Monday, June 14, 2010
Visi
Usai mengedit suatu wawancara profil, saya teringat ucapan narasumber itu yang lebih kurang sebagai berikut, “Visi menurut saya adalah tujuan jangka panjang dan berkelanjutan, ….” kata dia.
Sering melakukan wawancara profil kepada berbagai narasumber, hampir pasti akan menanyakan apa visi dan misi dalam memajukan perusahaan, institusi/lembaga atau dalam posisi kapasitas yang beliau pimpin.
Sebuah perusahaan tidak bakal maju jika seorang pendiri perusahaan tak tahu juga apa yang ingin dicapai dari keberadaan perusahaan tersebut. Sebagai pribadi, saya atau siapapun kadang pernah dalam kondisi bingung. Entah mau menjadi apa seorang “Eno” (baca : nama kamu).
Alasannya macam-macam. Mungkin pernah tahu apa yang ingin dikejar, ketika yang diinginkan telah tercapai maka kamu hilang tujuan dan berada di zona nyaman. Atau punya sejumlah resolusi diri yang diucapkan di momen-momen tertentu, seperti saat tahun baru, pertengahan tahun, ulang tahun, atau saat kamu menemukan pencerahan, tetapi kenapa mewujudkannya susah ya?
Saya seolah baru menyadari akan lebih gampang jika kamu menyarikan dulu dalam satu kalimat, kemudian draft resolusi adalah pengejawantahan dari Visi.
Visi kamu sebagai individu bernama Eno adalah ……
Dengan demikian, cara kamu mewujudkan Visi itu adalah…..
…..Hope this way could help me find the way….
Friday, June 11, 2010
This Time for Africa - World Cup 2010
Siapkan diri untuk menyaksikan Piala Dunia 2010, berlangsung antara 11 Juni-11 Juli 2010.
Ini pertandingan sepak bola antar negara yang pertama kali diselenggarakan di benua Afrika. Tepatnya di Afrika Selatan.
Nama bolanya lucu, Jabulani, didesain oleh Adidas.
Penyanyi lagu theme songnya Shakira yang suaranya dashyat, goyangnya yahud.....lha :p
Semua menyuarakan semangat...
This Time for Africa (Waka Waka)
Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa
Wednesday, May 26, 2010
Hidup Ini
Hidup adalah bergerak
sejajarkan langkah seirama waktu
menikmati hari dan musim berlalu
hingga bumi pun memeluk berkalang tanah
sejajarkan langkah seirama waktu
menikmati hari dan musim berlalu
hingga bumi pun memeluk berkalang tanah
Sore Itu Aku Mampir ke Rumahmu
: Nyekar
Sore itu aku mampir ke rumahmu,
Tanganku tak bawa buah tangan,
Aku ternyata sudah lupa apa bunga yang kau suka
Aku memang tak pernah tahu cerita kegemaranmu
Ku harap suaraku semoga sampai di langit
Kita tak bicara pinokio, piano, atau bintaro
Tak usah singgung Mozart, Chopin, blok piano
Metronome dan penggaris panjang tak membawaku ke panggung
Jemariku memanjang dan jenuh pegang kunci D,E,F dan G
Kupingku tak mengenali ketukan, melodi itu tak mengantarku ke kamu
Aku tak tahu mau bicara apa
Saksikan saja, si Timun Mas sudah jadi raksasa
Dulu kamu mengejar bocah sulit makan dan membuang keringat ayah di piring nasi
Dulu kamu menemani bocah yang takut melihat cermin, lukisan, dan semua hal biasa bagi orang dewasa
Bocah penggambar awan di langit dan berenang bersama anak kodok
Si penikmat petir dan harum tanah tersiram hujan sembari mojok di sudut ruang ... kata orang dewasa, kelakuan anak ini beda.....
Anak aneh itu kini sudah dewasa
Punya kenangan yang semakin kelabu di otak
Tinggal sebatas cetak rupa yang (katanya) mirip wajahmu
Aku kini tak tau apa kamu mengerti bahasaku
Aku mampir sebelum semuanya makin samar
Aku diam tak bersuara, tapi kurasa kita saling bicara
Tanah Kusir, 24 Desember 2008
Sore itu aku mampir ke rumahmu,
Tanganku tak bawa buah tangan,
Aku ternyata sudah lupa apa bunga yang kau suka
Aku memang tak pernah tahu cerita kegemaranmu
Ku harap suaraku semoga sampai di langit
Kita tak bicara pinokio, piano, atau bintaro
Tak usah singgung Mozart, Chopin, blok piano
Metronome dan penggaris panjang tak membawaku ke panggung
Jemariku memanjang dan jenuh pegang kunci D,E,F dan G
Kupingku tak mengenali ketukan, melodi itu tak mengantarku ke kamu
Aku tak tahu mau bicara apa
Saksikan saja, si Timun Mas sudah jadi raksasa
Dulu kamu mengejar bocah sulit makan dan membuang keringat ayah di piring nasi
Dulu kamu menemani bocah yang takut melihat cermin, lukisan, dan semua hal biasa bagi orang dewasa
Bocah penggambar awan di langit dan berenang bersama anak kodok
Si penikmat petir dan harum tanah tersiram hujan sembari mojok di sudut ruang ... kata orang dewasa, kelakuan anak ini beda.....
Anak aneh itu kini sudah dewasa
Punya kenangan yang semakin kelabu di otak
Tinggal sebatas cetak rupa yang (katanya) mirip wajahmu
Aku kini tak tau apa kamu mengerti bahasaku
Aku mampir sebelum semuanya makin samar
Aku diam tak bersuara, tapi kurasa kita saling bicara
Tanah Kusir, 24 Desember 2008
Sunday, May 23, 2010
Tidak Peka adalah Alasan Tidak (Sempat) Memperbaharui Blog
Seorang teman punya komentar terhadap blog pribadi saya yang belakangan jarang saya perbaharui.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.
Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.
Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.
Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.
Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.
Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.
Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.
Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.
“Setidaknya pemiliknya sedang punya kesibukan lain yang membuatnya tidak sempat memperbaharui isi blog,” kata dia.
Ya. Saya bisa mengamini komentarnya seraya menyebutkan sejumlah kegiatan yang saya lakukan sebagai manusia individu maupun makhluk sosial.
Sekaligus dalam hati saya membatin : menyesali diri menjadi manusia kurang peka. Saya tak mampu lagi menangkap hal-hal kecil di sekitar lalu menceritakannya dalam bentuk kata dan paragraf.
Tak punya lagi tenaga untuk mengetikkan isi hati. Tiada punya sensitivitas dalam menangkap apa yang saya lihat, alami dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian dituangkan dalam kalimat tertulis.
Semula semua bisa menjadi tulisan : tukang sapu jalanan di sudut jalan menuju kantor setiap pagi, pengamen cilik di lampu merah, tukang sol sepatu uzur, termasuk kemacetan lalu lintas.
Tentang mimpi-mimpi di dalam diri, atau sekadar hobi pribadi, interaksi sosial, benda remeh tapi punya cerita, hingga memuat tips sederhana yang sebenarnya bisa pembaca blog temukan di majalah-majalah, tapi ingin saya ulas.
Lalu tak punya lagi kekuatan untuk membagi pengalaman kerja di dalam blog yang biasanya ku-tag sebagai “komunikasi”.
Apakah kepekaan saya semakin tumpul? Atau memang kegiatan-kegiatan lain membuat saya tidak sempat memperbaharui blog.
Thursday, April 29, 2010
#Deadline-Berat
Kata-kata mengalir deras dari otak yang menegang
****
Mencoba genggam cahaya di jemari. Semoga kilaunya menebar semangat di diri
****
Fokus di weekend : supaya semangat menyelesaikan kerja di hari ini
****
Mencoba genggam cahaya di jemari. Semoga kilaunya menebar semangat di diri
****
Fokus di weekend : supaya semangat menyelesaikan kerja di hari ini
Tuesday, April 06, 2010
Wish I Were There
Lagi ga merasa punya tulisan (yang sekiranya) bermutu untuk dibagi, tak adapula ide menggores puisi. Jadi, mengkhayal saja tempat-tempat menarik bagi diriku untuk disinggahi :
Menara Eiffel
Menjejakkan kaki di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Struktur menara besi berlokasi di Champ de Mars ini dibangun pada 1887 dan 1889. Kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1889. Desainnya digarap oleh Maurice Koechlin.
Fungsi awalnya sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk perayaan Revolusi Prancis, dan sejak itu Eiffel menjadi ikon Perancis.
Grand Canyon
Ingat film layar lebar Mission Impossible-2? pada bagian awal terdapat mengambil setting di Grand Canyon, AS. Jadi saya membayangkan sebuah tebing-terjal diukir oleh Sungai Colorado termasuk melanglang ke Taman Nasional Grand Canyon.
Gili Trawangan
Bersyukur telah menghabiskan masa kecil di Irian Barat, beberapa kali berlibur ke Bali, dan snorkeling di Sabang. Kini wish list adalah berlibur di Gili Trawangan, Lombok. Menikmati menghabiskan waktu berjemur di tepi pantai seraya menikmati sinar matahari menimpa kulit.
Mekkah
Ide ini melintas sejak belakangan ini, sepertinya mulai akhir tahun lalu. Sebagai umat Muslim menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Adapun naik haji yang selebihnya merupakan sunnah. Sedang memikiirkan untuk membuka Tabungan Haji di sebuah bank.
Menara Eiffel
Menjejakkan kaki di Menara Eiffel di Paris, Perancis. Struktur menara besi berlokasi di Champ de Mars ini dibangun pada 1887 dan 1889. Kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1889. Desainnya digarap oleh Maurice Koechlin.
Fungsi awalnya sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk perayaan Revolusi Prancis, dan sejak itu Eiffel menjadi ikon Perancis.
Grand Canyon
Ingat film layar lebar Mission Impossible-2? pada bagian awal terdapat mengambil setting di Grand Canyon, AS. Jadi saya membayangkan sebuah tebing-terjal diukir oleh Sungai Colorado termasuk melanglang ke Taman Nasional Grand Canyon.
Gili Trawangan
Bersyukur telah menghabiskan masa kecil di Irian Barat, beberapa kali berlibur ke Bali, dan snorkeling di Sabang. Kini wish list adalah berlibur di Gili Trawangan, Lombok. Menikmati menghabiskan waktu berjemur di tepi pantai seraya menikmati sinar matahari menimpa kulit.
Mekkah
Ide ini melintas sejak belakangan ini, sepertinya mulai akhir tahun lalu. Sebagai umat Muslim menunaikan ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Adapun naik haji yang selebihnya merupakan sunnah. Sedang memikiirkan untuk membuka Tabungan Haji di sebuah bank.
Thursday, March 11, 2010
Bahagia Melihatmu Bahagia
Ada usik tanya dalam mata memandang Saat kita bertemu satu pusaran waktu
Sewindu ada kamu terhapus dalam hujan semalam
Lantas…sepi seperti apa tanpa kamu?
Lalu..sunyikah harimu tanpa kicauku?
Kamu masih secangkir tea latte
berpadu kontras dengan irish coffee di diri ini
Aku ingin tipsy sedikit mengingat masa lalu
Menggali memori dari sejumput aroma tembakau
Aku telah alpa harum samar dari tubuhmu
Tunggu dulu!
Hentikan caramu menyeka keringat di kepala
Aku pun tak kuasa menghentikan jemari ini mengacak rambut di kepalamu
Lanjut berpeluk dan mengecup setiap inci wajah
Ayo…bicara saja…
Bicara apa saja
Tentang diri dan hidupmu
Aku ingin menangkap kilau ceria di matamu
Aku bahagia melihatmu bahagia
Aku telah melepas komet di angkasa
Malam tadi aku melihat bintang di langit
Aku ingin melukis kisah baru di sana
*P.S. : terinspirasi kisah dalam satu musim*
Wednesday, March 10, 2010
Fractura Hepatica dan Patah Tulang
Saya baru mendengar “fractura hepatica” sebagai istilah lain dari “patah hati”.
Patah hati pasti sama sakitnya seperti mengalami fracture di bagian tulang yang biasa dialami orang yang berolahraga.
Entah nyambung atau tidak, usai mendiskusikan hal ini bersama teman yang memberitahu istilah ini, saya sedang sampai pada kesimpulan bahwa “cinta” sama seperti kamu berolahraga.
Pertama kali kamu ke gym, kamu mengira-ngira apa yang dapat kamu peroleh di sana, suasananya, dan apa hasilnya. Usai mengikuti kelas aerobik, badanmu terasa sakit-sakit. Butuh diusap pelega otot seperti Counterpain.
Pegal-pegal di badan bikin kamu cape. Timbul malas untuk mengulanginya. “Apa aku sanggup?” tanyamu membatin.
Tapi kamu tetap kembali ke gym dan berolahraga. Mengolah fisik menghasilkan hormon endorfin, yang bisa memberikan rasa bahagia dan rileks. Seperti halnya “cinta” yang juga menjadi penyemangat hidup.
Apakah kamu setia dengan gym tempat kamu berolahraga? Setia dengan gerakan yang itu-itu saja? Atau jenis olahraga yang sama? Bisa ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi kamu tetap menyukai olahraga, karena kamu menemukan kebahagiaan, badan lebih sehat dan bugar. Nafas yang lebih panjang, dan hasil lainnya baju yang dibeli pada 2-3 tahun ternyata masih tetap pas di badan.
Dan sama halnya dengan ‘cinta’ yang tetap kamu cari, dan suatu waktu kamu bisa setia karena telah menemukan kenyamanan, pelabuhan, atau titik akhir pencarian.
Patah Hati#1
Hati ini retak
Luka meruak
“Kau mau bantu aku menambal hati ini?”
***
Patah Hati#2
Biarkan alang-alang merambah ladang kita
menjelma gulma mencabik hati gembur
kasih yang subur sudah lupa ditabur
kering merana tandus merata
Patah hati pasti sama sakitnya seperti mengalami fracture di bagian tulang yang biasa dialami orang yang berolahraga.
Entah nyambung atau tidak, usai mendiskusikan hal ini bersama teman yang memberitahu istilah ini, saya sedang sampai pada kesimpulan bahwa “cinta” sama seperti kamu berolahraga.
Pertama kali kamu ke gym, kamu mengira-ngira apa yang dapat kamu peroleh di sana, suasananya, dan apa hasilnya. Usai mengikuti kelas aerobik, badanmu terasa sakit-sakit. Butuh diusap pelega otot seperti Counterpain.
Pegal-pegal di badan bikin kamu cape. Timbul malas untuk mengulanginya. “Apa aku sanggup?” tanyamu membatin.
Tapi kamu tetap kembali ke gym dan berolahraga. Mengolah fisik menghasilkan hormon endorfin, yang bisa memberikan rasa bahagia dan rileks. Seperti halnya “cinta” yang juga menjadi penyemangat hidup.
Apakah kamu setia dengan gym tempat kamu berolahraga? Setia dengan gerakan yang itu-itu saja? Atau jenis olahraga yang sama? Bisa ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi kamu tetap menyukai olahraga, karena kamu menemukan kebahagiaan, badan lebih sehat dan bugar. Nafas yang lebih panjang, dan hasil lainnya baju yang dibeli pada 2-3 tahun ternyata masih tetap pas di badan.
Dan sama halnya dengan ‘cinta’ yang tetap kamu cari, dan suatu waktu kamu bisa setia karena telah menemukan kenyamanan, pelabuhan, atau titik akhir pencarian.
Patah Hati#1
Hati ini retak
Luka meruak
“Kau mau bantu aku menambal hati ini?”
***
Patah Hati#2
Biarkan alang-alang merambah ladang kita
menjelma gulma mencabik hati gembur
kasih yang subur sudah lupa ditabur
kering merana tandus merata
Thursday, March 04, 2010
Kekuatan Mimpi
Apakah kamu masih berani bermimpi?
Masih semangatkah membuat resolusi di awal tahun dan fokus pada merealisasikan impian yang terdapat dalam daftar wish list kamu?
Setelah terlibat diskusi bersama seorang teman, bisa jadi terbersit rasa kagum atas keberhasilan dia, atau justru cemburu lantas membatin mengapa diri ini tidak bisa seberhasil dia.
Dan tiba-tiba menyadari bahwa diri ini berada dalam --zona nyaman—bangun pagi, kantor, kerjakan tugas-tugas, pulang ke rumah, lalu tidur hingga pagi hari dan siap melakukan ritual sama. Satu tahun yang berjumlah 365 hari berlalu, dan saat kembali menoleh pada tahun lalu kita seolah melihat sebagai garis datar.
Kekuatan mimpi tergerus oleh pembenaran kesibukan kerja, mempunyai sederet persoalan harus dihadapi, atau alasan memprioritaskan sejumlah tugas harian sebagai first thing first.
Saya atau hampir semua orang yang mengalami kondisi diatas lupa bahwa kita harus punya mimpi dan fokus untuk mengejarnya. Berusaha dulu baru menyatakan ‘kalah’.
Jika di tengah jalan ada sandungan atau percabangan ke pilihan berbeda, mungkin itu sebagai cobaan atau memang perhentian sementara sebelum mimpi besar kamu terwujud.
Kini saatnya kembali menjadikan lirik-lirik lagu pembangkit semangat seperti Nidji “Laskar Pelangi”, Celine Dion “The Power of the Dream”, dan Whitney Houston “Greatest Love of All” sebagai bagian dari penyemangat hidup.
Menyenangkan juga mempunyai teman yang ‘tepat’, yaitu teman-teman yang berhasil dan semangat menjalani kehidupannya. Aura positif mereka semoga menyebar lantas menular pada diri sendiri. Bersyukur memiliki sahabat tempat bersandar disaat sedih, saling mendukung, tersenyum bersama di saat hati bahagia, sekaligus menjadi pembangkit semangat.
(Gambar dikutip dari : http://www.worldofwarcraft.com/)
Masih semangatkah membuat resolusi di awal tahun dan fokus pada merealisasikan impian yang terdapat dalam daftar wish list kamu?
Setelah terlibat diskusi bersama seorang teman, bisa jadi terbersit rasa kagum atas keberhasilan dia, atau justru cemburu lantas membatin mengapa diri ini tidak bisa seberhasil dia.
Dan tiba-tiba menyadari bahwa diri ini berada dalam --zona nyaman—bangun pagi, kantor, kerjakan tugas-tugas, pulang ke rumah, lalu tidur hingga pagi hari dan siap melakukan ritual sama. Satu tahun yang berjumlah 365 hari berlalu, dan saat kembali menoleh pada tahun lalu kita seolah melihat sebagai garis datar.
Kekuatan mimpi tergerus oleh pembenaran kesibukan kerja, mempunyai sederet persoalan harus dihadapi, atau alasan memprioritaskan sejumlah tugas harian sebagai first thing first.
Saya atau hampir semua orang yang mengalami kondisi diatas lupa bahwa kita harus punya mimpi dan fokus untuk mengejarnya. Berusaha dulu baru menyatakan ‘kalah’.
Jika di tengah jalan ada sandungan atau percabangan ke pilihan berbeda, mungkin itu sebagai cobaan atau memang perhentian sementara sebelum mimpi besar kamu terwujud.
Kini saatnya kembali menjadikan lirik-lirik lagu pembangkit semangat seperti Nidji “Laskar Pelangi”, Celine Dion “The Power of the Dream”, dan Whitney Houston “Greatest Love of All” sebagai bagian dari penyemangat hidup.
Menyenangkan juga mempunyai teman yang ‘tepat’, yaitu teman-teman yang berhasil dan semangat menjalani kehidupannya. Aura positif mereka semoga menyebar lantas menular pada diri sendiri. Bersyukur memiliki sahabat tempat bersandar disaat sedih, saling mendukung, tersenyum bersama di saat hati bahagia, sekaligus menjadi pembangkit semangat.
(Gambar dikutip dari : http://www.worldofwarcraft.com/)
Thursday, January 21, 2010
Puisi Panik - Hanya Sepenggal
Hap..hap...hap..
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak
***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(
Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...
Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!
Calm down Eno..calm down..Don't be panic.
*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak
***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(
Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...
Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!
Calm down Eno..calm down..Don't be panic.
*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.
Thursday, January 07, 2010
AlasanTidak nge-Blog
Lagi menebak-nebak penyebab saya belakangan ini jarang nge-blog, alias memposting tulisan di dalam blog. Dan saya menemukan beberapa alasan.
Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.
Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.
Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).
Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.
Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.
Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.
Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.
Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.
Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.
Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.
Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.
Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.
Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.
Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.
Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.
Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.
Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.
Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.
Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.
Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.
Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).
Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.
Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.
Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.
Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.
Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.
Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.
Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.
Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.
Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.
Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.
Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.
Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.
Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.
Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.
Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.
Monday, January 04, 2010
Happy New Year 2010
Happy New Year
Wishing You…..
12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success
*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*
Wishing You…..
12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success
*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*
Tuesday, December 29, 2009
Pergi ke Panti Asuhan
Akmal mengintip dari balik tubuh Teteh. Mata nan bundar berusaha ingin tahu tentang siapa yang ada di depannya.
Lalu berturut-turut datang Rizka dan Kemal. Kepala pelontos Rizka membuat mata memandang mengira dirinya anak laki-laki. Minus anting-anting pula sebagai penanda anak perempuan. Hanya jika kita memandang raut wajahnya yang manis serta baju pink yang membalutnya siang itu menandakan dia perempuan.
“Kemarin ada benjolan seperti bisul di kepala. Jadi rambutnya kami potong supaya (bisulnya) gampang diobati,” kata Teteh.
Rizka dan Akmal pun beraksi di depan kami yang duduk di ruang tamu. Mereka mondar-mandir membawa tas sekolah ber-troli, kemudian kejar-kejaran bersama bocah tetangga yang datang menimbrung.
Teriakan mereka pun memecah konsentrasi saat bercakap-cakap, meski tak menyulut kemarahan. Senyum dan sapaan sesekali kuarahkan pada mereka. Rizka pun bereaksi tertawa dan mau mendekat. Hanya Akmal memilih melihat dari jauh, namun kami sadar dia mencari perhatian kami.
Akmal dan Rizka adalah anak penghuni suatu Panti Asuhan Yatim Piatu berada di Bogor. Meski tidak tinggal dan hanya kebetulan bermukim di sekitar panti, kisah Kemal pun tak kalah mengharukan. Ibunya meninggal tertabrak kereta api, dan sang ayah justru menikah lagi dengan wanita lain. Ibu tirinya kejam, senang memaki dan marah-marah, sehingga Kemal pun akhirnya diurus oleh sang kakek nenek di Bogor.
“Kemal sudah pintar mengaji tapi tak mau sekolah,” kata Teteh tentang si ikal berumur 4 tahun. Agh, mungkin tak ada orang yang mau menganyomi membujuk Kemal ke sekolah?
Siang itu saya ‘hanya’ mampir. Bocah-bocah lain penghuni panti yang total mencapai 15 anak sedang pergi memetik rambutan di kebun sekolah yang satu yayasan dengan panti itu.
Cari perhatian! Itu pendapat saya tentang mereka. Saya membayangkan diri ini hanya salah satu sosok yang datang dan pergi. Sama seperti puluhan tamu lain yang tertera di Buku Tamu, menghantarkan sesuatu dan berlalu.
Hari itu saya diketukkan sesuatu : Indahnya Berbagi dan Mengasihi.
Lalu berturut-turut datang Rizka dan Kemal. Kepala pelontos Rizka membuat mata memandang mengira dirinya anak laki-laki. Minus anting-anting pula sebagai penanda anak perempuan. Hanya jika kita memandang raut wajahnya yang manis serta baju pink yang membalutnya siang itu menandakan dia perempuan.
“Kemarin ada benjolan seperti bisul di kepala. Jadi rambutnya kami potong supaya (bisulnya) gampang diobati,” kata Teteh.
Rizka dan Akmal pun beraksi di depan kami yang duduk di ruang tamu. Mereka mondar-mandir membawa tas sekolah ber-troli, kemudian kejar-kejaran bersama bocah tetangga yang datang menimbrung.
Teriakan mereka pun memecah konsentrasi saat bercakap-cakap, meski tak menyulut kemarahan. Senyum dan sapaan sesekali kuarahkan pada mereka. Rizka pun bereaksi tertawa dan mau mendekat. Hanya Akmal memilih melihat dari jauh, namun kami sadar dia mencari perhatian kami.
Akmal dan Rizka adalah anak penghuni suatu Panti Asuhan Yatim Piatu berada di Bogor. Meski tidak tinggal dan hanya kebetulan bermukim di sekitar panti, kisah Kemal pun tak kalah mengharukan. Ibunya meninggal tertabrak kereta api, dan sang ayah justru menikah lagi dengan wanita lain. Ibu tirinya kejam, senang memaki dan marah-marah, sehingga Kemal pun akhirnya diurus oleh sang kakek nenek di Bogor.
“Kemal sudah pintar mengaji tapi tak mau sekolah,” kata Teteh tentang si ikal berumur 4 tahun. Agh, mungkin tak ada orang yang mau menganyomi membujuk Kemal ke sekolah?
Siang itu saya ‘hanya’ mampir. Bocah-bocah lain penghuni panti yang total mencapai 15 anak sedang pergi memetik rambutan di kebun sekolah yang satu yayasan dengan panti itu.
Cari perhatian! Itu pendapat saya tentang mereka. Saya membayangkan diri ini hanya salah satu sosok yang datang dan pergi. Sama seperti puluhan tamu lain yang tertera di Buku Tamu, menghantarkan sesuatu dan berlalu.
Hari itu saya diketukkan sesuatu : Indahnya Berbagi dan Mengasihi.
Monday, December 14, 2009
Bekerja Keras
……”She is fantastic and I love her and I wish her the best,” Ellen told her audience. “She deserves to rest. She has worked really, really hard.”
Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.
Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”
Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.
Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.
Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”
Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.
Sensasi Rasa Ini
Sedang kangen rasa ini Kangen rasa semangat meletup
Kangen sensasi kupu-kupu menari di perutku
Menari dalam pusaran angin
Menyatu bersama semesta
Sedang merindu rasa rindu di suatu masa
Menganyam benang menjala asa
Ketika pendar di mata menyetrum ke dada
Sedang kangen rasa ini
Kangen saat kukecup dunia bersama senyum
Kini kududuk menikmati pajangan usang
Kusulut api menebar bara
Hilang …. berputar ke awal
* Perlu kembali ke titik nol *
Kangen sensasi kupu-kupu menari di perutku
Menari dalam pusaran angin
Menyatu bersama semesta
Sedang merindu rasa rindu di suatu masa
Menganyam benang menjala asa
Ketika pendar di mata menyetrum ke dada
Sedang kangen rasa ini
Kangen saat kukecup dunia bersama senyum
Kini kududuk menikmati pajangan usang
Kusulut api menebar bara
Hilang …. berputar ke awal
* Perlu kembali ke titik nol *
Thursday, November 19, 2009
Bekerja dari Rumah
Ide bekerja dari rumah beberapa kali melintas dalam benakku dan terasa menarik. Sebagai tukang merangkai kata, saya sering terpikir untuk bekerja dari rumah.
Bermodalkan notebook, dibantu perangkat alat telekomunikasi seperti telepon dan akses internet, maka pekerjaan kantor dapat selesai dan dikirimkan dari rumah.
Tidak stres terjebak kemacetan jalan raya atau hal lain yang biasa dialami di kantor. Apalagi untuk orang yang harus merawat keluarga, misalkan orangtua atau anak.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com, hampir sepertiga dari responden mengatakan pernah melaksanakan pekerjaan dari rumah. Tapi tidak total 8 jam seperti umumnya jam kerja perkantoran.
Sebanyak 25% dari responden mengatakan kurang dari 1 jam untuk pekerjaan kantor mereka, ketika mereka mengerjakannya di rumah, dan sebanyak 53% menghabiskan waktu 3 jam, dan hanya 14% yang benar-benar selama 8 jam.
Nah, apa yang mereka fokuskan selain memenuhi tugas profesional mereka, jika berada di rumah? Ternyata mengurus anak berada di urutan teratas sebagai alasan untuk bekerja dari rumah (22%). Melakukan percakapan pribadi melalui telepon, atau berselancar di Internet (17%), nonton TV atau tidur (15%), keperluan pribadi (11%), dan melakukan pekerjaan rumah tangga (9%).
Memang kemajuan teknologi memungkinkan orang bekerja di mana saja, termasuk di rumah. Ketika bekerja dari rumah membawa perbaikan dalam keseimbangan antara pekerjaan VS kehidupan pribadi, hal ini juga menciptakan keinginan untuk terus termotivasi.
Hanya saja, jika masih berbenturan dengan peraturan kantor atau memang kamu belum bisa disiplin, lebih baik jadilah orang yang fokus. Tetapkan bahwa waktu di rumah untuk beristirahat dan urusan pribadi; sedangkan maksimalkan jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Meski resiko sesekali membawa pulang pekerjaan akibat tuntutan deadline atau lainnya, kadang bisa terjadi.
Rosemary Haefner, Wakil Direktur Sumber Daya Manusia dari CareerBuilder.com. membagi tips cara mengefektifkan bekerja dari rumah :
Tetapkan schedule
Awali hari seperti Anda mau berangkat ke tempat kerja. Ganti baju tidur, mandi dan lakukan aktivitas rutin.
Lokasi
Jangan bekerja di depan TV, dekat dengan radio atau satu ruangan dengan orang yang mungkin bisa mengganggu konsentrasi kamu. Pilih lokasi yang tenang dan teratur, yang membuat kamu bakal menyelesaikan pekerjaan kamu.
Buat Target
Buat daftar target spesifik untuk hari ini dan centangkan jika hal itu telah kamu selesaikan. Ini memastikan kamu ingin untuk menyelesaikan pekerjaan.
Jangan lupa jam makan siang
Ciptakan waktu yang tepat untuk telepon pribadi, keperluan pribadi, pekerjaan rumah, olahraga dan aktivitas-aktivitas non kantor lainnya. Kalau perlu tempatkan timer agar kamu mengetahui kapan saatnya kembali bekerja.
Istirahat
Sudah tentu jangan lupa meluangkan waktu untuk beristirahat.
Wednesday, November 18, 2009
Malu Aku….
Minggu ini sepertinya adalah momen saya kembali konsentrasi bekerja di kantor, setelah sebulan lebih jarang terlihat akibat urusan pribadi.
Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.
Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.
Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.
Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.
Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.
Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.
“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.
“Vidi, mbak..”
Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.
“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”
“Salah sambung mbak”
Wuaks!
Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.
Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.
Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.
Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.
Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.
Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.
Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.
Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.
Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.
“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.
“Vidi, mbak..”
Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.
“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”
“Salah sambung mbak”
Wuaks!
Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.
Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.
Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.
External HD
Bentuknya sepintas seperti agenda seukuran paspor. Benda setebal buku jari itu adalah External HD (singkatan dari External Hard Disk).
Sesuai dengan namanya, fungsinya sebagai media penyimpanan secara eksternal. Jadi, seperti memiliki Flash Disk namun dalam ukuran lebih maxi. Bisa sebagai penyimpan file-file tulisan, foto-foto, gambar-gambar, musik, games, presentasi kerja hingga kebutuhan spesifik misalnya program komputer bagi programmer.
Selama ini saya memindahkan foto-foto jepretan dan artikel yang saya kumpulkan selama ini sebagai penulis ke dalam cakram padat (CD). Lama-kelamaan CD-R/CD-RW pun menumpuk di sudut lemari. Sebuah CD memiliki kapasitas memori sebanyak 700 MB.
Saya yang berniat going paperless lalu berpikir untuk memiliki sebuah External HD. Varian kapasitas antara 120 GB, 160 GB, 250 GB, 500 GB, bahkan ada yang mencapai 1 TB.
Saya sudah mencatat beberapa ukuran kapasitas plus harga. Bahkan seorang teman menyatakan ada yang mencapai 1 TB dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih. Saya sempat bertanya pada seorang teman, malah dia tertawa dan berkata, “Emang perlu sebanyak itu No….”
Tapi dia tidak menjelaskan lebih detil sehingga saya juga malas bertanya lebih lanjut.
Kemudian pada satu kesempatan, mumpung mau pergi ke pameran komputer, saya bertanya pada teman yang lain.
“Kamu pasti familiar dgn external HD ya? Jadi bingung ..misalkan 160 GB setara apa? misalkan sama dgn memuat 1 partisi drive C/D di dalam komputer kah?” tanya saya.
Maklumlah, dalam benak pemikiran saya yang sederhana, External HD kayak kulkas saja. Semakin besar kapasitas, alias semakin besar ukuran GB, berarti semakin banyak yang mampu dimuat.
Lalu si Rommy temanku menjelaskan intinya tergantung apa yang mau saya simpan. Karena semakin banyak yang disimpan tentu membutuhkan kapasitas semakin besar.
“Sebagai contoh film membutuhkan sekitar 700-an MB,” kata dia.
1GB = 1000MB
1TB = 1000 GB = 1jutaMB
“Jadi kalau MP3 rata-rata besarnya 5MB, maka HDD 1TB kira-kira bisa menyimpan sebanyak 200ribu lagu,” pungkasnya.
Lalu saya pun terpana dan membatin, Itu mah sekalian gua membuka usaha unduh MP3 aja yakkk…. hahaha.
Dari survei di pameran Indocomtech berlangsung pada 4-8 November lalu, saya menemukan External HDD merek Western Digital berkapasitas 320 GB berharga kurang dari Rp 700 ribu.
Setelah first-thing-first menentukan prioritas, saya pun memutuskan tidak membeli dulu. Akhirnya saya justru pulang memboyong printer dan sebuah flash-disk mungil berkapasitas 4GB.
Sesuai dengan namanya, fungsinya sebagai media penyimpanan secara eksternal. Jadi, seperti memiliki Flash Disk namun dalam ukuran lebih maxi. Bisa sebagai penyimpan file-file tulisan, foto-foto, gambar-gambar, musik, games, presentasi kerja hingga kebutuhan spesifik misalnya program komputer bagi programmer.
Selama ini saya memindahkan foto-foto jepretan dan artikel yang saya kumpulkan selama ini sebagai penulis ke dalam cakram padat (CD). Lama-kelamaan CD-R/CD-RW pun menumpuk di sudut lemari. Sebuah CD memiliki kapasitas memori sebanyak 700 MB.
Saya yang berniat going paperless lalu berpikir untuk memiliki sebuah External HD. Varian kapasitas antara 120 GB, 160 GB, 250 GB, 500 GB, bahkan ada yang mencapai 1 TB.
Saya sudah mencatat beberapa ukuran kapasitas plus harga. Bahkan seorang teman menyatakan ada yang mencapai 1 TB dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih. Saya sempat bertanya pada seorang teman, malah dia tertawa dan berkata, “Emang perlu sebanyak itu No….”
Tapi dia tidak menjelaskan lebih detil sehingga saya juga malas bertanya lebih lanjut.
Kemudian pada satu kesempatan, mumpung mau pergi ke pameran komputer, saya bertanya pada teman yang lain.
“Kamu pasti familiar dgn external HD ya? Jadi bingung ..misalkan 160 GB setara apa? misalkan sama dgn memuat 1 partisi drive C/D di dalam komputer kah?” tanya saya.
Maklumlah, dalam benak pemikiran saya yang sederhana, External HD kayak kulkas saja. Semakin besar kapasitas, alias semakin besar ukuran GB, berarti semakin banyak yang mampu dimuat.
Lalu si Rommy temanku menjelaskan intinya tergantung apa yang mau saya simpan. Karena semakin banyak yang disimpan tentu membutuhkan kapasitas semakin besar.
“Sebagai contoh film membutuhkan sekitar 700-an MB,” kata dia.
1GB = 1000MB
1TB = 1000 GB = 1jutaMB
“Jadi kalau MP3 rata-rata besarnya 5MB, maka HDD 1TB kira-kira bisa menyimpan sebanyak 200ribu lagu,” pungkasnya.
Lalu saya pun terpana dan membatin, Itu mah sekalian gua membuka usaha unduh MP3 aja yakkk…. hahaha.
Dari survei di pameran Indocomtech berlangsung pada 4-8 November lalu, saya menemukan External HDD merek Western Digital berkapasitas 320 GB berharga kurang dari Rp 700 ribu.
Setelah first-thing-first menentukan prioritas, saya pun memutuskan tidak membeli dulu. Akhirnya saya justru pulang memboyong printer dan sebuah flash-disk mungil berkapasitas 4GB.
Tuesday, November 17, 2009
Menelusuri Kemana Perginya Gaji Bulanan
(Tulisan ini juga dimuat di QB Headlines)
Gaji bulanan memang andalan kehidupan sehari-hari seorang pegawai kantoran seperti saya. Saya hanya berpikir, mengapa semakin sulit menyisihkan tabungan, apakah ada yang salah dalam mengelola keuangan pribadi.
Memang sih biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tak berlari secepat harga-harga kebutuhan pokok, sekunder dan lain sebagainya.
Di koran New Straits Times kubaca tentang mengatur belanja bulanan. Saya jadi mau mencoba sebagai bagian financial check-up, berikut tipsnya :
Pertama-tama tulis rencana pengeluaran bulanan. Ini mencakup belanja rumah tangga dan biaya hiburan.
Simpan semua bon-bon bukti belanja paling lambat sebulan. Seminggu sekali tuliskan secara rinci kamu telah belanja apa saja berdasarkan bon pengeluaran itu.
Terserah mengategorikan jenis pengeluaran, asalkan Anda bisa mengambil gambaran akurat tentang kondisi finansial yang ada.
Misalkan saja dari hasil belanja di supermarket bisa kamu detilkan ke dalam jenis daging, susu, minuman, makanan kalengan, cemilan atau apapun yang memberikan gambaran kemana saja perginya uang tersebut.
Atau ketika berbelanja di department store untuk beli pakaian. Siapa tahu ternyata biaya minum kopi lebih mahal ketimbang sepotong baju di bulan ini.
Dari daftar tersebut, kita jadi tahu apa saja yang bisa dikurangi atau dibenahi.
Meskipun ada yang dapat dikurangi atau tidak, tetap masukkan ke dalam rencana belanja. Lalu masukkan sejumlah budget ke dalam amplop berbeda. Uang ini akan digunakan untuk membeli barang-barang yang anda rencanakan.
Catatan : Jangan tambahkan uang ke dalam amplop hingga akhir bulan. Ini membantu sikap disiplin dan cerdas berbelanja.
* Teman yang mendengar niatku berkata, “No, taruhan, berapa hari kamu rajin mencatat pengeluaran harian?”… hehehe
Gaji bulanan memang andalan kehidupan sehari-hari seorang pegawai kantoran seperti saya. Saya hanya berpikir, mengapa semakin sulit menyisihkan tabungan, apakah ada yang salah dalam mengelola keuangan pribadi.
Memang sih biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tak berlari secepat harga-harga kebutuhan pokok, sekunder dan lain sebagainya.
Di koran New Straits Times kubaca tentang mengatur belanja bulanan. Saya jadi mau mencoba sebagai bagian financial check-up, berikut tipsnya :
Pertama-tama tulis rencana pengeluaran bulanan. Ini mencakup belanja rumah tangga dan biaya hiburan.
Simpan semua bon-bon bukti belanja paling lambat sebulan. Seminggu sekali tuliskan secara rinci kamu telah belanja apa saja berdasarkan bon pengeluaran itu.
Terserah mengategorikan jenis pengeluaran, asalkan Anda bisa mengambil gambaran akurat tentang kondisi finansial yang ada.
Misalkan saja dari hasil belanja di supermarket bisa kamu detilkan ke dalam jenis daging, susu, minuman, makanan kalengan, cemilan atau apapun yang memberikan gambaran kemana saja perginya uang tersebut.
Atau ketika berbelanja di department store untuk beli pakaian. Siapa tahu ternyata biaya minum kopi lebih mahal ketimbang sepotong baju di bulan ini.
Dari daftar tersebut, kita jadi tahu apa saja yang bisa dikurangi atau dibenahi.
Meskipun ada yang dapat dikurangi atau tidak, tetap masukkan ke dalam rencana belanja. Lalu masukkan sejumlah budget ke dalam amplop berbeda. Uang ini akan digunakan untuk membeli barang-barang yang anda rencanakan.
Catatan : Jangan tambahkan uang ke dalam amplop hingga akhir bulan. Ini membantu sikap disiplin dan cerdas berbelanja.
* Teman yang mendengar niatku berkata, “No, taruhan, berapa hari kamu rajin mencatat pengeluaran harian?”… hehehe
Ilusi (Iklan) Layar Kaca
Cinta gampang diraih berkat hilang noda di wajah.
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.
Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???
Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?
Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.
Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.
*September Story*
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.
Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???
Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?
Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.
Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.
*September Story*
Wednesday, November 04, 2009
Tidak Menunda Pekerjaan
Jangan tunda hingga esok apa yang bisa Anda kerjakan hari ini.
Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.
Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?
Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.
Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.
Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.
Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.
Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.
Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.
Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.
Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.
Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.
Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.
Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.
Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.
Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?
Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.
Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.
Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.
Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.
Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.
Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.
Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.
Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.
Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.
Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.
Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.
Monday, November 02, 2009
Narablog
Saya baru tahu kalau istilah "Blogger" telah diterjemahkan menjadi "Narablog".
Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".
Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?
Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".
Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.
Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.
Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.
Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".
Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?
Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".
Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.
Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.
Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.
Mengambil Langkah dalam Satu Sesi Kehidupan
Kadang logika dan intuisi telah mengarahkan ke satu hal yang benar. Akan tetapi, hati (baca “perasaan”) sering bertolak belakang. Ingin bermain-main lebih lama.
Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.
Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).
Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.
Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).
Keberhasilan Tertunda
“Adilkah hidup ini?”
Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?
Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.
"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"
Hanya diam yang menjawab.
Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.
Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.
(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)

Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?
Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.
"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"
Hanya diam yang menjawab.
Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.
Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.
(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)
Tuesday, September 29, 2009
Kembali ke Titik Nol
Mata air itu telah menjelma menjadi sendang
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret
* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret
* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….
Monday, September 28, 2009
Anak Usaha RIM
Foto ini kiriman Rahadian Seno alias Mas Seno di http://seno.or.id atau http//jaringankomputer.net 
Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).
Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….
Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).
Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….
Friday, September 25, 2009
Selembar Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri Buatan Tangan
Kartu ini datang Jumat siang tadi ke alamat kantorku.Amplop coklat, tanpa nama pengirim, tanpa kop surat ataupun surat bukti kurir.
Amplop distapler sebanyak 4 sisi di sepanjang permukaan atas, ditambahkan 2 stapler lagi ke dekat permukaan bibir amplop, tempat mengelem amplop.
Pada permukaan aku bisa merasakan bentuk bergelombang di dalamnya.
Ih, kayak misterius ya?
Ternyata setelah kubuka, isi amplop (seperti perkiraanku) kartu ucapan Selamat Idul Fitri dari suatu korporat. Yang unik, kartu ini buatan tangan. Desain sampul berupa kubah mesjid yang dibuat dari kain flannel. Di tengahnya ada lingkaran bulat membentuk wujud bedug, ditempeli dua butir cengkeh sebagai bentuk pemukul bedug.
Lengkap di atas kubah, ada bintang yang biasa kita beli di toko prakarya atau alat-alat jahit.
Pada bagian belakang, ada tertera tulisan : Khusus diproduksi untuk Carrefour oleh Kelompok Belajar anak-anak Dhuafa/Pemulung “Sekolah Kami”.
Saya jadi berpikir, “Kapan terakhir kali mendapat kartu Lebaran buatan sendiri?”
Ingatan saya kembali ke masa kuliah, ketika bersama temanku Hanny dan Tantri, membuat kartu ucapan Lebaran bersama yang kami buat sendiri di saat libur kuliah. Sembari menanti bedug magrib kah saat itu? Sudah lupa…..
Tumpukan kartu ucapan yang datang menjadi kebahagiaan sendiri ketika merasa ada yang care kepada kita. Kerepotan mencari kartu ucapan di toko buku pun menjadi kehebohan bersama teman-teman SMP/SMA.
Sekarang Kartu Lebaran pun jadi benda jarang kuterima. kemajuan zaman melalui pesan pendek ponsel, status di Facebook, atau kiriman surat elektronik (e-mail) telah menggantikan fungsi selembar Kartu Lebaran.Saya termasuk salah satu di antara pemanfaat cara mengirimkan ucapan era serat optik.
Lebih simpel, langsung cepat sampai, menghemat waktu dan mengikis biaya pengiriman. Selain itu, di era pemanasan global dan isu lingkungan, kartu juga menambah kebutuhan kertas yang berasal dari pemotongan pohon di hutan.
Meski belum pernah pula saya menemukan data valid berapa biaya energi terkuras untuk menyalakan internet, memindahkan data kilobyte dari suatu server, atau transponder, ah don’t know what exactly cara kerjanya… yang penting kabar cepat sampai... ;)
Hari ini ada perasaan melankolis menerima selembar kartu buatan tangan di tahun 2009.
Jari-Jari Istirahat Seminggu
Internet dan gadget sering dianalogikan sebagai alat yang membuat kita merasa dunia dalam genggaman.
Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!
Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.
Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?
Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.
Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).
Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!
Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.
Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?
Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.
Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).
Friday, September 11, 2009
Bintang Jatuhku
Kamu dulu Bintang Jatuhku
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok
Monday, August 10, 2009
Kubuka Buku untuk Kubaca
Sebentar lagi bulan Ramadhan, saatnya menjalankan ibadah puasa. Aktivitas biasanya mengalami perubahan : mulai dari ritme tidur, acara makan digeser menjadi buka puasa bersama, hingga waktu makan yang hilang seharusnya bisa dipakai untuk menelaah kegiatan kerja.
Logikanya sih karena kita bekerja, maka kondisi puasa tak berasa. Tiba-tiba sudah waktu berbuka, meskipun kenyataannya badan biasanya sudah lemas dan tidak konsentrasi lagi di sore hari.
Puasa juga sering diisi dengan kegiatan memperdalam agama.
Saya pribadi, sejak tahun lalu menetapkan untuk mengisi waktu menunggu bedug magrib, dengan membaca buku-buku yang belum sempat kujamah.
Selain membaca, bisa pula bermain game PC. Eng ing eng....saya (sebenarnya) maniak game komputer ;))
Sering tangan ini gatal untuk meng-klik permainan yang ku-save di dalam laptop, sementara di waktu yang sama logika saya mengingatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan inti untuk menulis advertorial.
Ohya, favoritku seputar mini games genre hiding object atau time management yang membutuhkan ketangkasan tangan.
Sebagai contoh Natalie Brooks – Secrets of Treasure House kuselesaikan dalam 5 jam. Seri hiding object seperti Agatha Christie – Peril at the End House dan Cate West – The Vanishing Files membutuhkan waktu berhari-hari karena jeda menulis pekerjaan inti serta menyelesaikan urusan kantor.
Tapi memang buku adalah favoritku tersendiri. Apalagi di tempat saya bekerja kadang ada penjualan buku-buku dalam harga diskon. Buat penggila buku –ingat, ada beda antara penggemar baca dengan pengkoleksi buku- seperti saya sering ikutan pesan buku berharga miring. ”Kesempatan tak datang dua kali, urusan membaca nantilah,” kilahku.
Akhirnya repetisi terjadi. Buku menumpuk lalu saya berjanji tidak membeli buku sebelum menghabiskan yang sudah kubeli. Tahun lalu saya sudah merealisasikan janji dengan membaca buku dongeng “Disney’s Family Story Collection”. Ketika membeli buku hard cover warna ungu itu sebagai romantisme masa kecil ingin membaca kisah-kisah klasik dari Walt Disney.
Gara-gara hilang, saya kembali membeli Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sampai saat ini : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, terbungkus plastik.
Karya Pram yang lain, ”Panggil Aku Kartini Saja” sudah saya baca habis.
Tahun ini realisasi janji bisa dimulai dari membaca Un Lun Dun. Saya membeli buku ini awal Mei lalu dan baru kubuka di permulaan Agustus. Hingga hari ke-5 belum kelar pula kubaca.
Ohya, dalam membaca saya bukan pelahap buku novel dalam hitungan jam. Bisa berhari-hari bahkan ada pula yang kutinggalkan setengah kelar kemudian kulanjutkan membaca beberapa bulan berikutnya.
Jadi bukan karena buku setebal 534 halaman tak menarik, justru saya tercerahkan kembali dengan buku fiksi yang melambungkan daya khayal.
Mungkin ini sensasi yang dirasakan pembaca Harry Potter (saya sampai sekarang belum membaca Harpot....karena saya berprinsip kalau sudah ada filmnya, mending nonton deh daripada membaca bukunya yang tebal-tebal itu).
Salut buat China Miéville yang bisa mengisahkan topik masa kini, soal sampah dan polusi lingkungan, menjadi kisah UnLondon atau London dalam bentuk lain.
Nanti cek resensi bukunya di Ruang-Resensi.blogspot.com yaaa.....
Buku apa lagi yang sudah kupunya? Buku Fiqih Wanita dan The Great Women yang kubeli di pameran buku Islam beberapa bulan lalu tentu bacaan cocok di bulan puasa.
Balthasar’s Odyssey yang setiap kali ke toko buku selalu kutimang-timang akan tetapi baru bisa kubeli ketika harganya didiskon. Ternyata setelah memiliki buku karya Amin Maalouf belum juga kubaca.
Versi Indonesia dari Breakfast at Tiffany’s, Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo, versi Inggris karya Shusaku Endo, ......, ...... Hadoh! Saya perlu puasa beli buku dan menghabiskan baca buku-buku yang sudah terlanjur kubeli nih ;))
Logikanya sih karena kita bekerja, maka kondisi puasa tak berasa. Tiba-tiba sudah waktu berbuka, meskipun kenyataannya badan biasanya sudah lemas dan tidak konsentrasi lagi di sore hari.
Puasa juga sering diisi dengan kegiatan memperdalam agama.
Saya pribadi, sejak tahun lalu menetapkan untuk mengisi waktu menunggu bedug magrib, dengan membaca buku-buku yang belum sempat kujamah.
Selain membaca, bisa pula bermain game PC. Eng ing eng....saya (sebenarnya) maniak game komputer ;))
Sering tangan ini gatal untuk meng-klik permainan yang ku-save di dalam laptop, sementara di waktu yang sama logika saya mengingatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan inti untuk menulis advertorial.
Ohya, favoritku seputar mini games genre hiding object atau time management yang membutuhkan ketangkasan tangan.
Sebagai contoh Natalie Brooks – Secrets of Treasure House kuselesaikan dalam 5 jam. Seri hiding object seperti Agatha Christie – Peril at the End House dan Cate West – The Vanishing Files membutuhkan waktu berhari-hari karena jeda menulis pekerjaan inti serta menyelesaikan urusan kantor.
Tapi memang buku adalah favoritku tersendiri. Apalagi di tempat saya bekerja kadang ada penjualan buku-buku dalam harga diskon. Buat penggila buku –ingat, ada beda antara penggemar baca dengan pengkoleksi buku- seperti saya sering ikutan pesan buku berharga miring. ”Kesempatan tak datang dua kali, urusan membaca nantilah,” kilahku.
Akhirnya repetisi terjadi. Buku menumpuk lalu saya berjanji tidak membeli buku sebelum menghabiskan yang sudah kubeli. Tahun lalu saya sudah merealisasikan janji dengan membaca buku dongeng “Disney’s Family Story Collection”. Ketika membeli buku hard cover warna ungu itu sebagai romantisme masa kecil ingin membaca kisah-kisah klasik dari Walt Disney. Gara-gara hilang, saya kembali membeli Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sampai saat ini : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, terbungkus plastik.
Karya Pram yang lain, ”Panggil Aku Kartini Saja” sudah saya baca habis.
Tahun ini realisasi janji bisa dimulai dari membaca Un Lun Dun. Saya membeli buku ini awal Mei lalu dan baru kubuka di permulaan Agustus. Hingga hari ke-5 belum kelar pula kubaca.
Ohya, dalam membaca saya bukan pelahap buku novel dalam hitungan jam. Bisa berhari-hari bahkan ada pula yang kutinggalkan setengah kelar kemudian kulanjutkan membaca beberapa bulan berikutnya.
Jadi bukan karena buku setebal 534 halaman tak menarik, justru saya tercerahkan kembali dengan buku fiksi yang melambungkan daya khayal.
Mungkin ini sensasi yang dirasakan pembaca Harry Potter (saya sampai sekarang belum membaca Harpot....karena saya berprinsip kalau sudah ada filmnya, mending nonton deh daripada membaca bukunya yang tebal-tebal itu).
Salut buat China Miéville yang bisa mengisahkan topik masa kini, soal sampah dan polusi lingkungan, menjadi kisah UnLondon atau London dalam bentuk lain.
Nanti cek resensi bukunya di Ruang-Resensi.blogspot.com yaaa.....
Buku apa lagi yang sudah kupunya? Buku Fiqih Wanita dan The Great Women yang kubeli di pameran buku Islam beberapa bulan lalu tentu bacaan cocok di bulan puasa.
Balthasar’s Odyssey yang setiap kali ke toko buku selalu kutimang-timang akan tetapi baru bisa kubeli ketika harganya didiskon. Ternyata setelah memiliki buku karya Amin Maalouf belum juga kubaca.
Versi Indonesia dari Breakfast at Tiffany’s, Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo, versi Inggris karya Shusaku Endo, ......, ...... Hadoh! Saya perlu puasa beli buku dan menghabiskan baca buku-buku yang sudah terlanjur kubeli nih ;))
Friday, August 07, 2009
Hidup adalah Sirkus
: Renungan Diri mengapa hidup tak selalu mulus
Jika mengingat semua hal yang sudah kulalui dalam rentang umur hingga kini, saya membenarkan bahwa seseorang yang sering diuji, semakin kaya pengalaman.
Setumpuk pekerjaan sekarang ini? Aih, peace of cake.
Kamu sudah tertempa dalam hitungan jam, hari dan tahun. Sudah tahu bahwa tak perlu menghabiskan energi dalam emosi menggelegak. Marah dan menyalahkan divisi lain rasanya tak memecahkan masalah.
Lakukan langkah ini : berpikir, cari solusi dan selesaikan.
Hanya saja, ini bukan sekadar masalah kerja. Tapi tentag Saya dan Kehidupan Saya. Jadi berpikir mengapa hidupku bagai roller coaster. Dalam hati ini kadang terselip rasa sirik jika membandingkan diri dengan orang lain yang sepertinya smooth saja dalam kehidupannya.
Saya kadang merasa Hukum Pygmalion tak mulus bekerja untuk saya. Saya tidak berpikir aneh-aneh. Hanya ingin menjadi manusia yang mengisi hidup dengan manfaat, ingin sukses, bahagia, hmffff....seperti yang biasa kita lantunkan dalam ucapan selamat kepada bayi baru lahir atau rekan yang berulang tahun.
Tapi anomali lah jalan yang sering kulalui. Bukan terjadi dalam jalan mulus. Seolah ada saja liku dan hambatan. Walaupun, dalam beberapa hal, aku tak menampik kondisi sekarang adalah konsekuensi jalan yang kupilih.
Kadang juga berpikir jika Tuhan memang ada dan merupakan causa prima saya hadir di dunia, bolehkah aku mengatakan Ia suka bercanda dengan diriku?
Beberapa kali terselip tanya, ”Mengapa jadi begini? Mengapa Kau tak memuluskan langkahku?”

Seolah saya pemain trapeze yang disuruh kerja rodi untuk berputar, salto, tanpa ada istirahat, tak juga memperoleh standing applaus penonton.
Ia adalah manajer sirkus saya. Dan Ia belum puas melihat saya bersalto, jumpalitan, rolling once, twice, dan terjun ke trampolin untuk kembali berputar. Memberi senyum (meski di dalam hati sedang menangis), memuaskan penonton, berusaha bertahan menjadi diri sendiri dengan keinginan pribadi sekaligus berkompromi atas nama makhluk sosial.
Saya berpendapat Hidup adalah Panggung Sirkus (bukan Panggung Sandiwara..spt ada lirik lagu God Bless). Lebih complicated, lebih berwarna, jumpalitan.
Hmmm tarik nafas... tarik nafas... hembuskan...
Inhale...sugestikan kondisi positif
Exhale... buang pikiran negatif
(begitu kata instruktur yoga’ku berkata)
Hari ini bakal menjadi kemarin. Kemudian kamu pun berdiri di satu titik, dan tersadar bahwa kamu sudah mampu melaluinya.
Tapi kita tidak bisa mengembalikan benang waktu, bukan???
Lagu apa yang kupilih mengisi hari ini?
*Sesegukan..berusaha memulihkan semangat…. di sudut ruang sembari mendegar lagu*
Stronger – Christina Aguillera. Pas banget di bagian lirik :
……….
……….
'Cause if it wasn't for all that you tried to do
I wouldn't know just how capable I am to pull through
So I wanna say thank you
'Cause it makes me that much stronger
Makes me work a little bit harder
It makes me that much wiser
So thanks for making me a fighter
Made me learn a little bit faster
Made my skin a little bit thicker
Makes me that much smarter
So thanks for making me a fighter
………….
(Gambar dikutip dari : http://www.inklingmagazine.com)
Jika mengingat semua hal yang sudah kulalui dalam rentang umur hingga kini, saya membenarkan bahwa seseorang yang sering diuji, semakin kaya pengalaman.
Setumpuk pekerjaan sekarang ini? Aih, peace of cake.
Kamu sudah tertempa dalam hitungan jam, hari dan tahun. Sudah tahu bahwa tak perlu menghabiskan energi dalam emosi menggelegak. Marah dan menyalahkan divisi lain rasanya tak memecahkan masalah.
Lakukan langkah ini : berpikir, cari solusi dan selesaikan.
Hanya saja, ini bukan sekadar masalah kerja. Tapi tentag Saya dan Kehidupan Saya. Jadi berpikir mengapa hidupku bagai roller coaster. Dalam hati ini kadang terselip rasa sirik jika membandingkan diri dengan orang lain yang sepertinya smooth saja dalam kehidupannya.
Saya kadang merasa Hukum Pygmalion tak mulus bekerja untuk saya. Saya tidak berpikir aneh-aneh. Hanya ingin menjadi manusia yang mengisi hidup dengan manfaat, ingin sukses, bahagia, hmffff....seperti yang biasa kita lantunkan dalam ucapan selamat kepada bayi baru lahir atau rekan yang berulang tahun.
Tapi anomali lah jalan yang sering kulalui. Bukan terjadi dalam jalan mulus. Seolah ada saja liku dan hambatan. Walaupun, dalam beberapa hal, aku tak menampik kondisi sekarang adalah konsekuensi jalan yang kupilih.
Kadang juga berpikir jika Tuhan memang ada dan merupakan causa prima saya hadir di dunia, bolehkah aku mengatakan Ia suka bercanda dengan diriku?
Beberapa kali terselip tanya, ”Mengapa jadi begini? Mengapa Kau tak memuluskan langkahku?”
Seolah saya pemain trapeze yang disuruh kerja rodi untuk berputar, salto, tanpa ada istirahat, tak juga memperoleh standing applaus penonton.
Ia adalah manajer sirkus saya. Dan Ia belum puas melihat saya bersalto, jumpalitan, rolling once, twice, dan terjun ke trampolin untuk kembali berputar. Memberi senyum (meski di dalam hati sedang menangis), memuaskan penonton, berusaha bertahan menjadi diri sendiri dengan keinginan pribadi sekaligus berkompromi atas nama makhluk sosial.
Saya berpendapat Hidup adalah Panggung Sirkus (bukan Panggung Sandiwara..spt ada lirik lagu God Bless). Lebih complicated, lebih berwarna, jumpalitan.
Hmmm tarik nafas... tarik nafas... hembuskan...
Inhale...sugestikan kondisi positif
Exhale... buang pikiran negatif
(begitu kata instruktur yoga’ku berkata)
Hari ini bakal menjadi kemarin. Kemudian kamu pun berdiri di satu titik, dan tersadar bahwa kamu sudah mampu melaluinya.
Tapi kita tidak bisa mengembalikan benang waktu, bukan???
Lagu apa yang kupilih mengisi hari ini?
*Sesegukan..berusaha memulihkan semangat…. di sudut ruang sembari mendegar lagu*
Stronger – Christina Aguillera. Pas banget di bagian lirik :
……….
……….
'Cause if it wasn't for all that you tried to do
I wouldn't know just how capable I am to pull through
So I wanna say thank you
'Cause it makes me that much stronger
Makes me work a little bit harder
It makes me that much wiser
So thanks for making me a fighter
Made me learn a little bit faster
Made my skin a little bit thicker
Makes me that much smarter
So thanks for making me a fighter
………….
(Gambar dikutip dari : http://www.inklingmagazine.com)
Kutipan Hari Ini
Hidup adalah pilihan-pilihan yang kamu buat sendiri.
Kamu bertanggung jawab terhadap pilihan itu.
Pilihan-pilihan hidup hadir dengan konsekuensi.
Kamu bertanggung jawab terhadap pilihan itu.
Pilihan-pilihan hidup hadir dengan konsekuensi.
Tuesday, August 04, 2009
Gitar = Romantis (?)
Coba perhatikan kedua lagu ini : “Wonderful Tonight” Eric Clapton dan “You’re Body is Wonderland” John Mayer.
Pemicu awal gara-gara lihat status FB seorang teman, seorang cowok yang merasa aneh dengan ceweknya yang tidak puas dengan penampilan diri. Padahal, cewe itu sudah tampil oke.
Aku kasih komentar status dia mengingatkan aku akan lirik lagu ...”Wonderful Tonight”... is late in the evening/wondering what the clothes to wear/put some makeup/brushes her long long hair/and then she ask me/do I look wonderful tonight/and I said yes you look wonderful tonight/go to the party/everybody turn to see/the beauty lady walking around with me/and then she ask me/do you feel alright/i said yes, i feel wonderful tonight...
Lalu coba bandingkan dengan syair John Mayer : your skin is like porcelain/one pair of candy lips/bubblegum tounge/….. Secara keseluruhan liriknya "mengungkapkan kasih sayang cara dewasa". Maklum beda generasi, jadi Mayer lebih outspoken dalam bersyair hahaha...
Kenapa saya compare? Lirik milik Eric Clapton dan John Mayer sama-sama berbentuk cerita beruntun. Keduanya juga sangat jujur tentang pernyataan hati yang memuja pasangan. Dan keduanya jago main gitar....haha saya jadi ingat sahabat cewek di waktu SMA, si C teman saya ini suka sama cowok yang bisa main gitar. Sedangkan saya terpesona sama si B yang jago olahraga, lalu ketika putus saya pun beralih ke E yang juga jago olahraga.
Ternyata C sudah menyadari kalau jalan bersama pria yang jago nge-gitar, minimal acara kencan terisi si pria memetik gitar sembari melagukan syair cinta yang membuat kita melayang-layang. Dalam hal ini perempuan merasa disanjung.
Momen yang tentu lebih mesra ketimbang kencan harus mencari ring basket atau bola keranjang dulu :p
Eh, tapi bagaimana pendapat kalian tentang lirik lagu om Satria Bergitar, Rhoma Irama? Romantiskah.........….idih!!!
Pemicu awal gara-gara lihat status FB seorang teman, seorang cowok yang merasa aneh dengan ceweknya yang tidak puas dengan penampilan diri. Padahal, cewe itu sudah tampil oke.
Aku kasih komentar status dia mengingatkan aku akan lirik lagu ...”Wonderful Tonight”... is late in the evening/wondering what the clothes to wear/put some makeup/brushes her long long hair/and then she ask me/do I look wonderful tonight/and I said yes you look wonderful tonight/go to the party/everybody turn to see/the beauty lady walking around with me/and then she ask me/do you feel alright/i said yes, i feel wonderful tonight...
Lalu coba bandingkan dengan syair John Mayer : your skin is like porcelain/one pair of candy lips/bubblegum tounge/….. Secara keseluruhan liriknya "mengungkapkan kasih sayang cara dewasa". Maklum beda generasi, jadi Mayer lebih outspoken dalam bersyair hahaha...
Kenapa saya compare? Lirik milik Eric Clapton dan John Mayer sama-sama berbentuk cerita beruntun. Keduanya juga sangat jujur tentang pernyataan hati yang memuja pasangan. Dan keduanya jago main gitar....haha saya jadi ingat sahabat cewek di waktu SMA, si C teman saya ini suka sama cowok yang bisa main gitar. Sedangkan saya terpesona sama si B yang jago olahraga, lalu ketika putus saya pun beralih ke E yang juga jago olahraga.
Ternyata C sudah menyadari kalau jalan bersama pria yang jago nge-gitar, minimal acara kencan terisi si pria memetik gitar sembari melagukan syair cinta yang membuat kita melayang-layang. Dalam hal ini perempuan merasa disanjung.
Momen yang tentu lebih mesra ketimbang kencan harus mencari ring basket atau bola keranjang dulu :p
Eh, tapi bagaimana pendapat kalian tentang lirik lagu om Satria Bergitar, Rhoma Irama? Romantiskah.........….idih!!!
Saturday, July 25, 2009
Duka
Genggam tanganku
Kuajak kau ke danau hening
Menepi hingga berkubang diri
Basuh lara hati di tepian bening
Usap jelaga di matamu
Mari kutuntun kau ke rumahNya
Rapatkan tangan susun jemari
Ia tak lelah menelusuri kisahmu
Kuajak kau ke danau hening
Menepi hingga berkubang diri
Basuh lara hati di tepian bening
Usap jelaga di matamu
Mari kutuntun kau ke rumahNya
Rapatkan tangan susun jemari
Ia tak lelah menelusuri kisahmu
Friday, July 24, 2009
Puisiku-Oase Kompas
Puisi-puisiku dimuat di rubrik Oase (Puisiku) www.kompas.com.
Tepatnya di edisi :Rabu, 22 Juli 2009
Link : http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/22/0011264/puisi-puisi.dewi.retno.siregar
Hampir sebagian besar puisi, kecuali "Kamu", belum pernah kuposting sebelumnya di blog pribadiku.
***
Taman Milik Kita
Mari jadikan cerita kita taman bermain
Tanam pohon cemara di tanah seluas hasta
Kita gemburkan tanah kita
Sirami air mata dan semai derai tawa ketika kita berangkul pilu
Mari saksikan pohon cemara saksi cinta kita
Saat matamu bertumbuk dengan degup jantungku
Ketika aku tak mampu menipu merah pipiku
Saat kau sodorkan kembang gula merah jambu
Mari kita bakar kembang api dalam taman cinta
Lontarkan cahaya dalam langit berbintang binar
Jilati pelangi menyapu mendung pergi
Jakarta, 16 April 2009
***
Bayang
Hanya menggenggam wajahmu di otakku
Kubayangkan tanganku menelusuri lekukmu
Di suatu pagi yang lusuh tersapu mendung
Kupintal bayangmu di jelajah pikiran
Di mendung kelabu hatiku pun sendu
Jakarta, awal Juni 2009
***
Kamu
: Birthday Guy
Kamu dan Saya pernah berbagi nikotin dan kafein
Saling cerita di taman kota suatu hari
Kamu dan Saya pernah menikmati masa berderai hujan
Kamu adalah hujan mencium bumi
Menguarkan bau tanah mengajakku berdansa
Sampai musim semi tiba mengajak Saya dan Kamu bersarang
Kamu mengeja huruf, kata dan bait dalam senandung
Saya menyusun gambar membentuk bayang
Kamu marah ya?
Kamu ngambek ya?
Kamu menghapus saya dari pikiran dan hati?
Saya tak sadar, tak mengerti
Kamu lebih dari perhatian kamu
Saya tak sensitif membuka kunci hati
Jakarta, 28 Juni 2009
***
Ketika Senja Kuganti Pagi
Mengapa cinta berkait senja?
Aku bosan menulis kalimat ”Dan kau temani aku hingga senja”
Aku jenuh mencumbu melankoli romantis
Mungkin aku terlambat bangun pagi dan tergopoh memulai hari
Terlalu singkat untuk menikmati gradasi mentari
Dan senja identik matahari berlabuh
Menuju malam lalu kita ikut terlarut bersama kelam
Menikmati istirahat setelah lelah mencari jarum diantara jerami
Ya! Kadang kamu beruntung meraih cinta
Seringkali keringat membulir dalam menangkapnya
Bagaimana jika aku ganti cinta adalah pagi?
Menikmati detik kelam berganti fajar
Lamat-lamat menikmati azan subuh
Mengetuk ingatan senandung yang sama menemanimu pada awal membuka mata
Ketika kita terlahir buta dan tak berdaya
Cinta pula yang menuntun kita menatap dunia
Bagaimana jika kau kusambut bagai mentari pagi?
Pagi ini kecup embun dan menyesap kopi
Ada riuh mengalir ke pembuluh nadi
***
Kopi Tubruk
Kamu cintaku dalam kopi tubruk
Langsung nempel di hati
Nancap di lidah
Ingin kucecap sampai ke ampas
Jakarta, 4 Juli 2008
Tepatnya di edisi :Rabu, 22 Juli 2009
Link : http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/22/0011264/puisi-puisi.dewi.retno.siregar
Hampir sebagian besar puisi, kecuali "Kamu", belum pernah kuposting sebelumnya di blog pribadiku.
***
Taman Milik Kita
Mari jadikan cerita kita taman bermain
Tanam pohon cemara di tanah seluas hasta
Kita gemburkan tanah kita
Sirami air mata dan semai derai tawa ketika kita berangkul pilu
Mari saksikan pohon cemara saksi cinta kita
Saat matamu bertumbuk dengan degup jantungku
Ketika aku tak mampu menipu merah pipiku
Saat kau sodorkan kembang gula merah jambu
Mari kita bakar kembang api dalam taman cinta
Lontarkan cahaya dalam langit berbintang binar
Jilati pelangi menyapu mendung pergi
Jakarta, 16 April 2009
***
Bayang
Hanya menggenggam wajahmu di otakku
Kubayangkan tanganku menelusuri lekukmu
Di suatu pagi yang lusuh tersapu mendung
Kupintal bayangmu di jelajah pikiran
Di mendung kelabu hatiku pun sendu
Jakarta, awal Juni 2009
***
Kamu
: Birthday Guy
Kamu dan Saya pernah berbagi nikotin dan kafein
Saling cerita di taman kota suatu hari
Kamu dan Saya pernah menikmati masa berderai hujan
Kamu adalah hujan mencium bumi
Menguarkan bau tanah mengajakku berdansa
Sampai musim semi tiba mengajak Saya dan Kamu bersarang
Kamu mengeja huruf, kata dan bait dalam senandung
Saya menyusun gambar membentuk bayang
Kamu marah ya?
Kamu ngambek ya?
Kamu menghapus saya dari pikiran dan hati?
Saya tak sadar, tak mengerti
Kamu lebih dari perhatian kamu
Saya tak sensitif membuka kunci hati
Jakarta, 28 Juni 2009
***
Ketika Senja Kuganti Pagi
Mengapa cinta berkait senja?
Aku bosan menulis kalimat ”Dan kau temani aku hingga senja”
Aku jenuh mencumbu melankoli romantis
Mungkin aku terlambat bangun pagi dan tergopoh memulai hari
Terlalu singkat untuk menikmati gradasi mentari
Dan senja identik matahari berlabuh
Menuju malam lalu kita ikut terlarut bersama kelam
Menikmati istirahat setelah lelah mencari jarum diantara jerami
Ya! Kadang kamu beruntung meraih cinta
Seringkali keringat membulir dalam menangkapnya
Bagaimana jika aku ganti cinta adalah pagi?
Menikmati detik kelam berganti fajar
Lamat-lamat menikmati azan subuh
Mengetuk ingatan senandung yang sama menemanimu pada awal membuka mata
Ketika kita terlahir buta dan tak berdaya
Cinta pula yang menuntun kita menatap dunia
Bagaimana jika kau kusambut bagai mentari pagi?
Pagi ini kecup embun dan menyesap kopi
Ada riuh mengalir ke pembuluh nadi
***
Kopi Tubruk
Kamu cintaku dalam kopi tubruk
Langsung nempel di hati
Nancap di lidah
Ingin kucecap sampai ke ampas
Jakarta, 4 Juli 2008
Wednesday, July 15, 2009
Sindrom Pasca Cuti
Berdasarkan pengalaman pribadi, Penulis mengalami problem susah menulis pasca cuti. Otak tumpul. (Pengaruh tidak mikir selama seminggu)
Selama berlibur, kegiatan mengetukkan jemari di papan keyboard digantikan dengan tangan cekatan menggerakkan tetikus bermain game.
Selama seminggu kemarin bagai ular tanpa tulang. Ketemu sofa, karpet atau kasur bawaannya ingin rebahan dan tidur. Kini harus terbiasa kembali duduk tegak di meja kantor sembari memandangi layar monitor.
Selama cuti tetap menyalakan fasilitas YM untuk online. Chit-chat sana sini, ujung-ujungnya saya pasti mengatakan sedang cuti. Ada di rumah. Seperti ada kenikmatan tersendiri ketika teman chat lebih kurang balas mengatakan, ”Duh enaknya...” karena mereka ngantor...hahaha..... Duh maaf daku kejam ya, bersenang-senang di atas penderitaan orang lain yang bekerja.
Dan tiba-tiba datanglah ”Hari Pembalasan”. Ketika saya kembali masuk bekerja.
Ini pengalamanku selama 3 hari kembali bekerja :
Merasa asing dengan rute perlintasan kantor – tempat tinggal.
Praktis hanya mampu menyelesaikan 4 alinea tulisan dalam satu hari kerja. Berada di kantor yang lebih kurang 8 jam –belum dipotong acara makan siang di depan meja komputer dan cek e-mail yang meluap selama ditinggal- ini sangat...sangat.. tidak..produktif.
Ini mengingatkan saya pada posisi tukang jahit di Pasar Baru yang mengklaim dalam hitungan jam bisa menyelesaikan order, tapi nyatanya 3 jam berubah menjadi 3 hari!
(Gambar dikutip dari : www.incentivedirect.com)
Tuesday, July 14, 2009
Kamu
: Birthday Guy
Kamu dan Saya pernah berbagi nikotin dan kafein
Saling cerita di taman kota suatu hari
Kamu dan Saya pernah menikmati masa berderai hujan
Kamu adalah hujan mencium bumi
Menguarkan bau tanah mengajakku berdansa
Sampai musim semi tiba mengajak Saya dan Kamu bersarang
Kamu mengeja huruf, kata dan bait dalam senandung
Saya menyusun gambar membentuk bayang
Kamu marah ya?
Kamu ngambek ya?
Kamu menghapus saya dari pikiran dan hati?
Saya tak sadar, tak mengerti
Kamu lebih dari perhatian kamu
Maaf.... Saya tak sensitif membuka kunci hati
Jakarta, 28 Juni 2009
Kamu dan Saya pernah berbagi nikotin dan kafein
Saling cerita di taman kota suatu hari
Kamu dan Saya pernah menikmati masa berderai hujan
Kamu adalah hujan mencium bumi
Menguarkan bau tanah mengajakku berdansa
Sampai musim semi tiba mengajak Saya dan Kamu bersarang
Kamu mengeja huruf, kata dan bait dalam senandung
Saya menyusun gambar membentuk bayang
Kamu marah ya?
Kamu ngambek ya?
Kamu menghapus saya dari pikiran dan hati?
Saya tak sadar, tak mengerti
Kamu lebih dari perhatian kamu
Maaf.... Saya tak sensitif membuka kunci hati
Jakarta, 28 Juni 2009
Mampir ke RumahMu
Aku manusia tak sempurna
Mudah ucap janji pada sesama
Kadang lupa menyambung relasi linear
Komunikasi vertikal pun tak lancar
Saat bahagia alpa mengucap kabar
Saat sedih pun tak ingat berpaling
Dear God,
Aku sadar hubungan kita putus sambung
Hari ini aku mau mampir
Sudi terima diri di rumah suciMu
Jakarta, 14 Juli 2009
Mudah ucap janji pada sesama
Kadang lupa menyambung relasi linear
Komunikasi vertikal pun tak lancar
Saat bahagia alpa mengucap kabar
Saat sedih pun tak ingat berpaling
Dear God,
Aku sadar hubungan kita putus sambung
Hari ini aku mau mampir
Sudi terima diri di rumah suciMu
Jakarta, 14 Juli 2009
Bapak Reparasi Sepatu

Sepatu gladiator shoes saya lepas di bagian belakang, tepatnya di bagian penahan tali yang melingkari pergelangan kaki. Masih bisa dijahit, sementara secara keseluruhan tampilan sepatu masih layak pakai.
Mungkin sebagian orang sudah tahu kalau di Jakarta ada Stop 'n Go untuk mereparasi sepatu/tas atau Laba-Laba untuk membetulkan tas/kopor.
Tapi kedua nama tersebut untuk kelas atas, sehingga kurasa barang-barang tas atau sepatu yang kubeli terlalu mewah untuk dibetulkan ke sana.
Kebetulan tak jauh dari pasar Taman Puring, tepatnya di depan ruko terletak dekat belokan menuju Jalan Gandaria Tengah, berseberangan dengan RSIA Muhammadiyah Taman Puring, sering mangkal tukang reparasi sepatu.
Akhirnya di suatu Jumat pagi awal Juli lalu, saya bawa sepatu tersebut ke tukang tersebut. Kebetulan hari kerja di penghujung pekan memang tidak sepadat hari-hari sebelumnya, jadi saya bisa mampir ke sana sembari ke kantor.
Tanpa negosiasi lagi, kuterima permintaan dia untuk bayaran sebesar Rp 5 ribu untuk menjahit kain di belakang sepatu.
Sembari duduk di atas kotak kayu, saya pandangi tukang itu bekerja. Dia seorang bapak tua yang kutaksir berumur 50 tahun lebih. Kulitnya legam tanda terpanggang matahari. Lalu, yang menjadi perhatianku ketika lengan berotot, tanda sepertinya banyak menggunakan tangan untuk bekerja dengan tenaga fisik, sibuk menjahit. Sepuluh jemarinya tak henti gemetar seperti tremor.
Namun, jari-jari itu tak meleset dalam menusukkan jarum ke sepatu. Mulut saya jadi gatal bertanya, “Sudah berapa lama mangkal di sini, Pak?”
“Sudah lama. Sampai ga menghitung,” kata bapak itu nyengir sementara jari-jari (yang tak henti gemetar) terus menusuk kain lalu menarik benang. Mata tetap fokus ke sepatu yang sedang diperbaiki.
“Biasa mangkal sampai jam berapa Pak?”
“Biasa sampai jam 3 atau 4 sore,” katanya sembari diam sejenak. Lanjut berkata, ”Kalau jam 3-an sudah mulai beres-beres,” katanya.
Tak terlihat di lengannya ada arloji melilit. Mungkin dia menanyakan waktu pada bapak sekuriti di ruko yang tepat berdiri di belakang tempat dia mangkal. Bisa jadi ditandai setelah sholat Ashar segera berkemas bergegas pulang. Atau seperti layaknya orang-orang zaman dulu yang masih sempat menjadi masyarakat agraris, waktu ditunjukkan oleh tanda-tanda alam seperti jatuhnya bayangan tubuh ditimpa sinar matahari. Entahlah.
Saya diam, masih menyaksikan jari-jari yang gemetar itu menyelesaikan jahitannya.
Hanya saja jadi terlintas satu pikiran di dalam diri. Bapak setua ini, dengan kondisi fisik tak prima, masih tegar mencari uang. Kondisi fisik dengan jari-jari gemetar tak menyurutkan diri untuk berhenti dari pekerjaan yang intinya menggunakan ketrampilan jari tersebut.
Apakah Saya mampu bekerja setegar itu? Mau punya masa tua seperti apa?
Wednesday, July 01, 2009
Namaku Apa Ya?
Mau mengajukan permohonan cuti, langkah pertama membuka Portal korporat.
Perusahaan tempat saya bekerja punya 3 gedung berbeda, sehingga antar departemen bisa terpecah-pecah lokasi. Sistem administrasi kami sudah memanfaatkan sistem online. Termasuk meminimalkan kebutuhan kertas (paperless).
Lalu saya mengarahkan kursor meng-klik Log-in.. muncul dua kolom yang harus diisi, User ID dan Password.
Ups!
”Saya memakai nama apa ya? Password-ku apa ya?” kata saya dalam hati.
Hidup di zaman internet, kita pasti punya berbagai account e-mail di situs berbeda.
Lebih efisien dan gampang jika Nama dan Password sama untuk di semua alamat e-mail. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, cara ini tidak bisa mutlak dilakukan.
Kehadiran berbagai situs internet dengan berbagai macam dan tujuan, menghasilkan fungsi berbeda sekaligus password belum tentu sama.
Pertama, alamat e-mail kita di perusahaan, untuk komunikasi resmi antar rekan sekantor termasuk pula ketika kita berurusan dengan ’dunia luar’ dengan membawa institusi. Tentu saja, nama yang terlampir di e-mail adalah nama formal seperti tercantum di KTP/kartu nama. Tinggal modifikasi sedikit dari nama lengkap saya yang terdiri dari 4 kata.
Ketika bekerja di hari pertama, saya harus menetapkan nama dan password e-mail perusahaan. Rekan dari bagian Teknologi perusahaan. Mereka yang nanti melakukan verifikasi. Jadi, tak mungkin saya memasukkan password yang sama dengan alamat e-mail pribadi kepada dia. Ini sama halnya dengan rela orang lain memiliki kunci untuk membuka peti dimana surat cinta kita tersimpan.
Alamat kedua, adalah alamat e-mail pribadi, nah ini account kita miliki di website Yahoo, Gmail, MSN, dan sebagainya. Ini sih bisa mengeksplorasi kreativitas dan asalkan gampang diingat.
Alamat e-mail pribadi ini biasanya digunakan untuk membuka akses kita menuju website jejaring sosial, seperti Facebook, Friendster, Multiply, dan sebagainya. Termasuk pula situs blogspot, milis/komunitas satu hobi, atau website kebutuhan khusus. Seperti penghitung trafik pengunjung blog, imageshack, dan portal koran e-paper.
Nah, kembali ke urusan isi form cuti. Langkah pertama saya coba mengisi dengan User ID dan Password yang sama dengan alamat e-mail kantor. Tidak berhasil.
Coba sekali lagi dengan modifikasi nama di internal outlook dan password e-mail saya masuk kantor. Lho? Kok nama Retno yang berbeda.... syukur baginya karena password ini cuma membuka jalan untuk rekap data cuti. Coba kalau urusan gaji, bonus, dsb?
Ohya, kami punya portal pembelian barang. Milik internal ditujukan bagi karyawan jika ingin membeli barang secara potong gaji. Saya coba masukkan, ternyata salah pula.
Huh! Yah, cara tercepat adalah me-reset. Mengganti nama di User ID sekaligus password. Saya telepon bagian Teknologi, dan ternyata karena urusannya untuk ’cuti’, saya harus mengontak HRD atau di tempat kami disebut Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).
Mbak dari bagian PSDM sempat bertanya, ”Pernah diganti nama dan passwordnya?”
Saya bingung. Kayaknya pernah, sekitar Maret lalu ketika saya mengisi form cuti. Dan otak ini blank... Haha.. salah satu kebiasaan jelek ketika membuat nama dan password semangat sekali membuatnya unik dan (terkesan) rahasia. Padahal, pasti mengisi nama dan password yang itu-itu saja.
Asal tahu, memang kebijakan mengisi formulir pengajuan cuti secara online baru berlaku Oktober tahun lalu, atau tepat sesudah saya menghabiskan cuti tahunan.
Dibantu bagian PSDM, saya berhasil membuat nama ID baru sekaligus password yang standar-standar saja. Akhirnya selesai pula pengajuan aplikasi cuti saya.
Lalu mata tertumbuk pada link Rekrutmen, iseng kuarahkan kursor ke Internal Rekrutmen... tekan.. dan .. kembali lagi terpampang Log-in permintaan User ID dan Password muncul.... Huh! Harus mengajukan lagi pertanyaan ke bagian PSDM, ini berurusan sama departemen mana. Lain kali saja. Mungkin ini upaya meminimalkan kutu loncat antar departemen ya? Walaupun tidak resign, tapi perpindahan satu orang tenaga kerja ke departemen lain, tentu akan meninggalkan posisi kosong di departemen lama.
Pengalaman yang saya peroleh, ada dua hal. Pertama, gunakan satu nama dan password sama untuk keperluan internal. Atau kedua, catat semua User ID dan password di satu kertas khusus. Mungkin kamu punya password andalan, tapi kadang meleset pula. Jangan anggap satu alamat e-mail dan password kantor seperti memiliki kunci ke semua pintu di satu gedung. Apalagi jika untuk urusan kantor saja kamu memiliki link yang beragam.
Perusahaan tempat saya bekerja punya 3 gedung berbeda, sehingga antar departemen bisa terpecah-pecah lokasi. Sistem administrasi kami sudah memanfaatkan sistem online. Termasuk meminimalkan kebutuhan kertas (paperless).
Lalu saya mengarahkan kursor meng-klik Log-in.. muncul dua kolom yang harus diisi, User ID dan Password.
Ups!
”Saya memakai nama apa ya? Password-ku apa ya?” kata saya dalam hati.
Hidup di zaman internet, kita pasti punya berbagai account e-mail di situs berbeda.
Lebih efisien dan gampang jika Nama dan Password sama untuk di semua alamat e-mail. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, cara ini tidak bisa mutlak dilakukan.
Kehadiran berbagai situs internet dengan berbagai macam dan tujuan, menghasilkan fungsi berbeda sekaligus password belum tentu sama.
Pertama, alamat e-mail kita di perusahaan, untuk komunikasi resmi antar rekan sekantor termasuk pula ketika kita berurusan dengan ’dunia luar’ dengan membawa institusi. Tentu saja, nama yang terlampir di e-mail adalah nama formal seperti tercantum di KTP/kartu nama. Tinggal modifikasi sedikit dari nama lengkap saya yang terdiri dari 4 kata.
Ketika bekerja di hari pertama, saya harus menetapkan nama dan password e-mail perusahaan. Rekan dari bagian Teknologi perusahaan. Mereka yang nanti melakukan verifikasi. Jadi, tak mungkin saya memasukkan password yang sama dengan alamat e-mail pribadi kepada dia. Ini sama halnya dengan rela orang lain memiliki kunci untuk membuka peti dimana surat cinta kita tersimpan.
Alamat kedua, adalah alamat e-mail pribadi, nah ini account kita miliki di website Yahoo, Gmail, MSN, dan sebagainya. Ini sih bisa mengeksplorasi kreativitas dan asalkan gampang diingat.
Alamat e-mail pribadi ini biasanya digunakan untuk membuka akses kita menuju website jejaring sosial, seperti Facebook, Friendster, Multiply, dan sebagainya. Termasuk pula situs blogspot, milis/komunitas satu hobi, atau website kebutuhan khusus. Seperti penghitung trafik pengunjung blog, imageshack, dan portal koran e-paper.
Nah, kembali ke urusan isi form cuti. Langkah pertama saya coba mengisi dengan User ID dan Password yang sama dengan alamat e-mail kantor. Tidak berhasil.
Coba sekali lagi dengan modifikasi nama di internal outlook dan password e-mail saya masuk kantor. Lho? Kok nama Retno yang berbeda.... syukur baginya karena password ini cuma membuka jalan untuk rekap data cuti. Coba kalau urusan gaji, bonus, dsb?
Ohya, kami punya portal pembelian barang. Milik internal ditujukan bagi karyawan jika ingin membeli barang secara potong gaji. Saya coba masukkan, ternyata salah pula.
Huh! Yah, cara tercepat adalah me-reset. Mengganti nama di User ID sekaligus password. Saya telepon bagian Teknologi, dan ternyata karena urusannya untuk ’cuti’, saya harus mengontak HRD atau di tempat kami disebut Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).
Mbak dari bagian PSDM sempat bertanya, ”Pernah diganti nama dan passwordnya?”
Saya bingung. Kayaknya pernah, sekitar Maret lalu ketika saya mengisi form cuti. Dan otak ini blank... Haha.. salah satu kebiasaan jelek ketika membuat nama dan password semangat sekali membuatnya unik dan (terkesan) rahasia. Padahal, pasti mengisi nama dan password yang itu-itu saja.
Asal tahu, memang kebijakan mengisi formulir pengajuan cuti secara online baru berlaku Oktober tahun lalu, atau tepat sesudah saya menghabiskan cuti tahunan.
Dibantu bagian PSDM, saya berhasil membuat nama ID baru sekaligus password yang standar-standar saja. Akhirnya selesai pula pengajuan aplikasi cuti saya.
Lalu mata tertumbuk pada link Rekrutmen, iseng kuarahkan kursor ke Internal Rekrutmen... tekan.. dan .. kembali lagi terpampang Log-in permintaan User ID dan Password muncul.... Huh! Harus mengajukan lagi pertanyaan ke bagian PSDM, ini berurusan sama departemen mana. Lain kali saja. Mungkin ini upaya meminimalkan kutu loncat antar departemen ya? Walaupun tidak resign, tapi perpindahan satu orang tenaga kerja ke departemen lain, tentu akan meninggalkan posisi kosong di departemen lama.
Pengalaman yang saya peroleh, ada dua hal. Pertama, gunakan satu nama dan password sama untuk keperluan internal. Atau kedua, catat semua User ID dan password di satu kertas khusus. Mungkin kamu punya password andalan, tapi kadang meleset pula. Jangan anggap satu alamat e-mail dan password kantor seperti memiliki kunci ke semua pintu di satu gedung. Apalagi jika untuk urusan kantor saja kamu memiliki link yang beragam.
Monday, June 29, 2009
Akhir Pekan Menyenangkan
Saya mengalami Fabulous Weekend pada Sabtu kemarin.
Dimulai dari nonton premiere film Ice Age 3 (silahkan baca resensi filmnya di Ruang-Resensi yaa….). Sudah bangun pagi, mandi, dandan, melihat jarum jam masih terlalu dini untuk berangkat, saya kembali lenyeh-lenyeh di tempat tidur. Waks… bablas! Jarum jam menunjukkan pukul 9.45 padahal penayangan film pada pukul 10.00 WIB.
Catatan : saya tidak suka hadir tergesa-gesa dalam suatu pertemuan. Jadi, kondisi ’mepet waktu’ bagi saya agak bikin jantung gimana gitchu...
Untung jalan raya Jakarta tidak macet di pagi hari akhir pekan. Jam 10.15 saya sampai di bioskop, untung masih dapat duduk di Baris A. Baris A paling belakang, deretan bangku paling tinggi, dan paling aman bagi orang yang tingginya standar seperti saya.
Ohya, penayangan premiere atau pemutaran perdana dari suatu film, khusus untuk wartawan untuk penulisan resensi film, pengamat, atau undangan lainnya. Dalam jenis pemutaran ini, bangku tempat duduk kita bebas pilih sendiri. Jadi ada faktor siapa cepat dia dapat yang paling nyaman.
Tapi ternyata deret A masih ada yang kosong, bahkan kebetulan bertemu teman lama dari Kompas dan kami duduk bersebelahan. Lumayan... seusai film diputar, saya jadi punya teman bertukar pendapat tentang film tersebut.
Seusai menonton film, saya menyaksikan acara pembukaan program liburan sekolah di Mal Ciputra Jakarta. Ada demo masak.. tidak tertarik dengan resep makanannya. Kecuali promosi alat masaknya yang katanya bisa memudahkan membuat opera cake dan memasak ketupat hanya sekitar 15 menit. Wauw! Cocok untuk Lebaran dan menghemat gas. Tapi saya tidak tahu rasa yang dihasilkan.
Yang dinanti oleh saya dan tentu sebagian besar pengunjung, kehadiran penyanyi Vidi Aldiano. Waduh, saya kembali merasa teenager, terpana melihat manusia ganteng sekaligus bersuara bening seperti titel lagunya Nuansa Bening. Teman liputan saya ketawa menyaksikan saya termehek-mehek ikut bernyanyi, maju ke depan panggung memotret wajah Vidi via BB, upload foto di FB dan mengupdate status.
Hihi, Mas, untuk urusan konser musik rasanya saya selalu menjadi remaja belasan tahun :-p
Saya ikut bergoyang ketika Westlife manggung di Jakarta. Walaupun kecewa melihat 4 penyanyi asal Irlandia tak beda dengan bule-bule jalan Jaksa yang berperut buncit kebanyakan minum bir, menari di atas panggung sembari bernyanyi Up Town Girl.
Pernah ikutan termehek-mehek menyaksikan vokalis Andra & the Backbone berlagu ”.... kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu ........sempurna”.
Ohya! Perjalanan saya belum berhenti di Mal Ciputra Grogol. Sekitar jam 15.00 saya menjejakkan kaki di Istora Bung Karno, ke Pesta Buku Jakarta 2009. di sana bertemu teman-teman, akhirnya lima wanita pun melanjutkan acara makan malam di PIM. Sightseeing Zara, Sogo, dan Metro yang menempelkan pengumuman ”Sale”. Lanjut ngopi dan ngemil di J.Co sebelum pulang ke tempat tinggal masing-masing.
What a easy busy and happy day.
Dimulai dari nonton premiere film Ice Age 3 (silahkan baca resensi filmnya di Ruang-Resensi yaa….). Sudah bangun pagi, mandi, dandan, melihat jarum jam masih terlalu dini untuk berangkat, saya kembali lenyeh-lenyeh di tempat tidur. Waks… bablas! Jarum jam menunjukkan pukul 9.45 padahal penayangan film pada pukul 10.00 WIB.
Catatan : saya tidak suka hadir tergesa-gesa dalam suatu pertemuan. Jadi, kondisi ’mepet waktu’ bagi saya agak bikin jantung gimana gitchu...
Untung jalan raya Jakarta tidak macet di pagi hari akhir pekan. Jam 10.15 saya sampai di bioskop, untung masih dapat duduk di Baris A. Baris A paling belakang, deretan bangku paling tinggi, dan paling aman bagi orang yang tingginya standar seperti saya.
Ohya, penayangan premiere atau pemutaran perdana dari suatu film, khusus untuk wartawan untuk penulisan resensi film, pengamat, atau undangan lainnya. Dalam jenis pemutaran ini, bangku tempat duduk kita bebas pilih sendiri. Jadi ada faktor siapa cepat dia dapat yang paling nyaman.
Tapi ternyata deret A masih ada yang kosong, bahkan kebetulan bertemu teman lama dari Kompas dan kami duduk bersebelahan. Lumayan... seusai film diputar, saya jadi punya teman bertukar pendapat tentang film tersebut.
Seusai menonton film, saya menyaksikan acara pembukaan program liburan sekolah di Mal Ciputra Jakarta. Ada demo masak.. tidak tertarik dengan resep makanannya. Kecuali promosi alat masaknya yang katanya bisa memudahkan membuat opera cake dan memasak ketupat hanya sekitar 15 menit. Wauw! Cocok untuk Lebaran dan menghemat gas. Tapi saya tidak tahu rasa yang dihasilkan.
Yang dinanti oleh saya dan tentu sebagian besar pengunjung, kehadiran penyanyi Vidi Aldiano. Waduh, saya kembali merasa teenager, terpana melihat manusia ganteng sekaligus bersuara bening seperti titel lagunya Nuansa Bening. Teman liputan saya ketawa menyaksikan saya termehek-mehek ikut bernyanyi, maju ke depan panggung memotret wajah Vidi via BB, upload foto di FB dan mengupdate status.
Hihi, Mas, untuk urusan konser musik rasanya saya selalu menjadi remaja belasan tahun :-p
Saya ikut bergoyang ketika Westlife manggung di Jakarta. Walaupun kecewa melihat 4 penyanyi asal Irlandia tak beda dengan bule-bule jalan Jaksa yang berperut buncit kebanyakan minum bir, menari di atas panggung sembari bernyanyi Up Town Girl.
Pernah ikutan termehek-mehek menyaksikan vokalis Andra & the Backbone berlagu ”.... kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu ........sempurna”.
Ohya! Perjalanan saya belum berhenti di Mal Ciputra Grogol. Sekitar jam 15.00 saya menjejakkan kaki di Istora Bung Karno, ke Pesta Buku Jakarta 2009. di sana bertemu teman-teman, akhirnya lima wanita pun melanjutkan acara makan malam di PIM. Sightseeing Zara, Sogo, dan Metro yang menempelkan pengumuman ”Sale”. Lanjut ngopi dan ngemil di J.Co sebelum pulang ke tempat tinggal masing-masing.
What a easy busy and happy day.
Friday, June 26, 2009
Gundah :(
Sekali lagi menangis di musim semi
Rasa ini hanya periode melingkar
Cerah, hujan, air mata mengalir, hati terpanah
Saat kelopak melayu dan berguguran di hari kelabu
Jauh melangkah kembali berputar dalam satu siklus
(Beri satu kesempatan lagi, atau bungkus saja hati ini ke laut terdalam?)
Rasa ini hanya periode melingkar
Cerah, hujan, air mata mengalir, hati terpanah
Saat kelopak melayu dan berguguran di hari kelabu
Jauh melangkah kembali berputar dalam satu siklus
(Beri satu kesempatan lagi, atau bungkus saja hati ini ke laut terdalam?)
Wednesday, June 24, 2009
Membuat Katalog untuk Perpustakaan Pribadi
Sebagai upaya merintis punya Perpustakaan Pribadi, ataupun memelihara koleksi buku dsb dengan baik, tips membuat katalog semoga berguna :
Perpustakaan berisi kumpulan buku atau materi perpustakaan lainnya, seperti koleksi CD-Rom, kaset dan lain-lain.
Pertama-tama tentukan tujuan membangun perpustakaan. Apakah untuk pribadi sehingga sesuai minat pribadi, atau untuk umum (komunitas tertentu).
Perlu pertimbangan lokasi perpustakaan, anggaran, peraturan, dan pencegahan kehilangan.
Untuk memudahkan pencarian buku : buat katalog, buku induk, dan menempatkan buku berdasarkan Klasifikasi. Setiap buku yang dimiliki harus dicatat dalam Buku Induk yang memuat identitas buku (Judul, Pengarang, Penerbitan, Tanggal Pembelian, dan Keterangan).
Sebaiknya Buku Induk dibagi dalam Tahun untuk mengetahui bertambah atau berkurangnya koleksi buku per tahun.
Setiap buku memiliki Kartu Katalog yang terbuat dari kertas karton ukuran 12,5 x 7,5 centimeter yang memuat tanggal, Pengarang, Judul, Nama-Tahun-Kota Penerbit, Tahun Terbit, dan Kolom Keterangan yang bisa berisi ringkasan isi buku atau keterangan fisik buku.
Jika buku boleh dipinjamkan ke orang lain maka dibuat Kartu Peminjaman untuk mengetahui keberadaan buku.
Klasifikasikan buku berdasarkan isi. Misal warna merah (untuk karya umum), hijau (untuk hobi), kuning (untuk teknologi) dsb. Dengan catatan : warna dipakai untuk buku yang jumlahnya masih di bawah 300 buah.
Jika jumlah buku melebihi 300 buah (buku), gunakan pembagian Klasifikasi Dewey yang sudah umum dipakai.
Klasifikasi Dewey membagi buku dengan menggunakan nomor. Jika jumlah buku mencapai 1.000 maka gunakan nomor dengan 3 digit.
Perpustakaan berisi kumpulan buku atau materi perpustakaan lainnya, seperti koleksi CD-Rom, kaset dan lain-lain.
Pertama-tama tentukan tujuan membangun perpustakaan. Apakah untuk pribadi sehingga sesuai minat pribadi, atau untuk umum (komunitas tertentu).
Perlu pertimbangan lokasi perpustakaan, anggaran, peraturan, dan pencegahan kehilangan.
Untuk memudahkan pencarian buku : buat katalog, buku induk, dan menempatkan buku berdasarkan Klasifikasi. Setiap buku yang dimiliki harus dicatat dalam Buku Induk yang memuat identitas buku (Judul, Pengarang, Penerbitan, Tanggal Pembelian, dan Keterangan).
Sebaiknya Buku Induk dibagi dalam Tahun untuk mengetahui bertambah atau berkurangnya koleksi buku per tahun.
Setiap buku memiliki Kartu Katalog yang terbuat dari kertas karton ukuran 12,5 x 7,5 centimeter yang memuat tanggal, Pengarang, Judul, Nama-Tahun-Kota Penerbit, Tahun Terbit, dan Kolom Keterangan yang bisa berisi ringkasan isi buku atau keterangan fisik buku.
Jika buku boleh dipinjamkan ke orang lain maka dibuat Kartu Peminjaman untuk mengetahui keberadaan buku.
Klasifikasikan buku berdasarkan isi. Misal warna merah (untuk karya umum), hijau (untuk hobi), kuning (untuk teknologi) dsb. Dengan catatan : warna dipakai untuk buku yang jumlahnya masih di bawah 300 buah.
Jika jumlah buku melebihi 300 buah (buku), gunakan pembagian Klasifikasi Dewey yang sudah umum dipakai.
Klasifikasi Dewey membagi buku dengan menggunakan nomor. Jika jumlah buku mencapai 1.000 maka gunakan nomor dengan 3 digit.
Keponakan Cerdas Tante Baik Hati
Sabtu lalu, beberapa keponakan melapor pada saya. Laporannya berupa prestasi kenaikan kelas dan hasil rapor. Maklum, Sabtu (20/6) lalu para pelajar memperoleh rapor hasil belajar selama satu tahun, termasuk pengumuman kelulusan SD.
Pertama, Rani via telpon mengabarkan dirinya berhasil naik dari kelas 2 ke kelas 3 SMP. Yang menakjubkan adalah dirinya juara pertama dari total 3 kelas. Ck..ck.. memang keponakan saya ini lebih cerdas ketimbang diri saya di usia sebaya. Finalis olimpiade Matematika se-Bogor, bisa lari keliling stadion sepakbola 3 putaran lebih, cepat menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, serta punya bakat dasar memperbaiki peralatan listrik (termasuk sudah ujicoba membetulkan alat perekam micro-tape milik saya).
Ohya, tapi dalam pembagian rapor semester sebelumnya, diingatkan guru untuk berlatih dalam pelajaran Mengarang sekaligus bahasa Indonesia (haha... dalam hal ini perlu berilmu dari tantenya yang bekerja sebagai peracik kata dalam industri media). Tapi sepertinya dia sudah memperbaiki nilai-nilai pelajaran yang kurang.
Lalu, menyusul Libby mengabari via pesan pendek, kalau pada hari itu dia lulus dan memperoleh medali Silver.. Aih, Libby ini smart, kritis dan punya sejumlah pertanyaan yang seandainya saya menjadi mamanya pasti bingung menjawabnya....haha.. Kini si Blossom Junior siap memasuki dunia SMP. Congrat Libby!
Sore hari, Ammar yang berusia 7 tahun mengabarkan naik ke kelas 2 SD. Memperoleh hadiah tabungan dari sebuah bank syariah.
Hoa.. senangnya punya keponakan-keponakan cerdas. Ini enaknya jadi Single Bahagia, tak perlu menanti 9 bulan 10 hari (plus strech mark, varises, mual-mual...hehe..maaf ya buat para ibu. Tidak bermaksud memojokkan cuma ini adalah contoh tanda-tanda kehamilan yang sampai saat ini belum saya alami) untuk memiliki unyil-unyil dari saudara maupun sahabat.
Tentu saja saya jadi berpikir hadiah apa yang menarik untuk mereka... Ohya, jangan berpendapat karena kita punya uang tentu bisa membeli perhatian anak-anak.
Anak kecil tentu tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tak hangat pada mereka. Jadi, saya bersyukur telah menjadi Tante Baik Hati.
Pertama, Rani via telpon mengabarkan dirinya berhasil naik dari kelas 2 ke kelas 3 SMP. Yang menakjubkan adalah dirinya juara pertama dari total 3 kelas. Ck..ck.. memang keponakan saya ini lebih cerdas ketimbang diri saya di usia sebaya. Finalis olimpiade Matematika se-Bogor, bisa lari keliling stadion sepakbola 3 putaran lebih, cepat menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, serta punya bakat dasar memperbaiki peralatan listrik (termasuk sudah ujicoba membetulkan alat perekam micro-tape milik saya).
Ohya, tapi dalam pembagian rapor semester sebelumnya, diingatkan guru untuk berlatih dalam pelajaran Mengarang sekaligus bahasa Indonesia (haha... dalam hal ini perlu berilmu dari tantenya yang bekerja sebagai peracik kata dalam industri media). Tapi sepertinya dia sudah memperbaiki nilai-nilai pelajaran yang kurang.
Lalu, menyusul Libby mengabari via pesan pendek, kalau pada hari itu dia lulus dan memperoleh medali Silver.. Aih, Libby ini smart, kritis dan punya sejumlah pertanyaan yang seandainya saya menjadi mamanya pasti bingung menjawabnya....haha.. Kini si Blossom Junior siap memasuki dunia SMP. Congrat Libby!
Sore hari, Ammar yang berusia 7 tahun mengabarkan naik ke kelas 2 SD. Memperoleh hadiah tabungan dari sebuah bank syariah.
Hoa.. senangnya punya keponakan-keponakan cerdas. Ini enaknya jadi Single Bahagia, tak perlu menanti 9 bulan 10 hari (plus strech mark, varises, mual-mual...hehe..maaf ya buat para ibu. Tidak bermaksud memojokkan cuma ini adalah contoh tanda-tanda kehamilan yang sampai saat ini belum saya alami) untuk memiliki unyil-unyil dari saudara maupun sahabat.
Tentu saja saya jadi berpikir hadiah apa yang menarik untuk mereka... Ohya, jangan berpendapat karena kita punya uang tentu bisa membeli perhatian anak-anak.
Anak kecil tentu tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tak hangat pada mereka. Jadi, saya bersyukur telah menjadi Tante Baik Hati.
Tuesday, June 23, 2009
Ingat Masa Lalu

Kadang-kadang terasa menyenangkan saat menepi dan mengenang masa lalu. Salah satu cara, mendengarkan kembali lagi lagu lama. Hanya diam, sambil otak mengingat suatu kejadian atau seseorang di waktu silam.
Seperti saat ini, saya mendengarkan lagu lama dari Def Leppard berjudul ”When Love and Hate Collide”. Lagunya bercorak slow rock asyik, mengingatkan saya pada seseorang.
Seseorang itu masa lalu saya. Seseorang yang penggemar dan sering memutar lagu-lagu grup band asal AS ini. Seseorang dari periode saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jago olahraga (I don’t know why I often have crush with Basketball player or Volleyball player, someone who love sport..), cakep (pastinya menurut ukuran dan hati saya), dan cara mata dia menatap diri ini (ahya, kalau saya jadi seleb dan wartawan bertanya apa yang menjadi daya tarik fisik saat saya pertama kali bertemu pria, maka saya bisa katakan “mata… pesona mata”.
Saya cemburu ketika dia akrab dengan seorang wanita yang konon ditaksir. Tapi saya juga punya yang lain. Lalu ketika saya akhirnya bersama dia, saya merasa menjadi makhluk paling bahagia. Bersama pria hangat dan good loooking.
Kami lalu terpisah jarak. Antar kota, antar provinsi.... hmm sound like the bus.
Salahkan dulu sarana komunikasi hanya telepon dan surat. Masih ingat dapat kartu pos dari dirinya yang membuat saya berulang kali membacanya. Salahkan saat itu tidak ada sarana e-mail, YM atau ponsel. Tapi walau prasarana telekomunikasi canggih, urusan relasi kan tergantung manusianya.
Salahkan diri yang suka gampang terpesona, lalu meredup, tak mampu menjaga hati. Gaya Libra sejati (ini kata temanku...). Pembicaraan di telepon yang..bikin..dia.. tapi sudahlah, memang saat itu masa naif bukan?
Kami ada pada masa sedang melihat dunia baru yang lebih lebar daripada sekadar gedung sekolah dan lapangan upacara.
Menjalin cinta pun butuh pembelajaran dan pengalaman. Saya ingat dia suka lagu ini, dia bilang kalau dengar lagu ini mengingatkan tentang kami. Saya cuma ngeh lagu ini enak di kuping, tahu arti judul jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan berulang disebutkan pas Reffrain. Tapi baru mencari lirik secara keseluruhan sekarang. Dan...Hah???.... Entahlah...
Saya hanya jadi merasa he was the precious one....it was!
When Love And Hate Collide
You could have a change of heart, if you would only change your mind
Instead of slamming down the phone girl, for the hundredth time
I got your number on my wall, but I ain't gonna make that call
When divided we stand baby, united we fall
Got the time got a chance gonna make it
Got my hands on your heart gonna take it
All I know I can't fight this flame
You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby, time after time
Without you
One night alone Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide
I don't wanna fight no more, I don't know what we're fighting for
When we treat each other baby, like an act of war
I could tell a million lies and it would come as no surprise
When the truth is like a stranger, hits you right between the eyes
There's a time and a place and a reason
And I know I got a love to believe in
All I know got to win this time
[Repeat Chorus]
[SOLO]
You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby...Crazy...Crazy
Without you
One night alone
Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
One night alone
Is like a year without you baby
If you have a heart at all
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide
Friday, June 12, 2009
Super Sensitive Mellow Lady
Manusia tak ada yang sempurna.
Kamu bisa jadi super..super.. sensitif.. mellow.. karena merasa disakiti, dihina, dilecehkan dalam kata-kata, dsb.
Kamu juga tidak sempurna di mata orang lain.
Bahkan yang katanya sempurna dalam ukuran-ukuran manusia : cantik/ganteng, pintar, cerdas, beruntung atau apapun, masih ada yang kurang di mata orang lain.
Tapi memang lebih gampang memandang kekurangan orang lain, daripada kekurangan diri sendiri.
Kalau memang ga ingin disakiti, yaaa lebih baik angkat kaki dan menepi di sudut tepi.
Tapi ga mungkin kan?
Sabar... Sabar.. Sabar...
(sambil denger lagu ”Supermassive Black Hole” nya Muse... )
Ooh, baby don’t you know I suffer?
Oh, baby can you hear me moan?
You caught me under false pretenses
How long before you let me go?
Ooh, you set my soul alight
Ooh, you set my soul alight
………
Saya mengambil cermin dan berkaca. Lebih dari sekadar membetulkan bedak dan memulas lipstik di bibir yang tadi sudah hilang tersapu makan siang. Saya pandang ke dalam.. bercermin diri mengoreksi hati yang kelabu.
Kamu bisa jadi super..super.. sensitif.. mellow.. karena merasa disakiti, dihina, dilecehkan dalam kata-kata, dsb.
Kamu juga tidak sempurna di mata orang lain.
Bahkan yang katanya sempurna dalam ukuran-ukuran manusia : cantik/ganteng, pintar, cerdas, beruntung atau apapun, masih ada yang kurang di mata orang lain.
Tapi memang lebih gampang memandang kekurangan orang lain, daripada kekurangan diri sendiri.
Kalau memang ga ingin disakiti, yaaa lebih baik angkat kaki dan menepi di sudut tepi.
Tapi ga mungkin kan?
Sabar... Sabar.. Sabar...
(sambil denger lagu ”Supermassive Black Hole” nya Muse... )
Ooh, baby don’t you know I suffer?
Oh, baby can you hear me moan?
You caught me under false pretenses
How long before you let me go?
Ooh, you set my soul alight
Ooh, you set my soul alight
………
Saya mengambil cermin dan berkaca. Lebih dari sekadar membetulkan bedak dan memulas lipstik di bibir yang tadi sudah hilang tersapu makan siang. Saya pandang ke dalam.. bercermin diri mengoreksi hati yang kelabu.
Thursday, June 11, 2009
Surat Itu....
Tanganku masih kaku,
usai menulis larik syahdu di kertas biru
berharap cemas kau terima pesanku
kukemas dalam senandung rindu
Masih kumenanti di stasiun itu
sambil memandang buyung bermain gundu
waktu bergulir dalam tunggu
masih kutimang pena darimu
menoreh surat untukmu...
*Balasan puisi untuk teman milis
usai menulis larik syahdu di kertas biru
berharap cemas kau terima pesanku
kukemas dalam senandung rindu
Masih kumenanti di stasiun itu
sambil memandang buyung bermain gundu
waktu bergulir dalam tunggu
masih kutimang pena darimu
menoreh surat untukmu...
*Balasan puisi untuk teman milis
Wednesday, June 10, 2009
Sst..Nikmati Sendiri Saja
When the day is long and the night, the night is yours alone,
When you're sure you've had enough of this life, well hang on
Don't let yourself go, 'cause everybody cries and everybody hurts sometimes
Sometimes everything is wrong. Now it's time to sing along
When your day is night alone, (hold on, hold on)
If you feel like letting go, (hold on)
When you think you've had too much of this life, well hang on
'Cause everybody hurts. Take comfort in your friends
Everybody hurts. Don't throw your hand. Oh, no. Don't throw your hand
If you feel like you're alone, no, no, no, you are not alone
If you're on your own in this life, the days and nights are long,
When you think you've had too much of this life to hang on
Well, everybody hurts sometimes,
Everybody cries. And everybody hurts sometimes
And everybody hurts sometimes. So, hold on, hold on
Hold on, hold on, hold on, hold on, hold on, hold on
Everybody hurts. You are not alone
Mendengarkan lagu Everybody Hurts versi The Corrs, bikin saya speechles.
Lagu ini karya R.E.M dan dinyanyikan pertama kali pada 1992, tapi saya lebih senang ketika lagu ini dilantunkan kuartet asal Irlandia di 2000-an. Suara Andrea Corr yang menyayat, dipadu dengan gesekan biola …hff..
Mari dengarkan ketika kamu merasa kehilangan, merasa menit-menit terlalui dalam kekosongan.
Hanya ingin waktu yang ramah memeluk diri
Bukan butuh seseorang untuk menumpahkan isi hati
Karena cukup cerita ini kamu kunci tak berbagi pada mereka
Mari kita anggap cerita kamu sebagai permainan dan terpercik api
Kita pernah salah
Bertemu di waktu yang tak tepat
Atau tengah menganggap dunia ini taman bermain
Terlalu lama kita bersuka ria
Melempar dadu nasib berharap membawa peruntungan ke kita mau
atau
When you're sure you've had enough of this life, well hang on
Don't let yourself go, 'cause everybody cries and everybody hurts sometimes
Sometimes everything is wrong. Now it's time to sing along
When your day is night alone, (hold on, hold on)
If you feel like letting go, (hold on)
When you think you've had too much of this life, well hang on
'Cause everybody hurts. Take comfort in your friends
Everybody hurts. Don't throw your hand. Oh, no. Don't throw your hand
If you feel like you're alone, no, no, no, you are not alone
If you're on your own in this life, the days and nights are long,
When you think you've had too much of this life to hang on
Well, everybody hurts sometimes,
Everybody cries. And everybody hurts sometimes
And everybody hurts sometimes. So, hold on, hold on
Hold on, hold on, hold on, hold on, hold on, hold on
Everybody hurts. You are not alone
Mendengarkan lagu Everybody Hurts versi The Corrs, bikin saya speechles.
Lagu ini karya R.E.M dan dinyanyikan pertama kali pada 1992, tapi saya lebih senang ketika lagu ini dilantunkan kuartet asal Irlandia di 2000-an. Suara Andrea Corr yang menyayat, dipadu dengan gesekan biola …hff..
Mari dengarkan ketika kamu merasa kehilangan, merasa menit-menit terlalui dalam kekosongan.
Hanya ingin waktu yang ramah memeluk diri
Bukan butuh seseorang untuk menumpahkan isi hati
Karena cukup cerita ini kamu kunci tak berbagi pada mereka
Mari kita anggap cerita kamu sebagai permainan dan terpercik api
Kita pernah salah
Bertemu di waktu yang tak tepat
Atau tengah menganggap dunia ini taman bermain
Terlalu lama kita bersuka ria
Melempar dadu nasib berharap membawa peruntungan ke kita mau
atau
Indonesia Aneh Ya (Tentang Miss Indonesia)
Di depan laptop sembari mulai menyantap menu makan siang. Seorang teman nyelonong mempostingkan via Yahoo Messenger (YM) berita ini :
Miss Indonesia 2009 Tak Mahir Bicara Bahasa Indonesia
Jakarta - Setelah menyandang gelar Miss Indonesia 2009, Kerenina Sunny Halim segera belajar Bahasa Indonesia. Dia pun akan memperdalam pengetahuan tentang adat dan budaya Indonesia.
"Saya memang kurang mahir berbahasa Indonesia, dan hanya bisa sedikit-sedikit saja," Kerenina mengakui kelemahannya. "Saya sekarang ambil home schooling dari Amerika langsung, di rumah pun sehari-hari saya memakai bahasa Inggris, jadi memang jarang bicara dengan bahasa Indonesia," katanya. Ia pun mengaku belum paham budaya, adat, dan provinsi di Indonesia. "Saya janji akan memperdalam semua hal tentang Indonesia, khususnya untuk memperlancar bahasanya."
Berikut link-nya : http://showbiz.vivanews.com/news/read/65131-miss_indonesia_2009__belajar_bahasa_indonesia
XXXXXX: kaya gitu kok bs jd miss indonesia
enoXXXX: kok bisa menangggg
enoXXXX: jd definisi "Miss Indonesia" apa dunk..
Haha... aneh!
Pemenang Miss Indonesia ini bakal dikirim ke kontes Miss World, masing-masing membawa bendera negara, menonjolkan definisi kecantikan dan kepintaran menjawab pertanyaan juri, dan secara langsung maupun tidak mempromosikan negara.
Jadi, si Kerenina ini seperti 'sales 'yang mempromosikan suatu produk yang dia sendiri tidak tahu ’knowledge produk-nya’.
Beneran lho, ini jadi menjungkir balikkan pemikiran saya tentang penjurian kontes yang berjuluk Puteri, Miss, Ratu Ayu, dsb yang konon mencari wanita belum menikah memiliki beauty, brain dan behaviour acung jempol. Termasuk juga pemahamannya tentang budaya negeri sendiri. Waktu penjurian apa aja yang dinilai ya sehingga pengetahuannya tentang budaya, adat, dan nama-nama provinsi di Indonesia bisa dilakukan upgrade menyusul???
Ohya, mungkin kita maklumi saja. Dari segi kosa kata Indonesia pun terjadi sinkronisasi antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia : Miss + Indonesia. Sehingga bisa dimengerti yang menang pun IndoInggris. Atau memang inilah realitas masyarakat Indonesia saat ini?
Miss Indonesia 2009 Tak Mahir Bicara Bahasa Indonesia
Jakarta - Setelah menyandang gelar Miss Indonesia 2009, Kerenina Sunny Halim segera belajar Bahasa Indonesia. Dia pun akan memperdalam pengetahuan tentang adat dan budaya Indonesia.
"Saya memang kurang mahir berbahasa Indonesia, dan hanya bisa sedikit-sedikit saja," Kerenina mengakui kelemahannya. "Saya sekarang ambil home schooling dari Amerika langsung, di rumah pun sehari-hari saya memakai bahasa Inggris, jadi memang jarang bicara dengan bahasa Indonesia," katanya. Ia pun mengaku belum paham budaya, adat, dan provinsi di Indonesia. "Saya janji akan memperdalam semua hal tentang Indonesia, khususnya untuk memperlancar bahasanya."
Berikut link-nya : http://showbiz.vivanews.com/news/read/65131-miss_indonesia_2009__belajar_bahasa_indonesia
XXXXXX: kaya gitu kok bs jd miss indonesia
enoXXXX: kok bisa menangggg
enoXXXX: jd definisi "Miss Indonesia" apa dunk..
Haha... aneh!
Pemenang Miss Indonesia ini bakal dikirim ke kontes Miss World, masing-masing membawa bendera negara, menonjolkan definisi kecantikan dan kepintaran menjawab pertanyaan juri, dan secara langsung maupun tidak mempromosikan negara.
Jadi, si Kerenina ini seperti 'sales 'yang mempromosikan suatu produk yang dia sendiri tidak tahu ’knowledge produk-nya’.
Beneran lho, ini jadi menjungkir balikkan pemikiran saya tentang penjurian kontes yang berjuluk Puteri, Miss, Ratu Ayu, dsb yang konon mencari wanita belum menikah memiliki beauty, brain dan behaviour acung jempol. Termasuk juga pemahamannya tentang budaya negeri sendiri. Waktu penjurian apa aja yang dinilai ya sehingga pengetahuannya tentang budaya, adat, dan nama-nama provinsi di Indonesia bisa dilakukan upgrade menyusul???
Ohya, mungkin kita maklumi saja. Dari segi kosa kata Indonesia pun terjadi sinkronisasi antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia : Miss + Indonesia. Sehingga bisa dimengerti yang menang pun IndoInggris. Atau memang inilah realitas masyarakat Indonesia saat ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)

