Sunday, May 04, 2008

Mencintai atau Dicintai

Dari teman (postingan blog), saya mendapat pertanyaan mengetuk hati. Lebih baik ”mencintai” atau ”dicintai”? Hmff.. kurasa dua hal itu resiprokal. Timbal balik. Ga ada pilihan lebih baik atau lebih jelek.

Hanya saja, jika.. nah jika.. harus memilih salah satu -tentunya- lebih baik “dicintai”. Dan, saya tidak percaya tentang kalimat ’cinta tak harus memiliki’.

Mati Rasa
: Cerita standar dalam kehidupan manusia

Uff, memang bukan tabiatmu menjadi perasa
Perasa perasaan orang
Kamu ga tau kalau saya tersiksa?
Tersiksa karena kamu
Saya pun bukan manusia menunggu
Kurasa ’menunggu’ adalah pemujaan semu

Saat tangis dan degup terasa mengalun perih
Saat senyum berpadu lonjakan rasa
Ketika hati terpecah makin jauh

Mari berpacu dengan detak waktu
Semakin hari, semakin kamu lupa
Semakin hari, semakin lupa kamu
Semakin lama, semakin terhapus rona diri kamu


(gambar dikutip dari : www.art.com)

Bis Malam (Puisi Transport 1)

Tubuh makin terpojok
Kepalanya makin terkulai
Bahu diri disangka bantal
Tolak… tidak…
Tolak.. tidak…

Hmm ganteng sih,
Kalau nggak, wah! langsung jitak!
Tapi males deh... :p
Tetap saja ga kenal!

Badan ku merangsek ke muka
hirup udara segar di ruang terbatas
Sang pemuda cari sandaran baru, berbalik arah
Tetap pulas
”Ini contoh mekanisme reflek ya?”
Sebal juga karena tidur tak menular

Menatap jendela menampilkan kelam
Butiran air terjatuh dari langit
Tak ada suara, hanya hening terpecah alunan tidur dari belakang
Menebus cape, melepas beban 5 hari kerja
Atau cara menanti terbaik
Sebelum sampai terminal Baranangsiang.


lebak bulus-bogor
Jumat 2 Mei’08
(Gambar dikutip dari : www.fine-art.com)

Angkot (Puisi Transport 2)

Beberapa waktu lalu, saya menginap di rumah teman di daerah Ciputat. Minta bantuan dia yang lebih jago komputer untuk belajar program modifikasi gambar dan mengutak-atik blog.

Buat saya yang terbiasa jarak dekat –dari rumah kos dan kantor, pulang pergi cukup jalan kaki sekitar 10 menit- suatu pengalaman baru rute Lebak Bulus-Ciputat. Bergegas dalam gigi 3, bangun pagi sebelum mentari menyembul dari balik awan menuju kantor (terlambat sedikit, sudah kena macet), dan pulang ’menikmati’ lagi kehebohan mencari transportasi umum yang mengantarkan kita kembali ke rumah. Yah, beginilah kaum urban belantara metropolitan. Kawasan perumahan di sisi pinggir Jakarta, sementara denyut perekonomian (dan perkantoran) ada di tengah ibukota.

Saya merasakan jadi kaum urban dengan menyaksikan hal-hal baru. Pemandangan di angkot : orang tidur; kumpulan ibu-ibu yang punya energi untuk bergosip ria di dalam angkutan umum; wajah-wajah kelelahan; wanita pekerja di tengah keletihan masih harus memperhatikan posisi duduk supaya paha tak tersingkap dari balik rok span yang sudah minimalis; dering handphone dari berbagai sudut. Dan entah kenapa, bisa menimbulkan ide untuk mencoretkan puisi.


Angkot (Puisi Transport 2)

Terkantuk-kantuk,
Terantuk-antuk,
Badan bergoyang mengikuti irama roda empat,
Mata terpejam membayar sisa malam,
Berkejaran dengan mentari merayap,

Badan dan badan makin merapat,
Ruang pengap memanggang panas dan peluh,
Aroma parfum pun hancur,
Terlindas keringat mengucur.

Selamat pagi Jakarta!
Kusapa kamu dengan debu angkot.


(catatan : kenangan awal pekan berangkat naik angkot dari Ciputat ke Jakarta)

Saturday, May 03, 2008

Indonesia - Inggris, Please

Suatu klien, maskapai penerbangan asing minta Saya meng-Indonesiakan ”most frequent traveller” dan tidak merasa cocok dengan penerjemahan sebagai “pelanggan”.

Hmm.. suatu penerjemahan yang simpel dan sederhana, bukan?
Akan tetapi, klien tidak mau. Dan, namanya juga mengikuti apa kata klien, saya harus mencari padanan yang tepat. Selain menunjukkan diri cerdas mampu menjawab permintaan mereka. Tiba-tiba pusing. Ke dalam materi awal tulisan, Saya memang meletakkan bahasa Indonesia dan Inggris secara campur aduk jadi padu. Suatu maskapai penerbangan nasional saja menggunakan kata ”Frequent Flyer” dan tidak meng-Indonesia-kannya menjadi ”Konsumen Loyal” dan toh, kebanyakan dari kita secara sadar (atau tidak) sudah mengerti apa yang hendak disampaikan tulisan itu.

Ketika Saya dan kebanyakan manusia Indonesia terbiasa dengan media publikasi –seperti majalah lisensi asing dan tayangan televisi- atau lagu yang campur sari. Padu padankan bahasa ibu dengan asing. ”Liga Premiere”, ”Bonus : Free Magazine...”, ”Cara Pakai Mr. Happy (haha.. ini mungkin memang cocok untuk memperhalus bahasa yang jika di-Indonesia-kan jadi kena isu pornografi bagi masyarakat kita yang sering tabu membicarakan hal-hal begituan), ”Jadi Pacar Perfect”...dsb.

Tayangan infotainment pun menampilkan selebritas yang menyampaikan komentar dalam bahasa aduk-aduk.

Saya terpesona memandangi kecantikan seorang model peranakan Indonesia dan bule. Bahasa Indonesianya yang patah-patah pun Saya tak peduli (padahal dia mengais Rupiah di Indonesia hehe...).

Nah, permintaan klien asing ini untuk meng-Indonesiakan semua kata, justru membuat saya garuk kepala. Tersadar kalau si klien dari negeri tetangga saja justru mengingatkan, ”Gunakan Bahasa Indonesia yang Baku dan Benar” di majalah nasional.

Saya pun sore itu segera lari-lari ke perpustakaan kantor. Buka-buka kamus, cari-cari inspirasi di belantara media. Lidah tiba-tiba terasa asam, ingin memantik sebatang rokok tapi sudah berjanji tidak bakal ngebul. Akhirnya, saya pun menemukan ide. Dan maskapai penerbangan itu setuju dengan : ”most frequent traveller” dialih bahasakan menjadi ”pengguna loyal transportasi udara”.

Saya jadi tersadar diri ini –seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya- sudah terbiasa menggunakan Indonesia Inggris secara gado-gado. Ketimbang cari padanan kata dalam bahasa nasional, kita lebih memilih memiringkan bahasa asing ke dalam tulisan. Dalam membuat tulisan terkait profesi jurnalis dan penulis, Saya juga biasa memiringkan kata-kata. ”Orang juga sudah mengerti maksudnya,” demikian pemikiran kita. Lebih gampang. Walaupun jadi lupa untuk memperkaya kosa kata :)

Friday, May 02, 2008

Selingkuh Mata

Agh kamu!
Yang membuatku bersemu pipi jingga
Saat mata kita tertumbuk
Dan diri terpekur

Kamu keajaiban terindah
Dalam sepelemparan jarak
Kutangkap kejora di bening matamu,
Kulumat sampai cair.

Saat kita berpandangan,
Tiba-tiba suara bariton itu memecah pikiran,
”Kamu kenapa?”
”Tidak...” dan ku pun berpaling,
Menatap telaga teduh di sampingku.

Monday, April 28, 2008

How Manipulate U Are? Terinspirasi dari Street Kings


Beberapa waktu lalu, saya menonton “Street Kings”. Film yang cukup bagus diantara berbagai pilihan tayangan di 21 yang seputar film Indonesia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, tapi semakin ga menarik ditonton.

Selain itu, alasan lainnya, saya bisa memandangi lagi wajah Keanu Reeves yang masih seganteng seperti 10 tahun lalu ketika bermain dalam film "Speed" (ups, jangan-jangan dia suntik Botox hehehe....).

Alur cerita film bergenre action ini memang standar. Menyorot hitam putih dan polisi kotor. Keanu Reeves berperan sebagai Tom Ludlow, detektif LAPD yang mencari penyebab kematian mantan partnernya Terrance Washington (Terry Crews).

Namun tunggu dulu! Ludlow sendiri bukan jenis penegak hukum yang bersih. Selain tukang mabuk, Ludlow sering melanggar prosedur. Dan kinerjanya yang bagus di lapangan –meski banyak pelanggaran- selalu ditutupi sang bos, Kapten Jack Wander.

Dari awal kita bisa menebak bahwa kapten dan rekan-rekan berada di belakang aksi pembunuhan dan kejahatan yang diselidiki Ludlow. Tapi, ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakangnya. Film ini memotret polisi kotor, ketika menggunakan ‘aib’ orang sebagai alat pemerasan, atau menyalah gunakan jabatan dan kuasa demi mewujudkan ambisi pribadi. Hmm.. suatu gambaran yang bisa terjadi di negara mana saja, di berbagai jenis pekerjaan dan strata sosial, bukan?

Saya jadi membayangkan kalau diri ini menjadi manusia yang manipulatif. Melihat celah, menjadikan ‘rahasia’ orang untuk mesin cetak duit, atau menerapkan asas manfaat yang teramat sangat. Hmm, betapa cepat kayanya gw ya.. Auch! Tapi menyeramkan agh. Ketika kamu memilih jalan itu, maka ada kenikmatan sekaligus konsekuensi tersendiri.

Sudahlah Eno.. sing lurus-lurus saja... Allah juga ‘mendengar dan menjawab’ doa hambaNya yang bersyukur dan mengolah rezeki secara halal....

Ohya, berarti saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk teman saya yang bersedia ‘menarik-narik’ saya ke bioskop. Gara-gara dia ingin melunturkan ke-bete-an saya, kata dia saya perlu refreshing nonton. Walah bener tuh! Udah beberapa bulan ini saya tidak nonton di bioskop. Thanks ya bro...

Btw, si Keanu Reeves dalam film ini tampak kalah ganteng dengan detektif muda yang diperankan Chris Evans. Haha.. namanya juga yang baru itu lebih segar!

Saturday, April 26, 2008

ke Dokter Gigi

Kemarin pergi ke dokter gigi. Yah, ada lubang kecil di gigi atas. Namun, sepertinya ini juga memicu migren di kepala. Apalagi, jika dari cuaca panas, trus masuk ke ruangan ber-AC. Wuii.... jangan2 ini yang bikin gw belakangan ini galak hehe..

Untung saya sudah menemukan dokter gigi yang cocok. Seorang ibu yang sabar menangani pasiennya. Nah, ini pesan dokter gigiku itu : segera ke dokter jika gigi ada masalah. Lubang kecil pada gigi, dan tertangani secara cepat, maka proses penanganannya juga tidak seribet kalau sudah parah bukan?! Selain itu, periksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi 1x setahun.

Wednesday, April 23, 2008

Yang Hilang Muncul Kembali (Masih Soal si blog)

Setelah melewati berjam-jam nongkrong di warnet memandangi layar monitor pada Sabtu pekan lalu (19/4), lihat hasilnya : Blog saya mulai kembali semarak !!

Memang sih masih proses perbaikan, tapi sudah much better ketimbang seminggu sebelumnya. Muah … muah… thanks ya Ajeng untuk bantu diriku yang memang suka teledor ini membetulkan template yang terhapus. Memang benar deh! Kehandalan kamu terbukti sebagai hasil kuliah di jurusan komputer dan berkutat dengan IT bertahun-tahun :)

Yap! Gara-gara bosan dengan tampilan lama, saya mengganti tampilan muka blog dengan ’wajah’ baru. Akan tetapi, saya lupa menyimpan template lama sehingga beberapa bagian jadi hilang. Bagian tersebut antara lain : si shoutbox, link menuju website orang lain, dan statistik. Yah! Ada perasaan sesuatu yang dirawat sekian lama, telah hilang. (haha! Padahal ada juga periode ’mati suri’ terhadap blog ini).

Thursday, April 17, 2008

Ada yang Hilang

Agh!
Cuma itu yang saya bisa teriakkan.

Berawal dari rasa bosan melihat tampilan blog-ku yang sudah lawas. Tak berubah sejak pertama kali muncul pada 2005.

Setelah memposting satu tulisan pada Jumat pekan lalu (12/4), saya pun mengarahkan cursor ke ’Change Template’... klik, klik, klik.. dan voila! Berubahlah tampilan blog saya.

Tapi.. tapi...lho, kok ada hilang?
”Lho, kan baru Preview (maksudnya baru mau melihat tampilan baru seperti apa)?” kataku membatin.

Dalam tampilan baru tidak ada boks Shoutbox, alamat-alamat link website rekan-rekan, jumlah trafik pengunjung sejak September 2007...Dan apesnya, saya lupa menyimpan template lama. hiks.. hiks..

Berulang kali saya bertanya kepada Ajeng, Merry, dan teman-teman lainnya soal tampilan baru. ”Gimana tampilan blog eno yang baru? Lebih oke nggak?”

Yah, kalau mereka mengatakan lebih bagus ketimbang yang lama, paling tidak ada pelipur lara gara-gara template yang hilang itu.

Hari ini, sudah hampir seminggu sejak kesalahan fatal itu terjadi. Dan, hingga kini saya belum menemukan cara mengembalikan arsip-2 yang ada. Terima kasih kepada teman2 yang pernah mampir di shoutbox-ku. Saya masih berusaha mengembalikan ’jejak para sahabat’ di ruang ini. Sabar ya..

Aku membuang Dirinya


Aku membuang Dirinya
seperti langkah 'delete' dan 'empty recycle bin'
bagai tisu penuh ingus, segera bakar
supaya virus tidak menyebar, dan merusak otakku.

Semalam Aku menangisi Dirinya
Semenit mengenyahkan memori
sejam membungkus kenangan bersama
sehari menghibur diri.

Aku bisa membuang Dirinya
Meski butuh berulang kali
mendengar lagu sedih
dan membuat ipod-ku hang.


(puisi lama yg sudah pernah kuposting di milis BuMa, 24 Juli'07... agak kuedit sedikit)
(gambar dikutip dari : http://www.agnesw.com/wp-content/uploads/2007/04/cry.jpg)

Friday, April 11, 2008

Bekerja Pintar, Jujur dan Ingat Dia





Ada janji wawancara dengan seorang tokoh di dunia bisnis. Belum pernah bertemu, dan mengetahui wajahnya hanya dari foto kecil hasil browse di media. Saya membayangkan bakal bertemu pria jangkung, kurus, dan beruban. Tua deh...

Nah, akhirnya janji wawancara di gedung kantornya terealisasi di suatu malam. Masuk ke sebuah ruangan, saya agak tergagap disambut ramah seorang pria yang terlihat muda (yang pasti memang awal usia 40-an), tampil humble dalam seragam perusahaan. Dengan senyum yang lebar, dia menyambut kami dengan uluran tangan hangat. ”Gile asisten pribadinya ramah benar,” batinku. Lalu saya celingukan, mana sekat yang biasa membatasi ruangan bos dan sekretaris/asisten?

Barulah sedetik kemudian saya tersadar, ”Lho! Ini kan bapak yang kamu mau wawancara!”

(Dasar Eno dodol! Jelas-jelas tadi sore kamu kontak-kontakan dengan sekretarisnya –berarti asisten pribadinya- yang perempuan. Akan tetapi, karena kemacetan dan kemalaman, si sekretaris sudah mengabarkan bahwa dia pulang tanpa menunggu saya dan rekan).

Foto memang menipu. Lalu, saya pun sudah terlebih dahulu melakukan kesalahan awam. “Judge the book by it cover”. Ketika penelusuran diri dia di google (sebelum wawancara) membentuk opini saya bahwa dirinya sosok Midas -si pengubah perusahaan kolaps menjadi pencetak laba, si "think tank " di belakang inovasi bisnis- dan tentulah saya bakal bertemu sosok ‘keras’, ‘kaku’, yang bakal perlu penggalian atau ‘colekan menuju topik yang ia sukai’ untuk membuatnya berbicara.

Namun, ternyata pembicaraan mengalir dengan gaya bicaranya yang cenderung filosofis. Sesekali juga ketawa. Diantara berbagai hal yang dilontarkan bapak 3 anak itu, ada satu hal yang mengetuk hati saya malam ini. Yaitu pendapat dirinya tentang faktor-faktor penting kemajuan seorang karyawan di perusahaan. Pesannya, sebagai pekerja ada tiga hal yang harus dipegang : Bekerja pintar; Bekerja jujur; dan, Bertaqwalah dengan yang Diatas.

Bekerja keras, lembur, belum tentu menghasilkan output bagus. Yang penting soal 'pintar mengatur waktu' dan...tentu menghargai waktu yang tidak bakal kembali.

Jujur.. yah! dimana-mana menjadi manusia harus punya modal kepercayaan. Jika sekali tidak dipercaya oleh orang lain, maka sulit untuk menumbuhkan rasa percaya kembali (lebih parah lagi jika itu berbuntut soal nama baik kita).

Dan ingat, semuanya tentu atas restu Yang Maha Kuasa di atas. Kembali lagi pada persoalan mencari ketenangan, bersyukur, dan bekerja pintar dan 'lurus' juga merupakan bentuk menghargai karunia dari Dia.

Malam itu, seperti titik akhir rangkaian panjang setelah seharian saya tenggelam dalam diskusi bersama rekan-rekan yang berbeda dengan topik soal ’bekerja’ ; ’pindah kuadran’ ; ’masa depan’.

(Gambar dikutip dari www.savagechickens.com/images/chickenwork.jpg)

Tuesday, April 08, 2008

Dangkal…Dangkal….

Habis membaca tulisan seorang freelancer. “Pusing bacanya! Ide yang bagus, akan tetapi pengerjaan yang dangkal, isi tulisan kurang tergali. Dangkal. ” ujarku mengomentari dalam hati. Tentu komentar tadi tidak kulontarkan ke freelancer tersebut. Aku memuji idenya yang mengajak pembaca merasakan denyut perubahan suatu daerah sebagai hasil pembangunan dari tahun ke tahun.

”Pertahankan gaya itu! Tapi... (nah, ini pernyataan biasa sebelum masuk ke hal inti) sebagai pembaca diriku sulit menemukan data atau angka-angka sebagaimana yang dibutuhkan ketika kita membaca suatu laporan,” ujarku.

Ia tak membalas kata-kataku.

Kemudian, diriku kembali ke pekerjaanku. Memandangi layar widescreen 14,3 inci dan menemukan diri masih tak ada ide untuk melanjutkan tulisan kejar deadline sebagai bagian pekerjaan kantor.

Agh! Saya jadi memaki diri sendiri. “Dangkal! Dangkal!” Aku merasa tulisanku tidak ada ’aura’ nya untuk dihadirkan kepada pembaca. Diri ini rasanya tak terbawa dalam baris kata-kata yang mengalir dan menjiwai isi tulisan.

Hehe..ironis ya? Bisa mengomentari pekerjaan orang lain, akan tetapi pusing untuk pekerjaan sendiri. Huh! Inilah resiko menulis ”Made by Order”, sementara jiwa dan perasaan belum tune-in dengan materi yang perlu dipaparkan. Mungkin itu pula perasaan si freelancer itu ketika mengerjakan tugas yang saya komentari barusan.

Ini yang istilahnya problem menulis tanpa ada jiwa yang menyatu dengan materi yang mau dipaparkan. Salut kepada para penulis, yang telah menuliskan karyanya dan berhasil menulis buah pikiran secara bebas. Berarti mereka itu kaum yang telah : ”Menulis Dengan Merdeka.”

Wednesday, April 02, 2008

( Lagi-lagi) Tentang Bekerja dan Semangat

Seorang teman menanggapi saya yang berkomentar soal mobilitas dirinya yang tidak ada cape-capenya. Dia hanya komentar, "Kerja itu ibadah. Jadi bukan hanya untuk kita, tapi juga buat Allah.."

Haha.. Saya tidak tahu pasti juga apakah dia memang sekadar menanggapi, memang begitulah dia menanggapi hidup dan pekerjaannya, atau memang dia workaholic.

Tapi, pernyataan dia paling tidak mengetuk salah satu pintu kesadaranku : Benar juga! Kita harus mempertanggung jawabkan cara kita mengisi hidup di dunia. Dan tentu Sang Pencipta tak ingin ciptaannya hanya bermalas-malasan dan menggerutu pada pekerjaan. Setiap pekerjaan ada hikmah dan rezeki. Dan di setiap 'sandungan' ada pembelajaran di berikutnya.

Renungan ini terjadi ketika saya mengeluh betapa semakin padatnya pekerjaanku. Dan semakin bervariasinya macam tugasnya.

Monday, March 10, 2008

Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data

Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?

Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.

Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.

Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.

Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.

"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."

Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".

Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.

Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.

Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.

Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.

Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.

Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.

(Tulisan ini pernah diposting di www.netsains.com dengan judul "Kiat Menulis: Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data" by Dewi Retno in Category : Communication on 2007-08-30 atau klik judul diatas).

Tulisan Dimulai dari Ide


Pernahkah kamu ‘mati ide’ dalam membuat tulisan? Saya sih pernah, bahkan sering. Makanya pekerjaan kantor berulangkali saya selesaikan menjelang tenggat (deadline). Atau ketika blog saya lama terbengkalai, tidak ada postingan baru gara-gara tidak punya ide.

Padahal, sebenarnya ’ide’ bisa diperoleh dari mana saja dan kapan saja. Ketika tengah menikmati siraman air di saat mandi, membaca buku, menonton televisi, mendengar berita di TV atau radio, bahkan saat terjebak dalam kemacetan.

Masalahnya, bagaimana agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya lupa akibat kesibukan pekerjaan, atau akhirnya topik itu tidak menarik lagi untuk diulas.

Oleh karenanya, supaya tidak lupa, segera catat ide yang terlintas di dalam benak kita, ke dalam block note. Selain notes atau block note, kita bisa simpan ide ke dalam menu pesan pendek/sms di handphone, communicator, dan folder khusus di dalam laptop.

Sebaiknya, memampatkan ide tsbt ke dalam sebuah judul. Mengapa ”Judul”? Karena judul itu menyederhanakan gagasan ke dalam bentuk yang singkat. Ide berupa judul paling tidak sudah menggambarkan pikiran kreatif kita.

Bisa pula saat itu kamu sudah menemukan judul dan beberapa data pendukung yang ingin kamu masukkan ke dalam tulisan.

Jangan lupa untuk mengolah ide menjadi satu tulisan utuh. Ketika kita bakal mengolah satu judul menjadi tulisan, jabarkan Judul itu ke dalam Outline (kerangka tulisan).

Outline atau kerangka tulisan membantu kita dalam menentukan bentuk/isi tulisan. Kerangka tulisan ini bisa berupa tulisan per paragraf/alinea.

Supaya ide tidak menguap karena ’basi’ atau kelamaan dan terlupakan, deadline menjadi cara terbaik untuk merealisasikan ide. Yah, kalau untuk advertorial atau pemuatan artikel yang memang tugas kantor saya sehari-hari, maka tulisan itu memiliki tenggat tayang yang sudah menjadi harga mati.

Nah, bagaimana kalau kita perlakukan pula tulisan di blog dengan tenggat publikasi atau deadline pula?!

Monday, March 03, 2008

Mencintai (Sebuah Awal)

“Ajarkan aku mencintaimu,” bisikku
Menemaniku tergagap berbisik,
”Jadilah bintang, cahaya terang, di telaga tenang”

Jariku masih gemetar
Bergetar menyibak helai rambutmu
Menelusuri lekuk bidang dan membaui aromamu

Buat aku percaya
Saat kita bertukar degup dan kecup

Diskusi Istri ke Suami (Kenaikan Harga)

Bang,
Minyak goreng, cabe merah, rawit, bawang….
Semua naik!

Bang, pusing nih!
Sudah lama coret daging merah
Ayam tiren atau bukan, wallahuallam
Sayur, oncom, tahu
Yang penting 3 kali sehari

Minyak tanah ngantri,
El pi ji....makan duit
Kayu bakar nemu dimana?

Tapi........
Bang, kita masih saling cinta kan?
Maaf kalau pipiku kini kasar
Harga pembersih muka juga naik
:(

Kangen..(Ketik..Tidak..)

:Untuk di seberang


”Adakah kangen di sela kesibukanmu?”
Tak ada jawab
”Kamu tak mau menyakiti?”
Hanya diam

Rindu ini di ujung jari
Ketik...tidak.. ketik..tidak..tid...ket...

Kamu tak tahu
Hati pun butuh testimonial

Tunggu dan tunggu
Jari mengklik status
”I’m busy” dan .... pergi

(ketika perasaan terwakili via YM)

Dari Pikiran Kosong

Bedebah!
Baru hari keempat,
Saya sudah merindunya

Pikiran jahanam mana
Yang dulu membuang dirinya??

Penantian


Kami bertemu kembali semalam,
Menganyam benang putus di tepi danau,
Melebur dalam masa lalu.

Hari ini aku duduk termangu,
Menanti sembari memintal benang tak terajut
Hanya menanti dan termangu
Hujan deras pun meluapkan telaga.


Bogor, 10 Feb’08
(photo by Eno, Bali 7 Feb'08)