Saturday, October 03, 2015

Rumah Tempat Pulang


Berawal dari "Hai"
Berlanjut ke jutaan hari yang selalu terselip kalimat "Hai, sedang apa?"
Hanya tiga kata tidak pernah terucap
Tiga kata yang selalu tak pernah kita katakan 
Cuma selalu ada tentang kamu di hidup saya
Demikian pula ada saya di bagian hidup kamu

Terselip pula kisah The Other Guy/Girl di perjalanan hidup kita
Kita bukan selingkuh. Kita toh bukan berada di pernyataan tiga kata
Dan saya selalu bebas mengetuk pintu kamu ketika menangis 
Ketika butuh dekap maka lenganmu selalu hangat merengkuh
Selalu...lebih hangat merangkul daripada dia yang lain

Lalu hari ini saya hendak melangkahkan kaki keluar pintu
Biasanya membiarkan kamu di belakang. Cuma kali ini terasa berbeda 

Berawal dari "Hai"
dan berlanjut sebuah tanya "Maukah kamu tiap hari menjadi pembuka hariku?" 
Entah mengapa.. lirih bibir mengucap, "Ya, saya bersedia. Kamu adalah rumah tempatku pulang" 

** Bruce Springsteen - Secret Garden



Monday, January 12, 2015

Senin Pagi di Januari 2015

Senin pagi di pekan ketiga di 2015. Cuaca hari itu menyapa Jakarta dengan derai hujan yang mungkin membuat sebagian orang masih terbayang bergelung di kasur saat akhir pekan, sebagian lagi mempercepat langkah bergegas beraktivitas sebelum hujan semakin besar, sementara saya berada tidak diantara keduanya.

Pagi ini saya telah duduk manis di meja kerja, sambil menatap layar monitor. Kali ini pendingin udara cukup bersahabat dengan kulit yang rentan dingin, sementara mata dan otak pun sudah siaga konsentrasi. Biasanya saya senang menyimak suara hujan samar terdengar saat butir-butir air menyentuh atap, daun jendela, atau menghantam permukaan tanah. Tapi ini bukan yang saya nikmati pagi ini. Suasana hati pun tidak semendung langit kelabu di pertengahan Januari ini.

Ada sejumlah pekerjaan rencana kukerjakan saat ini, sembari menyumpal telinga dengan alunan musik, dan sesekali membiarkan pikiran menerawang tentang Dia. Ahay! Rasanya lama saya tidak menyebut tentang seseorang yang kusematkan panggilan "Lelaki beraroma kretek", "Pria Utara", atau apapun asalkan bukan inisial. Karena abjad terasa tak spesial bagi seorang yang teramat istimewa.

Kusebut saja "Dia" memang saat ini belum kutemukan julukan yang tepat.
Kulampirkan kata “memang” karena sedang kusemat doa suatu hari menjadi Kejadian.
Dia yang derai tawanya membuatku terpana di suatu sore jelang malam.
Dia yang biasa menjadi terasa Tak Biasa.
Suatu malam pasca pulang kerja di suatu tempat nongkrong chit chat tanpa teman kopi.
Menjadi tidak biasa karena tidak kupilih kopi. Dan diapun tidak memilih kopi, melainkan air jeruk.
Ah! sejak mula kami memintal cerita perkenalan dengan tidak biasa. Selanjutnya juga ada percikan-percikan yang berbeda dari caranya dia menemani diri ini dalam berkisah.

Aha! Aku jadi ingin menjulukinya pria "Orange Juice". Seperti nama minuman yang dia pilih, dan sedang kugandrungi kejutan-kejutan bak “janji umumnya buah jeruk”.

Ternyata yang tidak biasa itu bisa membawa bahagia. Seperti kilau bintang berbinar di tengah gulita, indah dan berguna bukan?!

Sepertinya, Dia mewakili sisi manusia baru dalam diri ini.
Ketika saya saat ini menjadi Pecinta Pagi.
Ketika kawan menyebut aku "dewasa" di usia yang tak muda. 
Ketika bukan lagi meledak-ledak bak kompor bledug.
Ketika saya yakin bukan si pasangan labil serta ego-sentris.
Ketika kompromi ternyata lebih menarik ketimbang hitam-putih. 

Cerita ini masih terlalu pagi untuk kuceritakan.
Tapi pagi ini membuat saya ingin menulis blog dan mengupas kisah meskipun hanya selembar tulisan dangkal :)
Pagi ini kutandai sebagai suatu awal tahun baru yang masih penuh pengharapan.

Monday, October 20, 2014

Miskomunikasi Kata


Suatu Minggu siang di halte Transjakarta Salemba UI.  Saat itu tengah hari bolong di suatu musim panas. Suasana di dalam halte relatif sepi, hanya ada dua orang petugas karcis di dalam loket, beberapa penjaga plang pintu dan nyaris tidak ada penumpang lain sedang menunggu TransJakarta.

Saya bertanya ke salah seorang bapak penjaga palang  pintu.

“Pak, ada yang ke Atrium Senen?”

“Ada. Nanti naik aja bis yang abu-abu panjang.”

Oke. Saya pun masuk setelah kartu e-money berhasil diproses di mesin pembaca kartu. Menanti tidak pasti memang bikin resah. Saya pun tidak sabar setiap kali ada busway abu-abu berhenti. Sebagai bukan pengguna rutin moda bus khas ibukota ini, tapi definisi “yang panjang” tidak tergambar jelas di benak ini.

Setiap TransJakarta berhenti di halte, saya akan bertanya ke kondektur bus yang biasanya akan berdiri di samping pintu bus TransJakarta saat pintunya terbuka. Dan jawabannya cuma pendek, “Bukan.”

Sudah dua bus abu-abu berlalu dan bukan “si panjang”. Lalu dua remaja putri yang berpenampilan meyakinkan, definisi ‘meyakinkan’ bagi saya: sepertinya sudah pakar dengan moda transportasi TransJakarta.

“Mbak, kalau yang ke Atrium Senen yang mana ya?”

“Oh yang bus-nya cakep, mbak”

(melongo)... Ini rasanya makin blunder, batinku.

Akhirnya, TransJakarta merah-kuning (yang belakangan saya ketahui menuju Gunung Sahari-Mangga Dua) lewat, dan ketika saya mengajukan pertanyaan sama, mbak petugas pintu di dalam busway menarik saya dan mengatakan nanti turun saja di Halte Senen untuk kemudian berganti dengan yang ke arah Atrium Senen.

Dan....akhirnya setelah turun di Halte Senen Sentral, saya pun mengerti yang dimaksud ‘si abu-abu panjang’ adalah TransJakarta berwarna  abu-abu berbentuk bus gandeng.


*tepok jidat* Hadeh, ternyata miskomunikasi kata nih.. akibat asumsi dan pemahaman yang tidak berada dalam satu jalur yang sama :D 

Thursday, August 21, 2014

Tentang Waktu

Seandainya ini momen tepat
Ketika diri siap dihampiri

waktu akan memberi kesempatan kita bertemu 

Seperti dikatakan sahabat
Semua tentang waktu yang tepat
hanya perlu memintal renjana hingga membentang cita

Seandainya ini kesempatan yang menghampiri
lengan siap membentang rengkuh
mengalirkan cerita yang siap kita pilin

Jakarta, 21 Agustus 2014

Friday, August 15, 2014

LDR

Jatuh cinta ini masih untuk kamu
Kamu yang selalu dan selalu inspirasi larik puisiku

Hanya jauh dan sangat jauh berani memandangmu
Jatuh dan jatuh cinta dari sebuah tatap dan harap
Merangkai sebait cerita sambil menganyam asa  

Jika dan jika masih bisa aku menulis puisi
Inspirasi ini dari keping merah jambu kusimpan untuk kamu



#CeritaKamis


Thursday, August 14, 2014

Hari-Hari Penuh Warna

Hampir seminggu ini hariku penuh warna. Paling tidak, sejak Senin hingga Kamis malam ini ada cerita yang kuingin share di blog ini.

Senin dimulai dengan bangun kesiangan! Ouch! The d*mn thing-nya karena hari itu aku sebenarnya harus mempresentasikan sebuah materi yang kubuat semalam suntuk selama weekend L

Rasanya jleb..jleb. ingin memaki tapi yang perlu kutampol adalah diri sendiri. Membuat presentasi dalam bentuk powerpoint –jujur- memang jadi ‘masalah’ tersendiri bagiku yang biasa bermain di area kata, kalimat dan alinea.  Karena ga bisa, ga biasa, serta cari akal, misalkan dibantu teman (ssst!) jadi merasa bagai kancil cerdik yang selama ini berhasil keluar dari masalah pembuatan laporan presentasi.

Tapi entah mengapa sepertinya semesta mendukungku untuk saatnya bermain di bahasa gambar (baca: slide presentasi) dengan berada di pekerjaan sekarang.

Dan kali ini saya berusaha maksimal, termasuk dengan melakukan riset, mengutak-atik bahasa dan bermain template,  tapi kaboom! Berakhir sebagai ironi karena di hari-H justru saya kesiangan bangun.

Selasa? Ada obrolan kecil di sore hari dilanjutkan dengan melepas endorfin di lapangan tenis. Obrolan kecil terkesan chit chat, hanya saja ada cerita menggantung yang membuatku jadi berpikir ulang mungkin selama ini aku melihat suatu hal cuma 180 derajat, jadi perlu mengaji ulang dan mencoba melebarkan sudut pandang. Mungkin cerita ketok-ketok logikaku itu yang mempengaruhi mood malam itu di lapangan tenis sehingga semangat latihan tanding ganda dan serve-ku di lapangan dikomentarin pelatih terlihat lebih baik.
  
Berlanjut di hari Rabu ada janji temu, satu pertemuan memang terencana, namun malam hari ada pertemuan mendadak. Tapi dari hasil bertemu ada inspiring idea untuk pekerjaanku. Ohya biar cerita inspirasi ini jadi tulisan blog tersendiri atau lebih baik aku coba praktekkan dulu J

Kamis? Yah galau-galau kecil yang selalu terjadi di diri ini. Nope! tak akan kulanjutkan ceritanya di dalam tulisan ini *wink*


Hmm....apa membaca tulisanku tidak terasa warna-warni? Di benakku ada semburat pelangi dalam cerita kehidupanku seminggu ini. Tapi memampatkan dalam tarian jemari di keyboard mungkin saat ini terasa susah buat si blogger malas update. *tunggu tulisan-tulisanku yang lain*

Saturday, May 03, 2014

See-Do-Get: Menjadi Manusia Produktif Luar Biasa


Hosh... hosh...
hosh...

Hihihi...itu suara nafas saya saat menaiki tangga darurat apartemen. Bukan! Bukan karena lift apartemen under maintenance (yang memang kadang terjadi) sehingga menapaki tangga hingga mencapai ke lantai unit kita berdomisili, terasa lebih cepat ketimbang menanti giliran menjadi pemakai lift.

Tapi awal pekan ini saya menjalani dua training dari Dunamis yang berjudul The 5 Choices to Extraordinary Productivity. Kalau aku coba berbagi kepada pembaca blogger tentang kesimpulan menarik yang saya dapatkan selama training adalah sebagai berikut: intinya kita musti mengetahui mana yang (paling) penting sehingga kita bisa menentukan prioritas. Mengutip Leigh Stevens, “Extraordinary productivity is not just about time management. It’s about managing your decisions, attention, and energy.”

Hoo okelah, selama ini saya mencoba membagi waktu untuk menjadi profesional dan personal. Punya agenda pribadi dan menyusun to-do-list. Tapi yang baru sadari dari hasil training itu, yang saya lakukan selama ini baru sekadar produktif setiap hari. ‘Hanya mengisi’ hidup 24 jam dan di malam hari saya sisipkan perbincangan bersama Tuhan saya mengatakan, “Thanks God untuk hari ini. Semoga saya bisa tidur dan besok masih kau beri aku kesempatan mengisi hari.” Filosofis? Yap! Tapi salah arah. hehe..karena yaaa itu tadi, belum mikir tentang goals atau tujuan jangka panjang.

Padahal kita harus sadar diri ini punya peran sebagai: Personal, Profesional, dan Social. Saya tiba-tiba jadi ‘ketampar’ teringat lagi berbagai hal yang terjadi dalam diri ini. Di sisi profesional saya cuma produktif secara daily task, di Personal pun saya jumpalitan antara menjadi anak yang baik apalagi menjadi yayang yang baik, sementara di sisi Sosial saya sering abai kepada teman-teman yang mengajak saya ketemuan di weekend dengan mengatakan “sibuk”. Damn! benar lho, saya saat itu bukan ‘sibuk’ dalam arti mengelak, tapi sibuk dalam arti sebenarnya.

Nah, saya kudu menentukan dulu peran yang ingin saya wujudkan sebagai seorang personal. Termasuk berjanji meminimalkan Sabtu menjadi Hari Apa Saja... termasuk menjadi Hari Menyelesaikan Kerja! Aih, saya jadi ingat suatu kejadian bersama seseorang sebut aja si Zorro. Malam minggu yang sebenarnya saat hangout santai, malahan Zorro duduk manis di apartemenku menonton MotoGP yang disiarkan di salah satu stasiun TV swasta, sambil makan McD hasil pesan antar. Sementara saya ngapain??? Saya duduk di meja makan yang beralih fungsi menjadi tempat saya mengetik paper ditemani setumpuk buku-buku kuliah. Hingga dia pulang setelah pertandingan kelar, saya masih duduk manis mengetik!

Sebuah konsekuensi menjadi pekerja yang kembali kuliah adalah  waktu memang bakal tersedot untuk menyelesaikan tugas kantor ditambah paper tugas dari dosen baik yang sifatnya individual maupun kelompok. Tapi kalau dipikir sekarang ini, jangan-jangan ada pola salah dalam diriku yang menjadikan Sabtu sebagai hari menyelesaikan pekerjaan tak terselesaikan selama weekday?

Karena memang pola ini berlanjut hingga kini. Jadi harusnya saya menjadikan hari Sabtu sebagai hari Personal atau Social, malah menjadi: let it flow babe, Saturday is the work day also!

Jadi, meskipun saat ini menjadi masa-masa mengejar karir, role Social dan Personal harus kita masukkan dalam prioritas hidup. Misalkan menjadi : Best Friend-nya lovely one; the good daughter; menerbitkan buku puisi, Ve Dhanito wanna be, hingga ingin jadi Runaway Darling..  

Dari memilih mana Peran yang ingin kita capai, baru kemudian kita turunkan menjadi apa saja kegiatan  yang ingin kita lakukan. Misalkan konsekuensi ingin menjadi menerbitkan buku puisi diikuti  kembali rajin ikut Sastra Reboan (nah!), kembali membuat coretan-coretan sajak, serta membangun diskusi silaturahmi bersama komunitas penyair.

Nah, terus apa urusannya cerita tentang naik tangga darurat apartemen dengan tips menjadi manusia luar biasa?

Begini, sejak sebulan lalu saya kembali berolahraga. Betul! Saya sudah lama tidak beraktivitas olah fisik secara rutin dengan alasan sibuk, tidak ada waktu, atau beralasan ada prioritas lain yang lebih penting. Tapi saya ingin badan bugar, dan menempatkan rajin berolahraga sebagai salah satu resolusi tahun 2014.  

Meskipun ngaret beberapa bulan memulai resolusi tahun baru tersebut, tapi saya bisa katakan sejak Maret lalu saya menyisipkan aktivitas olahraga dalam rutinitas mingguan. Meskipun 20 menit, tapi saya harus mengapresiasi diri ini...dan hasilnya sempat terasa juga ketika saya sempat jatuh sakit karena flu. Biasanya saya orang yang gampang ‘ketepaan’ orang sekitar saya yang lagi flu, atau cape sedikit kontak badan langsung nge-drop. Tapi rasanya butuh terpaan hampir sebulan dari kondisi rekan bersin dan hidung meler, deadline kerja, tugas luar kota hingga nongkrong di udara terbuka malam hari demi dapat hasil foto ciamik, yang akhirnya membuat badan ini ‘mengibarkan bendera putih’ alias jatuh sakit.

Lalu saya menyimpulkan bahwa olahraga memang bermanfaat buat diri saya. Dan hasil dari training ini saya menambahkan satu lagi yang harus saya tambahkan dalam menjaga kebugaran, yaitu memilih naik turun tangga ketimbang lift.

Ketika berangkat kerja sehari setelah training tersebut, di lampu merah saya berpapasan dengan mobil operasional Bintan Triathlon, rasanya semesta mendukung ucap membatin saya suatu ketika “Pingin ikut triathlon....tapi  mampu ga ya?? ”perlu dikejar! haha... Personal dream J



Sunday, April 27, 2014

Maaf, Blog Ini Menjadi Kering



Maaf, blog ini menjadi kering
karena hidup terlanjur garing

terhempas angin otak pun pening

(Gambar dikutip dari: artfabrik.com)

Thursday, March 27, 2014

Level Acceptance = Zero


How long you accept your pressure as your acceptance?

You make a promise, then being the broken promises. And also you being left behind with other people. Then tomorrow is still the cloudy sky.

Being the nice person sometimes not the good enough.

Being the one not yet  you are the best.

So let me see you tomorrow as my silver lining. Maybe you are not my northen star anyway.


#tentangjenuh
(Gambar dikutip dari wall.alphacoders.com)



Kok Saya Lemot Sih?

Beberapa hari ini saya punya pengalaman menjadi "si lemot". Mulai dari ketinggalan mengikuti langkah-langkah pengisian SPT saat bersama-sama diajari, ketinggalan dari teman-teman kantor saat nge-mall, hingga ketepok bola tenis gara-gara saya bengong. 

Aduh! jangan-jangan ini gejala tua ya? Prosesor tubuh saya berupa Intel Pentium IV, sementara rekan-rekan di sekitar saya berprosesor Intel Core i7 sehingga super responsif, gesit dan cepat. Kebanyakan mikir juga bisa ya, memperlambat daya pikir dan kecepatanku bereaksi? 

Tapi seperti dikemukakan Harvard Medical School kalau suatu hari kita mengalami kejadian mengobrak-abrik rumah demi mencari kunci mobil atau kacamata yang terlupa entah ditaruh dimana, ini salah satu pertanda gejala pertambahan usia. Atau lupa dengan nama rekan saat berpapasan di jalan, juga salah satu tanda penuaan.

"Umumnya manusia mengalami alpa gara-gara pertambahan usia," kata Dr. Anne Fabiny, Chief of Geriatrics at Cambridge Health Alliance dan assistant professor of medicine di Harvard Medical School.   

Tapi Fabiny memberi tips sederhana untuk menjaga daya ingat, dan menolong otak kita agar mampu mengingat dengan lebih baik. Yaitu: 

Lakukan rutinitas: misalkan meletakkan kunci, kacamata, dan handphone di tempat yang sama setiap hari, untuk memudahkan pencarian yang istilahnya ga perlu pake putar otak atau “no brainer.”

Konsentrasi atau perlambat kerja agar otak diberi waktu untuk mengumpulkan sejumlah memori. 

Hindari multitasking atau lingkungan yang noisy, dua hal yang memacu memori bekerja lebih keras.

Dan tiga hal terakhir yang cukup penting: pastikan cukup tidur, hindari stres, dan konsultasikan ke dokter tentang obat yang dikonsumsi apa akan berpengaruh pada daya ingat.  

Hoamm.. hari ternyata sudah malam saat saya menulis tips ini. Oke, saya mau segera tidur demi menjaga daya ingat, menjaga daya tahan tubuhku yang Pentium IV, dan demi beauty sleep  :-) 


Gambar dikutip dari: Images.sodahead 


Sunday, August 04, 2013

Konsekuensi Pekerja Kembali ke Bangku Kuliah

Lama tidak mengupdate blog. Kali ini alasannya karena banyak hal yang baru dalam kehidupan saya yang membuat saya melipir dari dunia per-bloggeran.

Sejak saya memutuskan kembali ke bangku perkuliahan, dengan mengambil studi pascasarjana (S2) memang hidup saya hanya terpusat pada dua hal: kantor vs kuliah. Apa rasanya kuliah sambil kerja?
Bukan hal mudah! Dari persoalan urusan finansial yang terkuras, waktu selama 24 jam yang terasa kurang, menyusutnya aktifitas hangout bersama teman-teman, hingga penyakit yang mampir akibat badan kelelahan dan stres.

Akhirnya saya menyimpulkan pembelajaran terbesar yang saya petik dari kuliah sambil bekerja yaitu: bagaimana saya harus berdamai dengan kenyataan bahwa menempuh studi sambil bekerja membuat saya menerima kenyataan tidak bisa mencapai peringkat terbaik.

Ini kawah candradimuka buat saya yang suka ambisius dan do everything perfectly. Saya harus belajar berdamai bahwa “terbaik tidak selalu 100% bagus” dan belajar sabar.

Ga bisa dipungkiri ketika mengeluarkan biaya cukup besar (saya membiayai sendiri kuliah S2 saya), ada perasaan tidak ingin sia-sia. Tolok ukur keberhasilan bangku formal adalah nilai Ujian Akhir Semester (UAS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IP.K). Tapi pada akhirnya saya merasa prioritas utama adalah menciptakan win-win solution memiliki sikap profesional dalam menghadapi pekerjaan kantor sementara kuliah S2 bukan mengejar nilai, melainkan sebagai sarana pengayaan ilmu, membuka wawasan dan menciptakan sudut pandang berbeda.

Justru saat-saat kuliah menjadi oase saya dari kepenatan kantor. Karena pergi ke kampus untuk kuliah adalah kesempatan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang pekerjaan dan perusahaan. Jadi intinya S2 adalah membangun jejaring (networking) termasuk dengan para pengajar.

Dan ketika nama saya sudah tertera sebagai salah satu nama wisudawan untuk Semester Genap 2012/2013, saya bahagia telah merealisasikan salah satu impian saya: suatu hari kembali ke bangku kuliah dengan mengambil S2.

Sudah bisa menarik nafas lega bersyukur pada Allah SWT telah mengabulkan doa terbesarku yaitu: lulus tepat waktu selama empat semester.

Wednesday, April 17, 2013

Margareth Thatcher: In Memoriam dan Inspirasi bagi Wanita


Rubrik Internasional majalah Tempo edisi 15-21 April 2013, secara istimewa mengangkat tulisan yang terkait in memoriam Margareth Thatcher.  Diulas secara cover both sides, sehalaman untuk berita tentang sukacita masyarakat Inggris atas meninggalnya mantan perdana menteri wanita pertama sekaligus dengan periode jabatan terlama di Inggris (1979-1990).

Btw, bandingkan dengan masa jabatan Winston Churchill yang tidak menerus, tapi terjadi dalam dua periode berbeda (antara 1940-1945 dan 1951-1955).

Beberapa kebijakan Thatcher  tidak populis. Saya baru pahami sekarang, dan bisa dibaca pada artikel-artikel terkait.

Tapi 1,5 halaman artikel dari Bambang Harymurti tentang sisi humanis putri pemilik toko kelontong ini, plus satu halaman dalam rubrik Tempo Doeloe membuat saya merasa beliau adalah salah seorang tokoh wanita yang bisa menjadi inspirasi kita.

Ketika saya kecil, saya pernah membaca artikel biografi wanita yang terlahir dengan nama Margaret Hilda Roberts adalah sarjana TeknikKimia lulusan Universitas Oxford yang bergengsi. Tapi karirnya justru meroket sebagai politisi yang berada di bawah Partai Konservatif.  Poin yang diambil:  latar belakang pendidikan dan gelar sarjana bukan mutlak landasan meniti karir. Tapi seperti Maggie yang dikenal sebagai mahasiswi ulet dan rajin, dimanapun kamu berada lakukan dengan benar dan maksimal.  

Seperti dikutip dari Tempo pada halaman 18, “...Thatcher –menikah dengan Denis Thatcher- selalu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi suatu acara. Karena itu, dia tak toleran kepada orang yang tak bersungguh-sungguh.”

Kemudian, dia memiliki “jimat” di dalam tas. Tapi bukan cincin batu akik seperti yang kulihat di jari pejabat Indonesia. Bukan pula mantra melainkan sebuah kutipan kata-kata pidato Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln berbunyi lebih kurang begini, “Anda tak dapat memperkuat si  lemah dengan melemahkan si kuat, Anda tak dapat menolong si miskin dengan menghancurkan si kaya, Anda tak dapat membantu orang dengan cara mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakannya sendiri.”

Sepertinya dalam menjalankan karir, Margareth memiliki sosok panutan atau sekarang ini sering kita dengar sebagai “mentor”. Mentor memang sosok langsung yang masih hidup, dan bisa menjadi tempat kita berkonsultasi atau bertanya layaknya  seorang guru. Tapi bisa juga menelisik ke profil dan biografi Steve Jobs, Leo Burnett,  atau Sir Richard Branson dll.

Tegas? Yap.  Margareth yang berjuluk “Iron Lady” adalah sosok pemimpin yang tegas. That’s why
meninggalnya pada Senin 8 April 2013 tidak diratapi tangis seheboh kepergian Lady Diana si wanita dengan senyum manis tersipu-sipu yang khas. Buktinya ada kemeriahan (dan bukan isak tangis) dalam suasana duka yang terjadi di Lapangan Trafalgar London, Manchester, Newscastle, Liverpool, Bristol, Brixton, atau Derry dan Belfast di Irlandia.

Yah, menjadi pemimpin pasti menciptakan kebijakan. Dan apapun keputusan atau kebijakan tidak bisa memuaskan semua pihak.  Pasti ada yang suka/tidak.  Ada yang jadi merasa diuntungkan/dirugikan.  Tapi dasarnya keputusan Margareth Thatcher demi perbaikan ekonomi Inggris Raya saat itu meskipun mengorbankan subsidi kegiatan kebudayaan demi menghemat anggaran, kebijakan hibah bagi siswa perguruan tinggi menjadi pinjaman yang harus dicicil setelah lulus, dan memangkas anggaran perguruan tinggi dan memindahkannya ke program renovasi sekolah di daerah miskin.  

Kebijakan Margareth Thatcher pernah menuai cacian. Makanya berita wafatnya wanita berzodiak Libra di usia 87 tahun ini disambut kemeriahan di kawasan Brixton, selatan London. Insiden di daerah kantung buruh pernah terjadi pada April 1981 dan September 1985, setelah Thatcher memberangus serikat pekerja, melakukan deregulasi sektor keuangan, dan melakukan privatisasi perusahaan negara. 

Dan akhirnya pro atau cons, like atau dislike, Margareth Thatcher dikebumikan pada Rabu 17 April 2013 dengan pemakaman khusus satu level di bawah upacara kenegaraan dan dilengkapi penghormatan militer penuh, serta dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dan suami, Duke of Edinburgh. Mengutip tulisan Tempo, inilah pertama kalinya Ratu hadir di pemakaman warga biasa setelah mantan perdana menteri Winston Churchill pada 1965.

Ada lagi yang lain? Ah, saya sudah ngantuk.. Saya hanya bisa menutup artikel ini dengan mengucapkan: Selamat Jalan Baroness Margareth Thatcher. 


(Gambar dikutip dari: www.number10.gov.uk dan www.taylormarsh.com)

Sunday, March 17, 2013

LOVE Bracelet : Pengalaman Perdana Belanja di Toko Online

Saya langsung jatuh cinta pandangan pertama ketika memandang gambar gelang berbentuk huruf LOVE di toko online Blibli.com.

I believe in LOVE.

I’m surrounded with many people who LOVE and care with me.

I LOVE my (daily) life.

Right now I’m fallin in LOVE.

But I don’t need to wait someone I LOVE to buy me that bracelet (but I show to my universe: via pic profile & twitter, the bracelet I like it most) .

So, sebagai orang yang baru pertama kali berbelanja online (karena pengalaman berbelanja dengan melihat gambar di pic profile BBM atau FB jualan saudara/teman tidak termasuk) pertama-tama saya harus mendaftar sebagai member, kemudian masih diikuti beberapa langkah.

Ternyata pihak toko online memberikan estimasi tanggal barang sampai ke alamat pemesan. Dan, voila!, ternyata pesanan tersebut nyampai satu hari sebelum perkiraan tanggal kiriman.

Buka amplop coklat pembungkus .. Jreng..jreng... sebuah kotak berbentuk bujur sangkar dan berpita emas menohok mata saya. Cantik! Saya pribadi tidak menyangka kotak pembungkusnya akan berbentuk demikian, karena asumsi saya adalah sebuah kotak berlabel nama produsen. Jadi, kalau demikian adanya, next time lini "Bag & Accesories" toko online ini bisa menjadi tempat andalan saya dalam membeli kado dan langsung mengirimkannya ke penerima hadiah.

Kemudian, buka kotaknya dan menemukan gelang dibungkus plastik transparan. Ohoho... langsung dong saya copot label, jepret-jepret dan pakai.

Officialy I announce that: March is LOVE..LOVE.. LOVE... dan yeah ini soundtrack lagu bulan Maret ini (Jennifer Hudson – All Dressed in Love). Video lirik yang saya unggah di bawah ini:

Tuesday, March 12, 2013

PING!




Sebagai pengguna BlackBerry Messenger (BBM) pasti tahu fitur : PING!.

Ini hampir sama dengan BUZZ! di fitur Yahoo Messenger.

Jika ini dikirimkan, sebagai tanda Anda perlu membalas cepat pesan yang dikirim, bisa juga sebagai panggilan Woy!

Bagi saya pribadi, paling malas menerima hal ini dan malah membuat saya merasa diintimidasi dengan getarannya di BB.

Dan beberapa waktu lalu seorang atasan yang jebolan luar negeri dan lama bekerja di perusahaan IT di Amerika Serikat (latar belakang ini menjadi dasar keyakinan saya untuk mempercayai omongannya yang didasari latar belakang muasal teknologi tsbt diciptakan), dalam suatu pertemuan menjelaskan PING itu sebagai pertanda BBM/e-mail ingin cepat dibalas.

Secara pribadi menurut dia, hal ini terasa tidak sopan, seolah pengirim pesan mengataka, “Hey, where are you? Cepetan dong.”

He doesn't like being PING! *menambah jumlah hater ping ping-an nih...*

So, semakin jelas bahwa cara yang “lebih tradisional” lebih baik. Kirim saja pesan di BBM, ketika dia tidak membalas bisa jadi karena tidak berada di dekat gadget. Atau bisa jadi kondisi sinyal operator yang kacrut. Lebih baik menunggu atau kirim dalam berbagai media, misalkan selain meninggalkan pesan di BBM, kirimkan juga pesan pendek SMS, atau ... coba telpon saja langsung :-)

Sunday, February 17, 2013

Hey, Independent Ladies....

Scene pembuka film layar lebar “Sex and the City 2” hingga detik ini masih terasa hip dalam bayangan saya. Carrie Bradshaw dalam bentuk narasi berkilas balik saat menginjakkan kaki di New York, bertemu dengan tiga perempuan lain yang akhirnya menjadi sahabat sejati: Samantha Jones, Charlotte York dan Miranda Hobbes.

Suara Alicia Keys menyanyikan “New York - Empire State of Mind” menjadi balutan yang pas mengimbangi narasi Carrie tentang perjalanan hidup empat orang wanita menaklukkan kota besar. Mencari pekerjaan, menapaki karir, mengalami berbagai peristiwa termasuk kisah cinta.Hingga akhirnya Carrie, Samantha, Charlotte, dan Miranda tampil bersinar, tidak hanya glitters di balutan busana, tapi telah menjadi upper class dari big apple.

Yeah, memiliki pekerjaan, menghasilkan uang, dan memiliki independensi dalam berbagai hal bisa disamakan sebagai impian para career women di Jakarta. Namun ganti suasana Manhattan yang sangat kelas mewah dengan sebuah kawasan padat pemukiman di ibukota, pilihan transportasi umum adalah bis Patas, Transjakarta, mikrolet atau kereta api. Kami, para pekerja Jakarta, akan mengenakan masker wajah selama perjalanan kantor-rumah PP demi mengurangi sesak nafas yang timbul akibat udara Jakarta sudah bercampur debu knalpot dan bau tak sedap dari sampah atau imbas ketidak pedulian warga terhadap kebersihan kota.

Sepatu kami bukan Manolo Blahnik (meskipun saya yakin adapula wanita berkarir di segitiga bisnis yang mampu membeli dan mengenakannya) tapi sebuah flat shoes harga terjangkau yang nantinya kami ganti dengan sepatu lebih modis (biasanya sepatu lebih mahal ditaruh di kantor) jika tiba di kantor sekaligus selama bekerja. Karena sepatu tersebut biasanya mewakili desain lebih bagus, terbuat dari bahan cukup bermutu dan berhak tinggi. 

Film-film Hollywood mewakili mimpi kita tentang wanita mandiri, menikmati perjalanan Liz Gilbert di “Eat Pray Love” yang bisa pergi ke Roma, berpindah ke Calcutta, Bali demi mencari Tuhan berbalut “kedamaian diri”. Sementara bagaimana dia membiayai perjalanannya tentu akan berbeda dengan makna travelling bagi kami yang dimulai dari memantau website maskapai penerbangan low-cost carrier membuka pendaftaran promosi tiket murah.

Rrrr.... if I could be like Carrie Bradshaw someday, yang mengetik naskah tulisan dari sebuah meja yang berhadapan dengan jendela di apartemen yang sekaligus sanctuary pribadi. Apartemen yang dibeli dari penghasilan diri sendiri yang dilengkapi interior cantik. Ohya, tak lupa sebuah ruangan khusus untuk penyimpanan busana dan berbagai pernak perniknya. So, mau mencoba bayangkan who do you want to be as the independent lady? Kutip dari berbagai karakter di film sebagai inspirasi, tetap mengasah intelegensia dan mau membuka diri untuk berbagai perubahan. Ohya, last but not least, kita jangan lupa bersosialisasi karena kita tetap butuh sahabat untuk berbagi.

Saturday, January 26, 2013

Januari yang Sedih


(Sebuah Puisi Balasan)

~tentang RI, banjir Jakarta, dan impian urban~


Aku termangu di bawah langit Jakarta yang muram
Mencoba melukis awan dan mentari benderang
Walau sebenarnya kota ini semakin suram

Tapak kecipak kecipuk di air tergenang
Buyung bawa bola menendang badai 
Berbaur derai tawa Bunga terngiang-ngiang 
Hanya alunan semu memagut

Dari balik bingkai lensa mata, ada gadis menggenggam bintang
Memainkan pendar saat letih menoreh mimpi urban
Duduk manis di kereta besi bercerita tentang memelihara hidup bertaut 

Bibir kuncup mengatup berkisah tentang ada surat undangan pesta ulang tahun tak sampai dari gadis cilik penyuka lengkung pelangi

Gadis cilik yang tiada mungkin "suka sama suka" menambatkan maut

Di kota ini mimpi tentang membangun istana pasir melarut dalam gelombang tak surut

Namun mimpi ini Katulampa di Januari
ternyata Neptunus perlu mampir ke Jakarta, mengajak kita berdansa sambil berkisah
"terlalu banyak cerita ibukota untuk dicuci dalam lumpur"


*17 Januari 2013 – Jakarta-Bogor*

Friday, November 02, 2012

Bekerja untuk Apa




Saya mampir ke blog sahabat dan *jleb* ..*jleb* http://langit-jingga.blogspot.com/2012/10/ad-maiorem-dei-gloriam_10.html  saat membaca isi tulisannya.

*Jleb* #1:
Ketika saya merasakan sendiri menjadi pekerja Jakarta yang harus bolak balik rumah-kantor PP dan ‘menikmati’ kemacetan di jalan. Jika saya naik taksi berarti bisa multitasking mulai dari hal hiburan semata seperti membaca Twitter dan meng-RT, chatting dengan rekan via bbm, membuat to-do-list hari ini, hingga membaca buku. Tapi lain halnya jika saya memanfaatkan moda angkutan lain misalkan menjadi penumpang ojek yang belakangan ini kurasakan efektif dalam memampatkan waktu di jalan.  

*Jleb* #2:
Hari Sabtu dan Minggu semakin terasa singkat sebagai hari libur. Padahal harus bersyukur karena adapula rekan-rekan kita yang tidak mengenal hari libur atau tanggalan merah dalam bekerja.

*Jleb* #3:
Mari bertanya pada diri sendiri tentang apa passion kita, yang membuat kita bekerja bukan hanya demi: label pekerja, gaji semata, serta memenuhi kuantitas absensi dan output hasil. Tapi seperti membuatmu bak jatuh cinta dari bangun pagi hingga istirahat malam hari.

*Jleb* #4:
Bekerja demi Tuhan. Ia yang menciptakan kita, lalu kita apresiasi dengan memanfaatkan talenta kita supaya bermanfaat bagi orang lain. Namun yang terjadi seringkali lupa ibadah dengan alasan sibuk menyelesaikan proyek. 

(Gambar dikutip dari: http://designmind.frogdesign.com/magazine/work---life/)

Wednesday, August 15, 2012

Renungan Ramadan


Aku mengambil wudhu, membentangkan sejadah dan melakukan ritual agama yang sering kulewatkan.

Selama ini aku mencerca Dia yang tidak pernah mengabulkan permintaanku. Ketika aku meminta dan kamu membalas dengan pembalikan harapanku.

Si ambisius. Si terencana yang yakin semua langkah bisa berhasil ketika direncanakan. Langkah pemutakhiran ada pada doa harap padaMu, yang Engkau jawab dengan tidak seperti harapan.

Namun seiring waktu kulalui, permintaan tak terkabul adalah jawaban Dia atas kehidupan terbaikku. Setiap cobaan mengasah ketegaranku, mengikis tabiat "harus dapat" serta meningkatkan pendewasaan pikiran dan batin.

Dan pada malam ini, aku berupaya sholat dengan bening. Tanpa pamrih dan keinginan meminta.

Hanya ingin memintal waktu bersama Dia, membisikkan ucap terima kasih atas kehidupanku selama ini yang penuh limpahan rezeki, berkat dan kasih sayang sesama.

Malam ini aku mengucap syukur. 

Toko Bangunan Mengalihkan Dunia Belanjaku...





Sejak setahun lalu saya akrab dengan toko bahan bangunan, dan keakraban ini mengalihkan dunia mall dari hidupku.

Di satu sisi, terima kasih kepada cara Mama-ku untuk membuat fokus hidup yang berbeda dengan sebelumnya. Mamaku gerah dengan aktivitasku yang sepertinya cuma seputar kerja kantor dari Senin hingga Jumat, dan “absen” di Pondok Indah Mall di akhir pekan.

Berbagai alasan saya pergi ke mall. Mulai dari membeli kebutuhan hingga keinginan. Termasuk sekadar makan siang atau belanja sekotak havermut daripada ngendon di kos. Ternyata Mama juga berpikir jika putrinya hanya sibuk hangout dengan teman berarti membuang uang hasil pencaharian yang padahal dikomentari sendiri oleh putrinya seperti banting tulang as literally.   

Dengan mengajak saya ke Panti Asuhan, Mama membuka mataku bahwa dua lembaran ratusan ribu bukan hanya pengisi dompet yang dalam waktu sebentar bisa berpindah ke kafe, tempat makan atau bioskop. Akan tetapi menjadi sekarung beras yang menjadi kebutuhan makan anak-anak panti asuhan. Sekaligus menerima bonus pandangan mata berbinar ucap terima kasih dari mata bak malaikat cilik.

Kemudian Mama juga mengubah sekaligus memberi warna baru dalam kehidupanku, sejak ‘memaksa’ saya membeli rumah pada akhir 2010.  

Sudah pasti memutuskan membeli rumah berdampak besar dibandingkan membeli sehelai baju. Beli rumah ternyata membawa konsekuensi lanjutan seperti perlu biaya pengurusan surat-surat di Notaris, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan renovasi.

Dua lembar uang ratusan ribu ternyata bisa membawa pulang keramik kamar mandi, dan menghasilkan kamar mandi bergaya black-white yang walaupun weard bagi Mama-ku, tapi membawa kenikmatan tersendiri di mata ini saat memandanginya. Atau ketika memilih warna lantai, ubin rumah, plesteran cat tembok terasa mengasyikkan ketika menyadari itu membuat nothing menjadi something bagai menikmati foto-foto di rubrik Interior majalah.  

Konsekuensi lain baru saya sadari ketika suatu hari ke department store sebuah plaza di tengah kota Jakarta. Mata saya sepertinya terbelalak menyaksikan cahaya lampu yang menghujam ke tas, sepatu dan areal kosmetik. Sepertinya semua barang di display toko terlihat “bersinar”.

Hahaha .. ternyata Neng Eno sudah lama tidak ke mall. Baru sadar bahwa saya belakangan ini lebih banyak ke toko bahan bangunan, mengendus pengap non-AC sambil mengamati pilihan keramik dan membedakan istilah Marmer Tulungagung versus Marmer Sulawesi.

Lalu mengenal istilah batako, bata, dak, kaso, dan mencoba memahami proses renovasi rumah satu langkah demi langkah berikutnya.

Membeli rumah memang perjuangan sangat... amat .... besar. Ada gaya hidup yang harus dikorbankan atau tepatnya diubah, dan fokus pada tujuan. Tapi seperti proses pembuatan bangunan yang bertahap dari dasar hingga atap, menjalani tahapan penuh perjuangan (terutama dari sisi keuangan) tersebut ternyata sangat menantang sekaligus menyenangkan. J

7 Langkah untuk Maju


Berani berubah merupakan kiat untuk maju, atau peningkatan karir khususnya. Berikut ini beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan diri:

1.       Lihat sekeliling kamu. Kemudian tanamkan keinginan untuk berubah : menjadi lebih baik dibandingkan mereka, lebih baik daripada sekarang!

2.       Perluas pengetahuan dan wawasan. Banyak mencari informasi melalui buku, koran, majalah, Internet, dan sebagainya. Atau ikuti kursus yang menunjang karir.

3.       Perluas pergaulan positif. Ikut organisasi profesi/sosial di lingkungan kita. Ikuti pula jika ada seminar/forum diskusi yang bermanfaat bagi pengembangan diri kita.

4.       Tentukan target hidup. Sebagai catatan: target tersebut tentu harus rasional dan asertif.

5.       Jangan ragu untuk menanyakan perubahan diri ini kepada rekan-rekan atau sanak saudara.

6.       Jauhi sifat-sifat yang tidak mendukung kemajuan kita.

7.       Lakukan perubahan penampilan atau ubah rute yang biasa kita lalui untuk pulang-pergi antara tempat bekerja dengan tempat tinggal.