Thursday, July 29, 2010

Media, Seminar, Informasi


Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami pada Sabtu 24 Juli lalu, di sebuah seminar. Mungkin masih ada penyelenggara/panitia seminar yang bingung menghadapi kedatangan seorang penulis dari media.


Seorang jurnalis/penulis biasanya menjadikan seminar sebagai suatu ajang berkenalan atau kesempatan bertemu dengan narasumber, memperoleh informasi terkini, dan menambah wawasan di suatu bidang.

Sehingga ketika kami pertama kali membaca suatu acara seminar yang biasanya dipublikasikan di media massa atau elektronik, atau memang ada undangan dikirim ke redaksi, maka di otak kami akan segera melihat judul seminar, apa materi presentasi dan siapa tokoh yang berbicara, lalu kira-kira apakah topik sesuai dengan bidang liputan yang digarap. Tentu saja lokasi dan waktu acara menjadi pertimbangan.

Seperti Sabtu kemarin saya datang ke acara seminar yang diselenggarakan di suatu perguruan tinggi yang berlokasi di Depok. Seminar ini menyajikan tema peran profesi X di era pasar bebas AFTA. Suatu topik yang rasanya cukup menarik karena saya kebetulan akan membuat artikel tentang profesi dan kebutuhan sumber daya manusianya.

Sebenarnya bagai orang mau kulo nuwon ke hajatan seseorang, sehari sebelumnya saya mengirimkan surat elektronik berisi keinginan untuk datang dan konfirmasi ke alamat e-mail panitia yang tertera di iklan seminar tersebut. Iklan itu terdapat di dalam website perguruan tinggi terkait. (Tapi ternyata memang baru sampai di hari Minggu …thanks to office network*lemot’mode’on*).

Kemudian di hari-H saya pun datang ke tempat acara seminar sekitar pukul 09.00 wib. Di depan pintu saya disambut oleh panitia dan saya pun memperkenalkan diri dari institusi media dan menyampaikan maksud ingin mengikuti seminar tersebut.

“Tapi berarti mbak kan mau meliput?” kata panitia perempuan yang mengajak saya bicara.

Di otak saya segera melintas definisi “meliput” berarti saya akan mengulas acara seminar ini.

“Iya saya masih mencari informasi, mbak,” balas saya kepada panitia berjilbab berperawakan padat tersebut. Ini jawaban standar pula karena kami para jurnalis biasanya malas menerima pertanyaan beberapa hari atau minggu kemudian dari penyelenggara acara, apakah liputan sudah naik cetak atau belum. Ini secara tidak langsung membebani perasaan seolah suatu acara yang didatangi sudah pasti layak muat.

“Tapi mbak, kami sudah punya media partner,” balasnya.

Lha…!

Memang suatu seminar membutuhkan dana dan publikasi. Makanya panitia menggandeng sponsor acara untuk memberikan dana berupa uang tunai maupun non tunai, termasuk punya media rekan kerjasama sebagai tempat mempublikasikan acara guna menggaet peserta seminar. Media partner ini biasanya juga akan memuat liputan dari penyelenggaraan acara. Tapi bukan berarti seminar itu menjadi privilege media partner sehingga wartawan media lain tidak boleh datang dan meliput selama kegiatan berlangsung.

Akan tetapi, saya rasanya lebih terbiasa jika panitia minta kartu nama atau silahkan juga jika ingin melihat ID-card (meskipun yang ada cuma ID-card untuk absensi kantor). Seandainya saya menjadi panitia acara, ini adalah cara sopan atau tersamar untuk mengetahui apakah orang di depan saya adalah jurnalis benar atau gadungan.

Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”

Nah, biasanya jurnalis yang ditanya akan menjawab misalkan bahwa nama tersebut sudah pindah ke desk liputan lain atau mengakui dirinya anak bawang sementara nama yang disebutkan panitia adalah senior.

Tapi memang saya dipersilahkan untuk mengikuti kegiatan seminar. Lalu saya pun duduk di kursi baris belakang. Ahya, kursi baris belakang favorit para wartawan karena dekat dengan pintu keluar. Ketika kami merasa bahan tulisan sudah cukup maka kami bisa berlalu pulang dengan mudah tanpa mendapat pandangan mata dari peserta lain. Alasan lain duduk di baris tepi supaya gampang mencegat pembicara keluar ruangan.

Saat itu presentasi sedang berlangsung…dan voila, kuping saya mendengar penyaji materi mengucapkan kalimat, “Kompetensi yang dibutuhkan seorang (profesi) di saat ini ….” wauw pas dengan hal yang saya butuhkan. Saya pun segera sibuk mencatat, tapi tiba-tiba seseorang menyapa saya, “Maaf kursi paling belakang ini untuk panitia,” seorang perempuan panitia berambut lurus sebahu berperawakan ramping berkata demikian. Suaranya sopan dan ramah, tapi tetap saya setengah tidak percaya dengan perkataan wanita tersebut. Muka bengong saya membuat dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih sama.

“Tapi gapapa kan saya disini dulu? Oh ya kalau memang saya diusir suruh pindah juga bilang saja,” kata saya seraya melihat sisi kiri kanan bangku sederetan yang masih kosong melompong. (memancing bad mood di pagi hari ….)

Akhirnya perempuan itu mengiyakan dan berlalu. Selama mengikuti presentasi saya menyapu pandangan, dan melihat pria maupun perempuan berdiri di pinggir ruangan dalam jumlah cukup banyak dan tersebar. Di belakang saya pun ada yang berdiri dan duduk berbaur bersama meja penjualan produk sponsor. Mereka berpakaian seragam dalam atasan batik berwarna kelam, seperti baju yang dikenakan oleh dua wanita yang tadi berbicara dengan saya. Berarti mereka adalah panitia.

Saya jadi berpikir, panitia seperti apa yang tidak mengharapkan peserta seminar datang membludak dan berharap bisa duduk di kursi?

Lama-lama saya tidak merasa nyaman. Mungkin memang saya tidak diterima sejak awal? Tidak ada inisiatif panitia untuk memberikan saya materi presentasi. Saya pun sudah enggan bertanya dan lebih baik meminjam materi presentasi dari rekan sebelah saya. Seorang jurnalis pantang pulang tanpa bawa hasil, menjadi pikiran saya saat itu mengingat perjuangan datang dan rencana awal datang ke seminar.

Setelah puas membaca cepat materi presentasi para pembicara yang dikemas dalam satu buku seukuran buku tulis, mencatat poin-poin penting dan memotret materi dengan kamera BlackBerry, saya pun berlalu pergi.

Tulisan ini saya buat bukan ingin jurnalis disanjung ketika datang ke suatu acara. Ini bukan pikiran bijaksana di era media sudah membludak jumlahnya dan di sisi lain masyarakat bisa menyerap informasi dari media mainstream, microbloging dan web forum.

Akan tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi cerita kecil yang cukup berguna jika lain kali datang ke peliputan acara atau suatu waktu saya atau Anda menjadi panitia kegiatan seminar.

Saya jadi berpikir apakah panitia seminar lebih mengharapkan kehadiran peserta yang membayar daripada seorang jurnalis yang ingin cari informasi gratis? Saya memang terlambat berpikir tentang hal ini, tapi jika dari awal panitia mengatakan harus membayar untuk masuk, tentu akan ada pertimbangan untuk merogoh kocek dengan asumsi perusahaan media tempat saya bekerja akan mengganti biaya tersebut demi kepentingan bahan penulisan.


*Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan minuman air kelapa F***** yang mengguyur haus tenggorokan, tapi sekaligus menyesal telah mengunyah pizza P*** *** yang dibagikan. Dalam perjalanan pulang saya merasa telah menjadi seorang tamu tak diundang mencari makan siang gratis. 

Wednesday, July 21, 2010

Hikmah dibalik Doa Tak Dikabulkan


Saya mendapat cerita ini dari milis, sebuah kiriman berantai, yang cukup mengena. Jangan melihat ini sebagai sikap mensyukuri kejadian yang bagi orang lain adalah musibah. Pada bagian akhir tulisan menjadi pesan moral bahwa Ia memberikan yang terbaik bagi umatnya. 

Sebuah pesan berantai di milis bisa jadi adalah hoax, tidak jelas siapa pengirim pertama dan kebenaran sumbernya. Akan tetapi saya memposting ini tulisannya karena saya suka pesan yang ingin disampaikan. 


Good Story from "Challenger"

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.

Siapakah di antara kami yg bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yg terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yg menghancurkan itu.

NASA memilih Christina McAuliffe .

Aku kalah.

Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.

Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.

Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku berpaling pada Ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman2 untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu,dan Aku menantang impianku untuk terakhir kali.

TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?

73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Aku tidak terpilih dlm penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku dibumi ini.

Aku memiliki misi lain dalam hidup.

Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.


Ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA yang KITA MINTA,

2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendptkan yang LEBIH BAIK,

3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendptkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak-NYA. 

Total Football

Saya sering mendengar istilah total football dalam permainan sepak bola. Sering dengar istilah dan menonton pertandingan sepak bola di televisi, hanya saja saya sebenarnya belum tahu definisi pasti dari total football.

Nah, akhirnya dari artikel di Koran Tempo, Minggu 11 Juli 2010, saya mendapat penjelasan tentang konsep ini dan mencoba mensarikan artikel di koran tersebut ke dalam tulisan singkat.

Konsep total football adalah dimana semua pemain bertahan harus menjadi penyerang, dan semua penyerang harus menjadi pemain bertahan. Bola dijalankan secara cepat, pemain berpindah-pindah posisi setiap saat. Pola 4-3-3 menjadi skema yang dipegang teguh.

Pemain yang menguasai bola selama mungkin melalui umpan satu-dua kali sentuhan antarpemain yang terus bergerak untuk membuka ruang pertahanan dan mempermainkan konsentrasi lawan.

Sebagian orang berpendapat bahwa asal total football ini adalah permainan tim Hungaria pada awal 1950-an. Tim asal Eropa Timur ini menjalani 32 pertandingan berturut-turut tanpa kalah. Ah,ya, saya jadi ingat cerita Papa saya tentang legenda sepakbola Hungaria bernama Puskas, yang punya tendangan geledek. Jari-jari kiper gawang lawan sampai patah akibat menahan laju tendangan pemain tersebut.

Dua legenda sepak bola Belanda, Rinus Michels dan Johan Cruyff, adalah orang yang punya peran penting dalam mematangkan konsep ini. Peletak dasar konsep ini adalah pelatih Ajax Amsterdam asal Inggris, Jack Reynolds pada awal abad ke-20, dengan murid terbaiknya adalah striker Rinus Michels. Setelah gantung sepatu dan menjadi pelatih Ajax Amsterdam pada 1960-an, Rinus Michels menyempurnakan konsep Reynolds.

Saat Rinus Michels menjadi pelatih, anak didik terbaiknya adalah Johan Cruyff yang mampu menerjemahkan konsep ini di lapangan hijau.

Namun sebagai pemain nasional, Cruyff tidak bisa membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya karena tim Belanda dikalahkan Jerman pada final 1974.

Lalu Cruyff menerjemahkan total football ke gaya permainan klub Ajax saat menjadi pelatih pada 1985-1988. Kemudian mantan striker ini membawa gaya ini saat melatih  FC Barcelona antara 1988-1996. Torehan prestasi saat Cruyff menjadi pelatih di klub asal Spanyol ini dengan menjadi manajer paling sukses dan terlama dan memenangkan 11 trofi.


Tuesday, July 20, 2010

Eclipse dan Saya






Ketika di bioskop sedang memutar Despicable Me atau Inception yang gres, saya justru baru punya waktu luang menonton Eclipse.

Ini merupakan film ketiga yang diangkat dari tetralogi novel karya Stephanie Meyers , yang terdiri dari : Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Down.

Pertama saya jelaskan bahwa saya sama sekali belum pernah membaca buku novel tersebut. Lalu saya pun tak pernah menonton film sejak dari Twilight maupun New Moon.

Menonton film Eclipse ini sekadar ingin tahu, seperti apa sih cerita yang dihebohkan itu. Lalu ketika saya menyaksikan film ini, yampun!!! maaf, saya mengantuk hingga tertidur di pojok dinding ruang bioskop bersama pashmina bagai selimut menghangatkan tubuh di ruangan yang berpendingin.

Yaa.. tapi memang inilah khayalan remaja abege. Bella Swan berwajah melankolis dan nyaris menunjukkan raut serupa selama berpuluh-puluh menit durasi film, diperebutkan oleh dua pria dengan keunikan masing-masing. Si Edward Cullen dari klan penghisap darah, versus Jacob yang merupakan keturunan serigala jadi-jadian.

Stephanie Meyers memang secara piawai memainkan konflik dalam cerita novelnya, dimulai dari kepindahan Bella ke kota kecil lalu berkenalan dan jatuh cinta kepada Edward nan pucat, berwajah misterius mengundang siapapun wanita normal ingin menaklukkan hatinya.  Lalu ketika ‘jadian’ dan menerima diri masing-masing apa adanya, muncullah konflik orang ketiga yaitu Jacob yang tak kalah ganteng plus doyan bertelanjang dada berperut bak papan cuci menonjolkan 6-packsnya.

Omygod! Kok rezeki Bella digandrungi pria ‘tidak normal’ ya? Untung di buku ketiga bunda Mayers tak menambah rumit jalinan asmara dengan menceritakan Bella yang bingung diantara dua pilihan pria remaja, tiba-tiba jatuh cinta dan memilih pria yang jauh lebih tua tapi ternyata Highlander, ksatria hidup abadi tak mati-mati.

Tokoh vampir/penghisap darah, werewolf/serigala jadi-jadian sudah menjadi pakem cerita horor klasik barat, hanya terjadi perbedaan saja dalam ramuan skenario. Misalkan jika di film Underworld diceritakan bahwa bangsawan vampir memang sengaja memelihara serigala jadi-jadian sebagai budaknya. Sedangkan di film Eclipse diceritakan bahwa serigala garis keturunan Jacob berasal dari bangsa Indian.

Kemudian muncullah Victoria menuntut balas akan kematian pacarnya, James yang mati dibunuh Edward. Victoria mengerahkan prajurit –para vampir baru- untuk mengejar Bella. Tujuannya, agar Edward merasakan sakitnya jika kekasih hati meninggal dunia.

Nilai plus dari cerita ini adalah Edward dan Bella mempertahankan keperawanan dan menanti ‘hal itu’ hingga resmi menikah. Sebuah cara sosialisasi yang bagus bagi remaja ketika bahaya kanker serviks, hamil tak siap, penyakit kelamin atau HIV/AIDS menjadi isu sentral di masa kini.

Lalu nilai apa lagi yang saya peroleh? Saya menyimpulkan yang mainstream atau tengah popular belum tentu cocok bagi diri ini. Sebagai Eno Siregar si penikmat (kegiatan nonton) film memang saya mengupdate diri dengan sebuah cerita yang tengah menjadi trending topics. Akan tetapi saya pribadi sudah membuktikan tak semua yang tren cocok bagi si Eno Siregar. 

Wednesday, July 07, 2010

Belajar dari Ibu Pekerja

Saya belum menikah. Masih individu bebas yang waktunya dihabiskan untuk diri sendiri.

Tapi seperti umumnya perusahaan, di kantor saya gawe ada wanita pekerja yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga, disebutkan sebagai Ibu Pekerja. Nah, yang aku perhatikan dari mereka adalah hampir sebagian besar dari mereka adalah orang yang fokus nine to five di kantor, jarang pulang malam kecuali ada hal-hal tertentu, beberapa dari mereka kedapatan melakukan percakapan telepon pribadi.

Percakapan telepon seputar pertanyaan apakah anak sudah sampai di rumah. Bagaimana kondisi si A, rumah, pelajaran lancar dsb.

Saya melihat mereka serius di kantor karena punya kehidupan lain menanti setelah bekerja, yaitu ngurusin keluarga dan rumah.

Saya hanya menarik ke dalam konteks diri, akibat me-time atau self-centric terlalu besar. Fokus hanya pada pekerjaan dan bersenang-senang.

Ketika pulang kantor masih melanjutkan pekerjaan di rumah. Yang  terjadi adalah, karena saya merasa waktu bekerja saya memang 18 jam lebih (potong 24 jam sehari dengan tidur sekitar 6 jam). Nah lho! baru setelah saya menulis ini saya sadar, waktu saya untuk pekerjaan sangat besar. Akan tetapi, kadang bawa pekerjaan di rumah karena kadang saya tidak fokus di kantor.

“Bisa lanjut di rumah kok,” kata saya membatin. Namun ini berarti saya membuang waktu yang seharusnya bisa untuk kegiatan lain.

Bekerja, have fun, bekerja, have fun, bekerja.

Si individualis perlu juga ingat keluarga. Ingat meluangkan waktu bersama orangtua dan saudara.


Keterangan :
Gambar : Mothers Love by Kolongi1 dikutip dari : http://bitsnbytesoflife.files.wordpress.com

Wednesday, June 23, 2010

Memelihara Mimpi Pendaki Gunung

Saya pernah membaca cerita tentang seorang pendaki yang ingin menaklukkan puncak Gunung Everest.
Dia mengatakan, “Suatu hari aku akan mencapai puncakmu.” Lalu sang pendaki tekun berlatih dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya keinginan itu terwujud pada beberapa tahun kemudian.

Namun arti cerita ini sebenarnya bukan tentang keberhasilan pendakian gunung. Makna cerita adalah Gunung Everest melambangkan tujuan akhir/target yang ingin dicapai. Dan pendaki adalah seseorang yang fokus mencapai puncak gunung sebagai tujuan akhir.

Puncak gunung itu tetap berdiri angkuh pada 8.850 meter jika dihitung dari atas permukaan laut (kecuali ada kejadian geologi mahadashyat mengubah morfologi bumi secara drastis).

Sementara sang pendaki adalah manusia yang hidup. Ia tekun mempersiapkan diri. Olah fisik, membuat daftar perbekalan dan mempelajari rute mana yang harus dilalui. Bahkan ketika memulai pendakian pun butuh waktu berhari-hari. Jika ditotalkan maka proyek pendakian itu memakan waktu bertahun-tahun.

Hidup adalah kumpulan kebiasaan. Pendaki membiasakan diri dengan persiapannya untuk mencapai si ‘atap dunia’. Ia sebenarnya bisa berpaling dan menikmati hidup yang ia jalani di tempatnya berada. Mengatakan bakal susah, tak mau beresiko kena hipotermia, dan daripada menghabiskan biaya besar. Tapi si pendaki tetap memelihara mimpi menginjakkan kaki di sana hingga ia berhasil merealisasikan mimpinya.

Saat ini saya bagai seorang pendaki yang ingin mencapai puncak Everest. Tapi di otak ini yang terpikir adalah susahnya mendaki, penuh batu-batu, bakal kehausan di tengah pendakian, nafas terengah-engah. Belum lagi cemooh orang lain bertanya mengapa si penderita asma mau mengejar gunung dan bukan menghirup udara segar pantai.

Akibatnya : saya tidak berani memulai. Sering menunda. Malas karena di dalam benak ini yang terpikirkan adalah betapa susahnya langkah yang harus kujalani. Padahal –ternyata- batu terbesar penghalang langkah adalah diri kita sendiri.

Padahal coba berpikir, “Fokus di tujuan akhir, dan nikmati prosesnya.”



*Thanks untuk sahabat-sahabatku yang memberiku semangat dan menjadi tempat curhat beberapa waktu lalu. Tulisan ini tertuang berkat motivasi dari kalian*

Monday, June 14, 2010

Visi


Usai mengedit suatu wawancara profil, saya teringat ucapan narasumber itu yang lebih kurang sebagai berikut, “Visi menurut saya adalah tujuan jangka panjang dan berkelanjutan, ….” kata dia.
Sering melakukan wawancara profil kepada berbagai narasumber, hampir pasti akan menanyakan apa visi dan misi dalam memajukan perusahaan, institusi/lembaga atau dalam posisi kapasitas yang beliau pimpin.

Sebuah perusahaan tidak bakal maju jika seorang pendiri perusahaan tak tahu juga apa yang ingin dicapai dari keberadaan perusahaan tersebut. Sebagai pribadi, saya atau siapapun kadang pernah dalam kondisi bingung. Entah mau menjadi apa seorang “Eno” (baca : nama kamu).

Alasannya macam-macam. Mungkin pernah tahu apa yang ingin dikejar, ketika yang diinginkan telah tercapai maka kamu hilang tujuan dan berada di zona nyaman.  Atau punya sejumlah resolusi diri yang diucapkan di momen-momen tertentu, seperti saat tahun baru, pertengahan tahun, ulang tahun, atau saat kamu menemukan pencerahan, tetapi kenapa mewujudkannya susah ya?
Saya seolah baru menyadari akan lebih gampang jika kamu menyarikan dulu dalam satu kalimat, kemudian draft resolusi adalah pengejawantahan dari Visi.

            Visi kamu sebagai individu bernama Eno adalah ……

             Dengan demikian, cara kamu mewujudkan Visi itu adalah…..

…..Hope this way could help me find the way….

Friday, June 11, 2010

This Time for Africa - World Cup 2010

Siapkan diri untuk menyaksikan Piala Dunia 2010, berlangsung antara 11 Juni-11 Juli 2010.
Ini pertandingan sepak bola antar negara yang pertama kali diselenggarakan di benua Afrika. Tepatnya di Afrika Selatan.

Nama bolanya lucu, Jabulani, didesain oleh Adidas.

Penyanyi lagu theme songnya Shakira yang suaranya dashyat, goyangnya yahud.....lha :p

Semua menyuarakan semangat...

This Time for Africa (Waka Waka)

Tsamina mina eh eh

Waka waka eh eh

Tsamina mina zangalewa

This time for Africa

Wednesday, May 26, 2010

Hidup Ini

Hidup adalah bergerak

sejajarkan langkah seirama waktu
menikmati hari dan musim berlalu
hingga bumi pun memeluk berkalang tanah

Sore Itu Aku Mampir ke Rumahmu

: Nyekar

Sore itu aku mampir ke rumahmu,
Tanganku tak bawa buah tangan,
Aku ternyata sudah lupa apa bunga yang kau suka
Aku memang tak pernah tahu cerita kegemaranmu

Ku harap suaraku semoga sampai di langit
Kita tak bicara pinokio, piano, atau bintaro
Tak usah singgung Mozart, Chopin, blok piano
Metronome dan penggaris panjang tak membawaku ke panggung
Jemariku memanjang dan jenuh pegang kunci D,E,F dan G
Kupingku tak mengenali ketukan, melodi itu tak mengantarku ke kamu
Aku tak tahu mau bicara apa
Saksikan saja, si Timun Mas sudah jadi raksasa


Dulu kamu mengejar bocah sulit makan dan membuang keringat ayah di piring nasi
Dulu kamu menemani bocah yang takut melihat cermin, lukisan, dan semua hal biasa bagi orang dewasa
Bocah penggambar awan di langit dan berenang bersama anak kodok
Si penikmat petir dan harum tanah tersiram hujan sembari mojok di sudut ruang ... kata orang dewasa, kelakuan anak ini beda.....


Anak aneh itu kini sudah dewasa
Punya kenangan yang semakin kelabu di otak
Tinggal sebatas cetak rupa yang (katanya) mirip wajahmu

Aku kini tak tau apa kamu mengerti bahasaku
Aku mampir sebelum semuanya makin samar
Aku diam tak bersuara, tapi kurasa kita saling bicara





Tanah Kusir, 24 Desember 2008

Sunday, May 23, 2010

Tidak Peka adalah Alasan Tidak (Sempat) Memperbaharui Blog

Seorang teman punya komentar terhadap blog pribadi saya yang belakangan jarang saya perbaharui.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.

Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.

Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.

Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.

Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.

Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.

Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.

Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.

Thursday, April 29, 2010

#Deadline-Berat

Kata-kata mengalir deras dari otak yang menegang

****

Mencoba genggam cahaya di jemari. Semoga kilaunya menebar semangat di diri



****
Fokus di weekend : supaya semangat menyelesaikan kerja di hari ini

Tuesday, April 06, 2010

"Sibuk"

"Lagi sibuk?"
"He eh,"
"Sibuk apa?"
"Bingung... Bengong..."

Wish I Were There

Lagi ga merasa punya tulisan (yang sekiranya) bermutu untuk dibagi, tak adapula ide menggores puisi. Jadi, mengkhayal saja tempat-tempat menarik bagi diriku untuk disinggahi :



Menara Eiffel


Menjejakkan kaki di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Struktur menara besi berlokasi di Champ de Mars ini dibangun pada 1887 dan 1889. Kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1889. Desainnya digarap oleh Maurice Koechlin.

Fungsi awalnya sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk perayaan Revolusi Prancis, dan sejak itu Eiffel menjadi ikon Perancis.











Grand Canyon

Ingat film layar lebar Mission Impossible-2? pada bagian awal terdapat mengambil setting di Grand Canyon, AS. Jadi saya membayangkan sebuah tebing-terjal diukir oleh Sungai Colorado termasuk melanglang ke Taman Nasional Grand Canyon.





Gili Trawangan

Bersyukur telah menghabiskan masa kecil di Irian Barat, beberapa kali berlibur ke Bali, dan snorkeling di Sabang. Kini wish list adalah berlibur di Gili Trawangan, Lombok. Menikmati menghabiskan waktu berjemur di tepi pantai seraya menikmati sinar matahari menimpa kulit.













Mekkah

Ide ini melintas sejak belakangan ini, sepertinya mulai akhir tahun lalu. Sebagai umat Muslim menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Adapun naik haji yang selebihnya merupakan sunnah. Sedang memikiirkan untuk membuka Tabungan Haji di sebuah bank.

Thursday, March 11, 2010

Bahagia Melihatmu Bahagia


Ada usik tanya dalam mata memandang Saat kita bertemu satu pusaran waktu
Sewindu ada kamu terhapus dalam hujan semalam
Lantas…sepi seperti apa tanpa kamu?
Lalu..sunyikah harimu tanpa kicauku?

Kamu masih secangkir tea latte
berpadu kontras dengan irish coffee di diri ini
Aku ingin tipsy sedikit mengingat masa lalu
Menggali memori dari sejumput aroma tembakau
Aku telah alpa harum samar dari tubuhmu


Tunggu dulu!
Hentikan caramu menyeka keringat di kepala
Aku pun tak kuasa menghentikan jemari ini mengacak rambut di kepalamu
Lanjut berpeluk dan mengecup setiap inci wajah


Ayo…bicara saja…
Bicara apa saja
Tentang diri dan hidupmu
Aku ingin menangkap kilau ceria di matamu
Aku bahagia melihatmu bahagia


Aku telah melepas komet di angkasa
Malam tadi aku melihat bintang di langit
Aku ingin melukis kisah baru di sana


*P.S. : terinspirasi kisah dalam satu musim*

Wednesday, March 10, 2010

Fractura Hepatica dan Patah Tulang

Saya baru mendengar “fractura hepatica” sebagai istilah lain dari “patah hati”.

Patah hati pasti sama sakitnya seperti mengalami fracture di bagian tulang yang biasa dialami orang yang berolahraga.

Entah nyambung atau tidak, usai mendiskusikan hal ini bersama teman yang memberitahu istilah ini, saya sedang sampai pada kesimpulan bahwa “cinta” sama seperti kamu berolahraga.

Pertama kali kamu ke gym, kamu mengira-ngira apa yang dapat kamu peroleh di sana, suasananya, dan apa hasilnya. Usai mengikuti kelas aerobik, badanmu terasa sakit-sakit. Butuh diusap pelega otot seperti Counterpain.

Pegal-pegal di badan bikin kamu cape. Timbul malas untuk mengulanginya. “Apa aku sanggup?” tanyamu membatin.

Tapi kamu tetap kembali ke gym dan berolahraga. Mengolah fisik menghasilkan hormon endorfin, yang bisa memberikan rasa bahagia dan rileks. Seperti halnya “cinta” yang juga menjadi penyemangat hidup.

Apakah kamu setia dengan gym tempat kamu berolahraga? Setia dengan gerakan yang itu-itu saja? Atau jenis olahraga yang sama? Bisa ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi kamu tetap menyukai olahraga, karena kamu menemukan kebahagiaan, badan lebih sehat dan bugar. Nafas yang lebih panjang, dan hasil lainnya baju yang dibeli pada 2-3 tahun ternyata masih tetap pas di badan.

Dan sama halnya dengan ‘cinta’ yang tetap kamu cari, dan suatu waktu kamu bisa setia karena telah menemukan kenyamanan, pelabuhan, atau titik akhir pencarian.


Patah Hati#1

Hati ini retak
Luka meruak
“Kau mau bantu aku menambal hati ini?”


***


Patah Hati#2

Biarkan alang-alang merambah ladang kita
menjelma gulma mencabik hati gembur
kasih yang subur sudah lupa ditabur
kering merana tandus merata

Thursday, March 04, 2010

Kekuatan Mimpi

Apakah kamu masih berani bermimpi?
Masih semangatkah membuat resolusi di awal tahun dan fokus pada merealisasikan impian yang terdapat dalam daftar wish list kamu?


Setelah terlibat diskusi bersama seorang teman, bisa jadi terbersit rasa kagum atas keberhasilan dia, atau justru cemburu lantas membatin mengapa diri ini tidak bisa seberhasil dia.

Dan tiba-tiba menyadari bahwa diri ini berada dalam --zona nyaman—bangun pagi, kantor, kerjakan tugas-tugas, pulang ke rumah, lalu tidur hingga pagi hari dan siap melakukan ritual sama. Satu tahun yang berjumlah 365 hari berlalu, dan saat kembali menoleh pada tahun lalu kita seolah melihat sebagai garis datar.

Kekuatan mimpi tergerus oleh pembenaran kesibukan kerja, mempunyai sederet persoalan harus dihadapi, atau alasan memprioritaskan sejumlah tugas harian sebagai first thing first.

Saya atau hampir semua orang yang mengalami kondisi diatas lupa bahwa kita harus punya mimpi dan fokus untuk mengejarnya. Berusaha dulu baru menyatakan ‘kalah’.

Jika di tengah jalan ada sandungan atau percabangan ke pilihan berbeda, mungkin itu sebagai cobaan atau memang perhentian sementara sebelum mimpi besar kamu terwujud.

Kini saatnya kembali menjadikan lirik-lirik lagu pembangkit semangat seperti Nidji “Laskar Pelangi”, Celine Dion “The Power of the Dream”, dan Whitney Houston “Greatest Love of All” sebagai bagian dari penyemangat hidup.

Menyenangkan juga mempunyai teman yang ‘tepat’, yaitu teman-teman yang berhasil dan semangat menjalani kehidupannya. Aura positif mereka semoga menyebar lantas menular pada diri sendiri. Bersyukur memiliki sahabat tempat bersandar disaat sedih, saling mendukung, tersenyum bersama di saat hati bahagia, sekaligus menjadi pembangkit semangat.

(Gambar dikutip dari : http://www.worldofwarcraft.com/)

Thursday, January 21, 2010

Puisi Panik - Hanya Sepenggal

Hap..hap...hap..
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak

***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(

Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...

Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!

Calm down Eno..calm down..Don't be panic.

*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.

Thursday, January 07, 2010

AlasanTidak nge-Blog

Lagi menebak-nebak penyebab saya belakangan ini jarang nge-blog, alias memposting tulisan di dalam blog. Dan saya menemukan beberapa alasan.

Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.

Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.

Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).

Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.

Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.

Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.

Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.

Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.

Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.

Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.

Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.

Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.

Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.

Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.

Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.

Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.

Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.

Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.

Monday, January 04, 2010

Happy New Year 2010

Happy New Year
Wishing You…..

12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success


*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*