Batuk!
Huh! Mengapa sakit ini tidak mengenal waktu.
Suara ku memang jadi lebih berat –apakah terdengar lebih sexy kah? – padahal bakal ke luar kota.
Sudah berusaha sembuh tanpa ke dokter. Dari minum obat batuk tidak berdahak, air minum hangat, vitamin C, FG troches, hingga jamu tolak angin.
Ada yang menyarankan jamu obat batuk. Tapi ketika kutanya apa nama/merek, dia nyengir bilang ga tau karena yang membelikan jamu obat batuk itu nyokapnya. (Hehe.. halo Ajeng.. )
Huhuhu! Belum sembuh juga hingga Jumat pagi ini. Malah suaraku semakin menipis.
Ya Allah, semoga suaraku masih bertenaga untuk melontarkan tanya/wawancara pada Sabtu besok.
Friday, June 27, 2008
Wednesday, June 25, 2008
Melihat Lebih Dalam

Pendapat Saya tentang Kamu :
- Saya sebal kamu baru bangun tidur, belum mandi tapi menelpon saya menanyakan kabar dan rencana di hari Sabtu. (Ingin rasanya menyeret kamu ke kamar mandi, mengguyurkan air dingin supaya tampil resik).
- Ga bisa dimintai pendapat (alias, "Gw harus cari jawaban sendiri dehhh..")
Pendapat Kamu tentang Saya :
- Smart, meski terkadang takut-takut ambil kesimpulan.
- Tegas, meski terkadang mudah sensi.
- Impresif, meski terkadang kurang fokus.
Dari dua versi (opini Kamu dan Saya), baru Saya sadari Kamu bisa mengeluarkan pendapat tentang siapa Saya secara lebih dalam. Sementara Saya masih berada di level ’permukaan’. Saya jadi merasa bahwa diri ini harus lebih bijaksana, bukan hanya melihat fisik dan sejumlah kekurangan.
Padahal -kalau dipikir-pikir- Saya juga kadang malas mandi di hari Sabtu pagi. (Semua orang juga mungkin merasakan hal sama di libur akhir pekan). Apalagi, sebagai anak kos-kosan yang perlu ”kerja domestik” dulu. Beres-beres, nyuci, nyetrika dsb. Mandi jadi urutan paling belakangan :D
Saya juga mesti survive, harus bisa menentukan pilihan tanpa menunggu saran orang. Kamu kan tidak (selalu) ada di dekat Saya. Suatu hari Kamu –mungkin saja- tidak untuk Saya.
Saya adalah Saya. Tapi Saya harus belajar melihat lebih ’ke dalam’.
(Foto : ”Menerawang Awan" by Eno, April 2008. Lokasi : Desa Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam).
Monday, June 23, 2008
Nasionalisme atau Profesionalisme
Bagi Belanda, Guus Hiddink adalah 'pengkhianat'.
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Wednesday, June 18, 2008
Katakan dengan "Blog"

Speak out! Jadilah Blogger!
Ada pepatah sederhana yang diwakili tiga monyet lucu : “Three monkeys – See No Evil –Hear No Evil –Say No Evil”. Pepatah tsbt lahir saat belum ada yang namanya Teknologi Informasi.
Daripada ngurusin orang lebih baik tidak usah memandangi, tidak usah mengomentari, tidak usah mendengar gosip (apalagi pembicaraan miring ngomongin orang lain).
Zaman sekarang, kemukakan opini/pendapat/pikiran dll yg positif di blog.
(Gambar ini tidak tahu pasti bersumber dari mana. Cuma hasil kiriman teman di e-mail)
Sunday, June 15, 2008
Majalah Syur Muncul Lagi?
Sabtu kemarin, saya menemani ibu ke acara keluarga. Dari menjemput opung di kawasan Pondok Cabe, kami meluncur ke Menteng. Kita mesti mewaspadai rute-rute macet di akhir pekan, yaitu mal. Tentu saja, dalam hal ini berarti : Pondok Indah Mal, Senayan City dan Plaza Senayan.
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Aku, Malam dan Kunang-Kunang

Kunang-kunang, maafkan aku
membuatmu tersulut api cemburu
Ketika kucumbu malam
Ia hanya teman menanti di tepi danau
Menunggu bintang membawaku terbang
Kunang-kunang, ku tahu sedihmu
Nyalang sorotmu saat kupeluk malam
Ia memang hangat memeluk
Bukan surya yang garang membara
Membakar sayapmu, melepuhkan kulitku
Aku mereguk malam
Aku pun memimpikan bintang
Kini diriku pun kalut,
Adakah bintang ingat diriku,
Atau dia terpana kilaumu
P.S. : Biasanya aku mengasosiasikan malam ’berpasangan’ dengan bintang. Tapi postingan rekan BuMa membuat aku terpikir ide menyandingkan malam bersama kunang-kunang. Hehe...mungkin akibat jarang ingat kunang2 karena terakhir melihat si hewan malam ini sekitar 10 tahun di daerah Karangsambung, Kebumen.
(Gambar dikutip dari : "fairies & fireflies067" dari www.flashbacks-photo.com)
Doa Bola

Waktu kecil :
Ya Tuhan,
Izinkan aku terbangun malam nanti
Ku ingin nonton bola bersama ayah
Beringsut dari kamar ke depan tv
Dan terlelap di dada ayah
Waktu remaja :
Ya Tuhan!
Ganteng sekali si kaus nomor 9
Izinkan negara mereka menang
Waktu dewasa :
Ya Tuhan,
Semoga ayahku tidur lelap
Lebih baik ia istirahat cukup daripada nonton
mmmm... (diam sejenak)
oh ya, Tuhan, bukan aku melanggar peraturanMu
tapi izinkan aku menang adu intuisi
dan biarkan aku menikmati duitnya
(Gambar dikutip dari www.gemstoneking.net)
Wednesday, June 11, 2008
Malaikat Kecil

Lantunan doa pun dipanjatkan saat engkau datang :
jadilah engkau cahaya di bumi, dan kasih di sepanjang masa
Seperti sinar mentari membelah hari, menyambut malaikat kecil
Beri kerling matamu agar kami merasakan surga
Genggam jemariku, mari bermain dan kuperkenalkan dunia.
P.S. : terinspirasi dari rekan di BuMa yang baru punya bayi, sebagai balasan puisi.
(gambar : tidak tahu pasti sumbernya. ini gambar favorit saya hasil kiriman teman)
Melepas Masa Lalu
Semalam ada kamu, menyambutku dan memelukku Kita berpelukan bahagia..... kita sangat bahagia
Hanya ada saling pandang dan rangkulan mesra.
Semalam,
Senyum kamu terindah diantara sejuta senyumanmu
Tanpa bicara, mata kita melontarkan kata.
Hari ini aku terbangun
Aku tahu makna mimpiku
Kita sudah ikhlas saling melepas
Tak ada tangis, hanya bayang kelabu yang sirna,
Kusambut pagi ini dengan cahaya.
Jakarta, awal juni’08
(Gambar dikutip dari : easy dream interpretation)
Celoteh Hari Ini
Pernahkah kamu mengalami hari yang rasanya 'hambar' banget?? Males? Duh, ini kejadian di Kamis, 5 Juni lalu, dengan kondisi lagi deadline, plus beberapa tugas yang juga menumpuk, tapi otak kayak tidak kompromi untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
Friday, May 30, 2008
Nonton Yuks!
Tentang Saya dan Kamu (Its Takes Two to Tango)
Katanya saya tidak mensyukuri sudah dapat barang bagus.
Karena saya perempuan, saya dicap berperilaku ‘bitchy.’
Karena saya perempuan, maka saya menghormati pasangan.
Saya tidak mengatakan alasan apa yang membuat saya berpaling ke lain hati.
Saya tidak menceritakan hal buruk penyebab diri ini mencari pelukan lain. Jika pelariannya tidak lebih baik, maka itu namanya ”pengalaman”.
Kata ibu, itu cermin diri saya yang tidak pernah puas.
Kata saya, itu contoh kebodohan kambing mengira rumput tetangga lebih indah walaupun ternyata fatamorgana. Atau ternyata penuh pestisida.
Pelukan lain itu hanya pelarian sesaat.
Rengkuhan lain ternyata masih sempat membuat ku terlintas berpikir, ”Tidak ada yang setulus kamu.” Meski saya kini benar-benar bakal tutup buku dan menghapus bayang kamu, dan....memang aku bisa berhenti menangis secara cepat. Yang tersisa hanya memori saat-saat bersama kamu, yang kadang melintas seperti film lama dan mulai terkikis. Termakan waktu.
Kata teman pria saya, ”Ketika kamu mengkhianati dan mendua, what you do is what you get!”
Kata sahabat perempuan saya, ”Dari dulu gua juga ga sreg dia sama kamu.”
”Dia yang mana?” balasku membatin.
Duh! Tapi Dia yang ini tentu Dia yang selalu tersimpan di saku hati. Bukan cerita Dia si selingkuh hati. Dia yang selalu kutangisi di saat pergi. Kata Dia, ”Hanya sementara.” Tapi firasatku selalu benar dan kali ini benar yang menyedihkan:(
Dia yang membuat saya tersenyum melihat bintang, dan bertanya, ” Apakah kamu sedang memikirkan saya? Apakah kamu tahu kalau kamu inspirasi mimpi indah saya?”
Kamu yang mengajarkan melukis Bintang Pari di langit.
”Kamu mantan anak Pramuka, ya?” ujarku seraya tertawa. Sembari memandang angkasa malam berpendar kejora.
”Anak XXXXXXX harus baca kompas dulu ya baru tahu letak utara, selatan, barat, timur?” tanyamu membalas ucapanku. Saat itu, aku baru menyadari kehadiran kamu diantara (teman pria) lainnya.
Dan kamu mendahului ku terbang melihat Monas. ”Monas kan simbol Jakarta!” ujarmu saat itu.
Dia pergi. Akhirnya tiba pula saatku berkemas. Kita lalu berada dalam wilayah peta berbeda. Kemudian, dia muncul untuk mengatakan, ”Kita sekarang satu kota.” Lalu, dia pergi lagi.
Dia yang membuat aku terhanyut mendengar lagu Home-nya Michael Buble (meski nama kota tempat tinggal kamu tidak disebut di dalam liriknya. Dan uups! Sejujurnya surat elektronik dari kamu sudah lama terhapus pula tidak seperti ucapan Buble….. And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you..Each one a line or two…. ); Don't Sleep Away This Night- Daniel Sahuleka (sembari menyimak kalimat-kalimat.....Don't sleep away this night my baby… Please stay with me at least 'till dawn…. saya membayangkan Daniel Sahuleka tinggal di Belanda yang bertetangga negara dengan tempatmu berada kan?), atau ”Don’t Wanna Miss A Thing”-Aerosmith hingga ”It Might Be You” dari Stephen Bishop. Segala lirik yang membuatku merajut mimpi “Suatu Hari..”

Kita memang bukan satu paket berdua.
Kita memang bukan cangkang kerang yang menyatu.
Kita laut dan pasir yang bercumbu.
Yang berpisah dan kembali. (Berulang kali)
Kita memang terbiasa pergi membentang mimpi, lalu kembali bertemu di satu titik. Kita juga pernah berdansa di hari-hari bahagia.
Kita pernah menari di atas kesedihan.
Kita sering berpisah untuk saling membutuhkan.
Terima kasih engkau ada setiap saya menangis dan butuh pegangan.
Kata kamu, saya mata air tak mampu kau bendung.
Kata saya, kamu si angkuh terlalu pongah sebagai pria.
Kata kamu, saya si pribadi bimbang bikin bingung.
Kata saya, kamu harusnya menjadi pawang bagi si tak tetap hati.
Kali ini kamu pergi.
Kali ini pintu kembali telah tersegel.
Seluruh darahku membeku, dan –aneh- saya cepat melupakan kamu.
(*)Tapi semalam kubermimpi menjadi Estella bergaun hitam,
Mengajakmu berdansa mengikuti Besame Mucho
Menari di Paradiso Perduto
Demi kenangan dan penasaran
’Krak..’
Suatu suara memecah keceriaan kita
”Bunyi apa itu?” tanya kamu
”Hati ku patah......” jawabku
Pagi ini aku terbangun
Menangis....
(*) terinspirasi dari film Great Expectations (1998)
P.S. 1 : Masihkah kamu berkunjung ke blog ku? Terima kasih untuk pesan pendeknya. Wish U all the best. Tunggu sampai saya sanggup menyapa kamu :)
P.S. 2 : Saya menuliskan ini dan ..... Uff, lega!
(Gambar dikutip dari film "Great Expectations")
Karena saya perempuan, saya dicap berperilaku ‘bitchy.’
Karena saya perempuan, maka saya menghormati pasangan.
Saya tidak mengatakan alasan apa yang membuat saya berpaling ke lain hati.
Saya tidak menceritakan hal buruk penyebab diri ini mencari pelukan lain. Jika pelariannya tidak lebih baik, maka itu namanya ”pengalaman”.
Kata ibu, itu cermin diri saya yang tidak pernah puas.
Kata saya, itu contoh kebodohan kambing mengira rumput tetangga lebih indah walaupun ternyata fatamorgana. Atau ternyata penuh pestisida.
Pelukan lain itu hanya pelarian sesaat.
Rengkuhan lain ternyata masih sempat membuat ku terlintas berpikir, ”Tidak ada yang setulus kamu.” Meski saya kini benar-benar bakal tutup buku dan menghapus bayang kamu, dan....memang aku bisa berhenti menangis secara cepat. Yang tersisa hanya memori saat-saat bersama kamu, yang kadang melintas seperti film lama dan mulai terkikis. Termakan waktu.
Kata teman pria saya, ”Ketika kamu mengkhianati dan mendua, what you do is what you get!”
Kata sahabat perempuan saya, ”Dari dulu gua juga ga sreg dia sama kamu.”
”Dia yang mana?” balasku membatin.
Duh! Tapi Dia yang ini tentu Dia yang selalu tersimpan di saku hati. Bukan cerita Dia si selingkuh hati. Dia yang selalu kutangisi di saat pergi. Kata Dia, ”Hanya sementara.” Tapi firasatku selalu benar dan kali ini benar yang menyedihkan:(
Dia yang membuat saya tersenyum melihat bintang, dan bertanya, ” Apakah kamu sedang memikirkan saya? Apakah kamu tahu kalau kamu inspirasi mimpi indah saya?”
Kamu yang mengajarkan melukis Bintang Pari di langit.
”Kamu mantan anak Pramuka, ya?” ujarku seraya tertawa. Sembari memandang angkasa malam berpendar kejora.
”Anak XXXXXXX harus baca kompas dulu ya baru tahu letak utara, selatan, barat, timur?” tanyamu membalas ucapanku. Saat itu, aku baru menyadari kehadiran kamu diantara (teman pria) lainnya.
Dan kamu mendahului ku terbang melihat Monas. ”Monas kan simbol Jakarta!” ujarmu saat itu.
Dia pergi. Akhirnya tiba pula saatku berkemas. Kita lalu berada dalam wilayah peta berbeda. Kemudian, dia muncul untuk mengatakan, ”Kita sekarang satu kota.” Lalu, dia pergi lagi.
Dia yang membuat aku terhanyut mendengar lagu Home-nya Michael Buble (meski nama kota tempat tinggal kamu tidak disebut di dalam liriknya. Dan uups! Sejujurnya surat elektronik dari kamu sudah lama terhapus pula tidak seperti ucapan Buble….. And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you..Each one a line or two…. ); Don't Sleep Away This Night- Daniel Sahuleka (sembari menyimak kalimat-kalimat.....Don't sleep away this night my baby… Please stay with me at least 'till dawn…. saya membayangkan Daniel Sahuleka tinggal di Belanda yang bertetangga negara dengan tempatmu berada kan?), atau ”Don’t Wanna Miss A Thing”-Aerosmith hingga ”It Might Be You” dari Stephen Bishop. Segala lirik yang membuatku merajut mimpi “Suatu Hari..”

Kita memang bukan satu paket berdua.
Kita memang bukan cangkang kerang yang menyatu.
Kita laut dan pasir yang bercumbu.
Yang berpisah dan kembali. (Berulang kali)
Kita memang terbiasa pergi membentang mimpi, lalu kembali bertemu di satu titik. Kita juga pernah berdansa di hari-hari bahagia.
Kita pernah menari di atas kesedihan.
Kita sering berpisah untuk saling membutuhkan.
Terima kasih engkau ada setiap saya menangis dan butuh pegangan.
Kata kamu, saya mata air tak mampu kau bendung.
Kata saya, kamu si angkuh terlalu pongah sebagai pria.
Kata kamu, saya si pribadi bimbang bikin bingung.
Kata saya, kamu harusnya menjadi pawang bagi si tak tetap hati.
Kali ini kamu pergi.
Kali ini pintu kembali telah tersegel.
Seluruh darahku membeku, dan –aneh- saya cepat melupakan kamu.
(*)Tapi semalam kubermimpi menjadi Estella bergaun hitam,
Mengajakmu berdansa mengikuti Besame Mucho
Menari di Paradiso Perduto
Demi kenangan dan penasaran
’Krak..’
Suatu suara memecah keceriaan kita
”Bunyi apa itu?” tanya kamu
”Hati ku patah......” jawabku
Pagi ini aku terbangun
Menangis....
(*) terinspirasi dari film Great Expectations (1998)
P.S. 1 : Masihkah kamu berkunjung ke blog ku? Terima kasih untuk pesan pendeknya. Wish U all the best. Tunggu sampai saya sanggup menyapa kamu :)
P.S. 2 : Saya menuliskan ini dan ..... Uff, lega!
(Gambar dikutip dari film "Great Expectations")
Jenuh
Anggap saja cerita kita,
‘One night stand’ sembilan bulan,
Saat degup ku terpacu antara dia dan kamu,
bahagiaku untuk kamu si lelaki hutan
dan janji ’tuk pria jangka panjangku
Maaf! ini bukan keindahan perbedaan dalam kebersamaan
”Dosa kepada pasangan masing-masing,” kata kamu
Agh! pasti kita tak ingat itu!
Pasti waktu itu kamu penasaran padaku kan?
Kamu panas dingin bertemu diriku yang cerdas
Kamu tersihir ciumanku
”Barang Bagus” atau ”Barang Baru”, entah apa namanya
Yang penting kita lanjutkan sebagai ’The One’
Kini sembilan bulan berlalu
Janin kita siap lahir
Mari kita namakan dia ”J.E.N.U.H”
‘One night stand’ sembilan bulan,
Saat degup ku terpacu antara dia dan kamu,
bahagiaku untuk kamu si lelaki hutan
dan janji ’tuk pria jangka panjangku
Maaf! ini bukan keindahan perbedaan dalam kebersamaan
”Dosa kepada pasangan masing-masing,” kata kamu
Agh! pasti kita tak ingat itu!
Pasti waktu itu kamu penasaran padaku kan?
Kamu panas dingin bertemu diriku yang cerdas
Kamu tersihir ciumanku
”Barang Bagus” atau ”Barang Baru”, entah apa namanya
Yang penting kita lanjutkan sebagai ’The One’
Kini sembilan bulan berlalu
Janin kita siap lahir
Mari kita namakan dia ”J.E.N.U.H”
Satu Sama
Hai kamu lelaki hidung belang
Mari menyusu di buaian buaya betina
Tanpa mukicari, tanpa teman curhat
Rahasiamu aman di tangan pemain solo
Aku si buaya darat berkelamin betina
Kamu mau kulayani gaya apa?
Rindu merayu, gadis manis nan patuh, atau putri baik hati,
Ratu es versus seksi menggoda, manja versus jinak laknat
Saya angkat kaki setelah sama-sama puas
Kamu suka, saya ada,
Kamu mau sama saya,
Jangan minta lebih,
Syaratnya : Ikuti aturanku.
Mari menyusu di buaian buaya betina
Tanpa mukicari, tanpa teman curhat
Rahasiamu aman di tangan pemain solo
Aku si buaya darat berkelamin betina
Kamu mau kulayani gaya apa?
Rindu merayu, gadis manis nan patuh, atau putri baik hati,
Ratu es versus seksi menggoda, manja versus jinak laknat
Saya angkat kaki setelah sama-sama puas
Kamu suka, saya ada,
Kamu mau sama saya,
Jangan minta lebih,
Syaratnya : Ikuti aturanku.
BLT

Apa yang kau banggakan, tuan?
Ketika rakyat mengantri dan menangis
Apa yang kau sumbangkan
demi .....yang kata Tan Malaka, demi tumpah darah
Ketika kami lecet kaki mengukur jalan
Ya! memang kami berdarah
Apa yang kau ajarkan,
Ketika kami jadi pengemis
Dulu IMF kini BLT
Tuan jadi raja kecil kaum paria
(Keterangan gambar : dokumen Tempo – Warga Miskin Antre Dana BLT Tahap IV di Wangon, Banyumas – Oleh : Arie Basuki (TEMPO)).
Thursday, May 29, 2008
"Berlebihan" atau "Tidak di Saat yang Tepat"? (Promosi Tung Desem)
Motivator Tung Desem Waringin mau tebar duit Rp 100 juta di Parkir Timur Senayan tgl 1 Juni nanti. Menurut berita yang saya baca di website Detik ini, hal tersebut dilakukan terkait peluncuran buku terbarunya.
Yah! Orang ini memang terkenal dengan trik marketing yang bombastis dalam mempromosikan bukunya. Sebelumnya, waktu mempromosikan buku ”Financial Revolution”, Tung naik kuda menyusuri jalan Sudirman. Memancing perhatian masyarakat melalui hal spektakuler sepertinya menjadi triknya. Saya yang mengulas rencana promosi bukunya, secarat tidak langsung juga menjadi media promosional bagi motivator berusia 42 tahun itu.
Namun, trik di atas apakah tidak berlebihan? Maksudku, di tengah sebagian besar masyarakat tengah ’berteriak’ akibat kenaikan harga BBM, diikuti sejumlah kenaikan bahan pokok (malah, sudah jauh hari harga-harga barang kebutuhan sudah naik duluan), transportasi, gas habis, dsb?
Bahkan, baca Koran Tempo hari ini (Kamis, 29/5) tarif jalan tol Jakarta-Cikampek yang naik, saya perkirakan bakal berimplikasi terhadap kenaikan komoditas dan produk tertentu. Bukankah jalur tol tersebut adalah rute ’gemuk’ dan strategis? Jalur sepanjang 72 kilometer sebagai akses Pantai Utara Jawa (Pantura), menghubungkan Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Berapa banyak truk yang bolak balik mengangkut komoditas, bahan baku atau produk hasil jadi dari pabrik-pabrik di luar Jakarta? Sudah harga bensin melonjak, komponen harga transportasi (tarif tol) ikut loncat. Dari dulu pengelola jalan tol selalu berdalih demi meningkatkan pelayanan.
Ya ampun! Saya membayangkan Parkir Timur Senayan pada Ahad nanti bakal dipadati orang-orang seperti antri sembako. Ada yang pingsan, kecapean, atau berakhir rusuh. Memang dalam berita di website tidak dijelaskan, apakah uang dalam bentuk lembaran. Atau kalau dalam bentuk recehan, hehe.. siap-siap bawa baskom dan helm supaya kepala ga benjut kena sambit!
Silahkan saja cara berpromosi demikian dilakukan. Hanya saja, momennya sekarang ini kurang tepat. Di tengah orang sedang mengantri menjadi ’rakyat miskin’ dan mencairkan bantuan tunai langsung.
Akan tetapi, kalau gua ga ada kerjaan, daripada bengong di kos, mungkin acara tersebut bisa diagendakan dalam kegiatanku di hari libur. Sambil bawa body protector, sepatu kets, dan tas besar, supaya gesit di antara keramaian.
Yah! Orang ini memang terkenal dengan trik marketing yang bombastis dalam mempromosikan bukunya. Sebelumnya, waktu mempromosikan buku ”Financial Revolution”, Tung naik kuda menyusuri jalan Sudirman. Memancing perhatian masyarakat melalui hal spektakuler sepertinya menjadi triknya. Saya yang mengulas rencana promosi bukunya, secarat tidak langsung juga menjadi media promosional bagi motivator berusia 42 tahun itu.
Namun, trik di atas apakah tidak berlebihan? Maksudku, di tengah sebagian besar masyarakat tengah ’berteriak’ akibat kenaikan harga BBM, diikuti sejumlah kenaikan bahan pokok (malah, sudah jauh hari harga-harga barang kebutuhan sudah naik duluan), transportasi, gas habis, dsb?
Bahkan, baca Koran Tempo hari ini (Kamis, 29/5) tarif jalan tol Jakarta-Cikampek yang naik, saya perkirakan bakal berimplikasi terhadap kenaikan komoditas dan produk tertentu. Bukankah jalur tol tersebut adalah rute ’gemuk’ dan strategis? Jalur sepanjang 72 kilometer sebagai akses Pantai Utara Jawa (Pantura), menghubungkan Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Berapa banyak truk yang bolak balik mengangkut komoditas, bahan baku atau produk hasil jadi dari pabrik-pabrik di luar Jakarta? Sudah harga bensin melonjak, komponen harga transportasi (tarif tol) ikut loncat. Dari dulu pengelola jalan tol selalu berdalih demi meningkatkan pelayanan.
Ya ampun! Saya membayangkan Parkir Timur Senayan pada Ahad nanti bakal dipadati orang-orang seperti antri sembako. Ada yang pingsan, kecapean, atau berakhir rusuh. Memang dalam berita di website tidak dijelaskan, apakah uang dalam bentuk lembaran. Atau kalau dalam bentuk recehan, hehe.. siap-siap bawa baskom dan helm supaya kepala ga benjut kena sambit!
Silahkan saja cara berpromosi demikian dilakukan. Hanya saja, momennya sekarang ini kurang tepat. Di tengah orang sedang mengantri menjadi ’rakyat miskin’ dan mencairkan bantuan tunai langsung.
Akan tetapi, kalau gua ga ada kerjaan, daripada bengong di kos, mungkin acara tersebut bisa diagendakan dalam kegiatanku di hari libur. Sambil bawa body protector, sepatu kets, dan tas besar, supaya gesit di antara keramaian.
Wednesday, May 28, 2008
Mei
Biasanya saya suka Mei.
Mei adalah musim semi bagiku.
Ia membuatku tersenyum dengan mata berbinar.
Mei pernah kelabu. Pernah berdarah.
Tidak menyenangkan bagi semua orang.
Tapi saya masih suka dengan Mei.
Hanya ada Mei sebagai titik awal.
Semua dimulai dari Mei.
Aku benci Mei kali ini.
ketika kenyataan tak sesuai rencana.
ketika rencana tak terealisasi.
Ketika langkah tersendat.
Lost-orientation? Bloody moody?
”Dimana Mei-ku yang indah?”
Mei adalah musim semi bagiku.
Ia membuatku tersenyum dengan mata berbinar.
Mei pernah kelabu. Pernah berdarah.
Tidak menyenangkan bagi semua orang.
Tapi saya masih suka dengan Mei.
Hanya ada Mei sebagai titik awal.
Semua dimulai dari Mei.
Aku benci Mei kali ini.
ketika kenyataan tak sesuai rencana.
ketika rencana tak terealisasi.
Ketika langkah tersendat.
Lost-orientation? Bloody moody?
”Dimana Mei-ku yang indah?”
Labels:
puisi (coretan sastra),
renungan diri
Monday, May 26, 2008
Mending Abaikan dan Delete
Orang (ngaku) sibuk tapi kok masih bisa meluangkan waktu untuk mengetuk-ketuk jari di keyboard untuk tulisan semacam ini :
Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku
Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.
Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....
Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.
Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku
Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.
Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....
Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.
Thursday, May 22, 2008
Ke Rumah
Friday, May 09, 2008
Jumat Ini...
Kamu pernah bangun pagi dan merasa malas ke kantor?
Duh, saya mengalami rasa itu Jumat ini (9/5). Cara melawan malas : segera bangkit dari tempat tidur, mandi, cuci rambut dsb.
Ohya, di kantorku setiap Jumat seolah ada ’peraturan tidak tertulis’, penampilan karyawan di Divisi Iklan pada hari itu menjadi lebih casual dan tidak seformil hari biasanya. Jadinya, saya menikmati dandan di hari terakhir dalam 5 hari kerja.
Coba memulas eye shadow hitam ditambah eye liner…. Haha, saya selalu ingin mencoba gaya ‘smoke eyes’ tapi belum pernah sempat mengujinya. Menikmati tatanan rambut hasil keramas plus wangi tonik.
Baju yang asyik dikenakan? Jeans... off course! Dan kaus pas badan dengan detil batu-batu permata imitasi di kerah (sebenarnya kaus andalan kalau lagi bingung cari atasan cukup pantas untuk jalan keluar hehe... )Oh yes! Here come my Friday!
(Gambar dikutip dari : www.makeupstore.se)
Duh, saya mengalami rasa itu Jumat ini (9/5). Cara melawan malas : segera bangkit dari tempat tidur, mandi, cuci rambut dsb.

Ohya, di kantorku setiap Jumat seolah ada ’peraturan tidak tertulis’, penampilan karyawan di Divisi Iklan pada hari itu menjadi lebih casual dan tidak seformil hari biasanya. Jadinya, saya menikmati dandan di hari terakhir dalam 5 hari kerja.
Coba memulas eye shadow hitam ditambah eye liner…. Haha, saya selalu ingin mencoba gaya ‘smoke eyes’ tapi belum pernah sempat mengujinya. Menikmati tatanan rambut hasil keramas plus wangi tonik.
Baju yang asyik dikenakan? Jeans... off course! Dan kaus pas badan dengan detil batu-batu permata imitasi di kerah (sebenarnya kaus andalan kalau lagi bingung cari atasan cukup pantas untuk jalan keluar hehe... )Oh yes! Here come my Friday!
(Gambar dikutip dari : www.makeupstore.se)
Subscribe to:
Posts (Atom)

