Wednesday, March 30, 2011

Hilang Orientasi dan Hilang Kemampuan Mengatur Diri

Bukan tidak punya mimpi.

Justru saat ini sedang panik.
Sepertinya ada jalan setapak sedang kubangun, nama jalan tersebut adalah “Jalan X”.

Itu adalah jalan mencapai salah satu mimpiku yang bernama X.

Cara merealisasikan mimpi ini dengan punya niat, sedikit fokus, dan banyakan nekat.

Dan sepertinya semesta sedang mendukungku untuk membangun jalan tersebut. Namun ketika faktor eksternal, lingkungan,  atau “ini saatnya” sedang mengarah membantu diriku, justru saya yang saat ini jadi bingung.

Bingung karena diri yang lebih senang berada di zona terencana tahu-tahu menjadi manusia serba dadak dan nekat.

Tapi apabila ada yang berkata jalani dulu tanpa perlu banyak berpikir, sepertinya memang benar adanya.

Lalu kenapa saya bilang hilang orientasi? Karena setelah semesta pun mendukung, rasanya masih ada halangan. Ada ketakutan dalam diri tidak mampu menjalani.

Tarik nafas, dan berpikir: kuncinya di kemampuan kamu mengatur diri. Kalau perlu, ambil agenda dan tuliskan to do list.

Kalau sudah begitu, saya coba tuliskan apa yang saya akan lakukan untuk menyelesaikan Jalan X tersebut.

Bismillah…


(Gambar dikutip dari: www.pdwhite.com) 



Monday, March 07, 2011

DVD di Akhir Pekan

Sabtu sewaktu tanggalan merah, saya jalan-jalan ke Kelapa Gading. Melewati suatu toko CD di lantai 2 Mal Artha Gading, mata saya tertumbuk pada DVD “Resident Evil-Afterlife” yang dijual seharga Rp. 17.500.

Lumayan murah untuk harga DVD orisinil. Apalagi rasanya sayang kalau memutar bajakan drive DVD laptop. Takut kenapa-kenapa, wong mahalan laptop-nya ketimbang sekeping DVD bajakan, bukan?!

Dari tertarik membeli satu, saya malah akhirnya membeli 4 keping DVD masing-masing:  Resident Evil-Afterlife, The Painted Veil, The Imaginarium of Doctor Parnassus, dan Wimbledon.

Wimbledon bukan film yang kucari-cari selama ini, tapi justru paling kusuka diantara cakram film yang kubeli, dan cocok melepas penat di akhir pekan. Untuk posting resensi bakal kuposting di blog Ruang-Resensi, tapi ada kalimat menarik diucapkan tokoh perempuan utama di film Wimbledon. Lebih kurang begini: that’s what I like from this game. That one the winner, that one the looser. And tomorrow one of you are going to be the loser.  

Sebuah kalimat layak jadi semangat dalam beraktivitas sehari-hari…. hidup ini memang sebuah perjuangan! 

Tes Kesehatan


Jumat lalu saya melaksanakan tes kesehatan (medical check-up) di RS Carolus Jakarta Pusat sesuai rujukan kantor.

Jadwal tes sempat batal gara-gara datang bulan. Tentu tidak bisa melakukan tes urin dalam kondisi lagi menstruasi :p

Lalu kendala lain terjadi dalam mencari tabung penyimpan air kencing (urin) dan tinja (feses). Karena syarat menjalani tes kesehatan adalah membawa air seni dan feses

Sempat mencari tabung penyimpan ke beberapa toko obat dan apotik, justru menemukan tabung tersebut di Apotik Sehat yang berdekatan dengan kantor. Jenis tabung terdiri dari 2 macam, yang berbentuk pendek melebar untuk menyimpan urin, dan tabung lebih tinggi untuk menyimpan feses, kubeli dengan total Rp 8000,00.

Persiapan lain sebelum melakukan tes kesehatan adalah berpuasa semalam sebelumnya. Ada dua versi, website RS Carolus menyebutkan puasa dilakukan mulai jam 20.00 (atau jam 8 malam) tapi pemberitahuan via telepon mengatakan aku harus puasa mulai jam 10 malam. Minum air putih boleh alias diperkenankan.

Sebaiknya urin dan feses yang diambil sebagai sample diambil saat pagi hari sebelum melakukan pengetesan.

Kemudian di hari pengetesan, macam tes terdiri dari tes darah (sebelum dan sesudah makan), urine/feses, pemeriksaan badan secara umum, EKG, kemudian karena saya bermata minus jadi termasuk ke dokter spesialis mata.

Tujuan melakukan tes kesehatan secara berkala untuk mengetahui penyakit sedini mungkin, mengatasi secepat mungkin gangguan kesehatan itu, dan mencegah agar penyakit yang telah dideteksi secara dini tidak berlanjut. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?!

Ada beberapa penyakit yang bisa dideteksi melalui tes darah. Yaitu kencing manis, tekanan darah tinggi, kolesterol, asam urat, penyakit darah. Penyakit hati dan empedu (seperti hepatitis, sirosis hati, kanker hati), penyakit ginjal (infeksi, kebocoran dan gagal ginjal), dan penyakit paru (TBC, infeksi lain dan tumor).

Sumber tulisan: surya husada (link:klik disini

Tuesday, February 22, 2011

Kantuk

: deadline malam


Hanya suara jangkrik
Kelam malam
Bunyi ketak-ketik
Menari bersama kedip mata


Bau bantal menebar
Di lantai, di jendela, di meja
Hujan rintik menderas
Ketuk pintu lelap
Kepala tunduk kantuk merunduk

Friday, February 11, 2011

Weekend Tanpa Mall

Sebagai anak Bogor, jarang banget saya ke Kebun Raya Bogor (KRB). Hanya foto-foto lama menjadi bukti saya pernah ke sana dengan menggambarkan keceriaan piknik keluarga –sebuah kegiatan yang utama dilakukan pengunjung- dimana saya masih berusia pra-sekolah.  

Nah, akhirnya pada suatu akhir pekan di Februari, saya jalan-jalan ke KRB dengan temanku, Ajeng. Bukan agenda terencana, sifatnya dadakan, malah teman yang berinisiatif mengajak kami ke KRB justru tidak ikut bersama kami.

Meskipun hanya seputaran cepat, tapi saya menemukan kondisi asyik menghabiskan akhir pekan. Saya menemukan atmosfer yang berbeda dengan refreshing ke mall.

Di mall, pemandangan saya tetap dinding-dinding kokoh, kemudian lalu lalang manusia yang kadang malah memusingkan dan membuat hati mendumel. Ada yg jalannya lambat tapi ‘menguasai’ jalan karena segerombolan. Ibu-ibu mendorong stroller bayi tapi mata nyalang mengamati etalase kios, tua muda berjalan berlawanan arah tapi mata bukan tertuju ke kaki melangkah melainkan sibuk menatap layar ponsel.

Jalan-jalan ke KRB menyegarkan mata dengan dominasi warna alam. Hamparan rumput hijau, pohon-pohon dan bunga mekar membuat saya kembali coba-coba memotret (untung ga jadi artis Bollywood lari-larian di taman dan jumpalitan…).. dan ini yang termasuk penting: biaya yang dihabiskan ke KRB jauh lebih kecil ketimbang pergi ke mall!

Biaya yang saya habiskan ke KRB meliputi biaya transportasi, karcis masuk, cemilan selama didalam (beli sebelum masuk ke kebun raya…tapi ingat! Jangan buang sampah sembarangan, bawa kantung plastik untuk menyimpan sampah hingga menemukan tempat pembuangan), dan oleh-oleh kue di Suryakancana untuk orang di rumah.

Menghabiskan akhir pekan di kebun raya, membuat saya kembali ingat resolusi yang pernah kubuat dulu. Menetapkan resolusi berakhir pekan tanpa ke mall. Lokasi jalan-jalan bisa dialihkan ke kebun raya, taman, museum, menjelajah tempat menarik di Jakarta dan Bogor. Minimal kegiatan semacam perlu diagendakan 1x sebulan.

(foto: Eno Siregar) 

Cintai Profesimu

Tidak ada lagi kaus merah tertoreh nama Torres diatas nomor punggung “9”. Penyerang timnas Spanyol pada Piala Dunia tahun lalu, Fernando Torres tak lagi di Liverpool.

Torres memutuskan hengkang ke klub lain yang juga masuk dalam liga Inggris, Chelsea, dengan bandrol 50 juta pound di akhir bursa transfer Januari lalu sekaligus memecahkan rekor nilai transfer tertinggi.



Dari Anfield, angkat kopor ke Stamford Bridge. Ganti kaus merah menjadi biru.  Jika perpindahan ini terjadi di partai politik, orang pasti akan melecehkan idealisme sang kutu loncat. Meskipun si pelaku mengatakan di tempat baru dia menemukan kecocokan pemikiran, atau lingkungan yang lebih memberikan kesempatan dirinya berkembang.

Torres pun pasti dicibir oleh fans Liverpool. Tapi apa mau dikata, life must goes on, Torres mencintai kehidupannya sebagai penggocek kulit bundar. Ia pasti mencintai tempat dia bekerja (baca: klub), tapi dia lebih mencintai profesinya. Jika atmosfer baru lebih menjanjikan, mengapa tidak? 

Monday, January 31, 2011

Harga Kerja per Jam Milik Kita


Pernah mengalami belanja impulsif?

Pasti umumnya perempuan, termasuk saya, pernah mengalaminya. Godaan belanja Buy 1 Get 1, diskon atau tambahan diskon jika menggunakan metode pembayaran tertentu, biasanya menjadi sumber bocornya anggaran keuangan pribadi.

Mengutip nasehat perencana keuangan Prita G. Ghozie, jurus terhindar dari bahaya keuangan ini adalah tahu berapa Harga Kerja per jam milik kita.

Anggaplah kerja 8 jam per hari. Senin-Jumat. Artinya sekitar 160 jam sebulan bekerja, mengorbankan waktu bersama pacar, teman, atau keluarga. Coba bagi gaji setiap bulan dengan total jam kerja Anda.

Misalnya gaji kita Rp 5 juta per bulan. Maka, Harga Kerja per jam Anda adalah Rp 31.250,- Jadi, ingat angka itu baik-baik setiap kali kita mau melakukan pembelanjaan yang sifatnya impulsif.

Lalu saya memandang hasil ‘berburu’ di mal dalam suatu akhir pekan. Tiga pasang sepatu (yap! Benar! 3 pasang sepatu), sebuah tas jinjing, dan gesper. Plus majalah edisi asing dan dompet kartu. Entahlah, apakah ini hasil belanja bergaya (agak) impulsif, tapi kurasa memang semua adalah kebutuhan yang berhasil diperoleh setelah menabung sekian hasil kerja per jam. Itu berarti saya harus kembali menabung harga-harga kerja per jam.


Thursday, January 20, 2011

Tentang Blog yang Hilang dan Timbul


“Ayo, rajin mengupdate blog yuk!”

“Tulisan tentang apa?”

“Apa saja! Dari opini kamu tentang berita di media, coretan curhat, atau amati saja sekitar kamu. Bisa saja kamu ceritakan tentang suasana rumah yang berisik karena pengerjaan renovasi rumah, pilekmu yang ga sembuh-sembuh, kucing gendut kamu, atau apapun.”

“Boleh saat sedang bad mood?”

“Aghh… jangan ah, ntar emosi tinggi kamu jadi milik publik, trus nanti tulisan kamu ‘kering’ tak menarik dibaca.”

Angguk-angguk kepala. “Oh ya, kalau gitu memang saya sering bad mood yaa…”
*melipir pergi*



P.S. : inspirasi dari curchat (curhat via chatting) dengan teman tadi siang ;-)


Thursday, December 30, 2010

Tahun Baru


30.12.2010

Tulisan ini dibuat dua hari menjelang pergantian tahun dari 2010 ke 2011.
Jalur lalu lintas Jakarta terasa lebih lengang sehingga jalanan mengalir lancar hanya pada beberapa titik tersendat karena lampu merah atau persimpangan jalan.

Semalam sebelumnya menyaksikan pertandingan kedua final Piala Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) antara Indonesia vs Malaysia. Indonesia memang kalah, dan hanya keluar sebagai runner up. Tapi menyadari bahwa sepak bola memang bisa menyatukan semua umat dan membangkitkan rasa nasionalisme.

Terus hari ini saya menatap layar laptop, memantau pekerjaan yang akan menanti mulai diselesaikan pada 3 Januari mendatang. Hari pertama bekerja di 2011, dan sepertinya membuatku merasa sebenarnya tahun baru hanyalah penanda 365 hari telah berakhir dan masuk ke fase baru dari 365 hari berikutnya.

Sebenarnya apa sih arti “tahun baru”? Apakah pesta, jalanan ibukota yang lengang, atau kesempatan berlibur adalah bagian dari ritme yang dirasakan menjelang tutup tahun.

Namun saya juga beranggapan tahun baru adalah momen baik untuk Resolusi dan Semangat Baru. Titik mula Harapan Baru dan berharap akan menjalani satu tahun kedepan dengan gemilang.


(Sumber gambar : www.knox.villagesoup.com)

Monday, December 13, 2010

Status Gunung Berapi


Beberapa waktu lalu, media cetak dan elektronik ramai memberitakan tentang pengembangan status gunung berapi. Berikut pemahaman tentang status gunung berapi, supaya masyarakat tidak bingung. Ini dikutip dari sebuah milis media yang dipostingkan oleh Mas Satrio Arismunandar.

Ternyata, gunung berapi ada empat status :

1. Status normal aktif. (NOTES: normal aktif itu sebenarnya bukan peningkatan dari normal ke normal aktif. Normal aktif itu status terendah atau Level I, karena semua gunung api itu sifatnya "aktif" -- jadi normal aktif itu sebenarnya normal. Namun, meski status normal aktif, masyarakat tetap dilarang mendekati dengan radius 500 m)

2. Waspada : Level II dengan radius 1-5 kilometer

3. Siaga : Level III dengan radius 5-7 kilometer (ring I hrs mengungsi, ring II-III masih aman)

4. Awas : Level IV dengan radius lebih dari itu (ring I - III harus steril)


(Gambar dikutip dari : www.chattahbox.com)


Sunday, December 12, 2010

Nona Belanja


Nona G berdiri kukuh diatas high heels
Jinjing tas dan wangi parfum berkata "Envy Me"

Ibu Kartini pasti bangga pada dia
Wanita tangguh cari duit sendiri
Independen, cerdas dan bisa pergi sendiri
Tapi tekuk lutut depan bendera duty-free-shop

Sayup-sayup teringat ucapan tante Gandari di kedai kopi
sembari cicip pie dan kopi impor
"Tak ingin kau beranak bagai yuyu?"
Lalu Nona G senyum manis berkata,
"Dunia terlalu cepat berputar dalam satu poros waktu"

Tante Gandari angguk-angguk tanda tak mengerti

Nona G berputar dalam maskara hitam, lipstik nude,
dan sepatu tinggi beralas merah
Sibuk berkejaran dalam asap menthol dan aroma nomor 5
Kini berdiri depan gerai merek yang mahal itu
Sejenak teringat pemandian air panas dan keramik tradisional
Ingat nona-nona gendong kendi ambil air nun disana
Tapi sekejap ingatan lenyap
Tersapu deretan tas menguarkan aroma kemewahan
Rayu hati terbang menjamah satin, chifone, dan rantai emas

Candu marka kosmopolitan itu terlalu kuat, tante!

Saturday, December 11, 2010

Amsal Hujan


Dan mendung masih menggantung hari ini
menyisakan murung di relung hati

teringat kamu aku termangu di kotamu
tentang teh panas dan kisah seru
haru biru senang riang aku bagi waktu lalu

Aku tahu mengapa aku mencarimu
ada cerita tentang hujan dan senyummu


Bogor, 11 Desember 2010

(Gambar dikutip dari : www.last.fm)

Thursday, December 02, 2010

Masa Depan Penerbitan

Apakah penerbitan dan buku masih punya prospek ke depan?
Pertanyaan saya diatas berangkat dari beberapa hal.

Pertama, ketika saya pribadi divonis oleh dokter alergi debu yang gejalanya bisa sama dengan flu, salah satu cara menghindari serangan adalah tidak menempatkan lemari buku di kamar. Ah, bagaimana saya si penggemar baca sekaligus kolektor buku bisa mengatasi hal ini?

Beralih ke e-book adalah salah satu alternatif, dan seiring semakin banyaknya vendor meluncurkan PC Tablet, rasanya tawaran cara baca paperless semakin menggoda. PC Tablet ini antara lain Apple iPad, Samsung Galaxy Tab, Archos 9 dan Blackberry PlayBook.

Belum lagi varian lain seperti perangkat Amazon-Kindle atau Sony's E-Reader.

Mencetak buku menelan biaya produksi tinggi, mencakup berbagai komponen, misalnya biaya desain isi dan naskah buku, cetak cover, plate dan pengomplitan. Silahkan cek web disini adalah sumber kutipan dan tentang kalkulasi harga cetak buku.

Sedangkan dari sisi marketing, penerbitan mungkin bisa menekan biaya dengan memanfaatkan social media dan microblogging, komunitas milis, atau jaringan toko buku sebagai tempat meluncurkan buku.

Dibawah ini ada video menarik tentang masa depan penerbitan yang membuat saya tertarik menulis artikel diatas. Silahkan komentari jika ada saran-saran dari Anda.


The Future of Publishing - created by DK (UK)
DK = Dorling Kindersley

Friday, October 29, 2010

Time Management

"Apa pendapat kamu tentang Eno?"


Ini kalimat iseng kulontarkan kepada seorang sahabat. Awalnya kami berdiskusi tentang istilah di dunia media (karena dia bukan bekerja di perusahaan media) dan akhirnya kami iseng seandainya dia narasumber dan saya adalah wartawan, bakal seperti apa pertanyaan yang bakal kulontarkan.

Entah bagaimana obrolan ngalor ngidul itu ke urusan pembagian waktu. Ia menanyakan bagaimana saya membagi waktu pribadi, gara-gara setiap dia menyapa diriku selalu kujawab, “Lagi ngetik kerjaan”.

Ia jadi bertanya apakah aku tidak mampu mengelola waktu sehingga hampir selalu membawa pulang pekerjaan ke rumah? Melanjutkan mengetik di rumah? Padahal sebagai Penulis saya sudah memiliki waktu 8 jam sehari dalam 5 hari kerja dalam seminggu.

8 jam x 5 hari = 40 jam/minggu untuk bekerja.

Saya menjawab kalau lembur dilakukan demi mengejar deadline... Maklum pekerja kreatif tentu tergantung tuntutan klien yang kadang-kadang mengorder secara dadakan dan harus selesai dalam waktu cepat.

Alasan lain adalah memang kerjaannya yang banyak.. ehem..

Dengan pertimbangan banyak pekerjaan yang diselesaikan (demi duit agar tercukupi kebutuhan primer, sekunder dan tersier …hehe..), tapi juga tetap terpenuhi keperluan pribadi dan urusan keluarga, saya harus harus belajar  “time management” alias membagi waktu. Arghh! … Mungkin istilah tepatnya bukannya belajar, akan tetapi efisiensi dalam manajemen waktu  sekaligus teguh dalam menjalankan schedule tsbt.

Mengintip dari Wikipedia, Manajemen Waktu mencakup perencanaan dan delegasi. Yaitu mulai dari menetapkan rencana dan alokasi waktu, termasuk mendelegasi tugas, lalu menganalisis waktu yang harus dialokasikan, monitoring, organizing, scheduling dan memprioritaskan waktu.

Ohya, godaan di depan laptop dan kemajuan internet saat ini memancing orang untuk tidak efektif dalam memanfaatkan waktu. Cek e-mail, browsing, chatting, dan sebagainya.  Tahu-tahu waktu berlalu cepat gara-gara iseng membuka link dengan judul menarik.  

Untuk mengatasinya maka coba jalankan berikut ini :
  1. Catat setiap rencana aktivitas
  2. Tentukan prioritas
  3. Follow up dan review rencana aktivitas yang sudah kita buat sebelumnya, dan sekali-kali beri hadiah bagi diri sendiri jika rencana aktivitas berhasil kita selesaikan. Sebaliknya kita coba laksanakan kerja yang belum selesai atau analisis mengapa pekerjaan tersebut belum selesai.

Saya sudah tahu tips mengatasi problem manajemen waktu, semoga saya berhasil menjalaninya. Semoga ketika sobatku bertanya tentang saya, dia mengatakan diri ini banyak bekerja tapi masih bisa meluangkan waktu untuknya. 

Thursday, October 28, 2010

Jenuh

Saya pernah merasa beruntung karena bekerja sesuai hobi. Hobi menulis dan bekerja sebagai penulis.


Tapi ternyata bekerja menurutkan hobi pun ada jenuhnya juga. Ketika ide tak berseliweran diotak, enggan memulai kerja meskipun konsep dan bahan telah ada.

Memulai langkah pertama memang sulit. Padahal saya sadar kalau menulis dimulai dulu dengan lead pembuka dan selanjutnya artikel akan mengalir.

Saya sadar sedang dilanda kejenuhan. Cape berpikir, tak ada ide, dan ini berimbas pada kerja, menunda hingga tenggat tulisan sudah dekat. Menonton sebagai fungsi menghibur dan menghilangkan kejenuhan juga kadang tidak efektif. Karena mencerna jalan cerita film membuatku harus berpikir juga :D

Buntutnya, paling enak membuang perasaan jenuh dengan bermain game. Hati-hati keenakan main, ntar bablas waktu pun habis terbuang. Main game melepas penat harus tahu batasan dan ingat: kerja yang lebih produktif masih menunggu. 

Monday, October 11, 2010

Anarki dalam Pandangan Franz Magnis-Suseno

Kamis (23/9) saya meliput acara seminar kampus yang menghadirkan Franz Magnis-Suseno, tokoh Katolik dan budayawan Indonesia, sebagai pembicara.


Hasil liputannya bisa dibaca disini.

Tapi kesempatan bertemu Romo Magnis melontarkan pertanyaan pribadi saya tentang kondisi sosial saat ini dimana masyarakat gampang sekali marah. Ada ‘gesekan’ sedikit sudah bisa menimbulkan demo atau anarki. Apakah ini merupakan cerminan sikap apatis, dan hal ini bisa dihilangkan jika meningkatkan pendidikan bangsa dan memperbesar lapangan kerja?

Beliau membenarkan teori ini, tapi perlu pula disadari bahwa kondisi hidup modern semakin membuat manusia bersaing, dimana yang kuat akan menang. Akibatnya ‘ketika perut lapar’ maka orang gampang merasa terancam, emosi tinggi, dan marah.

Perlu pemahaman dan pendekatan agar kondisi ini tidak mengarah pada ideologi baru yang sesat.   

“Menurut saya masih terlalu banyak orang yang susah. Perlu berjuang setiap hari sehingga dengan demikian mereka dalam kehidupan pribadi juga belum bisa membuat rencana jangka panjang. Orang-orang seperti itu tidak banyak bisa memikirkan bangsa tetapi bisa bereaksi emosional,” kata Romo Magnis.

Romo Magnis mengakui seseorang yang memiliki profesi atau pekerjaan, akan bisa bersikap tenang, seimbang dan tidak marah-marah.

Suasana persaingan juga menyebabkan manusia sekarang terindividualisasi dimana hukum alam satu-satunya “persaingan” termasuk merasa terancam ketika hadir pendatang baru atau umat baru masuk. Kuncinya adalah kita harus memiliki pengetahuan dasar tentang perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat kecil. “Karena orang-orang dalam kelas ekonomi mantap, yaitu kelas menengah keatas, sebetulnya sudah merasa mantap dalam kondisi modern seperti sekarang ini. Tapi hal ini tidak berlaku bagi (masyarakat) dibawah,” ujarnya. 

Saturday, October 09, 2010

Kekuatan Doa

Berdoa menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan saat melakukan wisata religi. Peneliti banyak menjadikan doa sebagai obyek penelitian dalam pengobatan alternatif. Sebetulnya mereka bukan melihat doa dikabulkan atau tidak sebagai obyek penelitian. Melainkan efek dari melakukan doa terhadap tubuh manusia.


Dr. Elizabeth Targ pernah melakukan penelitian tentang doa pada 150 penderita HIV. Hasilnya, mereka yang rajin berdoa hidup lebih lama dibandingkan orang yang tak melakukannya. Selain itu, tingkat kekebalan tubuh mereka juga lebih tinggi. Pertumbuhan bakteri dan kuman dalam tubuh jadi melambat, padahal semua pasien mengalami pengobatan yang sama.

Ternyata berdoa membuat pemikiran seseorang menjadi lebih positif.

Sedangkan dr. Daniel J. Benor, MD, seorang psikiater asal Amerika Serikat penulis buku Spiritual Healing mengatakan, “Mungkin satu-satunya efek samping berdoa hanya rasa kecewa jika doa tidak terkabulkan. Namun pikiran Anda akan jauh lebih jernih dengan berdoa. Meski tak dikabulkan, Anda akan bisa mencari sisi positif atau hikmah mengapa doa tak terkabul.”

Sunday, August 22, 2010

Kiat-Kiat Menulis

Ada dua pendekatan dalam menulis. Pertama, seperti yang biasa diajarkan di sekolah yaitu menyiapkan dahulu kerangka tulisan sebelum menulis. Sedangkan pendekatan kedua adalah menulis saja tanpa kerangka.

Pendekatan kedua ini kita terapkan karena kita sering mengalami kesulitan untuk mengembangkan sebuah kerangka tulisan sebelum kita menulis. Bisa jadi karena kekurangan ide, atau buntu pikiran. Nah, lebih baik coba cara menuliskan apa saja yang terlintas di benak kita –tanpa mengedit- tanpa mempedulikan apakah itu konsisten atau tidak. Intinya : Tulis Saja!

Tulisan yang kita buat sebelumnya itu tentu masih kacau. Tulisan kacau itu hanya bersifat brainstorming. Dari tulisan itu kita tarik ide-ide menarik dan dihasilkan tulisan yang tentu lebih baik dibandingkan dengan yang pertama. Tulisan ini sudah lebih teratur dan jadi.

Tahapan menulis yang pertama hingga selesai, kemudian kita baca ulang disebut : Proses Penggodokan. Tulisan pertama digodok menjadi tulisan kedua, dan seterusnya sampai mencapai draft final.

Hindari untuk mengedit terlalu awal. Curahkan semua isi pikiran ke dalam tulisan. Mengedit hanya dilakukan pada hasil akhir. Mengedit terlalu awal membuat pikiran tidak dapat keluar dengan lancar karena sudah mengalami sensor internal.

Untuk menggodok tulisan menjadi lebih baik ada satu syarat yang harus diperhatikan. Tulisan yang baik bisa terjadi jika merupakan konflik/konfrontrasi/beberapa pikiran yang berlawanan. Dalam dunia jurnalistik atau membuat berita dikenal istilah cover both side atau berita berimbang dengan mengonfirmasi subyek berita dari berbagai stakeholders yang terpengaruh.

Konfrontasi ini bisa diperoleh dengan berkomunikasi dengan orang lain, membaca tulisan orang lain, atau melakukan konfrontasi sendiri dengan melihat masalah itu dari beberapa sudut pandang berbeda.



Membaca Adalah Satu Kesatuan

Membaca menjadi satu kesatuan agar bisa menulis. Penulis Ayu Utami dalam suatu diskusi penulisan berkata, “Jika kamu (mau) menulis, bacalah 7 kali buku lebih banyak.”

Hal ini bisa kita asumsikan bahwa untuk menulis satu buku = 7 referensi buku.  Atau, asumsi lain adalah kita rajin membaca buku hingga tujuh, 21, 42, 49, 77,…..dst sebelum kita berada pada tahap berani menulis atau mengungkapkan ide atau buah pikiran ke dalam bentuk tertulis.

Membaca berguna untuk menyerap pikiran seseorang, mempelajari gaya bahasa tulisan dan tata bahasa, mencari ide, dan masih banyak kegiatan positif lainnya. 

Khususnya untuk buku non fiksi, kita bisa menerapkan teknik membaca cepat (speed reading), dimana kita hanya perlu tahu framework (kerangka tulisan). Lalu utamakan membaca buku secara mendetil pada bagian sesuai yang menjadi perhatian kita, dan terakhir latihan membuat kesimpulan dari buku itu untuk menyaring argumen-argumen yang ada di buku.

Salah satu cara lancar menulis adalah memang : latihan..latihan…latihan… Setiap hari memang luangkan waktu untuk menulis. Misalkan dosen Filsafat FIB Universitas Indonesia sekaligus penulis, Donny Gahral Ardian, menyarankan agar meluangkan waktu 5 menit/hari untuk menulis.

Cara latihan yang lain adalah membuat tulisan dalam 3000 kata/hari. Saya asumsikan 3000 kata/hari adalah membuat tulisan dalam 18.892 karakter tanpa spasi dalam satu hari. Wah, bagi saya yang berprofesi sebagai Penulis Iklan ini berarti membuat tulisan untuk sebanyak lebih kurang 6 halaman majalah! Silahkan pilih mana yang lebih praktis Anda ikuti……..

Sedangkan penulis buku Fira Basuki mengatakan kiatnya dalam menulis kreatif, “Kita bisa memasukkan realitas dan khayalan (dalam menulis fiksi). Jangan stress dengan detil atau kebenaran obyek seperti menyebutkan nama toko sesuai kenyataan,” katanya. (Dewi Retno Siregar)

Riset Pew Internet tentang Blog dan Situs Jejaring Sosial



Lembaga penelitian Pew Internet (
http://www.pewinternet.org) menyebutkan bahwa remaja dan anak muda kurang menyukai blog dan lebih suka situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.


Riset yang mensurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika Serikat untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.

Hasil riset yang dilakukan pada September 2009 dan diumumkan di awal 2010 ini (dikutip dari Koran Tempo, Februari 2010) mengatakan bahwa remaja dan anak muda AS jauh lebih banyak menggunakan internet dibanding orang dewasa, yaitu sebesar 93 persen dibandingkan dengan 38 persen (orang dewasa diatas 65 tahun).

Apa saja yang responden lakukan di Internet? Pew menemukan bahwa 73 persen responden berusia 12-17 tahun remaja adalah pengguna aktif jejaring sosial, seperti Facebook, Flickr, dan YouTube. Mereka menggunggah foto, memperbaharui dan mengomentari status, dan mengirim pesan singkat melalui layanan seperti Yahoo! Messengers, AIM, dan MSN.

Yang mengejutkan, hasil riset juga menemukan remaja semakin kurang menyukai blog. Riset Pew pada 2006 menunjukkan bahwa 28 persen remaja memiliki blog, tahun ini menurun drastis menjadi hanya 14 persen. Remaja tampaknya menganggap Facebook dan media-media sosial lebih gampang untuk memperbaharui status, sehingga blog tak diperlukan lagi.

Kesimpulannya, membuat sesuatu tulisan –seperti memposting di blog- memakan lebih banyak waktu dan energi ketimbang mengubah status atau mengunggah foto di Facebook. Blog lebih bersifat membagi pengalaman dan memperkaya pengetahuan lebih dalam, ketimbang  mempublikasikan kata dalam media sosial yang hanya membutuhkan 620 karakter atau 140 karakter.

Kehidupan sosial remaja jauh lebih sempit dan tertutup sementara blog lebih merupakan tempat membagi pengalaman secara terbuka. Menurut Pew, blog-blog yang masih aktif rata-rata dimiliki oleh mereka yang berusia di atas 25 tahun. Mereka yang aktif berkicau di Twitter pun umurnya rata-rata diatas 20 tahun.

Ahaha… Saya merasa telah pada fase dimana pengalaman, kehidupan dan apa yang saya serap bisa saya bagi ke dalam blog. Saya telah punya akun di blogspot sejak 2005. Tapi persoalannya, apakah hingga kini saya masih aktif menambahkan artikel ke dalam blog?

Saya pribadi belakangan jarang memperbaharui blog dan membuat puisi. Rasanya energi dan pikiran sudah terkuras untuk pekerjaan sehari-hari, sehingga akhir pekan pun saya enggan menggunakan otak untuk menyusun huruf-huruf, membangun kata dan merajut kalimat sehingga menghasilkan suatu tulisan lepas.


Thursday, August 19, 2010

Di Sebuah Bank

Terkantuk-kantuk menahan suntuk
Menanti antrian sambil otak mengutuk
Kapan nomorku dipanggil?



Kluk..klak..kluk..klak
Hak sepatu pertugas layanan konsumen
Berdetuk ketuk lantai
Menimbulkan irama tidur di otakku...