Malam-malam pesan kue di sebuah toko kue yang sudah berusia matang.
Tibalah giliran bayar. Rencana bayar lunas. Metode pembayaran tunai.
Kasir menggesek kartu debit BCA. Status: Decline.
Kasir nyeletuk, "Ga cukup."
Jreng! Ucapan yang enteng. Two simple words. Tapi bagi obyek pemilik kartu, saya, serasa angin diiringi hujan yang mengguyur Jakarta di awal pekan Februari menyiram badan saya seketika itu.
Muka saya langsung gigi taring. Sayangnya demi komitmen: usia baru, tahun baru, resolusi mulut harus dicuci bersih tanpa bicara nyinyir dan kasar.
Saya pun berkata, "Mbak, saya yakin lho saldo saya cukup untuk membayar lunas."
Ibu Supervisor mulai menangkap gelagat customer mulai gahar. Ia mendekat ke posisi kasir.
Selanjutnya uji coba lagi masih tetap gagal. Decline. Si kasir ngomong, "Tuh kan ga bisa mbak," terus dia ke Supervisor seraya berkata, "Tapi ibu/mbak ini yakin uangnya cukup!"
Ngok!
"Oke mbak, bayar pas pengambilan. Saya utang ya!"
Bagi saya status "Decline" terjadi kalau saya: lagi-lagi salah memasukkan pin. Kartu diblokir *Ini sudah pengalaman pribadi lebih dari satu atau dua kali. Bahkan seandainya bank punya promo get stamp untuk masalah kesalahan pin dsb kayak di suatu convenience store, saya sudah berhasil bawa pulang piring, mug dll*
Apalagi saya sempat melihat koneksi dua mesin EDC di meja kasir tidak stabil karena pengaruh cuaca Jakarta malam ini memang tidak kondusif. Teman-teman yang paham perbankan juga pasti dengan senang hati menjelaskan supaya berbagai latar belakang penyebab status Decline makin komprehensif dan melengkapi pemahaman saya :)
Moral of story: tidak gampang menjadi pribadi MELAYANI jika Anda jadi pekerja di dunia jasa atau apapun industri yang Anda geluti. Mulutmu harimau mu. Teman kita memaklumi cara dan gaya kita berucap. Tapi imbas ucapan enteng berbeda di telinga customer.
Dari kuping lalu dicerna emosi dan otak, berujung pada bad experience. Akibatnya bisa jadi customer dengan senang hati menuliskan pengalamannya ke dalam blog, seperti saya. Bahkan membubuhkan judul "Dipermalukan Kasir" di artikel. Mulut pun dengan senang berceloteh menceritakan pengalaman ini menjadi mouth-to-mouth.
Apa nama toko kue-nya? Ahh.. Dewi Retno Siregar kan mau menjadi pribadi positif. Mau jadi orang yang mampu mengunci mulut agar tak enteng bicara. Psst, nanti suatu hari teman-teman juga tahu *wink*
Noted: "Dude" dibaca "Dud" adalah panggilan sayang saya dari keluarga. Jadi tulisan ini menjadi bagian refleksi diri.
Monday, February 08, 2016
Saturday, October 03, 2015
Rumah Tempat Pulang
Berawal dari "Hai"
Berlanjut ke jutaan hari yang selalu terselip kalimat "Hai, sedang apa?"
Hanya tiga kata tidak pernah terucap
Tiga kata yang selalu tak pernah kita katakan
Cuma selalu ada tentang kamu di hidup saya
Demikian pula ada saya di bagian hidup kamu
Terselip pula kisah The Other Guy/Girl di perjalanan hidup kita
Kita bukan selingkuh. Kita toh bukan berada di pernyataan tiga kata
Dan saya selalu bebas mengetuk pintu kamu ketika menangis
Ketika butuh dekap maka lenganmu selalu hangat merengkuh
Selalu...lebih hangat merangkul daripada dia yang lain
Lalu hari ini saya hendak melangkahkan kaki keluar pintu
Biasanya membiarkan kamu di belakang. Cuma kali ini terasa berbeda
Berawal dari "Hai"
dan berlanjut sebuah tanya "Maukah kamu tiap hari menjadi pembuka hariku?"
Entah mengapa.. lirih bibir mengucap, "Ya, saya bersedia. Kamu adalah rumah tempatku pulang"
** Bruce Springsteen - Secret Garden
Labels:
girly mind,
puisi (coretan sastra)
Monday, January 12, 2015
Senin Pagi di Januari 2015
Senin
pagi di pekan ketiga di 2015. Cuaca hari itu menyapa Jakarta dengan
derai hujan yang mungkin membuat sebagian orang masih terbayang
bergelung di kasur saat akhir pekan, sebagian lagi mempercepat
langkah bergegas beraktivitas sebelum hujan semakin besar, sementara
saya berada tidak diantara keduanya.
Pagi
ini saya telah duduk manis di meja kerja, sambil menatap layar
monitor. Kali ini pendingin udara cukup bersahabat dengan kulit yang
rentan dingin, sementara mata dan otak pun sudah siaga konsentrasi.
Biasanya saya senang menyimak suara hujan samar terdengar saat
butir-butir air menyentuh atap, daun jendela, atau menghantam
permukaan tanah. Tapi ini bukan yang saya nikmati pagi ini. Suasana
hati pun tidak semendung langit kelabu di pertengahan Januari ini.
Ada
sejumlah pekerjaan rencana kukerjakan saat ini, sembari menyumpal
telinga dengan alunan musik, dan sesekali membiarkan pikiran
menerawang tentang Dia. Ahay! Rasanya lama saya tidak menyebut
tentang seseorang yang kusematkan panggilan "Lelaki beraroma
kretek", "Pria Utara", atau apapun asalkan bukan
inisial. Karena abjad terasa tak spesial bagi seorang yang teramat
istimewa.
Kusebut saja "Dia" memang saat ini belum kutemukan julukan yang tepat.
Kulampirkan
kata “memang” karena sedang kusemat doa suatu hari menjadi Kejadian.
Dia
yang derai tawanya membuatku terpana di suatu sore jelang malam.
Dia
yang biasa menjadi terasa Tak Biasa.
Suatu
malam pasca pulang kerja di suatu tempat nongkrong chit chat tanpa
teman kopi.
Menjadi
tidak biasa karena tidak kupilih kopi. Dan diapun tidak memilih kopi,
melainkan air jeruk.
Ah!
sejak mula kami memintal cerita perkenalan dengan tidak biasa.
Selanjutnya juga ada percikan-percikan yang berbeda dari caranya dia
menemani diri ini dalam berkisah.
Aha!
Aku jadi ingin menjulukinya pria "Orange Juice". Seperti
nama minuman yang dia pilih, dan sedang kugandrungi kejutan-kejutan
bak “janji umumnya buah jeruk”.
Ternyata
yang tidak biasa itu bisa membawa bahagia. Seperti kilau bintang
berbinar di tengah gulita, indah dan berguna bukan?!
Sepertinya,
Dia mewakili sisi manusia baru dalam diri ini.
Ketika
saya saat ini menjadi Pecinta Pagi.
Ketika kawan menyebut aku "dewasa" di usia yang tak muda.
Ketika
bukan lagi meledak-ledak bak kompor bledug.
Ketika
saya yakin bukan si pasangan labil serta ego-sentris.
Ketika kompromi ternyata lebih menarik ketimbang hitam-putih.
Cerita
ini masih terlalu pagi untuk kuceritakan.
Tapi
pagi ini membuat saya ingin menulis blog dan mengupas kisah meskipun
hanya selembar tulisan dangkal :)
Pagi
ini kutandai sebagai suatu awal tahun baru yang masih penuh
pengharapan.
Labels:
girly mind,
puisi (coretan sastra)
Monday, October 20, 2014
Miskomunikasi Kata
Suatu Minggu siang di halte Transjakarta Salemba UI. Saat itu tengah hari bolong di suatu musim
panas. Suasana di dalam halte relatif sepi, hanya ada dua orang petugas karcis
di dalam loket, beberapa penjaga plang pintu dan nyaris tidak ada penumpang
lain sedang menunggu TransJakarta.
Saya bertanya ke salah seorang bapak penjaga palang pintu.
“Pak, ada yang ke Atrium Senen?”
“Ada. Nanti naik aja bis yang abu-abu panjang.”
Oke. Saya pun masuk setelah kartu e-money berhasil diproses di mesin pembaca kartu. Menanti tidak
pasti memang bikin resah. Saya pun tidak sabar setiap kali ada busway abu-abu
berhenti. Sebagai bukan pengguna rutin moda bus khas ibukota ini, tapi definisi
“yang panjang” tidak tergambar jelas di benak ini.
Setiap TransJakarta berhenti di halte, saya akan bertanya ke
kondektur bus yang biasanya akan berdiri di samping pintu bus TransJakarta saat
pintunya terbuka. Dan jawabannya cuma pendek, “Bukan.”
Sudah dua bus abu-abu berlalu dan bukan “si panjang”. Lalu dua
remaja putri yang berpenampilan meyakinkan, definisi ‘meyakinkan’ bagi saya: sepertinya
sudah pakar dengan moda transportasi TransJakarta.
“Mbak, kalau yang ke Atrium Senen yang mana ya?”
“Oh yang bus-nya cakep, mbak”
(melongo)... Ini
rasanya makin blunder, batinku.
Akhirnya, TransJakarta merah-kuning (yang belakangan saya
ketahui menuju Gunung Sahari-Mangga Dua) lewat, dan ketika saya mengajukan
pertanyaan sama, mbak petugas pintu di dalam busway menarik saya dan mengatakan
nanti turun saja di Halte Senen untuk kemudian berganti dengan yang ke arah
Atrium Senen.
Dan....akhirnya setelah turun di Halte Senen Sentral, saya
pun mengerti yang dimaksud ‘si abu-abu panjang’ adalah TransJakarta berwarna abu-abu berbentuk bus gandeng.
*tepok jidat* Hadeh, ternyata miskomunikasi kata nih.. akibat asumsi dan pemahaman yang tidak berada dalam satu jalur yang sama :D
Thursday, August 21, 2014
Tentang Waktu
Ketika
diri siap dihampiri
waktu
akan memberi kesempatan kita bertemu
Seperti
dikatakan sahabat
Semua
tentang waktu yang tepat
hanya
perlu memintal renjana hingga membentang cita
Seandainya
ini kesempatan yang menghampiri
lengan
siap membentang rengkuh
mengalirkan
cerita yang siap kita pilin
Jakarta, 21 Agustus 2014
Friday, August 15, 2014
LDR
Jatuh cinta ini masih
untuk kamu
Kamu yang selalu dan
selalu inspirasi larik puisiku
Hanya jauh dan sangat
jauh berani memandangmu
Jatuh dan jatuh cinta
dari sebuah tatap dan harap
Merangkai sebait cerita
sambil menganyam asa
Jika dan jika masih bisa
aku menulis puisi
Inspirasi ini dari
keping merah jambu kusimpan untuk kamu
#CeritaKamis
Thursday, August 14, 2014
Hari-Hari Penuh Warna
Hampir seminggu ini hariku penuh warna. Paling tidak, sejak
Senin hingga Kamis malam ini ada cerita yang kuingin share di blog ini.
Senin dimulai dengan bangun kesiangan! Ouch! The d*mn
thing-nya karena hari itu aku sebenarnya harus mempresentasikan sebuah materi
yang kubuat semalam suntuk selama weekend L
Rasanya jleb..jleb. ingin memaki tapi yang perlu kutampol
adalah diri sendiri. Membuat presentasi dalam bentuk powerpoint –jujur- memang jadi ‘masalah’ tersendiri bagiku yang
biasa bermain di area kata, kalimat dan alinea. Karena ga bisa, ga biasa, serta cari akal,
misalkan dibantu teman (ssst!) jadi merasa bagai kancil cerdik yang selama ini
berhasil keluar dari masalah pembuatan laporan presentasi.
Tapi entah mengapa sepertinya semesta mendukungku untuk
saatnya bermain di bahasa gambar (baca: slide presentasi) dengan berada di
pekerjaan sekarang.
Dan kali ini saya berusaha maksimal, termasuk dengan
melakukan riset, mengutak-atik bahasa dan bermain template, tapi kaboom! Berakhir
sebagai ironi karena di hari-H justru saya kesiangan bangun.
Selasa? Ada obrolan kecil di sore hari dilanjutkan dengan melepas
endorfin di lapangan tenis. Obrolan
kecil terkesan chit chat, hanya saja ada
cerita menggantung yang membuatku jadi berpikir ulang mungkin selama ini aku
melihat suatu hal cuma 180 derajat, jadi perlu mengaji ulang dan mencoba melebarkan
sudut pandang. Mungkin cerita ketok-ketok logikaku itu yang mempengaruhi mood malam itu di lapangan tenis
sehingga semangat latihan tanding ganda dan serve-ku
di lapangan dikomentarin pelatih terlihat lebih baik.
Berlanjut di hari Rabu ada janji temu, satu pertemuan memang
terencana, namun malam hari ada pertemuan mendadak. Tapi dari hasil bertemu ada
inspiring idea untuk pekerjaanku.
Ohya biar cerita inspirasi ini jadi tulisan blog tersendiri atau lebih baik aku
coba praktekkan dulu J
Kamis? Yah galau-galau kecil yang selalu terjadi di diri ini. Nope! tak akan kulanjutkan ceritanya di dalam tulisan ini *wink*
Hmm....apa membaca tulisanku tidak terasa warna-warni? Di
benakku ada semburat pelangi dalam cerita kehidupanku seminggu ini. Tapi memampatkan
dalam tarian jemari di keyboard mungkin saat ini terasa susah buat si blogger malas update. *tunggu tulisan-tulisanku yang lain*
Saturday, May 03, 2014
See-Do-Get: Menjadi Manusia Produktif Luar Biasa
Hosh... hosh...
hosh...
Hihihi...itu suara nafas saya saat menaiki tangga darurat
apartemen. Bukan! Bukan karena lift apartemen under maintenance (yang memang kadang terjadi) sehingga menapaki
tangga hingga mencapai ke lantai unit kita berdomisili, terasa lebih cepat
ketimbang menanti giliran menjadi pemakai lift.
Tapi awal pekan ini saya menjalani dua training dari Dunamis
yang berjudul The 5 Choices to Extraordinary Productivity. Kalau aku coba
berbagi kepada pembaca blogger tentang kesimpulan menarik yang saya dapatkan
selama training adalah sebagai berikut: intinya kita musti mengetahui mana yang
(paling) penting sehingga kita bisa menentukan prioritas. Mengutip Leigh
Stevens, “Extraordinary productivity is
not just about time management. It’s about managing your decisions, attention,
and energy.”
Hoo okelah, selama ini saya mencoba membagi waktu untuk
menjadi profesional dan personal. Punya agenda pribadi dan menyusun to-do-list.
Tapi yang baru sadari dari hasil training
itu, yang saya lakukan selama ini baru sekadar produktif setiap hari. ‘Hanya mengisi’
hidup 24 jam dan di malam hari saya sisipkan perbincangan bersama Tuhan saya mengatakan,
“Thanks God untuk hari ini. Semoga saya
bisa tidur dan besok masih kau beri aku kesempatan mengisi hari.” Filosofis?
Yap! Tapi salah arah. hehe..karena yaaa itu tadi, belum mikir tentang goals atau tujuan jangka panjang.
Padahal kita harus sadar diri ini punya peran sebagai: Personal, Profesional, dan Social. Saya tiba-tiba jadi ‘ketampar’ teringat
lagi berbagai hal yang terjadi dalam diri ini. Di sisi profesional saya cuma produktif
secara daily task, di Personal pun
saya jumpalitan antara menjadi anak yang baik apalagi menjadi yayang yang baik,
sementara di sisi Sosial saya sering abai kepada teman-teman yang mengajak saya
ketemuan di weekend dengan mengatakan
“sibuk”. Damn! benar lho, saya saat itu bukan ‘sibuk’ dalam arti mengelak, tapi
sibuk dalam arti sebenarnya.
Nah, saya kudu menentukan dulu peran yang ingin saya
wujudkan sebagai seorang personal. Termasuk berjanji meminimalkan Sabtu menjadi
Hari Apa Saja... termasuk menjadi Hari Menyelesaikan Kerja! Aih, saya jadi
ingat suatu kejadian bersama seseorang sebut aja si Zorro. Malam minggu yang sebenarnya
saat hangout santai, malahan Zorro
duduk manis di apartemenku menonton MotoGP yang disiarkan di salah satu stasiun
TV swasta, sambil makan McD hasil pesan antar. Sementara saya ngapain??? Saya
duduk di meja makan yang beralih fungsi menjadi tempat saya mengetik paper ditemani
setumpuk buku-buku kuliah. Hingga dia pulang setelah pertandingan kelar, saya
masih duduk manis mengetik!
Sebuah konsekuensi menjadi pekerja yang kembali kuliah
adalah waktu memang bakal tersedot untuk
menyelesaikan tugas kantor ditambah paper tugas dari dosen baik yang sifatnya
individual maupun kelompok. Tapi kalau dipikir sekarang ini, jangan-jangan ada
pola salah dalam diriku yang menjadikan Sabtu sebagai hari menyelesaikan
pekerjaan tak terselesaikan selama weekday?
Karena memang pola ini berlanjut hingga kini. Jadi harusnya
saya menjadikan hari Sabtu sebagai hari Personal atau Social, malah menjadi: let it flow babe, Saturday is the work day
also!
Jadi, meskipun saat ini menjadi masa-masa mengejar karir, role Social dan Personal harus kita
masukkan dalam prioritas hidup. Misalkan menjadi : Best Friend-nya lovely one;
the good daughter; menerbitkan buku puisi, Ve Dhanito wanna be, hingga ingin jadi
Runaway Darling..
Dari memilih mana Peran yang ingin kita capai, baru kemudian
kita turunkan menjadi apa saja kegiatan
yang ingin kita lakukan. Misalkan konsekuensi ingin menjadi menerbitkan
buku puisi diikuti kembali rajin ikut
Sastra Reboan (nah!), kembali membuat coretan-coretan sajak, serta membangun diskusi
silaturahmi bersama komunitas penyair.
Nah, terus apa urusannya cerita tentang naik tangga darurat
apartemen dengan tips menjadi manusia luar biasa?
Begini, sejak sebulan lalu saya kembali berolahraga. Betul!
Saya sudah lama tidak beraktivitas olah fisik secara rutin dengan alasan sibuk,
tidak ada waktu, atau beralasan ada prioritas lain yang lebih penting. Tapi
saya ingin badan bugar, dan menempatkan rajin berolahraga sebagai salah satu
resolusi tahun 2014.
Meskipun ngaret
beberapa bulan memulai resolusi tahun baru tersebut, tapi saya bisa katakan sejak
Maret lalu saya menyisipkan aktivitas olahraga dalam rutinitas mingguan.
Meskipun 20 menit, tapi saya harus mengapresiasi diri ini...dan hasilnya sempat
terasa juga ketika saya sempat jatuh sakit karena flu. Biasanya saya orang yang
gampang ‘ketepaan’ orang sekitar saya yang lagi flu, atau cape sedikit kontak
badan langsung nge-drop. Tapi rasanya butuh terpaan hampir sebulan dari kondisi
rekan bersin dan hidung meler, deadline
kerja, tugas luar kota hingga nongkrong
di udara terbuka malam hari demi dapat hasil foto ciamik, yang akhirnya membuat
badan ini ‘mengibarkan bendera putih’ alias jatuh sakit.
Lalu saya menyimpulkan bahwa olahraga memang bermanfaat buat
diri saya. Dan hasil dari training
ini saya menambahkan satu lagi yang harus saya tambahkan dalam menjaga
kebugaran, yaitu memilih naik turun tangga ketimbang lift.
Ketika berangkat kerja sehari setelah training tersebut, di lampu merah saya berpapasan dengan mobil
operasional Bintan Triathlon, rasanya semesta mendukung ucap membatin saya
suatu ketika “Pingin ikut triathlon....tapi
mampu ga ya?? ”perlu dikejar! haha... Personal dream J
Sunday, April 27, 2014
Maaf, Blog Ini Menjadi Kering
Maaf, blog ini menjadi kering
karena hidup terlanjur garing
terhempas angin otak pun pening
(Gambar dikutip dari: artfabrik.com)
Thursday, March 27, 2014
Level Acceptance = Zero
How long you accept your pressure as your acceptance?
You make a promise, then being the broken promises. And also
you being left behind with other people. Then tomorrow is still the cloudy sky.
Being the nice person sometimes not the good enough.
Being the one not yet you are the best.
So let me see you tomorrow as my silver lining. Maybe you
are not my northen star anyway.
#tentangjenuh
(Gambar dikutip dari wall.alphacoders.com)
Kok Saya Lemot Sih?
Beberapa
hari ini saya punya pengalaman menjadi "si lemot". Mulai dari
ketinggalan mengikuti langkah-langkah pengisian SPT saat bersama-sama diajari,
ketinggalan dari teman-teman kantor saat nge-mall, hingga ketepok bola tenis
gara-gara saya bengong.
Aduh!
jangan-jangan ini gejala tua ya? Prosesor tubuh saya berupa Intel Pentium IV,
sementara rekan-rekan di sekitar saya berprosesor Intel Core i7 sehingga super
responsif, gesit dan cepat. Kebanyakan mikir juga bisa ya, memperlambat daya pikir dan kecepatanku bereaksi?
Tapi
seperti dikemukakan Harvard Medical School kalau suatu hari kita mengalami kejadian
mengobrak-abrik rumah demi mencari kunci mobil atau kacamata yang
terlupa entah ditaruh dimana, ini salah satu pertanda gejala pertambahan usia. Atau
lupa dengan nama rekan saat berpapasan di jalan, juga salah satu tanda penuaan.
"Umumnya
manusia mengalami alpa gara-gara pertambahan usia," kata Dr. Anne Fabiny,
Chief of Geriatrics at Cambridge Health Alliance dan assistant professor of
medicine di Harvard Medical School.
Tapi
Fabiny memberi tips sederhana untuk menjaga daya ingat, dan menolong otak kita
agar mampu mengingat dengan lebih baik. Yaitu:
Lakukan
rutinitas: misalkan meletakkan kunci, kacamata, dan handphone di tempat yang
sama setiap hari, untuk memudahkan pencarian yang istilahnya ga perlu pake
putar otak atau “no brainer.”
Konsentrasi atau perlambat kerja agar otak diberi waktu untuk mengumpulkan sejumlah
memori.
Hindari
multitasking atau lingkungan yang noisy, dua hal yang memacu memori bekerja
lebih keras.
Dan
tiga hal terakhir yang cukup penting: pastikan cukup tidur, hindari stres, dan
konsultasikan ke dokter tentang obat yang dikonsumsi apa akan berpengaruh pada
daya ingat.
Hoamm.. hari ternyata sudah malam saat saya menulis tips ini. Oke, saya mau segera tidur demi menjaga daya ingat,
menjaga daya tahan tubuhku yang Pentium IV, dan demi beauty sleep :-)
Gambar
dikutip dari: Images.sodahead
Sunday, August 04, 2013
Konsekuensi Pekerja Kembali ke Bangku Kuliah
Lama tidak mengupdate
blog. Kali ini alasannya karena banyak hal yang baru dalam kehidupan saya yang
membuat saya melipir dari dunia per-bloggeran.
Sejak saya memutuskan kembali ke bangku perkuliahan, dengan mengambil
studi pascasarjana (S2) memang hidup saya hanya terpusat pada dua hal: kantor
vs kuliah. Apa rasanya kuliah sambil kerja?
Bukan hal mudah! Dari persoalan urusan finansial yang terkuras,
waktu selama 24 jam yang terasa kurang, menyusutnya aktifitas hangout bersama teman-teman, hingga
penyakit yang mampir akibat badan kelelahan dan stres.
Akhirnya saya menyimpulkan pembelajaran terbesar yang saya
petik dari kuliah sambil bekerja yaitu: bagaimana saya harus berdamai dengan
kenyataan bahwa menempuh studi sambil bekerja membuat saya menerima kenyataan
tidak bisa mencapai peringkat terbaik.
Ini kawah candradimuka buat saya yang suka ambisius dan do everything perfectly. Saya harus
belajar berdamai bahwa “terbaik tidak selalu 100% bagus” dan belajar sabar.
Ga bisa dipungkiri ketika mengeluarkan biaya cukup besar
(saya membiayai sendiri kuliah S2 saya), ada perasaan tidak ingin sia-sia.
Tolok ukur keberhasilan bangku formal adalah nilai Ujian Akhir Semester (UAS)
dan Indeks Prestasi Kumulatif (IP.K). Tapi pada akhirnya saya merasa prioritas
utama adalah menciptakan win-win solution
memiliki sikap profesional dalam menghadapi pekerjaan kantor sementara kuliah
S2 bukan mengejar nilai, melainkan sebagai sarana pengayaan ilmu, membuka
wawasan dan menciptakan sudut pandang berbeda.
Justru saat-saat kuliah menjadi oase saya dari kepenatan
kantor. Karena pergi ke kampus untuk kuliah adalah kesempatan bertemu
teman-teman dari berbagai latar belakang pekerjaan dan perusahaan. Jadi intinya
S2 adalah membangun jejaring (networking)
termasuk dengan para pengajar.
Dan ketika nama saya sudah tertera sebagai salah satu nama
wisudawan untuk Semester Genap 2012/2013, saya bahagia telah merealisasikan
salah satu impian saya: suatu hari kembali ke bangku kuliah dengan mengambil
S2. Wednesday, April 17, 2013
Margareth Thatcher: In Memoriam dan Inspirasi bagi Wanita
Rubrik Internasional majalah Tempo edisi 15-21 April 2013, secara
istimewa mengangkat tulisan yang terkait in
memoriam Margareth Thatcher. Diulas
secara cover both sides, sehalaman
untuk berita tentang sukacita masyarakat Inggris atas meninggalnya mantan
perdana menteri wanita pertama sekaligus dengan periode jabatan terlama di
Inggris (1979-1990).
Btw, bandingkan
dengan masa jabatan Winston Churchill yang tidak menerus, tapi terjadi dalam
dua periode berbeda (antara 1940-1945 dan 1951-1955).
Beberapa kebijakan Thatcher tidak populis. Saya baru pahami sekarang, dan bisa
dibaca pada artikel-artikel terkait.
Tapi 1,5 halaman artikel dari Bambang Harymurti tentang sisi
humanis putri pemilik toko kelontong ini, plus satu halaman dalam rubrik Tempo
Doeloe membuat saya merasa beliau adalah salah seorang tokoh wanita yang bisa
menjadi inspirasi kita.
Ketika saya kecil, saya pernah membaca artikel biografi
wanita yang terlahir dengan nama Margaret Hilda Roberts adalah sarjana TeknikKimia lulusan Universitas Oxford yang bergengsi. Tapi karirnya justru meroket sebagai
politisi yang berada di bawah Partai Konservatif. Poin yang diambil: latar belakang pendidikan dan gelar sarjana
bukan mutlak landasan meniti karir. Tapi seperti Maggie yang dikenal sebagai
mahasiswi ulet dan rajin, dimanapun kamu berada lakukan dengan benar dan maksimal.
Seperti dikutip dari Tempo pada halaman 18, “...Thatcher –menikah dengan Denis Thatcher-
selalu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi suatu acara.
Karena itu, dia tak toleran kepada orang yang tak bersungguh-sungguh.”
Kemudian, dia memiliki “jimat” di dalam tas. Tapi bukan cincin
batu akik seperti yang kulihat di jari pejabat Indonesia. Bukan pula mantra melainkan
sebuah kutipan kata-kata pidato Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln
berbunyi lebih kurang begini, “Anda tak dapat memperkuat si lemah dengan melemahkan si kuat, Anda tak
dapat menolong si miskin dengan menghancurkan si kaya, Anda tak dapat membantu orang
dengan cara mengerjakan sesuatu yang seharusnya dikerjakannya sendiri.”
Sepertinya dalam menjalankan karir, Margareth memiliki sosok
panutan atau sekarang ini sering kita dengar sebagai “mentor”. Mentor memang
sosok langsung yang masih hidup, dan bisa menjadi tempat kita berkonsultasi
atau bertanya layaknya seorang guru.
Tapi bisa juga menelisik ke profil dan biografi Steve Jobs, Leo Burnett, atau Sir Richard Branson dll.
Tegas? Yap. Margareth
yang berjuluk “Iron Lady” adalah sosok pemimpin yang tegas. That’s why
meninggalnya pada Senin 8 April 2013 tidak diratapi tangis seheboh kepergian
Lady Diana si wanita dengan senyum manis tersipu-sipu yang khas. Buktinya ada kemeriahan (dan bukan isak tangis) dalam suasana duka yang terjadi di Lapangan Trafalgar London, Manchester,
Newscastle, Liverpool, Bristol, Brixton, atau Derry dan Belfast di Irlandia.
Yah, menjadi pemimpin pasti menciptakan kebijakan. Dan apapun
keputusan atau kebijakan tidak bisa memuaskan semua pihak. Pasti ada yang suka/tidak. Ada yang jadi merasa
diuntungkan/dirugikan. Tapi dasarnya
keputusan Margareth Thatcher demi perbaikan ekonomi Inggris Raya saat itu
meskipun mengorbankan subsidi kegiatan kebudayaan demi menghemat anggaran,
kebijakan hibah bagi siswa perguruan tinggi menjadi pinjaman yang harus dicicil
setelah lulus, dan memangkas anggaran perguruan tinggi dan memindahkannya ke
program renovasi sekolah di daerah miskin.
Kebijakan Margareth Thatcher pernah menuai cacian. Makanya berita wafatnya wanita berzodiak Libra di usia 87 tahun ini disambut kemeriahan di kawasan Brixton, selatan London. Insiden di daerah kantung buruh pernah terjadi pada April 1981 dan September 1985, setelah Thatcher memberangus serikat pekerja, melakukan deregulasi sektor keuangan, dan melakukan privatisasi perusahaan negara.
Dan akhirnya pro atau cons, like atau dislike, Margareth
Thatcher dikebumikan pada Rabu 17 April 2013 dengan pemakaman
khusus satu level di bawah upacara kenegaraan dan dilengkapi penghormatan
militer penuh, serta dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dan suami, Duke of
Edinburgh. Mengutip tulisan Tempo, inilah pertama kalinya Ratu hadir di
pemakaman warga biasa setelah mantan perdana menteri Winston Churchill pada
1965.
Ada lagi yang lain? Ah, saya sudah ngantuk.. Saya hanya bisa
menutup artikel ini dengan mengucapkan: Selamat Jalan Baroness Margareth Thatcher.
(Gambar dikutip dari: www.number10.gov.uk dan www.taylormarsh.com)
Sunday, March 17, 2013
LOVE Bracelet : Pengalaman Perdana Belanja di Toko Online
Saya langsung jatuh cinta pandangan pertama ketika memandang gambar gelang berbentuk huruf LOVE di toko online Blibli.com.
I believe in LOVE.
I’m surrounded with many people who LOVE and care with me.
I LOVE my (daily) life.
Right now I’m fallin in LOVE.
But I don’t need to wait someone I LOVE to buy me that bracelet (but I show to my universe: via pic profile & twitter, the bracelet I like it most) .
So, sebagai orang yang baru pertama kali berbelanja online (karena pengalaman berbelanja dengan melihat gambar di pic profile BBM atau FB jualan saudara/teman tidak termasuk) pertama-tama saya harus mendaftar sebagai member, kemudian masih diikuti beberapa langkah.
Ternyata pihak toko online memberikan estimasi tanggal barang sampai ke alamat pemesan. Dan, voila!, ternyata pesanan tersebut nyampai satu hari sebelum perkiraan tanggal kiriman.
Buka amplop coklat pembungkus .. Jreng..jreng... sebuah kotak berbentuk bujur sangkar dan berpita emas menohok mata saya. Cantik! Saya pribadi tidak menyangka kotak pembungkusnya akan berbentuk demikian, karena asumsi saya adalah sebuah kotak berlabel nama produsen. Jadi, kalau demikian adanya, next time lini "Bag & Accesories" toko online ini bisa menjadi tempat andalan saya dalam membeli kado dan langsung mengirimkannya ke penerima hadiah.
Kemudian, buka kotaknya dan menemukan gelang dibungkus plastik transparan. Ohoho... langsung dong saya copot label, jepret-jepret dan pakai.
Officialy I announce that: March is LOVE..LOVE.. LOVE... dan yeah ini soundtrack lagu bulan Maret ini (Jennifer Hudson – All Dressed in Love). Video lirik yang saya unggah di bawah ini:
I believe in LOVE.
I’m surrounded with many people who LOVE and care with me.
I LOVE my (daily) life.
Right now I’m fallin in LOVE.
But I don’t need to wait someone I LOVE to buy me that bracelet (but I show to my universe: via pic profile & twitter, the bracelet I like it most) .
So, sebagai orang yang baru pertama kali berbelanja online (karena pengalaman berbelanja dengan melihat gambar di pic profile BBM atau FB jualan saudara/teman tidak termasuk) pertama-tama saya harus mendaftar sebagai member, kemudian masih diikuti beberapa langkah.
Ternyata pihak toko online memberikan estimasi tanggal barang sampai ke alamat pemesan. Dan, voila!, ternyata pesanan tersebut nyampai satu hari sebelum perkiraan tanggal kiriman.
Buka amplop coklat pembungkus .. Jreng..jreng... sebuah kotak berbentuk bujur sangkar dan berpita emas menohok mata saya. Cantik! Saya pribadi tidak menyangka kotak pembungkusnya akan berbentuk demikian, karena asumsi saya adalah sebuah kotak berlabel nama produsen. Jadi, kalau demikian adanya, next time lini "Bag & Accesories" toko online ini bisa menjadi tempat andalan saya dalam membeli kado dan langsung mengirimkannya ke penerima hadiah.
Kemudian, buka kotaknya dan menemukan gelang dibungkus plastik transparan. Ohoho... langsung dong saya copot label, jepret-jepret dan pakai.
Officialy I announce that: March is LOVE..LOVE.. LOVE... dan yeah ini soundtrack lagu bulan Maret ini (Jennifer Hudson – All Dressed in Love). Video lirik yang saya unggah di bawah ini:
Tuesday, March 12, 2013
PING!
Sebagai pengguna BlackBerry Messenger (BBM) pasti tahu fitur : PING!.
Ini hampir sama dengan BUZZ! di fitur Yahoo Messenger.
Jika ini dikirimkan, sebagai tanda Anda perlu membalas cepat pesan yang dikirim, bisa juga sebagai panggilan Woy!
Bagi saya pribadi, paling malas menerima hal ini dan malah membuat saya merasa diintimidasi dengan getarannya di BB.
Dan beberapa waktu lalu seorang atasan yang jebolan luar negeri dan lama bekerja di perusahaan IT di Amerika Serikat (latar belakang ini menjadi dasar keyakinan saya untuk mempercayai omongannya yang didasari latar belakang muasal teknologi tsbt diciptakan), dalam suatu pertemuan menjelaskan PING itu sebagai pertanda BBM/e-mail ingin cepat dibalas.
Secara pribadi menurut dia, hal ini terasa tidak sopan, seolah pengirim pesan mengataka, “Hey, where are you? Cepetan dong.”
He doesn't like being PING! *menambah jumlah hater ping ping-an nih...*
So, semakin jelas bahwa cara yang “lebih tradisional” lebih baik. Kirim saja pesan di BBM, ketika dia tidak membalas bisa jadi karena tidak berada di dekat gadget. Atau bisa jadi kondisi sinyal operator yang kacrut. Lebih baik menunggu atau kirim dalam berbagai media, misalkan selain meninggalkan pesan di BBM, kirimkan juga pesan pendek SMS, atau ... coba telpon saja langsung :-)
Sunday, February 17, 2013
Hey, Independent Ladies....
Scene pembuka film layar lebar “Sex and the City 2” hingga detik ini masih terasa hip dalam bayangan saya. Carrie Bradshaw dalam bentuk narasi berkilas balik saat menginjakkan kaki di New York, bertemu dengan tiga perempuan lain yang akhirnya menjadi sahabat sejati: Samantha Jones, Charlotte York dan Miranda Hobbes.
Suara Alicia Keys menyanyikan “New York - Empire State of Mind” menjadi balutan yang pas mengimbangi narasi Carrie tentang perjalanan hidup empat orang wanita menaklukkan kota besar. Mencari pekerjaan, menapaki karir, mengalami berbagai peristiwa termasuk kisah cinta.Hingga akhirnya Carrie, Samantha, Charlotte, dan Miranda tampil bersinar, tidak hanya glitters di balutan busana, tapi telah menjadi upper class dari big apple.
Yeah, memiliki pekerjaan, menghasilkan uang, dan memiliki independensi dalam berbagai hal bisa disamakan sebagai impian para career women di Jakarta. Namun ganti suasana Manhattan yang sangat kelas mewah dengan sebuah kawasan padat pemukiman di ibukota, pilihan transportasi umum adalah bis Patas, Transjakarta, mikrolet atau kereta api. Kami, para pekerja Jakarta, akan mengenakan masker wajah selama perjalanan kantor-rumah PP demi mengurangi sesak nafas yang timbul akibat udara Jakarta sudah bercampur debu knalpot dan bau tak sedap dari sampah atau imbas ketidak pedulian warga terhadap kebersihan kota.
Sepatu kami bukan Manolo Blahnik (meskipun saya yakin adapula wanita berkarir di segitiga bisnis yang mampu membeli dan mengenakannya) tapi sebuah flat shoes harga terjangkau yang nantinya kami ganti dengan sepatu lebih modis (biasanya sepatu lebih mahal ditaruh di kantor) jika tiba di kantor sekaligus selama bekerja. Karena sepatu tersebut biasanya mewakili desain lebih bagus, terbuat dari bahan cukup bermutu dan berhak tinggi.
Film-film Hollywood mewakili mimpi kita tentang wanita mandiri, menikmati perjalanan Liz Gilbert di “Eat Pray Love” yang bisa pergi ke Roma, berpindah ke Calcutta, Bali demi mencari Tuhan berbalut “kedamaian diri”. Sementara bagaimana dia membiayai perjalanannya tentu akan berbeda dengan makna travelling bagi kami yang dimulai dari memantau website maskapai penerbangan low-cost carrier membuka pendaftaran promosi tiket murah.
Rrrr.... if I could be like Carrie Bradshaw someday, yang mengetik naskah tulisan dari sebuah meja yang berhadapan dengan jendela di apartemen yang sekaligus sanctuary pribadi. Apartemen yang dibeli dari penghasilan diri sendiri yang dilengkapi interior cantik. Ohya, tak lupa sebuah ruangan khusus untuk penyimpanan busana dan berbagai pernak perniknya. So, mau mencoba bayangkan who do you want to be as the independent lady? Kutip dari berbagai karakter di film sebagai inspirasi, tetap mengasah intelegensia dan mau membuka diri untuk berbagai perubahan. Ohya, last but not least, kita jangan lupa bersosialisasi karena kita tetap butuh sahabat untuk berbagi.
Suara Alicia Keys menyanyikan “New York - Empire State of Mind” menjadi balutan yang pas mengimbangi narasi Carrie tentang perjalanan hidup empat orang wanita menaklukkan kota besar. Mencari pekerjaan, menapaki karir, mengalami berbagai peristiwa termasuk kisah cinta.Hingga akhirnya Carrie, Samantha, Charlotte, dan Miranda tampil bersinar, tidak hanya glitters di balutan busana, tapi telah menjadi upper class dari big apple.
Yeah, memiliki pekerjaan, menghasilkan uang, dan memiliki independensi dalam berbagai hal bisa disamakan sebagai impian para career women di Jakarta. Namun ganti suasana Manhattan yang sangat kelas mewah dengan sebuah kawasan padat pemukiman di ibukota, pilihan transportasi umum adalah bis Patas, Transjakarta, mikrolet atau kereta api. Kami, para pekerja Jakarta, akan mengenakan masker wajah selama perjalanan kantor-rumah PP demi mengurangi sesak nafas yang timbul akibat udara Jakarta sudah bercampur debu knalpot dan bau tak sedap dari sampah atau imbas ketidak pedulian warga terhadap kebersihan kota.
Sepatu kami bukan Manolo Blahnik (meskipun saya yakin adapula wanita berkarir di segitiga bisnis yang mampu membeli dan mengenakannya) tapi sebuah flat shoes harga terjangkau yang nantinya kami ganti dengan sepatu lebih modis (biasanya sepatu lebih mahal ditaruh di kantor) jika tiba di kantor sekaligus selama bekerja. Karena sepatu tersebut biasanya mewakili desain lebih bagus, terbuat dari bahan cukup bermutu dan berhak tinggi.
Film-film Hollywood mewakili mimpi kita tentang wanita mandiri, menikmati perjalanan Liz Gilbert di “Eat Pray Love” yang bisa pergi ke Roma, berpindah ke Calcutta, Bali demi mencari Tuhan berbalut “kedamaian diri”. Sementara bagaimana dia membiayai perjalanannya tentu akan berbeda dengan makna travelling bagi kami yang dimulai dari memantau website maskapai penerbangan low-cost carrier membuka pendaftaran promosi tiket murah.
Rrrr.... if I could be like Carrie Bradshaw someday, yang mengetik naskah tulisan dari sebuah meja yang berhadapan dengan jendela di apartemen yang sekaligus sanctuary pribadi. Apartemen yang dibeli dari penghasilan diri sendiri yang dilengkapi interior cantik. Ohya, tak lupa sebuah ruangan khusus untuk penyimpanan busana dan berbagai pernak perniknya. So, mau mencoba bayangkan who do you want to be as the independent lady? Kutip dari berbagai karakter di film sebagai inspirasi, tetap mengasah intelegensia dan mau membuka diri untuk berbagai perubahan. Ohya, last but not least, kita jangan lupa bersosialisasi karena kita tetap butuh sahabat untuk berbagi.
Saturday, January 26, 2013
Januari yang Sedih
(Sebuah Puisi Balasan)
~tentang RI, banjir Jakarta, dan impian urban~
Aku termangu di bawah langit Jakarta yang muram
Mencoba melukis awan dan mentari benderang
Walau sebenarnya kota ini semakin suram
Tapak kecipak kecipuk di air tergenang
Buyung bawa bola menendang badai
Berbaur derai tawa Bunga terngiang-ngiang
Hanya alunan semu memagut
Dari balik bingkai lensa mata, ada gadis menggenggam bintang
Memainkan pendar saat letih menoreh mimpi urban
Duduk manis di kereta besi bercerita tentang memelihara hidup bertaut
Bibir kuncup mengatup berkisah tentang ada surat undangan pesta ulang tahun tak sampai dari gadis cilik penyuka lengkung pelangi
Gadis cilik yang tiada mungkin "suka sama suka" menambatkan maut
Di kota ini mimpi tentang membangun istana pasir melarut dalam gelombang tak surut
Namun mimpi ini Katulampa di Januari
ternyata Neptunus perlu mampir ke Jakarta, mengajak kita berdansa sambil berkisah
"terlalu banyak cerita ibukota untuk dicuci dalam lumpur"
Aku termangu di bawah langit Jakarta yang muram
Mencoba melukis awan dan mentari benderang
Walau sebenarnya kota ini semakin suram
Tapak kecipak kecipuk di air tergenang
Buyung bawa bola menendang badai
Berbaur derai tawa Bunga terngiang-ngiang
Hanya alunan semu memagut
Dari balik bingkai lensa mata, ada gadis menggenggam bintang
Memainkan pendar saat letih menoreh mimpi urban
Duduk manis di kereta besi bercerita tentang memelihara hidup bertaut
Bibir kuncup mengatup berkisah tentang ada surat undangan pesta ulang tahun tak sampai dari gadis cilik penyuka lengkung pelangi
Gadis cilik yang tiada mungkin "suka sama suka" menambatkan maut
Di kota ini mimpi tentang membangun istana pasir melarut dalam gelombang tak surut
Namun mimpi ini Katulampa di Januari
ternyata Neptunus perlu mampir ke Jakarta, mengajak kita berdansa sambil berkisah
"terlalu banyak cerita ibukota untuk dicuci dalam lumpur"
*17 Januari 2013 – Jakarta-Bogor*
Friday, November 02, 2012
Bekerja untuk Apa
Saya mampir ke blog sahabat dan *jleb* ..*jleb* http://langit-jingga.blogspot.com/2012/10/ad-maiorem-dei-gloriam_10.html saat membaca isi tulisannya.
*Jleb* #1:
Ketika saya merasakan sendiri menjadi pekerja Jakarta yang
harus bolak balik rumah-kantor PP dan ‘menikmati’ kemacetan di jalan. Jika saya
naik taksi berarti bisa multitasking mulai dari hal hiburan semata seperti
membaca Twitter dan meng-RT, chatting
dengan rekan via bbm, membuat to-do-list
hari ini, hingga membaca buku. Tapi lain halnya jika saya memanfaatkan moda
angkutan lain misalkan menjadi penumpang ojek yang belakangan ini kurasakan
efektif dalam memampatkan waktu di jalan.
*Jleb* #2:
Hari Sabtu dan Minggu semakin terasa singkat sebagai hari
libur. Padahal harus bersyukur karena adapula rekan-rekan kita yang tidak
mengenal hari libur atau tanggalan merah dalam bekerja.
*Jleb* #3:
Mari bertanya pada diri sendiri tentang apa passion kita, yang membuat kita bekerja
bukan hanya demi: label pekerja, gaji semata, serta memenuhi kuantitas absensi dan
output hasil. Tapi seperti membuatmu bak jatuh cinta dari bangun pagi hingga
istirahat malam hari.
*Jleb* #4:
Bekerja demi Tuhan. Ia yang menciptakan kita, lalu kita
apresiasi dengan memanfaatkan talenta kita supaya bermanfaat bagi orang lain. Namun yang terjadi seringkali
lupa ibadah dengan alasan sibuk menyelesaikan proyek.
(Gambar dikutip dari: http://designmind.frogdesign.com/magazine/work---life/)
(Gambar dikutip dari: http://designmind.frogdesign.com/magazine/work---life/)
Wednesday, August 15, 2012
Renungan Ramadan
Aku mengambil wudhu, membentangkan sejadah dan melakukan
ritual agama yang sering kulewatkan.
Selama ini aku mencerca Dia yang tidak pernah mengabulkan
permintaanku. Ketika aku meminta dan kamu membalas dengan pembalikan harapanku.
Si ambisius. Si terencana yang yakin semua langkah bisa
berhasil ketika direncanakan. Langkah pemutakhiran ada pada doa harap padaMu, yang
Engkau jawab dengan tidak seperti harapan.
Namun seiring waktu kulalui, permintaan tak terkabul adalah
jawaban Dia atas kehidupan terbaikku. Setiap cobaan mengasah ketegaranku,
mengikis tabiat "harus dapat" serta meningkatkan pendewasaan pikiran dan batin.
Dan pada malam ini, aku berupaya sholat dengan bening. Tanpa
pamrih dan keinginan meminta.
Hanya ingin memintal waktu bersama Dia, membisikkan ucap
terima kasih atas kehidupanku selama ini yang penuh limpahan rezeki, berkat dan
kasih sayang sesama.
Malam ini aku mengucap syukur.
Toko Bangunan Mengalihkan Dunia Belanjaku...
Sejak setahun lalu saya akrab dengan toko bahan
bangunan, dan keakraban ini mengalihkan dunia mall dari hidupku.
Di satu sisi, terima kasih kepada cara Mama-ku untuk
membuat fokus hidup yang berbeda dengan sebelumnya. Mamaku gerah dengan
aktivitasku yang sepertinya cuma seputar kerja kantor dari Senin hingga Jumat,
dan “absen” di Pondok Indah Mall di akhir pekan.
Berbagai alasan saya pergi ke mall. Mulai dari membeli kebutuhan
hingga keinginan. Termasuk sekadar makan siang atau belanja sekotak havermut
daripada ngendon di kos. Ternyata
Mama juga berpikir jika putrinya hanya sibuk hangout dengan teman berarti membuang uang hasil pencaharian yang
padahal dikomentari sendiri oleh putrinya seperti banting tulang as literally.
Dengan mengajak saya ke Panti Asuhan, Mama membuka mataku
bahwa dua lembaran ratusan ribu bukan hanya pengisi dompet yang dalam waktu
sebentar bisa berpindah ke kafe, tempat makan atau bioskop. Akan tetapi menjadi
sekarung beras yang menjadi kebutuhan makan anak-anak panti asuhan. Sekaligus
menerima bonus pandangan mata berbinar ucap terima kasih dari mata bak malaikat
cilik.
Kemudian Mama juga mengubah sekaligus memberi warna baru
dalam kehidupanku, sejak ‘memaksa’ saya membeli rumah pada akhir 2010.
Sudah pasti memutuskan membeli rumah berdampak besar
dibandingkan membeli sehelai baju. Beli rumah ternyata membawa konsekuensi
lanjutan seperti perlu biaya pengurusan surat-surat di Notaris, Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), dan renovasi.
Dua lembar uang ratusan ribu ternyata bisa membawa pulang
keramik kamar mandi, dan menghasilkan kamar mandi bergaya black-white yang walaupun weard
bagi Mama-ku, tapi membawa kenikmatan tersendiri di mata ini saat
memandanginya. Atau ketika memilih warna lantai, ubin rumah, plesteran cat
tembok terasa mengasyikkan ketika menyadari itu membuat nothing menjadi something
bagai menikmati foto-foto di rubrik Interior majalah.
Konsekuensi lain baru saya sadari ketika suatu hari ke department store sebuah plaza di tengah
kota Jakarta. Mata saya sepertinya terbelalak menyaksikan cahaya lampu yang
menghujam ke tas, sepatu dan areal kosmetik. Sepertinya semua barang di display toko terlihat “bersinar”.
Hahaha .. ternyata Neng Eno sudah lama tidak ke mall. Baru
sadar bahwa saya belakangan ini lebih banyak ke toko bahan bangunan, mengendus pengap
non-AC sambil mengamati pilihan keramik dan membedakan istilah Marmer
Tulungagung versus Marmer Sulawesi.
Lalu mengenal istilah batako, bata, dak, kaso, dan mencoba memahami proses renovasi rumah satu langkah demi langkah
berikutnya.
Membeli
rumah memang perjuangan sangat... amat .... besar. Ada gaya hidup yang harus dikorbankan atau tepatnya diubah, dan fokus pada tujuan. Tapi seperti proses pembuatan bangunan yang bertahap dari dasar hingga
atap, menjalani tahapan penuh perjuangan (terutama dari sisi keuangan) tersebut
ternyata sangat menantang sekaligus menyenangkan. J
Subscribe to:
Posts (Atom)
















