Terkantuk-kantuk menahan suntuk
Menanti antrian sambil otak mengutuk
Kapan nomorku dipanggil?
Kluk..klak..kluk..klak
Hak sepatu pertugas layanan konsumen
Berdetuk ketuk lantai
Menimbulkan irama tidur di otakku...
Thursday, August 19, 2010
Thursday, July 29, 2010
Media, Seminar, Informasi
Tulisan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami pada Sabtu 24 Juli lalu, di sebuah seminar. Mungkin masih ada penyelenggara/panitia seminar yang bingung menghadapi kedatangan seorang penulis dari media.
Seorang jurnalis/penulis biasanya menjadikan seminar sebagai suatu ajang berkenalan atau kesempatan bertemu dengan narasumber, memperoleh informasi terkini, dan menambah wawasan di suatu bidang.
Sehingga ketika kami pertama kali membaca suatu acara seminar yang biasanya dipublikasikan di media massa atau elektronik, atau memang ada undangan dikirim ke redaksi, maka di otak kami akan segera melihat judul seminar, apa materi presentasi dan siapa tokoh yang berbicara, lalu kira-kira apakah topik sesuai dengan bidang liputan yang digarap. Tentu saja lokasi dan waktu acara menjadi pertimbangan.
Seperti Sabtu kemarin saya datang ke acara seminar yang diselenggarakan di suatu perguruan tinggi yang berlokasi di Depok. Seminar ini menyajikan tema peran profesi X di era pasar bebas AFTA. Suatu topik yang rasanya cukup menarik karena saya kebetulan akan membuat artikel tentang profesi dan kebutuhan sumber daya manusianya.
Sebenarnya bagai orang mau kulo nuwon ke hajatan seseorang, sehari sebelumnya saya mengirimkan surat elektronik berisi keinginan untuk datang dan konfirmasi ke alamat e-mail panitia yang tertera di iklan seminar tersebut. Iklan itu terdapat di dalam website perguruan tinggi terkait. (Tapi ternyata memang baru sampai di hari Minggu …thanks to office network*lemot’mode’on*).
Kemudian di hari-H saya pun datang ke tempat acara seminar sekitar pukul 09.00 wib. Di depan pintu saya disambut oleh panitia dan saya pun memperkenalkan diri dari institusi media dan menyampaikan maksud ingin mengikuti seminar tersebut.
“Tapi berarti mbak kan mau meliput?” kata panitia perempuan yang mengajak saya bicara.
Di otak saya segera melintas definisi “meliput” berarti saya akan mengulas acara seminar ini.
“Iya saya masih mencari informasi, mbak,” balas saya kepada panitia berjilbab berperawakan padat tersebut. Ini jawaban standar pula karena kami para jurnalis biasanya malas menerima pertanyaan beberapa hari atau minggu kemudian dari penyelenggara acara, apakah liputan sudah naik cetak atau belum. Ini secara tidak langsung membebani perasaan seolah suatu acara yang didatangi sudah pasti layak muat.
“Tapi mbak, kami sudah punya media partner,” balasnya.
Lha…!
Memang suatu seminar membutuhkan dana dan publikasi. Makanya panitia menggandeng sponsor acara untuk memberikan dana berupa uang tunai maupun non tunai, termasuk punya media rekan kerjasama sebagai tempat mempublikasikan acara guna menggaet peserta seminar. Media partner ini biasanya juga akan memuat liputan dari penyelenggaraan acara. Tapi bukan berarti seminar itu menjadi privilege media partner sehingga wartawan media lain tidak boleh datang dan meliput selama kegiatan berlangsung.
Akan tetapi, saya rasanya lebih terbiasa jika panitia minta kartu nama atau silahkan juga jika ingin melihat ID-card (meskipun yang ada cuma ID-card untuk absensi kantor). Seandainya saya menjadi panitia acara, ini adalah cara sopan atau tersamar untuk mengetahui apakah orang di depan saya adalah jurnalis benar atau gadungan.
Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”
Atau mendengar pertanyaan penyelenggara acara, “Oh, Mbak/Mas dari media ini ….. Kenal sama mbak Y? (atau mas X masih disana?)”
Nah, biasanya jurnalis yang ditanya akan menjawab misalkan bahwa nama tersebut sudah pindah ke desk liputan lain atau mengakui dirinya anak bawang sementara nama yang disebutkan panitia adalah senior.
Tapi memang saya dipersilahkan untuk mengikuti kegiatan seminar. Lalu saya pun duduk di kursi baris belakang. Ahya, kursi baris belakang favorit para wartawan karena dekat dengan pintu keluar. Ketika kami merasa bahan tulisan sudah cukup maka kami bisa berlalu pulang dengan mudah tanpa mendapat pandangan mata dari peserta lain. Alasan lain duduk di baris tepi supaya gampang mencegat pembicara keluar ruangan.
Saat itu presentasi sedang berlangsung…dan voila, kuping saya mendengar penyaji materi mengucapkan kalimat, “Kompetensi yang dibutuhkan seorang (profesi) di saat ini ….” wauw pas dengan hal yang saya butuhkan. Saya pun segera sibuk mencatat, tapi tiba-tiba seseorang menyapa saya, “Maaf kursi paling belakang ini untuk panitia,” seorang perempuan panitia berambut lurus sebahu berperawakan ramping berkata demikian. Suaranya sopan dan ramah, tapi tetap saya setengah tidak percaya dengan perkataan wanita tersebut. Muka bengong saya membuat dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih sama.
“Tapi gapapa kan saya disini dulu? Oh ya kalau memang saya diusir suruh pindah juga bilang saja,” kata saya seraya melihat sisi kiri kanan bangku sederetan yang masih kosong melompong. (memancing bad mood di pagi hari ….)
Akhirnya perempuan itu mengiyakan dan berlalu. Selama mengikuti presentasi saya menyapu pandangan, dan melihat pria maupun perempuan berdiri di pinggir ruangan dalam jumlah cukup banyak dan tersebar. Di belakang saya pun ada yang berdiri dan duduk berbaur bersama meja penjualan produk sponsor. Mereka berpakaian seragam dalam atasan batik berwarna kelam, seperti baju yang dikenakan oleh dua wanita yang tadi berbicara dengan saya. Berarti mereka adalah panitia.
Saya jadi berpikir, panitia seperti apa yang tidak mengharapkan peserta seminar datang membludak dan berharap bisa duduk di kursi?
Lama-lama saya tidak merasa nyaman. Mungkin memang saya tidak diterima sejak awal? Tidak ada inisiatif panitia untuk memberikan saya materi presentasi. Saya pun sudah enggan bertanya dan lebih baik meminjam materi presentasi dari rekan sebelah saya. Seorang jurnalis pantang pulang tanpa bawa hasil, menjadi pikiran saya saat itu mengingat perjuangan datang dan rencana awal datang ke seminar.
Setelah puas membaca cepat materi presentasi para pembicara yang dikemas dalam satu buku seukuran buku tulis, mencatat poin-poin penting dan memotret materi dengan kamera BlackBerry, saya pun berlalu pergi.
Tulisan ini saya buat bukan ingin jurnalis disanjung ketika datang ke suatu acara. Ini bukan pikiran bijaksana di era media sudah membludak jumlahnya dan di sisi lain masyarakat bisa menyerap informasi dari media mainstream, microbloging dan web forum.
Akan tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi cerita kecil yang cukup berguna jika lain kali datang ke peliputan acara atau suatu waktu saya atau Anda menjadi panitia kegiatan seminar.
Saya jadi berpikir apakah panitia seminar lebih mengharapkan kehadiran peserta yang membayar daripada seorang jurnalis yang ingin cari informasi gratis? Saya memang terlambat berpikir tentang hal ini, tapi jika dari awal panitia mengatakan harus membayar untuk masuk, tentu akan ada pertimbangan untuk merogoh kocek dengan asumsi perusahaan media tempat saya bekerja akan mengganti biaya tersebut demi kepentingan bahan penulisan.
*Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan minuman air kelapa F***** yang mengguyur haus tenggorokan, tapi sekaligus menyesal telah mengunyah pizza P*** *** yang dibagikan. Dalam perjalanan pulang saya merasa telah menjadi seorang tamu tak diundang mencari makan siang gratis.
Wednesday, July 21, 2010
Hikmah dibalik Doa Tak Dikabulkan
Saya mendapat cerita ini dari milis, sebuah kiriman berantai, yang cukup mengena. Jangan melihat ini sebagai sikap mensyukuri kejadian yang bagi orang lain adalah musibah. Pada bagian akhir tulisan menjadi pesan moral bahwa Ia memberikan yang terbaik bagi umatnya.
Sebuah pesan berantai di milis bisa jadi adalah hoax, tidak jelas siapa pengirim pertama dan kebenaran sumbernya. Akan tetapi saya memposting ini tulisannya karena saya suka pesan yang ingin disampaikan.
Good Story from "Challenger"
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yg bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yg terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yg menghancurkan itu.
NASA memilih Christina McAuliffe .
Aku kalah.
Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.
Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?
Aku berpaling pada Ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman2 untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu,dan Aku menantang impianku untuk terakhir kali.
TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?
73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dlm penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku dibumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
Ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA yang KITA MINTA,
2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendptkan yang LEBIH BAIK,
3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendptkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak-NYA.
Total Football
Saya sering mendengar istilah total football dalam permainan sepak bola. Sering dengar istilah dan menonton pertandingan sepak bola di televisi, hanya saja saya sebenarnya belum tahu definisi pasti dari total football.
Nah, akhirnya dari artikel di Koran Tempo, Minggu 11 Juli 2010, saya mendapat penjelasan tentang konsep ini dan mencoba mensarikan artikel di koran tersebut ke dalam tulisan singkat.
Konsep total football adalah dimana semua pemain bertahan harus menjadi penyerang, dan semua penyerang harus menjadi pemain bertahan. Bola dijalankan secara cepat, pemain berpindah-pindah posisi setiap saat. Pola 4-3-3 menjadi skema yang dipegang teguh.
Pemain yang menguasai bola selama mungkin melalui umpan satu-dua kali sentuhan antarpemain yang terus bergerak untuk membuka ruang pertahanan dan mempermainkan konsentrasi lawan.
Sebagian orang berpendapat bahwa asal total football ini adalah permainan tim Hungaria pada awal 1950-an. Tim asal Eropa Timur ini menjalani 32 pertandingan berturut-turut tanpa kalah. Ah,ya, saya jadi ingat cerita Papa saya tentang legenda sepakbola Hungaria bernama Puskas, yang punya tendangan geledek. Jari-jari kiper gawang lawan sampai patah akibat menahan laju tendangan pemain tersebut.
Dua legenda sepak bola Belanda, Rinus Michels dan Johan Cruyff, adalah orang yang punya peran penting dalam mematangkan konsep ini. Peletak dasar konsep ini adalah pelatih Ajax Amsterdam asal Inggris, Jack Reynolds pada awal abad ke-20, dengan murid terbaiknya adalah striker Rinus Michels. Setelah gantung sepatu dan menjadi pelatih Ajax Amsterdam pada 1960-an, Rinus Michels menyempurnakan konsep Reynolds.
Saat Rinus Michels menjadi pelatih, anak didik terbaiknya adalah Johan Cruyff yang mampu menerjemahkan konsep ini di lapangan hijau.
Namun sebagai pemain nasional, Cruyff tidak bisa membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya karena tim Belanda dikalahkan Jerman pada final 1974.
Lalu Cruyff menerjemahkan total football ke gaya permainan klub Ajax saat menjadi pelatih pada 1985-1988. Kemudian mantan striker ini membawa gaya ini saat melatih FC Barcelona antara 1988-1996. Torehan prestasi saat Cruyff menjadi pelatih di klub asal Spanyol ini dengan menjadi manajer paling sukses dan terlama dan memenangkan 11 trofi.
(Gambar dikutip dari : http://11gunners.com/wp-content/uploads/2009/08/4-3-3.png)
Tuesday, July 20, 2010
Eclipse dan Saya
Ketika di bioskop sedang memutar Despicable Me atau Inception yang gres, saya justru baru punya waktu luang menonton Eclipse.
Ini merupakan film ketiga yang diangkat dari tetralogi novel karya Stephanie Meyers , yang terdiri dari : Twilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Down.
Pertama saya jelaskan bahwa saya sama sekali belum pernah membaca buku novel tersebut. Lalu saya pun tak pernah menonton film sejak dari Twilight maupun New Moon.
Menonton film Eclipse ini sekadar ingin tahu, seperti apa sih cerita yang dihebohkan itu. Lalu ketika saya menyaksikan film ini, yampun!!! maaf, saya mengantuk hingga tertidur di pojok dinding ruang bioskop bersama pashmina bagai selimut menghangatkan tubuh di ruangan yang berpendingin.
Yaa.. tapi memang inilah khayalan remaja abege. Bella Swan berwajah melankolis dan nyaris menunjukkan raut serupa selama berpuluh-puluh menit durasi film, diperebutkan oleh dua pria dengan keunikan masing-masing. Si Edward Cullen dari klan penghisap darah, versus Jacob yang merupakan keturunan serigala jadi-jadian.
Stephanie Meyers memang secara piawai memainkan konflik dalam cerita novelnya, dimulai dari kepindahan Bella ke kota kecil lalu berkenalan dan jatuh cinta kepada Edward nan pucat, berwajah misterius mengundang siapapun wanita normal ingin menaklukkan hatinya. Lalu ketika ‘jadian’ dan menerima diri masing-masing apa adanya, muncullah konflik orang ketiga yaitu Jacob yang tak kalah ganteng plus doyan bertelanjang dada berperut bak papan cuci menonjolkan 6-packsnya.
Omygod! Kok rezeki Bella digandrungi pria ‘tidak normal’ ya? Untung di buku ketiga bunda Mayers tak menambah rumit jalinan asmara dengan menceritakan Bella yang bingung diantara dua pilihan pria remaja, tiba-tiba jatuh cinta dan memilih pria yang jauh lebih tua tapi ternyata Highlander, ksatria hidup abadi tak mati-mati.
Tokoh vampir/penghisap darah, werewolf/serigala jadi-jadian sudah menjadi pakem cerita horor klasik barat, hanya terjadi perbedaan saja dalam ramuan skenario. Misalkan jika di film Underworld diceritakan bahwa bangsawan vampir memang sengaja memelihara serigala jadi-jadian sebagai budaknya. Sedangkan di film Eclipse diceritakan bahwa serigala garis keturunan Jacob berasal dari bangsa Indian.
Kemudian muncullah Victoria menuntut balas akan kematian pacarnya, James yang mati dibunuh Edward. Victoria mengerahkan prajurit –para vampir baru- untuk mengejar Bella. Tujuannya, agar Edward merasakan sakitnya jika kekasih hati meninggal dunia.
Nilai plus dari cerita ini adalah Edward dan Bella mempertahankan keperawanan dan menanti ‘hal itu’ hingga resmi menikah. Sebuah cara sosialisasi yang bagus bagi remaja ketika bahaya kanker serviks, hamil tak siap, penyakit kelamin atau HIV/AIDS menjadi isu sentral di masa kini.
Lalu nilai apa lagi yang saya peroleh? Saya menyimpulkan yang mainstream atau tengah popular belum tentu cocok bagi diri ini. Sebagai Eno Siregar si penikmat (kegiatan nonton) film memang saya mengupdate diri dengan sebuah cerita yang tengah menjadi trending topics. Akan tetapi saya pribadi sudah membuktikan tak semua yang tren cocok bagi si Eno Siregar.
Wednesday, July 07, 2010
Belajar dari Ibu Pekerja
Saya belum menikah. Masih individu bebas yang waktunya dihabiskan untuk diri sendiri.
Tapi seperti umumnya perusahaan, di kantor saya gawe ada wanita pekerja yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga, disebutkan sebagai Ibu Pekerja. Nah, yang aku perhatikan dari mereka adalah hampir sebagian besar dari mereka adalah orang yang fokus nine to five di kantor, jarang pulang malam kecuali ada hal-hal tertentu, beberapa dari mereka kedapatan melakukan percakapan telepon pribadi.
Percakapan telepon seputar pertanyaan apakah anak sudah sampai di rumah. Bagaimana kondisi si A, rumah, pelajaran lancar dsb.
Saya melihat mereka serius di kantor karena punya kehidupan lain menanti setelah bekerja, yaitu ngurusin keluarga dan rumah.
Saya hanya menarik ke dalam konteks diri, akibat me-time atau self-centric terlalu besar. Fokus hanya pada pekerjaan dan bersenang-senang.
Ketika pulang kantor masih melanjutkan pekerjaan di rumah. Yang terjadi adalah, karena saya merasa waktu bekerja saya memang 18 jam lebih (potong 24 jam sehari dengan tidur sekitar 6 jam). Nah lho! baru setelah saya menulis ini saya sadar, waktu saya untuk pekerjaan sangat besar. Akan tetapi, kadang bawa pekerjaan di rumah karena kadang saya tidak fokus di kantor.
“Bisa lanjut di rumah kok,” kata saya membatin. Namun ini berarti saya membuang waktu yang seharusnya bisa untuk kegiatan lain.
Bekerja, have fun, bekerja, have fun, bekerja.
Si individualis perlu juga ingat keluarga. Ingat meluangkan waktu bersama orangtua dan saudara.
Gambar : Mothers Love by Kolongi1 dikutip dari : http://bitsnbytesoflife.files.wordpress.com
Wednesday, June 23, 2010
Memelihara Mimpi Pendaki Gunung
Saya pernah membaca cerita tentang seorang pendaki yang ingin menaklukkan puncak Gunung Everest.
Dia mengatakan, “Suatu hari aku akan mencapai puncakmu.” Lalu sang pendaki tekun berlatih dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya keinginan itu terwujud pada beberapa tahun kemudian.
Namun arti cerita ini sebenarnya bukan tentang keberhasilan pendakian gunung. Makna cerita adalah Gunung Everest melambangkan tujuan akhir/target yang ingin dicapai. Dan pendaki adalah seseorang yang fokus mencapai puncak gunung sebagai tujuan akhir.
Puncak gunung itu tetap berdiri angkuh pada 8.850 meter jika dihitung dari atas permukaan laut (kecuali ada kejadian geologi mahadashyat mengubah morfologi bumi secara drastis).
Sementara sang pendaki adalah manusia yang hidup. Ia tekun mempersiapkan diri. Olah fisik, membuat daftar perbekalan dan mempelajari rute mana yang harus dilalui. Bahkan ketika memulai pendakian pun butuh waktu berhari-hari. Jika ditotalkan maka proyek pendakian itu memakan waktu bertahun-tahun.
Hidup adalah kumpulan kebiasaan. Pendaki membiasakan diri dengan persiapannya untuk mencapai si ‘atap dunia’. Ia sebenarnya bisa berpaling dan menikmati hidup yang ia jalani di tempatnya berada. Mengatakan bakal susah, tak mau beresiko kena hipotermia, dan daripada menghabiskan biaya besar. Tapi si pendaki tetap memelihara mimpi menginjakkan kaki di sana hingga ia berhasil merealisasikan mimpinya.
Saat ini saya bagai seorang pendaki yang ingin mencapai puncak Everest. Tapi di otak ini yang terpikir adalah susahnya mendaki, penuh batu-batu, bakal kehausan di tengah pendakian, nafas terengah-engah. Belum lagi cemooh orang lain bertanya mengapa si penderita asma mau mengejar gunung dan bukan menghirup udara segar pantai.
Akibatnya : saya tidak berani memulai. Sering menunda. Malas karena di dalam benak ini yang terpikirkan adalah betapa susahnya langkah yang harus kujalani. Padahal –ternyata- batu terbesar penghalang langkah adalah diri kita sendiri.
Padahal coba berpikir, “Fokus di tujuan akhir, dan nikmati prosesnya.”
*Thanks untuk sahabat-sahabatku yang memberiku semangat dan menjadi tempat curhat beberapa waktu lalu. Tulisan ini tertuang berkat motivasi dari kalian*
Dia mengatakan, “Suatu hari aku akan mencapai puncakmu.” Lalu sang pendaki tekun berlatih dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya keinginan itu terwujud pada beberapa tahun kemudian.
Namun arti cerita ini sebenarnya bukan tentang keberhasilan pendakian gunung. Makna cerita adalah Gunung Everest melambangkan tujuan akhir/target yang ingin dicapai. Dan pendaki adalah seseorang yang fokus mencapai puncak gunung sebagai tujuan akhir.
Puncak gunung itu tetap berdiri angkuh pada 8.850 meter jika dihitung dari atas permukaan laut (kecuali ada kejadian geologi mahadashyat mengubah morfologi bumi secara drastis).
Sementara sang pendaki adalah manusia yang hidup. Ia tekun mempersiapkan diri. Olah fisik, membuat daftar perbekalan dan mempelajari rute mana yang harus dilalui. Bahkan ketika memulai pendakian pun butuh waktu berhari-hari. Jika ditotalkan maka proyek pendakian itu memakan waktu bertahun-tahun.
Hidup adalah kumpulan kebiasaan. Pendaki membiasakan diri dengan persiapannya untuk mencapai si ‘atap dunia’. Ia sebenarnya bisa berpaling dan menikmati hidup yang ia jalani di tempatnya berada. Mengatakan bakal susah, tak mau beresiko kena hipotermia, dan daripada menghabiskan biaya besar. Tapi si pendaki tetap memelihara mimpi menginjakkan kaki di sana hingga ia berhasil merealisasikan mimpinya.
Saat ini saya bagai seorang pendaki yang ingin mencapai puncak Everest. Tapi di otak ini yang terpikir adalah susahnya mendaki, penuh batu-batu, bakal kehausan di tengah pendakian, nafas terengah-engah. Belum lagi cemooh orang lain bertanya mengapa si penderita asma mau mengejar gunung dan bukan menghirup udara segar pantai.
Akibatnya : saya tidak berani memulai. Sering menunda. Malas karena di dalam benak ini yang terpikirkan adalah betapa susahnya langkah yang harus kujalani. Padahal –ternyata- batu terbesar penghalang langkah adalah diri kita sendiri.
Padahal coba berpikir, “Fokus di tujuan akhir, dan nikmati prosesnya.”
*Thanks untuk sahabat-sahabatku yang memberiku semangat dan menjadi tempat curhat beberapa waktu lalu. Tulisan ini tertuang berkat motivasi dari kalian*
Monday, June 14, 2010
Visi
Usai mengedit suatu wawancara profil, saya teringat ucapan narasumber itu yang lebih kurang sebagai berikut, “Visi menurut saya adalah tujuan jangka panjang dan berkelanjutan, ….” kata dia.
Sering melakukan wawancara profil kepada berbagai narasumber, hampir pasti akan menanyakan apa visi dan misi dalam memajukan perusahaan, institusi/lembaga atau dalam posisi kapasitas yang beliau pimpin.
Sebuah perusahaan tidak bakal maju jika seorang pendiri perusahaan tak tahu juga apa yang ingin dicapai dari keberadaan perusahaan tersebut. Sebagai pribadi, saya atau siapapun kadang pernah dalam kondisi bingung. Entah mau menjadi apa seorang “Eno” (baca : nama kamu).
Alasannya macam-macam. Mungkin pernah tahu apa yang ingin dikejar, ketika yang diinginkan telah tercapai maka kamu hilang tujuan dan berada di zona nyaman. Atau punya sejumlah resolusi diri yang diucapkan di momen-momen tertentu, seperti saat tahun baru, pertengahan tahun, ulang tahun, atau saat kamu menemukan pencerahan, tetapi kenapa mewujudkannya susah ya?
Saya seolah baru menyadari akan lebih gampang jika kamu menyarikan dulu dalam satu kalimat, kemudian draft resolusi adalah pengejawantahan dari Visi.
Visi kamu sebagai individu bernama Eno adalah ……
Dengan demikian, cara kamu mewujudkan Visi itu adalah…..
…..Hope this way could help me find the way….
Friday, June 11, 2010
This Time for Africa - World Cup 2010
Siapkan diri untuk menyaksikan Piala Dunia 2010, berlangsung antara 11 Juni-11 Juli 2010.
Ini pertandingan sepak bola antar negara yang pertama kali diselenggarakan di benua Afrika. Tepatnya di Afrika Selatan.
Nama bolanya lucu, Jabulani, didesain oleh Adidas.
Penyanyi lagu theme songnya Shakira yang suaranya dashyat, goyangnya yahud.....lha :p
Semua menyuarakan semangat...
This Time for Africa (Waka Waka)
Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa
Wednesday, May 26, 2010
Hidup Ini
Hidup adalah bergerak
sejajarkan langkah seirama waktu
menikmati hari dan musim berlalu
hingga bumi pun memeluk berkalang tanah
sejajarkan langkah seirama waktu
menikmati hari dan musim berlalu
hingga bumi pun memeluk berkalang tanah
Sore Itu Aku Mampir ke Rumahmu
: Nyekar
Sore itu aku mampir ke rumahmu,
Tanganku tak bawa buah tangan,
Aku ternyata sudah lupa apa bunga yang kau suka
Aku memang tak pernah tahu cerita kegemaranmu
Ku harap suaraku semoga sampai di langit
Kita tak bicara pinokio, piano, atau bintaro
Tak usah singgung Mozart, Chopin, blok piano
Metronome dan penggaris panjang tak membawaku ke panggung
Jemariku memanjang dan jenuh pegang kunci D,E,F dan G
Kupingku tak mengenali ketukan, melodi itu tak mengantarku ke kamu
Aku tak tahu mau bicara apa
Saksikan saja, si Timun Mas sudah jadi raksasa
Dulu kamu mengejar bocah sulit makan dan membuang keringat ayah di piring nasi
Dulu kamu menemani bocah yang takut melihat cermin, lukisan, dan semua hal biasa bagi orang dewasa
Bocah penggambar awan di langit dan berenang bersama anak kodok
Si penikmat petir dan harum tanah tersiram hujan sembari mojok di sudut ruang ... kata orang dewasa, kelakuan anak ini beda.....
Anak aneh itu kini sudah dewasa
Punya kenangan yang semakin kelabu di otak
Tinggal sebatas cetak rupa yang (katanya) mirip wajahmu
Aku kini tak tau apa kamu mengerti bahasaku
Aku mampir sebelum semuanya makin samar
Aku diam tak bersuara, tapi kurasa kita saling bicara
Tanah Kusir, 24 Desember 2008
Sore itu aku mampir ke rumahmu,
Tanganku tak bawa buah tangan,
Aku ternyata sudah lupa apa bunga yang kau suka
Aku memang tak pernah tahu cerita kegemaranmu
Ku harap suaraku semoga sampai di langit
Kita tak bicara pinokio, piano, atau bintaro
Tak usah singgung Mozart, Chopin, blok piano
Metronome dan penggaris panjang tak membawaku ke panggung
Jemariku memanjang dan jenuh pegang kunci D,E,F dan G
Kupingku tak mengenali ketukan, melodi itu tak mengantarku ke kamu
Aku tak tahu mau bicara apa
Saksikan saja, si Timun Mas sudah jadi raksasa
Dulu kamu mengejar bocah sulit makan dan membuang keringat ayah di piring nasi
Dulu kamu menemani bocah yang takut melihat cermin, lukisan, dan semua hal biasa bagi orang dewasa
Bocah penggambar awan di langit dan berenang bersama anak kodok
Si penikmat petir dan harum tanah tersiram hujan sembari mojok di sudut ruang ... kata orang dewasa, kelakuan anak ini beda.....
Anak aneh itu kini sudah dewasa
Punya kenangan yang semakin kelabu di otak
Tinggal sebatas cetak rupa yang (katanya) mirip wajahmu
Aku kini tak tau apa kamu mengerti bahasaku
Aku mampir sebelum semuanya makin samar
Aku diam tak bersuara, tapi kurasa kita saling bicara
Tanah Kusir, 24 Desember 2008
Sunday, May 23, 2010
Tidak Peka adalah Alasan Tidak (Sempat) Memperbaharui Blog
Seorang teman punya komentar terhadap blog pribadi saya yang belakangan jarang saya perbaharui.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.
Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.
Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.
Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.
Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.
Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.
Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.
Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.
Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.
Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.
Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.
Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.
Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.
Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.
Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.
Thursday, April 29, 2010
#Deadline-Berat
Kata-kata mengalir deras dari otak yang menegang
****
Mencoba genggam cahaya di jemari. Semoga kilaunya menebar semangat di diri
****
Fokus di weekend : supaya semangat menyelesaikan kerja di hari ini
****
Mencoba genggam cahaya di jemari. Semoga kilaunya menebar semangat di diri
****
Fokus di weekend : supaya semangat menyelesaikan kerja di hari ini
Tuesday, April 06, 2010
Wish I Were There
Lagi ga merasa punya tulisan (yang sekiranya) bermutu untuk dibagi, tak adapula ide menggores puisi. Jadi, mengkhayal saja tempat-tempat menarik bagi diriku untuk disinggahi :
Menara Eiffel
Menjejakkan kaki di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Struktur menara besi berlokasi di Champ de Mars ini dibangun pada 1887 dan 1889. Kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1889. Desainnya digarap oleh Maurice Koechlin.
Fungsi awalnya sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk perayaan Revolusi Prancis, dan sejak itu Eiffel menjadi ikon Perancis.
Grand Canyon
Ingat film layar lebar Mission Impossible-2? pada bagian awal terdapat mengambil setting di Grand Canyon, AS. Jadi saya membayangkan sebuah tebing-terjal diukir oleh Sungai Colorado termasuk melanglang ke Taman Nasional Grand Canyon.
Gili Trawangan
Bersyukur telah menghabiskan masa kecil di Irian Barat, beberapa kali berlibur ke Bali, dan snorkeling di Sabang. Kini wish list adalah berlibur di Gili Trawangan, Lombok. Menikmati menghabiskan waktu berjemur di tepi pantai seraya menikmati sinar matahari menimpa kulit.
Mekkah
Ide ini melintas sejak belakangan ini, sepertinya mulai akhir tahun lalu. Sebagai umat Muslim menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Adapun naik haji yang selebihnya merupakan sunnah. Sedang memikiirkan untuk membuka Tabungan Haji di sebuah bank.
Menara Eiffel
Menjejakkan kaki di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Struktur menara besi berlokasi di Champ de Mars ini dibangun pada 1887 dan 1889. Kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1889. Desainnya digarap oleh Maurice Koechlin.
Fungsi awalnya sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk perayaan Revolusi Prancis, dan sejak itu Eiffel menjadi ikon Perancis.
Grand Canyon
Ingat film layar lebar Mission Impossible-2? pada bagian awal terdapat mengambil setting di Grand Canyon, AS. Jadi saya membayangkan sebuah tebing-terjal diukir oleh Sungai Colorado termasuk melanglang ke Taman Nasional Grand Canyon.
Gili Trawangan
Bersyukur telah menghabiskan masa kecil di Irian Barat, beberapa kali berlibur ke Bali, dan snorkeling di Sabang. Kini wish list adalah berlibur di Gili Trawangan, Lombok. Menikmati menghabiskan waktu berjemur di tepi pantai seraya menikmati sinar matahari menimpa kulit.
Mekkah
Ide ini melintas sejak belakangan ini, sepertinya mulai akhir tahun lalu. Sebagai umat Muslim menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Adapun naik haji yang selebihnya merupakan sunnah. Sedang memikiirkan untuk membuka Tabungan Haji di sebuah bank.
Thursday, March 11, 2010
Bahagia Melihatmu Bahagia
Ada usik tanya dalam mata memandang Saat kita bertemu satu pusaran waktu
Sewindu ada kamu terhapus dalam hujan semalam
Lantas…sepi seperti apa tanpa kamu?
Lalu..sunyikah harimu tanpa kicauku?
Kamu masih secangkir tea latte
berpadu kontras dengan irish coffee di diri ini
Aku ingin tipsy sedikit mengingat masa lalu
Menggali memori dari sejumput aroma tembakau
Aku telah alpa harum samar dari tubuhmu
Tunggu dulu!
Hentikan caramu menyeka keringat di kepala
Aku pun tak kuasa menghentikan jemari ini mengacak rambut di kepalamu
Lanjut berpeluk dan mengecup setiap inci wajah
Ayo…bicara saja…
Bicara apa saja
Tentang diri dan hidupmu
Aku ingin menangkap kilau ceria di matamu
Aku bahagia melihatmu bahagia
Aku telah melepas komet di angkasa
Malam tadi aku melihat bintang di langit
Aku ingin melukis kisah baru di sana
*P.S. : terinspirasi kisah dalam satu musim*
Wednesday, March 10, 2010
Fractura Hepatica dan Patah Tulang
Saya baru mendengar “fractura hepatica” sebagai istilah lain dari “patah hati”.
Patah hati pasti sama sakitnya seperti mengalami fracture di bagian tulang yang biasa dialami orang yang berolahraga.
Entah nyambung atau tidak, usai mendiskusikan hal ini bersama teman yang memberitahu istilah ini, saya sedang sampai pada kesimpulan bahwa “cinta” sama seperti kamu berolahraga.
Pertama kali kamu ke gym, kamu mengira-ngira apa yang dapat kamu peroleh di sana, suasananya, dan apa hasilnya. Usai mengikuti kelas aerobik, badanmu terasa sakit-sakit. Butuh diusap pelega otot seperti Counterpain.
Pegal-pegal di badan bikin kamu cape. Timbul malas untuk mengulanginya. “Apa aku sanggup?” tanyamu membatin.
Tapi kamu tetap kembali ke gym dan berolahraga. Mengolah fisik menghasilkan hormon endorfin, yang bisa memberikan rasa bahagia dan rileks. Seperti halnya “cinta” yang juga menjadi penyemangat hidup.
Apakah kamu setia dengan gym tempat kamu berolahraga? Setia dengan gerakan yang itu-itu saja? Atau jenis olahraga yang sama? Bisa ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi kamu tetap menyukai olahraga, karena kamu menemukan kebahagiaan, badan lebih sehat dan bugar. Nafas yang lebih panjang, dan hasil lainnya baju yang dibeli pada 2-3 tahun ternyata masih tetap pas di badan.
Dan sama halnya dengan ‘cinta’ yang tetap kamu cari, dan suatu waktu kamu bisa setia karena telah menemukan kenyamanan, pelabuhan, atau titik akhir pencarian.
Patah Hati#1
Hati ini retak
Luka meruak
“Kau mau bantu aku menambal hati ini?”
***
Patah Hati#2
Biarkan alang-alang merambah ladang kita
menjelma gulma mencabik hati gembur
kasih yang subur sudah lupa ditabur
kering merana tandus merata
Patah hati pasti sama sakitnya seperti mengalami fracture di bagian tulang yang biasa dialami orang yang berolahraga.
Entah nyambung atau tidak, usai mendiskusikan hal ini bersama teman yang memberitahu istilah ini, saya sedang sampai pada kesimpulan bahwa “cinta” sama seperti kamu berolahraga.
Pertama kali kamu ke gym, kamu mengira-ngira apa yang dapat kamu peroleh di sana, suasananya, dan apa hasilnya. Usai mengikuti kelas aerobik, badanmu terasa sakit-sakit. Butuh diusap pelega otot seperti Counterpain.
Pegal-pegal di badan bikin kamu cape. Timbul malas untuk mengulanginya. “Apa aku sanggup?” tanyamu membatin.
Tapi kamu tetap kembali ke gym dan berolahraga. Mengolah fisik menghasilkan hormon endorfin, yang bisa memberikan rasa bahagia dan rileks. Seperti halnya “cinta” yang juga menjadi penyemangat hidup.
Apakah kamu setia dengan gym tempat kamu berolahraga? Setia dengan gerakan yang itu-itu saja? Atau jenis olahraga yang sama? Bisa ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi kamu tetap menyukai olahraga, karena kamu menemukan kebahagiaan, badan lebih sehat dan bugar. Nafas yang lebih panjang, dan hasil lainnya baju yang dibeli pada 2-3 tahun ternyata masih tetap pas di badan.
Dan sama halnya dengan ‘cinta’ yang tetap kamu cari, dan suatu waktu kamu bisa setia karena telah menemukan kenyamanan, pelabuhan, atau titik akhir pencarian.
Patah Hati#1
Hati ini retak
Luka meruak
“Kau mau bantu aku menambal hati ini?”
***
Patah Hati#2
Biarkan alang-alang merambah ladang kita
menjelma gulma mencabik hati gembur
kasih yang subur sudah lupa ditabur
kering merana tandus merata
Thursday, March 04, 2010
Kekuatan Mimpi
Apakah kamu masih berani bermimpi?
Masih semangatkah membuat resolusi di awal tahun dan fokus pada merealisasikan impian yang terdapat dalam daftar wish list kamu?
Setelah terlibat diskusi bersama seorang teman, bisa jadi terbersit rasa kagum atas keberhasilan dia, atau justru cemburu lantas membatin mengapa diri ini tidak bisa seberhasil dia.
Dan tiba-tiba menyadari bahwa diri ini berada dalam --zona nyaman—bangun pagi, kantor, kerjakan tugas-tugas, pulang ke rumah, lalu tidur hingga pagi hari dan siap melakukan ritual sama. Satu tahun yang berjumlah 365 hari berlalu, dan saat kembali menoleh pada tahun lalu kita seolah melihat sebagai garis datar.
Kekuatan mimpi tergerus oleh pembenaran kesibukan kerja, mempunyai sederet persoalan harus dihadapi, atau alasan memprioritaskan sejumlah tugas harian sebagai first thing first.
Saya atau hampir semua orang yang mengalami kondisi diatas lupa bahwa kita harus punya mimpi dan fokus untuk mengejarnya. Berusaha dulu baru menyatakan ‘kalah’.
Jika di tengah jalan ada sandungan atau percabangan ke pilihan berbeda, mungkin itu sebagai cobaan atau memang perhentian sementara sebelum mimpi besar kamu terwujud.
Kini saatnya kembali menjadikan lirik-lirik lagu pembangkit semangat seperti Nidji “Laskar Pelangi”, Celine Dion “The Power of the Dream”, dan Whitney Houston “Greatest Love of All” sebagai bagian dari penyemangat hidup.
Menyenangkan juga mempunyai teman yang ‘tepat’, yaitu teman-teman yang berhasil dan semangat menjalani kehidupannya. Aura positif mereka semoga menyebar lantas menular pada diri sendiri. Bersyukur memiliki sahabat tempat bersandar disaat sedih, saling mendukung, tersenyum bersama di saat hati bahagia, sekaligus menjadi pembangkit semangat.
(Gambar dikutip dari : http://www.worldofwarcraft.com/)
Masih semangatkah membuat resolusi di awal tahun dan fokus pada merealisasikan impian yang terdapat dalam daftar wish list kamu?
Setelah terlibat diskusi bersama seorang teman, bisa jadi terbersit rasa kagum atas keberhasilan dia, atau justru cemburu lantas membatin mengapa diri ini tidak bisa seberhasil dia.
Dan tiba-tiba menyadari bahwa diri ini berada dalam --zona nyaman—bangun pagi, kantor, kerjakan tugas-tugas, pulang ke rumah, lalu tidur hingga pagi hari dan siap melakukan ritual sama. Satu tahun yang berjumlah 365 hari berlalu, dan saat kembali menoleh pada tahun lalu kita seolah melihat sebagai garis datar.
Kekuatan mimpi tergerus oleh pembenaran kesibukan kerja, mempunyai sederet persoalan harus dihadapi, atau alasan memprioritaskan sejumlah tugas harian sebagai first thing first.
Saya atau hampir semua orang yang mengalami kondisi diatas lupa bahwa kita harus punya mimpi dan fokus untuk mengejarnya. Berusaha dulu baru menyatakan ‘kalah’.
Jika di tengah jalan ada sandungan atau percabangan ke pilihan berbeda, mungkin itu sebagai cobaan atau memang perhentian sementara sebelum mimpi besar kamu terwujud.
Kini saatnya kembali menjadikan lirik-lirik lagu pembangkit semangat seperti Nidji “Laskar Pelangi”, Celine Dion “The Power of the Dream”, dan Whitney Houston “Greatest Love of All” sebagai bagian dari penyemangat hidup.
Menyenangkan juga mempunyai teman yang ‘tepat’, yaitu teman-teman yang berhasil dan semangat menjalani kehidupannya. Aura positif mereka semoga menyebar lantas menular pada diri sendiri. Bersyukur memiliki sahabat tempat bersandar disaat sedih, saling mendukung, tersenyum bersama di saat hati bahagia, sekaligus menjadi pembangkit semangat.
(Gambar dikutip dari : http://www.worldofwarcraft.com/)
Thursday, January 21, 2010
Puisi Panik - Hanya Sepenggal
Hap..hap...hap..
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak
***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(
Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...
Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!
Calm down Eno..calm down..Don't be panic.
*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak
***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(
Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...
Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!
Calm down Eno..calm down..Don't be panic.
*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.
Thursday, January 07, 2010
AlasanTidak nge-Blog
Lagi menebak-nebak penyebab saya belakangan ini jarang nge-blog, alias memposting tulisan di dalam blog. Dan saya menemukan beberapa alasan.
Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.
Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.
Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).
Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.
Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.
Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.
Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.
Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.
Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.
Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.
Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.
Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.
Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.
Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.
Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.
Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.
Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.
Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.
Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.
Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.
Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).
Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.
Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.
Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.
Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.
Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.
Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.
Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.
Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.
Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.
Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.
Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.
Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.
Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.
Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.
Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.
Monday, January 04, 2010
Happy New Year 2010
Happy New Year
Wishing You…..
12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success
*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*
Wishing You…..
12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success
*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*
Tuesday, December 29, 2009
Pergi ke Panti Asuhan
Akmal mengintip dari balik tubuh Teteh. Mata nan bundar berusaha ingin tahu tentang siapa yang ada di depannya.
Lalu berturut-turut datang Rizka dan Kemal. Kepala pelontos Rizka membuat mata memandang mengira dirinya anak laki-laki. Minus anting-anting pula sebagai penanda anak perempuan. Hanya jika kita memandang raut wajahnya yang manis serta baju pink yang membalutnya siang itu menandakan dia perempuan.
“Kemarin ada benjolan seperti bisul di kepala. Jadi rambutnya kami potong supaya (bisulnya) gampang diobati,” kata Teteh.
Rizka dan Akmal pun beraksi di depan kami yang duduk di ruang tamu. Mereka mondar-mandir membawa tas sekolah ber-troli, kemudian kejar-kejaran bersama bocah tetangga yang datang menimbrung.
Teriakan mereka pun memecah konsentrasi saat bercakap-cakap, meski tak menyulut kemarahan. Senyum dan sapaan sesekali kuarahkan pada mereka. Rizka pun bereaksi tertawa dan mau mendekat. Hanya Akmal memilih melihat dari jauh, namun kami sadar dia mencari perhatian kami.
Akmal dan Rizka adalah anak penghuni suatu Panti Asuhan Yatim Piatu berada di Bogor. Meski tidak tinggal dan hanya kebetulan bermukim di sekitar panti, kisah Kemal pun tak kalah mengharukan. Ibunya meninggal tertabrak kereta api, dan sang ayah justru menikah lagi dengan wanita lain. Ibu tirinya kejam, senang memaki dan marah-marah, sehingga Kemal pun akhirnya diurus oleh sang kakek nenek di Bogor.
“Kemal sudah pintar mengaji tapi tak mau sekolah,” kata Teteh tentang si ikal berumur 4 tahun. Agh, mungkin tak ada orang yang mau menganyomi membujuk Kemal ke sekolah?
Siang itu saya ‘hanya’ mampir. Bocah-bocah lain penghuni panti yang total mencapai 15 anak sedang pergi memetik rambutan di kebun sekolah yang satu yayasan dengan panti itu.
Cari perhatian! Itu pendapat saya tentang mereka. Saya membayangkan diri ini hanya salah satu sosok yang datang dan pergi. Sama seperti puluhan tamu lain yang tertera di Buku Tamu, menghantarkan sesuatu dan berlalu.
Hari itu saya diketukkan sesuatu : Indahnya Berbagi dan Mengasihi.
Lalu berturut-turut datang Rizka dan Kemal. Kepala pelontos Rizka membuat mata memandang mengira dirinya anak laki-laki. Minus anting-anting pula sebagai penanda anak perempuan. Hanya jika kita memandang raut wajahnya yang manis serta baju pink yang membalutnya siang itu menandakan dia perempuan.
“Kemarin ada benjolan seperti bisul di kepala. Jadi rambutnya kami potong supaya (bisulnya) gampang diobati,” kata Teteh.
Rizka dan Akmal pun beraksi di depan kami yang duduk di ruang tamu. Mereka mondar-mandir membawa tas sekolah ber-troli, kemudian kejar-kejaran bersama bocah tetangga yang datang menimbrung.
Teriakan mereka pun memecah konsentrasi saat bercakap-cakap, meski tak menyulut kemarahan. Senyum dan sapaan sesekali kuarahkan pada mereka. Rizka pun bereaksi tertawa dan mau mendekat. Hanya Akmal memilih melihat dari jauh, namun kami sadar dia mencari perhatian kami.
Akmal dan Rizka adalah anak penghuni suatu Panti Asuhan Yatim Piatu berada di Bogor. Meski tidak tinggal dan hanya kebetulan bermukim di sekitar panti, kisah Kemal pun tak kalah mengharukan. Ibunya meninggal tertabrak kereta api, dan sang ayah justru menikah lagi dengan wanita lain. Ibu tirinya kejam, senang memaki dan marah-marah, sehingga Kemal pun akhirnya diurus oleh sang kakek nenek di Bogor.
“Kemal sudah pintar mengaji tapi tak mau sekolah,” kata Teteh tentang si ikal berumur 4 tahun. Agh, mungkin tak ada orang yang mau menganyomi membujuk Kemal ke sekolah?
Siang itu saya ‘hanya’ mampir. Bocah-bocah lain penghuni panti yang total mencapai 15 anak sedang pergi memetik rambutan di kebun sekolah yang satu yayasan dengan panti itu.
Cari perhatian! Itu pendapat saya tentang mereka. Saya membayangkan diri ini hanya salah satu sosok yang datang dan pergi. Sama seperti puluhan tamu lain yang tertera di Buku Tamu, menghantarkan sesuatu dan berlalu.
Hari itu saya diketukkan sesuatu : Indahnya Berbagi dan Mengasihi.
Monday, December 14, 2009
Bekerja Keras
……”She is fantastic and I love her and I wish her the best,” Ellen told her audience. “She deserves to rest. She has worked really, really hard.”
Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.
Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”
Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.
Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.
Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”
Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.
Sensasi Rasa Ini
Sedang kangen rasa ini Kangen rasa semangat meletup
Kangen sensasi kupu-kupu menari di perutku
Menari dalam pusaran angin
Menyatu bersama semesta
Sedang merindu rasa rindu di suatu masa
Menganyam benang menjala asa
Ketika pendar di mata menyetrum ke dada
Sedang kangen rasa ini
Kangen saat kukecup dunia bersama senyum
Kini kududuk menikmati pajangan usang
Kusulut api menebar bara
Hilang …. berputar ke awal
* Perlu kembali ke titik nol *
Kangen sensasi kupu-kupu menari di perutku
Menari dalam pusaran angin
Menyatu bersama semesta
Sedang merindu rasa rindu di suatu masa
Menganyam benang menjala asa
Ketika pendar di mata menyetrum ke dada
Sedang kangen rasa ini
Kangen saat kukecup dunia bersama senyum
Kini kududuk menikmati pajangan usang
Kusulut api menebar bara
Hilang …. berputar ke awal
* Perlu kembali ke titik nol *
Thursday, November 19, 2009
Bekerja dari Rumah
Ide bekerja dari rumah beberapa kali melintas dalam benakku dan terasa menarik. Sebagai tukang merangkai kata, saya sering terpikir untuk bekerja dari rumah.
Bermodalkan notebook, dibantu perangkat alat telekomunikasi seperti telepon dan akses internet, maka pekerjaan kantor dapat selesai dan dikirimkan dari rumah.
Tidak stres terjebak kemacetan jalan raya atau hal lain yang biasa dialami di kantor. Apalagi untuk orang yang harus merawat keluarga, misalkan orangtua atau anak.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com, hampir sepertiga dari responden mengatakan pernah melaksanakan pekerjaan dari rumah. Tapi tidak total 8 jam seperti umumnya jam kerja perkantoran.
Sebanyak 25% dari responden mengatakan kurang dari 1 jam untuk pekerjaan kantor mereka, ketika mereka mengerjakannya di rumah, dan sebanyak 53% menghabiskan waktu 3 jam, dan hanya 14% yang benar-benar selama 8 jam.
Nah, apa yang mereka fokuskan selain memenuhi tugas profesional mereka, jika berada di rumah? Ternyata mengurus anak berada di urutan teratas sebagai alasan untuk bekerja dari rumah (22%). Melakukan percakapan pribadi melalui telepon, atau berselancar di Internet (17%), nonton TV atau tidur (15%), keperluan pribadi (11%), dan melakukan pekerjaan rumah tangga (9%).
Memang kemajuan teknologi memungkinkan orang bekerja di mana saja, termasuk di rumah. Ketika bekerja dari rumah membawa perbaikan dalam keseimbangan antara pekerjaan VS kehidupan pribadi, hal ini juga menciptakan keinginan untuk terus termotivasi.
Hanya saja, jika masih berbenturan dengan peraturan kantor atau memang kamu belum bisa disiplin, lebih baik jadilah orang yang fokus. Tetapkan bahwa waktu di rumah untuk beristirahat dan urusan pribadi; sedangkan maksimalkan jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Meski resiko sesekali membawa pulang pekerjaan akibat tuntutan deadline atau lainnya, kadang bisa terjadi.
Rosemary Haefner, Wakil Direktur Sumber Daya Manusia dari CareerBuilder.com. membagi tips cara mengefektifkan bekerja dari rumah :
Tetapkan schedule
Awali hari seperti Anda mau berangkat ke tempat kerja. Ganti baju tidur, mandi dan lakukan aktivitas rutin.
Lokasi
Jangan bekerja di depan TV, dekat dengan radio atau satu ruangan dengan orang yang mungkin bisa mengganggu konsentrasi kamu. Pilih lokasi yang tenang dan teratur, yang membuat kamu bakal menyelesaikan pekerjaan kamu.
Buat Target
Buat daftar target spesifik untuk hari ini dan centangkan jika hal itu telah kamu selesaikan. Ini memastikan kamu ingin untuk menyelesaikan pekerjaan.
Jangan lupa jam makan siang
Ciptakan waktu yang tepat untuk telepon pribadi, keperluan pribadi, pekerjaan rumah, olahraga dan aktivitas-aktivitas non kantor lainnya. Kalau perlu tempatkan timer agar kamu mengetahui kapan saatnya kembali bekerja.
Istirahat
Sudah tentu jangan lupa meluangkan waktu untuk beristirahat.
Wednesday, November 18, 2009
Malu Aku….
Minggu ini sepertinya adalah momen saya kembali konsentrasi bekerja di kantor, setelah sebulan lebih jarang terlihat akibat urusan pribadi.
Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.
Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.
Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.
Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.
Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.
Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.
“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.
“Vidi, mbak..”
Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.
“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”
“Salah sambung mbak”
Wuaks!
Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.
Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.
Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.
Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.
Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.
Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.
Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.
Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.
Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.
“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.
“Vidi, mbak..”
Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.
“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”
“Salah sambung mbak”
Wuaks!
Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.
Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.
Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.
External HD
Bentuknya sepintas seperti agenda seukuran paspor. Benda setebal buku jari itu adalah External HD (singkatan dari External Hard Disk).
Sesuai dengan namanya, fungsinya sebagai media penyimpanan secara eksternal. Jadi, seperti memiliki Flash Disk namun dalam ukuran lebih maxi. Bisa sebagai penyimpan file-file tulisan, foto-foto, gambar-gambar, musik, games, presentasi kerja hingga kebutuhan spesifik misalnya program komputer bagi programmer.
Selama ini saya memindahkan foto-foto jepretan dan artikel yang saya kumpulkan selama ini sebagai penulis ke dalam cakram padat (CD). Lama-kelamaan CD-R/CD-RW pun menumpuk di sudut lemari. Sebuah CD memiliki kapasitas memori sebanyak 700 MB.
Saya yang berniat going paperless lalu berpikir untuk memiliki sebuah External HD. Varian kapasitas antara 120 GB, 160 GB, 250 GB, 500 GB, bahkan ada yang mencapai 1 TB.
Saya sudah mencatat beberapa ukuran kapasitas plus harga. Bahkan seorang teman menyatakan ada yang mencapai 1 TB dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih. Saya sempat bertanya pada seorang teman, malah dia tertawa dan berkata, “Emang perlu sebanyak itu No….”
Tapi dia tidak menjelaskan lebih detil sehingga saya juga malas bertanya lebih lanjut.
Kemudian pada satu kesempatan, mumpung mau pergi ke pameran komputer, saya bertanya pada teman yang lain.
“Kamu pasti familiar dgn external HD ya? Jadi bingung ..misalkan 160 GB setara apa? misalkan sama dgn memuat 1 partisi drive C/D di dalam komputer kah?” tanya saya.
Maklumlah, dalam benak pemikiran saya yang sederhana, External HD kayak kulkas saja. Semakin besar kapasitas, alias semakin besar ukuran GB, berarti semakin banyak yang mampu dimuat.
Lalu si Rommy temanku menjelaskan intinya tergantung apa yang mau saya simpan. Karena semakin banyak yang disimpan tentu membutuhkan kapasitas semakin besar.
“Sebagai contoh film membutuhkan sekitar 700-an MB,” kata dia.
1GB = 1000MB
1TB = 1000 GB = 1jutaMB
“Jadi kalau MP3 rata-rata besarnya 5MB, maka HDD 1TB kira-kira bisa menyimpan sebanyak 200ribu lagu,” pungkasnya.
Lalu saya pun terpana dan membatin, Itu mah sekalian gua membuka usaha unduh MP3 aja yakkk…. hahaha.
Dari survei di pameran Indocomtech berlangsung pada 4-8 November lalu, saya menemukan External HDD merek Western Digital berkapasitas 320 GB berharga kurang dari Rp 700 ribu.
Setelah first-thing-first menentukan prioritas, saya pun memutuskan tidak membeli dulu. Akhirnya saya justru pulang memboyong printer dan sebuah flash-disk mungil berkapasitas 4GB.
Sesuai dengan namanya, fungsinya sebagai media penyimpanan secara eksternal. Jadi, seperti memiliki Flash Disk namun dalam ukuran lebih maxi. Bisa sebagai penyimpan file-file tulisan, foto-foto, gambar-gambar, musik, games, presentasi kerja hingga kebutuhan spesifik misalnya program komputer bagi programmer.
Selama ini saya memindahkan foto-foto jepretan dan artikel yang saya kumpulkan selama ini sebagai penulis ke dalam cakram padat (CD). Lama-kelamaan CD-R/CD-RW pun menumpuk di sudut lemari. Sebuah CD memiliki kapasitas memori sebanyak 700 MB.
Saya yang berniat going paperless lalu berpikir untuk memiliki sebuah External HD. Varian kapasitas antara 120 GB, 160 GB, 250 GB, 500 GB, bahkan ada yang mencapai 1 TB.
Saya sudah mencatat beberapa ukuran kapasitas plus harga. Bahkan seorang teman menyatakan ada yang mencapai 1 TB dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih. Saya sempat bertanya pada seorang teman, malah dia tertawa dan berkata, “Emang perlu sebanyak itu No….”
Tapi dia tidak menjelaskan lebih detil sehingga saya juga malas bertanya lebih lanjut.
Kemudian pada satu kesempatan, mumpung mau pergi ke pameran komputer, saya bertanya pada teman yang lain.
“Kamu pasti familiar dgn external HD ya? Jadi bingung ..misalkan 160 GB setara apa? misalkan sama dgn memuat 1 partisi drive C/D di dalam komputer kah?” tanya saya.
Maklumlah, dalam benak pemikiran saya yang sederhana, External HD kayak kulkas saja. Semakin besar kapasitas, alias semakin besar ukuran GB, berarti semakin banyak yang mampu dimuat.
Lalu si Rommy temanku menjelaskan intinya tergantung apa yang mau saya simpan. Karena semakin banyak yang disimpan tentu membutuhkan kapasitas semakin besar.
“Sebagai contoh film membutuhkan sekitar 700-an MB,” kata dia.
1GB = 1000MB
1TB = 1000 GB = 1jutaMB
“Jadi kalau MP3 rata-rata besarnya 5MB, maka HDD 1TB kira-kira bisa menyimpan sebanyak 200ribu lagu,” pungkasnya.
Lalu saya pun terpana dan membatin, Itu mah sekalian gua membuka usaha unduh MP3 aja yakkk…. hahaha.
Dari survei di pameran Indocomtech berlangsung pada 4-8 November lalu, saya menemukan External HDD merek Western Digital berkapasitas 320 GB berharga kurang dari Rp 700 ribu.
Setelah first-thing-first menentukan prioritas, saya pun memutuskan tidak membeli dulu. Akhirnya saya justru pulang memboyong printer dan sebuah flash-disk mungil berkapasitas 4GB.
Tuesday, November 17, 2009
Menelusuri Kemana Perginya Gaji Bulanan
(Tulisan ini juga dimuat di QB Headlines)
Gaji bulanan memang andalan kehidupan sehari-hari seorang pegawai kantoran seperti saya. Saya hanya berpikir, mengapa semakin sulit menyisihkan tabungan, apakah ada yang salah dalam mengelola keuangan pribadi.
Memang sih biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tak berlari secepat harga-harga kebutuhan pokok, sekunder dan lain sebagainya.
Di koran New Straits Times kubaca tentang mengatur belanja bulanan. Saya jadi mau mencoba sebagai bagian financial check-up, berikut tipsnya :
Pertama-tama tulis rencana pengeluaran bulanan. Ini mencakup belanja rumah tangga dan biaya hiburan.
Simpan semua bon-bon bukti belanja paling lambat sebulan. Seminggu sekali tuliskan secara rinci kamu telah belanja apa saja berdasarkan bon pengeluaran itu.
Terserah mengategorikan jenis pengeluaran, asalkan Anda bisa mengambil gambaran akurat tentang kondisi finansial yang ada.
Misalkan saja dari hasil belanja di supermarket bisa kamu detilkan ke dalam jenis daging, susu, minuman, makanan kalengan, cemilan atau apapun yang memberikan gambaran kemana saja perginya uang tersebut.
Atau ketika berbelanja di department store untuk beli pakaian. Siapa tahu ternyata biaya minum kopi lebih mahal ketimbang sepotong baju di bulan ini.
Dari daftar tersebut, kita jadi tahu apa saja yang bisa dikurangi atau dibenahi.
Meskipun ada yang dapat dikurangi atau tidak, tetap masukkan ke dalam rencana belanja. Lalu masukkan sejumlah budget ke dalam amplop berbeda. Uang ini akan digunakan untuk membeli barang-barang yang anda rencanakan.
Catatan : Jangan tambahkan uang ke dalam amplop hingga akhir bulan. Ini membantu sikap disiplin dan cerdas berbelanja.
* Teman yang mendengar niatku berkata, “No, taruhan, berapa hari kamu rajin mencatat pengeluaran harian?”… hehehe
Gaji bulanan memang andalan kehidupan sehari-hari seorang pegawai kantoran seperti saya. Saya hanya berpikir, mengapa semakin sulit menyisihkan tabungan, apakah ada yang salah dalam mengelola keuangan pribadi.
Memang sih biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tak berlari secepat harga-harga kebutuhan pokok, sekunder dan lain sebagainya.
Di koran New Straits Times kubaca tentang mengatur belanja bulanan. Saya jadi mau mencoba sebagai bagian financial check-up, berikut tipsnya :
Pertama-tama tulis rencana pengeluaran bulanan. Ini mencakup belanja rumah tangga dan biaya hiburan.
Simpan semua bon-bon bukti belanja paling lambat sebulan. Seminggu sekali tuliskan secara rinci kamu telah belanja apa saja berdasarkan bon pengeluaran itu.
Terserah mengategorikan jenis pengeluaran, asalkan Anda bisa mengambil gambaran akurat tentang kondisi finansial yang ada.
Misalkan saja dari hasil belanja di supermarket bisa kamu detilkan ke dalam jenis daging, susu, minuman, makanan kalengan, cemilan atau apapun yang memberikan gambaran kemana saja perginya uang tersebut.
Atau ketika berbelanja di department store untuk beli pakaian. Siapa tahu ternyata biaya minum kopi lebih mahal ketimbang sepotong baju di bulan ini.
Dari daftar tersebut, kita jadi tahu apa saja yang bisa dikurangi atau dibenahi.
Meskipun ada yang dapat dikurangi atau tidak, tetap masukkan ke dalam rencana belanja. Lalu masukkan sejumlah budget ke dalam amplop berbeda. Uang ini akan digunakan untuk membeli barang-barang yang anda rencanakan.
Catatan : Jangan tambahkan uang ke dalam amplop hingga akhir bulan. Ini membantu sikap disiplin dan cerdas berbelanja.
* Teman yang mendengar niatku berkata, “No, taruhan, berapa hari kamu rajin mencatat pengeluaran harian?”… hehehe
Ilusi (Iklan) Layar Kaca
Cinta gampang diraih berkat hilang noda di wajah.
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.
Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???
Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?
Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.
Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.
*September Story*
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.
Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???
Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?
Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.
Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.
*September Story*
Wednesday, November 04, 2009
Tidak Menunda Pekerjaan
Jangan tunda hingga esok apa yang bisa Anda kerjakan hari ini.
Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.
Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?
Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.
Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.
Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.
Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.
Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.
Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.
Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.
Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.
Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.
Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.
Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.
Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.
Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?
Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.
Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.
Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.
Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.
Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.
Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.
Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.
Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.
Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.
Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.
Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.
Monday, November 02, 2009
Narablog
Saya baru tahu kalau istilah "Blogger" telah diterjemahkan menjadi "Narablog".
Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".
Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?
Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".
Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.
Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.
Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.
Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".
Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?
Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".
Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.
Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.
Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.
Mengambil Langkah dalam Satu Sesi Kehidupan
Kadang logika dan intuisi telah mengarahkan ke satu hal yang benar. Akan tetapi, hati (baca “perasaan”) sering bertolak belakang. Ingin bermain-main lebih lama.
Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.
Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).
Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.
Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).
Keberhasilan Tertunda
“Adilkah hidup ini?”
Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?
Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.
"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"
Hanya diam yang menjawab.
Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.
Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.
(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)

Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?
Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.
"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"
Hanya diam yang menjawab.
Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.
Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.
(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)
Tuesday, September 29, 2009
Kembali ke Titik Nol
Mata air itu telah menjelma menjadi sendang
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret
* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret
* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….
Monday, September 28, 2009
Anak Usaha RIM
Foto ini kiriman Rahadian Seno alias Mas Seno di http://seno.or.id atau http//jaringankomputer.net 
Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).
Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….
Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).
Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….
Friday, September 25, 2009
Selembar Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri Buatan Tangan
Kartu ini datang Jumat siang tadi ke alamat kantorku.Amplop coklat, tanpa nama pengirim, tanpa kop surat ataupun surat bukti kurir.
Amplop distapler sebanyak 4 sisi di sepanjang permukaan atas, ditambahkan 2 stapler lagi ke dekat permukaan bibir amplop, tempat mengelem amplop.
Pada permukaan aku bisa merasakan bentuk bergelombang di dalamnya.
Ih, kayak misterius ya?
Ternyata setelah kubuka, isi amplop (seperti perkiraanku) kartu ucapan Selamat Idul Fitri dari suatu korporat. Yang unik, kartu ini buatan tangan. Desain sampul berupa kubah mesjid yang dibuat dari kain flannel. Di tengahnya ada lingkaran bulat membentuk wujud bedug, ditempeli dua butir cengkeh sebagai bentuk pemukul bedug.
Lengkap di atas kubah, ada bintang yang biasa kita beli di toko prakarya atau alat-alat jahit.
Pada bagian belakang, ada tertera tulisan : Khusus diproduksi untuk Carrefour oleh Kelompok Belajar anak-anak Dhuafa/Pemulung “Sekolah Kami”.
Saya jadi berpikir, “Kapan terakhir kali mendapat kartu Lebaran buatan sendiri?”
Ingatan saya kembali ke masa kuliah, ketika bersama temanku Hanny dan Tantri, membuat kartu ucapan Lebaran bersama yang kami buat sendiri di saat libur kuliah. Sembari menanti bedug magrib kah saat itu? Sudah lupa…..
Tumpukan kartu ucapan yang datang menjadi kebahagiaan sendiri ketika merasa ada yang care kepada kita. Kerepotan mencari kartu ucapan di toko buku pun menjadi kehebohan bersama teman-teman SMP/SMA.
Sekarang Kartu Lebaran pun jadi benda jarang kuterima. kemajuan zaman melalui pesan pendek ponsel, status di Facebook, atau kiriman surat elektronik (e-mail) telah menggantikan fungsi selembar Kartu Lebaran.Saya termasuk salah satu di antara pemanfaat cara mengirimkan ucapan era serat optik.
Lebih simpel, langsung cepat sampai, menghemat waktu dan mengikis biaya pengiriman. Selain itu, di era pemanasan global dan isu lingkungan, kartu juga menambah kebutuhan kertas yang berasal dari pemotongan pohon di hutan.
Meski belum pernah pula saya menemukan data valid berapa biaya energi terkuras untuk menyalakan internet, memindahkan data kilobyte dari suatu server, atau transponder, ah don’t know what exactly cara kerjanya… yang penting kabar cepat sampai... ;)
Hari ini ada perasaan melankolis menerima selembar kartu buatan tangan di tahun 2009.
Jari-Jari Istirahat Seminggu
Internet dan gadget sering dianalogikan sebagai alat yang membuat kita merasa dunia dalam genggaman.
Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!
Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.
Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?
Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.
Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).
Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!
Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.
Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?
Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.
Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).
Friday, September 11, 2009
Bintang Jatuhku
Kamu dulu Bintang Jatuhku
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok
Subscribe to:
Posts (Atom)



