Saturday, July 09, 2011

Semesta Mendukung ala Yohanes Surya


Ini sebuah catatan dari liputan lama. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu. Waktu itu saya mengikuti seminar anak-anak yang salah satu pembicaranya adalah Prof. Yohanes Surya, Ph.D, seorang fisikawan dan dikenal sebagai pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

Ia menceritakan pengalamannya membawa anak asuhnya untuk mengikuti kejuaraan fisika seluruh dunia, dari nothing, tiada biaya, masa persiapan singkat, hingga akhirnya torehan keberhasilan anak-anak Indonesia meraih medali untuk olimpiade tingkat dunia membuat respon positif dari berbagai pihak.

Yohanes mengenang awal keikutsertaan tim olimpiade fisika pada 1995 tanpa sponsor dan hanya punya waktu persiapan diri selama 7 bulan. Namun terus saja setiap tahun mereka ikut. Dalam kondisi serba minim, Yohanes menjadi motivator bagi diri sendiri dan anak asuhnya karena menemukan Mestakung = SeMESTA menduKUNG, yaitu hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok berada pada kondisi kritis maka semesta –dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar diri- akan mendukung diri kita untuk keluar dari kondisi kritis.

“Begitu kita menetapkan kondisi kritis, maka Mestakung terjadi,” kata Yohanes Surya.

Mestakung berhasil kalau: bekerja keras, konsisten dan fokus, dalam arti bukan sesuatu yang diperoleh secara instan.

Ada 3 hukum Mestakung yaitu, dalam setiap kondisi kritis ada jalan keluar. Ketika seorang melangkah maka dia akan melihat jalan keluar, lalu ketika seorang tekun melangkah, dia akan mengalami mestakung.

Seperti prinsip pegas dimana berada pada titik terendah lalu naik.

Kesimpulannya, apapun kondisi kritis yang kita alami, percayalah Tuhan Yang Maha Kuasa akan menciptakan Mestakung untuk membantu keluar dari kondisi kritis itu.

*Liputan ini jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” dan ternyata prinsip yang ada di buku tersebut mirip konsep motivasi ala Yohanes Surya.*

(Gambar dikutip dari: www.1wd.co)

Thursday, July 07, 2011

Rezeki

Tadi pagi adzan Subuh terdengar lamat-lamat. Angka jarum jam digital menunjukkan pukul 4 sekian, ketika badan terjaga. Mungkin dosis ngantuk yang ditimbulkan obat flu sudah mereda, atau memang badan mengirim sinyal sudah cukup masa istirahatku.

Teringat semalam ada diskusi diantara kepala pening efek flu, badan ngegereges, dan kesadaran pagi hari adalah semangat baru.

Lalu saya berdoa dalam hati :

Ya Allah,
Aku percaya Engkau telah mengatur rezeki umatNya,
bagai kerang diantara hamparan pasir.
Tinggal kita melangkah menjumputnya.
Amin..

Masa bangun pagi karena bersiap-siap ke sekolah sudah lama berlalu. Bukan lagi masa siap lahir batin untuk ulangan dari guru killer, pelajaran Fisika yang tidak saya sukai, dan janji jalan-jalan pulang sekolah.

Bangun pagi saat ini adalah hari berikutnya kita menjemput rezeki. Menikmati jalan raya ibukota yang macet, sampai di portal gedung kantor, mengembangkan senyum sapaan di pagi hari mulai dari depan pintu kantor, kepada pak satpam, office boy dan beberapa rekan yang sudah datang, lalu menhempaskan pantat ini di kursi merah di cubicle kantor.

Menyalakan laptop, membuka akun e-mail kantor dan memeriksa isi surat yang masuk. Membalas beberapa poin, menyimpan surat atau kebanyakan masuk dalam kolom ‘delete’. Buka file pekerjaan, inilah masa bekerja, diikuti jeda, tau-tau sudah magrib dan saatnya berkemas pulang.

Ritual ini menjadi rutinitas. Sudah pasti pula tidak hanya saya yang punya ritual ini. Lihat saja wajah-wajah di kemacetan sore hari. Muka lelah, bedak yang memudar, bibir yang tak berpoles lipstik meski ada sisa semburat pemulas warna bibir itu di raut muka, diantara jalur kereta api ada gadis mengenakan rok span dan kaki dibalut stoking tapi ditemani oleh sepasang sepatu flat shoes, seolah mengatakan “High-heels ku masuk garasi di bawah meja kantor.”

Eno penulis menikmati rutinitas bersama sejumlah orang lain yang kulihat, kenal selintas hingga profesi lain nun di belahan lain. Mulai dari tukang bangunan yang menjadikan tiap pagi adalah hari lain menyemen bata dan mengaduk semen. Supir bis, perawat di rumah sakit, rekan-rekan kantor, hingga pak direktur.

Rutinitas ini menyerap energi tubuh, hingga tiba-tiba datanglah usia pensiun. Dan kalimat “berezeki” memiliki arti sebagai menjadi tua bersama keluarga, dikaruniai tubuh yang masih sehat di senja usia.

Tapi rezeki esok hari adalah rangkaian persiapan hari ini. Saya pun kadang masih menjadi makhluk hari ini, masa lalu adalah hari yang berlalu, tapi sedang merancang masa depan. Setiap orang hanya manusia biasa yang mencoba yakin melangkah, walau sesekali ada rasa mundur dan takut terhadap pilihan rencana hidup. Namun pada akhirnya si anak banyak mau sedikit ambisius ini berucap bismillah sebelum ambil keputusan, tarik nafas panjang, kemudian yakin bahwa rezeki dari Tuhan sudah ada yang mengatur.

Wednesday, June 29, 2011

Nonton Film Horror

Saat ini bioskop di Indonesia memang lagi krisis film-film baru, padahal pertengahan tahun sebagai musim liburan sekolah, Hollywood meluncurkan sejumlah film bagus.

Setelah deadline, pembuatan suplemen sudah mencapai tahap final partitur, ditambah bakal tanggal merah esok harinya, semalam saya nonton “Insidious” bergenre horror. Seorang anak koma dan jiwanya mengembara tanpa tahu jalan pulang atau disebut The Further. Selama badan ‘kosong’ jiwanya berpotensi dimasuki roh/setan.


Gambar pembuka yang berhasil mengagetkan dan bikin jantung berdebar-debar. Lalu musik yang pas menambah kengerian. Namun di tengah-tengah film terasa ngos-ngosan, bertele-tele, dialog panjang lebar khas film horor Hollywood yang butuh penjelasan logika. Kemunculan pengusir setan berlatar belakang sarjana, membuat saya ingat film Ghostbuster. Namun berbeda dengan film Indonesia kebanyakan yang solusi pengusirannya dengan memanggil dukun atau ahli agama.

Jujur, mulai di tengah film saya merasa cape menontonnya. Dan punya kesimpulan, se-horor horornya film horror, masih lebih horor tanggal deadline.



Monday, June 27, 2011

Lelah

Aku bukan tak bersyukur. 
Tapi bolehkah satu kali ini berteriak, “Ya Tuhan… Aku lelah.” 

(Bogor, 27 Juni 2011 - dini hari)

Monday, June 20, 2011

Sabar

“Patience – Our real blessings often appears to us in the shapes of pain, looses, and disappointment. But let us have patience. .. We soon shall see ‘them’ in their proper figures. With lots of true.”


Kalimat diatas saya simpan di dalam memori komputer dan ketemu saat bongkar-bongkar arsip. Saya ingat kembali sumber kata-kata mutiara itu berasal dari kiriman berantai blackberry messenger dari rekan kerja.

Sumbernya anonim atau tidak tahu siapa yang mengatakannya. Hanya saja kalimat itu kuterima di saat yang tepat. Pesan diterima pada 2010 ketika Bapak saya keluar masuk rumah sakit, dan saya bisa mengatakan saat itu kesabaran kami sekeluarga sedang diuji, dan secara pribadi saya merasa pula akan arti ‘keluarga’.

Keluar masuk rumah sakit, masuk Unit Gawat Darurat, operasi dan masa pemulihan selama setahun, Alhamdullilah kini Bapak saya sehat walafiat. Dan ini membuat saya punya kesabaran yang baru. Jika Bapak saya bawel dan keras kepala, saya mengingat masa-masa kritis dan perasaan takut kehilangan saat Papa dioperasi dan masuk ICU, saat beliau sesak nafas, untuk jadi bersabar atas gaya Papa yang sudah saya pahami sejak saya lahir.

Bagi saya yang terencana, ketidakteraturan bisa jadi cobaan. Bisa berarti pemicu ledakan amarah.

Ketika ambisi menjadi terlalu ambisius.

Ketika di atas langit masih ada langit.

Ketika batal menikah.

Ketika rencana pindah rumah tidak sesuai harapan karena kondisi yang berkembang di lapangan.

Ketika keinginan terealisasi 10 tahun kemudian, kita jadi mengingat kembali poin-poin kehidupan kita mengapa tertunda hingga 1 dasawarsa. Dan menyadari memang ini saat yang tepat untuk merealisasikan, ketimbang misalkan 2, 5 atau 9 tahun lalu.

Sabar bisa memakan waktu tunggu seperkian detik, menit, jam, hari, hingga tahun.

(Kini saya menambahkan pasangan kata: niat – ulet – kesabaran – keteguhan – doa).

“Berkah seringkali hadir melalui bentuk cobaan, kehilangan dan rasa kecewa. Kita harus belajar bersabar, dan pada waktunya kita akan melihatnya dengan baik. Dalam alasan yang tepat.”

Friday, June 03, 2011

Gaya Hidup Besar Pasak Daripada Tiang

(Saya membuat tulisan ini pada 11 April 2011….tapi baru sekarang mengembangkan dan mempostingnya)


Saya bekerja di media. Tapi belakangan ini saya selalu jengah usai membaca koran, majalah, atau laman berita di internet. Saya muak dengan berita-berita yang tampil. Rasanya saya ingin menabok Gayus, Malinda Dee dan anggota DPR.

Gayus Tambunan punya gaji dan tunjangan Rp 2,4 juta, renumerasi sekitar Rp 8,2 juta, dan imbalan prestasi kerja rata-rata Rp 1,5 juta perbulan. (dikutip dari: link ini ) Cukupkah? Jika mengandalkan uang gaji plus istri yang juga bekerja untuk hidup di perumahan elit Kelapa Gading, menunggang Alphard, istri maunya rutin keluar masuk klinik kecantikan kelas A+: tentu tidak!

Tapi jelas masih banyak yang penghasilan bulanan dibawah Gayus Tambunan, punya istri, punya anak, kadang orangtua sendiri atau mertua yang masih ditanggung. 

Ibu Malinda Dee, konon mendapat gaji Rp 70 juta per bulan, belum lagi bonus yang didapat mantan Senior Relationship Manager Citibank ini bisa mencapai Rp 250 juta per tiga bulan.

Selain itu, Malinda yang telah bekerja selama 22 tahun di Citibank memperoleh sejumlah fee dari perusahaan asuransi, dari hasil investasi dan gaji komisaris di perusahaan miliknya (Majalah Tempo, 17 April 2011).  

Anggota DPR? Pembangunan gedung baru DPR senilai Rp 1,164 triliun. Atau yang sedang heboh sejak Jumat pekan lalu, anggota DPR bernama Arifinto yang kedapatan dipotret fotografer media sedang asyik menonton video porno. Kejadiannya saat sedang sidang paripurna dan menyaksikan video tersebut dari layar iPad. Wuih saya hanya pakai laptop murah cicilan 70 : 30 dari kantor,  tapi rasanya saya bisa unjuk gigi kalau lebih memaksimalkan pemanfaatan gadget dalam bekerja ketimbang pak Arifinto yang iseng lihat video bokep melalui komputer tablet yang canggih, mahal, dan dibeli dari gaji (yang berasal dari uang rakyat).

Mama saya berpesan, “Hidup jangan selalu melihat ke atas. Bersyukurlah,” tapi saya yakin bersyukur juga harus diimbangi tidak berpuas diri supaya kemarin adalah masa lalu, sekarang lebih baik daripada kemarin, dan masa depan harus lebih bagus.  

Tapi saya cuma merasa muak dengan ketimpangan. Ketika kita masih merasa kurang secara nyata, ada orang lain yang justru berlebih dan masih mengatakan kurang. 

Dari sisi materi memang hidup di Jakarta tidak gampang. Pakar ekonomi cuap-cuap tentang perbaikan ekonomi Indonesia dan tingkat GDP, inflasi yang masih membayangi produk pangan, rupiah yang stabil, bla..bla… Tapi inflasi itu dalam kacamata saya adalah beberapa tahun lalu saya cukup mengeluarkan Rp 50 ribu untuk belanja bulanan yang terdiri dari produk sabun mandi, pasta gigi, pembersih muka, pembalut wanita, tisu saku, menu sarapan pagi dan cemilan… lalu dari tahun ke tahun dengan masih di kebutuhan yang sama tapi saya harus merogoh kocek lebih dalam –menjadi Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, …. -  ini semua untuk kebutuhan primer dan sekunder di perlengkapan rumah tangga.
 
Katanya siasat bisa dilakukan dengan : memperbesar penghasilan atau memperkecil pengeluaran.

Cara memperbesar penghasilan: melakukan aktivitas yang bisa meningkatkan pendapatan.

Cara memperkecil pengeluaran antara lain dengan mensubstitusi produk yang biasa  Anda beli dengan benda lain yang fungsinya sejenis tapi harganya lebih murah.

Tinggal pilih cara mana yang paling efektif dilaksanakan, lalu tentukan kembali gaya hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Selama masih masih banyak mau, maka kebutuhan vs keinginan selalu bersaing di dalam pikiran. 

(Gambar dikutip: www.gamingangels.com ; dan www.foundshit.com)


Find Your Mojo

Find your “mojo” atau “jimat” jadikan semacam “lucky charm” atau penyemangat ketika kamu merasa bosan, jenuh atau sedang menghadapi masalah di tempat kerja (atau dimanapun kamu berada).  
 
Mendapatkan jimat ini tidak perlu ke dukun. Jimat ini bisa berupa foto keluarga, kado favorit dari seseorang anda sayangi, atau apa saja yang membuat Anda berarti dan mengingatkan akan cinta yang Anda miliki dalam hidup.

Love is all around and surrounding me.

Ia seolah menemani kita dan memberi kekuatan ketika kita sedang menghadapi masalah. Dan tiba-tiba saya melirik sebuah bandulan kalung berinisial huruf “R” di meja kerja saya. Ini pemberian dari keponakan saya, Rani, kepada tantenya yang bernama Retno. 

It’s my lucky charm since right now ;-)

Ambisi, Perubahan, dan Konsekuensi

Apa yang salah jika kamu punya “ambisi” atau “ambisius”?

Beda tipis atau lain dengan “mewujudkan mimpi”?


Kurasa hanya masalah setiap mimpi itu ada jumlahnya. Ada yang sedikit, sedang atau banyak.

Ketika dalam mewujudkan keinginan membawa konsekuensi-konsekuensi, tiba-tiba ada ketakutan bahwa saya akan menghadapi perubahan, yaitu: kehilangan zona nyaman, serta mengatasi perasaan-perasaan takut yang menyertai.

Saya sedang mencoba menenangkan diri. Jika saat ini saya menyendiri, bukan berarti tidak membutuhkan sahabat atau saya berubah. Hanya saya butuh pemikiran matang, kesiapan mental dan siap dengan konsekuensi yang harus kuambil.

#Perubahan; Perbedaan 

Sunday, May 22, 2011

22.05.2011

Hari ini saya bersyukur kepada Allah SWT.

Merasa beruntung dengan kehidupan yang saya jalani, sekaligus membenarkan bahwa setiap ada cobaan pasti ada penyelesaian.

Saya coba membongkar diary lama, dan ternyata hampir semua wish list, target atau impian besar saya terealisasi. Mimpi itu terwujud dengan cara dan jangka waktu yang punya ceritanya masing-masing. 

Pembelajaran yang saya petik adalah : berani bermimpi dan jangan pernah pesimis

Don’t you ever underestimate your power!

*Siap-siap membuat wish list baru*

Tuesday, May 10, 2011

Buku dan Julukan Bu Guru

Setelah renovasi rumah dan kamar berjalan lebih kurang 4 bulan, awal Mei lalu saya mulai “mengisi kamar”.

Pusat kebahagiaan baru saya di kamar itu adalah sebuah lemari buku berdiri manis di salah satu sudut kamar. Lemari buku ini barang lama milik mamaku kemudian dibetulkan dan dipernis oleh tukang kayu. Semula lemari kayu itu agak terkelupas, warna kayu yang redup dan tidak berpintu. Saya minta agar dipasangkan pintu kaca di lemari tersebut untuk meminimalkan penumpukan debu diatas permukaan buku-buku, karena saya alergi debu.

Kemudian permintaan saya yang lain kepada tukang kayu agar dipasangkan kunci pada pintu-pintu tersebut.

Saya menjadikan koleksi buku sebagai milik berharga. Daripada buku atau majalah berpindah ke tangan-tangan peminjam yang lupa mengembalikan, karena kamar jarang saya tempati, lebih baik lemari buku itu dikunci.

Sebelum punya lemari buku pribadi, koleksi hanya tersimpan di rak-rak kecil atau disimpan di dalam kardus. Minggu kemarin, dibantu beberapa asisten, kardus-kardus itu dimasukkan ke dalam kamar supaya saya gampang membuka dan menyusun isinya ke dalam lemari di waktu luang nanti.

Mang Sugi, salah seorang asisten, berceletuk, “Isi kardus ini semuanya buku, mbak?

“Ya,” jawabku.

“Dibaca semua mbak?”

“Iya,” jawabku lagi.

“Hebat. Bisa jadi Bu Guru. Kalau saya jadi guru, buku-buku ini pasti saya jual,” katanya.

LOL….kontan saya tertawa spontan mendengar celetukannya. Mungkin maksudnya, buku identik sebagai sumber ilmu. Guru pun sebagai sumber ilmu, biasanya punya banyak buku dan bahan referensi agar menjadi orang yang lebih pintar daripada murid.

Amin…amin.. kalau buku-buku yang banyak itu menjadikan benak saya berisi informasi dan pengetahuan. Tapi buku-buku kumiliki untuk dijual alias diloakkan?? Hmmm… saya masih susah melakukannya.  

Tuesday, May 03, 2011

Puisiku Dimuat Lagi

April 2011 bisa jadi bulan super sibuk bagi diriku. Jumlah pekerjaan yang harus kuselesaikan, plus rencana izin dan cuti hingga di minggu terakhir April, saya berlibur ke Medan – Pematang Siantar.
Yap. Nama saya yang paduan Jawa-dan marga Batak membuktikan dalam darah ini ada kombinasi suku di Indonesia, serta punya beberapa pilihan mudik.


Dan ketika saya mulai ngantor per 2 Mei, tahu-tahu mendapat kabar dari mas Yo untuk mencek website Perempuan.com.


Hura! Puisi-puisiku dimuat. Kalau mencek tanggal coretan puisi dan tanggal posting, pembaca bisa memperkirakan berapa lama rentang waktu akhirnya puisiku dimuat. Jujur saja, saya sempat capek ‘mengintip’ website untuk memantau posting terbaru puisi, sudah merasa yakin tidak dimuat karena kualitas karya para pemuisi sebelumnya sangat diatas diri ini, dan kebetulan selama bulan lalu memang pekerjaan utama menulis menyita waktu dan pikiranku hehehehe…


Kemudian, maaf, jika judul tulisan ini sedikit narsis, saya pribadi masih belum punya jam terbang tinggi. Meskipun hingga saat ini media yang memuat masih bisa dihitung dengan lima jari tangan. Tapi tentu ada kebahagiaan tersendiri ketika karya puisi lagi-lagi dimuat.  ^_^

Berikut karya puisiku yang dimuat dan link puisiku di website: disini


Tato – 1
Lengking Motley Crue Dr Feelgood
Hitam kelam The Girl with the Dragon Tattoo
Naga terbang menari bersama keluwung
Bikin aku ngidam tato malam malam

****


Tato – 2
Hari ini
Kau cium tato di punggungku
rajah ular memilin hati
pagut bibir kita bertaut
menjalin bak akar sulur

Jakarta, 18-11-2010
****


Bosan
Aku (pernah) menanti kamu menjemput hatiku
Mengayam hari memburai waktu menunggu
Hingga hati ini beku terpahat kisah sambil lalu

Bogor, 16 Mei 2010
****


Cerita Pagi
Wajah-wajah beku
Sibuk bergegas
Tinggalkan sarang
Memetik hari

Debu knalpot
Deru mesin
Bensin campur setengah isi
Menu pagi

Kaki-kaki kuda besi
Berderap hentakkan mata lengket
Lekas beranjak sebelum tenggat
Namun jalan susah beranjak
Usia pun tergerus di aspal kelabu



Jakarta, awal Desember 2010

****


Jatuh Cinta Lagi
Ini cerita kita
Saat hangat genggam tangan menyatakan rasa
tanpa kata cuma mata menjawab degup di dada

Ini sebuah kisah usang
Hanya selalu tercecap baru
Sejak senyum tautan rembulanmu menjemputku
Dan mata kilau pekat menyiramku dengan pagi

Ini kisah sederhana
Janji kita hanya “kamu dan aku”



Jakarta, 24 Juli 2010


****


Penggal Kisah


Ada sebuah kisah
Kita jemput dalam satu masa
Mengajak kita menulis cerita di buku jiwa
Tentang pelangi, bintang dan bulan.

Pada pelangi kita bentangkan layar cinta
Gantungkan asa di kemilau bintang
Menjalin kisah romansa di ujung senja.

Kini pada bening mata saling memandang
Bertanya dimana bara itu ada menyala
Kita jatuh cinta semusim kemarin
Bergulir jadi kisah selewat angin.


Thursday, April 07, 2011

Paraeidolia - Apa yang Kamu Tangkap Apa yg Kamu Pikir




Paraeidolia, yaitu sebuah fenomena psikologis saat mengamati suatu objek yang bentuknya samar-samar atau acak, seperti melihat bentuk binatang pada awan atau wajah sosok religius pada makanan.


(Gambar: dikutip dari http://www.weatherreport.com)

Surat Balasan Sumini buat Jabrix

bagooosss.....
kau eja aku si...  S.u.m.i.n.i
bukan Sarinem
karena nama itu
milik topeng monyet hendak ke pasar

Aku masih ingat ingin meronce kalungmu
bukan bandul lonceng tanda cinta majikanmu
pelukku ditisik dari daun dan ranting
dari taman kita bermain bersama
tempat sesekali kita membuang p*p
dan tempat kita pertama bertemu pandang
saat bulu rambutmu masih berbau sampah
saat nona Dewi belum mengambilmu
dan berbagi cium dengan aku ...


thanks kepada mas Khamid Istakhori untuk puisi : “Buat si Jabrix dari Sumini” yang menginspirasi aku membuat balasan surat  :)

(Gambar: foto si Jabrix, kucingku yg menjadi obyek puisi) 

Wednesday, March 30, 2011

Hilang Orientasi dan Hilang Kemampuan Mengatur Diri

Bukan tidak punya mimpi.

Justru saat ini sedang panik.
Sepertinya ada jalan setapak sedang kubangun, nama jalan tersebut adalah “Jalan X”.

Itu adalah jalan mencapai salah satu mimpiku yang bernama X.

Cara merealisasikan mimpi ini dengan punya niat, sedikit fokus, dan banyakan nekat.

Dan sepertinya semesta sedang mendukungku untuk membangun jalan tersebut. Namun ketika faktor eksternal, lingkungan,  atau “ini saatnya” sedang mengarah membantu diriku, justru saya yang saat ini jadi bingung.

Bingung karena diri yang lebih senang berada di zona terencana tahu-tahu menjadi manusia serba dadak dan nekat.

Tapi apabila ada yang berkata jalani dulu tanpa perlu banyak berpikir, sepertinya memang benar adanya.

Lalu kenapa saya bilang hilang orientasi? Karena setelah semesta pun mendukung, rasanya masih ada halangan. Ada ketakutan dalam diri tidak mampu menjalani.

Tarik nafas, dan berpikir: kuncinya di kemampuan kamu mengatur diri. Kalau perlu, ambil agenda dan tuliskan to do list.

Kalau sudah begitu, saya coba tuliskan apa yang saya akan lakukan untuk menyelesaikan Jalan X tersebut.

Bismillah…


(Gambar dikutip dari: www.pdwhite.com) 



Monday, March 07, 2011

DVD di Akhir Pekan

Sabtu sewaktu tanggalan merah, saya jalan-jalan ke Kelapa Gading. Melewati suatu toko CD di lantai 2 Mal Artha Gading, mata saya tertumbuk pada DVD “Resident Evil-Afterlife” yang dijual seharga Rp. 17.500.

Lumayan murah untuk harga DVD orisinil. Apalagi rasanya sayang kalau memutar bajakan drive DVD laptop. Takut kenapa-kenapa, wong mahalan laptop-nya ketimbang sekeping DVD bajakan, bukan?!

Dari tertarik membeli satu, saya malah akhirnya membeli 4 keping DVD masing-masing:  Resident Evil-Afterlife, The Painted Veil, The Imaginarium of Doctor Parnassus, dan Wimbledon.

Wimbledon bukan film yang kucari-cari selama ini, tapi justru paling kusuka diantara cakram film yang kubeli, dan cocok melepas penat di akhir pekan. Untuk posting resensi bakal kuposting di blog Ruang-Resensi, tapi ada kalimat menarik diucapkan tokoh perempuan utama di film Wimbledon. Lebih kurang begini: that’s what I like from this game. That one the winner, that one the looser. And tomorrow one of you are going to be the loser.  

Sebuah kalimat layak jadi semangat dalam beraktivitas sehari-hari…. hidup ini memang sebuah perjuangan! 

Tes Kesehatan


Jumat lalu saya melaksanakan tes kesehatan (medical check-up) di RS Carolus Jakarta Pusat sesuai rujukan kantor.

Jadwal tes sempat batal gara-gara datang bulan. Tentu tidak bisa melakukan tes urin dalam kondisi lagi menstruasi :p

Lalu kendala lain terjadi dalam mencari tabung penyimpan air kencing (urin) dan tinja (feses). Karena syarat menjalani tes kesehatan adalah membawa air seni dan feses

Sempat mencari tabung penyimpan ke beberapa toko obat dan apotik, justru menemukan tabung tersebut di Apotik Sehat yang berdekatan dengan kantor. Jenis tabung terdiri dari 2 macam, yang berbentuk pendek melebar untuk menyimpan urin, dan tabung lebih tinggi untuk menyimpan feses, kubeli dengan total Rp 8000,00.

Persiapan lain sebelum melakukan tes kesehatan adalah berpuasa semalam sebelumnya. Ada dua versi, website RS Carolus menyebutkan puasa dilakukan mulai jam 20.00 (atau jam 8 malam) tapi pemberitahuan via telepon mengatakan aku harus puasa mulai jam 10 malam. Minum air putih boleh alias diperkenankan.

Sebaiknya urin dan feses yang diambil sebagai sample diambil saat pagi hari sebelum melakukan pengetesan.

Kemudian di hari pengetesan, macam tes terdiri dari tes darah (sebelum dan sesudah makan), urine/feses, pemeriksaan badan secara umum, EKG, kemudian karena saya bermata minus jadi termasuk ke dokter spesialis mata.

Tujuan melakukan tes kesehatan secara berkala untuk mengetahui penyakit sedini mungkin, mengatasi secepat mungkin gangguan kesehatan itu, dan mencegah agar penyakit yang telah dideteksi secara dini tidak berlanjut. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?!

Ada beberapa penyakit yang bisa dideteksi melalui tes darah. Yaitu kencing manis, tekanan darah tinggi, kolesterol, asam urat, penyakit darah. Penyakit hati dan empedu (seperti hepatitis, sirosis hati, kanker hati), penyakit ginjal (infeksi, kebocoran dan gagal ginjal), dan penyakit paru (TBC, infeksi lain dan tumor).

Sumber tulisan: surya husada (link:klik disini

Tuesday, February 22, 2011

Kantuk

: deadline malam


Hanya suara jangkrik
Kelam malam
Bunyi ketak-ketik
Menari bersama kedip mata


Bau bantal menebar
Di lantai, di jendela, di meja
Hujan rintik menderas
Ketuk pintu lelap
Kepala tunduk kantuk merunduk

Friday, February 11, 2011

Weekend Tanpa Mall

Sebagai anak Bogor, jarang banget saya ke Kebun Raya Bogor (KRB). Hanya foto-foto lama menjadi bukti saya pernah ke sana dengan menggambarkan keceriaan piknik keluarga –sebuah kegiatan yang utama dilakukan pengunjung- dimana saya masih berusia pra-sekolah.  

Nah, akhirnya pada suatu akhir pekan di Februari, saya jalan-jalan ke KRB dengan temanku, Ajeng. Bukan agenda terencana, sifatnya dadakan, malah teman yang berinisiatif mengajak kami ke KRB justru tidak ikut bersama kami.

Meskipun hanya seputaran cepat, tapi saya menemukan kondisi asyik menghabiskan akhir pekan. Saya menemukan atmosfer yang berbeda dengan refreshing ke mall.

Di mall, pemandangan saya tetap dinding-dinding kokoh, kemudian lalu lalang manusia yang kadang malah memusingkan dan membuat hati mendumel. Ada yg jalannya lambat tapi ‘menguasai’ jalan karena segerombolan. Ibu-ibu mendorong stroller bayi tapi mata nyalang mengamati etalase kios, tua muda berjalan berlawanan arah tapi mata bukan tertuju ke kaki melangkah melainkan sibuk menatap layar ponsel.

Jalan-jalan ke KRB menyegarkan mata dengan dominasi warna alam. Hamparan rumput hijau, pohon-pohon dan bunga mekar membuat saya kembali coba-coba memotret (untung ga jadi artis Bollywood lari-larian di taman dan jumpalitan…).. dan ini yang termasuk penting: biaya yang dihabiskan ke KRB jauh lebih kecil ketimbang pergi ke mall!

Biaya yang saya habiskan ke KRB meliputi biaya transportasi, karcis masuk, cemilan selama didalam (beli sebelum masuk ke kebun raya…tapi ingat! Jangan buang sampah sembarangan, bawa kantung plastik untuk menyimpan sampah hingga menemukan tempat pembuangan), dan oleh-oleh kue di Suryakancana untuk orang di rumah.

Menghabiskan akhir pekan di kebun raya, membuat saya kembali ingat resolusi yang pernah kubuat dulu. Menetapkan resolusi berakhir pekan tanpa ke mall. Lokasi jalan-jalan bisa dialihkan ke kebun raya, taman, museum, menjelajah tempat menarik di Jakarta dan Bogor. Minimal kegiatan semacam perlu diagendakan 1x sebulan.

(foto: Eno Siregar) 

Cintai Profesimu

Tidak ada lagi kaus merah tertoreh nama Torres diatas nomor punggung “9”. Penyerang timnas Spanyol pada Piala Dunia tahun lalu, Fernando Torres tak lagi di Liverpool.

Torres memutuskan hengkang ke klub lain yang juga masuk dalam liga Inggris, Chelsea, dengan bandrol 50 juta pound di akhir bursa transfer Januari lalu sekaligus memecahkan rekor nilai transfer tertinggi.



Dari Anfield, angkat kopor ke Stamford Bridge. Ganti kaus merah menjadi biru.  Jika perpindahan ini terjadi di partai politik, orang pasti akan melecehkan idealisme sang kutu loncat. Meskipun si pelaku mengatakan di tempat baru dia menemukan kecocokan pemikiran, atau lingkungan yang lebih memberikan kesempatan dirinya berkembang.

Torres pun pasti dicibir oleh fans Liverpool. Tapi apa mau dikata, life must goes on, Torres mencintai kehidupannya sebagai penggocek kulit bundar. Ia pasti mencintai tempat dia bekerja (baca: klub), tapi dia lebih mencintai profesinya. Jika atmosfer baru lebih menjanjikan, mengapa tidak? 

Monday, January 31, 2011

Harga Kerja per Jam Milik Kita


Pernah mengalami belanja impulsif?

Pasti umumnya perempuan, termasuk saya, pernah mengalaminya. Godaan belanja Buy 1 Get 1, diskon atau tambahan diskon jika menggunakan metode pembayaran tertentu, biasanya menjadi sumber bocornya anggaran keuangan pribadi.

Mengutip nasehat perencana keuangan Prita G. Ghozie, jurus terhindar dari bahaya keuangan ini adalah tahu berapa Harga Kerja per jam milik kita.

Anggaplah kerja 8 jam per hari. Senin-Jumat. Artinya sekitar 160 jam sebulan bekerja, mengorbankan waktu bersama pacar, teman, atau keluarga. Coba bagi gaji setiap bulan dengan total jam kerja Anda.

Misalnya gaji kita Rp 5 juta per bulan. Maka, Harga Kerja per jam Anda adalah Rp 31.250,- Jadi, ingat angka itu baik-baik setiap kali kita mau melakukan pembelanjaan yang sifatnya impulsif.

Lalu saya memandang hasil ‘berburu’ di mal dalam suatu akhir pekan. Tiga pasang sepatu (yap! Benar! 3 pasang sepatu), sebuah tas jinjing, dan gesper. Plus majalah edisi asing dan dompet kartu. Entahlah, apakah ini hasil belanja bergaya (agak) impulsif, tapi kurasa memang semua adalah kebutuhan yang berhasil diperoleh setelah menabung sekian hasil kerja per jam. Itu berarti saya harus kembali menabung harga-harga kerja per jam.