Thursday, January 29, 2009

Belajar Membuat Tulisan Pendidikan

Agghh!
Ini baru awal tahun.
Rasanya ingin teriak, ”Gw kan masih baru di bidang ini. Tapi, kok sudah disuruh tancap gas, persneling gigi-3?”

Tahun baru mendapat penambahan job desk, bisa dikata pembelajaran hal yang benar-benar baru karena sebelumnya pernah meliput bidang ini, yaitu membuat Tulisan/Iklan Pendidikan. Contohnya, membuat advertorial kampus atau program perguruan tinggi.

Yang jelas, kini saya sedang ’terpatah-patah’ belajar tentang :
- Isu pendidikan. Narasumbernya tentu multidimensi karena berarti dari seluruh stakeholders pendidikan: pelaku pasar (sekolah, kampus, rektor, dekan dsb), pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional), dan masyarakat (termasuk pemerhati pendidikan).
- Menemukan istilah-istilah baru dan harus tahu artinya. Seperti : SPMB, SNMPTN, atau PAUD.
- Jadi pendengar yang baik bagi kakak2 perempuanku, serta teman-teman berstatus ibu-bapak untuk mengetahui kapan kenaikan kelas anak SD s/d SMU, musim penerimaan mahasiswa baru dll. Ini cara (istilah para wartawan) memahami isu yang terjadi di lapangan kan?!

Sebelumnya, menurutku pribadi, saya cukup sukses menggarap Iklan Apparel. Salah satu cara memulai ide tulisan adalah dengan menempatkan diri sebagai pembaca. Dengan posisi itu, kita sebagai Copywriter tentu punya EQ untuk memahami informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Bisa jadi itu merupakan : kenyamanan, kemewahan, desain produk, style, atau where to buy.

Tapi –jujur- saat ini saya pusing. Saking pusingnya, sampai-sampai lebih sanggup menuliskan blog ketimbang menyelesaikan kerja.....

Hari ini saya sedang jungkir balik mengerjakan Suplemen Pendidikan, as project officer on her first duty supaya tidak malu-maluin.....setelah deadline Jum’at ini, saya langsung pindah ’jiwa dan raga’ ke negeri jiran untuk seminggu ke depan, kemudian mendarat lagi untuk mengerjakan Tulisan Pendidikan Informal.

Saya bergumam, berupaya memotivasi diri, ”Pekerjaan (menulis) kan kamu sukai... Bekerja dengan cinta ya... Semua bisa kamu kerjakan dengan baik kok....”

Thanks juga untuk semangat kerjasama dan koordinasi dari para AE, tim penulis, fotografer, desain, dan tim trafik. (Ohya, thx untuk office boy yang beliin makanan jam 8 malam..gara-gara baru sadar belum makan setelah badan keringat dingin.. aih ga jadi kurus deh :p ..plus ditemani kopi susu instan bercangkir-cangkir dan Silver Queen fruit & nuts. nah lho! gimana mau langsing...).

Nantikan yaa... Majalah Tempo pada 2 Feb’09. Itu bakal jadi pembuktian hasil kerja perdanaku.... :)

Tuesday, January 27, 2009

C.a.p.e

Cape..cape...
Enggan mencoba lagi
Aku tak perlu berputar melawan jarum jam
Hanya untuk memastikan gunung itu tak layak didaki

Hampa

Mereka datang dan pergi
Masuk ke pintu tak terkunci
Silih berganti meninggalkan lirik
Tentang ada saat bersama lalu berpisah

Pintu itu masih ada
Tak terkunci meski tiada terbuka
Masih ada yang mau mengetuk?
Rasakan tusukan hampa melebur enggan kabur

Sebidang Tanah

Sesama cucu Abraham ribut merebutkan seluas lahan,
Menagih janji Bapak akan sebidang tanah harapan,
ilusi mencari firdaus yang hilang,
Entah salah Bunda Hawa memetik buah terlarang.

Seorang anak cucu berdoa. ”Tuhan, hentikan pertikaian paman-pamanku. Mereka sesama manusia tercipta dari debu dan tanah.”

(Tuhan pasti juga bingung menjawab, karena Paman yang bertikai semua berdoa agar dimenangkan dalam perang)

Jika air tercurah dari langit penanda rezeki mengalir di tahun baru,
Jika hujan penanda segala kebaikan dan keberuntungan di musim baru,
Semoga hujan mampir di tanah silang sengkarut itu.


* Gong Xi Fat Cai 2560 *

Monday, January 19, 2009

Dengarkan Suara Tubuh

Cuaca Jakarta memang sedang jelek. Saya bisa menceritakan perilaku hujan selama seminggu ini sangat tidak manis bagi penduduk ibukota.

Hujan biasanya sudah terjadi di pagi hari, dilanjutkan siang yang mendung, lalu air terguyur dari langit di malam hari. Disertai pula angin kencang. Hmm, kapan cucianku kering?. Jakarta juga macet gara-gara air hujan meluap di jalan.

Cuaca memang bisa jadi kambing hitam penyebab daya tahan tubuh ambruk.

Tubuh memang tidak berteriak. Tapi ia mengeluarkan suara dalam bentuk isyarat : badan demam, meriang, tulang-tulang yang ngilu, dan mata berair.

Inspirasi tidak harus timbul saat kita kepepet. Tapi otak pun sudah tak sanggup berpikir jika kepalamu pusing dan mata lamur memandangi layar monitor.

Sudah dari seminggu lalu, tubuh sudah mengisyaratkan S.O.S istirahat sejenak. Bukan sekadar minum sirup obat batuk bebas 3x sehari (sesuai petunjuk di kemasan) sambil bekerja.

Memang batuk mereda, suhu tubuh kembali normal, namun ternyata hanya hibernasi sebelum bangkit dan mengganas. Lupa minum suplemen Vitamin C? Hmm iya sih... :(

Pergi ke dokter, diagnosa : radang tenggorokan. Sarannya? Istirahat yang cukup, hindari es dan goreng-gorengan. (Oh dokter! hidangan itu sih memang sudah dari dulu kuhindari gara-gara tenggorokan yang memang sensitif).

Saran teman saat mengetahui aku masih melek meski hari sudah jauh malam : kali aja cuaca dan aktifitas kamu yang bikin ketahanan tubuh kamu mencapai batasnya. .... Kali aja tubuh kamu benar-benar lelah, hanya saja dirimu yang tiada menyadarinya.

Thanks... maka saya pun menarik selimut, merebahkan badan, kemudian memejamkan mata. Tanpa memikirkan rencana yang belum direalisasikan, ada kerjaan yang mendekati tenggat, tak pula kupikirkan niat mengubah interior kamar. Hanya mendengarkan suara tubuh menyerukan kata ’istirahat’, dan aku pun terlelap. Zzzzzzzz...............

Friday, January 16, 2009

Belanja Oh.. Belanja

Ayo bicara soal Belanja.

Siapa yang tidak suka belanja? Hampir sebagian besar kaum perempuan menyukainya. Namun, saya tahu ada pula yang tidak suka. Dan saya bisa mencontohkan kakak saya sebagai sosok tidak doyan belanja atau ke mal. ”Malas... Cape ah,” begitu lebih kurang alasannya kalau saya dan saudara perempuan lainnya mau pergi.

Salah satu Resolusi atau lebih tepatnya Janji Pada Diri Sendiri yang saya langgar adalah : tidak belanja pakaian selama 2008, dan hanya mengandalkan sejumlah busana yang ada di lemari pakaian, gara-gara saya pernah menemukan sepotong kaus, beberapa potong bawahan atau rok yang belum pernah saya gunakan di antara tumpukan baju-baju di lemari.

Namun, niat itu tentu saja tak terealisasi. Hingga menutup lembar 2008, saya masih punya beberapa kaus terbungkus dalam plastik, dua pasang sepatu yang masih mulus. Terpana pula saya ketika merapikan lemari pakaian dan baru ingat kalau saya punya 1 potong rok jeans panjang. Beli di tahun lalu dan hanya kupakai 2 kali!

Menjelang tutup tahun, dengan niat awal hanya menemani teman masuk ke sebuah butik bermerek yang sedang mengadakan program diskon, saya pun larut berbelanja sepotong kaus ketat warna merah. Kusuka sembari berpikir, ”Kaus ini motivator diri untuk menurunkan berat badan.”

Dan semakin tidak ragu membeli helai baju yang lain ketika temanku berbisik, ”Kalau pakai kartu kredit XXXX-ku, dapat tambahan diskon 10%,” katanya. Dan akhirnya saya pun luruh dengan bisikan itu dan hakul yakin mencomot sepotong baju lengan panjang dari merek yang mirip nama buah.

Haha... ternyata gua termasuk golongan mabuk diskon. Saya jadi sempat berpikir, kartu kredit yang kumiliki ternyata mengecewakan. Karena memudahkan dalam hal nonton di bioskop, membeli kopi di kedai kopi dengan logo kehijauan, namun tidak menawarkan potongan harga jika digunakan saat berbelanja di butik busana impor yang memang lisensinya di Indonesia dipegang perusahaan yang juga punya bank yang mengeluarkan kartu kredit milik teman itu.

Welcome to plastic money, dear! Jika sejumlah perencana keuangan memberikan tips : pilih kartu kredit yang berbunga rendah, tidak menarik iuran tahunan di tahun pertama penggunaan, bla..bla.. maka saran Eno si tukang Belanja adalah pilih yang fasilitasnya sesuai kebutuhan.

Toh saya tidak perhatikan benar apakah kartu kredit keluaran B jujur tidak menarik iuran di tahun pertama. Karena niat awal untuk mencocokkan slip transaksi lama dan konfirmasi ke CS akhirnya terhapus dengan ’bayar saja...’.

Gesek kartu kreditmu jika toko buku memberikan diskon jika membeli buku dari penerbit tertentu, sekaligus perhatikan apakah kamu belanja di tanggalan yang tidak mendekati jatuh tempo dan cetak tagihan. Rugi booo... kan prinsip berkartu kredit adalah menunda pembayaran.

Atau cara Terbijak : lebih baik belanja dengan uang tunai, ketimbang besok lusa tidak rela mentransfer duit kamu ke dalam tagihan kartu kredit!

Atau catatan lain, pergilah belanja bersama teman yang tepat. Teman yang bisa mengingatkan kamu untuk berpikir ulang sebelum melakukan transaksi pembelian. Cara lain, pergilah berbelanja bareng teman yang bisa memberi saran pantas/tidaknya busana yang kamu mau beli untuk dirimu, atau teman yang tepat : Ini seperti yang terjadi ketika bersama mbak Evita –teman yang berbisik waktu itu- yang memiliki kartu kredit tepat di saat yang tepat. Lain waktu, kita belanja bareng lagi, ya mbak....

Ohya, atasan lengan panjang terbuat dari bahan kaus dengan turtle neck yang kubeli, kurasa bakal tepat dipakai ke kantor ber-AC. Apalagi, kalau dipadukan dengan blazer.. Btw, Eno, plz jujur.. Apakah kamu masih menyimpan blazer? Hehe... terakhir punya koleksi blazer ketika masih sibuk dengan sesi wawancara kerja. Rasanya blazer itu sudah tidak up-to-date, teronggok di lemari, dan sebagian besar sudah disumbangkan..... Hm, mungkin nanti saya perlu beli blazer baru..haha... Hidup Belanja!

Thursday, January 08, 2009

Berkhayal Liburan

Seandainya saya seorang Jumper. Konsentrasi, memejamkan mata, dan voila! pindahlah saya ke lokasi yang kumau.

Berjemur sambil makan siang di atas Sphinx, menyesap draught beer di salah satu bar di sudut London sambil flirting memandangi pria Inggris berwajah bak Colin Farrel, atau menonton pertandingan basket Knicks di deret depan.

Sayangnya, saya bukan Jumper. Perangkat teleporting pun masih antara isu, baru dikembangkan, atau malah belum dibuat dalam dunia iptek. Saya jadi berkhayal akibat menghayati pekerjaan dengan materi menyenangkan.

Materi berupa Hotel Tugu Lombok lengkap bersama foto-foto ciamik, menampilkan pantai, layout hotel dan pemandangan alam. Rilisnya saja sudah membuat saya membayangkan diri menjejak kaki di areal yang luasnya 6 hektare, samar-samar saya bisa mendengar debur ombak memecah pantai.

Seandainya, saya berlibur di sana, pagi harinya duduk di atas pasir pantai, dan sabar menyaksikan detik, menit, mentari mulai unjuk muka. Menghirup bau laut sudah jadi cara memabukkan yang nikmat.

Atau bisa jadi, saya bakal merenung sembari menatap Gunung Rinjani, salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Lihat saja foto ”Sunrise from Mt. Rinjani” ini.

Haha.. ini gara-gara foto indah yang mereka punyai. Salut kepada fotografer yang jeli menangkap tone warna alam (langit, pantai, kehijauan tanaman).

Di luar hal itu, memang suatu keberuntungan bisa memotret daerah seperti Aceh, Lombok atau Bali yang udaranya masih jauh dari polutan industri. Tingginya jumlah kendaraan bermotor juga turut memburamkan biru langit, akibat asap knalpot yang dibuang.

Tenang, Eno, tenang... kamu sudah merencanakan destinasi liburan :-)

(Gambar : courtesy of Hotel Tugu Lombok / cek www.tuguhotels.com)

Apple Macbook Sleeve dari Dunhill

Saat terpaksa menggunakan perangkat Macbook Apple milik teman, mulut saya justru lebih cepat mengeluarkan makian, ketimbang gerakan saya memencet keyboard.
.
Mulai dari kata : “Eh..”;”Gimana sih?”; ”Ups... rese!”; sampai.. ”Monyet!” ketika saya terpaksa menggunakan perangkat portable teman saya berlogo apel terkunyah itu. Saat itu, saya –sumpah! – memastikan diri tidak tertarik dengan Apple Macbook, dan memposisikan diri sebagai loyalis laptop berbasis PC.

Namun, tak bisa disangkal desain yang chic dan stylish membuat si apel terkunyah ini menjadi benda menggoda untuk dimiliki. Penggunanya bakal naik kelas masuk dalam jajaran Modern Upper Stylish Class: karena terlihat tahu selera, tahu teknologi, keren dipandang.

Dan sepertinya desainer dan brand kelas dunia menyadari kini gaya harus dikombinasikan dengan techie.

Contohnya, rancangan Kim Jones perdana untuk Alfred Dunhill, menyambut Musim Semi/Panas 2009. Ia terinspirasi gaya Dunhill di era 20-an dan 30-an, namun memadukan dengan semakin tingginya orang membutuhkan teknologi masa kini. Ia mengolah motif kulit ikan pari menjadi desain kantung (sleeve) Apple MacBook Air™ Laptop.

Bersama desain ikat pinggang baru, maka kantung laptop tersedia dalam 4 varian warna, yaitu raspberry red, tan, emerald green dan air force blue.

Pesan yang harus diingat : ikat pinggang tipis cocok digunakan bagi si perut ramping (jadi tahun ini semakin membenarkan tren Goodbye to Fat)… lalu kantung raspberry red memang look good. Harga? Mbuhhh….. Ga mau beli kok. Cuma pandangi dan nikmati saja foto berikut ini.

(Gambar dikutip dari : release Alfred Dunhill untuk Spring/Summer 2009 leather)

Wednesday, January 07, 2009

Flu

Bangun pagi hari (Rabu, 7/1/09) dan... Alas!!
Badan terasa pegal-pegal. Tenggorokan kering. Cairan bening mulai meleleh dari lubang hidung, kondisi ini juga sering terjadi jika aku berada di temperatur rendah alias udara dingin. Tapi, saya tentu sudah paham membedakan kondisi badan antara 'alergi' dengan 'flu'.

Berarti saya juga mengabaikan sinyal dari tubuh, sehari sebelumnya, ketika badanku terasa demam plus mata berair.

Sudah flu di awal tahun? Hiyak! Padahal ”Hidup Sehat, Berolahraga Teratur” sudah termasuk dalam salah satu Resolusi 2009.

Meski selama 2 tahun terakhir ini aku menjadwalkan waktu untuk berenang ditambah aerobik di gym, namun seringkali kegiatan itu mengalah dari alasan sibuk, deadline, atau sejumlah pembenaran untuk tidak berolahraga.

Flu di awal tahun ini bisa jadi sebagai reaksi tubuh yang cape diajak begadang selama liburan : menonton film/baca buku sampai jauh malam, diteruskan bangun siang hari.

Badan pegal sebelumnya kuartikan sebagai badan ini sudah nagih berolahraga yang hampir sebulan ini tak kujalani. (Kecuali membereskan kamar termasuk kegiatan fisik yang mengucur keringat?).

Rasanya flu tidak pernah datang di waktu tepat. Termasuk ketika –kurasa- deadline dan sejumlah pekerjaan kantor baru menumpuk di awal tahun, tapi badan kamu sudah minta istirahat?!

Saturday, January 03, 2009

Bunga Mekar dan Pudding Coklat (Part 1)

Awal tahun ini, saya boleh berbangga hati punya keberhasilan kecil di bidang yang identik perempuan : merawat bunga dan masak.

Ada teras kecil di depan kamar tidur saya. Dan hore! Tanaman yang diletakkan dalam pot-pot mungil sepanjang dinding teras itu, berbunga menjelang tutup tahun 2008.

Selama beberapa tahun belakangan, kamar tidurku menjadi ’hak milik’ keponakan. Mereka tidur dan bermain di kamar saya. Sekitar tiga bulan lalu (Agustus), kamar itu kembali menjadi proprietary pribadi saya. Nah, supaya tidak lengang sama sekali, maka di semacam bak sepanjang dinding teras diletakkan pot bunga.

Tidak sulit mencari tanaman yang bakal mengisi teras. Ibuku yang hobi membudidayakan dan memperbanyak tanaman, malah dengan senang hati membagi beberapa koleksinya. Berarti ada tempat untuk meletakkan pot anggrek, Sri Rejeki, dan tanaman sejenis Sansevieria.

Yang berbunga adalah Sri Rejeki. Ohya, secara pribadi saya sebut bunga lily. Ini berdasarkan ingatan ketika belajar Biologi di sekolah menengah dulu, sepertinya bentuk bunga Lily toh begitu. Namun Mama saya menyebutnya sebagai Sri Rejeki. Mungkin itu sebutan khas untuk bunga itu dari suatu daerah yang kadang berbeda dengan nama resminya dalam bahasa latin. Entahlah.. yang jelas, saya suka bentuk bunga itu.

Seandainya memiliki rumah pribadi dengan sepetak halaman hijau, saya bakal mencoba menyiangi bunga anyelir, mawar (...eh, ga agh! Saya ga suka bunga cantik tapi menusuk...), geranium dan aneka bunga warna-warni. Berhubung masih tinggal di rumah orangtua dan sebagai bagian dari latihan kemampuan, merawat tanaman yang sudah semi jadi di dalam teras kamar, boleh juga!

Saat pertama kali masuk ke dalam teras kamarku, tanaman-tanaman di dalam pot sama sekali belum berbunga. Malah hampir semaput. Daun-daun tampak layu dan mengering. Bahkan, Mama saya sempat ultimatum kalau tanamannya mati.... Sempat sebel juga kenapa Mamaku kok terdengar lebih mencintai tanamannya... Seandainya mati, kan masih banyak tuh di halaman rumah.... hehe sori, Mam! Ga betul-betul marah sama Mamaku kok.

Tapi sempat ketar-ketir juga, seandainya layu, berarti saya tidak berhasil merawat makhluk hidup. Ini berbeda dengan konsep memelihara hewan virtual dalam Tamagochi. Ohya, saya punya cerita sendiri. Waktu kuliah saya memelihara dinosaurus via Tamagochi, entah tren atau karena bentuknya yang menyerupai bandulan dalam warna favoritku kuning menyala, tapi yang jelas ke kampus dan sampai daerah pemetaan lapangan saya bawa perangkat itu. Ada saat telur menetas, memberi Dino makan, susu dsb, jangan sampai kelupaan, karena selayaknya makhluk hidup, Dino bisa mati kelaparan.

Karena kesibukan pemetaan dan tugas sepulang dari lapangan, saya lupa melakukan rutinitas Dino. Lalu Dino pun mati. Saya bisa tekan tombol ’Start Up’ dan memulai merawat yang baru. Akhirnya, saya malah menggampangkan. Tekan start up di pagi hari, dan melihatnya ’mati’ di malam hari diantara lembaran kertas peta, buku lapangan, dan pensil warna. Teman satu pemetaan bingung. Jika semula saya kayak ’ibu-ibu panik’ jika belum melakukan satu step, maka belakangan saya malah doyan membiarkan si Dino mati.

Tapi kali ini berbeda. Mencoba mewujudkan niat awal meng-asrikan suasana kamar tidur, mengukur kemampuan bercocok tanam, menjaga kepercayaan ibunda untuk merawatnya, atau karena seperti kata Mama-ku, ”bunga Sri Rejeki bentuk rejeki si pemilik tanaman hehe... Saya pun mencoba tak lupa menyirami tanaman tiap pagi. Membuang gulma pengganggu dari tanah tempat menanam, dan mencoba menerapkan teori yang pernah kubaca : ajak ngobrol tanaman (btw, saya tidak ingat apakah saya membisikkan kepada mereka agar mau berbunga, supaya saya tidak dimarahi Mama). Tapi semampuku saja, dalam arti jika saya kebetulan pulang ke Bogor.

Ternyata... bunga tersebut mau ’bersahabat’denganku. Syukur pula bunga itu tumbuh di Kota Bogor yang curah hujannya tinggi, sehingga cukup membantu dalam hal kecukupan air.

Ada yang berbunga di teras yang kufungsikan sebagai taman mungil. Kalau membuka jendela di pagi hari, rasanya nikmat menyaksikan kehijauan asri di sebuah petak kecil.

Bunga Mekar dan Pudding Coklat (Part 2)

Pasang celemek, ikat rambutmu, lalu langkahkan kaki ke dapur.

Siapkan panci, spatula, sendok pengaduk, sejumlah bahan : sebungkus bubuk pudding coklat, susu evaporasi, gula pasir, gelas sebagai penakar kebutuhan air sebanyak 2,5 gelas. Campur semua bahan ke dalam panci, masak hingga matang (berbuih).

Hasilnya? Hidangan pudding coklat tanpa vla. Nilai yang diberikan Mama untuk hasil olahan : 6,5-7. berarti jika dikonversi dalam mata kuliah, saya lulus dengan nilai ”C”. Bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya. Not bad lah untuk Pemula yang mencap diri Malas Masak.

Kakak-kakak dan orangtuaku hafal saya bakal ’kabur’ jika sudah urusan masak-memasak. Namun, saya sering berjanji pada keluarga suatu waktu bakal belajar masak. Saya juga mengatakan kepada mereka bahwa diri ini rajin mengkliping resep masakan dan suatu waktu bakal coba mempraktekkan salah satu resep.

Tapi niat tinggal niat. Dan biasanya, keluargaku bakal membiarkan tabiatku yang doyan berniat itu. Pernah beli 1 kg chicken nugget beku, fried fries dan minyak goreng untuk belajar menggoreng, namun akhirnya pembantu yang memasaknya. Pernah khusus beli corned beef kaleng, saus tomat, sejumlah bahan untuk spaghetti sederhana. Atau biskuit regal untuk bola-bola coklat, namun akhirnya biskuit itu sudah masuk perut sebelum menjelma menjadi kue.

Selama ini juga mereka tidak pernah mempermasalahkan. Tiba-tiba bahan-bahan yang sudah kubeli dan kubiarkan, suatu hari diolah oleh kakak atau Mama menjadi makanan jadi.

Hingga akhirnya, sewaktu liburan Tahun Baru, Mama saya menyinggung bubuk pudding yang masih tersimpan di tempat penyimpanan. Bubuk Nutrijell coklat kubeli bareng beliau pada bulan puasa September lalu. Janjiku, bakal kubuat waktu libur usai Lebaran. Dua bulan berlalu, dan setiap kali pulang ke rumah saya tidak menyentuhnya.

Tapi akhirnya kali ini saya tidak bisa mengelak. Dua kakak saya yang ahli masak ditambah Mama yang empunya dapur, mengingatkan lagi janji lama. Dua keponakan pun
’menyerang’. Paling parah, ketika makan siang Papa saya menyindir, ”Katanya ada siang ini mau bikin pudding? Jadi nanti malam bisa kita makan rame-rame.”

Waduh.... kalau bapak yang sudah berkata berarti ”Dewa sudah Bersabda’, meski bukan perintah. Mau tidak mau, usai makan siang, saya pun masuk dapur.

Dessert pudding pun akhirnya tersedia di meja makan pada makan malam. Dinikmati keluarga. Cukup enak dipandang dari segi presentasi. Hasil penilaian dari sisi rasa : kurang manis dan tanpa saus vla.

Intinya, belajar memasak membutuhkan langkah step by step . Belajar mencampur semua bahan, selain latihan sabar menunggu bahan matang di atas kuali. Ohya, next project adalah membuat pudding lengkap bersama saus vla-nya.

Dalam pikiranku terbersit bakal mencoba membuat pudding dengan varian rasa lainnya, bersama saus vla yang katanya terbuat dari campuran kuning telur, susu putih dan tepung maizena.

Sudah terpikir suatu waktu menelusuri lorong ”Bahan Kue” di hipermarket, untuk membeli bubuk es krim. Bakal mencoba es krim –makanan favoritku- hasil buatan sendiri. Hahaha...

Ssst.. kejadian turun ke dapur pada Jumat, 2 Januari 2009, menjadi bagian langkah teratur mewujudkan salah satu resolusi Tahun Baru 2009 untuk menyelesaikan dan menjilid kliping resep makanan saya di akhir Januari ini, serta mencoba mempraktekkan resep didalamnya.

Monday, December 29, 2008

Resolusi 2009

Simpan saja daftar panjang Resolusi 2009 dalam diari pribadi. Sedikit narsis, sedikit celotehan yang mungkin juga menginspirasi orang lain, atau silahkan lewatkan saja- tulisan di bawah ini sebagai resolusi Si Eno di Tahun 2009 Masehi/1430 Hijriyah dalam gaya wawancara. (Meski tidak mengungkapkan semuanya,... )


Apa kabar, Eno. Sedang sibuk apa sekarang nih?
Baik. Saat ini Eno masih dengan pekerjaan lama. Rasanya tahun depan juga masih fokus di bidang (pekerjaan) yang sama.

Apa arti Resolusi bagi Eno?
Satu atau banyak hal yang ingin direalisasikan dalam hitungan satu tahun.

Resolusi atau rencana yang ingin dilakukan di 2009?
Fokus pada kerja dan kemampuan diri. Misalkan tidak sekadar motret-motret, tapi juga memahami teknik mengolah foto seperti Photoshop. Ingin membukukan kumpulan puisi saya.

Ohya, kamu suka fotografi. Masih mau serius menekuni?
Ya. Tapi setahun belakangan ini tidak meluangkan waktu khusus untuk hunting foto seperti tahun sebelumnya.

Mungkin karena motivatornya sudah tidak ada?
(Terdiam beberapa saat). Karya fotoku yang dipajang di mall memotivasi bahwa saya punya kemampuan di bidang itu. Komentar, kritik maupun pujian bisa menjadi cambuk perbaikan hasil. Namun gimana ya?? Memang tahun ini aktivitas atau pekerjaan sudah memakan waktu, sehingga weekend inginnya istirahat di rumah saja.

Apa yang sudah kamu capai di tahun ini?
Hmm... rasanya keberhasilanku di tahun ini, tidak sefantastis tahun 2006. Tahun ini lebih let it flow dalam menjalani hidup yang sudah ada. Usaha yang saya rintis bersama teman-teman belum sukses. Mungkin belum rezeki, atau kurang fokus. Tapi saya rasa kami bakal punya peluang lain. Asalkan ada komitmen bersama untuk maju. Yang jelas, semua jadi pengalaman sebagai bagian dari pembelajaran.

Namun lebih jauh, saya mencapai apa yang bukan sekadar membuat daftar lalu membubuhkan tanda check ketika target sudah terealisasi. Saya merasa lebih menerima diri, bersyukur.

Ada lagi?
Blog pribadi lumayan rajin diupdate, rencana membuat blog resensi buku dan film sudah terealisasi, masih ada undangan menjadi pembicara pelatihan penulisan, lebih bersosialisasi dengan keluarga besar, serta berusaha keluar dari lingkungan yang sama (sembari tangan menirukan tanda petik). Saya berusaha mengasah kemampuan nulis puisi, bergabung dengan komunitasnya termasuk ke acara copy darat.

Lainnya?
Secara garis besar, tahun ini kehidupan saya seperti roller coaster atau kurva positif yang mencapai puncak hingga pertengahan tahun. Penuh dinamika dan kesibukan. Lalu, menurun jadi garis datar sampai akhir tahun.

Anehnya, jika dulu saya sering resah, ngotot harus dapat, kini saya bisa memandang suatu sandungan sebagai cermin diri. Lebih dekat kepadaNya, minta maaf jika diri ini pernah menjadi makhluk Tuhan yang sombong atau egois terhadap orang lain. Jika kamu sadari, dalam hidup ini begitu banyak orang yang memperhatikan dan mencintai kamu, sementara kamu justru menyakiti mereka.

Selain itu, saya juga belajar bahwa orang luar –dalam arti, keluarga atau sahabat- bisa memandang satu hal secara obyektif daripada kamu sendiri. Saya kini memahami arti, ”bloody is thicker than any other circumstance” dan “that’s what friends are for”.


Ada pembelajaran lain di tahun ini?
Setiap waktu, setiap perjalanan dalam kehidupan pasti ada pembelajaran. Ada tapi mau kusimpan untuk sendiri ya.

Tiga kata yang menggambarkan Anda?
Kok hanya tiga kata ya? Kurang tuh hehe..... Oke, saya coba padatkan : keukeuh kalau punya mau, sekaligus moody, dan tepat waktu. Atau padanan lain adalah si cerewet, emosional, baik hati.

Ada yang mau diperbaiki di tahun depan?
Di tahun ini masih sering bawa pulang kerja kantor ke rumah. Kadang hal itu padahal bisa dihindari kalau saja tidak menunda menyelesaikannya.

Something you dream about?
Old mini cooper.

Jadi, tahun 2009 ingin beli mobil itu?
Hahaha....... Ga lah. Belum mampu....

(Gambar mobil dikutip dari : www.4tutto.com)

Monsoon – Simpanse Pemberi Inspirasi


Saya punya penghias meja kerja yang baru. Namanya Monsoon. Sebuah pajangan plastik berbentuk simpanse, warnanya coklat, tangan kanan memegang lutut, sementara tangan kiri diarahkan ke atas dengan jari telunjuk teracung ke langit. Jika diguncangkan terdengar kata, ”Aha!” keluar dari lubang speaker terletak di punggung belakangnya.

Sembari memandang layar monitor komputer, bengong cari inspirasi, mata saya bisa melirik ke Monsoon. Ia menemani saya di sebelah kanan meja. Tampang ja’il figur film kartun Madagascar-2 itu seolah mengulik otakku menemukan ide tulisan. Entah ide bermutu ataupun antah berantah.

Saya memperoleh Monsoon dari keponakan. Monsoon adalah salah satu dari 7 karakter yang saat ini dijual McDonald dalam paket Kids Meal. Restoran cepat saji yang sering disingkat McD ini sedang menawarkan paket makanan berhadiah karakter-karakter film Madagascar-2 yang sedang ditayangkan di bioskop saat ini. Ada Alex, Melman, Gloria, dan lainnya.

Meskipun saya penggemar film kartun, selain menahan diri agar timbangan tidak melonjak selama liburan, saya masih menerapkan hitung-hitungan matematika untuk beli. Akan tetapi, yang namanya anak kecil justru menjadikan makanan berbonus mainan sebagai kriteria memilih tempat makan. Apalagi tante yang baik ini kerapkali bertugas menjadi teman selama keponakan berlibur di rumah Opung-nya di Bogor. Dari total liburan 5 hari, saya 2 kali (dalam 2 hari) menemani dua keponakan saya makan di McD.

Setelah di rumah seusai acara jalan plus makan, barulah saya perhatikan karakter Monsoon, si simpanse bengal pilihan Ammar. Sebelumnya keponakan laki-laki saya ini memilih tokoh pinguin.

Jika di film, simpanse berlagak manusia itu (memulai hari dengan minum kopi, sarapan donat sembari baca koran) lucu tapi tidak mencuri hatiku dibandingkan gaya konyol Alex (singa) atau mafioso pinguin. Akan tetapi, dalam bentuk pajangan plastik setinggi lebih kurang 8 centimeter dan mengeluarkan suara ”Aha!” dan bla..bla.. di belakang kata itu, membuat saya gemas. Saya pegang sembari membolak baliknya, lalu berkomentar, ”Mar, lucu nih. Ti’Wi senang si simpanse ini,” kataku kepada Ammar, keponakanku berumur 6 tahun sembari memegang figur Monsoon. Ti’Wi adalah panggilan sayang dari para keponakan, sebagai kependekan dari sebutan ”Tante Wiwi”. Di rumah saya memang dipanggil ”Dewi”, bukan ”Eno”.

Ammar lalu tersenyum manis dan sopan berkata, ”Ambil aja TiWi. Ga apa-apa. Nanti bisa ke McDonald lagi.”

Glek! Keponakan saya yang satu ini memang pintar dalam memilih kata-kata. Doyan nonton berita di televisi membuatnya cepat menyerap berbagai kosa kata yang rasanya sulit kubayangkan bisa diserap di usia sekecil dia, sekaligus memahami artinya. Misalkan, ’huru-hara”, ”Amrozi dan hukuman mati”, bahkan ”mampus”. Bocah ini juga memiliki artikulasi Bahasa Inggris cukup baik.

Saya jadi teringat, ucapannya hampir senada dengan saat kami menasehatinya jangan rebutan mainan. Atau, bersedia berbagi coklat dengan kakaknya. Misalkan kami mengucapkan, ”Hayo dibagi dong (makanannya), nanti bisa beli lagi.”

Karena Ammar sudah memberikan mainannya, saya harus menerima. Tidak bisa mengucapkan kata ”tak usah” layaknya basa-basi berhadapan dengan orang dewasa. Ucapan Ammar sepertinya sekaligus isyarat saya harus membawa lagi unyil-unyil itu ke restoran cepat saji berlogo badut itu.

Untung beberapa hari kemudian, Ammar dan Rani pergi berlibur ke Jakarta. Saya bisa lega, tak berurusan dengan paket makanan berbonus mainan.

(Foto : itu si Monsoon, ternyata tidak camera-face, karena lebih lucu li'at langsung)

Friday, December 19, 2008

Bukan Eno yang Biasa

Tidak seperti Eno yang biasanya perlu keteraturan dan perjalanan terencana, kali ini kepergian ke luar kota pada Jum’at (12/12) semua kuputuskan dalam hitungan hari.

Baru beberapa hari menjelang hari-H saya konfirmasi ikut datang ke sebuah acara keluarga, buka website maskapai penerbangan, booking dan ambil tiket, lalu Jumat pagi saya sudah di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta.

Sampai di kota Semarang, tujuan pertama adalah hotel tempat orangtua saya menginap. Namun, ini yang kedua kalinya saya menjejak hotel Patra Semarang. Dengan tipikal resort yang tenang, cukuplah orangtua saya saja yang beristirahat di sana.

Saya pun membuka buku telepon, dan mereservasi menginap di Hotel Ciputra yang berada tepat di depan simpang lima. Kawasan yang lebih menunjukkan keramaian pusat kota, strategis bagiku untuk walk hunting alias menyusur kota berjalan kaki. (Ini juga bukan Eno yang biasa, karena biasanya saya berangkat ke kota tujuan dengan tempat penginapan yang sudah ter-reservasi).

Ternyata, sekali-sekali kita memang perlu keluar dari kebiasaan diri. Apalagi jika otak sedang butek. Bertandang ke suatu tempat, menyaksikan pemandangan yang berbeda, bisa menyegarkan pikiran, merancang langkah baru.

Ohya, malam sebelumnya pun jadi cerita sendiri. Meskipun semua main dadakan, untuk urusan packing barang, saya –ternyata- tetap Eno Yang Biasa. Eno yang klata-kliti dan banyak pernik bawaan.

Rasanya pengalaman masa sekolah dan kuliah untuk berkemah, naik turun gunung atau keluar masuk hutan untuk pemetaan, membuat saya ogah untuk menjadi backpacker lagi. Saya sudah menyatakan tutup buku untuk wisata beransel punggung, menggelandang seenaknya dan membawa barang sesederhana mungkin.

Oke. Untuk tempat penyimpanan barang, saya memilih kopor hitam gres yang berukuran lebih kecil ketimbang kopor Antler-ku. Biasanya memang kopor berwarna abu-abu itu menjadi andalanku bepergian karena bentuknya yang besar. Namun, karena hanya 2 malam, sepertinya kopor hitam baruku memang paling pas. Sekaligus momen ujicoba barang baru, bukan?!

Kemudian, saya pun mendekatkan semua ’Barang Harus dibawa’ ke satu tempat : sudah pasti benda pertama yang tak bakal kutinggalkan adalah susu pembersih muka merek L’Oreal yang sudah seperti ’narkoba muka' saya. Saya terbiasa membersihkan muka minimal 2xsehari –pagi dan malam-dan produk ini pun susah-susah gampang pula dibeli. Tidak mudah untuk mendapatkan toko yang menjual produk itu, sehingga saya lebih baik bawa.

Saya lalu mengambil satu set make-up, topi pet pelindung dari panas, baju renang dan perlengkapannya, kamera digital, iPod, dan laptop.

Ohya, rasanya saat yang pas juga untuk memakai perdana kacamata hitam baru bergaya Jackie O dari Evita Peroni, jadi itu juga menjadi must have item. Aneka tisu (tisu kering, tisu basah, tisu penyerap minyak di wajah), body lotion, dan kapas muka. Sepatu cantik dan sepatu casual. Mylanta sebagai pereda maag, suplemen vitamin C, dan aneka obat-obatan termasuk plester Hansaplast.

Buku bacaan di jalan, notes dan bolpen (itu artinya membawa satu set tempat pensil berisi peralatan tulis)...ohya, mukena terbagus dan terbaruku karena terbuat dari bahan ringan (hush...maklumlah baru belakangan ini rajin sholat, jadi baru sekarang ini ingat untuk bawa-bawa itu pula).

Akhirnya, setelah semua didekatkan ke satu tempat, saya pun garuk-garuk kepala. Apa yang bisa dikurangi ya?? Untuk urusan barang bawaan, saya tetap berprinsip ”Kalau saya tidak membawa ini-itu, saya sendiri yang tidak merasa nyaman di perjalanan.”

Namun, tips yang kuperoleh dari pengalaman keluar kota : Sesuaikan pula barang bawaan dengan kondisi daerah. Jika menginap di kota metropolitan, dimana hotel berbintang 3 ke-atas tersedia, tentu berbeda dengan ke pelosok kota kecil. Misalkan kalau pergi ke kota metropolitan, pernak-pernik bisa diperoleh di hotel. Kondisi sebaliknya jika kamu nginap di kota kecil (kabupaten dsb). Bakal berguna jika membawa perlengkapan mandi termasuk handuk sendiri, termasuk pengering rambut (hair dryer).

Ohya, untuk perempuan tentu jangan lupa membawa perangkat pribadi bulanan wanita (kadang stres juga memicu ’periode’ yang dalam hitungan kalendar kamu belum waktunya). Baby lotion berfungsi ganda sebagai pembersih muka sekaligus pelembab badan. Lotion anti nyamuk dan minyak kayu putih, pashmina yang selain mempercantik penampilan bisa berfungsi ganda jadi selimut dan penghangat tubuh, aksesoris (kalung, anting dsb) untuk menvariasikan penampilan dengan baju yang itu itu saja.

Perangkat lain berupa colokan listrik banyak dan berkabel panjang (untuk mencharge batere kamera, handphone, dan laptop pada saat bersamaan). Pengalamanku pergi Aceh 2 kali, membuatku berpikir bawa senter cukup berguna karena disana sering terjadi pemadaman listrik. Ini tidak hanya jika ke Aceh, karena Indonesia secara umum masih mengalami kendala dalam penyediaan pasokan listrik, khususnya di daerah-daerah terpencil dan luar Jawa.

Oke! Yang jelas saya sukses mempacking barang seringkas mungkin, dan sukses pula pulang lagi ke Jakarta.

Financial Check-Up

Menjelang akhir tahun, mengevaluasi resolusi dan mulai memikirkan apa yang ingin ditargetkan dalam tahun ke depan. Salah satunya dalam urusan keuangan.

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali buku “Nice Girls Don’t Get Rich-75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang”. Di halaman pertama, tergores nama saya lengkap bersama kalimat “Jakarta 15-3-07”. Yap! Itu artinya, buku itu kubeli Maret tahun lalu, langsung kubaca di akhir pekan, dan sempat termotivasi.

Hanya saja, setahun kemudian, saat aku membaca ulang buku ini, saya menyadari, kok belum ada pergerakan positif?

Mismanajemen keuangan? Mmmm... sedikit.

”Kok waktu di xxxx, gw bisa beli macbook ya?” kata temanku.

Aku mengangguk. ”Sama. Kerja di pabrik lama, gw bisa nabung beli laptop,” balasku.

Eno boros?? Ihh, gak juga deh... Ini ada masalah inflasi, ketika pendapatan manusia segitu-segitu saja, sementara harga barang kebutuhan naik lebih cepat.

Oke, langkah awal sebelum membuat resolusi, adalah mengevaluasi hal-hal yang terjadi selama tahun ini di bidang keuangan.

Kesimpulan pertama : punya target, dan tetapkan prioritas. Saat kerja di pabrik lama, Eno menetapkan tahun keberapa bakal cabut dari tempat tersebut. Ingin sekolah lagi, dan perlu laptop untuk menunjang studi. Akibatnya? Saya jadi rajin menabung untuk merealisasikan niat.

Kejadian lain, ternyata, saya memperoleh kesempatan bekerja di pabrik lain. Kesempatan yang –menurut saya- mendekati keinginan pribadi pula. Namun, syaratnya saya harus bersedia kontrak untuk jangka waktu tertentu. Hal ini menyebabkan saya harus memikirkan apa yang bakal saya lakukan seandainya... ini yang terburuk.... kontrak itu tidak diteruskan. Akhirnya, saat menandatangani kontrak di pabrik baru, saya berpikir harus ambil kesempatan itu sekaligus nothing to lose. Kalau kontrak tidak diteruskan, sebuah nama lembaga pendidikan di negeri jiran sudah saya pegang untuk melanjutkan studi. Jika kontrak putus, saya bakal cabut mencari penyegaran otak dengan sekolah. Ini memotivasi saya untuk menabung supaya bisa beli laptop. Jadi, saya tetap harus memprioritaskan menabung untuk sekolah (plus biaya hidup) dan beli laptop.

Harus diingat, 6-8 tahun lalu netbook yang cuma Rp 4-5 juta belum dirilis. Komputer jinjing menjadi benda ’mewah’ yang harus menyiapkan anggaran antara Rp 10-15 juta. Jadi, dengan gaji wartawan media cetak lalu menjadi staf penulis iklan, suatu kewajiban menyisihkan uang untuk ditabung.

Dan ternyata, dari status kontrak, pabrik baru mengangkat saya menjadi karyawan tetap. Oke! Saya berprinsip, ”Belajar bisa kapan saja. Tidak secara formal/sekolah, dari lingkungan sekitar pun kamu belajar. Termasuk belajar dari pekerjaan kamu. Tapi bekerja alias cari duit ada batas waktu”. Dan, tentu saja, saya memilih kerja.

Sekarang saya harus punya ”Dream Thing” baru agar niat menabung lagi.

Kesimpulan kedua : Ada saatnya kamu membalas, bukan hanya menerima. Kita bisa berencana, namun kadang urusan sosial membuat cash flow terganggu. Bukan tidak ikhlas, hanya berarti kita siap bahwa target bisa saja tersandung hal lain. Ada saatnya kamu menerima bantuan, dan di waktu berbeda saatnya kamu membalas budi. Hal seperti ini berarti di luar rencana .............Saya kembali ke titik (hampir) nol untuk mulai menabung lagi.

Akhirnya, saya sudah menyimpulkan penyebab kondisi keuangan tahun ini tidak oke.
Saya pun berjanji untuk mampu :
1. Membedakan keinginan versus kebutuhan
2. kembali ke kesimpulan pertama : punya target dan tetapkan prioritas
3. Buat anggaran dan (berusaha) hidup sesuai anggaran.
4. Kurangi kebiasaan belanja cara impulsif. Khususnya hentikan kebiasaan membeli anting-anting dan gelang. Stok di kamar sudah cukup untuk mix n’match selama 365 hari! hahaha....... catatan : baru boleh beli yang baru, setelah semua aksesori yang bukan investasi itu rusak semua!

Namun, bukan berarti tidak boleh bersenang-senang. Hanya saja, Pleasure Budget alias anggaran bersenang-senang (contohnya untuk membeli CD, nonton, makan di restoran favorit..) harus dialokasikan secara khusus pula.

Nostalgia

Mari sini
Rayakan hari kita saling melupakan
Seruput kopi sambil basa-basi sana sini
Tapi janji : jangan pegang tanganku seperti dulu
Hari ini kita cuma jadi penonton sirkus
Pemirsa atraksi metropolis
Saksikan lagak romantis kaum rindu cinta dari sudut kafe

Hari ini, kita bukan lagi si anak pinggir
Anak gang cuma mampu makan donat odang-ading satu berdua
Bukan bibir gincu gula semburkan mimpi manis
Bukan berbaju putih abu-abu mimpi keluarga berencana



Jakarta, 2 Desember 2008

Hanya Kamu

Hanya kamu satu-satunya teman, sahabat, orang terkasih yang berenang dalam palung hati.
Hanya kamu satu-satunya yang tidak kutendang dari telaga itu.


Jakarta, 2 Desember 2008

Taman

Sini duduk sebelahku
Genggam tanganku dan lontarkan mimpi
Ada si Dinda dan Putra bermain di depan kita
Berlari, berteriak, menangis, sebut ”Ayah.... Bunda.....”

Mari, hangatkan hatiku
Pelukmu merengkuh, bau nikotinmu bikin mabuk kepayang
Bisikkan ke telingaku, ”Kita berputar dalam satu waktu,”
”Hidup cuma sekali, aku patuh pada janji berdua dan komitmen padaNya”

Mari, isi taman ini dengan pupuk dan kembang
Jangan kamu teriak soal keadilan dan undang-undang
Jika rumput di taman sendiri kau injak-injak : .... Enyah kamu !!!



Jakarta, 2 Desember 2008

Cinta Diri Sendiri


Selalu ada Kamu
Ada Mas, Aa, Abang, Sayang .....
Sekarang hanya : Aku


(Gambar dikutip dari : www.squidoo.com)
Jakarta, 29 Agustus 2008

Wednesday, December 10, 2008

Menepikan Mimpi di Blue Bayou

Siang hari mendengarkan lagu lawas “Blue Bayou” dari Linda Ronstadt. Lagu populer 1977-an ini dibuat oleh Roy Orbison dan Joe Melson, sebelumnya dinyanyikan sendiri oleh Roy Orbison pada awal 70-an. (Hasil browsing juga sih, maklum belum lahir tuh tahun segitu ...)

Entahlah… suara Linda Ronstadt membuatku terlarut membayangkan kondisi begini : ambil waktu untuk merenung dan pergi menepi, bolehlah aku melanggar pantangan diri -sejak setahun terakhir- untuk smoke, lalu mencoba mengingat apa yang sudah terjadi selama setahun ini.

Biarlah, namanya juga hampir penghabisan tahun. Jadi saat yang cocok untuk merenung, dan membuat resolusi di tahun baru.

Ada waktu untuk berkaca. Bukan sekadar menyalahi kesalahan. Akan tetapi, mencoba memaafkan diri yang terkadang na’if, terlalu angkuh dan percaya kemampuan diri, dan segala sifat manusia yang melekat di diri.

Membayangkan satu tempat bernama ’rumah’. Bukan…. bukan rumah dalam arti harfiah. Tapi sebuah tempat atau keadaan yang menyambutku dengan ramah, menyapu sedih dan luka di hati, lalu ada undangan dansa, ada tawaran ’A Box of Fun’ dari mentari tertelan senja hingga bulan pun lelah, dan kuakhiri dengan tidur lelap.

Terjerembab sambil berkata dalam bisik, ”Nice girl... being better tomorrow. Swept away your sorrow.”, lalu terlelap sembari menyunggingkan senyum.

Ini lirik lagu nya setelah browsing di Google :


I feel so bad, I've got a worried mind
I'm so lonesome all the time
Since I left my baby behind
On Blue Bayou

Savin' nickels, savin' dimes
Workin' til the sun don't shine
Lookin' forward to happier times
On Blue Bayou

I'm going back some day, come what may
To Blue Bayou
Where the folks are fine
And the world is mine
On Blue Bayou

Where those fishing boats
With their sails afloat
If I could only see
That familiar sunrise
Through sleepy eyes
How happy I'd be

Gonna to see my baby again
Gonna be with some of my friends
Maybe I'll feel better again
On Blue Bayou

I'm going back some day, come what may
To Blue Bayou
Where the folks are fine
And the world is mine
On Blue Bayou

Where those fishing boats
With their sails afloat
If I could only see
That familiar sunrise
Through sleepy eyes
How happy I'd be

Oh, that boy of mine, by my side
The silver moon and the evening tide
Oh, some sweet day, gonna take away
This hurtin' inside

Well I'll never be blue
My dreams come true
On Blue Bayou


~ * ~ * ~ * ~

(Betul! Rasanya perlu meluangkan waktu untuk merenung)

(Gambar dikutip dari : www.family-vacation-getaways-at-los-angeles-theme-parks.com/images/8fBlue.jpg)

Tuesday, December 09, 2008

Lagi Sensitif Nih!

Kenapa aku jadi gampang sensitif?
Tiba-tiba merasa sensitif ketika mendengar orang berteriak, ”Gua kan banyak kerjaan nih. Kerjaan menumpuk...bla..bla...”

Apalagi mendengarnya di saat saya juga punya pekerjaan yang bikin otak putar-putar 7 keliling. Rasanya ingin balas teriak, ”Memangnya hanya kamu yang punya kesulitan?”

Saya terkadang juga mencantumkan status ”Busy” di YM, dan benar adanya. Sebuah pernyataan jujur tidak ingin diganggu chit-chat karena pekerjaan sedang menanti diselesaikan di depan mata. Saya sendiri tidak mau dipusingkan kebenaran/tidak dari rekan yang mencantumkan status demikian di YM.

Belakangan ini saya super sensitif. Merasa bahwa kehidupan yang kujalani tak bersahabat. Rasa sakitnya seperti kena gebok rekan sendiri saat latihan softball (karena badan terasa remuk dan bertanya dalam hati, sadis benar teman sendiri menabrakkan bola seolah melampiaskan dendam.... tambah lagi kalau terkena di bagian dada. Rasanya ingin mengeluarkan sejumlah nama penghuni kebun binatang seraya berteriak,"...... lu! Aset nih!" serasa nunjuk bagian tsbt, haha.....).

Rasa kesal yang rasanya sepadan kubuang dengan mencoba taebo atau berenang 6 lap. Supaya cape dan tidak mampu berpikir bahwa diri ini sedang gundah!

Atau salahkan hormon dengan premenstrual syndrome (PMS) yang membuat hampir semua wanita setiap bulan ada fase moody. Saya jadi berpikir, pastilah wanita adalah makhluk Tuhan paling berdosa karena sebulan sekali bikin kesal orang, ngamuk-ngamuk cuma untuk urusan kecil, gampang ngambek, cepat merasa dicuekin lalu nangis tak jelas.

Tapi sayangnya ga pede untuk memakai kaus bersablon ”Awas lagi Sensitif! ....PMS..” supaya orang lain pengertian.

Untunglah bulan November sudah berlalu, karena saya sudah memastikan bahwa pada 2008 bulan terjelek dalam hidupku adalah bulan ke-11. Dan sedang mencoba meng-upgrade diri supaya tidak mellow menyek-menyek di Desember.

(Gambar dikutip dari : http://www.4kraftykidz.com/Donald-Duck-wet.jpg)

Sunday, December 07, 2008

Kado untuk Ayah


Memberikan kado jelas harus berguna bagi penggunanya. Makanya, saya paling malas dapat kado Cuma untuk hiasan meja, dan tentu saya tidak suka pula memberikan kado hal demikian.

Dalam hal mencari kado, biasanya juga mempertimbangkan selera. Dan kenapa bagiku mencariku kado buat laki-laki, kurasa lebih sulit ketimbang wanita. Selain itu, rasanya budget harga barang lebih mahal :-))

Bayangkan : memberi kado buat perempuan bisa salah satu item dari ujung rambut hingga kaki. Aksesoris rambut, anting-anting, gelang, lipstik, atau bros. Baju, sepatu, dompet. Sisir hingga satu set body lotion atau sekotak sabun lavender made in England.

Cowok? Yang harus digarisbawahi pertama adalah desain barang yang lebih konservatif. Dompet kulit (ga mungkin kasi dompet receh batik), dompet berfungsi sekaligus gantungan kunci, mini mp3, album CD, senar gitar (yang ternyata juga banyak itemnya..sigh), baju (ternyata selera saya untuk pilihan busana pria ala metroseksual. Dan itu ternyata cuma disegani segelintir pria), toilettries untuk pria pun memiliki wangi terbatas. Arloji, atau kaus.

Adapula kado unisex yang tidak butuh uang, asalkan diberikan dengan penuh ketulusan, yaitu cium pipi kiri dan kanan.. halah!

Nah, kali ini saya mengalami kebingungan memilih kado untuk ayahku. Saya sendiri lupa, rasanya tradisi memberi kado atau merayakan ulang tahun papaku bukan dari dulu. Dalam tanggal ultah tenggelam dalam rutinitas kerja beliau. Kami bersaudara pun hanya mengucapkan selamat ulang tahun, lalu pergi dengan kesibukan sekolah.

Mungkin juga karena putri kecilnya sekarang punya penghasilan sendiri, saya sejak beberapa tahun terakhir memberikan kado. Buat papaku yang tak banyak pernik, kado paling pas menurutku adalah Buku! Sesuai hobi beliau, khususnya sejak dokter menyarankan papaku tidak kerja berat akibat lemahnya klep jantungnya.

Tahun lalu kadoku –yang menurutku- yang paling sukses. Dua buah buku impor masing-masing berjudul : The Gurkhas (oleh John Parker) dan The End of Sukarno (oleh John Hughes). Kado itu sangat...sangat.... sesuai selera beliau. Dan sudah kupersiapkan jauh hari.

Tahun ini dapat digambarkan dalam situasi saya melihat kalendar, hitung mundur, dan tersadar bahwa ultah Papa tinggal beberapa hari. Seminggu sebelum hari-H, bagi saya sudah mepet :(

Ubek-ubek PIM, mampir di Sogo melihat sebuah jaket coldoray. Sayangnya size yang kumau sudah tinggal satu-satunya yang dipajang. Sudah bluwek dan ada bolong kecil (mungkin terkait sesuatu).

Mampir ke bagian jam tangan, rasanya tidak ada arloji yang kurasa bakal memenuhi selera bapakku yang klasik, sekaligus spesifik. Jelajahi Metro depstore pun aku tak berhasil menemukan yang kurasa cocok.

Terakhir, saya mampir ke Gramedia dan membeli ”Membongkar Kegagalan CIA” versi terjemahan dari Legacy of Ashes karya Tim Weiner. Sempat bertanya pula pada customer service-nya apa menjual versi bahasa Inggrisnya, dijawab tidak ada. Yah setelah at glance membaca isinya (kekhawatiran membeli versi terjemahan adalah tata bahasa/pilihan kata yang tidak tepat, sehingga pembaca tidak paham apa maksud yang mau disampaikan) akhirnya saya beli buku tersebut.

Saya sempat berpikir, apakah mencari barang di sore hari, setelah cape kerja, membuat mood saya tidak asyik? Rasanya diri ini tidak konsentrasi untuk melihat-lihat barang.

Tapi yah sudahlah. Memberi hadiah kepada orangtua toh tak harus di hari ulang tahun. Mereka juga bangga jika anaknya melangkah di jalan yang halal. Jadi ingat sebuah kutipan menarik bagiku dari penggalan surat R.A. Kartini :

Kasihan benar orang-orangtua yang bernasib buruk mempunyai anak-anak perempuan seperti kami. Kami berharap dan berdoa, panjanglah usianya hendaknya dan semoga kelak mereka bangga pada kami, sekalipun kami tiada kan berjalan di bawah payung keemasan yang berkilauan (Surat R.A. Kartini kepada Nyonya Abendanon – dikutip dari buku ”Panggil Aku Kartini Saja: karya Pramoedya Ananta Toer)


(Gambar Smurf dikutip dari : )

Liburan di Rumah

Hari 1 :
Bangun dalam kondisi badan pegal-pegal, tenggorokan mulai gatal-gatal, bersin-bersin. Berarti kepalaku yang pusing beberapa hari sebelumnya, penanda bahwa badan ini memang sudah perlu break.

Bangun, minum air putih seteguk, mandi, telan suplemen vitamin C, pulang ke Bogor. Saatnya butuh perbaikan gizi dengan mengonsumsi makanan bunda... :-p

Sampai di Terminal Baranangsiang tengah hari, saya merasa salah kostum. Jakarta yang mendung dan gerimis, membuat saya mengenakan kaus lengan panjang bertudung hujan (capucon) yang memberi hangat pula di bis ber-AC.

Namun ketika tiba di Bogor, kota hujan menyambutku dalam panas  makan siang dulu di Air Mancur -daerah ini kawasan jajanan terkenal di Bogor dan tidak jauh dari lokasi rumahku- menikmati somay bersama jus melon (igh, ternyata rasa somay-nya tidak seenak dulu. Jus melon juga lebih cair). Tidak lupa belanja oleh-oleh coklat buat Yakob. Siapa Yakob? Dia burung kakaktuaku. Selera coklatnya malah lebih mahal ketimbang majikannya haha..


Hari 2 :
Bangun tidur dan melihat jam menunjukkan pukul 07.00 (wah! masih terlalu pagi untuk orang yang sedang berlibur...)

Sarapan gorengan (ini menu tak sehat dan hanya berlaku di hari liburan di Bogor) beli dari tukang yang mangkal dekat Dinas Kesehatan. Pembantuku sudah hafal kebiasaan satu ini. Bakal menawarkan diri untuk membeli. Catatan : berlibur berarti menikmati kondisi-kondisi yang tidak kita nikmati di hari biasa.


Hari 3 :
Tidak cuma bekerja, menikmati liburan pun perlu penyesuaian. Hari ini aku sudah terbiasa dengan ritme berlibur : bangun siang, nonton film, lalu menyaksikan televisi : berita utama seputar Ananda Mikola sebagai tersangka utama kasus penganiayaan. Hehe, ternyata pembalap nasional beralih profesi menjadi debt collector.....

Beberapa hari sebelumnya, orang kantor meng-SMS ku untuk membuat tulisan advertorial ber-deadline Selasa besok. Tugas mendadak yang bakal membuatku harus menulis di akhir pekan. Ugh! ...Sniff...sniff.. cari ide nih!

Namun, aku dapat berita gembira pula dari Merry. Usaha yang rencananya kami (Ajeng, Merry, Eno) mau rintis sepertinya mulai menemukan titik terang. Yap! Yap! Hayo, Eno, semangat! Semangat!

Rencana malam ini : bakal begadang ngetik bersama Buttercup.

Wednesday, December 03, 2008

My Guilty Pleasure

Coklat adalah my guilty pleasure. Aneka penganan manis –kecil porsi, tapi besar kalori- seperti coklat, kue tart, es krim dsb gampang memicu kenaikan timbangan badan, tapi saya suka banget jenis makanan tsbt.

Kabar baiknya, coklat meredakan stres. Psikolog Dian Wisnuwardhani mengatakan coklat salah satu obat mujarab meredakan stres –suatu kondisi saat tubuh terganggu karena tekanan psikologis- selain buah-buahan karena kaya antioksidan. Selain itu, vitamin pada coklat dan buah-buahan mengembalikan stamina. (Koran Tempo, 29 November 2008). ... Dalam hatiku, pastilah Dian lupa problemnya coklat yang beredar di pasaran hanya kecil persentase kakao, selebihnya gula dan aneka bahan yang memicu tebal lingkar pinggang.

Pernah konsultasi ke dokter, ia katakan memang badan saya sensitif gula. Ini setelah dia memantau daftar makanan harian yang kusantap dan secara berkala menimbang badanku. Maksudnya, berat badan saya gampang kepicu dengan penganan manis. Akan tetapi, yang penting juga mengetahui takaran, food combining, dan olahraga teratur.... :0

Diri ini dari merasa sebal kenapa berat badanku melar sejak bekerja, hingga akhirnya berprinsip 'no problemo'.

Ohya, kalau merujuk pada informasi di atas, berarti saya stres melulu dong! Saya stres saat baca buku, stres saat ngetik depan komputer, stres saat ngopi di kafe... karena semua itu momen saya menikmati coklat. Pilihan? Tidak ada preferensi. Mulai dari Coklat cap Ayam Jago (masih ada di pasar ga ya?) hingga coklat berlabel made in Swiss.

Apakah kemarin saya stres? Entah... Yang jelas, saya ingin makan kue tart full coklat. Mungkin opera cake bersama kopi hangat. Sampai akhirnya terbayang sepotong cheesecake dingin, kusendok secuil lalu masukkan ke mulut. Rasakan sensasi dinginnya di langit-langit dan lidah, lalu guyur dengan mochacino hangat. Wuih.....


Hari itu saya ke Poins Lebak Bulus. Mencoba cari-cari kafe yang menarik, akhirnya mentok ke Oh La La lagi. Makanan yang ada? Hanya dua pilihan kue manis nan leker, dan kupilih brownies coklat. Dan ternyata.. ga enak!! Buat lidahku masih lebih terasa nendang rasa brownies Dunkin Donuts yang legit. Brownies coklat yang bentuknya seperti sepotong sabun itu rasanya seperti bolu yang disiram dengan coklat cair di atasnya. :(

Hari ini saya bakal keluar kantor. Jika acaranya kelar dalam 1-2 jam, mungkin saya bisa mampir ke NYDC di PIM-2 (masih ada ga ya? Sudah lama ga melanglang ke PIM-2...). Seingatku, di sana menu makanannya hampir sesuai dengan seleraku yang doyan manis. Oreo, coklat, taste yang milky. Kebayang cheesecake bertabur oreo.. nyam...nyam.....

Monday, December 01, 2008

Donat Odang-Ading

Mengunyah donat odang-ading
Gulanya manis bikin lidah terguling
Aku lapar jilati rautmu dalam mata mengerling

Dag dig dug dadaku
Kau kata nanti antar aku
Hingga ke pintu
Donat bulat pelan kugigit
Sisa di bibir, biar kau sapu nanti

Merah Marah

Bila bening mata tak memandang dalam kasih
Mencoba alirkan amarah
Tiada muara berlabuh

Mantra eros, cupido, pun tak mempan
Jika sudah emosi meradang
Aih! hampir tutup tahun, darling.........
Dan -sekali lagi- rapor cintamu masih merah

Puisi Berima

Hore!
Akhirnya berhasil membuat puisi berima : "Merah Marah" dan "Donat Odang-Ading".
Setelah selama ini hanya berniat mencoba, tapi selalu menunda, akhirnya kupaksakan. Harus! Akhirnya, terbit juga inspirasi pilihan kata. Pasti masih jauh dari sempurna, tapi hargailah prestasi sendiri :))

Meski puisi modern membebaskan kita dalam pilihan kata, namun puisi berima yang identik gaya dulu, kadang terasa unik, lebih bernuansa. Sama seperti kembali ke semangat retro, vintage, sesekali kita kembali ke asal.

Bibir Sumbing

“Lho, gue kan Batman, masih bangun malam-malam,” kataku.

”Hehehe.... Tahu apa beda Batman dan Superman?” balas si lelaki, sebut saja X. Lalu ia melanjutkan perkataan, ”Batman pakai celana dalam di dalam, sedangkan Superman pakai celana dalam di luar,” katanya.

”Hehehe...”

”Tahu apa beda lain dari Batman dan Superman?” kata X.

”Batman pakai topeng, sedangkan Superman tidak pakai,” jawabku.

”Bukan. Batman itu sumbing, sedangkan Superman dobel sumbing,” kata X.



Saya speechless. Maksud lu apa???

Yap! Saya memang lahir dengan berbibir sumbing. Saya sadar, parut itu memang terlihat di mata orang-orang yang memandang wajah saya. Namun, saya anggap baru kali ini mendengar ucapan paling menohok dari seseorang.

Apakah saya menjadi terhina? Yap! Memang!

Tapi, apakah gara-gara ucapan itu saya merasa rendah diri? Tidak!

Apakah saya jadi merendah, menganggap diri tidak pantas untuk dekat-dekat dirinya? No way!

Justru, saya bisa menilai kedangkalan otak pria tersebut, yang cuma tau berkelakar gaya Srimulat. Menembak kekurangan orang. Apalagi cuma berani berkomentar demikian via telepon. Lebih jauh lagi, siapa pula yang duluan mengejar-kejar dan menelepon? Situ kan? Bukan saya yang mencari Anda. Aih, mungkin kejantanan dia memang hanya sejempol. Sejengkal pun tidak layak untuk saya jadikan teman.

Dalam peristiwa lain, beberapa waktu lalu saya pergi tugas ke luar kota. Bapak yang bertugas mengantar-jemput kami selama di sana, dalam suatu sesi pemecah kesunyian di mobil, berkata :

”Bapak wakil bupati juga sumbing,” kata dia. Saya jelas mengerti maksud kata ’juga” dalam obrolan dia.

”Ohya?” hanya itu jawaban saya. Hanya dalam hati saya membatin, ”Biar sumbing tapi beliau jadi wakil bupati. Sedangkan kamu? Cuma jadi supir….”

Bibir sumbing hanya tidak enak dilihat oleh mata yang memandang. Selebihnya, tidak ada yang patut dikasihani. Kami dikaruniai otak yang normal (contohnya, dalam suatu tes IQ saya bahkan termasuk kategori di atas rata-rata) dan bentuk fisik yang sama dengan manusia lainnya.

Dengan kata lain, kami bisa berpikir, dan memanfaatkan semua kemampuan panca indera. Tidak butuh fasilitas-fasilitas khusus yang memposisikan kami handicapped. Persoalan yang kami hadapi hanya perlu dipecahkan dengan uang dan operasi plastik. Atau make-up koreksi melalui kosmetik.

Memang ini problemnya. Kaum bibir sumbing menderita Pelecehan Mental, antara lain :
1. Akan menyakitkan hati jika ibu-ibu hamil menatap muka kami, lalu terlihat mengusap-usap perutnya yang melendung. Duh, ketauan sekali di dalam hati dia berkata ”Amit-amit. Semoga bayi saya tidak lahir seperti itu”. (Tapi tentu bayi orang tersebut tidak bakal berbibir sumbing gara-gara melihat orang berkondisi demikian).
2. Kami berotak normal, dan tidak ada kekurangan fisik. Sehingga dalam persaingan kerja, pelajaran, olahraga dsb orang-orang ’kalah’ mencari kelemahan dengan menjadikan kondisi muka kami sebagai sasaran tembak. Seolah berkata, ”Halah, mau kamu menang, duit punya, tapi kamu kan Sxxxxxx. Ada kekurangan yang diberikan sama kamu.”
3. Mendapat pertanyaan tolol dari orang, ”Di bibir kamu itu kenapa?” seraya memperagakan tangan di atas mulutnya.
4. Mendapat pengalaman tidak simpatik dari seorang dokter bedah plastik wanita saat saya berusaha wawancara untuk liputan kesehatan. Wanita itu judes, tidak ramah, dan sombong. Mungkin memang begitu kelakuannya, namun aku jadi menangkap kesan dia mengira saya adalah wartawan miskin yang bermanis-manis dulu, lalu jika sudah kenal, minta dioperasikan gratis. Cuih..! Padahal, saya (notabene : pakai uang orangtua) sudah merasakan bedah plastik negeri tetangga jauh sebelum kamu menjadi dokter bedah kenamaan di Indonesia!

Bagi saya pribadi, memang syukur mendapat orang tua cukup berada sehingga mampu membawa saya ke dokter bedah plastik. Jadi, tidak selalu kelahiran dalam kondisi seperti ini berasal dari kalangan miskin.

Selain itu, dari kecil orangtua saya tidak membeda-bedakan saya dengan saudara saya yang lain (yang normal). Bahkan, meski anak bungsu tidak mengalami over proteksi. Sekarang saya paham bahwa mungkin itu bagian dari pelajaran bahwa dunia tidak bakal seramah di rumah.

Apakah karena keturunan? Berdasarkan suatu literatur, kawin antar kerabat atau saudara bisa memicu (yang jelas ini bukan terjadi di keluarga saya). Akibat kekurangan seng di saat hamil. Bagi tubuh, seng dibutuhkan enzim tubuh. Atau kekurangan vitamin B6 dan B kompleks, infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat-obatan atau jamu.

Ingatan saya tentang rumah masa kecil, keluarga kami memelihara berbagai jenis hewan karena kakak-kakak saya doyan binatang. Mulai dari burung (perkutut, merak, nuri), anjing, ikan, ayam, kelinci hingga monyet. Jadi saya bakal menggaris bawahi untuk tidak memiliki hewan peliharaan di dalam rumah.

Pernahkah saya marah kepada Tuhan? Bertanya mengapa Ia tidak tersenyum ketika menciptakan saya? Pernah! Tapi, marah-marah tidak bakal membuat saya berubah menjadi Milla Jovovich. Kemudian saya anggap ini jadi pengingat diri untuk menjadi manusia yang rendah hati. Pandai memilih kata-kata yang diucapkan, supaya apa yang meluncur dari bibir ini bukan hinaan terhadap orang lain, bukan nge-gosip gomongin orang.

Kaum berkondisi seperti ini pastilah orang yang sensitif. Meski dia berbalut baju mewah, berkosmetik Elizabeth Arden, dan bersepatu Jimmy Choo.

Namun, lahir dengan kondisi ini, jangan menjadi rendah diri dan tertutup. Justru harus Sadar Diri dan Jaga Diri.

Sadar Diri bahwa hidup ini adalah kompetisi. Harus bekerja ekstra ketimbang ’orang normal’. Tidak mungkin bersaing dari sisi wajah, namun berlatih untuk mengisi otak. Muka ga menarik, tapi badan dirawat. Harus ada sisi lain yang membuat mampu menegadahkan muka. Termasuk membuktikan bisa mencari uang sendiri. Tidak berlebihan memang, tapi yang penting cara halal, cukup untuk belanja dan sebagian ditabung. Bukan parasit menunggu tunjangan dari orang tua.

Membuat kita jaga diri, khususnya untuk yang perempuan. Kalau kita tidak menghormati diri, apalagi kehormatan lain yang bisa kita banggakan? Bagaimana dalam kisah cinta? Perempuan berkondisi demikian sepertinya lebih sulit dalam kisah cintanya dibanding pria. Mungkin memang kondisi seperti ini membuat kita (perempuan) bisa menjadi teman yang baik, namun dianggap bukan pasangan yang bagus. Kesannya bahwa kita dikutuk dewa. Namun saya tidak bakal meringkuk menangis di sudut tempat tidur gara-gara itu. Daftar nama pria yang pernah kukencani berderet, pacaran dan patah hati juga bagian dari hidupku seperti wanita lainnya. Bibir yang tampilannya tak menarik ini, juga sudah lebih dari sekali dikecup - dan lelaki tersebut yang memulai duluan, paling tidak membuktikan meski kondisi bibir saya begini, tidak ada masalah dalam hal itu- berarti dia yang tertarik, bukan??

Kita toh hidup bukan untuk menjadi Cinderella menunggu Pangeran Tampan. Hanya masalah waktu untuk menemukan pria yang melihat kita lebih dari ’itu’. Jika suatu waktu pangeran itu hadir, tentulah bukan HANYA melihat kita dalam segurat parut mengganggu di wajah. Karena –seperti saya bilang di awal- parut ini bisa hilang berkat operasi atau koreksi kosmetik. Mari menjalani hidup sembari menanti orang yang bakal melihat sejumlah kelebihan kita : cerdas, baik hati, setia, penuh kasih sayang, teman dalam suka maupun duka, dsb

Semoga tulisan ini menginspirasi rekan-rekan berkondisi sama.

PS : Mr. X belum pernah merasakan ciuman maut saya... :p

Jam Kerja Orang Jakarta

Pemerintah Provinsi Jakarta bakal memajukan waktu masuk sekolah 30 menit menjadi jam 6.30 untuk mengurangi tingkat kemacetan. Rencananya kebijakan yang berlaku bagi seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, per 1 Januari 2009

Aih, orang-orang pemda yang memberlakukan kebijakan ini pastilah punya mobil untuk setiap anggota keluarga. Ibu dan ayah punya kendaraan masing-masing, ada mobil khusus untuk mengantar anak-anak sekolah dan/atau kursus, serta ada mobil ’jelek’ untuk babu ke pasar.

Biasanya sang bapak/ibu mengantar anak ke sekolah. Jadi, satu mobil bakal diisi oleh bapak yang menyetir mobil, mengantarkan anak terlebih dulu ke sekolah -yang rata-rata memberlakukan jam masuk 7.00 WIB- kemudian mengantarkan si istri bekerja dan destinasi terakhir adalah kantor si bapak.

Kalau kita berasumsi 1 mobil sekeluarga (bapak, ibu, anak) maka jam berangkat para orangtua juga bakal lebih pagi. Kemacetan lebih awal terjadi pula.

Bagaimana pula dengan nasib para guru atau anak sekolah yang rumahnya jauh? Berarti mereka harus berangkat lebih cepat dari biasanya. Nah, apakah kendaraan umum sudah ada pada saat itu? Itu berarti Pemprov harus mengkoordinasikan dengan jam operasional kendaraan umum seperti PPD, metro mini dsb.

Akar kemacetan kan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta. Jangan sampai, gara-gara mengejar on-time kerja, mereka cicil motor dan ujung-ujungnya menambah macet jalanan.

Bahkan, seperti dikutip dari Koran Tempo Sabtu (22/11), Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengimbau kantor swasta di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat masuk jam 07.30, sedangkan di Jakarta Barat dan Jakarta Timur pukul 08.00.

Ada nasehat orangtua, lebih baik bercermin diri dulu, baru mengomentari orang lain. Berarti... orang-orang Pemprov sendiri masuk kantor jam berapa ya?????

Tuesday, November 25, 2008

Hanyut Larut

: Kemana Cinta Itu Pergi

kemana cinta itu pergi
ketika sajak sudah berakhir
lalu nyanyian terhenti di rongga dada
perahu ternyata sudah berkarat lupa melaut
enggan memulai layar



Jakarta, Awal September 2008

Friday, October 31, 2008

Dompetku Tertinggal

Setelah menikmati cuti 4 hari, masuk kerja kembali di hari Jumat ini. Berangkat jalan kaki dari kos di pagi hari, sudah kembali menjumpai kemacetan di jalan depan kantorku.

Tapi yang aku sukai dari kemacetan ini, berarti aku gampang menyeberang. Maklumlah, dari lintasan perjalanan dari kos menuju kantor, tidak ada jembatan penyeberangan. Zebra cross memang ada, tapi coba saya tanya kepada pembaca, rasanya jarang atau nyaris tidak ada pengendara roda empat, apalagi sepeda motor, di Jakarta yang mau berbaik hati menghentikan laju kendaraannya untuk memberi pejalan kaki kesempatan menyeberang.

Mereka mau berhenti karena lampu merah. Bahkan, kadang meski lampu merah menyala sebagai tanda berhenti, masih diterabas juga kan?! Apalagi, jembatan penyeberangan kadang bersaing pula dengan sepeda motor. Mereka juga menjadi 'penyeberang', atau jembatan penyeberangan di kota Jakarta malah beralih fungsi menjadi lokasi jualan pedagang kaki lima.

Agh, oke hari ini aku sangat senang..senang... sekali karena masih segar setelah beberapa hari berlibur meski cuma kuhabiskan dengan nonton film dan tidur. Datang ke kantor, cek e-mail kantor & pribadi yang menumpuk, diskusi pekerjaan bersama rekan kantor tentang proyek mendatang, hingga sampailah waktu makan siang.

Cek saku tas tempat dompet biasa disimpan... haduh! kok ga ada??? :((

hua! bener dompetku ketinggalan di kos!!

Mungkin karena aku berangkat dari kos yang jaraknya cuma jalan kaki sekitar 10 menit. Tidak mengeluarkan dompet, dan kebetulan tadi pagi memang ganti tas. Mengganti tas di detik2 terakhir sebelum berangkat, ternyata beresiko ada barang yang kelupaan, ya?!

Yang jelas, kelupaan ini membuat saya memang harus balik ke kos untuk mengambil dompet. Sebetulnya setelah jam kantor, mau lanjut menghadiri undangan acara Halal Bihalal klien di Jakarta Barat. Berarti ada untung, yaitu sekalian ganti baju untuk menjadi partygoer..haha..

Tapi yang jadi masalah saat jam makan siang gini, siapa yang mau berbaik hati memberikan utang ya??

Jadi ingat juga pernah beberapa kali ke kantor, lupa bawa handphone. Waktu itu, saya merasa ada pembenaran pada hari kerja tsbt tidak terganggu kring bunyi ponsel atau tanda pesan pendek SMS masuk. "Kalau memang perlu, kan bisa menelepon ke nomor kantor?" kataku membatin.

Namun ternyata ketika kembali ke kos, saya menemukan berderet miscall dan SMS di ponsel. Termasuk juga yang lumayan mendesak untuk dijawab. Agh.. memang kita sekarang tidak bisa menjauh dari perangkat teknologi dan kemajuan zaman ya?

Seandainya ga bawa dompet bisa diakalin dengan membeli makanan melalui barter barang. Misalkan seporsi gado-gado setara dengan tumpukan surat kabar selama seminggu penuh? Atau ponsel CDMA ku ditahan dulu di restoran padang atau Popeyes yang kebetulan dekat dengan kantor?

Wednesday, October 29, 2008

Tutup Buku

Aku akhirnya menyerah
Bukan kalah,
Tapi sanggup ku berbatas
Hingga ujung kumampu bertahan

Terapung kadang menyenangkan
Lebih sering melelahkan
Ku bakar keping hati
Namamu menambah torehan jejak perjalanan diri



Jakarta, (* ............. *)

Friday, October 24, 2008

Tambah Umur, Tambah Dewasa



Ternyata sudah seminggu sejak saya terakhir meng-update blog. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan selama 7 hari kemarin, dan apa yang paling berkesan untuk kutuliskan?

Hmmm..... mungkin ingin kubagi cerita bahwa beberapa waktu lalu saya berulang tahun. Pertambahan usia –yang tentu bukan merayakan kemudaan- tapi bukan pula ’semakin tua’. Tapi saya merasa semakin matang.. cie..

Turning point saya yang pertama, saat pesawat yang kutumpangi untuk membawaku kembali ke Jakarta, mengalami turbulensi. Kejadian di awal tahun itu, membuka salah satu kesadaranku.... seandainya kamu kembali kepadaNya.. apa yang kamu tinggalkan? Saya memang belum berkeluarga, belum punya anak, belum ada harta berlimpah, tapi rasanya semua orang meninggalkan dunia ini dengan satu hal yang sama : orang seperti apakah kamu saat dikenang orang?

Yap! obituari apa yang bakal digoreskan orang saat mengingat kamu berpulang kepadaNya?

Dikenal sebagai orang yang baik hati; disayangi sebagai tante funky sekaligus penuh welas asih kepada para keponakan (meski kadang keluar galaknya....); teman nongkrong menyeruput kopi sembari menghisap rokok hingga kesibukan barista membereskan meja mengisyaratkan saatnya pulang?; atau teman curhat. Atau rekan nyontek pelajaran biologi dan sharing jawaban ulangan kimia di bangku sekolah? (hehehe... Benk Benk, Obenk, Michael, kalian semua dimana sekarang?)

Turning point kedua, dalam soal sudut pandang berpikir dan bersikap. Tahun ini ada 2 buku yang kubaca dan –jujur saja- memberi saya inspirasi sekaligus bercermin diri : ’The Secret’ serta ’La Tahzan for Smart Muslimah’.

Baru tersadar diri ini suka lupa bersyukur. Justru sebaliknya menjadi Nona Pengeluh. Hmmm.. bukan salah jika buku-buku biografi seseorang menjadi motivator dan membakar semangatku untuk mengejar mimpi. Harus bisa mendapat ini, kejar itu, sekaligus merasa kurang... kurang... dan kurang. Terkadang membandingkan diri dengan orang yang di usia sama, lalu minder. Lalu, bertanya kemana Dia yang katanya Pemurah?

Jika dulu saya merasa tidak seberhasil orang lain, kini saya mensyukuri apa yang Tuhan anugerahkan padaku. Tidak perlu silau melihat ke atas, ingat pula masih ada yang berada di bawah.

Coba refleksi diri : setiap perjalanan hidup yang kamu telusuri dari tahun ke tahun bahwa kamu punya perjalanan hidup yang berharga untuk kamu syukuri. Bahwa yang sekarang tentu lebih baik daripada dulu.

Gaji saya yang sekarang, cukup untuk menopang hidup biaya seorang lajang di Jakarta. Membiayai kehidupan primer dan sekunder, sedikit menabung, serta terkadang banyakan borosnya.... Bisa makan setiap hari, sesekali menyeruput kopi sambil nongkrong di kedai kopi yang tinggal pilih sesuai mood selera, sesekali facial di klinik kecantikan, atau membeli buku dengan budget unlimited.

Tentu ini peningkatan berkali lipat dibanding ketika masih bergaji asisten kampus. Mampunya cuma beli kaset (itupun satu dari sekian banyak keinginan) atau membeli buku secara selektif (karena memang dananya terbatas, dan lebih baik nongkrong baca buku di toko tsbt hehe...).

Pasti juga beda jauh dengan masa lalu, ketika harus menelan gondok saat menjadi penjaga stan kosmetik di pameran, dan pemiliknya cuma memberi diskon meskipun kami telah berhasil merayu cewek-cewek untuk membeli lipstik -yang di dalam hatiku- juga amit-amit dari sisi warna serta kelembaban teksturnya. Tapi ga nolak kalau dikasih gratisan, dan bukan diskon, karena dulu berpikir lumayan bisa dandan variatif meski kantung anak kuliahan.

Kini, saya mampu berkata bahwa ”Tuhan memberi yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Semua menjadi indah pada waktunya.”

Lebaran lalu, yang jatuh di bulan yang sama dengan hari ulang tahunku, saya juga sudah mengisyaratkan bendera damai kepada seorang sahabat. Duh jujur, saya aslinya pendendam. Jika seseorang berkata atau berperilaku tidak mengenakkan, maka saya seumur hidup ingat perilakunya. Mencoret namanya, tidak mau berurusan lagi dsb.

Namun, ternyata itu sangat tidak sesuai dengan salah satu sendi wanita muslimah. ... Eh rasanya ga cuma Islam, semua agama juga melarang sifat jelek ya? Saya juga tidak luput dari kesalahan. Mungkin saya yang justru bertabiat jelek karena senang menguji kesabaran orang yang menyayangi saya?

Saya hanya mencoba terus memperbaiki diri, dan selalu berupaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan tentu saja semua langkah lancarku berkat doa dan dukungan keluarga, teman kantor, teman belanja, teman seprofesi, teman lintas bidang, teman usaha, teman olahraga dsb, dst.... (segudang penyebab saya bisa mengenal teman-teman tsbt).

Terima kasih untuk sahabat-sahabat hati yang telah mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Baik secara langsung, melalui SMS atau di jejaring sosial (Multiply, Friendster, Tagged, Hi5). Nah, yang paling mengena ucapan selamat ultah dari sebuah perusahaan asuransi : ”Selamat Ulang Tahun! Semoga panjang umur, selalu sehat dan banyak rezekinya”. Hahaha... cuocok banget tuh! Banyak rezeki supaya tambah rajin bayar premi demi masa tua :)

(Gambar dikutip dari :http://www.jigsawgallery.com/prodpics/C29417.jpg)

Monday, October 13, 2008

Nonton Laskar Pelangi



Hore! Saya memenangkan tiket gratis nonton bareng Laskar Pelangi dari Majalah Femina bekerjasama dengan Miles Films.

Yang berat adalah perjuangan bangun pagi di hari Sabtu 11 Oktober ’08. Namun yang bikin terasa istimewa dan berbeda dibanding menonton secara biasa, adalah kehadiran sutradara Riri Riza, Mira Lesmana, dan artis Cut Mini yang menjadi salah satu pelakon.

Nah, lazimnya kan sutradara, produser atau bintang film hadir di acara pemutaran perdana atau jumpa pers untuk wartawan.

Riri Riza memberikan sepatah atau lebih kata, sebelum film diputar. Ia menceritakan pengalaman dan latar belakang pembuatan film yang diangkat dari buku berjudul sama. Ia mengatakan butuh waktu 1,5-2 tahun untuk dirinya bersama Mira untuk menjadikan cerita yang diangkat dari karya penulis Andrea Hirata menjadi sebuah naskah film. Riri mengemukakan betapa Andrea sebagai ’pemilik asli cerita’ bersikap kooperatif, meskipun butuh berkali-kali perombakan script hingga yang ke-11 untuk ditunjukkan kepada Andrea Hirata.

Lalu yang menjadi keistimewaan kedua, saya tidak menyangka menjadi salah 1 dari 3 orang wanita dengan penampilan paling menarik. Saya sih memang semangat mengikuti dress code-nya yang mudah direalisasikan: colorful + jeans. Pokoknya acara kalau ada dress code, dan bisa kuikuti ya hayukkk...

Haha! Jujur lho, pada saat tim Femina menyuruh saya menyematkan pita biru di baju, saya kira cuma menjadi penanda penonton dari acara Femina, karena pada saat yang sama, ada pula acara nonton bareng bersama yang digelar media lain seperti Readers Digest, Radio Delta FM, Prambors.

Hehe.. hadiah berupa paket produk perawatan kulit dari Dermozone itu memang gueee bangett deh!

Filmnya (yang bukunya belum saya baca) bercerita tentang pertemanan anak-anak Belitong yang menjadi murid SD Muhammadiyah yang re’ot dan nyaris hancur. Namun kerja keras Bu Mus (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranegara), terus menularkan semangat kepada 10 muridnya, sekaligus memberikan masa kecil yang indah bagi anak-anak didiknya meski berasal dari kalangan tidak mampu.


Suatu cerita yang touchy, ada kesedihan dan tawa, menghibur sekaligus mengharukan, selain memotret realita masyarakat miskin di daerah yang kaya sumber daya alam. Belitong dengan potensi pertambangan timah, tetap tidak mampu mengangkat masyarakat aslinya yang kebanyakan ras Melayu menjadi manusia kaya secara materi. Meski kekayaan alam tersebut dieksploitasi sejak zaman penjajahan Belanda.

Ini memang cerita tentang Indonesia. Film berdurasi sekitar 2 jam ini wajib ditonton! Ga usah berusaha membanding-bandingkan bagus mana antara novel vs film.

(Gambar dikutip dari : href="http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/" )

Thursday, October 09, 2008

Semangat ReCharge


Sudah hari ke-4 masuk kantor sejak Senin (6/10) sebagai hari resmi bekerja usai Lebaran. Saya selalu masih bangun kesiangan, meski sepertinya memang keterlambatan bisa ’dimaafkan’ karena pekerjaan belum banyak.

Lalu meski kesiangan datang ke kantor, bisa cek e-mail yang menumpuk dalam inbox. Maklum, selama seminggu tidak menjelajah internet. Mengirimkan ucapan selamat hari raya kepada rekan-rekan yang belum sempat kusapa, membaca komentar di milis dengan tenang, serta meng-update blog.... haha....

Tapi tadi pagi berangkat dari kos ke kantor, sepertinya kendaraan bermotor sudah lebih padat ketimbang hari-hari sebelumnya. Mungkin orang lain sama seperti saya yang perlu waktu pemulihan untuk kembali bersemangat dalam beraktivitas.

Seperti kemarin saya kembali ber-aerobik, nafasku terasa pendek-pendek. Hayo! Jujur saja! Kapan kamu terakhir berolah fisik? Hehe.... semua harus dimulai lagi dari awal dan butuh waktu.

Pemulihan melalui olahraga supaya badan bugar (plus menggerus lemak yang tertimbun akibat kue-kue kering dan tart Lebaran). Penyegaran penampilan supaya semangat bekerja. Atau rombak kamar di akhir pekan supaya tidur lebih nyaman?!


(Gambar dikutip dari : www.netstate.com)

Wednesday, October 08, 2008

Pada Sebuah Maaf




Ada suatu cerita, ketika kau menjadi lengkung pelangi di ujung senja
Tempat kuberteduh usai kuyup hujan
Saat ku dengar desau cemara menangis lirih
Dan aku menggigil terperangkap sepi

Kau pelangi yang sempat menawarkan keceriaan jelang malam
Kala ku berlari dalam gundah
Menepikan perahuku menggerus dahaga
Kutemukan telaga di ujung kakimu

Namun ku tak sadar bahwa aku si penjahat kecil
Mengobok-obok kejernihanmu dengan keegoisanku
Bermain datang kala perlu dan pergi kala ada keramaian di seberang telaga
Lalu kembali dalam tangis, bertekuk di kakimu
Mencoba mengais batinmu dalam pancingan senyum

Mungkin aku si kelana terapung
Tengah menjelajah di keheningan riak telagamu
Mungkin aku tengah memintal jaring
Dan mencoba mencuri hati emasmu
Hingga akhirnya malam menelan cahaya pelangimu
Kau tinggal aku terhenyak. Sendiri merenungi jalan hidup

Aku tak tahu mengapa kau suka pelangi
Baru kusadari warna tujuh rupa adalah keindahan dalam sekejap mata
Sama halnya menghargai sesuatu yang ada di dunia fana
Maka sekarang kulontarkan kata, kubasuh kesombongan hati
Izinkan aku meminta maaf : Pada kamu sahabat hatiku
M. A. A. F



(Gambar dikutip dari : www.preconstructionprograms.com)

Puisi SedeRhana untuk Kamu

Saat kupandang bintang di angkasa,
Adakah langit yang sama kau terawang?
Ku nanti kau petik bintang,
Kau beri padaku bersama setangkup rindu

Film Indonesia

Kemarin berencana nonton Laskar Pelangi schedule sore di Djakarta XXI. Tapi ternyata kehabisan, maka saya dan teman berburu ke Cineplex21 yang lokasinya tidak melalui jalur ’3 in 1’.

Dari TIM, Megaria XXI, lalu ke Plaza Semanggi : pilihan film ternyata sama : Barbi3, Suami-Suami Takut Istri, Cinlok.

Mentok semua! Setelah berpikir batal nonton, terakhir kami mampir di Pacific Place dan nonton di BlitzMegaplex. Dan baru saya sadari mengapa konsumen Indonesia perlu memiliki pilihan bioskop di luar jaringan Cineplex21.

Karena di Blitz, saya masih bisa menemukan film asing lainnya. Tidak seperti pilihan di Cineplex21, semua film yang ditayangkan adalah film lokal termasuk Laskar Pelangi. Tapi jujur saja, apakah kamu rela meski berstatus film-maniak dan yang penting nonton film terbaru, mau merogoh dompet untuk menyaksikan film Indonesia yang sebutkan di atas??

Kebangkitan film Indonesia di awal 2000-an kalau tidak salah dimulai dari film ’Bintang Jatuh’-nya Rudi Soedjarwo. Lalu ada ’Eliana,Eliana’ yang mendapat predikat Best Young Cinema dan penghargaan khusus dari juri NETPAC/FIPRESCI. Dan, tentu saja film cinta remaja yang alurnya terjalin manis sekaligus sukses secara komersial yaitu ’Ada Apa dengan Cinta’.

Nah, rasanya waktu itu kita bisa berharap memperoleh cerita yang berkualitas dan masuk akal dari film dibandingkan sinetron televisi. Belakangan, konsep sukses menangguk penonton = jumlah film Indonesia semakin banyak, namun jangan harapkan kualitas cerita. Coba saja lihat dari poster filmnya, sudah bisa membayangkan cerita apa yang ditawarkan : Ga jauh-jauh dari komedi dangkal mengandalkan slapstick, judul yang memancing pikiran mesum, kalau pemeran wanita cantik dan berbodi seksi, sedangkan karakter pria ga jauh-jauh dari gaya Bo Bo Ho - blo’on.

Memang film semacam itu pun sudah pasti ada yang menonton. Entah iseng, pengen liat artis favoritnya, dsb, namun saya berpikir apakah para produser film ataupun para para sponsor film tidak sayang membuang uang untuk cerita film yang ...duh..

Saturday, October 04, 2008

My Precious Time

Teman saya menikmati liburan selama 3 minggu selama Lebaran. Hasil akumulasi dari cuti, libur Lebaran dan day-off. Saya berandai-andai menikmati libur 3 minggu seperti teman saya tsbt :

Pada awal liburan, saya bakal puas-puasin tidur. Kalau perlu 2 hari 2 malam bakal bangun tidur, makan, tidur lagi, bergelung di balik selimut sembari baca buku dan terlelap kembali.

Lalu, menjelajah di dunia Internet sampai teler. Mulai dari cek e-mail, urun komentar di milis, meng-update tulisan blog, hingga menerima invite teman-teman dari jejaring sosial. Dari membaca artikel berita penting sampai membaca hal remeh seperti zodiak.

Membersihkan kamar sembari pasang Audio keras-keras sambil menari mengikuti lirik lagu milik Tompi. ”.......Hujan badai akan kutempuh/bintang di langit akan kuraih/... Cintamu telah menjadi candu/Cintamu telah membuatku membisu/Cintamu ohh seindah lagu/membuatku tak bisa berpaling darimu/Kau adalah belahan jiwa... (Ga tau kenapa lagi tergila-gila dengan lagu itu).

Merapikan lemari pakaian, menyortir baju-baju termasuk aksesoris pelengkap seperti tas, gelang, kalung, dan sepatu untuk menghasilkan konsep baju mix n’ match. Supaya dandanan terlihat beda dan fresh ketika back to work.

Kemudian, punya cukup hari jalan-jalan ke luar kota. Jelajah belanja baju termasuk makan batagor di Bandung? Wisata Kota Tua di Semarang sembari berburu kue moaci a la Kota Atlas yang nikmatnya bikin kangen?

Belajar masak : coba bikin macaroni schotel yang resepnya dikutip dari kakak.

Andai...andai... tapi –yah- liburan yang kupunyai cuma seminggu. Ga boleh sirik sama liburan panjang orang lain, dan ternyata kebanyakan aku habiskan untuk beberes persiapan Idul Fitri di rumah orang tua. Menjadi kebiasan di hari Lebaran bagi orang tua saya untuk menerima sanak saudara bersilaturahmi.

My precious time pada akhirnya bukan kesempatan menikmati hari secara bebas merdeka, tapi menghabiskannya untuk kepentingan bersama keluarga. Yah memang diantara 365 hari dalam setahun, waktu saya (atau hampir sebagian besar orang) seperti bekerja, istirahat, hangout dsb berbasis pada kepentingan diri sendiri.

Pada akhirnya saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin jika ada salah ucap, kata-kata dalam blog ini yang kurang berkenan di hati pembaca :)