Friday, April 24, 2009

Apa Keinginan Kamu?

“No, apa keinginan kamu?”

Aku bingung jawabnya ketika disodori pertanyaan itu….. terasa abstrak ....apa yaaa.....?

Pertanyaan ini dilontarkan padaku saat menyeruput kopi di sebuah kafe. Jadinya bingung jawab apa :

mau kudapan apa dari Daftar Menu di resto?

Masa depan?

Kayak latihan menjawab wawancara kerja tentang keinginan diri pada 2, 5, atau 10 tahun ke depan.

Atau saya kaget dgn pertanyaan di saat saya lagi menikmati hidup bagai air mengalir sehingga bingung menjawab apa yang menjadi impian atau langkah ke depanku?

Karena terlalu banyak keinginan?... :

Maka ku-coba me-list "Keinginan", dari hal sederhana sampai ajaib!


Ingin makan coklat Hawaiian Macadamia Nuts sekotak penuh. Tanpa mau berbagi dengan orang lain dan tanpa merasa bersalah terhdp dampak kenaikan berat badan :-p

Ingin menikmati hidup di Bali dengan daftar kegiatan meliputi: belajar membuat lukisan Kamasan, membaca buku yang berderet dalam lemari, belajar surfing dan berenang di pantai.. Ohya, duitnya dari mana? Rasanya dengan berprofesi sebagai Penulis Lepas, saya bisa mengerjakan order di mana saja. Jadi intinya duit mengalir sambil menikmati hidup.

Masih lanjutan poin sebelumnya : ingin mengenakan bikini super mini di Pantai Kuta..tapi karena timbangan berat badan membumbung sejak bekerja dan susah untuk turun lagi, maka dengan potongan badan yang tak seperti Bar Rafaelli, maka tentu ini hal mustahil dan super tak masuk akal hehehe...

Ohya, aku juga ingin memiliki perpustakaan pribadi atau taman bacaan. Bedanya, kalau Perpustakaan Pribadi cenderung sebagai sebuah sudut khusus di rumah tempat menaruh koleksi bukuku secara rapi. Termasuk juga koleksi prangko, kartu pos, dan CD musik yang kupunya. Kutata secara cozy sekaligus tempat ’bertapa”.

Sementara kalau Taman Bacaan berarti aku membolehkan orang lain membaca koleksi buku yang kumiliki. Untuk keinginan terakhir ini, ada fungsi sosial sekaligus komersial. Namun aku tak tahu sejauh mana diri ini mau serius mewujudkan dan bagaimana merealisasikan konsep.

Ingin menginjakkan kaki di Grand Canyon atau Kathmandu. Atau walaupun aku takut terhadap badut, tapi seandainya aku ada rezeki mengunjungi Disneyland Jepang juga ga nolak :))

Ingin belajar bahasa Perancis meski bahasa Inggris pun ”belum beres”.

Ahya... ini keinginan melankolis : Ingin memasrahkan diri dalam jemari kukuh di bawah langit malam bertabur bintang. Sembari memandangi cendawan-cendawan cilik yang muncul seusai hujan menerjang.

Thursday, April 23, 2009

Pesta Ini Sudah Usai

Ini pesta terencana Ratu Agenda
Pujangga Angin pun menyelinap
Menyalakan bingar mendesiskan pora
Ajak dansa purnama
Hitung : Satu... Dua.. Tiga..
(Duel tiga hati, siapa yang bertahan?)

Bibir-bibir yang sudah sering melempar tipu
Kerling berbohong dan ucap cinta dalam daun gugur
Hingga rontok di musim dingin

Salahkan dua orang melempar surat
Dalam nyala kembang api
Lalu terbakar dalam bara
Berpesta semalam bertahun tinggalkan bayang
(Siapa manusia-manusia yang kalah?)



(Gambar dikutip dari : www.worklessparty.org)

Wednesday, April 22, 2009

Gambar Meneduhkan di sela Deadline




Gemesin ya gambarnya?
Mimik mukanya seolah menikmati alunan musik yang berasal dari earphone (meski secara kesehatan sih, dilarang ya bayi yang gendang telinganya masih rentan menggunakan earphone).

Hanya saja, gambar ini menghibur banget di saat aku lagi full-deadline sekarang ini.

thx untuk temanku yg sudah men-forward gambar ini.

Monday, April 20, 2009

Sun Tzu (The Art of War) @My Gloomy Monday

Rapat Senin pagi :
Kamu kok tidak ingat berapa jumlah pemasang iklan hingga Jumat lalu? (Hihi.. tersindir nih.. ngakunya pakai BB, kok teutep ga update)

Kenapa kamu belum mulai membuat partitur? (hei! sekarang pihak yang terkait belum kasih on hands order, dah ditanya lho, sehingga pihak kami belum bisa memastikan jumlah space kosong untuk kami garap).

Kenapa...... (Ih, waktu itu Anda langsung berkata demikian, sekarang kok lempar kesalahan di gw...)

Anda kan Jenderal bermukim di dalam benteng pertahanan, sementara Saya si Panglima di lapangan. Jadi siapa yang lebih tahu medan perang????

Siap, ga siap, Saya harus siap menang perang, membawa bintang tanda jasa untuk Anda.

(Pelajaran kupetik : Siapkan Data; Sikap Manajerial; dan Komunikasi Lintas Koordinasi!)

Saturday, April 18, 2009

Hakuna Matata

Did you know :
40% of your worries may never happen
30% of your worries are about past events and nothing can be done about them
10% of your worries are about petty things
12% of your worries are about your health or diet, your weight, etc. and will only aggravate the situation

So : STOP WORRYING TODAY!

(Source : Raffles HealthNews – a Publication Magazine by Raffles Medical Group Singapore)

**
Film kartun produksi Walt Disney pada pertengahan 90-an, Lion King, memuat kalimat yang saat ini kujadikan tagline hidup. ”Hakuna Matata” yang artinya lebih kurang ”Tak Perlu Khawatir”.

Jalani saja : every journey has the end….every step has the finish line to stop. Every problem has the way to solve.

**

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

Hakuna Matata?
Yeah. It's our motto!
What's a motto?
Nothing. What's a-motto with you?
Those two words will solve all your problems


...

...

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!


(Lirik lagu “Hakuna Matata” yang musiknya digarap oleh Elton John, dan lirik oleh Tim Rice --- dalam film terjalin sebagai dialog antara Timon, Pumbaa dan Simba)

Wednesday, April 15, 2009

Menanti

: Di Sini Tepi Tanpamu

Kunanti kau di sudut bangku
hingga dentang dua belas kali berbunyi
Walau daku dikutuk jadi labu
Setia kutunggu hingga langit bumi beradu

Tentang Rindu Ini

Selalu ada puisi dalam rindu mendekap
Ada rentang dalam kisah tertunda
Semua menyatukan kita dalam selemparan jarak
Lalu kisah kita hantarkan saat rindu ini melebur

Tak usah cerita soal mimpi buruk mencabik
Sajikan senyum termanis meski kaki menjejak kerikil bimbang
Rindu ini terlalu cair untuk waktu yang beku


***

Aku Ingin Mencintaimu Sepenuh Hati – fase 2

Rangkul diri ini dalam gelombang memeluk
Saat kilau mata tak berbicara senyum pun tak terkata
Pasrahkan diri teraduk dalam biduk kau unjuk
Takluk diriku dalam rasa bertabur percaya



Jakarta, 14 April 2009

Tuesday, April 14, 2009

Air di Musim Penghujan

Tahun kelahiranku berunsur kayu, di bawah naungan zodiak berelemen Yin. Simbol Yin adalah air, kontradiksi dengan Yang bersimbol api.

Dalam teori unsur Cina, Air menghasilkan Kayu. Dan berarti pula, Kayu melemahkan Air yang melemahkan Logam, yang melemahkan Tanah, yang melemahkan Api yang melemahkan Kayu.

Sementara dalam alur berpikirku, ”Air melapukkan Kayu”. Sebagai contoh, lihat saja, langit-langit rumah yang bergelombang dan menganga akibat deraan hujan. Contoh lainnya batu besar bakal pecah akibat tetesan air terus-menerus.

Dan, entah mengapa air seolah mengikutiku. Saat baru lahir dalam hitungan hari dan minggu, saya harus mengungsi ke hotel di kawasan Candi gara-gara kota Semarang dilanda banjir rob.

Saya tumbuh besar di Bogor. Saya cinta kota ini, tapi tidak suka dengan curah hujannya yang tinggi. Lembab. Dinginnya kadang membuat saya harus meringkuk berselimut tebal di ranjang, di lain waktu kadang hidungku yang mengulah dengan mengeluarkan semacam bunyi ringkikan. Bukan bengek. Semula saya kira ini sinusitis, tapi ternyata lebih tepatnya alergi dingin. Dokter THT mengatakan ini akibat tulang hidungku yang sedikit bengkok. Terlihat normal dari luar, tapi dari hasil rontgen tulang, itu ibarat palang pintu setengah tertutup (atau setengah terbuka... tergantung dari mana sudut pandangmu) untuk sirkulasi udara.

Zaman kuliah pun pernah mengalami banjir di kamar kos. Saat itu saya mahasiswa dan baru pertama kali melanglang ke daerah Jakarta Barat sehingga memutuskan perlu menyewa sebuah kamar kos di jalan Dr. Muwardi. Apalagi, kuliah di semester pertama banyak mata kuliah dan praktikum di jam pagi.

Lalu, awal tahun ini kamar kos-ku bocor. Malam hari saya harus menyelamatkan barang sejauh mungkin dari tetesan air yang menitik kecil namun melaju pasti.

Yin berkonotasi terhadap feminin, hitam,dan bersifat pasif. Sepertinya sesuai dengan sifatku yang melankolis dan enggan berkonfrontasi. Mungkin pula sebagai pembenaran diri bahwa : kadang cara terbaik menikmati hidup adalah mengikuti gejolak hidup bagai air mengalir.

(Coretan ini dibuat pada : 17 Januari 2009.... ternyata baru selesai sekarang)

Gambar dikutip dari : www.zcache.com)

Aku Ingin Mencintaimu Sepenuh Hati

Aku ingin mencintaimu sepenuh hati
Bersama lekuk bidang dalam senyum mentari

Aku menyayangimu bagai buih di laut
menyelam samudra menikmati geliat ombak
Menelan asin garam, merintih tergores karang
Pasrah berputar-putar dalam riak samudra


Jakarta, 15 februari 2009

Bongkah Hati


Kau cuil bongkah hati
Satu cuplikan, sekeping, sekerat, sejengkal
Hingga lumat dalam dekapmu


Jakarta, 13 Feb’09

Monday, April 13, 2009

Jadi Golput di Negeri Seberang

Saya tidak tahu mau milih siapa di Pemilu 9 April 2009. Tapi yang pasti, saya berencana menggunakan Hak Pilih alias tidak mau golput.

Dari Selasa (7/4) hingga Kamis (9/4), saya pergi ke Singapura atas tugas kantor. Kamis siang usai meeting di Mercure Roxy Hotel, saya naik taksi melesat ke KBRI di Singapura yang letaknya di Chatsworth. Sesampainya di sana, auch! Saya sudah terlambat. Election day closed at 3.00 PM, sementara saya sampai di sana jam 3.40 PM. Dan di belakang saya berhenti pula taksi berisi keluarga (2 putra dan ibu) yang mengalami nasib sama.

Tak sampai semenit, di belakangnya datang lagi taksi dengan seorang kakek sebagai penumpang di dalamnya. Pasti mereka berniat sama seperti saya, “Want to be a good citizen”.

Aih! Saya kok kayak the truly Indonesian people : jam karet. Telat -padahal hanya- 35-40 menit! Dan sniff.. melayang pula uang saya sebesar S$10 plus 40 sen untuk bayar taksi dari East Coast Park menuju Chatsworth. (Saya jadi membayangkan dengan uang tersebut saya bisa membeli kaus Singapura seharga antara S$7 - 12 di Mustafa Centre. Atau tas eco-friendly di Metro, atau apapun lah di Takasimaya supaya menenteng tas belanja berbahan kertas yang bisa dipakai ulang menunjukkan kita sudah pernah mampir di tempat -yang katanya- the must shop you have to go when you’re in Singapore lah..).

Batal men-contreng dan gagal memiliki pengalaman ikut pemilihan umum di negeri seberang, saya pun berlalu dari Kedutaan. Destinasi berikutnya : ke rumah tante saya. Hmmm... lucky me! Di sana sudah menanti kue muffin (hmmm masih anget-anget baru keluar dari dalam microwave) disajikan bersama kopi susu hangat. Ganti baju, melemaskan kaki lalu sambil menikmati kudapan tersebut, Benji, anjing jenis beagle peliharaan tante saya, tidur manis di bawah kaki saya.

Ngobrol sama Siti, pembantu RT di rumah tante, dia mengatakan ikut pemilihan umum via pos. Lha? Apaan tuh? Berdasarkan cerita mbak Siti, sebatas masih kuingat, ia menerima surat suara dari kantor kedutaan yang bisa dicontreng di rumah dan dikirimkan kembali via kantor pos. Ada batas waktu 10 hari pengembalian via pos (CMIIW)... Ah ya sudahlah.... lebih baik pikirkan saja bagaimana menikmati extend yang baik di Negeri Singa :-)

Monday, April 06, 2009

Karma

Kaka……: eno bogooooooorrrrrrrrr

Me: iyaaaaaaaaaaaaa

Kaka……: lg ngapain buuuuuuukkkkkk.......

Me: biasa deh.. update antivirus. ugh besok dah kerja lagi ya 

Me : lagi ngapain? siapin berita besok?

Kaka.......: yup...........supersib nih...... reporter pade bandelllllllllllll

Me: pada ga masuk ya? jd teringet saat dirimu jd reporter?

Kaka..... : iya.........karma kallliiiiiiiiiiiii he he he

Me: hehehe



Ini cuplikan chat antara Saya dengan "Kaka" yang bukan Kaka pemain bola Brasil yang sedang merumput di AC Milan. Namun kesamaan keduanya adalah semangatnya -satu semangat ngejar bola, yang teman saya ini semangat ngejar berita- buktinya teman saya ini sudah naik posisi jadi Redaktur, sementara saya menyingkir dari dunia kewartawanan dan beralih jadi Tukang Nulis.

Obrolan ranah maya ini terjadi Minggu malam. Para pekerja media harian, seperti wartawan, redaktur, fotografer, hingga anak disain yang bertanggung jawab di bagian layout, umumnya bekerja dan masuk kantor pada Minggu. Karena mereka menyiapkan berita untuk koran terbit Senin.

Nah, bagi kami (saya, Kaka, dan teman wartawan lainnya) kadang atau beberapa kali terjadi bahwa Minggu menjadi hari ”paceklik berita”. Kerja mencari berita bagi wartawan harian terjadi antara Senin sampai Jumat. Syukur banget jika pada hari sebelumnya, Jumat, kami memperoleh berita yang bisa ’disimpan’ untuk tayang Senin. Tapi kalau momen liputan itu ramai-ramai dengan wartawan media lain atau merupakan isu hangat tentu hasil pencarian berita di hari Jumat tak bisa ’ditabung’ untuk Ahad nanti.

Salah satu poin berita adalah "kebaruan", jadi dari hasil liputan menjelang weekend kami tambahkan dengan komentar atau dari narasumber lain (bisa pengamat, ahli, atau cross opinion dari sumber terkait). Nah masalah lain jika narasumber tak bisa dihubungi di hari yang galibnya sebagai hari libur. Makanya, beberapa dari kami kadang punya narasumber favorit karena bisa dihubungi kapan saja dan tidak pelit kasih statement hehehe... Lebih baik lagi jika memang kami punya persediaan...tapi itu kan idealnya?! Seringkali selama sepekan itu sudah pusing dengan ”berita kejar hari ini tayang hari esok” ketimbang menyimpan berita.

Belum lagi godaan lain, misalkan melihat teman, saudara dsb yang memang hari Minggu libur. Duh.. tidur di rumah atau enakan jalan-jalan (Ka, jadi mencoba ingat-ingat siapa yaa yang sering nonton sama pacarnya dulu, setelah itu baru ke kantor??? Hehe....)!

Ga heran pula ada yang ngakalin ngetik di hari Sabtu dan ga nongol di hari Minggu. Keuntungan cara tersebut : bisa berakhir pekan dengan santai, ga ketemu sama bos (Redaktur), dan matikan ponsel supaya ga bisa dihubungi sama orang kantor hahaha....

Anehnya pula kondisi tubuh tiba-tiba sering drop di akhir pekan. Demam, meriang, sakit perut, dsb akhirnya absen tidak masuk kantor. Nah, kalau sudah begini, serahkan pada Redaktur untuk kelimpungan mengisi halaman...haha, makanya ini yang antara Saya dan Kaka diskusikan sebagai ”Karma” ketika dia sudah pada posisi Redaktur.

Tulisan ini bukan bermaksud membuka pikiran ’nakal’ dari junior lho...Yah, that's reality ketika kamu bergelut menjadi wartawan media harian bahkan reporter televisi. Ketika jadwal kerja kamu ber-anomali dengan jadwal kerja umumnya orang.

”Itulah minggu....kadang bawa kesenangan kadang bawa kesusahan..........tapi ga papa kan, masih bs dihandle???” begitu kata Kaka.

Yap, saya sih yakin temanku ini bukan redaktur yang cuma sekadar terima berita dari anak buah. Tapi masih semangat cari berita dan menjalin relasi dengan narasumber supaya tetap ter-update isu di lapangan.

Wednesday, April 01, 2009

Aku vs Kamu

Ketika Aku-Kamu semakin berjarak
Aku melihat lengkung senyummu di antara awan
Terpetakan dalam biru langit
Bersama sekerat hati semakin merindu

Ada beribu kisah terlalui, selalu kembali ke Kamu
Sepertinya kita tengah dalam satu siklus
Melingkar berputar berakhir di Kamu
Mungkin Kamu perlu memegang kunci pembuka pintu hati
Seseorang di dalam bakal menyambutmu
Ia duduk termenung menghitung waktu terbawa angin
Saat Kamu datang Ia tergagap menyapa,
”Mau...maukah Kamu....menemani Aku...hingga... ujung .... senja...nanti?”



Jakarta, Februari 2009

Satu Purnama Hadir

Satu purnama hadir
menuntun kita ke bulan berikut,
Mengajakmu menghitung hari terulur
Ternyata kita masih menikmati satu purnama
Menanti hingga bulan bulat penuh,
Merangkum hati selalu merindu.


Jakarta, 13 Februari 2009 (Edited)
(Foto jepretan sendiri)

Monday, March 23, 2009

Kehilangan

Hari ini saya tiba-tiba berpikir tentang “Kehilangan”.
Bukan kehilangan barang, bukan kehilangan kekasih hati, bukan kehilangan kesempatan unjuk prestasi kerja, bukan pula kehilangan kesadaran.
Akan tetapi, kehilangan ...... sniff ... untuk menyebut dan menuliskannya saja, Saya tidak berani.

Pulang ke rumah Bogor akhir pekan kemarin, saya mendengar berita Ibu mertua kakakku sakit parah, hingga butuh perawatan rumah sakit. Beliau memang sudah lama mengidap Diabetes.

Saat pulang ke rumah juga, saya baru tahu Papa lagi flu. Kedengarannya sih sepele. Sakit standar.”Agh, sakit flu aja....,” begitu pasti orang berkilah jika mendengar sakitnya seseorang. Akan tetapi, sakit flu bagi orang sudah tua, mantan perokok berat dan memiliki riwaya jantung, sakit flu masalah besar.

Setelah beberapa hari makan obat dokter, Papa saya tetap bermasalah dengan pernafasannya. Sesak nafas. Senin ini saya pun mengantarkan ayah saya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Alhamdullilah... setelah diuapi (memang alat semacam ini sudah tersedia di rumah tapi ternyata rusak :( ... hiks jadi malu, terjebak masalah mendasar : kalau tidak perlu maka tak diperhatikan performanya), kondisi fisik beliau membaik dan dokter mengizinkan pulang ke rumah. Syukur alhamdullilah :)

Tentu pulang bersama sejumlah obat, surat rujukan ke laboratorium, dan nasehat ini itu.

Hanya saja, selama menunggu beliau di ruang yang didominasi putih, sembari memandang sejumlah pasien terbujur tak berdaya di kiri kanan, sejumlah pikiran terlintas...

Ya ampun! Betapa pucatnya Papa saya (....Ya Tuhan! Saya masih butuh banyak waktu untuk berbakti membalas kasih sayang orangtua)….

Ya ampun! Saya menyesal pernah merokok, pernah melakukan sejumlah pantangan hidup sehat (.... Ya Tuhan! Saya belum punya cukup uang untuk membahagiakan kedua orangtua..)....

Ya Tuhan! Ampuni saya jika pernah menjadi anak bandel, atau tak baik budi terhadap orangtua.....

Saya belum begini begitu...

Ya Tuhan, Saya memanjatkan doa beri kesempatan kedua orangtuaku panjang umur, kesehatan yang baik, dan masa tua bahagia. Berilah Saya kesempatan memperbaiki diri untuk menjadi anak yang lebih baik bagi kedua orangtua. Amin.

Jadi ingat : untuk meluangkan waktu lebih sering menelpon rumah Bogor, lebih penyabar, dll.

Cinta Pertama

Alam berdansa dalam langit merah jambu
Seranum pipiku kala kita bertemu
Ada sensasi berbeda ketika kau hujam mataku
Bersama lingkar jemari bertaut
Ku ta’u ini rasa pertama kali

Langit tersenyum dalam warna lembayung
Saat kita memburai benang asa dipintal bersama
Bernyanyi sambil mencabik puisi toreh di batu janji
Kisah ini kita larung dalam rindu beku yang mencair
Hingga bermuara di ujung malam

Esok masih misteri milik kita
Kita nikmati hari ini hingga raga memanggil ke peraduan
Bermimpi bulan sabit melengkungkan senyum
Sensasi pertama kita kenang dalam kotak belahan hati



Bogor, 23 Maret 2009

Catatan : puisi ini kubuat sbg balasan puisi untuk rekan baru di milis. 'mayan... temanya menggodaku untuk olah kata di sela sengkarut pikiran.

Sunday, March 22, 2009

Forgiven Not Forgotten

Seorang perempuan mendatangi toko buku. Ia menghampiri penjual yang sedang terkantuk-kantuk menunggu pembeli di tengah siang.

”Saya mau beli penghapus,” kata perempuan.

”Penghapus apa? Pensil? Bolpen? White board?” tanya si penjual.

“Saya ingin menghapus seseorang dari ingatan,” kata perempuan.

Penjual bengong. Lalu ia menggeleng. ”Saya hanya menjual penghapus pensil, tinta, atau tip-ex. Kertas label juga bisa menutup yang salah. Penghapus papan tulis. Tapi saya tak tahu ada alat untuk menghapus ingatan. Maaf Anda mungkin bisa cari di toko lain.”

Perempuan itu mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia menghampiri tempat servis komputer. ”Aku pernah dengar, memori bisa dihapus,” kata dia. ”Bisakah memori tentang seseorang kumusnahkan?” kata perempuan.

Tukang servis komputer menggeleng. ”Saya hanya bisa memformat ulang komputer. Tapi, setahuku daya simpan di otak tak bisa sengaja dihapus. Kecuali... ih amit-amit, amnesia!”

Perempuan pun mulai gundah. Setengah mengeluh Ia berkata pelan seolah pada diri sendiri. ”Kudengar waktu bisa menghapus kenangan. Tapi mengapa saya tidak lupa?”


(Gambar dikutip dari : ”Pandorasbox” by Jasonchan Picture)

21 Saran Sukses

Dari portal internal kantor, saya mengutip "21 Saran Sukses" dari H. Jackson Brown, Jr., dan mencoba menerjemahkannya secara bebas. Terasa bernas dan semoga menarik bagi rekan lain yang baca.... :

1. Nikahi orang yang tepat. Hal ini mempengaruhi 90% kebahagiaan atau kesedihan Anda.

2. Bekerja pada bidang yang Anda minati, sehingga waktu dan talenta Anda tak terbuang percuma.

3. Berikan lebih dari yang orang lain minta, dan lakukan hal tersebut dengan senang hati.

4. Jadilah orang yang paling bersemangat dan paling positif yang pernah Anda kenal.

5. Jadilah pemaaf bagi diri sendiri maupun orang lain.

6. Jadilah murah hati (dermawan)

7. Jadilah orang yang berlapang dada

8. Rajin, rajin, rajin. Alias tekun.

9. Disiplin menabung, lakuka hal ini bahkan dalam kondisi pendapatan Anda kecil sekalipun.

10. Perlakukan orang lain sebagaimana cara kamu ingin diperlakukan.

11. Komitmen pada diri sendiri untuk senantiasa melakukan peningkatan atau perbaikan diri.

12. Komitmen pada diri sendiri untuk kualitas

13. Sadari bahwa sumber kebahagiaan bukan berasal dari barang yang dimiliki, jabatan atau martabat/gengsi, tapi berbasis pada relasi dengan orang-orang yang Anda cintai dan hormati.

14. Jadilah orang yang setia (loyal)

15. Jadilah orang yang jujur

16. Berinisiatif atau self-starter

17. Jadilah orang yang tegas atau berani ambil keputusan, meski kadang keputusan itu salah.

18. Berhenti mencari kambing hitam. Bertanggung jawablah pada kehidupan Anda sendiri.

19. Berani dan teguh hati. Jika kamu menelisir kembali jejak kehidupan yang sudah kamu alami, kamu hanya menyesali apa yang tidak berani kamu (coba) lakukan, dan bukan sebaliknya menyesali apa yang sudah kamu perbuat.

20. Sayangi dan tunjukkan kasih sayang pada orang-orang yang kamu cintai.

21. Jangan melakukan sesuatu yang TIDAK membuat Ibu-mu bangga.

Wednesday, March 18, 2009

Maret 2009

Sudah bulan Maret ya?
Sudah menjalani Kuartal I pada tahun 2009....

Kemarin memotong rambutku pendek. Aku sering beralasan 'potong rambut itu tanda memulai suatu semangat baru'. Walau ga jelas sendiri, semangat baru seperti apa, tujuannya apa, atau latar belakangnya kenapa. Sebenarnya ketika kita memotong rambut, tentu kita akan tampil (sedikit) berbeda dan -berharap- menulari sel-sel otak untuk semangat.

Kuartal-I momen merefleksi hal-hal yang telah kita lakukan antara Januari sampai Maret. Mumpung belum bertumpuk jadi sejumlah hal tertunda dan terlupa (lalu menyesal mengapa diri ini kurang gigih mewujudkan rencana jadi kenyataan).

@Maret : rencana kerja; melihat kembali rencana tahun ini dan merevisi beberapa hal yang ternyata belum jadi prioritas atau karena kondisi di sekitar menyebabkan kita perlu ganti langkah; financial check-up; menyeimbangkan kehidupan antara menjadi manusia pribadi vs makhluk sosial.

@Maret : medical checkup?

@Maret : tersadar diri ini 'kutu' di bumi. Belum ada apa-apanya, ga boleh sirik sama orang lain sekaligus bersyukur pada yang sudah dimiliki, dan mencoba mengisi hidup dengan cara-cara baik.

Tuesday, March 17, 2009

Reuni

Malam ini kami bertemu
Mengenang tautan yang sama
Sepintas semua berubah
Alam telah memahat pengalaman
Asam garam menggerus rupa
Terlelap kami dalam bilangan jam
Merayakan siklus kehidupan


*terinspirasi kumpul2 di BirdCage 13 maret 09