Monday, August 25, 2008

Ide Penulisan Iklan melalui Pertanyaan Esensial




Perhatikan gambar berikut ini. Mata (eye = jika diucapkan, lafal terdengar hampir sama dengan pengucapan ”I” dalam Bahasa Inggris), Lebah (bee = dalam pengucapannya terdengar hampir sama dengan ”B” dalam Bahasa Inggris), dan garis horisontal tersusun teratur membentuk huruf ”M” yang khas untuk logo IBM.

Yap! Logo tersebut memang untuk IBM. Saya suka ide permainan kata/sanjak; atau permainan ucapan (akibat penulisan dan lafal yang berbeda seperti dalam Bahasa Inggris). Karena terdengar lebih ’unik’, terkesan lebih komunikatif, santai, namun bisa pula berpikir sejenak lalu tersenyum.

Contohnya seperti dalam logo tersebut. Bukan logo kaku seolah merepresentasikan dunia korporasi yang birokratis, formil dengan mengatas namakan ’profesionalisme’.

Nah, baru tahu setelah baca buku ”Citizen Brand” yang ditulis oleh Marc GobĂ© bahwa logo tersebut hasil kreatifitas Paul Rand. Rand, pencipta ilustratif logo ABC, Westinghouse, UPS, dan logo IBM, yang juga dosen Yale University dan desainer grafis paling berpengaruh di abad ke-20. (Karya-karya Rand lainnya bisa dilihat dengan mengetikkan namanya sebagai kata kunci di Google. Haha.. memang ini masih tetep situs pencarian favorit..... dan termudah dalam ingatan saya, yang antara lain menghasilkan alamat www.logoblog.org).

Rand, mengutip dari buku Citizen Brand, mengatakan bahwa efektivitas logo berdasarkan 6 faktor penting, meliputi :
1. keunikan
2. visibilitas
3. kemampuan adaptasi
4. keterkenangan
5. universalitas
6. keabadian

Selain itu, menjawab tiga pertanyaan esensial :
1. siapa audiensinya?
2. bagaimana merek ini dipasarkan?
3. apa medianya?

Saya berpendapat, pertanyaan esensial itu pun cocok ketika kita membuat tulisan iklan (advertorial) di suatu media massa. Yang jika dijabarkan yaitu :
1. Fokus tulisan atau apa isu yang mau diangkat oleh pemasang iklan. Misalkan apakah topik yang mau diangkat itu menyangkut keunggulan produk, kegiatan kampanye perusahaan baik berkaitan bisnis maupun fungsi sosial (CSR), kemajuan yang dicapai berkaitan dengan ulang tahun korporasi dll.
2. Penggunaan kaidah tulisan non fiksi berupa data 5W + 1H
3. Siapa target pembaca (mengikuti segmen pembaca media pemasangan advertorial)

Berpegang dalam pertanyaan esensial untuk advertorial ini, dalam prakteknya penulis juga –mau tidak mau- harus memahami klien. Kita akan mengalami perbedaan gaya dengan konsep menulis berita yang independen. Wartawan hanya menyesuaikan dengan visi & misi media, gaya penulisan media, maupun segmen pembacanya.

Sementara karakter klien (pemasang iklan) bermacam-macam. Ada yang bertipe easy. Mereka tinggal membrief apa saja yang mereka mau dimuat (poin 1) dan selebihnya (di poin 2 dan 3) terserah pada penulis. Lalu setelah penulisan jadi, koreksi dan membaca ulang yang mereka lakukan, lebih kepada persoalan kebenaran atau kevalidan data dalam penulisan.

Ada pula yang bergaya toko serba ada. Istilah kerennya ’multiangle’. Alias semua musti masuk untuk dituliskan dalam 1 space yang mereka bayar. Misalkan komentar dari beberapa petinggi harus masuk semua. Atau meskipun tulisan menyangkut keunggulan A, si klien juga senang jika keunggulan lainnya B,C,...Z juga disinggung.

Sehingga, intinya penulis iklan yang kudu mampu menerjemahkan kemauan klien.

(Gambar dikutip dari : www.logoblog.org)

Thursday, August 07, 2008

Berani Bermimpi Lagi



…………… As I make my way back to you
You gave me faith
And you gave me a world to believe in
You gave me a love to believe in
And feeling this love
I can rise up above
And be strong, and be whole once again ........


(A World to Believe In – Celine Dion)

Lagu ini terdapat di album Celine Dion “Taking Chances”. Sebelumnya, aku tidak terlalu peduli apa isi lagu-lagu di album ini. Saya membeli cakram padat itu karena iming-iming suatu bank penerbit kartu kredit. Jika saya membeli CD Taking Chances dengan kartu kredit bank tersebut, maka saya bisa mengambil CD Ultimate Santana secara gratis. Jadi, saya –sebenarnya- mengejar Santana :))

Semalam, sembari membaca buku yang baru kupinjam di perpustakaan, saya bongkar kumpulan CD saya, untuk menemaniku melahap barisan kata. Koleksi CD terus terang memang belakangan ini tidak banyak. Seiring kemudahan jalur pemutar musik mp3 dan iPod, ketimbang membawa diskman, koleksi CD ku kini terbatas pada yang benar-benar kukira bakal everlasting kusukai . Hmmm......... The Cardigans? Aghh malas konsentrasi membaca diiringi lagu yang upbeat. Lalu pilih Andrea Bocelli, kemudian pindah ke Celine Dion yang jarang kuputar.

Beranjak dari satu lagu ke lagu berikutnya, hingga tiba di Track 10, sontak saya terdiam mendengar lirik lagu di atas. Lirik sederhana. Namun entah mengapa, menggugah ingatan saya tentang seseorang.

Pernahkah kamu berada dalam posisi mengejar angin? Dan ketika kamu menangis, terpuruk, merasa galau, mendadak kamu mendapat rengkuhan hangat dari seseorang? Ketika kamu jatuh, lalu seseorang itu memegang tangan kamu?

Tidak dekat di mata, namun selalu membawa kamu pulang ke ’rumah’? Seseorang yang’sedikit’ kamu lupakan dengan alasan jarak maupun kesibukan?

Hanya saja, diriku senang ketika selalu ada tempat untuk bersandar. Ada dirinya yang mengusap bahumu, serta memastikan kamu adalah The Precious? Bahwa kamu terlalu berharga untuk dicampakkan, terlalu dungu untuk merasa rendah diri, terlalu berlebihan merasa tidak sempurna? Memang manusia tidak ada yang sempurna! Keindahan manusia adalah ketidaksempurnaan itu .......................

Agh, saya ingin membuang puing-puing sakit hati. Ingin mengikis rasa teraniaya, dan makhluk termalang sedunia.

Seperti dalam senandung Celine Dion, ”... Cause your love heals my souls. Once again. I can live I can dream. Once Again. ‘Cause you made me believe…..”

Dan malam ini saya ingin tidur bermimpikan sayap putih lembut memelukku hangat.....

(Gambar Dreamquest : dikutip dari www jasonchanart com)
(Gambar Angel : dikutip dari www squidoo com)

Kreatif Kalau Kepepet

Kurang dari seminggu sebelum konser di Jakarta, Alicia Keys menuntut seluruh pernak-pernik berbau rokok harus dihilangkan dari arena konser. ”Saya tidak mendorong anak-anak di dunia untuk merokok,” katanya.

Semua berawal dari langkah Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Campaign for Tobacco Free Kids mengirimkan surat kepada Keys, mempertanyakan komitmen penyanyi R&B asal AS itu untuk tidak ikut serta mempromosikan rokok, yang notabene menjadi sponsor utama pertunjukan Alicia Keys di Jakarta, awal Agustus lalu.

Seperti dikutip dari Majalah Tempo, Edisi 4-10 Agustus 2008, Amerika melarang perusahaan rokok menjadi sponsor acara musik dan olahraga sejak 1998. Tiga tahun berikutnya, perusahaan rokok membuat standar pemasaran internasional, yang antara lain, tak menggunakan selebritas untuk promosi, tidak mendorong anak muda merokok, dan tidak beriklan secara masif.

Ini kondisi yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun ada koridor Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Dalam PP tersebut juga mencantumkan aturan materi iklan.

Di sini, ada dualisme dalam memandang rokok. Industri rokok sebagai salah satu pemberi pemasukan besar bagi negara melalui cukai, dan membuka lapangan kerja cukup besar. Di pasar modal, saham-saham perusahaan rokok termasuk yang blue chips.

Di sisi lain, sisi kesehatan menjadikan produk berbahan baku tembakau ini juga digebuk, serta diikat kebebasannya dalam beriklan.

Namun, justru di tengah ketatnya tata cara mengiklankan diri, rokok merupakan salah satu dari sekian produk dengan iklan yang paling inovatif. Tim marketing atau perusahaan periklanan mereka menjadi putar otak dengan sejumlah larangan pemerintah.

Saya acungkan jempol untuk kreator A-Mild. Saya kagum dengan gaya Bentoel mengangkat ke-Indonesiaan, mengingatkan kita akan negeri yang elok, yang sama rasanya ketika melihat salah satu iklan rokok Marlboro membuatku ingin pergi ke Grand Canyon. Atau gelitik aura mistis para peri (ibunda Pertiwi?)dari negeri dongeng-nya Gudang Garam.

Etika Pariwara Indonesia menyebutkan dalam iklannya : Tidak menampilkan produk rokok, atribut rokok maupun perlengkapan merokok, atau memperagakan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, rokok atau orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok. Selain itu, penayangan di televisi hanya boleh disiarkan malam hari. Mulai dari 21.30 hingga 05.00 waktu setempat.

Industri rokok termasuk paling wahid dalam aktivitas below the line dengan mensponsori pertunjukan musik, olahraga, hingga beasiswa.

Ini mungkin salah satu bukti nyata bahwa kreativitas dan inovasi justru muncul akibat sejumlah pembatasan. Mungkin analogi serupa ketika mepet deadline (tenggat waktu) membuat ide paling oke muncul?!

Duh.. kalau yang terakhir ini jangan dibiasakan deh :D

Wednesday, August 06, 2008

Bunuh Diri & Saat dariNya

Sore hari, tiba-tiba masuk SMS dari kamu.
Saya jadi ingin membagi cerita kebahagiaan denganmu.
Namun, tulisan di layar LCD berdimensi tak lebih lebar dari panjang jempol jariku, membuat saya menunda membicarakan soal rasa senangku.

Rasanya, bukan saat yang tepat menceritakan tentang angan yang membuncah di saat orang lain sedang merasa kehilangan. Kamu baru pulang melayat teman, seorang aktivis, sekaligus mantan rekan kerja yang meninggal dunia. Maaf... aku sendiri lupa apakah sudah menekan keypad menyatakan turut berduka cita. Tapi yang jelas aku menunda ceritaku. Entah mengapa, persoalan ’kematian’ menimbulkan inspirasi yang ingin kutuang dalam puisiku.

Padahal sebelumnya saya sempat membahas tentang ”bunuh diri” dalam chatting bersama Merry dan Ajeng di pagi hari. Ini bukan persoalan depresi. Lebih kepada kita mengakhiri sendiri ujung usia kita, dengan meminjam istilah ”lengser keprabon madeg pandita”. Men-cut off umur di saat kita pada titik puncak keindahan diri, masih merasa cantik/ganteng, badan masih langsing belum mekar gara-gara melahirkan, belum punya beban.

Akan tetapi pelaku bunuh diri tentu kalah nyali dengan rekan almarhum - teman dari teman saya tsbt - yang berjuang melawan kanker sambil teguh berjuang mempertahankan idealismenya...

Kasus bunuh diri –dalam pendapatku – jadi seperti seseorang yang takut menghadapi masa depan. Bayangkan ketika seseorang melontarkan ucapan, ”Ya ampun... bodoh betul mengakhiri hidup saat masih belia,” sembari memandang tubuh kaku yang mati bunuh diri.

Bunuh diri adalah langkah bodoh ketika dunia masih menawarkan banyak hal yang belum kita reguk dalam keindahan hidup ini! Dari super remeh, super bodoh maupun na’if, atau mewujudkan impian yang bagi sebagian orang terlihat sepele atau standar. Misalkan belum mendaki Gunung Bromo meski banyak orang menyatakan Bali lebih romantis sebagai tempat berbulan madu.

Belum menikmati diving di Bunaken versus berbikini super mini di pantai, menjejak Kashmir, dan belum beribadah Umroh.

Belum pula membuat ibu tersenyum bahagia karena diri ini tertib menjalankan ibadah agama.

Belum mencoba duduk di belakang kemudi mini cooper tua dan melaju di Jakarta raya. Atau belum menemukan ciuman yang membuat diri melayang di udara seperti ditulis dalam roman picisan; belum merasakan janin tumbuh berkembang dalam rahim hingga melahirkannya; belum menyaksikan anak-anak yang ceria bermain sembari memelukku seraya berkata ”Bunda” ; dan belum melihat siapa Presiden RI di 2009, dsb.... dst.

Jadi.. biarkan Ia yang memutuskan kapan kita kembali. Kita hanya manusia yang berusaha mengisi waktu di dunia ini dengan hal-hal berguna.

Mungkin aku hanya mampu ikut menyatakan sedih melalui kata-kata sederhana di bawah ini.

***

Kehilangan

Banyak cerita kita bagi
Dari ranting jatuh hingga langit runtuh
Tentang cara mengisi waktu sampai ujung umur
Lalu kita pun diam termangu,
”Kita belum bicara sehidup berdua,”
Entah siapa yang nyaring berlagu
Ideologi memberangus hati bertaut


***

Ketika Saatnya Tiba

Kata kamu : tak ada kata ”Siap”
Hidup hanya mengumpulkan bekal dan menabur remah
Seperti Hansel menebar roti menjejak arah
Lalu burung-burung bersorak menemukan kudapan

Atau kau menjadi Gretel mengunyah gubuk coklat
Dan bertemu penyihir kelaparan

Semua ada sebab dan akibat
Sekali mengudar benang umur tiada mampu digulung kembali
Semua berujung di rumah tempat bersarang

Malaikat pun mengintip dari belakang .....


PS : turut berduka cita, Lelaki Agustus-ku.......

Jakarta 6 Agustus 2008

Monday, August 04, 2008

Missing Link (?)

Aneh!
Selalu ada kamu di sudut lengangku.
Apakah kamu lengkung rinduku di kaki pelangi,
saat ku mencari ujung lazuardi?


Jakarta, 4 Agst' 08

Friday, August 01, 2008

The Dark Knight




Batman is back!Jagoan kelam ini favoritku dari zaman kecil dulu.
Kenapa?
Dalam benak diriku yang masih anak kecil – pada waktu itu- dia keren dengan topeng dan jubah hitamnya. Dia juga punya banyak peralatan untuk melawan musuh-musuhnya.

Jika saya deskripsikan sekarang, Batman a.k.a Bruce Wayne paling humanis. Dia manusia biasa yang ingin membumi hanguskan kejahatan. Ia bukan manusia yang mampu mengeluarkan jaring laba-laba seperti Spiderman. Bukan pula si Superman (aghh! Dari dulu aku ga kuattt lihat jambul Mr. Clark Kent/Kal-El).

Batman sudah sering difilmkan di layar lebar. Tentu yang paling kuingat di era 90-an dengan aktor bergonta-ganti berperan sebagai Bruce Wayne. Mulai dari Michael Keaton. Ia membuat penasaran jika melihat sosoknya berbalut jubah kelelawar. Akan tetapi, imaji jadi rontok ketika melihat sosok dia dlm balutan Bruce Wayne... Maka sosok Val Kilmer paling guanteng untuk menjadi Batman. Makanya Batman Forever jadi film favorit saya.

Tapi acungkan jempol untuk “The Dark Knight”. Serba gelap. Muram. Dan salut untuk (almarhum) Heath Ledger yang mampu menghidupkan peran Joker, musuh Batman, dengan sangat-sangat bagus!! Benar-benar Joker yang cerdas dan mampu memainkan ’kartu’ dengan tak disangka.

Satu nama lagi yang menghidupkan film ini adalah Aaron Eckhart. Lupakan sosok pria membumi di No Reservations. Eckhart berperan sebagai Harvey Dent, jaksa wilayah yang memandang hidup dalam hitam-putih. Saksikan Dent bermetamorfosa menjadi sosok jahat. (bagi penggemar berat Batman, terdengar familiarkah nama nya??)

Film yang sangat sayang jika dilewatkan. Unsur sadisme tidak separah misalkan Spiderman-3, tapi memang film ini untuk Dewasa karena alur cerita yg berat. Dalam arti, bukan film yang sekadar memindahkan jagoan komik ke pita seluloid.

Thanks jg untuk rekan-rekan ku yang mengajak ku menonton di saat aku lagi up and down. Terhibur banget....

Bukan Superhero



Aku angsa berkepak rapuh,
Bukan superhero,
Namun jangan beri batu terkutuk itu!
Aku berpantang batu kryptonite pembawa lara,
Bakalan buatku takluk,
Sayapku pun terbakar.


Jakarta, 14-1-2008
(Inspirasi yang mengalir saat mendengar lagu Superman - Five for Fighting)

Saat Memutuskan Berpisah



Saya bukan penonton setia tayangan Infotainment. Hanya menikmati tayangan tsbt ketika TV di kantor berada di saluran yang sedang menayangkan gosip selebritas terkini. Atau, mau tidak mau mata mata tertuju pada berita tsbt saat buka-buka website.

Tapi kasus rencana perceraian pasangan pemusik yang penuh dengan layangan tuduhan miring antar kubu, membuat saya bertanya, ”Kemana cinta itu berlalu?”

Kemana perasaan yang dulu bersemayam di hati, dan terwakili melalui syair lagunya yang romantis dan ’menyentuh’. Rasanya kisah cintanya dari awal bertemu hingga bisa menikah, menjadi kisah bisa dikategorikan sebagai perjuangan cinta karena telah melewati berbagai rintangan.

Saya tidak bisa membayangkan mengakhiri hubungan, dan mantan saya menyebarkan kejelekan saya kepada orang-orang. Rasanya ada kode etik tak tertulis, bahwa ketika relationship harus berakhir, kenang yang baik-baik saja. Ingat saat kamu menikmati masa berduaan bersamanya dan selalu tersenyum. Dan ketika orang bertanya kenapa kamu mengakhiri hubungan, kamu hanya berujar, ”Kami ternyata punya banyak perbedaan prinsip yang tak bisa disatukan.”

Perbedaan prinsip toh macam-macam. Mulai dari : beda agama, keuangan, cara pandang terhadap hal-hal prinsip, cara memaknai hubungan itu sendiri, atau masih banyak hal lain yang kadang buat orang lain terasa remeh. Tak perlu juga kamu detilkan prinsip itu seputar ‘dia pria yang ringan tangan’ atau ’dia sangat ringan mulut’ (kecuali memang ’prinsip’ itu berujung pada visum rumah sakit atau pengaduan kekerasan ke kepolisian).

Tapi semua itu tak perlu diumbar. Bukan hal yang perlu diutarakan. Meski silahkan meraba dari aura wajah, puisi atau tanda-tanda fisik yang meski ditutupi seolah tak bisa menipu orang lain, bahwa kita sedang berada dalaam fase kesedihan. Biar itu jadi rahasia pribadi!

Hanya saja, sebagai catatan : Masalah ’beda prinsip’ bisa saja kamu beberkan secara detil, pada orang yang dapat memahami hatimu di saat ’pasang’ dan ’surut’.


(Gambar dikutip dari : www.jasonchanpicture.com)

Friday, July 25, 2008

(Friday.. I Love) This Day

How beautiful I start my day.
I’m look beautiful with my new hair.
Across the street with Barry White tune’s dancing in my head.


I’ve heard people say that
Too much of anything is not good for you, baby
Oh no
…
……
Can't get enough of your love babe
Oh, some things i can't get used to
No matter how I try
Just like the more you give, the more I want
And baby, that's no lie
Oh no, babe


Na..na..na.. I love this day.
Start a new day.

Berharap dalam Malam


Ketika malam memeluk
Hangat mendekap dalam peraduan
Berharap dalam mimpi kau dekap aku
Dan menghapus sesalku

Saat malam merambat
Ada setangkup rindu kusemat
Ku tak berani menyatakannya....

Kusemakin menggelung
Sesak menangkap udara
Ada bulir mata membasahi bantal



Jakarta, 23 Juli 2008
(Gambar dikutip dari www.yoganga.com)

Tajam Lidahmu Menyambar Kesombonganku (Izinkan Aku)

Izinkan aku
Berpeluk dalam dekap mu
Sekali lagi......

Izinkan aku
Menghapus bimbangmu
Membisikkan maaf

Agh!!!
Tajam lidahmu
menyambar kesombonganku
Pedas! Pedas! Pedas!


Jakarta, 23 Juli 2008

Berhenti Merokok

Kubakar tembakau
Sedot, kepul dan buang
Agh!
Ada bayangmu di sela asap
Leherku tersedak
Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Selalu ada kamu
di sudut euforia pribadiku

Puih! Ini saatnya berhenti menyulut api
Di bibir merah jambu
Ingat pesan kamu, tak mau ingat kamu
Ku buang rokok ke dalam keranjang sampah
Fotomu pun terbakar



Jakarta, 23 Juli 2008

Thursday, July 24, 2008

Lengkung Senyum Cantelan Rindu

Maaf sedikit melupakanmu
Ketika Ku tak mampu mengirim sandek untukmu
Ketika Ku tak kuasa menahan waktu
Untuk sejenak mengingatmu

Namun, percaya padaku
Aku hendak mengatakan,
"Di ujung lengkung senyummu, Ku kaitkan rinduku"



Dec 7, '07
Multiply 8:23 AM

Tuesday, July 22, 2008

Dari Bidadari Untuk Bintang

Wahai bintang di langit terang,
Mengapa kau dekap hujan membawa kelabu,
Tak tahukah kamu sang bidadari gundah karenanya?

”Ingin kusampaikan semburat cinta di ujung lengkung langit, untuk sang kejora,” kata bidadari.

Dan sembari menghela nafas, sang bidadari pun berbisik, ”Cinta membutuhkan ketulusan, pengorbanan, rasa percaya, dan cinta itu sendiri.”



21 Juli 2008 – dalam dekap langit di sudut jagad raya.

Sedih

Pagi ini, datang ke kantor (Selasa 22/7) dan lihat pengumuman.
Saya tidak lulus tes Business Conversation. Sedih! Mengikuti kursus bahasa Inggris bertujuan memperbaiki keterampilan bahasa asing, dan karena dibayari kantor karena ada pengakuan kompetensi diri diantara sekian pekerja di kantor, selain ini kesempatan untuk meningkatkan skor TOEFL/TOEIC untuk tujuan sekolah lagi.
Yah, masih ada kesempatan lain..... :(

Thursday, July 17, 2008

Terbang

Nomormu, kuhapus ya?
Tak bakal ada tanya kabar
Tak bakal ada pesan pendek

Hanya ada peluk rindu via udara
dan kutahu...
itu bakal memudar bersama waktu



Posting BuMa, 28 Maret 2007

(Note : kutemukan coretan ini setelah bongkar2 arsip lama)

Wednesday, July 16, 2008

Perbaikan Kemampuan Diri

Hari sudah malam. Hampir jam 9 malam, dan mata ku pun berkunang-kunang memandangi selembar kertas yang penuh dengan gambar bulatan berderet rapi.

Ternyata hampir 2 jam saya konsentrasi dengan tes Bahasa Inggris sebagai bentuk placement test atau tes awal sebelum kursus, untuk mengetahui kemampuan kita dan disesuaikan dengan level kursus.

Uff! Tapi saya jadi bisa membayangkan kondisi diri jika mau kuliah sambil kerja. Yap! Dari awal terjun ke dunia kerja, saya berpikir suatu waktu harus ambil strata pendidikan S2. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan, peningkatan karir, atau memang kondisi eksternal seperti faktor lingkungan keluarga yang memang menempatkan pentingnya pendidikan. Dalam niat saya –pada waktu itu- saya mencari pengalaman dalam dunia kerja, lalu berhenti pada satu titik (masa) untuk kembali sekolah lagi. Inginnya sih sekolah di luar negeri.

Akan tetapi, ternyata keinginan ini tenggelam bersama kesibukan kerja. Gaji yang disisihkan untuk menabung pun selalu kembali ke titik nol disebabkan hal-hal lain.

Akhirnya, saya menjadi realistis : saya butuh pekerjaan, menikmati karir, dan tidak ingin melepas pekerjaan kantor. Jadi, keinginan berikutnya adalah kuliah sambil kerja. Profesi tidak kutinggalkan sementara niat menimba ilmu tetap jalan.

Sekolah atau pendidikan pascasarjana bukan di prioritas saya. Kesempatan pembelajaran bisa diperoleh dari mana saja. Pekerjaan sehari-hari, orang yang engkau temui dalam kehidupan, orang tua, bahkan anak kecil.

Pendidikan formal pun bisa diperkaya melalui kursus, seminar, diskusi bersama orang berkompeten. Dengan terbatasnya waktu luang karena kerja, tentu kesempatan kursus Bahasa Inggris yang dibiayai kantor, tidak ingin saya lewatkan.

Maka saya semalam pun ’terdampar’ di ruang meeting kantor. Bersama sekitar 30 rekan lain, kami relakan waktu pulang kantor untuk mengikuti tes reading, listening, dsb yang bikin pusing.

Pusing karena saya tanpa persiapan belajar sebelumnya. ”Lho, tapi ngapain belajar? Ambil kursus karena belum mahir. Ini kan baru tes penempatan untuk mengetahui semahir apa kamu dan pantasnya di Level mana?”

Pusing karena memang otak sudah terlalu jenuh untuk berpikir selewat 8 jam konsentrasi kerja.

Tapi rela pusing demi suatu perbaikan. Perbaikan kemampuan Bahasa Inggris ku.

Semoga hasilnya cukup bagus & saya rajin mengikuti kursus Business Conversation tsbt sampai tamat :)

Friday, July 11, 2008

Idealisme Bersama Sekotak Nasi

Dalam posting di milis/blog Mas Rio dari Trans TV membuat saya tertarik mengomentari. Ia menuliskan (saya singkat saja) pada rapat program Reportase Sore, Rabu (25/6/08) memberi teguran keras kepada reporternyaTrans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.

Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.

Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.

Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.

Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”


Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.

Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.

Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.

Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.

Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.

Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”

Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.

Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.

Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.

Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.

Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.

Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."

Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?

Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....

Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).

Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.

Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.

Thursday, July 10, 2008

OCD.... Obsesif...

Oprah Show merupakan tayangan televisi yang tak ingin saya lewatkan. Makanya, saya berusaha untuk memasang kanal TV di saluran tersebut setiap jam 10.00 wib di kantor. Apalagi pada jam tsbt biasanya ruangan kantor juga masih sepi. Walaupun teman-teman sudah ada di ruangan, mereka juga tidak terlalu peduli apa acara yang sedang ditayangkan di TV. Semua pada berkonsentrasi pada monitor komputer masing-masing dan suara dari kotak kaca itu cuma menjadi ”alunan merdu” teman bekerja.

Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.

Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.

Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”

Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.

Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.

Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).

Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.

Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.

Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!

Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.

Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.

Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.

Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.

Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)

Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?

Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.

Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.

(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)

Sunday, July 06, 2008

Ketika Cinta


Aku suka ekspresi manjamu
Ketika kerlingmu menyiratkan rasa


(Foto : Rama & Sinta, karya pengukir kayu di Intercontinental –Bali. Foto by Eno – Feb’08).