Monday, May 26, 2008

Mending Abaikan dan Delete

Orang (ngaku) sibuk tapi kok masih bisa meluangkan waktu untuk mengetuk-ketuk jari di keyboard untuk tulisan semacam ini :

Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku


Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.

Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....

Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.

Thursday, May 22, 2008

Ke Rumah


Gubuk kecilku peneduh jiwa
Maukah kau menuntaskan lamun rinduku?
Setiap jengkalmu menjadi cerita ku selami
Dekap aku di setiap detak waktu
Si rapuh ini rindu tempat pulang


(gambar dikutip dari : www.mihummel.net)

Friday, May 09, 2008

Jumat Ini...

Kamu pernah bangun pagi dan merasa malas ke kantor?
Duh, saya mengalami rasa itu Jumat ini (9/5). Cara melawan malas : segera bangkit dari tempat tidur, mandi, cuci rambut dsb.

Ohya, di kantorku setiap Jumat seolah ada ’peraturan tidak tertulis’, penampilan karyawan di Divisi Iklan pada hari itu menjadi lebih casual dan tidak seformil hari biasanya. Jadinya, saya menikmati dandan di hari terakhir dalam 5 hari kerja.

Coba memulas eye shadow hitam ditambah eye liner…. Haha, saya selalu ingin mencoba gaya ‘smoke eyes’ tapi belum pernah sempat mengujinya. Menikmati tatanan rambut hasil keramas plus wangi tonik.

Baju yang asyik dikenakan? Jeans... off course! Dan kaus pas badan dengan detil batu-batu permata imitasi di kerah (sebenarnya kaus andalan kalau lagi bingung cari atasan cukup pantas untuk jalan keluar hehe... )Oh yes! Here come my Friday!

(Gambar dikutip dari : www.makeupstore.se)

Monday, May 05, 2008

FS bikin dag dig dug

Tadi via YM, temenku I'pey minta saya meng-klik : http://profiles.friendster.com/66668743.

"Kamu kenal kan, No?" kata temanku yang kukenal sewaktu skripsi dulu. Yah, kukira dia memberi link teman masa lalu alias jadul. Saya pun meng-klik... wuah!! asli kaget.

Lagian siapa sih bocah gila yang tega memposting foto neneknya untuk bikin jantung dag dig dug... X(

(semakin bertambah usia, hormon adrenalin dan urat nyali makin kendur ....)

Sunday, May 04, 2008

Rindu Makan Soto Betawi

Jumat malam, sepulang kerja, langsung pulang ke Bogor. Saatnya pulang kampung, rindu rumah, dan ingin memanjakan lidah dengan masakan mama. Hmm, nyokap ku memang jago masak :p~

Namun pulang ke Bogor, malah melanglang cari makanan di luar. Beberapa hari ini, saya ingin makan soto betawi, yang menurutku terenak itu ada di jalan Padang, dekat kantor lama saya. Kalau tidak salah namanya Soto Betawi Haji Husein (hehe.. bukan berpromosi sih). Sayangnya sih ga kesampaian. Pertimbangannya karena jarak tempat kerja sekarang ke Manggarai sudah jauh (males agh jauh-jauh jalan ke sana demi semangkuk soto ... ). Alasan malas lainnya adalah jam paling afdol untuk datang ke sana sekitar jam 11-an, saat orang belum ramai makan siang, dan tentu saja pilihan daging dan jeroan masih variatif.

Akhirnya, keinginan makan daging kaki empat (haha.. gw dah berjanji mengurangi mengunyah daging hewan berkaki empat seperti sapi atau kambing. Jadi, karena ’mengurangi’ dan bukan ’pantang’ maka boleh lah menikmati santapan berbahan daging merah itu sesekali....) kesampaian pada Sabtu siang di Bogor.

Di kawasan Air Mancur yang memang sebagai pusat jajanan di kota hujan, ada tempat yang namanya Mang Endang, yang terkenal karena sup buntutnya. Tapi bagi saya (yang memang tidak doyan makan sup buntut), yang enak itu soto dagingnya. Satu porsi berisi keratan daging sapi empuk tanpa lemak, serta berkuah santan diperkaya cacahan daun bawang dan sereh. Memang miskin sayur. Sedap dilahap bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng.. plus kecap manis.

Hua .. kesampaian juga makan soto bersantan gurih. Pulang dari sana, nyambung ke supermarket belanja bersama keponakan. Keinginan lain, ingin menyantap chicken nugget. Agh, dasar kelamaan jadi anak kos-kosan, sepertinya lidah ini terbiasa makanan beli di luar... Agh, lupakanlah berapa besar asupan yang masuk berbanding lurus lenyeh-lenyeh di akhir pekan.Sepulang dari rumah, jangan lupa untuk kembali membakar kalori melalui olahraga :D



(Gambar ini bukan bentuk soto daging di Mang Endang ya....)

Mencintai atau Dicintai

Dari teman (postingan blog), saya mendapat pertanyaan mengetuk hati. Lebih baik ”mencintai” atau ”dicintai”? Hmff.. kurasa dua hal itu resiprokal. Timbal balik. Ga ada pilihan lebih baik atau lebih jelek.

Hanya saja, jika.. nah jika.. harus memilih salah satu -tentunya- lebih baik “dicintai”. Dan, saya tidak percaya tentang kalimat ’cinta tak harus memiliki’.

Mati Rasa
: Cerita standar dalam kehidupan manusia

Uff, memang bukan tabiatmu menjadi perasa
Perasa perasaan orang
Kamu ga tau kalau saya tersiksa?
Tersiksa karena kamu
Saya pun bukan manusia menunggu
Kurasa ’menunggu’ adalah pemujaan semu

Saat tangis dan degup terasa mengalun perih
Saat senyum berpadu lonjakan rasa
Ketika hati terpecah makin jauh

Mari berpacu dengan detak waktu
Semakin hari, semakin kamu lupa
Semakin hari, semakin lupa kamu
Semakin lama, semakin terhapus rona diri kamu


(gambar dikutip dari : www.art.com)

Bis Malam (Puisi Transport 1)

Tubuh makin terpojok
Kepalanya makin terkulai
Bahu diri disangka bantal
Tolak… tidak…
Tolak.. tidak…

Hmm ganteng sih,
Kalau nggak, wah! langsung jitak!
Tapi males deh... :p
Tetap saja ga kenal!

Badan ku merangsek ke muka
hirup udara segar di ruang terbatas
Sang pemuda cari sandaran baru, berbalik arah
Tetap pulas
”Ini contoh mekanisme reflek ya?”
Sebal juga karena tidur tak menular

Menatap jendela menampilkan kelam
Butiran air terjatuh dari langit
Tak ada suara, hanya hening terpecah alunan tidur dari belakang
Menebus cape, melepas beban 5 hari kerja
Atau cara menanti terbaik
Sebelum sampai terminal Baranangsiang.


lebak bulus-bogor
Jumat 2 Mei’08
(Gambar dikutip dari : www.fine-art.com)

Angkot (Puisi Transport 2)

Beberapa waktu lalu, saya menginap di rumah teman di daerah Ciputat. Minta bantuan dia yang lebih jago komputer untuk belajar program modifikasi gambar dan mengutak-atik blog.

Buat saya yang terbiasa jarak dekat –dari rumah kos dan kantor, pulang pergi cukup jalan kaki sekitar 10 menit- suatu pengalaman baru rute Lebak Bulus-Ciputat. Bergegas dalam gigi 3, bangun pagi sebelum mentari menyembul dari balik awan menuju kantor (terlambat sedikit, sudah kena macet), dan pulang ’menikmati’ lagi kehebohan mencari transportasi umum yang mengantarkan kita kembali ke rumah. Yah, beginilah kaum urban belantara metropolitan. Kawasan perumahan di sisi pinggir Jakarta, sementara denyut perekonomian (dan perkantoran) ada di tengah ibukota.

Saya merasakan jadi kaum urban dengan menyaksikan hal-hal baru. Pemandangan di angkot : orang tidur; kumpulan ibu-ibu yang punya energi untuk bergosip ria di dalam angkutan umum; wajah-wajah kelelahan; wanita pekerja di tengah keletihan masih harus memperhatikan posisi duduk supaya paha tak tersingkap dari balik rok span yang sudah minimalis; dering handphone dari berbagai sudut. Dan entah kenapa, bisa menimbulkan ide untuk mencoretkan puisi.


Angkot (Puisi Transport 2)

Terkantuk-kantuk,
Terantuk-antuk,
Badan bergoyang mengikuti irama roda empat,
Mata terpejam membayar sisa malam,
Berkejaran dengan mentari merayap,

Badan dan badan makin merapat,
Ruang pengap memanggang panas dan peluh,
Aroma parfum pun hancur,
Terlindas keringat mengucur.

Selamat pagi Jakarta!
Kusapa kamu dengan debu angkot.


(catatan : kenangan awal pekan berangkat naik angkot dari Ciputat ke Jakarta)

Saturday, May 03, 2008

Indonesia - Inggris, Please

Suatu klien, maskapai penerbangan asing minta Saya meng-Indonesiakan ”most frequent traveller” dan tidak merasa cocok dengan penerjemahan sebagai “pelanggan”.

Hmm.. suatu penerjemahan yang simpel dan sederhana, bukan?
Akan tetapi, klien tidak mau. Dan, namanya juga mengikuti apa kata klien, saya harus mencari padanan yang tepat. Selain menunjukkan diri cerdas mampu menjawab permintaan mereka. Tiba-tiba pusing. Ke dalam materi awal tulisan, Saya memang meletakkan bahasa Indonesia dan Inggris secara campur aduk jadi padu. Suatu maskapai penerbangan nasional saja menggunakan kata ”Frequent Flyer” dan tidak meng-Indonesia-kannya menjadi ”Konsumen Loyal” dan toh, kebanyakan dari kita secara sadar (atau tidak) sudah mengerti apa yang hendak disampaikan tulisan itu.

Ketika Saya dan kebanyakan manusia Indonesia terbiasa dengan media publikasi –seperti majalah lisensi asing dan tayangan televisi- atau lagu yang campur sari. Padu padankan bahasa ibu dengan asing. ”Liga Premiere”, ”Bonus : Free Magazine...”, ”Cara Pakai Mr. Happy (haha.. ini mungkin memang cocok untuk memperhalus bahasa yang jika di-Indonesia-kan jadi kena isu pornografi bagi masyarakat kita yang sering tabu membicarakan hal-hal begituan), ”Jadi Pacar Perfect”...dsb.

Tayangan infotainment pun menampilkan selebritas yang menyampaikan komentar dalam bahasa aduk-aduk.

Saya terpesona memandangi kecantikan seorang model peranakan Indonesia dan bule. Bahasa Indonesianya yang patah-patah pun Saya tak peduli (padahal dia mengais Rupiah di Indonesia hehe...).

Nah, permintaan klien asing ini untuk meng-Indonesiakan semua kata, justru membuat saya garuk kepala. Tersadar kalau si klien dari negeri tetangga saja justru mengingatkan, ”Gunakan Bahasa Indonesia yang Baku dan Benar” di majalah nasional.

Saya pun sore itu segera lari-lari ke perpustakaan kantor. Buka-buka kamus, cari-cari inspirasi di belantara media. Lidah tiba-tiba terasa asam, ingin memantik sebatang rokok tapi sudah berjanji tidak bakal ngebul. Akhirnya, saya pun menemukan ide. Dan maskapai penerbangan itu setuju dengan : ”most frequent traveller” dialih bahasakan menjadi ”pengguna loyal transportasi udara”.

Saya jadi tersadar diri ini –seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya- sudah terbiasa menggunakan Indonesia Inggris secara gado-gado. Ketimbang cari padanan kata dalam bahasa nasional, kita lebih memilih memiringkan bahasa asing ke dalam tulisan. Dalam membuat tulisan terkait profesi jurnalis dan penulis, Saya juga biasa memiringkan kata-kata. ”Orang juga sudah mengerti maksudnya,” demikian pemikiran kita. Lebih gampang. Walaupun jadi lupa untuk memperkaya kosa kata :)

Friday, May 02, 2008

Selingkuh Mata

Agh kamu!
Yang membuatku bersemu pipi jingga
Saat mata kita tertumbuk
Dan diri terpekur

Kamu keajaiban terindah
Dalam sepelemparan jarak
Kutangkap kejora di bening matamu,
Kulumat sampai cair.

Saat kita berpandangan,
Tiba-tiba suara bariton itu memecah pikiran,
”Kamu kenapa?”
”Tidak...” dan ku pun berpaling,
Menatap telaga teduh di sampingku.

Monday, April 28, 2008

How Manipulate U Are? Terinspirasi dari Street Kings


Beberapa waktu lalu, saya menonton “Street Kings”. Film yang cukup bagus diantara berbagai pilihan tayangan di 21 yang seputar film Indonesia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, tapi semakin ga menarik ditonton.

Selain itu, alasan lainnya, saya bisa memandangi lagi wajah Keanu Reeves yang masih seganteng seperti 10 tahun lalu ketika bermain dalam film "Speed" (ups, jangan-jangan dia suntik Botox hehehe....).

Alur cerita film bergenre action ini memang standar. Menyorot hitam putih dan polisi kotor. Keanu Reeves berperan sebagai Tom Ludlow, detektif LAPD yang mencari penyebab kematian mantan partnernya Terrance Washington (Terry Crews).

Namun tunggu dulu! Ludlow sendiri bukan jenis penegak hukum yang bersih. Selain tukang mabuk, Ludlow sering melanggar prosedur. Dan kinerjanya yang bagus di lapangan –meski banyak pelanggaran- selalu ditutupi sang bos, Kapten Jack Wander.

Dari awal kita bisa menebak bahwa kapten dan rekan-rekan berada di belakang aksi pembunuhan dan kejahatan yang diselidiki Ludlow. Tapi, ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakangnya. Film ini memotret polisi kotor, ketika menggunakan ‘aib’ orang sebagai alat pemerasan, atau menyalah gunakan jabatan dan kuasa demi mewujudkan ambisi pribadi. Hmm.. suatu gambaran yang bisa terjadi di negara mana saja, di berbagai jenis pekerjaan dan strata sosial, bukan?

Saya jadi membayangkan kalau diri ini menjadi manusia yang manipulatif. Melihat celah, menjadikan ‘rahasia’ orang untuk mesin cetak duit, atau menerapkan asas manfaat yang teramat sangat. Hmm, betapa cepat kayanya gw ya.. Auch! Tapi menyeramkan agh. Ketika kamu memilih jalan itu, maka ada kenikmatan sekaligus konsekuensi tersendiri.

Sudahlah Eno.. sing lurus-lurus saja... Allah juga ‘mendengar dan menjawab’ doa hambaNya yang bersyukur dan mengolah rezeki secara halal....

Ohya, berarti saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk teman saya yang bersedia ‘menarik-narik’ saya ke bioskop. Gara-gara dia ingin melunturkan ke-bete-an saya, kata dia saya perlu refreshing nonton. Walah bener tuh! Udah beberapa bulan ini saya tidak nonton di bioskop. Thanks ya bro...

Btw, si Keanu Reeves dalam film ini tampak kalah ganteng dengan detektif muda yang diperankan Chris Evans. Haha.. namanya juga yang baru itu lebih segar!

Saturday, April 26, 2008

ke Dokter Gigi

Kemarin pergi ke dokter gigi. Yah, ada lubang kecil di gigi atas. Namun, sepertinya ini juga memicu migren di kepala. Apalagi, jika dari cuaca panas, trus masuk ke ruangan ber-AC. Wuii.... jangan2 ini yang bikin gw belakangan ini galak hehe..

Untung saya sudah menemukan dokter gigi yang cocok. Seorang ibu yang sabar menangani pasiennya. Nah, ini pesan dokter gigiku itu : segera ke dokter jika gigi ada masalah. Lubang kecil pada gigi, dan tertangani secara cepat, maka proses penanganannya juga tidak seribet kalau sudah parah bukan?! Selain itu, periksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi 1x setahun.

Wednesday, April 23, 2008

Yang Hilang Muncul Kembali (Masih Soal si blog)

Setelah melewati berjam-jam nongkrong di warnet memandangi layar monitor pada Sabtu pekan lalu (19/4), lihat hasilnya : Blog saya mulai kembali semarak !!

Memang sih masih proses perbaikan, tapi sudah much better ketimbang seminggu sebelumnya. Muah … muah… thanks ya Ajeng untuk bantu diriku yang memang suka teledor ini membetulkan template yang terhapus. Memang benar deh! Kehandalan kamu terbukti sebagai hasil kuliah di jurusan komputer dan berkutat dengan IT bertahun-tahun :)

Yap! Gara-gara bosan dengan tampilan lama, saya mengganti tampilan muka blog dengan ’wajah’ baru. Akan tetapi, saya lupa menyimpan template lama sehingga beberapa bagian jadi hilang. Bagian tersebut antara lain : si shoutbox, link menuju website orang lain, dan statistik. Yah! Ada perasaan sesuatu yang dirawat sekian lama, telah hilang. (haha! Padahal ada juga periode ’mati suri’ terhadap blog ini).

Thursday, April 17, 2008

Ada yang Hilang

Agh!
Cuma itu yang saya bisa teriakkan.

Berawal dari rasa bosan melihat tampilan blog-ku yang sudah lawas. Tak berubah sejak pertama kali muncul pada 2005.

Setelah memposting satu tulisan pada Jumat pekan lalu (12/4), saya pun mengarahkan cursor ke ’Change Template’... klik, klik, klik.. dan voila! Berubahlah tampilan blog saya.

Tapi.. tapi...lho, kok ada hilang?
”Lho, kan baru Preview (maksudnya baru mau melihat tampilan baru seperti apa)?” kataku membatin.

Dalam tampilan baru tidak ada boks Shoutbox, alamat-alamat link website rekan-rekan, jumlah trafik pengunjung sejak September 2007...Dan apesnya, saya lupa menyimpan template lama. hiks.. hiks..

Berulang kali saya bertanya kepada Ajeng, Merry, dan teman-teman lainnya soal tampilan baru. ”Gimana tampilan blog eno yang baru? Lebih oke nggak?”

Yah, kalau mereka mengatakan lebih bagus ketimbang yang lama, paling tidak ada pelipur lara gara-gara template yang hilang itu.

Hari ini, sudah hampir seminggu sejak kesalahan fatal itu terjadi. Dan, hingga kini saya belum menemukan cara mengembalikan arsip-2 yang ada. Terima kasih kepada teman2 yang pernah mampir di shoutbox-ku. Saya masih berusaha mengembalikan ’jejak para sahabat’ di ruang ini. Sabar ya..

Aku membuang Dirinya


Aku membuang Dirinya
seperti langkah 'delete' dan 'empty recycle bin'
bagai tisu penuh ingus, segera bakar
supaya virus tidak menyebar, dan merusak otakku.

Semalam Aku menangisi Dirinya
Semenit mengenyahkan memori
sejam membungkus kenangan bersama
sehari menghibur diri.

Aku bisa membuang Dirinya
Meski butuh berulang kali
mendengar lagu sedih
dan membuat ipod-ku hang.


(puisi lama yg sudah pernah kuposting di milis BuMa, 24 Juli'07... agak kuedit sedikit)
(gambar dikutip dari : http://www.agnesw.com/wp-content/uploads/2007/04/cry.jpg)

Friday, April 11, 2008

Bekerja Pintar, Jujur dan Ingat Dia





Ada janji wawancara dengan seorang tokoh di dunia bisnis. Belum pernah bertemu, dan mengetahui wajahnya hanya dari foto kecil hasil browse di media. Saya membayangkan bakal bertemu pria jangkung, kurus, dan beruban. Tua deh...

Nah, akhirnya janji wawancara di gedung kantornya terealisasi di suatu malam. Masuk ke sebuah ruangan, saya agak tergagap disambut ramah seorang pria yang terlihat muda (yang pasti memang awal usia 40-an), tampil humble dalam seragam perusahaan. Dengan senyum yang lebar, dia menyambut kami dengan uluran tangan hangat. ”Gile asisten pribadinya ramah benar,” batinku. Lalu saya celingukan, mana sekat yang biasa membatasi ruangan bos dan sekretaris/asisten?

Barulah sedetik kemudian saya tersadar, ”Lho! Ini kan bapak yang kamu mau wawancara!”

(Dasar Eno dodol! Jelas-jelas tadi sore kamu kontak-kontakan dengan sekretarisnya –berarti asisten pribadinya- yang perempuan. Akan tetapi, karena kemacetan dan kemalaman, si sekretaris sudah mengabarkan bahwa dia pulang tanpa menunggu saya dan rekan).

Foto memang menipu. Lalu, saya pun sudah terlebih dahulu melakukan kesalahan awam. “Judge the book by it cover”. Ketika penelusuran diri dia di google (sebelum wawancara) membentuk opini saya bahwa dirinya sosok Midas -si pengubah perusahaan kolaps menjadi pencetak laba, si "think tank " di belakang inovasi bisnis- dan tentulah saya bakal bertemu sosok ‘keras’, ‘kaku’, yang bakal perlu penggalian atau ‘colekan menuju topik yang ia sukai’ untuk membuatnya berbicara.

Namun, ternyata pembicaraan mengalir dengan gaya bicaranya yang cenderung filosofis. Sesekali juga ketawa. Diantara berbagai hal yang dilontarkan bapak 3 anak itu, ada satu hal yang mengetuk hati saya malam ini. Yaitu pendapat dirinya tentang faktor-faktor penting kemajuan seorang karyawan di perusahaan. Pesannya, sebagai pekerja ada tiga hal yang harus dipegang : Bekerja pintar; Bekerja jujur; dan, Bertaqwalah dengan yang Diatas.

Bekerja keras, lembur, belum tentu menghasilkan output bagus. Yang penting soal 'pintar mengatur waktu' dan...tentu menghargai waktu yang tidak bakal kembali.

Jujur.. yah! dimana-mana menjadi manusia harus punya modal kepercayaan. Jika sekali tidak dipercaya oleh orang lain, maka sulit untuk menumbuhkan rasa percaya kembali (lebih parah lagi jika itu berbuntut soal nama baik kita).

Dan ingat, semuanya tentu atas restu Yang Maha Kuasa di atas. Kembali lagi pada persoalan mencari ketenangan, bersyukur, dan bekerja pintar dan 'lurus' juga merupakan bentuk menghargai karunia dari Dia.

Malam itu, seperti titik akhir rangkaian panjang setelah seharian saya tenggelam dalam diskusi bersama rekan-rekan yang berbeda dengan topik soal ’bekerja’ ; ’pindah kuadran’ ; ’masa depan’.

(Gambar dikutip dari www.savagechickens.com/images/chickenwork.jpg)

Tuesday, April 08, 2008

Dangkal…Dangkal….

Habis membaca tulisan seorang freelancer. “Pusing bacanya! Ide yang bagus, akan tetapi pengerjaan yang dangkal, isi tulisan kurang tergali. Dangkal. ” ujarku mengomentari dalam hati. Tentu komentar tadi tidak kulontarkan ke freelancer tersebut. Aku memuji idenya yang mengajak pembaca merasakan denyut perubahan suatu daerah sebagai hasil pembangunan dari tahun ke tahun.

”Pertahankan gaya itu! Tapi... (nah, ini pernyataan biasa sebelum masuk ke hal inti) sebagai pembaca diriku sulit menemukan data atau angka-angka sebagaimana yang dibutuhkan ketika kita membaca suatu laporan,” ujarku.

Ia tak membalas kata-kataku.

Kemudian, diriku kembali ke pekerjaanku. Memandangi layar widescreen 14,3 inci dan menemukan diri masih tak ada ide untuk melanjutkan tulisan kejar deadline sebagai bagian pekerjaan kantor.

Agh! Saya jadi memaki diri sendiri. “Dangkal! Dangkal!” Aku merasa tulisanku tidak ada ’aura’ nya untuk dihadirkan kepada pembaca. Diri ini rasanya tak terbawa dalam baris kata-kata yang mengalir dan menjiwai isi tulisan.

Hehe..ironis ya? Bisa mengomentari pekerjaan orang lain, akan tetapi pusing untuk pekerjaan sendiri. Huh! Inilah resiko menulis ”Made by Order”, sementara jiwa dan perasaan belum tune-in dengan materi yang perlu dipaparkan. Mungkin itu pula perasaan si freelancer itu ketika mengerjakan tugas yang saya komentari barusan.

Ini yang istilahnya problem menulis tanpa ada jiwa yang menyatu dengan materi yang mau dipaparkan. Salut kepada para penulis, yang telah menuliskan karyanya dan berhasil menulis buah pikiran secara bebas. Berarti mereka itu kaum yang telah : ”Menulis Dengan Merdeka.”

Wednesday, April 02, 2008

( Lagi-lagi) Tentang Bekerja dan Semangat

Seorang teman menanggapi saya yang berkomentar soal mobilitas dirinya yang tidak ada cape-capenya. Dia hanya komentar, "Kerja itu ibadah. Jadi bukan hanya untuk kita, tapi juga buat Allah.."

Haha.. Saya tidak tahu pasti juga apakah dia memang sekadar menanggapi, memang begitulah dia menanggapi hidup dan pekerjaannya, atau memang dia workaholic.

Tapi, pernyataan dia paling tidak mengetuk salah satu pintu kesadaranku : Benar juga! Kita harus mempertanggung jawabkan cara kita mengisi hidup di dunia. Dan tentu Sang Pencipta tak ingin ciptaannya hanya bermalas-malasan dan menggerutu pada pekerjaan. Setiap pekerjaan ada hikmah dan rezeki. Dan di setiap 'sandungan' ada pembelajaran di berikutnya.

Renungan ini terjadi ketika saya mengeluh betapa semakin padatnya pekerjaanku. Dan semakin bervariasinya macam tugasnya.

Monday, March 10, 2008

Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data

Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?

Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.

Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.

Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.

Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.

"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."

Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".

Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.

Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.

Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.

Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.

Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.

Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.

(Tulisan ini pernah diposting di www.netsains.com dengan judul "Kiat Menulis: Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data" by Dewi Retno in Category : Communication on 2007-08-30 atau klik judul diatas).

Tulisan Dimulai dari Ide


Pernahkah kamu ‘mati ide’ dalam membuat tulisan? Saya sih pernah, bahkan sering. Makanya pekerjaan kantor berulangkali saya selesaikan menjelang tenggat (deadline). Atau ketika blog saya lama terbengkalai, tidak ada postingan baru gara-gara tidak punya ide.

Padahal, sebenarnya ’ide’ bisa diperoleh dari mana saja dan kapan saja. Ketika tengah menikmati siraman air di saat mandi, membaca buku, menonton televisi, mendengar berita di TV atau radio, bahkan saat terjebak dalam kemacetan.

Masalahnya, bagaimana agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya lupa akibat kesibukan pekerjaan, atau akhirnya topik itu tidak menarik lagi untuk diulas.

Oleh karenanya, supaya tidak lupa, segera catat ide yang terlintas di dalam benak kita, ke dalam block note. Selain notes atau block note, kita bisa simpan ide ke dalam menu pesan pendek/sms di handphone, communicator, dan folder khusus di dalam laptop.

Sebaiknya, memampatkan ide tsbt ke dalam sebuah judul. Mengapa ”Judul”? Karena judul itu menyederhanakan gagasan ke dalam bentuk yang singkat. Ide berupa judul paling tidak sudah menggambarkan pikiran kreatif kita.

Bisa pula saat itu kamu sudah menemukan judul dan beberapa data pendukung yang ingin kamu masukkan ke dalam tulisan.

Jangan lupa untuk mengolah ide menjadi satu tulisan utuh. Ketika kita bakal mengolah satu judul menjadi tulisan, jabarkan Judul itu ke dalam Outline (kerangka tulisan).

Outline atau kerangka tulisan membantu kita dalam menentukan bentuk/isi tulisan. Kerangka tulisan ini bisa berupa tulisan per paragraf/alinea.

Supaya ide tidak menguap karena ’basi’ atau kelamaan dan terlupakan, deadline menjadi cara terbaik untuk merealisasikan ide. Yah, kalau untuk advertorial atau pemuatan artikel yang memang tugas kantor saya sehari-hari, maka tulisan itu memiliki tenggat tayang yang sudah menjadi harga mati.

Nah, bagaimana kalau kita perlakukan pula tulisan di blog dengan tenggat publikasi atau deadline pula?!

Monday, March 03, 2008

Mencintai (Sebuah Awal)

“Ajarkan aku mencintaimu,” bisikku
Menemaniku tergagap berbisik,
”Jadilah bintang, cahaya terang, di telaga tenang”

Jariku masih gemetar
Bergetar menyibak helai rambutmu
Menelusuri lekuk bidang dan membaui aromamu

Buat aku percaya
Saat kita bertukar degup dan kecup

Diskusi Istri ke Suami (Kenaikan Harga)

Bang,
Minyak goreng, cabe merah, rawit, bawang….
Semua naik!

Bang, pusing nih!
Sudah lama coret daging merah
Ayam tiren atau bukan, wallahuallam
Sayur, oncom, tahu
Yang penting 3 kali sehari

Minyak tanah ngantri,
El pi ji....makan duit
Kayu bakar nemu dimana?

Tapi........
Bang, kita masih saling cinta kan?
Maaf kalau pipiku kini kasar
Harga pembersih muka juga naik
:(

Kangen..(Ketik..Tidak..)

:Untuk di seberang


”Adakah kangen di sela kesibukanmu?”
Tak ada jawab
”Kamu tak mau menyakiti?”
Hanya diam

Rindu ini di ujung jari
Ketik...tidak.. ketik..tidak..tid...ket...

Kamu tak tahu
Hati pun butuh testimonial

Tunggu dan tunggu
Jari mengklik status
”I’m busy” dan .... pergi

(ketika perasaan terwakili via YM)

Dari Pikiran Kosong

Bedebah!
Baru hari keempat,
Saya sudah merindunya

Pikiran jahanam mana
Yang dulu membuang dirinya??

Penantian


Kami bertemu kembali semalam,
Menganyam benang putus di tepi danau,
Melebur dalam masa lalu.

Hari ini aku duduk termangu,
Menanti sembari memintal benang tak terajut
Hanya menanti dan termangu
Hujan deras pun meluapkan telaga.


Bogor, 10 Feb’08
(photo by Eno, Bali 7 Feb'08)

Tuesday, February 26, 2008

Pagi

Ia melukis pagi
Bersama langit, mentari, bayu
hanya pikiran bebas merangkul
memilih biru atau kelabu.

(Jakarta, 22-1-08 di suatu pagi )

Beri Bulan Jika Rakyat Membutuhkan

Filsuf dan sastrawan Prancis, Jean-Paul Sartre bertandang ke Kuba setahun setelah Fidel Castro menggulingkan diktator Fulgencio Batista pada 1959. Perjalanan yang akhirnya dibukukan dalam Sartre on Cuba (terbit pada 1961) memuat dialog menarik antara Castro dengan filsuf eksistensialisme itu. Sartre bertanya apakah Castro akan memenuhi semua permintaan rakyat?
+ ”Ya, karena semua permintaan merefleksikan kebutuhan.”
- ”Bagaimana jika mereka meminta bulan?”

Fidel terdiam. Dia mengisap cerutunya dalam-dalam.
+ “Kalau itu mereka minta, berarti rakyat memang membutuhkannya.”

Haha.. menurut gw itu jawaban cerdas untuk pertanyaan abstrak.

(dikutip dari Majalah Mingguan Tempo, 2 Maret 2008, ”Bulan di Atas Kuba”)
Gambar dikutip dari :www.susanderges.com/full-moon-briars

Monday, February 25, 2008

Jagalah Ucapanmu

Eno, gua order untuk (nama kolom). Nanti materi kukirim yaa... bla bla.. ” kata seorang Account Executive (AE) cowok kepada saya. Biasanya materi yang umumnya berupa press release perlu saya baca & edit sebelum dimuat ke dalam rubrik yang memang saya tangani.

Ohya? Tapi kalau materi dikirim lewat email, cc-kan juga ke email yahoo-ku karena yang kantor ga bisa kubuka. Komputerku lagi rusak,” jawab saya.

Komputer lu rusak? Lu makan gaji buta dong...” kata cowo yang gayanya memang sok cool itu.

Monyet! Gaji buta?? Gw panas nih!

Iya memang. Saking giatnya gw kerja, komputer gw sampai mampus,” akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.

Kejadian tadi saya alami saat sedang ngelembur setiap malam untuk mengerjakan tulisan suplemen. Padahal selain itu masih bagi waktu dgn kerjaan lain, dan di saat tidak tepat komputerku di kantor rusak.

Nah, rasanya mendengar ucapan itu sangat tidak enak di kuping. Mungkin saja, dia murni bercanda, atau memang ucapan itu datang dari lubuk hati yang menyangka, ”Jadi penulis iklan enak ya.. Datang ke kantor duduk terus di depan komputer. Ga susah-susah me-lobbying klien dan presentasi supaya klien pasang iklan di tempat kita. Sudah gitu pakai acara bilang komputer rusak!”

Memangnya tulisan kayak bikin panci? Kita juga kayak Empu Gandring yg dapat order keris dari Ken Arok. "Semedi" dulu cari inspirasi supaya keinginan klien matching dengan tulisan kita, browsing data, dilanjutkan menulis, lalu membrief fotografer untuk cari foto yang cocok, lalu menongkrongi anak desain menyelesaikan layout iklan.

Dan hal tsbt bisa membuat para penulis lembur sampai malam. Gua ga pernah tahu lagi sinetron Asia (hehe..kl tidak salah Jak TV pernah memutar film-film model begini), sampai di kos cuma hai..hai... sama temen-temen kos yang kebetulan lagi nonton TV di ruang tengah, cuci muka, ganti baju lalu tidur.

Yah, inti dari kasus saya ini, sekadar mengingatkan diri maupun rekan-rekan : cobalah bercanda dengan cara elegan. Gaji dan desk job bukan hal menarik untuk menjadi bahan guyonan (meski kamu berniat nothing heart feeling dgn pernyataan tsbt). Kita tidak tahu apakah itu saat yang tepat. Apalagi, jika rekan yang diajak bercanda sehari-hari bukan teman dekat. Lebih baik bicaralah seperlunya dan too the point.

Sensor : maaf jika dalam tulisan di atas ada jenis primata yang saya sebutkan.

Tuesday, February 19, 2008

Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Hari Selasa menjelang magrib di ruang penulis. Ruangan terasa senyap, hanya ada bunyi-bunyi yang sama datang dari beberapa sudut. Bunyi itu berasal dari ketukan jari yang lincah mengetik tombol-tombol simbol huruf di keyboard.

Ya ampun! saya kenapa terhibur mendengarnya? Rasanya diri ini sedang 'ada teman'. hehe.. Dari minggu lalu, dengan kondisi badan belum fit, saya hampir setiap malam begadang mengerjakan tulisan-tulisan yang menyita waktu. Puncaknya Selasa ini karena ada deadline tulisan wisata. Berhubung tulisan ini untuk edisi Majalah bahasa Inggris, maka prosesnya lebih panjang. Ada urusan kirim ke penerjemah segala. Dan malam Selasa ini saya harus membereskan semua tulisan yang harus di-translate.

Saat itu, ternyata hampir semua teman satu ruangan punya deadline masing-masing. Dan beberapa teman adalah yang 'repot' saya bebani dengan tugas penulisan dari saya. Yah, beginilah nasib Project Officer (P.O.)untuk tulisan wisata tsbt. Mampus juga kan untuk mengurusi semua tulisan? Bagi tugas lah sesuai waktu dan kemampuan masing-masing. Ga! Ga bangga jadi P.O. penulisan. Rasanya saya lebih senang mengurusi tulisan reguler saja.

Hehe.. tapi suara ketik-ketik keyboard di hampir semua sudut ruang, sangat mempesona gendang telinga saya. Seolah saya tiba-tiba tersadar, "busyet.. semua lagi pada konsentrasi kerja.." Dan timbul ide menulis puisi ini :


Alunan Jelang Kelam (Deadline)

Tuk...tuk tuk tuk tuk...
Tuk tuk tuk.... tuk tuk.. tuk tuk tuk tuk..
Alunan itu terdengar nyaring mengejar sore
Mendesir indah di gendang telinga

Jari-jari makin lincah menari
Keyboard pun bersenandung
’deadline.... deadline...deadline...’


(untuk teman-temanku yang senasib dikejar tenggat tayang. Ketukan jari di tombol2 keyboard itu terasa indah terdengar....)

Saturday, February 09, 2008

Terima Kasih Masih Diberi Umur

Gong Xi Fa Cai…. Happy New Year.

Dari mitos kuketahui bahwa masyarakat Cina mengganggap hujan di hari pertama tahun baru merupakan pertanda keberuntungan dan rezeki. Namun, pengalaman saya di hari pertama Tahun Tikus rasanya bukan menyenangkan.

Kamis lalu (7/2), saya melewatkan Tahun Baru Cina ke 2559, di angkasa. Dlaam penerbangan pulang dari Denpasar ke Jakarta.

Sebelum saya terbang, orang rumah sudah menelpon bahwa Jakarta sempat hujan lebat. Demikian pula dengan kondisi Bali di hari terakhir saya berada, sedang mendung dan sempat diguyur hujan. Apalagi pengalaman terjebak banjir Jumat sepekan sebelumnya dan ’perjuangan’ menempuh jalur ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang tergenang air setinggi ban mobil masih melekat.

Penumpang Garuda Indonesia A330-300 pada malam itu tidak terlalu banyak. Menurut informasi pramugari, pesawat kami ini maskapai ekstra karena banyaknya penumpang yang terbang dari Jakarta ke Denpasar. Dan kondisi sebaliknya terjadi dari Denpasar-Jakarta. ”Sigh, pastilah banyak orang yang memanfaatkan hari libur Imlek dari Kamis itu untuk berlibur ke Pulau Dewata. Sementara saya justru pulang sehabis menunaikan tugas,” kata saya dalam hati.

Penerbangan jam 19.00 WITA on time. Dengan jarak tempuh sekitar 993 kilometer, pesawat berpintu 8 buah melintas di atas kota: Denpasar, Jember, Surabaya, Bandung sebelum sampai di Jakarta. Perjalanan semula terasa lancar. Seperti umumnya, setelah take-off hingga mencapai kestabilan mengangkasa, penumpang boleh melepaskan sabuk pengaman (seat belt). Setelah itu, pramugari mulai membagikan makanan. Saya jadi ingat bahwa hari itu ’spesial’ dari sajian yang dibagikan di pesawat Garuda. Sebuah plum manis yang disimpan dalam plastik dan diikat dalam pita emas, disajikan bersama kartu merah tertera ucapan ”Selamat merayakan Tahun Baru Imlek”.

Namun sekitar 25 menit sebelum kami tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, pesawat bernomor GA 441 mengalami turbulensi. Penumpang musti memasang sabuk pengaman. Dan tak lama kemudian kami yang duduk terasa berguncang, bahkan dua kali kami melompat dari tempat duduk. Hanya tali pengencang seat belt yang menahan kami agar tetap dalam posisi aman.

Kaget? Yap. Jantung terasa berdebar-debar. Dan denyutan tersebut baru hilang setelah pesawat mendarat mulus di landasan. Seusai momen terkaget yang mendebarkan itu, ”Asuransi” menjadi satu kata melintas dalam benak saya.

Kemudian, saya memandang sekeliling. Tiba-tiba saya ‘meratapi’ kesendirian saya. Duduk di pojok jendela deretan bangku A, bersebelahan dengan sayap pesawat tanpa penumpang di sebelah saya. Saya memandang sebelah kanan. Seorang bapak keturunan asing (sepertinya Jepang) duduk terpekur sendirian. Bapak itu sepertinya dalam perjalanan bisnis dilihat dari sisi penampilan dan tas laptopnya. Sementara di ujungnya pasangan muda –sepertinya pengantin baru- tampak saling merangkul. Sang pria memeluk erat pasangan wanitanya yang duduk di dekat jendela yang sepertinya ketakutan.

Bangku deret tiga penumpang di sebelah belakang, sepasang wisatawan Cina setengah baya saling berpegangan tangan.

Saya tiba-tiba merasa na’if. Kenapa hal pertama yang saya ingat adalah ”asuransi”. Saya memang telah dibekali asuransi dari kantor, belum lama ini juga melengkapi diri dengan asuransi pribadi yang melindungi diri dari kecelakaan di kendaraan umum. (Sebagai orang yang sering ditugaskan pergi-pergi, saya memutuskan perlu mengambil asuransi itu). Dan tersadar saya tidak punya pasangan, baik kekasih maupun suami, yang bakal meratapi atau kehilangan saya.

Saya merasa jika saya sampai pada ujung umur, tidak ada orang yang kehilangan. Dalam arti tiada ’anak yang kehilangan ibu’ , maupun ’pria kehilangan pasangan’. Tanpa beban. Mata saya menumbuk kursi di depan yang diduduki pasangan suami istri paruh baya. Mungkin mereka saat itu sedang saling menggenggam tangan dan menerawang memikirkan anak atau cucu mereka yang tengah menunggu di rumah.

Aigh... kenapa saya lupa pada kedua orangtua saya? Kenapa saya lupa saya punya banyak teman-teman yang kemungkinan besar juga meratapi ’kepergian’ku. Saya merasa ingin ketemu bapak dan ibu, serta para ’cuplis’ di rumah Bogor. Di rumah ortu, ada dua keponakan tinggal, masing-masing berusia 6 tahun dan 13 tahun dengan kenakalan yang bikin kangen. Air mulai menitik di kedua bola mata. Saya langsung memutuskan harus pulang ke rumah Bogor, bukan ke kos seperti rencana semula.

Saya segera mengucapkan doa, melantunkan berbagai ayat yang melekat dalam otak, di dalam hati. Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya masih diberi umur. Saat mata menumbuk pada kilau cahaya lampu –kota Jakarta- saya merasa bahagia. Betapa saya cinta kota metropolitan tempat saya mencari nafkah yang sebentar lagi akan kujejakkan kaki.

Thanks God! Saya berjanji tidak mau menikmati wahana permainan yang sengaja mencari debar jantung di Dunia Fantasi (Dufan) untuk sementara waktu. Untuk beberapa waktu saya tidak bakal mencari-cari permainan yang memacu adrenalin. Ternyata ketika kita berada dalam kondisi seperti bermain roller coaster namun dalam kondisi ’pacuan adrenalin sebenarnya,’ antara hidup dan mati, itu bukan hal lucu.

Terima kasih Tuhan. Engkau masih memberi saya kesempatan mengisi hidup ini, semoga dengan hal-hal berguna dan amal kebaikan. Amin.

Thursday, January 31, 2008

Melebur Bersama Malam

Secangkir cappucino, secangkir black coffee
Sekarung cerita untuk dituang
Ada rindu untukku? Ada cerita untuk dipintal?
Sebongkah kisah'tuk dicecap hingga larut memagut


Jakarta, 24 Jan'08
di sebuah sudut kafe

Terkapar di Ranjang

Kau membuatku terkapar di ranjang
Setiap jengkal tubuh meriang kau gigiti
Perlahan, kesadaranku melayang
Bersama antibiotik, rhinos, entah kimiawi apa
Pharingitis, Engkau memang bajingan!



(Pharingitis = peradangan tenggorokan)
(thx kepada dokter yg menyuruhku istirahat :) ..aku jd rajin berpuisi )

Bunga Cinta



Petik… tidak… petik…tidak…
Bunga cinta itu menggoda
Ingin kusemai dalam hati
Bikin jantung dug... dug.. dug....


(photo location : Senayan City, 2 Feb'08)

Pada Sebuah Resah

Engkau masih pribadi resah
Menghitung hutan yang meranggas
Kamu tak sadar, taman hati kita juga mencadas

Kamu yang resah,
Aku yang kalut
Kita yang tak satu pikiran

Engkau melompat pergi
Mencangklong ransel
Aku baru tersadar kita lupa berpelukan
Lupa bertukar harum kota dan aroma liar
Bayangku juga terinjak sepatumu

Pada sebuah keresahan, aku menangis
Firasatku... ini pertemuan terakhir
Kamu yang pergi, saya yang minggat
Rasanya sama saja.

Sedih

Badanku bergetar
Menahan amuk ombak meriak
Kedua mata tak kuat
Bolehkah aku menangis?
Duh! Si perkasa juga butuh buaian

Tiba-tiba aku merindu kehangatan rahim ibu

Puisi

Puisiku saksi bisu kebebasan otak
Ketika kata demi kata melayang
Kurangkai, kuungkap,
Lepas tanpa beban

Saturday, January 26, 2008

Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu (1)

Hidup ini merah jambu
Ketika degup diri melonjak
Menanti sapa dirinya

Hidup ini merah jambu
Saat kami berbalas kisah
Hidupku jadi merah jambu
Gara-gara Cupido mengacak otakku


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)
(Also posted in : auraazzura.multiply.com)

***

Cinta Merah Jambu (2)

Pipi jambu, merona merah
si dia berstatus 'Available'
ia pun menyapa

jari tergetar mengetuk balas "Hai"
dug..dug.. jantung laju berdegup
menanti menit dia membalas

Auch! disconnect
net error di saat tidak tepat
dan hati merah jambu pun meleleh


(Also posted in : mailing list BungaMatahari, Jakarta, 3 November’07)

Cerita Pagi Peramu Kata

Jam delapan lewat tigapuluh menit
Cukup pagi bagi pemerah kata untuk mulai bekerja
Ada kopi pagi menyalakan simpul otak
Ada setumpuk koran untuk ditelisik
Ada satu komputer setia menemani

Jam sembilan lewat bermenit-menit
Satu surat elektronik berbisik,
”Tulisan kamu oke! Klien puas!”
Puas? Saya menarik nafas panjang,
Bukan bangga, tapi berarti’misi telah selesai’

Satu surat elektronik lainnya menohok,
”....Sudah menarik, tapi coba lebih bikin gregetan
lagi.”
Email kamu juga bikin saya gregetan!
Tunggu! Tunggu! Saya kurang apa ya?
Rasanya semua bahan sudah dicampur : kreatifitas,
marketing, dan 'penyedap'
Mungkin adukannya belum merata?

Jam sembilan lewat berpuluh menit
Agh, belum bisa mikir nih
Inspirasiku baru ketok pintu kalau matahari tenggelam
Butuh usaha bagi pengantin drakula menjadi makhluk
mentari.


(Also posted at : mailing list BungaMatahari)
(Jakarta, 17-1-2008)

Manajemen Waktu

Satu hari tetap 24 jam, sementara kegiatan bertambah padat. Saat ini saya sedang mencoba menerapkan Manajemen Waktu, semoga membantu efisiensi kerja. Dengan demikian, meminimalkan penumpukan kerja yang berdampak pada harus lembur atau melek sampai jauh malam gara-gara kerja yang mepet deadline. Buka-buka tip di sejumlah majalah dan akhirnya dari kompilasi, saya coba rumuskan untuk diamanatkan dlm kehidupan. Semoga efektif pula bagi pembaca blog ku :

1. Membuat list. Catat semua kegiatan di agenda :jam meeting & janji temu, pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Kalau semua mengandalkan ingatan, kasihan otak kamu juga kan? Ohya, buat pula skala prioritas mana yang harus didahulukan.
2. Susun file secara teratur dan tega membuang file-file yang sudah tidak lagi diperlukan. Daripada menumpuk di meja kantor dan membuat kamu malas untuk bekerja. Selain itu, penempatan yang ringkas akan memudahkan pencarian yang akhirnya mengefisienkan kerja.
3. Disiplin – strict kepada agenda. Meski memang kadang perlu fleksibel pula misalkan tiba-tiba diagendakan meeting penting, ga mungkin kita bilang ’tidak’ kan?
4. ”Bang A Nasty Job Off” alias BANJO. Yaitu, selesaikan tugas “menyebalkan” dengan segera. Kadang karena tidak suka atau malas, kita kadang menunda menyelesaikan tugas yang terasa tidak menyenangkan. Apabila selalu ditunda, akhirnya tidak pernah diselesaikan. Atau baru dikerjakan saat kepepet karena tugas tsbt ditagih, padahal di depan mata sudah menunggu pekerjaan berikutnya.
5. Membatasi waktu untuk membuka ataupun membalas Yahoo Messenger dan surat-surat yang ada di dalam inbox e-mail pribadi. Jujur YM adalah sarana komunikasi efektif dan simpel dengan rekan kerja di ruangan lain, atau teman-teman yang belakangan jarang saya temui. Akan tetapi membiarkan YM nyala (seperti yang selama ini saya lakukan) sama seperti membiarkan pintu terbuka untuk orang masuk, menyapa dan diskusi dsb. Dengan demikian, kadang konsentrasi kamu terpecah ketika ’sapaan’ masuk, atau malah saya sendiri yang suka iseng menyapa teman ketika teman berstatus Available (maafkan saya teman-teman... ).

semoga tip ini berguna, dicoba dilaksanakan, dan membuat hidup ibarat "bekerja cerdas, bermain pintar, hidup menjadi lebih mudah".

Saya dan Manajemen Waktu

”Wah, SMS nya pagi banget. Jam 4 lewat...,” kata Saya.
”Lho. Memang biasa bangun pagi-pagi gitu,” ujarnya.
Ups. Tiba-tiba sejumlah perasaan khas wanita menyerang saya. Saya jadi takut, dia berpikir, ”Pasti nih cewek tidak sholat subuh (memang iya..)”, atau ”jadi cewek kok malas ya. Bangunnya siang boo....”

Saya speechless... Cuma berkomentar, ”Iya nih bangun kesiangan....” dan terusan yang tidak kukatakan: makanya aku baru balas SMS dengan telpon ini di saat jam makan siang.

”Lho, memangnya ga kenapa-kenapa sama kantor?” tanyanya.
”Mmm.... kantorku lumayan fleksibel sih. Asalkan kerjaan beres, memenuhi 8 jam kerja sehari.”

(hehe Eno bo’ong ah. Liat tuh lembaran daftar absensi yang dibagiin setiap awal bulan. Di selembar kertas itu tercetak lengkap tanggal dan hari kerja, jam masuk, dan jam pulang. Ada pula keterangan jumlah jam kerja, lembur dan keterlambatan dari jam masuk yang seharusnya 08.30 ! Memang benar tidak ada punishment, alias resiko tanggung sendiri. Datang siang hari berarti menyelesaikan kerja jauh di malam hari.)

”Iya..Iya...” balasnya. Setelah itu kami mengobrol singkat ga penting dibahas di blog ini. Tapi di hari berikutnya dia menyapa saya via SMS dalam waktu lebih siang. . :))

***

Saya mau membahas Time Management atau Manajemen Waktu. Saya ga ngerti deh apakah memang orang itu sudah bawaan dari sononya bisa bangun pagi, cara membagi waktunya yang baik, atau memang kantornya yang strict terhadap jam kerja.

Saya juga tidak mengerti apakah bidang engineering memang lebih teratur ketimbang pekerja kreatif. Rasanya selama saya menyandang profesi sebagai wartawan, dan kini penulis iklan, adalah hal susah untuk masuk kantor di pagi hari.

Sewaktu menjadi wartawan media cetak harian, teman-teman di kantor tertawa kalau melihat jam undangan yang pagi hari. Pagi hari ini berarti dibawah jam 10.00 WIB. Bukan karena kita doyan acara menjelang makan siang (ups sori...pasti wartawan sanggup bayar makan siang dari kantong sendiri!), akan tetapi rata-rata kami baru bisa bangun jam 9.00-an. Bahkan ada yang lebih. Ini terjadi karena ketika orang lain/pekerja kantoran sudah balik ke rumah atau masih terjebak kemacetan otw home, kami masih sibuk mengetik, mengejar deadline, bahkan tak jarang masih menelpon narasumber minta konfirmasi. Selesai kirim tulisan ke redaktur belum tentu langsung pulang. Kadang itu saatnya kita ngumpul di warung kopi, ngobrol, membahas liputan hari ini, dan kalau mau serius adalah memikirkan suatu isu untuk dikembangkan dalam liputan esok hari.

Kalau pulang ke kos, kadang ada rasa sirik dengan teman kos yang sudah istirahat dan bersiap tidur, sementara kita baru pulang. Tapi menjadi kenikmatan tersendiri pula ketika mendengar ’gedebak-gedebuk’ rekan kos yang berangkat kerja, takut terkena macet dan tak mau terlambat datang, sementara kita masih bisa melingkar di tempat tidur. Keuntungan lain adalah tidak mengantri kamar mandi.

Namun, persoalan yang kini saya hadapi adalah jika kamu baru kerja di saat mentari sudah bersinar galak (dengan asumsi datang kantor jam 10-an ke atas) maka terjadilah ritme kerja yang mundur dan baru kelar malam hari.) Akhirnya, ada pula beberapa urusan tertunda keesokan hari. Asumsi Jika baru pulang malam hari, maka otomatis bangun siang, dan terjadilah ritme masuk kerja siang hari dan pulang malam hari..

Masalahnya mata saya sudah terbiasa menjadi makhluk malam. Sekali saya disentil begadang, maka waktu tidur saya bergeser menjadi jam 3 atau 4 pagi. Dan bangun bukannya bisa cepat.. minimal baru bangun jam 9.00 pagi.

Insomniakah ini termasuk? Saya sendiri kuat melek sejak kecil. Akan tetapi, saya berusaha di tahun ini untuk mencoba mengatur waktuku lebih baik.

Monday, December 31, 2007

Selamat Tinggal

Bintang itu masih menemani di Sabtu pagi
Ketika saya memintal rindu
Bersama pria pemilik senyum lengkung bulan sabit

Namun bintang hanya ilusi di Sabtu pagi
Terhapus hujan di sore hari
Bakal tiada lagi coretan cinta
Ketika jejak di pasir terhapus badai

Thanks God for this Year





Akhir 2007 ini gw kenapa jadi desperate ya? Ga semangat! Seperti cacing tanpa tulang yang tak berdaya di batu cadas nan panas, aku merasa tahun ini ’busuk’ banget deh. Hmm.. mungkin akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat akhir tahun berakhir sedih untuk kehidupan pribadi gw kali ya.

Tapi tunggu! Hal positif memang suka ketutup hal negatif. Ada baiknya aku coba list dulu hal-hal berarti dalam hidupku selama tahun 2007 :
1.Suplemen Tren & Style’07 yang ku-komandani dari sisi tulisan mendapat pujian
dan dari sisi billing juga mendapat target yang memuaskan. Tentu saja ini
berkat kerjasama dengan teman-teman sekantor, khususnya partner kerja yang solid
seperti Hiras yang jago jualan (hehe, salut sama abang satu ini...), mas Koko
dengan desainnya yang ciamik, mas Dian, mas Adhi, serta para penulis,
fotografer dan teman-teman Trafik yang bersedia gw cerewetin dan kutelpon jauh-
jauh dari Aceh :D
2.Pertengahan tahun ini aku tugas ke Aceh. Bahkan sempat menyeberang dan merasakan
snorkling di Sabang. So, sepertinya aku sudah bisa mengatakan puas pernah
melanglang ke berbagai daerah di Indonesia, meliputi Sumatra (Aceh, Medan,
Pekanbaru, Batam, Palembang, Musi Banyuasin, Silungkang & Bukittinggi Sumbar,
Lampung), Jawa (Anyer, Bandung, Jakarta, Purwakarta, jalur Pantura, Semarang,
Yogyakarta), Bali, NTB (Lombok), dan Kalimantan Timur. Sedangkan wilayah Sulawesi
(Manado & Ujung Pandang) dan Irian Barat pernah saya diami ketika ikut orangtua
bertugas.
3.Juara ke-2 Writing & Photo Competition dari salah satu pusat belanja di Jakarta.
4.Mempercantik dan memperbaharui website blogspot yang sudah lama tidak
kuurus. Serta menambah situs blog baru di Multiply (dan mendapat teman-teman baru
yang kukenal via MP).
5.Dapat teman-teman baru di luar lingkungan kantor.
6.Mengganti kamera digital saku Kodak-ku yang 4 megapiksel ke Nikon beresolusi 7
megapiksel.
7.Niat berolahraga teratur lumayan terealisasi dengan sempat rutin berenang dan
aerobik.
8.Februari’07 dapat kos baru, yang nyaman dan dekat dari kantor.
9.Pertama kali merasakan kenaikan gaji di kantor baru :p
10.Dapat bonus di akhir tahun :D
11.Anehnya.... tahun ini tahun gw paling tidak bisa menabung. Tapi alhamdullilah
rezeki ada saja...hehe...
12.Mencoba menulis ilmiah tentang komunikasi dan teknik penulisan –berdasarkan
pengalaman kerja- untuk diposting di situs Netsains.
13.Berkat tulisan tersebut, memperoleh undangan sharing pengalaman dlm pelatihan
penulisan di Kementerian Ristek.
14.Bermimpi suatu hari dapat melihat dan berkunjung ke observatorium Boscha,dan hal
ini terealisasi hanya dalam hitungan minggu karena bersama komunitas Netsains aku kesana awal Desember’07.

Apakah sejumlah pencapaian yang kubanggakan selama 2007 cukup worthy dibalas dengan kondisi ”tutup buku yang tidak indah” ?

(ohya, salah satu resolusi 2008 adalah mengecilkan pipi gembilku spt tampak dalam foto..sebenarnya bikin gw terlihat cute tapi apadaya orang lebih bilang itu 'gembil' hehe)

Wednesday, December 12, 2007

Perpustakaan Pribadi




Setiap pulang ke rumah Bogor, saya sering merasa bersalah terhadap tumpukan buku-bukuku. Mereka tersebar, ada di lemari, ditumpangkan di lemari buku Papa, atau tersimpan dalam kardus-kardus bekas.

I’m a bookaholic. Pecinta baca buku, termasuk (membeli dan) mengkoleksinya. Mulai dari komik dan serial bergambar, novel, hingga text book zaman kuliah. Termasuk juga sayang membuang majalah-majalah. Bahkan, beberapa company profile ada yang saya simpan. Cetakannya yang luks dengan sejumlah foto pendukung yang eye catching, membuat saya rela menyimpannya. Sepertinya, saya memang jatuh hati setengah mati dengan hasil karya berkat ciptaan Johannes Gutenberg ini.

Keinginan saya suatu hari memiliki perpustakaan pribadi untuk buku-bukuku. Suatu tempat yang layak untuk koleksi buku, termasuk CD dan album perangko (iya! Saya masih bisa menyatakan diri sebagai kolektor perangko dan kartu pos yang kukumpulkan sejak zaman SD)...Toh saya mengeluarkan sejumlah uang untuk membelinya.

Pernah pula Saya berandai-andai memiliki Taman Bacaan, lengkap dengan sofa berbantal empuk untuk membuat betah para tamu menikmati bacaan. Tapi, berarti hal itu high maintenance dan butuh modal bukan?



Gambar biblo :
http://www.istockphoto.com
http://www.elpais.com

Pemanasan Global (versi Pemahaman Standar)

Hujan kali ini tidak meruapkan aroma tanah
Harum yang kukangeni saat pulang ke rumah
Rerumputan hijau berganti tembok pucat
Manusia bertambah butuh rumah

Hujan kali ini tidak seperti biasanya
Aku semakin tidak mengenalnya,
Kata orang ini gara-gara pemanasan global
Iklim tak terprediksi
Es di kutub mencair
Dan membuat akhiran ”...Ber” bukan mutlak bulan penghujan

Saya tak punya mobil hybrid
Cuma tahu sejumlah tips hemat ala diri sendiri
Kantung plastik dipakai berkali-kali, produk refil lebih murah ketimbang dalam botol, Pakai kertas bolak-balik hingga lecek dan di-kilo-in ke pemulung

Kata orang sebenarnya kita cukup punya 5 pasang pakaian dalam setahun
Mungkin yang ngomong itu jagoan mix n’match handal?
Atau bukan anak kos yang ngantri mencuci?

Semua membahas perubahan iklim
Sekarang selebritas berkata “go green”
Apakah mereka masih pakai sepatu kulit asli dan berpengeras rambut?
(Katanya sih produk sekarang non aerosol)

Saya masih merindu hujan berbau ilalang
Sambil terpekur di bale-bale sembari mengulum tusuk gigi
Ugh! serat daging hamburger menyelip di geligi
Saya baru tahu pula untuk membuat daging yummy berlapis roti ini menghabiskan ribuan energi,
Dan aku memandangi tusuk gigi, ”Agh, apakah si batang kecil ini juga mengakibatkan hutan meranggas?”

Membuat Resolusi Tahun Baru

Sebentar lagi tutup tahun, ya?
Desember yang tinggal hitungan hari, bakal kamu penuhi dengan tenggat waktu berbagai target akhir tahun, resolusi yang ingin dicapai di 2008, membuka ingatan kembali apakah tujuan yang digoreskan di awal 2007 apakah sudah tercapai.

Ketika melangkah ke rak penjualan koran atau majalah, sejumlah media pasti mengingatkan kita untuk mencanangkan resolusi, lengkap dengan tips membangkitkan semangat dan susun target di tahun baru.

Kenapa sepertinya –harus- tahun baru kita mengadakan pembaharuan? Titik tolak yang idealkah? Rasanya titik mula tetapkan goal setting bisa kapan saja bukan? Bisa saja dimulai dari hari ulang tahun, saat menimbang berat badan ternyata berat sudah melewati ukuran ideal, atau saat ’ditampar’ oleh kejadian yang membuatmu tersadar bahwa kamu harus berubah.

Desember adalah bulan terakhir dalam kalender masehi, dan lingkaran tarikh itu kembali di awal pada Januari. Bagi pekerja kantor ritme kerja tetap 5 hari dari total 7 hari dalam seminggu. Tidak ada jeda Rencana, Target, Prioritas atau Deadline gara-gara ”Ini kan Tahun Baru”.

Tahun baru hanya pembenaran pesta bagi partygoers, party organizers atau industri jasa : End of The Year Sale, Gebyar Akhir Tahun, New Year’ Party, so on and bla.. bla.. bla..

Tahun baru berarti saya harus menyusun rencana di 2008, sembari tetap menyelesaikan tugas yang di depan mata. Dalam catatan agenda pun sudah mulai terisi beberapa catatan-catatan kecil dan posting.

Aghh.. kenapa saya jadi makhluk yang sinis? Tahun 2007 ini saya memulainya tanpa memiliki resolusi tahun baru. Saya sangat menikmati let it flow, kemana air mengalir. Bukan tanpa alasan. Jenuh dengan target dan kecewa dengan realisasi? Mmmm....Saya hampir 2 tahun bekerja di perusahaan sekarang –satu tahun penyesuaian dan satu tahun berikutnya dalam fase menyelami, menikmati (dan berusaha menikmati setiap keruwetan) perpindahan kerja dan penyesuaian diri.

Mungkin sudah saatnya di tahun berikutnya si ‘ranting’ pasif ini memutuskan berubah aktif, melawan arus, mengikuti riak, maupun menerabas. Ataupun menepi dalam hening untuk menguatkan langkah. Perlu membuat ”Resolusi Tahun Baru” sebelum tenggelam membiarkan waktu, hari, minggu dan bulan berlalu statis.

Oke, sebelum jam 12 malam berdentang pada 31 Desember 2007, saya sudah menggoreskan niat dan tujuan yang ingin saya capai di 2008.

Sunday, December 09, 2007

Saya Ga Bisa Posting di Blogspot (Merawat Kesetiaan)

Ternyata lebih susah merawat ketimbang membuat blog.

Posting di alamat blogspot-ku ini seperti perasaan gw pulang ke rumah ortu di Bogor :

- kangen rumah tapi ga bisa pulang karena kesibukan kerja
- pengen pulang, tapi malas untuk jalan ke terminal lebak bulus
- ingat rumah tapi punya mainan baru yang lebih menarik untuk diselami (nama mainan itu : multiply)

Iya, ada jeda yang lama saat mengisi blog ini karena kerja yang menyita waktu (walaupun ada yang bilang, seseorang yg produktif tidak menjadikan "kesibukan" sebagai alasan). Tapi kalau mau jujur, saya nge-blog di kantor, dan ternyata di kantor yg sekarang saya tidak bisa posting blog...hehe...

Ups, jangan kategorikan saya pekerja tidak produktif karena mencuri waktu melakukan hal yg bukan kerja inti. Nggak! Cuma, saya mengalami masalah kemudahan posting. Ga tau kenapa di kantor yg sekarang, saya tidak menemukan masalah untuk bisa membuka situs blog diri & milik sendiri. Hanya saja, kalau saya mau membuka account blog, maka setelah itu web menampilkan pesan error dsb (maaf ndak ngerti teknologi jd ga bisa jelasin masalah secara terperinci). Intinya saya tdk bisa posting tulisan secara lancar di blogspot, keinginan menulis tetap menggebu-gebu, dan akhirnya punya pelabuhan baru di layanan blog yang lain.

Akhirnya saya membangun rumah kedua di ranah maya pada layanan multiply. Web itu membawa kebahagiaan baru ketika saya bisa posting foto, tulisan, dsb, serta bisa menambah kenalan baru sesama pemilik account multiply. Ego pribadi saya terasa dielus-elus ketika tahu blog saya membuat teman lain mampir berkunjung. (Ups, saya sudah mengarah pada narsistik kah?)

Saya tidak bermaksud membandingkan dua fasilitas layanan online diary itu. Blogspot adalah rumah pertama, yang selalu menjadi tempat perdana untuk berlabuh. Namun, saya juga ingin merawat kesetiaanku pada situs yg sudah kubuat di MP. Saya sendiri tidak membuat klasifikasi apa yang harus kuposting di blog dan kategori layaknya kutuliskan di dalam MP. Jalani saja. Mmm, adakah orang yang kehilangan tulisanku di blogspot? duh, ge er sekali saya ini :))

Adakah yang mau mampir bertamu ke rumah pertama dan rumah kedua Saya? Saya bakal sambut dengan senyum manis si emoticon :) dan secangkir kopi hangat nan harum.

:)

Kalau dipikir-pikir, emoticon :) rasanya paling sering kugunakan. Saat menuliskan pesan di SMS, membalas dialog teman di YM, atau ketika menyapa rekan di shoutbox, tulisan email dsb.

:) mewakili senyuman manis. Menjadi pengganti lengkung senyum bibir saat kita berdiskusi dalam tatap muka langsung. Menandakan kita mengamini pembicaraan lawan diskusi.

:) sebagai penanda sikap ramah, dan menjadi salam penutup bahasa tertulis ketimbang sekadar tanda titik atau "."

Monday, November 12, 2007

Alasan Pindah Kerja

“Eh, tau si A mau resign ? Dia kan bakal pindah ke perusahaan X,” kata teman saya di suatu pagi yang belum sibuk di hari kerja.

“Oh.. kapan cabutnya? Akhir bulan ini?” tanyaku sambil menyesap kopi encer yang kini harus kunikmati setelah berkali-kali maagku kambuh akibat addict kopi super kental.

“Idih, malah udah mengajukan surat resign say… Katanya gaji di perusahaan X besar lho,” balas temanku itu. Saya pun manggut-manggut. Kami, saya dan teman minum kopi di pagi hari, serta si A yang menjadi obyek pembicaraan, bekerja di perusahaan sama. Di tingkatan strata jabatan yang hampir sama meski beda divisi, maka tentu tanpa bertanya, atau tepatnya saya malas bertanya, saya mengerti definisi “besar” di akhir kalimat teman saya tersebut.

“Iya ya. Orang berhak mencari yang lebih baik,” sahutku. Teman saya menyahut tanda setuju hal itu.

Mungkin jika kamu dalam posisi saya, mendengar kabar tersebut, apa yang terbersit dalam otakmu? Macam-macam. Betapa beruntungnya si A dengan rezeki yang lebih “besar” itu. Tiba-tiba menghitung sudah berapa lama bekerja di kantor yang sama, dan merasa perlu mencari pekerjaan baru dengan alasan ternyata masih ada rumput tetangga yang lebih hijau. Atau, jadi teringat resolusi kerja yang kamu niatkan di awal tahun dan bertanya-tanya apakah sudah tercapai?

Mungkin saja “besar” bagi seseorang tidak identik dengan gaji. Tapi bisa saja misalkan keseimbangan pribadi antara kerja dengan pengembangan pribadi. Kalau mengutip tips karier di media massa atau media online, gaji dan fasilitas menjadi salah satu komponen penentu alasan kamu pindah kerja atau bertahan.

Semakin menggilanya kemacetan di Jakarta bisa juga menjadi alasan mengapa Anda memutuskan pindah kerja atau ganti kuadran profesi seperti ajaran Robert Kiyosaki. Seandainya kamu bangun 05.00 pagi untuk persiapan ke kantor, terus jarak tempuh rumah-kantor bisa memakan waktu 1,5-2 jam, kemudian jam pulang pun memakan waktu 2 jam bahkan lebih, rasanya berapa banyak waktu yang terbuang di jalan. Kalau sudah demikian, saya kadang berandai-andai perusahaan memperbolehkan pekerjanya untuk bekerja di rumah dan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti Internet, fax dan telepon. Tentu saja biaya yang ditimbulkan perangkat ini menjadi komponen fasilitas yang dibayar oleh kantor :p

Apapun pilihan kerja, termasuk bertahan atau pindah, itu adalah bagian pilihan hidup. Setiap orang punya alasan menemukan dan menentukan pilihan-pilihannya.

Friday, November 02, 2007

Nasionalisme dan Produk Dalam Negeri

Suatu majalah internal pusat perbelanjaan dalam edisi 17 Agustusan mewawancarai beberapa konsumennya soal nasionalisme. Mereka ditanya bagaimana mempertahankan nasionalisme dan rata-rata menjawab dengan menggunakan produk dalam negeri.

Jika saya disuruh merealisasikan jawaban tersebut dalam sikap, tentu paling gampang adalah : memilih mengenakan daster. Iya kan. Daster batik yang memang asli dibuat di Yogyakarta, dikerjakan secara handmade oleh pengrajin batik ber-KTP D.I. Yogyakarta dengan memanfaatkan lilin malam. Sekalian saja, saya rajin mencuci batik tersebut dengan Lerak.

Tapi sekarang jadi balik bertanya, definisi produk dalam negeri itu seperti apa : merek lokal; dibuat di dalam negeri sendiri dan dihasilkan oleh SDM lokal; atau berarti menggunakan produk kerajinan UKM?

Padahal, sebut saja kita minum air mineral berlabel Aqua. Merek itu memang buatan lokal dan sumber bahan baku berasal dari mata air dalam negeri. Akan tetapi pemegang saham perusahaan kan Danone yang notabene perusahaan asing.

Semen memang berbahan baku gamping asli Sukabumi atau daerah di Indonesia lainnya. Namun apakah kita jadi tidak membangun rumah karena nama-nama pemodal asing seperti Holcim, HeidelbergCement, dan Cemex masuk di dalam jajaran pemegang saham perusahaan semen lokal?

Apa kamu, atas nama cinta dalam negeri, tidak mau memanfaatkan komunikasi via telepon selular gara-gara pemegang saham operator telekomunikasinya adalah negeri jiran dan pembangun jaringannya juga perusahaan asing? Padahal kamu tentu sudah merasakan hidup lebih mudah gara-gara yang namanya Handphone dan Internet.

Saya pribadi tentu tidak mau menukar kosmetik saya ke merek lokal demi cinta produk dalam negeri. Daripada muka saya jerawatan dan merah-merah gara-gara tidak cocok, lebih baik saya merogoh kocek untuk merek asing yang memang sesuai kulit saya.

Mungkin sebenarnya kompleks ya? Tidak sekadar slogan “Aku Cinta Produk Indonesia” yang rasanya itu sudah menjadi romantisme awal negara kemerdekaan. Dan kini kita hidup di dalam bumi yang mengenal istilah ‘kapitalis’, ‘liberalisme’, dan ‘pasar bebas’. Ketika mencomot barang belanjaan di gerai hipermarket tentu tidak (jarang) mempedulikan apakah itu dibuat oleh perusahaan PMA atau PMDN, apakah produsen taat bayar pajak. Yang penting cocok harga, cocok mutu, sesuai kebutuhan, lalu pindahkan ke keranjang belanja.

Tapi, bagaimana jika menjawab cinta tanah air dan nasionalisme melalui tidak melakukan illegal logging dan tidak membuang sampah sembarangan yang berujung pada banjir dan longsor.

Cara lain dengan meminimalkan pemakaian kantung plastik kresek dan siap sedia membawa tas tenteng dari bahan kain. Lebih memilih kemasan refill, dan mendaur ulang botol beling atau plastik untuk perangkat lain.

Tertib dalam mengantri dan tertib mematuhi perundang-undangan, maupun rambu lalu lintas. Memenuhi kewajiban membayar pajak dan juga agar pengemban uang pajak memanfaatkan dana tersebut dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat seperti slogannya.

Seandainya ada yang perhatian terhadap pembangunan ruang publik berupa taman, perpustakaan umum, scientific center dan gedung kesenian.

Apakah saya juga mesti berdamai dengan e-book gara-gara berjuta hektare pohon musti ditebang demi memenuhi kebutuhan kertas bahan baku buku, majalah, dan koran?

Wednesday, October 24, 2007

Selamat Jalan, Mbah Dauzan...

Saya ‘mengenal’ dirinya dari Kompas tahun 2004. Dan dari posting milis yang dikirimkan oleh teman, saya mengetahui bahwa beliau meninggal. Beliau yang kumaksud adalah Dauzan Farouk, sosok yang dikenal dengan Perpustakaan Keliling Majalah dan Buku Keliling Bergilir (MABULIR) meninggal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu pagi (6/10/2007).

Bapak delapan putra-putri kelahiran Kampung Kauman, Yogyakarta pada 1925 itu, mendirikan Mabulir karena terinspirasi dari masa kecilnya membantu ayahnya, H. Muhammad Bajuri, yang mengelola Taman Pustaka Muhammadiyah pada zaman sebelum Indonesia Merdeka.

Sosok yang saya lihat di media cetak nasional pada 3 tahunan lalu, saat itu sudah ringkih termakan usia. Namun, sebagai bookaholic, saya terpesona dengan “perjuangannya”. Pada tahun 1989 Mbah Dauzan menghabiskan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 untuk membeli buku kemudian mendirikan perpustakaan bergilir bernama Mabulir. Mbah Dauzan pun berkeliling kota Gudeg mengedarkan buku-bukunya secara gratis.

Setiap hari sejak bangun tidur, lelaki tua itu membaca buku, merapikan dan memperbaiki sampul sebagian buku-bukunya yang mulai rusak. Aktifitas meminjamkan aneka buku dilakukannya sore hari dengan bersepeda atau naik bis kota. Ia mendatangi kelompok bermain anak, siswa-siswa di sekolah, remaja mesjid, dan pemuda Karang Taruna. Kelompok pengajian, tukang becak yang tengah mangkal, bahkan para ibu penjual di pasar-pasar, tak luput menjadi ‘sasaran’ untuk dipinjami buku secara gratis.

Konsistensinya membuahkan penghargaan seperti Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tahun 2005 , Paramadina Award 2005 dan Lifetime Achievement Award dari Sabre Foundation, sebuah NGO di Massachusetts, Cambridge. Pada April 2007 di acara World Book Day Indonesia, Mbah Dauzan Farouk mendapat gelar sebagai Pejoeang Literasi Indonesia.

Tapi tentu bukan penghargaan yang Mbah Dauzan cari. Namun tentu ini adalah kata hati yang direalisasikan dalam bentuk nyata untuk suatu nilai yang tidak kuantitatif.

Saat kecil, saya memang lumayan hidup berkecukupan aneka buku dari orangtua. Mulai dari buku pengetahuan umum, biografi ringan, komik-komik, buku dogeng, maupun majalah dan Koran. Saat berkunjung ke perpustakaan daerah saya sempat berkomentar dalam hati, “Lho, ternyata masih lebih menarik koleksi buku di rumah saya.” Tapi mohon maaf kepada siapapun yang tersinggung pada pikiran saya saat itu, karena saya baru sadar setelah beranjak dewasa bahwa tidak semua orang bernasib seperti saya. Orangtua saya, meski kondisi hidup bukan terbilang mewah, namun masih meluangkan uangnya untuk menambah khazanah pengetahuan semua anak-anaknya. Selain itu, saya kebetulan mengenyam pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas di sekolah yang perpustakaan nya memadai dari segi fisik ruangan maupun koleksi.

Akan tetapi, tentu tidak semua bisa seperti saya kecil. Ongkos produksi buku yang terus menerus melambungkan harga jual, begitu banyak pilihan buku yang tidak bisa diikuti kondisi finansial, atau karena kebutuhan primer yang mau tidak mau harus dicukupi sehingga buku menjadi prioritas tersier, masalah aksesbilitas bacaan, dan problematika mencerdaskan bangsa, tentu menjadi salah satu dari sekian banyak alasan mengapa kita membutuhkan banyak Mbah Dauzan.

Mbah Dauzan selalu membaca semua buku sebelum dipinjamkan kepada para pelanggan, walaupun untuk membacanya harus menggunakan kaca pembesar, sebagai bentuk ingin memberikan bacaan yang terbaik.

Lelaki yang tidak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Timur Universitas Gadjah Mada itu telah mengambil peran dalam mencerdaskan manusia melalui buku bacaan yang dipinjamkan dari satu tangan ke tangan lain. Namun satu hal yang harus diingat pula, ketika berurusan dengan ‘pinjam meminjam buku’ maka problem lainnya adalah kadang pembaca buku tidak memperlakukan buku dengan layak. Pernah menemukan buku perpustakaan yang disobek pada halaman tertentu? (Bahkan saya pernah menemukan hal ini di koleksi skripsi S1 di perpustakaan). Pernah mendapat buku yang dikembalikan dalam kondisi lecek, keriting, atau, lebih parah, terkena minyak? Nah, saatnya kita juga memulai menumbuhkan semangat “Sayang Buku”. Meski itu bukan milik kamu pribadi.

Namun, sosok seperti Mbah Dauzan tidak berpikir materi. Ia meminjamkan dengan sistem bergilir, yang disebutnya sebagai sistem multilevel reading. "Mengelola perpustakaan keliling adalah bisnis dengan keuntungan abstrak. Landasannya kepercayaan sehingga aturannya tidak perlu birokratis. Dagangan Tuhan. Tidak perlu ada KTP atau apa.
Sesama manusia saudara, harus bisa dipercaya," ujarnya seperti dikutip dari Kompas.

Perjuangan Mbah Dauzan telah berhenti hingga hembusan nafas terakhir dan jazad dimakamkan di Makam Pejuang 45, Gamping Sleman Yogyakarta. Selamat jalan Pejuang Literasi Indonesia….

(sebagian sumber tulisan dikutip dari www. muhammadiyah. or.id dan Kompas)

Sunday, October 21, 2007

Merenungi Hidup (Umur Tambah Setahun)



Selang sehari setelah hari ulangtahun, Saya justru jatuh sakit. Dimulai dari demam, dan diikuti perut perih. Kukira radang tenggorokan biasa, hingga akhirnya perutku semakin melilit (hm, kurasa maag kambuh), pusing, dan lemas.

Hingga membuat diriku merasakan terbaring di IGD rumah sakit. Pertama kalinya merasakan jarum infus membantu pemulihan cairan di dalam tubuh.

Membuat saya ingat bahwa lagi-lagi saya belum menghargai hidup. Si kopi addict ini masih melanggar aturan, dan masih ‘bermain-main’ dengan hembusan nafas karunia Tuhan. Ia ‘menampar’ diriku kalau saya perlu merawat diri, belum banyak rencana yang kurealisasikan, dan semua itu bakal tak terwujud jika kesehatan tidak dijaga.

Tambah usia artinya tambah bijak, tambah cantik, tambah banyak rezeki, tambah tabah dalam cobaan. Semua harap itu pasti akan direstui olehNya.

Hehehe… terima kasih kepada orangtua, kakak, abang, keponakan, sahabat-sahabat, mantan teman kuliah, maupun teman kantor yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada diriku. Terima kasih atas doanya :)

Friday, October 19, 2007

Aku dan Bintang (Berharap Bertaut)



Aku dan Bintang terpisah rentang
Berharap bercengkerama di padang ilalang
Menikmati kelam, mengecup kasih
Berteman langit malam

Aku dan Bintang tengah mengatup harap
Menyebutkan satu permintaan
Semoga kisah ini abadi

Aku dan Bintang bertemu di padang ilalang
Merajut mimpi, mengait degup
Hingga sang mentari membunuh ksatria kejora

Monday, October 01, 2007

Mumet

Tik tok
Tik tok
Sejumlah menit berganti jam
Tampilan layar di depan mata masih kosong
Tiada kata terpampang
Agh! Ga punya ide nih!

Maaf, Kalau Blog Ini Lama Dikosongkan

Maaf kalau blog ini lama dikosongkan.
Bukan saya melupakan ranah pribadi tempat mencoret-coret segala yang saya mau.
Cuma karena keterbatasan net, tidak punya ide, dsb....

Sunday, September 30, 2007

Bercabang


Kau tawarkan senyum indah
Saat aku merindu dia
Ku menikmati sanjungan
Setiap degup rinduku terbagi

Thursday, September 20, 2007

Renungan Ramadhan


Saya lagi tidak puasa, tapi harus menahan haus dan lapar. Alasannya, saya harus menghormati yang sedang menjalankan ibadah tersebut. Ketika saya mulai berpuasa, tidak ada yang memahami saya baru tahap penyesuaian, sementara orang sudah menghitung hari ke-4.

Para penjaja makanan dekat kantor rata-rata pulang kampung, tanpa berpikir masih ada peluang konsumen (dengan kata lain, ada peluang penghasilan). Kenapa orang harus mudik di saat awal Ramadan, padahal masih ada waktu lebih kurang 30 hari berjualan buat tambahan uang pulang saat Lebaran?

Di antara 12 bulan dalam setahun, kenapa hanya 1 bulan menjadi momen kita beramal dan beribadah?

Dan kenapa hanya 1 bulan, kita harus menahan emosi, memilih tutur kata untuk dilontarkan, menata perilaku, di atas menahan haus & lapar?

Berapa kali kamu membicarakan orang, baik kelebihan maupun kekurangannya? Berapa kali sehari kamu berkeluh kesah yang ujung-ujungnya menunjuk orang lain sebagai biang problematika? Berapa kali kamu ‘menginjak’ orang demi kesenangan dan kenyamanan pribadi?

Mengapa harus saya yang menahan diri, padahal orang itu menyebalkan? Katanya emosi gampang meledak kalau lagi menjalankan ibadah puasa, tapi aku rasa di luar bulan Ramadan pun ada kelakuan seseorang yang sudah dari sononya……. Harus orang tersebut yang bercermin dan mengubah perilaku, dan bukan kita (saya dan orang lain di sekitarnya).

Jadi, mending saya cabut tidak usah melihat mukanya. Terserah momen Ramadan akan berlanjut menjadi perayaan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan, tapi kadang ada perilaku yang tidak bisa dibasuh dengan bersidekap tangan dan cium pipi kiri dan kanan, lalu mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Lebih baik saya angkat kaki, dan mencari keteduhan di tempat lain.

(photo by : Eno)
(location : Pantai Senggigi, Lombok, 9 Nov'06)

Wednesday, September 05, 2007

Dreams (2)



Mau lanjutin lagi cerita Mimpi Saya...
Oke, Mimpi no.2 saya adalah bisa membeli dan memakai Sepatu Manolo Blahnik :p Tahukah kamu kalau sepatu tinggi adalah lambang keseksian seorang wanita? I wish I could buy Manolo Blahnik tanpa rasa bersalah :p

[mungkin gara-gara kejadian yang saya posting di http://auraazzura.multiply.com/journal/item/5/Kaki_Orang_Kaya_?replies_read=2 ]

Sekolah lagi : Saya pengen kembali ke bangku kuliah. Mengambil strata S2 dari dulu ga kesampaian. Hehehe.. saya kadang terkesan doyan kursus. Tapi walaupun pembelajaran bisa didapat dari mana saja (komunikasi, pengalaman hidup, baca dsb) tapi rasanya saya masih ingin menaikkan pendidikan saya secara formal. Sudah pernah mengalami mencari info sana sini dan prepare TOEFL, tapi trus dapat kesempatan kerja. "Bukankah bekerja adalah kesempatan tidak datang 2 kali, sementara belajar alias kuliah bisa dikejar di lain waktu?" pikir saya dulu begitu. Akan tetapi, pekerjaan memang membuat waktu saya tersita. Ups, saat ini membangkitkan semangat untuk sekolah lagi saja susah. Membayangkan kuliah sambil kerja, rasanya tidak sanggup deh! Saya mengaku salut kepada temanku Hazis yang berani memutuskan meninggalkan pekerjaan & serius dgn studi S2-nya:) Yap! tapi itu tadi kan? Keinginan boleh saja saya tuliskan. Semoga suatu hari terealisasi... :)

Keinginan lain, jika saya memiliki waktu luang adalah mencoba belajar menjahit. Mama dan kakak-kakak perempuan saya rata-rata jago memasak. Setidaknya masing-masing punya keahlian mengolah bumbu2 dan bergaul dengan panci dan sodet. Kalau saya? Hmm, memang belum pernah dibuktikan. Walaupun sewaktu sekolah di SD Tarakanita II, saya pernah mendapatkan pelajaran tambahan tsbt, namun saya termasuk tidak minat pelajaran tsbt. Namun, ketika di SMP saya mendapat pelajaran Menjahit, saya menyukainya. Rasanya ketrampilan yang identik dunia wanita tsbt sama spt saya membuat prakarya. Nilai menggambar pola dan kerapihan menjahit saya termasuk tinggi. Saya menyukai kain, pakaian indah, dan meski sekarang paling terbatas membuatkan gambar wanita lengkap dgn busananya untuk ponakan saya, Rani, yang sangat girly. Niat lainnya, seandainya punya suami dan anak, bakalan saya buatkan mereka baju jahitan saya sendiri.. (tips hemat ala Eno hehe).

Tuesday, September 04, 2007

Dreams (1)

Sori ya kalau judulnya saja yang berbahasa Inggris. Dalam artikel ini saya menempatkan “Dreams” atau “Impian” sebagai etalase hal2 yang ingin kita capai dalam kehidupan kita. Katanya, kalau kita punya impian, maka kita termotivasi untuk bekerja merealisasikannya.

Saya sendiri merasa lagi hilang motivasi setelah menabung untuk membeli laptop secara tunai sudah tercapai, dan bekerja menjadi copywriter di institusi media yang dulu saya idamkan.

Saat ini saya sangat menikmati pola “let it flow” dan saat ini tengah ketakutan bakal terhanyut. Maka saya berniat menuliskan daftar impian saya. Boleh saja gila-gilaan, karena namanya juga Mimpi. Mana yang akan saya realisasikan atau prioritas untuk dikejar, tentu berdasarkan logika dan itu urusan pribadiku. Saya cuma mencoba men-share kepada teman-teman yang membaca blog ini.

Salah satu keinginan adalah Punya Rumah Pribadi.
Waktu kecil saya sering berenang di kolam ikan di rumah ortu. Benar! kolam ikan kebetulan berbentuk persegi panjang. Untuk tubuh saya yang saat itu SD kelas 1, berenang di dalamnya bisa membuat 3 kali gerakan gaya kodok untuk bergerak dari ujung yang satu mencapai ujung lain. Meski tante dan nenek saya sering memarahi kebiasaan saya, karena sering berujung jadi pilek:p Saya sempat berkhayal punya rumah yang dihuni sendirian dan punya kolam renang pribadi (supaya tidak ada yang marah2 kalau saya nyemplung). Hanya saja, sekarang saya tahu kalau kolam renang pribadi itu high maintenance dan harga rumah juga selangit, maka sekarang impian memiliki Rumah mungil dengan taman berumput hijau, dipenuhi pada beberapa bagian dengan bunga-bunga seperti anyelir dan dahlia hasil bercocok tanam sendiri.

Sunday, September 02, 2007

Pengingkaran Rencana

Rencananya sih, Sabtu mau ke kantor. Rajin? Lagi banyak kerjaan, butuh merapikan meja kantor dan file, dan semua hal yang lebih enak di saat sendiri, tanpa ada rekan-rekan kerja di sekeliling kita. Namun, ternyata godaan pulang kampung lebih besar:D Jadinya, Sabtu siang saya segera mengemas kerjaan, my pal Buttercup, dan tumpukan cucian, cabut ke terminal Lebak Bulus.

Akhirnya, sih saya memang begadang. Tapi begadang untuk browsing Internet dan menulis blog ini.. Ah, memang 1 minggu itu idealnya kerja selama 5 hari, 1 hari libur, dan 1 hari tambahan untuk istirahat sebelum memulai daywork.

Rencana lain, saya sudah berencana pada Sabtu untuk membuat bola-bola coklat. Satu resep yang simpel, membutuhkan bahan terdiri dari biskuit regal yang ditumbuk jadi tepung, mentega cair, susu coklat, dan meses. Tapi, lagi-lagi tidak terealisasi. Masalahnya, saya sampai sekitar jam 1 siang di terminal Baranangsiang Bogor. Rencana mampir ke Giant di Botani Square yang tidak terlalu jauh dari terminal. Namun siang yang terik, kemacetan lalu lintas ditambah kondisi gerah di angkot sudah membuat saya malas untuk turun dan menyeberang ke pusat belanja tsbt. Yah, toh masih ada hari libur dan hari istirahat lainnya.

Monday, August 20, 2007

Nama Pena

Sayap patah?
Dudy funny clown?

Hmm…otak saya segera memikirkan berbagai ide nama, yang pasti konyol, ketika saya disuruh mencantumkan "Nama Pena” untuk keperluan penulisan puisi.

Nama Pena? Pilot, Zebra, Standard, … hehe dasar dodol. Tentu bukan nama Merek pena dalam arti harfiah.

Tetapi saya memang ‘kering otak’ dan tidak punya ide kalau harus mencari nama samaran yang indah untuk diri sendiri. Nama penulis yang harus kucantumkan bersama karya yang kubuat. Yang setidaknya bisa membuat orang termehek-mehek atau ‘eye-catching’ dan berlanjut menjadi ‘ear-catching’ saat melihat dan menyebut Nama Pena-ku. (Toh sekarang era penulis online, jadi perlu melihat, baca dan sebut…) lalu membaca karyaku..

Dan, membaca nama-nama cantik yang tercantum dalam milis puisi yang kuikuti, semakin membuatku terintimidasi....Mungkin karena, “hari gini pake nama samaran?”
Meski kadang sampai sekarang aku masih sering dapat pertanyaan atas namaku yang tidak nyambung, memakai nama yang lazim digunakan 2 suku di Indonesia, tapi saya hanya tersenyum dan begitulah nama pemberian dari ortu saya.

Walaupun nama saya pasaran, tapi saya tetap punya panggilan sayang dari keluarga. Makanya saya ingin mencantumkan nama “Dudy”… walaupun saya bukan pelawak di keluarga …But, that’s my nick name.

Argh, apalah artinya nama? Ah, Shakespeare asal ngecap tuh! Jelas-jelas supaya ga salah manggil orang. Misalkan, jika kita mencari yang namanya Dewi di kantor, orang akan memastikan lagi, siapa yang dicari. Dewi Retno, Retno Dewi, Restu Dewi, Dewi Sulistyowati, dsb… atau Dewi yang kerja di divisi apa? (Rasanya lama-lama memang selain nama, job desk dan jabatan menjadi berperan besar).

Gimana kalau, “Menanti Pagi?”
Karena saya –cenderung- makhluk nocturnal. Pemalas di pagi hari, dan baru menemukan semangat bekerja ketika mentari mulai terbenam. Bukankah Pagi identik dengan ‘kebahagiaan’, ‘awal yang baru’, ‘sesuatu yang bagus’, sementara malam identik dengan kelam?

Dan, nama adalah doa. Seperti orang tua yang menaruh doa kebahagiaan dan harapan di nama sang anak. Jika saya mencantumkan nama “Menanti Pagi” maka kerjaan saya menunggu melulu……… :p

Hmm… Hmmm… Saya suka tokoh mandiri Srikandi. Gimana kalau “Srikandi Pena” hua haha lebih huancur lagi… Kayak julukan di zaman bela negara dan kemerdekaan deh!

Duh! Belum nemu ide nih. So far ya sudahlah nama sesuai KTP dan nama blog ini saja ya....

[Saya mulai menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis blog]