebelah saya, turun di Karet. Tiba-tiba seorang pria dari belakang duduk di kursi kosong yang ditinggalkan wanita itu... Plass... Pria tersebut kenapa tidak membawa aura menyenangkan, ya?!. Kemudian naik dua atau tiga pengamen cilik yang seolah menambah penuh bis.

Tahu-tahu kejadian aneh terjadi.. seorang pemuda yang duduknya di seberang kanan saya, mau turun. Gubrak.. pria itu terjatuh terjengkang di dalam bis. Pria yang duduk di samping saya berteriak kaget, dan seorang pria (X) yang sejajar seberangan tempat duduk saya seolah membantu. Tapi tunggu, mengapa saya melihat X menunduk dan tangannya menarik ujung bawah celana si pria muda itu?

Saat pria itu jatuh kaget, si X seolah membantu membangunkan pria dengan tangannya memegang bagian sekitar pantat si pria muda?

Aih saya mulai tidak enak… Saya dekapkan ransel. Mata mulai awas. Tapi rasanya tempat pemberhentian kok tidak nyaman? Sahid (eh tidak ada halte lagi?), di Indocement/Landmark naik tiga wanita muda berpenampilan manis pakai rok (jauh dari penampilan backpacker gaya saya) (eh kok bis ini cepat berlalu?), pria itu bangkit dan mempersilahkan salah satu perempuan duduk di samping saya. Dua teman wanitanya duduk di kursi sejajar kanan.

(* cerita yg saya tambahkan di dalam kurung, karena saya baru menyadari kondisi pendukung itu terasa aneh, ketika menulis blog ini.. saya jadi curiga apa supir bis sudah bekerjasama?)

Stasiun Dukuh Atas yang biasanya orang banyak turun, ternyata berbeda kondisi di Sabtu sore, tapi rasanya sekitar wilayah itu seorang pria mau turun dari bis. Jletak.. kacamata dilemparkan X/seseorang dari arah belakang. (btw, X pindah ke satu baris belakang), si pria jatuh. Lagi-lagi ujung celana bagian bawah ditarik, lalu X membantu bangkit.

Hah?! Ini sudah pasti komplotan pencopet! Wanita di sebelah saya mencium gelagat tidak menyenangkan. Saya juga memastikan diri turun saat itu juga! Gedung UOB atau batas awal Thamrin atau biasa disebut halte Tosari atau apapun halte harus menjadi perhentian saya. Ternyata (kebetulan) seorang pria dari samping supir turun, saya menyusul, dan wanita sebelah saya ikut bangkit sembari mengisyaratkan teman-temannya untuk turun.

Saya mendekap erat ransel saya dan memperhatikan bagian kaki saya. Ransel pada posisi dada menutup pandangan mata kita ke lantai bawah, tapi dengan melihat modus operandinya, kita harus perhatikan tempat kita melangkah karena bisa-bisa bandit mengeluarkan jurus lempar barang, tarik ujung celana dsb seperti sebelumnya.

Saya turun dari pintu depan dan bergegas menjauh. Saya perhatikan pengamen cilik ikut turun dari pintu belakang bis, tapi saya tidak peduli ketika tiga wanita itu ’menginterogasi’ pengamen cilik. Tidak ingin mendengarkan ceritanya. Saya menatap kopaja, baru nyadar, wauw mengapa di bagian belakang bis rasanya penuh orang berdiri? Padahal saya yang duduk di bagian depan merasa bis itu masih meluangkan banyak tempat untuk orang lain duduk.

Ketika Kopaja Setan itu berlalu, saya menjauh dan jalan pelan-pelan seolah mau masuk ke Jalan Baturaja, dan setelah lewat beberapa menit bis sudah tak terlihat, saya baru berani berjalan kaki menuju Grand Indonesia (GI). Menyusuri jalur yang ada 7-Eleven, menyeberang ke gedung BCA, dan menyusur jalan setapak yang maha lega. Saya shock.. saya seperti keluar dari kotak sempit penantian nasib.

Saya segera mengabarkan kepada Ak, teman yang amazing dengan rencana hunting Jakarta saya, tentang kejadian yang membuat shock tadi. Ak bakal menjemput saya dan makan malam dulu di GI.

Saya juga segera kirim blackberry messenger ke teman saya Ajeng menceritakan hal ini.

Menyusuri jalan setapak yang lega, beraspal mulus, saya jadi teringat kenyamanan jalan kaki negeri Singapura atau Kuala Lumpur Malaysia. Mobil-mobil bagus bersliweran membuat saya membatin, “Pantas saja orang Jakarta berusaha membeli kendaraan bermotor. Karena kendaraan umum tidak menjamin kenyamanan dan keamanan penumpang.”

Dalam hati saya berencana menuju East Mall, areal GI favorit saya, dan membayangkan segera ke toilet umum untuk mencuci muka yang rasanya sudah lengket ini.

Dan ketika sampai di lobby utama East Mall, mata saya nanar : tiga mobil sedan sport terparkir di lobby. Porsche Carrera, Maserati dan satu lagi model sport yang tidak saya kenali (belakangan saya ketahui Mercedes Benz) karena tertutup dua mobil lainnya. 

Asli saya mau mengeluarkan air mata. Jlebbb.. pengalaman saya barusan menaiki transportasi massal rasanya njomplang dan perih ketika memandang tiga mobil jenis Rp 6 miliar keatas terparkir manis di lobby mal kelas atas itu.

Tiga mobil itu menantang gagah bagi mata memandang, menyimbolkan keberhasilan individu membeli kemewahan transportasi Jakarta, berbanding terbalik dengan kami yang bekerja siang malam demi moda angkutan umum recehan yang tidak nyaman dan tidak aman!



Susahnya Nge-bis Nyaman di Jakarta-1

Stresnya Jalanan

Sejak tiga minggu lalu saya tidak ngekos di dekat kantor. Efeknya tentu saja perjalanan kantor-tempat tinggal yang baru memakan waktu lama.

Saya masih jetlag alias kesiangan melulu …. Dan praktis solusi mengatasi keterlambatan beraktivitas dilakukan dengan memilih naik taksi.. Oh no! berat di-ongkos !! *seka keringat*

Saya mencoba melakukan pengenalan lingkungan secara perlahan. Dari mulai rute dekat naik ojek dan bajaj. Lalu Jumat  ini (30/9/2011) saya melakukan persiapan lebih matang. Bangun jam 6 kurang (setelah berkali-kali alarm berbunyi, saya matikan, dan menambah jam tidur).

Saya mulai berangkat dari tempat tinggal jam 8.10 WIB. Naik bajaj menuju Terminal Senen lebih dulu. Lalu pilih rute bis AC Bianglala dan tiba di kantor pada jam absensi 9.29 WIB.

Dan dari kesimpulan perjalanan perdana, saya menjadi sadar mengapa orang Jakarta gampang stres, meledak dan emosian.

Melihat terminal yang kumuh, macet, dan ngetem yang lama, dan di akhir perjalanan saat saya turun di dekat kantor, kondektur berkata : "Kaki kiri dulu sayang...."

Ugh…rasanya ingin memaki : Sompret lu ! tapi yah saya tahan diri karena masih setiap hari membutuhkan bis dan bertemu dengan orang-orang sama. Biarkan kalimat itu bagai angin lalu, daripada membuat emosi diri di pagi hari. 

Wednesday, October 19, 2011

Belajar dari Cara Menkes Memberi Pidato Sambutan yang Menarik

Selasa 18 Oktober 2011 saya datang ke sebuah acara yang berlangsung di kawasan Thamrin Jakarta Pusat. Acara tersebut diselenggarakan oleh sebuah optik  terkemuka di Indonesia dan saya tentu hadir dalam kapasitas sebagai penulis iklan (copywriter). Optik tersebut mengadakan kontrak kerjasama pembuatan advertorial.

Acara berupa donasi kacamata bagi 1000 anak-anak ini dalam undangan ditulis berlangsung dari jam 09.30 pagi, namun ternyata hingga hampir jam 11.00 wib acara belum mulai. Semua sudah gelisah. Tamu-tamu cilik alias murid-murid sudah tampak suntuk dan adapula yang sempat menangis resah sehingga ditenangkan oleh guru. Rombongan anak Sekolah Dasar yang berasal dari Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Pusat itu padahal sudah datang dari jam 8.00 wib.

Ngaret terjadi karena menunggu tamu kehormatan yang terdiri dari Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH dan istri Gubernur DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo yang juga menjabat sebagai Kepala Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta, belum juga datang.

Anak-anak media pun mulai bosan. Kami bahkan melemparkan joke mungkin ibu-ibu itu masih sibuk mensasak rambut. Dan ketika rombongan datang tepat jam 11.00 wib, otomatis mata saya mengarah pada kepala. ”Hey.. kedua ibu ini tidak mengenakan sasak atau sanggul tinggi,” batinku.

Kedua ibu berambut pendek. ”Ohhh bukan sasakan dong yaa....”.

Setelah pidato pembukaan dari Lions Club, Menkes Endang Rahayu maju ke podium untuk memberikan kata sambutan. Saya belum pernah meliput acara dengan Menkes ini sebagai pemberi pidato sambutan. Saat melihat parasnya saat maju ke podium, saya membayangkan seorang yang tegas, dan gaya tenang memberikan salam pembuka dan sebagainya hingga Menkes berkata, ”Adik-adik kok wajahnya lesu. Sudah datang jam berapa kesini?”

Anak-anak itu secara polos menjawab nyaring datang pada jam 8.00 wib. Ibu berkacamata itu tersenyum tipis dan berkata, “Maaf tadi saya harus ke Jakarta Timur dulu untuk meresmikan imunisasi campak dan polio. Kalau kacamata ini untuk anak Sekolah Dasar (...dia ingat garis besar Donasi ditujukan bagi anak SD....). Adik-adik sudah dapat imunisasi? Lupa ya karena masih kecil. Bedanya imunisasi ini untuk anak balita. Di rumah coba tanyakan apa adik kecilnya sudah dapat imunisasi itu bedanya kalau campak berbentuk suntikan, sedangkan polio dalam bentuk tetes yang manis rasanya,” suaranya tenang menjelaskan.

Saya pribadi pun menjadi duduk manis menyimak. Sebagai audiens saya tertarik dengan caranya minta maaf atas keterlambatannya dan masuk ke bahasan lain yang membuat kita mulai lupa ‘kesalahan terlambat’ dan menggiringnya ke topik lain yang informatif.

Menkes lalu menyinggung slide presentasi yang ditampilkan sebelumnya, dan menyebutkan kalau gambaran khas tentang anak-anak adalah senyumnya. Kemudian Menkes mengajak anak-anak tersenyum bahkan tertawa memamerkan gigi. ”Tidak ompong ternyata,” kurang lebih dia berkata demikian. Anak-anak ketawa. Apa ini maksudnya menyindir sekedar cari lelucon? Ternyata ibu itu menjelaskan anak berusia kelas 1-2 SD khas dengan 2 gigi besar di depan atau gigi kelinci, sedangkan yang tertawa di hadapannya punya tampilan gigi rapi sehingga dia memperkirakan kelas 4 s/d 6 yang kemudian diamini pihak Optik kalau anak-anak yang hadir duduk di kelas 3, 4, dan 5.

*she got the clue: blend her medicine background into information to the public.

Saya kembali terpesona…. Wanita itu memasukkan informasi yang membuat kita manggut-manggut dan membatin, “panteslah dia mengerti..wong dia dokter,” … intonasi suaranya tegas sekaligus tenang. Dengan artikulasi yang jelas.

Menkes secara akrab menasehati murid sekolah dasar itu resep mata sehat, yaitu agar tidak membaca buku di dalam kondisi pencahayaan ruangan yang kurang.

Ia melanjutkan himbauan kepada guru atau kepala sekolah yang mendampingi murid-murid agar memperhatikan pencahayaan di ruangan dalam kelas. “Jangan memilih cat tembok berwarna gelap, lebih baik warna terang. Hal lain yang bisa diupayakan pencahayaan langsung matahari dan atap tinggi,” katanya.

Endang pun menyisipkan kinerja kementerian dengan mengatakan tahun depan akan memasukkan  penyakit gigi dan mata sebagai salah satu yang dicegah dalam program kampanye promotif dan preventif penyakit tidak menular.
Saya merasa selama berpuluh kali meliput, baru kali menemukan gaya pidato menteri yang rileks, tidak perlu text-minded,  tidak harus angka-angka kinerja perusahaan (kementerian/departemen), dan gaya yang tenang.

Saya membagi pengalaman ini murni karena (merasa) gaya pidatonya bisa menjadi masukan ketika kita menjadi pembicara di depan audiens. Berikut tips yang coba kurangkum:
- Sebagai perempuan tidak perlu bergaya orator berapi-api (karena kodrat perempuan suaranya juga tidak mungkin bariton tinggi menggelegak),
- masukkan humor atau informasi ringan yang mengena,
- sikap diri yang tenang,
- tahu audiens-nya siapa... terlihat Ibu Menteri ini lebih memusatkan pidato kepada audiens cilik yang berada di samping kanan saat ia berdiri di podium. Endang Rahayu menyampaikan informasi yang menarik perhatian anak-anak (baca: audiens-nya) bak guru TK mendongengkan cerita khayal yang bukan pengantar tidur, justru membuat anak menyimak apa akhir dari cerita,
- Dia juga berhasil ‘menyihir’ rekan-rekan lain dari bangku media dan penyelenggara acara. Ingat: fokus pada salah satu sayap peserta tapi sebagai pemberi pidato dia juga sesekali melakukan sapuan mata ke seluruh audiens yang hadir di dalam ruangan.  



(Gambar dikutip dari: SINDO) 

Thursday, October 13, 2011

Perubahan (Oktober 2011)

Blog saya tampilannya beda sejak Rabu lalu (12 Oktober 2011). Sebenarnya karena ‘kecelakaan’, karena Eno yang agak-agak gaptek ini dengan berani-beraninya mengklik suatu pilihan yang kalau diterjemahkan kurang lebih berarti “desain baru”.

Klik.

Abrakadabra…..! Tampilan pun baru. Ciamik! Tapi kaget karena ada format berubah, berantakan, saling menimpa, dan akhirnya saya menghilangkan kolom Jejak Pesan yang difasilitasi oleh oggix.com, semata karena saya bingung mengubah format html.

Saya mengucapkan maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang pernah mengisi di Jejak Pesan…. L … Namun sekiranya blog ini tetap menarik dikunjungi dan dibaca oleh teman-teman pengunjung.


Hidup Memang Dinamis

Tapi hidup memang dinamis, seperti halnya saya juga menikmati perubahan perwajahan blog pribadiku per Oktober 2011.

Blog aura-azzura ini ibarat taman hatiku. Aku tanami cerita, kusiram dengan berbagai kisah (meski tidak setiap hari diperbaharui), dan kesibukan seringkali membuatku tidak mengasuh taman dan dia pun terbengkalai.

Azzura berarti warna biru dalam bahasa Italia, dan kukembalikan blog ke nuansa biru. Sedangkan Aura dalam pengertian bebas sebagai cerminan dari sifat sejati kita setiap saat.

Biru bisa bahagia, bisa pula berarti sedih. Saya membuka blog ini dengan puitis mewakili perasaan diri yang jatuh cinta, patah, jatuh, cinta, cinta, patah…cinta.. dst.. Maka tidak heran di awal-awal blog penuh dengan puisi.

Namun sepertinya kemampuan menggores puisi ini semakin tumpul, terbukti kalau puisi (tags: coretan sastra) semakin berkurang hadir. Hanya saja, saya tetap yakin bahwa kemampuan menulis puisi bisa hadir berkat tekun dilatih…. Cuma keinginan atau diri ini sedang berubah dan meminati hal lain. Konsentrasi ke hal yang satu dan dengan berat memang terpaksa membuat saya melupakan sejenak fokus untuk menjadi peramu puisi.

Saya menikmati dinamisnya hidup saya. Menjalani hidup harus punya tujuan yang ingin dicapai. Seperti mengutip pesan seorang dosen Manajemen Strategi, untuk mencapai tujuan kita harus merumuskan dan mengimplementasikan strategi. Dan strategi itu untuk mencapai sebuah tujuan berjangka pendek, menengah dan panjang.

Dan jangan takut untuk berubah demi mencapai tujuan. Dengan catatan semua perubahan itu positif dan menuju diri yang lebih baik. 

Friday, October 07, 2011

Film Horror Indonesia Dibahas di TIME

Awal pekan saya membeli majalah Time edisi 3 Oktober 2011. Terbungkus rapi dalam plastik, dan berita utama mengangkat topik krisis ekonomi Eropa dengan sudut pandang Jerman sebagai negara pengguna mata uang Euro yang kuat.

Hanya saja baru semalam jelang weekend saya akhirnya bisa membuka majalah tersebut. Menelusuri dari awal halaman, mulai dari melintasi iklan Louis Vuitton dengan Sir Sean Connery sebagai model iklannya, lanjut ke iklan penawaran berlangganan majalah selama 1 atau 2 tahun yang berhadiah sebuah tote bag cantik. (Benar. Saya mengaguminya…).

Lalu sebuah artikel menarik di kolom Dunia justru menarik minat saya. Ternyata siswa di Korsel belajar ekstra keras hingga pemerintah turun tangan men-sweeping lokasi-lokasi untuk menemukan anak-anak yang masih belajar diatas jam 10.00 malam.

Hal ini mereka lakukan demi menembus skor nilai tinggi agar diterima masuk perguruan tinggi prestisius seperti Daesung Institute. Akhirnya metode bimbel atau disebut hagwons menjadi pilihan banyak pelajar. Merasa familiar dengan kondisi negeri kita?

Tapi saya kaget ketika terus membaca majalah dan meneruskan ke halaman belakang, saya benar-benar menemukan artikel tentang Indonesia di majalah publikasi khusus untuk kawasan Asia ini.

Halaman Budaya membahas tentang film horror Indonesia yang memasang artis xxx luar negeri sebagai daya tarik. Tujuannya untuk menghindari sensor dari Islam garis keras maupun lembaga sensor resmi.

Selain itu memasang  bintang BF yang memang profesinya ‘begitu’ lebih memudahkan dalam berpromosi. Ketika telanjang menjadi hal dilarang dan bakal kena gunting penyensoran, maka baju ketat dan bikini diperbolehkan asal berada di lokasi sesuai. Maka film-film semacam ini banyak memunculkan adegan berlokasi di klub malam dan kolam renang.

Saya melahap habis artikel sepanjang 2 halaman itu. Sedikit pusing –bukan karena bahasa Inggris ber-TOEFL ngepas- tapi jika diasumsikan dalam emotikon masam, pikiran saya lebih ke arah, “Beginilah Indonesia dalam sudut pandang negeri di luar sana….”.

Kolom kedua dari tulisan memuat pernyataan K.K. Dheeraj, produser film Rintihan Kuntilanak Perawan, membuat saya tersengat… “I’m in Indonesian movies just for business,” he admits. Bla..bla..bla..

Yap. Setiap bentuk bisnis bertujuan mencari laba. Tapi jangan lupa bahwa bisnis adalah amanah. Orientasi keuntungan (profit oriented) harus. Memuaskan konsumen wajib. Tapi juga ada konsekuensi menyodorkan produk berkualitas pada konsumen.

Dari artikel itu pula saya menjadi tahu kalau Vicky Vette sebelumnya berprofesi sebagai akuntan hingga di usia 30-an hijrah dari Norwegia ke AS untuk menjadi bintang film biru. Kini usianya 46 tahun. Artis lain, Tera Patrick, yang ada di film horror Indonesia usianya saat ini 35 tahun. Seandainya saya adalah produser, pasti memiliki posisi tawar kuat karena bernegosiasi dengan ‘barang lawas’ dan sudah melewati masa keemasan dalam profesinya.

Ohya di bagian akhir tulisan Dheeraj malah sesumbar sedang menyiapkan film berikutnya dengan artis yang lebih ‘wah’. Jika Vicky dan Tera masih seukuran melon, maka yang berikutnya adalah labu siam. Fiyuhhh…..

Saya bukan tiba-tiba jadi pemerhati budaya pop. Cuma saya benar-benar gemas. Film memang berfungsi menghibur. Akan tetapi film sebenarnya cerminan masyarakatnya -meskipun saya tidak merasa terwakili dalam pita seluloid itu- namun akhirnya beginilah potret kondisi masyarakat kita di mata luar. Jika yang punya kekuatan ekonomi dalam membuat film tidak mau beranjak dari pakem wanita berbusana seksi, alur cerita tanpa logika, judul bombastis,…. kapan kita menjadi lebih cerdas???? Sigh…