Dalam posting di milis/blog Mas Rio dari Trans TV membuat saya tertarik mengomentari. Ia menuliskan (saya singkat saja) pada rapat program Reportase Sore, Rabu (25/6/08) memberi teguran keras kepada reporternyaTrans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.
Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.
Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.
Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.
Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”
Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.
Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.
Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.
Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.
Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.
Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”
Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.
Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.
Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.
Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.
Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.
Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."
Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?
Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....
Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).
Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.
Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.
Friday, July 11, 2008
Thursday, July 10, 2008
OCD.... Obsesif...
Oprah Show merupakan tayangan televisi yang tak ingin saya lewatkan. Makanya, saya berusaha untuk memasang kanal TV di saluran tersebut setiap jam 10.00 wib di kantor. Apalagi pada jam tsbt biasanya ruangan kantor juga masih sepi. Walaupun teman-teman sudah ada di ruangan, mereka juga tidak terlalu peduli apa acara yang sedang ditayangkan di TV. Semua pada berkonsentrasi pada monitor komputer masing-masing dan suara dari kotak kaca itu cuma menjadi ”alunan merdu” teman bekerja.
Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.
Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.
Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”
Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.
Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.
Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).
Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.
Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.
Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!
Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.
Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.
Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.
Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.
Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)
Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?
Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.
Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.
(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)
Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.
Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.
Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”
Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.
Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.
Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).
Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.
Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.
Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!
Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.
Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.
Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.
Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.
Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)
Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?
Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.
Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.
(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)
Sunday, July 06, 2008
Ketika Cinta
Hanya Dalam Satu Batas Waktu

Ada janji diucapkan saat kita bertemu
Kamu mencumbu sembari bilang hatimu untuk aku
Sementara aku berjanji kita setia selamanya
Hingga waktu melapukkan cinta kita
Dan aku mengatakan, ”Beruntung Aku pernah memilikimu”
Terima kasih untuk rengkuh kecupmu
Hapus bayangku dari benakmu ketika bertemu untuk berpisah
(Gambar dikutip dari www.housetohome.co.uk)
Tuesday, July 01, 2008
Nenek dan Kayu
Tubuh renta mengusung kayuAsam garam terukir di gurat wajahmu
Seolah sama dengan urat umur yang tergores di pepohonan
Mau kemana kau bawa kayu itu, Mbah?
Mengutip persenan dari sampah kerat sisa ukiran
Atau kau jadikan energi terbarukan dalam kapasitas otakmu?
(Energi terbarukan =kayu bakar)
Jepara, 28 Juni 2008
Belanja di Jepara
Setelah tugas di Pati selesai, saya sempatkan melanglang ke Jepara. Kebetulan jam berangkat Kereta Api (KA) jam 21.00 WIB dari Semarang. Maka jam 14.00 WIB mobil pun melaju dari Pati, menuju Jepara, menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam perjalanan akhirnya sekitar jam 15.30 WIB kami sampai di pintu masuk Jepara.
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan kerajinan ukir kayu. Dan ternyata, selama 4 jam belanja-belanja di wilayah berjuluk ”Jepara Bumi Kartini” (karena tempat kelahiran RA. Kartini), kesimpulan saya : daerah yang cukup resik dengan jalan raya beraspal yang rapi, memiliki andalan desa-desa yang menjadi sentra kerajinan rakyat seperti : Sentra Konveksi Kalinyamatan, Sentra Tenun Ikat Troso, dan Sentra Meubel Ukir Tahunan. Semua sentra itu kelihatan jelas dari pinggir jalan raya karena adanya plang besar di depan pintu masuk desa sentra.
Tempat pertama kami singgahi Desa Troso sebagai kawasan Sentra Tenun Ikat. Patokan mencapai daerah itu adalah dekat Pasar Pecangaan. Khas kain adalah bahan dasar yang berasal dari kain rayon/katun yang ditenun dan diikat. Pelayan di salah satu toko yang kami sambangi mengatakan, untuk menghasilkan kain 2,25 x 1,16 meter (m) bisa mencapai 10 potong per hari. Kebetulan tempat memproduksi berada di belakang toko.
Ciri lain adalah potongan kain yang tidak rata (tidak seperti umumnya kain pabrikan). Mereka menjual kain panjang untuk taplak meja, jenis kain bercorak lukis, katun panjang untuk ikat leher, dan jumputan.
Setelah mabok pilih-pilih –maklum, saya memang penggemar kerajinan kain tradisional- akhirnya saya memilih kain syal panjang yang bisa membalut leher yang sedang didera radang tenggorokan dan sepotong kain lebar 2,25 x 1,16 meter yang bisa digunakan sebagai selimut di KA. (foto : kain lebar yang kusuka).
Ohya, saya juga membeli Palang Panjang dari kayu berfungsi sebagai penyangga kain tradisional yang hendak dipajang di dinding. Maksudnya sih, buat oleh-oleh untuk nyokap yang punya berbagai kain songket. (hehe.. ketauan kan hobi berburu kain ini turunan dari siapa?).
Setelah agak lama berburu kain, kami melanjutkan perjalanan ke Sentra Meubel Ukir Tahunan, yang memang berseberangan tempat dengan Pasar Tahunan. Yah kalau di tempat ini barang-barang juga menarik mata. Akan tetapi, sebagai orang yang belum punya rumah (alias masih tinggal bersama orangtua), maka saya tidak terlalu semangat dengan produk yang ditawarkan : kursi Thailand (istilah untuk kursi bale-bale), kursi berbentuk gendang yang cukup unik, hingga set kaca rias bersama mejanya.
Adapula ”benda-benda kecil” seperti tempat meletakkan Al Qu’ran, kotak tisu, congklak, rak penyimpan koran, dan kotak perhiasan.
Kelebihan dari produk, mereka cukup mengikuti tren desain furnitur/interior masa kini dipadu dengan permainan warna yang menarik mata. Maklum saja, kerajinan ukir Jepara sudah tersohor hingga diekspor. Dan akhirnya, saya juga membeli beberapa item dari tempat ini.
(jika ingin melihat foto-foto lebih banyak, silahkan berkunjung ke Multiply saya. Atau klik judul di atas).
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan kerajinan ukir kayu. Dan ternyata, selama 4 jam belanja-belanja di wilayah berjuluk ”Jepara Bumi Kartini” (karena tempat kelahiran RA. Kartini), kesimpulan saya : daerah yang cukup resik dengan jalan raya beraspal yang rapi, memiliki andalan desa-desa yang menjadi sentra kerajinan rakyat seperti : Sentra Konveksi Kalinyamatan, Sentra Tenun Ikat Troso, dan Sentra Meubel Ukir Tahunan. Semua sentra itu kelihatan jelas dari pinggir jalan raya karena adanya plang besar di depan pintu masuk desa sentra.
Tempat pertama kami singgahi Desa Troso sebagai kawasan Sentra Tenun Ikat. Patokan mencapai daerah itu adalah dekat Pasar Pecangaan. Khas kain adalah bahan dasar yang berasal dari kain rayon/katun yang ditenun dan diikat. Pelayan di salah satu toko yang kami sambangi mengatakan, untuk menghasilkan kain 2,25 x 1,16 meter (m) bisa mencapai 10 potong per hari. Kebetulan tempat memproduksi berada di belakang toko.
Setelah mabok pilih-pilih –maklum, saya memang penggemar kerajinan kain tradisional- akhirnya saya memilih kain syal panjang yang bisa membalut leher yang sedang didera radang tenggorokan dan sepotong kain lebar 2,25 x 1,16 meter yang bisa digunakan sebagai selimut di KA. (foto : kain lebar yang kusuka).
Ohya, saya juga membeli Palang Panjang dari kayu berfungsi sebagai penyangga kain tradisional yang hendak dipajang di dinding. Maksudnya sih, buat oleh-oleh untuk nyokap yang punya berbagai kain songket. (hehe.. ketauan kan hobi berburu kain ini turunan dari siapa?).
Setelah agak lama berburu kain, kami melanjutkan perjalanan ke Sentra Meubel Ukir Tahunan, yang memang berseberangan tempat dengan Pasar Tahunan. Yah kalau di tempat ini barang-barang juga menarik mata. Akan tetapi, sebagai orang yang belum punya rumah (alias masih tinggal bersama orangtua), maka saya tidak terlalu semangat dengan produk yang ditawarkan : kursi Thailand (istilah untuk kursi bale-bale), kursi berbentuk gendang yang cukup unik, hingga set kaca rias bersama mejanya.
Adapula ”benda-benda kecil” seperti tempat meletakkan Al Qu’ran, kotak tisu, congklak, rak penyimpan koran, dan kotak perhiasan.
Kelebihan dari produk, mereka cukup mengikuti tren desain furnitur/interior masa kini dipadu dengan permainan warna yang menarik mata. Maklum saja, kerajinan ukir Jepara sudah tersohor hingga diekspor. Dan akhirnya, saya juga membeli beberapa item dari tempat ini.
(jika ingin melihat foto-foto lebih banyak, silahkan berkunjung ke Multiply saya. Atau klik judul di atas).
Jkt-Semarang-Pati (Dream Come True)
Kamis siang, 26-6-2008.
“Eno, kamu mau liputan 3 hari ke Pati?” tanya Mas Dian, senior penulis di kantor.
“Hah?” saya berpikir tentang batuk-batuk yang menjajah tenggorokan. Berpikir tentang akhir pekan yang bakal kulewatkan dengan makan vitamin, minum obat batuk, tidur.... dan tidur.
Tapi.. tapi.. ke Pati dan naik kereta api?!
Hehe.. itu sih Dream Come True. Aku pertama kali ke Pati, sebuah wilayah karesidenan di Jawa Tengah sekitar tahun 1997. Jalan darat bersama teman kuliah untuk melakukan pemetaan, sebagai bagian dari skripsi, di wilayah Grobogan. Kami berbekal peta menelusuri jalur Pantura dan melewati Pati. Dalam ingatan saya, Pati terkenal sebagai pusat 2 pabrik cemilan berbasis kacang terbesar di Indonesia, Kacang Garuda dan Kacang Cap Dua Kelinci. Kotanya relatif bersih sekaligus panas. Meski berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani”, seolah menunjukkan sebagai daerah sentra pertanian (di tengah kota kamu bakal menemukan patung Pak Tani dengan tubuh kekarnya yang menjinjing kacang-kacangan, seolah menegaskan ’inilah jantung kehidupan Pati’) akan tetapi kabupaten ini sekaligus berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Nah, salah satu yang terkenal adalah Terasi Juwana.
Di sana pertama kalinya saya makan Nasi Gandul di suatu warteg yang dekat dengan stadion olahraga. Nasi berkuah santan dimakan bersama jeroan yang kita pilih-pilih dulu, seperti lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, termasuk juga tempe dan perkedel. Lalu jeroan itu ibu penjualnya gunting-gunting (benar lho, jeroan dicacah dengan gunting. Bukan pisau seperti umumnya dalam pengolahan masakan). Nasi khas Pati itu dihidangkan di alas daun pisang.
Wah! Rasanya eunak banget!! (Mungkin juga faktor kelaparan hehe..). Dari rasanya ada kuah santan trus dicampur kecap manis-pedas.
Berbeda dengan nasi liwet ala Solo, atau nasi Gudeg ala Yogya, ataupun nasi timbel ala Sundaan, yang mudah ditemui di Jakarta, maka nasi Gandul khas Pati ini jarang ditemukan di ibukota.
Selain itu, belakangan ini saya kangen berwisata kere ala zaman kuliah. Menjadi backpacker menyandang ransel, naik bis menyusuri kota Semarang atau ke Solo (daerah yang memang relatif asyik untuk dijelajahi, kebetulan banyak saudara di sana sehingga ada perasaan sebagai kampung ke-2).
Intinya, saya tidak ingat lagi menuliskan secara detil diskusi saya bersama Mas Dian. Yang jelas, akhirnya Jumat sore saya sudah berada di dalam KA Sembrani tujuan Jakarta-Surabaya, untuk pergi ke Semarang. Berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.45 WIB, saya pertama kalinya pula menikmati perjalanan KA yang lebih jauh dari Jakarta-Bogor ala KA Pakuan.
Tentengan saya? Carill merah jambu berukuran 3 liter (tas ransel merek Explorer yang masih awet dari zaman kuliah dan mempertahankan ciri feminin saya melalui pilihan warna pink-nya), berisi beberapa potong baju yang dikemas di dalam plastik trash bag (ingat : supaya tidak basah jika tertembus air ataupun ’kecelakaan’ lain yang terjadi dalam penyimpanan barang), serta berbagai pernak-pernik liputan. Pokoknya harus pakai carill pinky tersebut!
KA Sembrani ini ber-AC, kebetulan pula saya duduk di baris paling depan dalam Gerbong 5 (nomor kursi di deret ke-13 dan ternyata PT KAI termasuk yang tidak percaya takhyul misalkan menggantinya dengan angka 12A atau langsung lompat ke angka bangku 14).
Setiap kursi dilengkapi bantal, kita juga memperoleh makanan dan pinjaman selimut dari petugas. Cuma.... silahkan terkaget selimut itu ditarik sama petugas sambil berteriak ”Semarang.....Semarang....” (maksudnya sudah hampir sampai ke Semarang dan penumpang silahkan bersiap-siap).
Hehe.. cara yang jitu untuk membangunkan penumpang yang tengah terlelap pukul 01.00 pagi! Btw, sebelum sampai di Stasiun Tawang-Semarang, KA akan berhenti dulu di Stasiun Poncol. Ohya, seperti dikutip dari Wikipedia, Stasiun Poncol itu terletak di Jalan Poncol Semarang, khusus untuk kereta ekonomi dan angkutan barang. Ada sekitar 10 menit KA berhenti distasiun tsbt, sampai akhirnya saya pun menjejak di Stasiun Tawang pada pukul 2.30 WIB.
Dari stasiun, sudah menunggu pihak dari Departemen Sosial yang menjemput kami dan langsung menuju Pati. Melewati Demak dan Kudus, serta jalan yang pada beberapa bagian sedang mengalami peningkatan kondisi jalan, akhirnya sampailah kami ke kota berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani” pada pukul 04.00 pagi.
Catatan lain : jika ingin naik kereta api di malam hari, jangan lupa bawa topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat. Untuk rekan-rekan yang sulit tidur (seperti saya) mungkin perlu pula menelan Antimo. Ssst.. obat anti mabuk itu punya fungsi sebagai pelelap tidur lho! Tapi jangan sering-sering makan obat ini sebagai pengganti obat tidur ya! Saya sangat tidak menyarankan....!! :D
Ohya, amankan juga barang-barang berharga kamu. Masukkan semua barang berharga (seperti dompet, kamera, handphone, bahkan laptop) di dalam satu tas yang kamu kepit selama perjalanan. Karena meski gerbong eksekutif, rekan saya mengalami kecopetan kamera digital SLR yang diselipkan di laci kursi di depannya. Bahkan, si pencuri punya waktu untuk mengganti isi tas kamera dengan aqua gelas! Dan berdasarkan cerita porter kami, ada pula orang yang kehilangan laptop. Tas notebook yang disimpan di bagasi atas kursi, tetap di tempat. Akan tetapi, isinya diganti dengan koran-koran!
Ohya, sebagai catatan mungkin berguna bagi teman-teman yang mau mencoba naik KA. Dari Semarang, saya pulang naik KA Kamandanu kelas eksekutif (walaupun tidak menjamin keamanan, karena rekan saya kehilangan kameranya justru di sana). Kami naik kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI tujuan Semarang-Jakarta (PP) ini jam 21.00 WIB. Dalam lembaran tiket tertera jam tiba di Jakarta kurang lebih 3.00 dinihari. Namun ternyata, KA sampai di Gambir pada jam 7.00 WIB. Yah! Kebanyakan berhenti-berhenti untuk menunggu kereta dari jalur lain lewat.
Barang layak bawa :
- Topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat.
- Tas kemas yang kita peluk selama perjalanan untuk menyimpan barang penting
- Botol aqua (meski dapat minum juga dari pihak KAI, tapi air mineral ini berguna juga untuk urusan ke toilet), tisu basah, tisu saku, dan obat kumur-kumur (sebagai pengganti acara sikat gigi bersama pasta gigi).
- Obat-obatan
- Buku bacaan sebagai teman perjalanan (meski jika tidak beruntung kita mendapat kursi yang lampunya mati).
PS : bagaimana rencana makan Nasi Gandul? Terealisasi meski bukan di tempat yang sama, dan dengan rasa yang tidak senikmat pertama kali.
“Eno, kamu mau liputan 3 hari ke Pati?” tanya Mas Dian, senior penulis di kantor.
“Hah?” saya berpikir tentang batuk-batuk yang menjajah tenggorokan. Berpikir tentang akhir pekan yang bakal kulewatkan dengan makan vitamin, minum obat batuk, tidur.... dan tidur.
Tapi.. tapi.. ke Pati dan naik kereta api?!
Hehe.. itu sih Dream Come True. Aku pertama kali ke Pati, sebuah wilayah karesidenan di Jawa Tengah sekitar tahun 1997. Jalan darat bersama teman kuliah untuk melakukan pemetaan, sebagai bagian dari skripsi, di wilayah Grobogan. Kami berbekal peta menelusuri jalur Pantura dan melewati Pati. Dalam ingatan saya, Pati terkenal sebagai pusat 2 pabrik cemilan berbasis kacang terbesar di Indonesia, Kacang Garuda dan Kacang Cap Dua Kelinci. Kotanya relatif bersih sekaligus panas. Meski berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani”, seolah menunjukkan sebagai daerah sentra pertanian (di tengah kota kamu bakal menemukan patung Pak Tani dengan tubuh kekarnya yang menjinjing kacang-kacangan, seolah menegaskan ’inilah jantung kehidupan Pati’) akan tetapi kabupaten ini sekaligus berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Nah, salah satu yang terkenal adalah Terasi Juwana.
Di sana pertama kalinya saya makan Nasi Gandul di suatu warteg yang dekat dengan stadion olahraga. Nasi berkuah santan dimakan bersama jeroan yang kita pilih-pilih dulu, seperti lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, termasuk juga tempe dan perkedel. Lalu jeroan itu ibu penjualnya gunting-gunting (benar lho, jeroan dicacah dengan gunting. Bukan pisau seperti umumnya dalam pengolahan masakan). Nasi khas Pati itu dihidangkan di alas daun pisang.

Wah! Rasanya eunak banget!! (Mungkin juga faktor kelaparan hehe..). Dari rasanya ada kuah santan trus dicampur kecap manis-pedas.
Berbeda dengan nasi liwet ala Solo, atau nasi Gudeg ala Yogya, ataupun nasi timbel ala Sundaan, yang mudah ditemui di Jakarta, maka nasi Gandul khas Pati ini jarang ditemukan di ibukota.
Selain itu, belakangan ini saya kangen berwisata kere ala zaman kuliah. Menjadi backpacker menyandang ransel, naik bis menyusuri kota Semarang atau ke Solo (daerah yang memang relatif asyik untuk dijelajahi, kebetulan banyak saudara di sana sehingga ada perasaan sebagai kampung ke-2).
Intinya, saya tidak ingat lagi menuliskan secara detil diskusi saya bersama Mas Dian. Yang jelas, akhirnya Jumat sore saya sudah berada di dalam KA Sembrani tujuan Jakarta-Surabaya, untuk pergi ke Semarang. Berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.45 WIB, saya pertama kalinya pula menikmati perjalanan KA yang lebih jauh dari Jakarta-Bogor ala KA Pakuan.
Tentengan saya? Carill merah jambu berukuran 3 liter (tas ransel merek Explorer yang masih awet dari zaman kuliah dan mempertahankan ciri feminin saya melalui pilihan warna pink-nya), berisi beberapa potong baju yang dikemas di dalam plastik trash bag (ingat : supaya tidak basah jika tertembus air ataupun ’kecelakaan’ lain yang terjadi dalam penyimpanan barang), serta berbagai pernak-pernik liputan. Pokoknya harus pakai carill pinky tersebut!
KA Sembrani ini ber-AC, kebetulan pula saya duduk di baris paling depan dalam Gerbong 5 (nomor kursi di deret ke-13 dan ternyata PT KAI termasuk yang tidak percaya takhyul misalkan menggantinya dengan angka 12A atau langsung lompat ke angka bangku 14).
Setiap kursi dilengkapi bantal, kita juga memperoleh makanan dan pinjaman selimut dari petugas. Cuma.... silahkan terkaget selimut itu ditarik sama petugas sambil berteriak ”Semarang.....Semarang....” (maksudnya sudah hampir sampai ke Semarang dan penumpang silahkan bersiap-siap).
Hehe.. cara yang jitu untuk membangunkan penumpang yang tengah terlelap pukul 01.00 pagi! Btw, sebelum sampai di Stasiun Tawang-Semarang, KA akan berhenti dulu di Stasiun Poncol. Ohya, seperti dikutip dari Wikipedia, Stasiun Poncol itu terletak di Jalan Poncol Semarang, khusus untuk kereta ekonomi dan angkutan barang. Ada sekitar 10 menit KA berhenti distasiun tsbt, sampai akhirnya saya pun menjejak di Stasiun Tawang pada pukul 2.30 WIB.

Dari stasiun, sudah menunggu pihak dari Departemen Sosial yang menjemput kami dan langsung menuju Pati. Melewati Demak dan Kudus, serta jalan yang pada beberapa bagian sedang mengalami peningkatan kondisi jalan, akhirnya sampailah kami ke kota berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani” pada pukul 04.00 pagi.
Catatan lain : jika ingin naik kereta api di malam hari, jangan lupa bawa topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat. Untuk rekan-rekan yang sulit tidur (seperti saya) mungkin perlu pula menelan Antimo. Ssst.. obat anti mabuk itu punya fungsi sebagai pelelap tidur lho! Tapi jangan sering-sering makan obat ini sebagai pengganti obat tidur ya! Saya sangat tidak menyarankan....!! :D
Ohya, amankan juga barang-barang berharga kamu. Masukkan semua barang berharga (seperti dompet, kamera, handphone, bahkan laptop) di dalam satu tas yang kamu kepit selama perjalanan. Karena meski gerbong eksekutif, rekan saya mengalami kecopetan kamera digital SLR yang diselipkan di laci kursi di depannya. Bahkan, si pencuri punya waktu untuk mengganti isi tas kamera dengan aqua gelas! Dan berdasarkan cerita porter kami, ada pula orang yang kehilangan laptop. Tas notebook yang disimpan di bagasi atas kursi, tetap di tempat. Akan tetapi, isinya diganti dengan koran-koran!
Ohya, sebagai catatan mungkin berguna bagi teman-teman yang mau mencoba naik KA. Dari Semarang, saya pulang naik KA Kamandanu kelas eksekutif (walaupun tidak menjamin keamanan, karena rekan saya kehilangan kameranya justru di sana). Kami naik kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI tujuan Semarang-Jakarta (PP) ini jam 21.00 WIB. Dalam lembaran tiket tertera jam tiba di Jakarta kurang lebih 3.00 dinihari. Namun ternyata, KA sampai di Gambir pada jam 7.00 WIB. Yah! Kebanyakan berhenti-berhenti untuk menunggu kereta dari jalur lain lewat.Barang layak bawa :
- Topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat.
- Tas kemas yang kita peluk selama perjalanan untuk menyimpan barang penting
- Botol aqua (meski dapat minum juga dari pihak KAI, tapi air mineral ini berguna juga untuk urusan ke toilet), tisu basah, tisu saku, dan obat kumur-kumur (sebagai pengganti acara sikat gigi bersama pasta gigi).
- Obat-obatan
- Buku bacaan sebagai teman perjalanan (meski jika tidak beruntung kita mendapat kursi yang lampunya mati).
PS : bagaimana rencana makan Nasi Gandul? Terealisasi meski bukan di tempat yang sama, dan dengan rasa yang tidak senikmat pertama kali.
Friday, June 27, 2008
Batuk… Batuk..
Batuk!
Huh! Mengapa sakit ini tidak mengenal waktu.
Suara ku memang jadi lebih berat –apakah terdengar lebih sexy kah? – padahal bakal ke luar kota.
Sudah berusaha sembuh tanpa ke dokter. Dari minum obat batuk tidak berdahak, air minum hangat, vitamin C, FG troches, hingga jamu tolak angin.
Ada yang menyarankan jamu obat batuk. Tapi ketika kutanya apa nama/merek, dia nyengir bilang ga tau karena yang membelikan jamu obat batuk itu nyokapnya. (Hehe.. halo Ajeng.. )
Huhuhu! Belum sembuh juga hingga Jumat pagi ini. Malah suaraku semakin menipis.
Ya Allah, semoga suaraku masih bertenaga untuk melontarkan tanya/wawancara pada Sabtu besok.
Huh! Mengapa sakit ini tidak mengenal waktu.
Suara ku memang jadi lebih berat –apakah terdengar lebih sexy kah? – padahal bakal ke luar kota.
Sudah berusaha sembuh tanpa ke dokter. Dari minum obat batuk tidak berdahak, air minum hangat, vitamin C, FG troches, hingga jamu tolak angin.
Ada yang menyarankan jamu obat batuk. Tapi ketika kutanya apa nama/merek, dia nyengir bilang ga tau karena yang membelikan jamu obat batuk itu nyokapnya. (Hehe.. halo Ajeng.. )
Huhuhu! Belum sembuh juga hingga Jumat pagi ini. Malah suaraku semakin menipis.
Ya Allah, semoga suaraku masih bertenaga untuk melontarkan tanya/wawancara pada Sabtu besok.
Wednesday, June 25, 2008
Melihat Lebih Dalam

Pendapat Saya tentang Kamu :
- Saya sebal kamu baru bangun tidur, belum mandi tapi menelpon saya menanyakan kabar dan rencana di hari Sabtu. (Ingin rasanya menyeret kamu ke kamar mandi, mengguyurkan air dingin supaya tampil resik).
- Ga bisa dimintai pendapat (alias, "Gw harus cari jawaban sendiri dehhh..")
Pendapat Kamu tentang Saya :
- Smart, meski terkadang takut-takut ambil kesimpulan.
- Tegas, meski terkadang mudah sensi.
- Impresif, meski terkadang kurang fokus.
Dari dua versi (opini Kamu dan Saya), baru Saya sadari Kamu bisa mengeluarkan pendapat tentang siapa Saya secara lebih dalam. Sementara Saya masih berada di level ’permukaan’. Saya jadi merasa bahwa diri ini harus lebih bijaksana, bukan hanya melihat fisik dan sejumlah kekurangan.
Padahal -kalau dipikir-pikir- Saya juga kadang malas mandi di hari Sabtu pagi. (Semua orang juga mungkin merasakan hal sama di libur akhir pekan). Apalagi, sebagai anak kos-kosan yang perlu ”kerja domestik” dulu. Beres-beres, nyuci, nyetrika dsb. Mandi jadi urutan paling belakangan :D
Saya juga mesti survive, harus bisa menentukan pilihan tanpa menunggu saran orang. Kamu kan tidak (selalu) ada di dekat Saya. Suatu hari Kamu –mungkin saja- tidak untuk Saya.
Saya adalah Saya. Tapi Saya harus belajar melihat lebih ’ke dalam’.
(Foto : ”Menerawang Awan" by Eno, April 2008. Lokasi : Desa Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam).
Monday, June 23, 2008
Nasionalisme atau Profesionalisme
Bagi Belanda, Guus Hiddink adalah 'pengkhianat'.
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Wednesday, June 18, 2008
Katakan dengan "Blog"

Speak out! Jadilah Blogger!
Ada pepatah sederhana yang diwakili tiga monyet lucu : “Three monkeys – See No Evil –Hear No Evil –Say No Evil”. Pepatah tsbt lahir saat belum ada yang namanya Teknologi Informasi.
Daripada ngurusin orang lebih baik tidak usah memandangi, tidak usah mengomentari, tidak usah mendengar gosip (apalagi pembicaraan miring ngomongin orang lain).
Zaman sekarang, kemukakan opini/pendapat/pikiran dll yg positif di blog.
(Gambar ini tidak tahu pasti bersumber dari mana. Cuma hasil kiriman teman di e-mail)
Sunday, June 15, 2008
Majalah Syur Muncul Lagi?
Sabtu kemarin, saya menemani ibu ke acara keluarga. Dari menjemput opung di kawasan Pondok Cabe, kami meluncur ke Menteng. Kita mesti mewaspadai rute-rute macet di akhir pekan, yaitu mal. Tentu saja, dalam hal ini berarti : Pondok Indah Mal, Senayan City dan Plaza Senayan.
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Aku, Malam dan Kunang-Kunang

Kunang-kunang, maafkan aku
membuatmu tersulut api cemburu
Ketika kucumbu malam
Ia hanya teman menanti di tepi danau
Menunggu bintang membawaku terbang
Kunang-kunang, ku tahu sedihmu
Nyalang sorotmu saat kupeluk malam
Ia memang hangat memeluk
Bukan surya yang garang membara
Membakar sayapmu, melepuhkan kulitku
Aku mereguk malam
Aku pun memimpikan bintang
Kini diriku pun kalut,
Adakah bintang ingat diriku,
Atau dia terpana kilaumu
P.S. : Biasanya aku mengasosiasikan malam ’berpasangan’ dengan bintang. Tapi postingan rekan BuMa membuat aku terpikir ide menyandingkan malam bersama kunang-kunang. Hehe...mungkin akibat jarang ingat kunang2 karena terakhir melihat si hewan malam ini sekitar 10 tahun di daerah Karangsambung, Kebumen.
(Gambar dikutip dari : "fairies & fireflies067" dari www.flashbacks-photo.com)
Doa Bola

Waktu kecil :
Ya Tuhan,
Izinkan aku terbangun malam nanti
Ku ingin nonton bola bersama ayah
Beringsut dari kamar ke depan tv
Dan terlelap di dada ayah
Waktu remaja :
Ya Tuhan!
Ganteng sekali si kaus nomor 9
Izinkan negara mereka menang
Waktu dewasa :
Ya Tuhan,
Semoga ayahku tidur lelap
Lebih baik ia istirahat cukup daripada nonton
mmmm... (diam sejenak)
oh ya, Tuhan, bukan aku melanggar peraturanMu
tapi izinkan aku menang adu intuisi
dan biarkan aku menikmati duitnya
(Gambar dikutip dari www.gemstoneking.net)
Wednesday, June 11, 2008
Malaikat Kecil

Lantunan doa pun dipanjatkan saat engkau datang :
jadilah engkau cahaya di bumi, dan kasih di sepanjang masa
Seperti sinar mentari membelah hari, menyambut malaikat kecil
Beri kerling matamu agar kami merasakan surga
Genggam jemariku, mari bermain dan kuperkenalkan dunia.
P.S. : terinspirasi dari rekan di BuMa yang baru punya bayi, sebagai balasan puisi.
(gambar : tidak tahu pasti sumbernya. ini gambar favorit saya hasil kiriman teman)
Melepas Masa Lalu
Semalam ada kamu, menyambutku dan memelukku Kita berpelukan bahagia..... kita sangat bahagia
Hanya ada saling pandang dan rangkulan mesra.
Semalam,
Senyum kamu terindah diantara sejuta senyumanmu
Tanpa bicara, mata kita melontarkan kata.
Hari ini aku terbangun
Aku tahu makna mimpiku
Kita sudah ikhlas saling melepas
Tak ada tangis, hanya bayang kelabu yang sirna,
Kusambut pagi ini dengan cahaya.
Jakarta, awal juni’08
(Gambar dikutip dari : easy dream interpretation)
Celoteh Hari Ini
Pernahkah kamu mengalami hari yang rasanya 'hambar' banget?? Males? Duh, ini kejadian di Kamis, 5 Juni lalu, dengan kondisi lagi deadline, plus beberapa tugas yang juga menumpuk, tapi otak kayak tidak kompromi untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
Friday, May 30, 2008
Nonton Yuks!
Tentang Saya dan Kamu (Its Takes Two to Tango)
Katanya saya tidak mensyukuri sudah dapat barang bagus.
Karena saya perempuan, saya dicap berperilaku ‘bitchy.’
Karena saya perempuan, maka saya menghormati pasangan.
Saya tidak mengatakan alasan apa yang membuat saya berpaling ke lain hati.
Saya tidak menceritakan hal buruk penyebab diri ini mencari pelukan lain. Jika pelariannya tidak lebih baik, maka itu namanya ”pengalaman”.
Kata ibu, itu cermin diri saya yang tidak pernah puas.
Kata saya, itu contoh kebodohan kambing mengira rumput tetangga lebih indah walaupun ternyata fatamorgana. Atau ternyata penuh pestisida.
Pelukan lain itu hanya pelarian sesaat.
Rengkuhan lain ternyata masih sempat membuat ku terlintas berpikir, ”Tidak ada yang setulus kamu.” Meski saya kini benar-benar bakal tutup buku dan menghapus bayang kamu, dan....memang aku bisa berhenti menangis secara cepat. Yang tersisa hanya memori saat-saat bersama kamu, yang kadang melintas seperti film lama dan mulai terkikis. Termakan waktu.
Kata teman pria saya, ”Ketika kamu mengkhianati dan mendua, what you do is what you get!”
Kata sahabat perempuan saya, ”Dari dulu gua juga ga sreg dia sama kamu.”
”Dia yang mana?” balasku membatin.
Duh! Tapi Dia yang ini tentu Dia yang selalu tersimpan di saku hati. Bukan cerita Dia si selingkuh hati. Dia yang selalu kutangisi di saat pergi. Kata Dia, ”Hanya sementara.” Tapi firasatku selalu benar dan kali ini benar yang menyedihkan:(
Dia yang membuat saya tersenyum melihat bintang, dan bertanya, ” Apakah kamu sedang memikirkan saya? Apakah kamu tahu kalau kamu inspirasi mimpi indah saya?”
Kamu yang mengajarkan melukis Bintang Pari di langit.
”Kamu mantan anak Pramuka, ya?” ujarku seraya tertawa. Sembari memandang angkasa malam berpendar kejora.
”Anak XXXXXXX harus baca kompas dulu ya baru tahu letak utara, selatan, barat, timur?” tanyamu membalas ucapanku. Saat itu, aku baru menyadari kehadiran kamu diantara (teman pria) lainnya.
Dan kamu mendahului ku terbang melihat Monas. ”Monas kan simbol Jakarta!” ujarmu saat itu.
Dia pergi. Akhirnya tiba pula saatku berkemas. Kita lalu berada dalam wilayah peta berbeda. Kemudian, dia muncul untuk mengatakan, ”Kita sekarang satu kota.” Lalu, dia pergi lagi.
Dia yang membuat aku terhanyut mendengar lagu Home-nya Michael Buble (meski nama kota tempat tinggal kamu tidak disebut di dalam liriknya. Dan uups! Sejujurnya surat elektronik dari kamu sudah lama terhapus pula tidak seperti ucapan Buble….. And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you..Each one a line or two…. ); Don't Sleep Away This Night- Daniel Sahuleka (sembari menyimak kalimat-kalimat.....Don't sleep away this night my baby… Please stay with me at least 'till dawn…. saya membayangkan Daniel Sahuleka tinggal di Belanda yang bertetangga negara dengan tempatmu berada kan?), atau ”Don’t Wanna Miss A Thing”-Aerosmith hingga ”It Might Be You” dari Stephen Bishop. Segala lirik yang membuatku merajut mimpi “Suatu Hari..”

Kita memang bukan satu paket berdua.
Kita memang bukan cangkang kerang yang menyatu.
Kita laut dan pasir yang bercumbu.
Yang berpisah dan kembali. (Berulang kali)
Kita memang terbiasa pergi membentang mimpi, lalu kembali bertemu di satu titik. Kita juga pernah berdansa di hari-hari bahagia.
Kita pernah menari di atas kesedihan.
Kita sering berpisah untuk saling membutuhkan.
Terima kasih engkau ada setiap saya menangis dan butuh pegangan.
Kata kamu, saya mata air tak mampu kau bendung.
Kata saya, kamu si angkuh terlalu pongah sebagai pria.
Kata kamu, saya si pribadi bimbang bikin bingung.
Kata saya, kamu harusnya menjadi pawang bagi si tak tetap hati.
Kali ini kamu pergi.
Kali ini pintu kembali telah tersegel.
Seluruh darahku membeku, dan –aneh- saya cepat melupakan kamu.
(*)Tapi semalam kubermimpi menjadi Estella bergaun hitam,
Mengajakmu berdansa mengikuti Besame Mucho
Menari di Paradiso Perduto
Demi kenangan dan penasaran
’Krak..’
Suatu suara memecah keceriaan kita
”Bunyi apa itu?” tanya kamu
”Hati ku patah......” jawabku
Pagi ini aku terbangun
Menangis....
(*) terinspirasi dari film Great Expectations (1998)
P.S. 1 : Masihkah kamu berkunjung ke blog ku? Terima kasih untuk pesan pendeknya. Wish U all the best. Tunggu sampai saya sanggup menyapa kamu :)
P.S. 2 : Saya menuliskan ini dan ..... Uff, lega!
(Gambar dikutip dari film "Great Expectations")
Karena saya perempuan, saya dicap berperilaku ‘bitchy.’
Karena saya perempuan, maka saya menghormati pasangan.
Saya tidak mengatakan alasan apa yang membuat saya berpaling ke lain hati.
Saya tidak menceritakan hal buruk penyebab diri ini mencari pelukan lain. Jika pelariannya tidak lebih baik, maka itu namanya ”pengalaman”.
Kata ibu, itu cermin diri saya yang tidak pernah puas.
Kata saya, itu contoh kebodohan kambing mengira rumput tetangga lebih indah walaupun ternyata fatamorgana. Atau ternyata penuh pestisida.
Pelukan lain itu hanya pelarian sesaat.
Rengkuhan lain ternyata masih sempat membuat ku terlintas berpikir, ”Tidak ada yang setulus kamu.” Meski saya kini benar-benar bakal tutup buku dan menghapus bayang kamu, dan....memang aku bisa berhenti menangis secara cepat. Yang tersisa hanya memori saat-saat bersama kamu, yang kadang melintas seperti film lama dan mulai terkikis. Termakan waktu.
Kata teman pria saya, ”Ketika kamu mengkhianati dan mendua, what you do is what you get!”
Kata sahabat perempuan saya, ”Dari dulu gua juga ga sreg dia sama kamu.”
”Dia yang mana?” balasku membatin.
Duh! Tapi Dia yang ini tentu Dia yang selalu tersimpan di saku hati. Bukan cerita Dia si selingkuh hati. Dia yang selalu kutangisi di saat pergi. Kata Dia, ”Hanya sementara.” Tapi firasatku selalu benar dan kali ini benar yang menyedihkan:(
Dia yang membuat saya tersenyum melihat bintang, dan bertanya, ” Apakah kamu sedang memikirkan saya? Apakah kamu tahu kalau kamu inspirasi mimpi indah saya?”
Kamu yang mengajarkan melukis Bintang Pari di langit.
”Kamu mantan anak Pramuka, ya?” ujarku seraya tertawa. Sembari memandang angkasa malam berpendar kejora.
”Anak XXXXXXX harus baca kompas dulu ya baru tahu letak utara, selatan, barat, timur?” tanyamu membalas ucapanku. Saat itu, aku baru menyadari kehadiran kamu diantara (teman pria) lainnya.
Dan kamu mendahului ku terbang melihat Monas. ”Monas kan simbol Jakarta!” ujarmu saat itu.
Dia pergi. Akhirnya tiba pula saatku berkemas. Kita lalu berada dalam wilayah peta berbeda. Kemudian, dia muncul untuk mengatakan, ”Kita sekarang satu kota.” Lalu, dia pergi lagi.
Dia yang membuat aku terhanyut mendengar lagu Home-nya Michael Buble (meski nama kota tempat tinggal kamu tidak disebut di dalam liriknya. Dan uups! Sejujurnya surat elektronik dari kamu sudah lama terhapus pula tidak seperti ucapan Buble….. And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you..Each one a line or two…. ); Don't Sleep Away This Night- Daniel Sahuleka (sembari menyimak kalimat-kalimat.....Don't sleep away this night my baby… Please stay with me at least 'till dawn…. saya membayangkan Daniel Sahuleka tinggal di Belanda yang bertetangga negara dengan tempatmu berada kan?), atau ”Don’t Wanna Miss A Thing”-Aerosmith hingga ”It Might Be You” dari Stephen Bishop. Segala lirik yang membuatku merajut mimpi “Suatu Hari..”

Kita memang bukan satu paket berdua.
Kita memang bukan cangkang kerang yang menyatu.
Kita laut dan pasir yang bercumbu.
Yang berpisah dan kembali. (Berulang kali)
Kita memang terbiasa pergi membentang mimpi, lalu kembali bertemu di satu titik. Kita juga pernah berdansa di hari-hari bahagia.
Kita pernah menari di atas kesedihan.
Kita sering berpisah untuk saling membutuhkan.
Terima kasih engkau ada setiap saya menangis dan butuh pegangan.
Kata kamu, saya mata air tak mampu kau bendung.
Kata saya, kamu si angkuh terlalu pongah sebagai pria.
Kata kamu, saya si pribadi bimbang bikin bingung.
Kata saya, kamu harusnya menjadi pawang bagi si tak tetap hati.
Kali ini kamu pergi.
Kali ini pintu kembali telah tersegel.
Seluruh darahku membeku, dan –aneh- saya cepat melupakan kamu.
(*)Tapi semalam kubermimpi menjadi Estella bergaun hitam,
Mengajakmu berdansa mengikuti Besame Mucho
Menari di Paradiso Perduto
Demi kenangan dan penasaran
’Krak..’
Suatu suara memecah keceriaan kita
”Bunyi apa itu?” tanya kamu
”Hati ku patah......” jawabku
Pagi ini aku terbangun
Menangis....
(*) terinspirasi dari film Great Expectations (1998)
P.S. 1 : Masihkah kamu berkunjung ke blog ku? Terima kasih untuk pesan pendeknya. Wish U all the best. Tunggu sampai saya sanggup menyapa kamu :)
P.S. 2 : Saya menuliskan ini dan ..... Uff, lega!
(Gambar dikutip dari film "Great Expectations")
Jenuh
Anggap saja cerita kita,
‘One night stand’ sembilan bulan,
Saat degup ku terpacu antara dia dan kamu,
bahagiaku untuk kamu si lelaki hutan
dan janji ’tuk pria jangka panjangku
Maaf! ini bukan keindahan perbedaan dalam kebersamaan
”Dosa kepada pasangan masing-masing,” kata kamu
Agh! pasti kita tak ingat itu!
Pasti waktu itu kamu penasaran padaku kan?
Kamu panas dingin bertemu diriku yang cerdas
Kamu tersihir ciumanku
”Barang Bagus” atau ”Barang Baru”, entah apa namanya
Yang penting kita lanjutkan sebagai ’The One’
Kini sembilan bulan berlalu
Janin kita siap lahir
Mari kita namakan dia ”J.E.N.U.H”
‘One night stand’ sembilan bulan,
Saat degup ku terpacu antara dia dan kamu,
bahagiaku untuk kamu si lelaki hutan
dan janji ’tuk pria jangka panjangku
Maaf! ini bukan keindahan perbedaan dalam kebersamaan
”Dosa kepada pasangan masing-masing,” kata kamu
Agh! pasti kita tak ingat itu!
Pasti waktu itu kamu penasaran padaku kan?
Kamu panas dingin bertemu diriku yang cerdas
Kamu tersihir ciumanku
”Barang Bagus” atau ”Barang Baru”, entah apa namanya
Yang penting kita lanjutkan sebagai ’The One’
Kini sembilan bulan berlalu
Janin kita siap lahir
Mari kita namakan dia ”J.E.N.U.H”
Satu Sama
Hai kamu lelaki hidung belang
Mari menyusu di buaian buaya betina
Tanpa mukicari, tanpa teman curhat
Rahasiamu aman di tangan pemain solo
Aku si buaya darat berkelamin betina
Kamu mau kulayani gaya apa?
Rindu merayu, gadis manis nan patuh, atau putri baik hati,
Ratu es versus seksi menggoda, manja versus jinak laknat
Saya angkat kaki setelah sama-sama puas
Kamu suka, saya ada,
Kamu mau sama saya,
Jangan minta lebih,
Syaratnya : Ikuti aturanku.
Mari menyusu di buaian buaya betina
Tanpa mukicari, tanpa teman curhat
Rahasiamu aman di tangan pemain solo
Aku si buaya darat berkelamin betina
Kamu mau kulayani gaya apa?
Rindu merayu, gadis manis nan patuh, atau putri baik hati,
Ratu es versus seksi menggoda, manja versus jinak laknat
Saya angkat kaki setelah sama-sama puas
Kamu suka, saya ada,
Kamu mau sama saya,
Jangan minta lebih,
Syaratnya : Ikuti aturanku.
BLT

Apa yang kau banggakan, tuan?
Ketika rakyat mengantri dan menangis
Apa yang kau sumbangkan
demi .....yang kata Tan Malaka, demi tumpah darah
Ketika kami lecet kaki mengukur jalan
Ya! memang kami berdarah
Apa yang kau ajarkan,
Ketika kami jadi pengemis
Dulu IMF kini BLT
Tuan jadi raja kecil kaum paria
(Keterangan gambar : dokumen Tempo – Warga Miskin Antre Dana BLT Tahap IV di Wangon, Banyumas – Oleh : Arie Basuki (TEMPO)).
Thursday, May 29, 2008
"Berlebihan" atau "Tidak di Saat yang Tepat"? (Promosi Tung Desem)
Motivator Tung Desem Waringin mau tebar duit Rp 100 juta di Parkir Timur Senayan tgl 1 Juni nanti. Menurut berita yang saya baca di website Detik ini, hal tersebut dilakukan terkait peluncuran buku terbarunya.
Yah! Orang ini memang terkenal dengan trik marketing yang bombastis dalam mempromosikan bukunya. Sebelumnya, waktu mempromosikan buku ”Financial Revolution”, Tung naik kuda menyusuri jalan Sudirman. Memancing perhatian masyarakat melalui hal spektakuler sepertinya menjadi triknya. Saya yang mengulas rencana promosi bukunya, secarat tidak langsung juga menjadi media promosional bagi motivator berusia 42 tahun itu.
Namun, trik di atas apakah tidak berlebihan? Maksudku, di tengah sebagian besar masyarakat tengah ’berteriak’ akibat kenaikan harga BBM, diikuti sejumlah kenaikan bahan pokok (malah, sudah jauh hari harga-harga barang kebutuhan sudah naik duluan), transportasi, gas habis, dsb?
Bahkan, baca Koran Tempo hari ini (Kamis, 29/5) tarif jalan tol Jakarta-Cikampek yang naik, saya perkirakan bakal berimplikasi terhadap kenaikan komoditas dan produk tertentu. Bukankah jalur tol tersebut adalah rute ’gemuk’ dan strategis? Jalur sepanjang 72 kilometer sebagai akses Pantai Utara Jawa (Pantura), menghubungkan Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Berapa banyak truk yang bolak balik mengangkut komoditas, bahan baku atau produk hasil jadi dari pabrik-pabrik di luar Jakarta? Sudah harga bensin melonjak, komponen harga transportasi (tarif tol) ikut loncat. Dari dulu pengelola jalan tol selalu berdalih demi meningkatkan pelayanan.
Ya ampun! Saya membayangkan Parkir Timur Senayan pada Ahad nanti bakal dipadati orang-orang seperti antri sembako. Ada yang pingsan, kecapean, atau berakhir rusuh. Memang dalam berita di website tidak dijelaskan, apakah uang dalam bentuk lembaran. Atau kalau dalam bentuk recehan, hehe.. siap-siap bawa baskom dan helm supaya kepala ga benjut kena sambit!
Silahkan saja cara berpromosi demikian dilakukan. Hanya saja, momennya sekarang ini kurang tepat. Di tengah orang sedang mengantri menjadi ’rakyat miskin’ dan mencairkan bantuan tunai langsung.
Akan tetapi, kalau gua ga ada kerjaan, daripada bengong di kos, mungkin acara tersebut bisa diagendakan dalam kegiatanku di hari libur. Sambil bawa body protector, sepatu kets, dan tas besar, supaya gesit di antara keramaian.
Yah! Orang ini memang terkenal dengan trik marketing yang bombastis dalam mempromosikan bukunya. Sebelumnya, waktu mempromosikan buku ”Financial Revolution”, Tung naik kuda menyusuri jalan Sudirman. Memancing perhatian masyarakat melalui hal spektakuler sepertinya menjadi triknya. Saya yang mengulas rencana promosi bukunya, secarat tidak langsung juga menjadi media promosional bagi motivator berusia 42 tahun itu.
Namun, trik di atas apakah tidak berlebihan? Maksudku, di tengah sebagian besar masyarakat tengah ’berteriak’ akibat kenaikan harga BBM, diikuti sejumlah kenaikan bahan pokok (malah, sudah jauh hari harga-harga barang kebutuhan sudah naik duluan), transportasi, gas habis, dsb?
Bahkan, baca Koran Tempo hari ini (Kamis, 29/5) tarif jalan tol Jakarta-Cikampek yang naik, saya perkirakan bakal berimplikasi terhadap kenaikan komoditas dan produk tertentu. Bukankah jalur tol tersebut adalah rute ’gemuk’ dan strategis? Jalur sepanjang 72 kilometer sebagai akses Pantai Utara Jawa (Pantura), menghubungkan Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Berapa banyak truk yang bolak balik mengangkut komoditas, bahan baku atau produk hasil jadi dari pabrik-pabrik di luar Jakarta? Sudah harga bensin melonjak, komponen harga transportasi (tarif tol) ikut loncat. Dari dulu pengelola jalan tol selalu berdalih demi meningkatkan pelayanan.
Ya ampun! Saya membayangkan Parkir Timur Senayan pada Ahad nanti bakal dipadati orang-orang seperti antri sembako. Ada yang pingsan, kecapean, atau berakhir rusuh. Memang dalam berita di website tidak dijelaskan, apakah uang dalam bentuk lembaran. Atau kalau dalam bentuk recehan, hehe.. siap-siap bawa baskom dan helm supaya kepala ga benjut kena sambit!
Silahkan saja cara berpromosi demikian dilakukan. Hanya saja, momennya sekarang ini kurang tepat. Di tengah orang sedang mengantri menjadi ’rakyat miskin’ dan mencairkan bantuan tunai langsung.
Akan tetapi, kalau gua ga ada kerjaan, daripada bengong di kos, mungkin acara tersebut bisa diagendakan dalam kegiatanku di hari libur. Sambil bawa body protector, sepatu kets, dan tas besar, supaya gesit di antara keramaian.
Wednesday, May 28, 2008
Mei
Biasanya saya suka Mei.
Mei adalah musim semi bagiku.
Ia membuatku tersenyum dengan mata berbinar.
Mei pernah kelabu. Pernah berdarah.
Tidak menyenangkan bagi semua orang.
Tapi saya masih suka dengan Mei.
Hanya ada Mei sebagai titik awal.
Semua dimulai dari Mei.
Aku benci Mei kali ini.
ketika kenyataan tak sesuai rencana.
ketika rencana tak terealisasi.
Ketika langkah tersendat.
Lost-orientation? Bloody moody?
”Dimana Mei-ku yang indah?”
Mei adalah musim semi bagiku.
Ia membuatku tersenyum dengan mata berbinar.
Mei pernah kelabu. Pernah berdarah.
Tidak menyenangkan bagi semua orang.
Tapi saya masih suka dengan Mei.
Hanya ada Mei sebagai titik awal.
Semua dimulai dari Mei.
Aku benci Mei kali ini.
ketika kenyataan tak sesuai rencana.
ketika rencana tak terealisasi.
Ketika langkah tersendat.
Lost-orientation? Bloody moody?
”Dimana Mei-ku yang indah?”
Monday, May 26, 2008
Mending Abaikan dan Delete
Orang (ngaku) sibuk tapi kok masih bisa meluangkan waktu untuk mengetuk-ketuk jari di keyboard untuk tulisan semacam ini :
Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku
Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.
Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....
Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.
Thx uda mampir diWeb saya,saya juga bukan sdg berbasa-basi,skrng coba kamu bayangkan,kalo dalam 1hari ini sj,saya dikirimi E-mail ucapan say halo+dll+dst sebnyk 46Mper's,padahal mrk masuknya keFolder Group diMp'qu,nha kalo 1Mper's aja membawa 3user yg reverse ngikutin keContact'qu,berapa bnyk sy hrs nulis berX2 ke'mrk,dikarenakan sy ngeMPi tidak pake komputer,tapi pake Hp,yg sistem ketiknya satu2 ala SmS,jd klo ngga pake sistem 'Copy n Paste',apa nggak KRAM jempol sy?bisa dimengerti?btw thx d maen k Web aku
Ini sih memang bukan postingan seseorang di Guestbook milikku. Tapi, saya atau Anda mungkin pernah menemukan tulisan semodel ini? Soal keluhan cape membaca guestbook, mengomentari postingan di milis yang menurutnya tidak berguna, liat postingan di milis, dsb. Yah! Tapi inilah resiko ’bersosialisasi’ di dunia maya.
Daripada buang energi untuk mengetik hal2 di atas, lebih baik : ga usah ditulis. Abaikan dan Delete. Daripada buang waktu (buat si pembuat tulisan), bikin sakit hati yang membaca, dan menambah dosa hehehe....
Mungkin kalian bertanya mengapa saya juga meluangkan waktu untuk mengomentari hal ini? Karena sehari ini saya sudah membaca lebih dari 2 hal-hal semacam ini. Tadi pagi, seorang rekan memposting mengapa buang waktu mengirim diskusi ga jelas (bagi dia – tapi mungkin bagi saya, dan rekan-rekan lain berguna). Siang tadi juga membaca komentar di atas di Guestbook rekan MP saya (yang kayaknya sore ini sudah teman saya buang dari list buku tamunya), dan saya temukan komentar pedas seseorang di situs kenalan saya. Lalu sebagai moderator suatu milis, saya juga menengahi suatu persoalan yang berlarut-larut dan melebar jadi debat sengit.
Thursday, May 22, 2008
Ke Rumah
Friday, May 09, 2008
Jumat Ini...
Kamu pernah bangun pagi dan merasa malas ke kantor?
Duh, saya mengalami rasa itu Jumat ini (9/5). Cara melawan malas : segera bangkit dari tempat tidur, mandi, cuci rambut dsb.
Ohya, di kantorku setiap Jumat seolah ada ’peraturan tidak tertulis’, penampilan karyawan di Divisi Iklan pada hari itu menjadi lebih casual dan tidak seformil hari biasanya. Jadinya, saya menikmati dandan di hari terakhir dalam 5 hari kerja.
Coba memulas eye shadow hitam ditambah eye liner…. Haha, saya selalu ingin mencoba gaya ‘smoke eyes’ tapi belum pernah sempat mengujinya. Menikmati tatanan rambut hasil keramas plus wangi tonik.
Baju yang asyik dikenakan? Jeans... off course! Dan kaus pas badan dengan detil batu-batu permata imitasi di kerah (sebenarnya kaus andalan kalau lagi bingung cari atasan cukup pantas untuk jalan keluar hehe... )Oh yes! Here come my Friday!
(Gambar dikutip dari : www.makeupstore.se)
Duh, saya mengalami rasa itu Jumat ini (9/5). Cara melawan malas : segera bangkit dari tempat tidur, mandi, cuci rambut dsb.

Ohya, di kantorku setiap Jumat seolah ada ’peraturan tidak tertulis’, penampilan karyawan di Divisi Iklan pada hari itu menjadi lebih casual dan tidak seformil hari biasanya. Jadinya, saya menikmati dandan di hari terakhir dalam 5 hari kerja.
Coba memulas eye shadow hitam ditambah eye liner…. Haha, saya selalu ingin mencoba gaya ‘smoke eyes’ tapi belum pernah sempat mengujinya. Menikmati tatanan rambut hasil keramas plus wangi tonik.
Baju yang asyik dikenakan? Jeans... off course! Dan kaus pas badan dengan detil batu-batu permata imitasi di kerah (sebenarnya kaus andalan kalau lagi bingung cari atasan cukup pantas untuk jalan keluar hehe... )Oh yes! Here come my Friday!
(Gambar dikutip dari : www.makeupstore.se)
Monday, May 05, 2008
FS bikin dag dig dug
Tadi via YM, temenku I'pey minta saya meng-klik : http://profiles.friendster.com/66668743.
"Kamu kenal kan, No?" kata temanku yang kukenal sewaktu skripsi dulu. Yah, kukira dia memberi link teman masa lalu alias jadul. Saya pun meng-klik... wuah!! asli kaget.
Lagian siapa sih bocah gila yang tega memposting foto neneknya untuk bikin jantung dag dig dug... X(
(semakin bertambah usia, hormon adrenalin dan urat nyali makin kendur ....)
"Kamu kenal kan, No?" kata temanku yang kukenal sewaktu skripsi dulu. Yah, kukira dia memberi link teman masa lalu alias jadul. Saya pun meng-klik... wuah!! asli kaget.
Lagian siapa sih bocah gila yang tega memposting foto neneknya untuk bikin jantung dag dig dug... X(
(semakin bertambah usia, hormon adrenalin dan urat nyali makin kendur ....)
Sunday, May 04, 2008
Rindu Makan Soto Betawi
Jumat malam, sepulang kerja, langsung pulang ke Bogor. Saatnya pulang kampung, rindu rumah, dan ingin memanjakan lidah dengan masakan mama. Hmm, nyokap ku memang jago masak :p~
Namun pulang ke Bogor, malah melanglang cari makanan di luar. Beberapa hari ini, saya ingin makan soto betawi, yang menurutku terenak itu ada di jalan Padang, dekat kantor lama saya. Kalau tidak salah namanya Soto Betawi Haji Husein (hehe.. bukan berpromosi sih). Sayangnya sih ga kesampaian. Pertimbangannya karena jarak tempat kerja sekarang ke Manggarai sudah jauh (males agh jauh-jauh jalan ke sana demi semangkuk soto ... ). Alasan malas lainnya adalah jam paling afdol untuk datang ke sana sekitar jam 11-an, saat orang belum ramai makan siang, dan tentu saja pilihan daging dan jeroan masih variatif.
Akhirnya, keinginan makan daging kaki empat (haha.. gw dah berjanji mengurangi mengunyah daging hewan berkaki empat seperti sapi atau kambing. Jadi, karena ’mengurangi’ dan bukan ’pantang’ maka boleh lah menikmati santapan berbahan daging merah itu sesekali....) kesampaian pada Sabtu siang di Bogor.
Di kawasan Air Mancur yang memang sebagai pusat jajanan di kota hujan, ada tempat yang namanya Mang Endang, yang terkenal karena sup buntutnya. Tapi bagi saya (yang memang tidak doyan makan sup buntut), yang enak itu soto dagingnya. Satu porsi berisi keratan daging sapi empuk tanpa lemak, serta berkuah santan diperkaya cacahan daun bawang dan sereh. Memang miskin sayur. Sedap dilahap bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng.. plus kecap manis.
Hua .. kesampaian juga makan soto bersantan gurih. Pulang dari sana, nyambung ke supermarket belanja bersama keponakan. Keinginan lain, ingin menyantap chicken nugget. Agh, dasar kelamaan jadi anak kos-kosan, sepertinya lidah ini terbiasa makanan beli di luar... Agh, lupakanlah berapa besar asupan yang masuk berbanding lurus lenyeh-lenyeh di akhir pekan.Sepulang dari rumah, jangan lupa untuk kembali membakar kalori melalui olahraga :D

(Gambar ini bukan bentuk soto daging di Mang Endang ya....)
Namun pulang ke Bogor, malah melanglang cari makanan di luar. Beberapa hari ini, saya ingin makan soto betawi, yang menurutku terenak itu ada di jalan Padang, dekat kantor lama saya. Kalau tidak salah namanya Soto Betawi Haji Husein (hehe.. bukan berpromosi sih). Sayangnya sih ga kesampaian. Pertimbangannya karena jarak tempat kerja sekarang ke Manggarai sudah jauh (males agh jauh-jauh jalan ke sana demi semangkuk soto ... ). Alasan malas lainnya adalah jam paling afdol untuk datang ke sana sekitar jam 11-an, saat orang belum ramai makan siang, dan tentu saja pilihan daging dan jeroan masih variatif.
Akhirnya, keinginan makan daging kaki empat (haha.. gw dah berjanji mengurangi mengunyah daging hewan berkaki empat seperti sapi atau kambing. Jadi, karena ’mengurangi’ dan bukan ’pantang’ maka boleh lah menikmati santapan berbahan daging merah itu sesekali....) kesampaian pada Sabtu siang di Bogor.
Di kawasan Air Mancur yang memang sebagai pusat jajanan di kota hujan, ada tempat yang namanya Mang Endang, yang terkenal karena sup buntutnya. Tapi bagi saya (yang memang tidak doyan makan sup buntut), yang enak itu soto dagingnya. Satu porsi berisi keratan daging sapi empuk tanpa lemak, serta berkuah santan diperkaya cacahan daun bawang dan sereh. Memang miskin sayur. Sedap dilahap bersama nasi putih yang ditaburi bawang goreng.. plus kecap manis.
Hua .. kesampaian juga makan soto bersantan gurih. Pulang dari sana, nyambung ke supermarket belanja bersama keponakan. Keinginan lain, ingin menyantap chicken nugget. Agh, dasar kelamaan jadi anak kos-kosan, sepertinya lidah ini terbiasa makanan beli di luar... Agh, lupakanlah berapa besar asupan yang masuk berbanding lurus lenyeh-lenyeh di akhir pekan.Sepulang dari rumah, jangan lupa untuk kembali membakar kalori melalui olahraga :D

(Gambar ini bukan bentuk soto daging di Mang Endang ya....)
Mencintai atau Dicintai
Dari teman (postingan blog), saya mendapat pertanyaan mengetuk hati. Lebih baik ”mencintai” atau ”dicintai”? Hmff.. kurasa dua hal itu resiprokal. Timbal balik. Ga ada pilihan lebih baik atau lebih jelek.
Hanya saja, jika.. nah jika.. harus memilih salah satu -tentunya- lebih baik “dicintai”. Dan, saya tidak percaya tentang kalimat ’cinta tak harus memiliki’.

Mati Rasa
: Cerita standar dalam kehidupan manusia
Uff, memang bukan tabiatmu menjadi perasa
Perasa perasaan orang
Kamu ga tau kalau saya tersiksa?
Tersiksa karena kamu
Saya pun bukan manusia menunggu
Kurasa ’menunggu’ adalah pemujaan semu
Saat tangis dan degup terasa mengalun perih
Saat senyum berpadu lonjakan rasa
Ketika hati terpecah makin jauh
Mari berpacu dengan detak waktu
Semakin hari, semakin kamu lupa
Semakin hari, semakin lupa kamu
Semakin lama, semakin terhapus rona diri kamu
(gambar dikutip dari : www.art.com)
Hanya saja, jika.. nah jika.. harus memilih salah satu -tentunya- lebih baik “dicintai”. Dan, saya tidak percaya tentang kalimat ’cinta tak harus memiliki’.

Mati Rasa
: Cerita standar dalam kehidupan manusia
Uff, memang bukan tabiatmu menjadi perasa
Perasa perasaan orang
Kamu ga tau kalau saya tersiksa?
Tersiksa karena kamu
Saya pun bukan manusia menunggu
Kurasa ’menunggu’ adalah pemujaan semu
Saat tangis dan degup terasa mengalun perih
Saat senyum berpadu lonjakan rasa
Ketika hati terpecah makin jauh
Mari berpacu dengan detak waktu
Semakin hari, semakin kamu lupa
Semakin hari, semakin lupa kamu
Semakin lama, semakin terhapus rona diri kamu
(gambar dikutip dari : www.art.com)
Bis Malam (Puisi Transport 1)
Tubuh makin terpojokKepalanya makin terkulai
Bahu diri disangka bantal
Tolak… tidak…
Tolak.. tidak…
Hmm ganteng sih,
Kalau nggak, wah! langsung jitak!
Tapi males deh... :p
Tetap saja ga kenal!
Badan ku merangsek ke muka
hirup udara segar di ruang terbatas
Sang pemuda cari sandaran baru, berbalik arah
Tetap pulas
”Ini contoh mekanisme reflek ya?”
Sebal juga karena tidur tak menular
Menatap jendela menampilkan kelam
Butiran air terjatuh dari langit
Tak ada suara, hanya hening terpecah alunan tidur dari belakang
Menebus cape, melepas beban 5 hari kerja
Atau cara menanti terbaik
Sebelum sampai terminal Baranangsiang.
lebak bulus-bogor
Jumat 2 Mei’08
(Gambar dikutip dari : www.fine-art.com)
Angkot (Puisi Transport 2)
Beberapa waktu lalu, saya menginap di rumah teman di daerah Ciputat. Minta bantuan dia yang lebih jago komputer untuk belajar program modifikasi gambar dan mengutak-atik blog.
Buat saya yang terbiasa jarak dekat –dari rumah kos dan kantor, pulang pergi cukup jalan kaki sekitar 10 menit- suatu pengalaman baru rute Lebak Bulus-Ciputat. Bergegas dalam gigi 3, bangun pagi sebelum mentari menyembul dari balik awan menuju kantor (terlambat sedikit, sudah kena macet), dan pulang ’menikmati’ lagi kehebohan mencari transportasi umum yang mengantarkan kita kembali ke rumah. Yah, beginilah kaum urban belantara metropolitan. Kawasan perumahan di sisi pinggir Jakarta, sementara denyut perekonomian (dan perkantoran) ada di tengah ibukota.
Saya merasakan jadi kaum urban dengan menyaksikan hal-hal baru. Pemandangan di angkot : orang tidur; kumpulan ibu-ibu yang punya energi untuk bergosip ria di dalam angkutan umum; wajah-wajah kelelahan; wanita pekerja di tengah keletihan masih harus memperhatikan posisi duduk supaya paha tak tersingkap dari balik rok span yang sudah minimalis; dering handphone dari berbagai sudut. Dan entah kenapa, bisa menimbulkan ide untuk mencoretkan puisi.
Angkot (Puisi Transport 2)
Terkantuk-kantuk,
Terantuk-antuk,
Badan bergoyang mengikuti irama roda empat,
Mata terpejam membayar sisa malam,
Berkejaran dengan mentari merayap,
Badan dan badan makin merapat,
Ruang pengap memanggang panas dan peluh,
Aroma parfum pun hancur,
Terlindas keringat mengucur.
Selamat pagi Jakarta!
Kusapa kamu dengan debu angkot.
(catatan : kenangan awal pekan berangkat naik angkot dari Ciputat ke Jakarta)
Buat saya yang terbiasa jarak dekat –dari rumah kos dan kantor, pulang pergi cukup jalan kaki sekitar 10 menit- suatu pengalaman baru rute Lebak Bulus-Ciputat. Bergegas dalam gigi 3, bangun pagi sebelum mentari menyembul dari balik awan menuju kantor (terlambat sedikit, sudah kena macet), dan pulang ’menikmati’ lagi kehebohan mencari transportasi umum yang mengantarkan kita kembali ke rumah. Yah, beginilah kaum urban belantara metropolitan. Kawasan perumahan di sisi pinggir Jakarta, sementara denyut perekonomian (dan perkantoran) ada di tengah ibukota.
Saya merasakan jadi kaum urban dengan menyaksikan hal-hal baru. Pemandangan di angkot : orang tidur; kumpulan ibu-ibu yang punya energi untuk bergosip ria di dalam angkutan umum; wajah-wajah kelelahan; wanita pekerja di tengah keletihan masih harus memperhatikan posisi duduk supaya paha tak tersingkap dari balik rok span yang sudah minimalis; dering handphone dari berbagai sudut. Dan entah kenapa, bisa menimbulkan ide untuk mencoretkan puisi.
Angkot (Puisi Transport 2)
Terkantuk-kantuk,
Terantuk-antuk,
Badan bergoyang mengikuti irama roda empat,
Mata terpejam membayar sisa malam,
Berkejaran dengan mentari merayap,
Badan dan badan makin merapat,
Ruang pengap memanggang panas dan peluh,
Aroma parfum pun hancur,
Terlindas keringat mengucur.
Selamat pagi Jakarta!
Kusapa kamu dengan debu angkot.
(catatan : kenangan awal pekan berangkat naik angkot dari Ciputat ke Jakarta)
Saturday, May 03, 2008
Indonesia - Inggris, Please
Suatu klien, maskapai penerbangan asing minta Saya meng-Indonesiakan ”most frequent traveller” dan tidak merasa cocok dengan penerjemahan sebagai “pelanggan”.
Hmm.. suatu penerjemahan yang simpel dan sederhana, bukan?
Akan tetapi, klien tidak mau. Dan, namanya juga mengikuti apa kata klien, saya harus mencari padanan yang tepat. Selain menunjukkan diri cerdas mampu menjawab permintaan mereka. Tiba-tiba pusing. Ke dalam materi awal tulisan, Saya memang meletakkan bahasa Indonesia dan Inggris secara campur aduk jadi padu. Suatu maskapai penerbangan nasional saja menggunakan kata ”Frequent Flyer” dan tidak meng-Indonesia-kannya menjadi ”Konsumen Loyal” dan toh, kebanyakan dari kita secara sadar (atau tidak) sudah mengerti apa yang hendak disampaikan tulisan itu.
Ketika Saya dan kebanyakan manusia Indonesia terbiasa dengan media publikasi –seperti majalah lisensi asing dan tayangan televisi- atau lagu yang campur sari. Padu padankan bahasa ibu dengan asing. ”Liga Premiere”, ”Bonus : Free Magazine...”, ”Cara Pakai Mr. Happy (haha.. ini mungkin memang cocok untuk memperhalus bahasa yang jika di-Indonesia-kan jadi kena isu pornografi bagi masyarakat kita yang sering tabu membicarakan hal-hal begituan), ”Jadi Pacar Perfect”...dsb.
Tayangan infotainment pun menampilkan selebritas yang menyampaikan komentar dalam bahasa aduk-aduk.
Saya terpesona memandangi kecantikan seorang model peranakan Indonesia dan bule. Bahasa Indonesianya yang patah-patah pun Saya tak peduli (padahal dia mengais Rupiah di Indonesia hehe...).
Nah, permintaan klien asing ini untuk meng-Indonesiakan semua kata, justru membuat saya garuk kepala. Tersadar kalau si klien dari negeri tetangga saja justru mengingatkan, ”Gunakan Bahasa Indonesia yang Baku dan Benar” di majalah nasional.
Saya pun sore itu segera lari-lari ke perpustakaan kantor. Buka-buka kamus, cari-cari inspirasi di belantara media. Lidah tiba-tiba terasa asam, ingin memantik sebatang rokok tapi sudah berjanji tidak bakal ngebul. Akhirnya, saya pun menemukan ide. Dan maskapai penerbangan itu setuju dengan : ”most frequent traveller” dialih bahasakan menjadi ”pengguna loyal transportasi udara”.
Saya jadi tersadar diri ini –seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya- sudah terbiasa menggunakan Indonesia Inggris secara gado-gado. Ketimbang cari padanan kata dalam bahasa nasional, kita lebih memilih memiringkan bahasa asing ke dalam tulisan. Dalam membuat tulisan terkait profesi jurnalis dan penulis, Saya juga biasa memiringkan kata-kata. ”Orang juga sudah mengerti maksudnya,” demikian pemikiran kita. Lebih gampang. Walaupun jadi lupa untuk memperkaya kosa kata :)
Hmm.. suatu penerjemahan yang simpel dan sederhana, bukan?
Akan tetapi, klien tidak mau. Dan, namanya juga mengikuti apa kata klien, saya harus mencari padanan yang tepat. Selain menunjukkan diri cerdas mampu menjawab permintaan mereka. Tiba-tiba pusing. Ke dalam materi awal tulisan, Saya memang meletakkan bahasa Indonesia dan Inggris secara campur aduk jadi padu. Suatu maskapai penerbangan nasional saja menggunakan kata ”Frequent Flyer” dan tidak meng-Indonesia-kannya menjadi ”Konsumen Loyal” dan toh, kebanyakan dari kita secara sadar (atau tidak) sudah mengerti apa yang hendak disampaikan tulisan itu.
Ketika Saya dan kebanyakan manusia Indonesia terbiasa dengan media publikasi –seperti majalah lisensi asing dan tayangan televisi- atau lagu yang campur sari. Padu padankan bahasa ibu dengan asing. ”Liga Premiere”, ”Bonus : Free Magazine...”, ”Cara Pakai Mr. Happy (haha.. ini mungkin memang cocok untuk memperhalus bahasa yang jika di-Indonesia-kan jadi kena isu pornografi bagi masyarakat kita yang sering tabu membicarakan hal-hal begituan), ”Jadi Pacar Perfect”...dsb.
Tayangan infotainment pun menampilkan selebritas yang menyampaikan komentar dalam bahasa aduk-aduk.
Saya terpesona memandangi kecantikan seorang model peranakan Indonesia dan bule. Bahasa Indonesianya yang patah-patah pun Saya tak peduli (padahal dia mengais Rupiah di Indonesia hehe...).
Nah, permintaan klien asing ini untuk meng-Indonesiakan semua kata, justru membuat saya garuk kepala. Tersadar kalau si klien dari negeri tetangga saja justru mengingatkan, ”Gunakan Bahasa Indonesia yang Baku dan Benar” di majalah nasional.
Saya pun sore itu segera lari-lari ke perpustakaan kantor. Buka-buka kamus, cari-cari inspirasi di belantara media. Lidah tiba-tiba terasa asam, ingin memantik sebatang rokok tapi sudah berjanji tidak bakal ngebul. Akhirnya, saya pun menemukan ide. Dan maskapai penerbangan itu setuju dengan : ”most frequent traveller” dialih bahasakan menjadi ”pengguna loyal transportasi udara”.
Saya jadi tersadar diri ini –seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya- sudah terbiasa menggunakan Indonesia Inggris secara gado-gado. Ketimbang cari padanan kata dalam bahasa nasional, kita lebih memilih memiringkan bahasa asing ke dalam tulisan. Dalam membuat tulisan terkait profesi jurnalis dan penulis, Saya juga biasa memiringkan kata-kata. ”Orang juga sudah mengerti maksudnya,” demikian pemikiran kita. Lebih gampang. Walaupun jadi lupa untuk memperkaya kosa kata :)
Friday, May 02, 2008
Selingkuh Mata
Agh kamu!
Yang membuatku bersemu pipi jingga
Saat mata kita tertumbuk
Dan diri terpekur
Kamu keajaiban terindah
Dalam sepelemparan jarak
Kutangkap kejora di bening matamu,
Kulumat sampai cair.
Saat kita berpandangan,
Tiba-tiba suara bariton itu memecah pikiran,
”Kamu kenapa?”
”Tidak...” dan ku pun berpaling,
Menatap telaga teduh di sampingku.
Yang membuatku bersemu pipi jingga
Saat mata kita tertumbuk
Dan diri terpekur
Kamu keajaiban terindah
Dalam sepelemparan jarak
Kutangkap kejora di bening matamu,
Kulumat sampai cair.
Saat kita berpandangan,
Tiba-tiba suara bariton itu memecah pikiran,
”Kamu kenapa?”
”Tidak...” dan ku pun berpaling,
Menatap telaga teduh di sampingku.
Monday, April 28, 2008
How Manipulate U Are? Terinspirasi dari Street Kings

Beberapa waktu lalu, saya menonton “Street Kings”. Film yang cukup bagus diantara berbagai pilihan tayangan di 21 yang seputar film Indonesia yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, tapi semakin ga menarik ditonton.
Selain itu, alasan lainnya, saya bisa memandangi lagi wajah Keanu Reeves yang masih seganteng seperti 10 tahun lalu ketika bermain dalam film "Speed" (ups, jangan-jangan dia suntik Botox hehehe....).
Alur cerita film bergenre action ini memang standar. Menyorot hitam putih dan polisi kotor. Keanu Reeves berperan sebagai Tom Ludlow, detektif LAPD yang mencari penyebab kematian mantan partnernya Terrance Washington (Terry Crews).
Namun tunggu dulu! Ludlow sendiri bukan jenis penegak hukum yang bersih. Selain tukang mabuk, Ludlow sering melanggar prosedur. Dan kinerjanya yang bagus di lapangan –meski banyak pelanggaran- selalu ditutupi sang bos, Kapten Jack Wander.
Dari awal kita bisa menebak bahwa kapten dan rekan-rekan berada di belakang aksi pembunuhan dan kejahatan yang diselidiki Ludlow. Tapi, ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakangnya. Film ini memotret polisi kotor, ketika menggunakan ‘aib’ orang sebagai alat pemerasan, atau menyalah gunakan jabatan dan kuasa demi mewujudkan ambisi pribadi. Hmm.. suatu gambaran yang bisa terjadi di negara mana saja, di berbagai jenis pekerjaan dan strata sosial, bukan?
Saya jadi membayangkan kalau diri ini menjadi manusia yang manipulatif. Melihat celah, menjadikan ‘rahasia’ orang untuk mesin cetak duit, atau menerapkan asas manfaat yang teramat sangat. Hmm, betapa cepat kayanya gw ya.. Auch! Tapi menyeramkan agh. Ketika kamu memilih jalan itu, maka ada kenikmatan sekaligus konsekuensi tersendiri.
Sudahlah Eno.. sing lurus-lurus saja... Allah juga ‘mendengar dan menjawab’ doa hambaNya yang bersyukur dan mengolah rezeki secara halal....
Ohya, berarti saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk teman saya yang bersedia ‘menarik-narik’ saya ke bioskop. Gara-gara dia ingin melunturkan ke-bete-an saya, kata dia saya perlu refreshing nonton. Walah bener tuh! Udah beberapa bulan ini saya tidak nonton di bioskop. Thanks ya bro...
Btw, si Keanu Reeves dalam film ini tampak kalah ganteng dengan detektif muda yang diperankan Chris Evans. Haha.. namanya juga yang baru itu lebih segar!
Saturday, April 26, 2008
ke Dokter Gigi
Kemarin pergi ke dokter gigi. Yah, ada lubang kecil di gigi atas. Namun, sepertinya ini juga memicu migren di kepala. Apalagi, jika dari cuaca panas, trus masuk ke ruangan ber-AC. Wuii.... jangan2 ini yang bikin gw belakangan ini galak hehe..
Untung saya sudah menemukan dokter gigi yang cocok. Seorang ibu yang sabar menangani pasiennya. Nah, ini pesan dokter gigiku itu : segera ke dokter jika gigi ada masalah. Lubang kecil pada gigi, dan tertangani secara cepat, maka proses penanganannya juga tidak seribet kalau sudah parah bukan?! Selain itu, periksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi 1x setahun.
Untung saya sudah menemukan dokter gigi yang cocok. Seorang ibu yang sabar menangani pasiennya. Nah, ini pesan dokter gigiku itu : segera ke dokter jika gigi ada masalah. Lubang kecil pada gigi, dan tertangani secara cepat, maka proses penanganannya juga tidak seribet kalau sudah parah bukan?! Selain itu, periksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi 1x setahun.
Wednesday, April 23, 2008
Yang Hilang Muncul Kembali (Masih Soal si blog)
Setelah melewati berjam-jam nongkrong di warnet memandangi layar monitor pada Sabtu pekan lalu (19/4), lihat hasilnya : Blog saya mulai kembali semarak !!
Memang sih masih proses perbaikan, tapi sudah much better ketimbang seminggu sebelumnya. Muah … muah… thanks ya Ajeng untuk bantu diriku yang memang suka teledor ini membetulkan template yang terhapus. Memang benar deh! Kehandalan kamu terbukti sebagai hasil kuliah di jurusan komputer dan berkutat dengan IT bertahun-tahun :)
Yap! Gara-gara bosan dengan tampilan lama, saya mengganti tampilan muka blog dengan ’wajah’ baru. Akan tetapi, saya lupa menyimpan template lama sehingga beberapa bagian jadi hilang. Bagian tersebut antara lain : si shoutbox, link menuju website orang lain, dan statistik. Yah! Ada perasaan sesuatu yang dirawat sekian lama, telah hilang. (haha! Padahal ada juga periode ’mati suri’ terhadap blog ini).
Memang sih masih proses perbaikan, tapi sudah much better ketimbang seminggu sebelumnya. Muah … muah… thanks ya Ajeng untuk bantu diriku yang memang suka teledor ini membetulkan template yang terhapus. Memang benar deh! Kehandalan kamu terbukti sebagai hasil kuliah di jurusan komputer dan berkutat dengan IT bertahun-tahun :)
Yap! Gara-gara bosan dengan tampilan lama, saya mengganti tampilan muka blog dengan ’wajah’ baru. Akan tetapi, saya lupa menyimpan template lama sehingga beberapa bagian jadi hilang. Bagian tersebut antara lain : si shoutbox, link menuju website orang lain, dan statistik. Yah! Ada perasaan sesuatu yang dirawat sekian lama, telah hilang. (haha! Padahal ada juga periode ’mati suri’ terhadap blog ini).
Thursday, April 17, 2008
Ada yang Hilang
Agh!
Cuma itu yang saya bisa teriakkan.
Berawal dari rasa bosan melihat tampilan blog-ku yang sudah lawas. Tak berubah sejak pertama kali muncul pada 2005.
Setelah memposting satu tulisan pada Jumat pekan lalu (12/4), saya pun mengarahkan cursor ke ’Change Template’... klik, klik, klik.. dan voila! Berubahlah tampilan blog saya.
Tapi.. tapi...lho, kok ada hilang?
”Lho, kan baru Preview (maksudnya baru mau melihat tampilan baru seperti apa)?” kataku membatin.
Dalam tampilan baru tidak ada boks Shoutbox, alamat-alamat link website rekan-rekan, jumlah trafik pengunjung sejak September 2007...Dan apesnya, saya lupa menyimpan template lama. hiks.. hiks..
Berulang kali saya bertanya kepada Ajeng, Merry, dan teman-teman lainnya soal tampilan baru. ”Gimana tampilan blog eno yang baru? Lebih oke nggak?”
Yah, kalau mereka mengatakan lebih bagus ketimbang yang lama, paling tidak ada pelipur lara gara-gara template yang hilang itu.
Hari ini, sudah hampir seminggu sejak kesalahan fatal itu terjadi. Dan, hingga kini saya belum menemukan cara mengembalikan arsip-2 yang ada. Terima kasih kepada teman2 yang pernah mampir di shoutbox-ku. Saya masih berusaha mengembalikan ’jejak para sahabat’ di ruang ini. Sabar ya..
Cuma itu yang saya bisa teriakkan.
Berawal dari rasa bosan melihat tampilan blog-ku yang sudah lawas. Tak berubah sejak pertama kali muncul pada 2005.
Setelah memposting satu tulisan pada Jumat pekan lalu (12/4), saya pun mengarahkan cursor ke ’Change Template’... klik, klik, klik.. dan voila! Berubahlah tampilan blog saya.
Tapi.. tapi...lho, kok ada hilang?
”Lho, kan baru Preview (maksudnya baru mau melihat tampilan baru seperti apa)?” kataku membatin.
Dalam tampilan baru tidak ada boks Shoutbox, alamat-alamat link website rekan-rekan, jumlah trafik pengunjung sejak September 2007...Dan apesnya, saya lupa menyimpan template lama. hiks.. hiks..
Berulang kali saya bertanya kepada Ajeng, Merry, dan teman-teman lainnya soal tampilan baru. ”Gimana tampilan blog eno yang baru? Lebih oke nggak?”
Yah, kalau mereka mengatakan lebih bagus ketimbang yang lama, paling tidak ada pelipur lara gara-gara template yang hilang itu.
Hari ini, sudah hampir seminggu sejak kesalahan fatal itu terjadi. Dan, hingga kini saya belum menemukan cara mengembalikan arsip-2 yang ada. Terima kasih kepada teman2 yang pernah mampir di shoutbox-ku. Saya masih berusaha mengembalikan ’jejak para sahabat’ di ruang ini. Sabar ya..
Aku membuang Dirinya

Aku membuang Dirinya
seperti langkah 'delete' dan 'empty recycle bin'
bagai tisu penuh ingus, segera bakar
supaya virus tidak menyebar, dan merusak otakku.
Semalam Aku menangisi Dirinya
Semenit mengenyahkan memori
sejam membungkus kenangan bersama
sehari menghibur diri.
Aku bisa membuang Dirinya
Meski butuh berulang kali
mendengar lagu sedih
dan membuat ipod-ku hang.
(puisi lama yg sudah pernah kuposting di milis BuMa, 24 Juli'07... agak kuedit sedikit)
(gambar dikutip dari : http://www.agnesw.com/wp-content/uploads/2007/04/cry.jpg)
Friday, April 11, 2008
Bekerja Pintar, Jujur dan Ingat Dia

Ada janji wawancara dengan seorang tokoh di dunia bisnis. Belum pernah bertemu, dan mengetahui wajahnya hanya dari foto kecil hasil browse di media. Saya membayangkan bakal bertemu pria jangkung, kurus, dan beruban. Tua deh...
Nah, akhirnya janji wawancara di gedung kantornya terealisasi di suatu malam. Masuk ke sebuah ruangan, saya agak tergagap disambut ramah seorang pria yang terlihat muda (yang pasti memang awal usia 40-an), tampil humble dalam seragam perusahaan. Dengan senyum yang lebar, dia menyambut kami dengan uluran tangan hangat. ”Gile asisten pribadinya ramah benar,” batinku. Lalu saya celingukan, mana sekat yang biasa membatasi ruangan bos dan sekretaris/asisten?
Barulah sedetik kemudian saya tersadar, ”Lho! Ini kan bapak yang kamu mau wawancara!”
(Dasar Eno dodol! Jelas-jelas tadi sore kamu kontak-kontakan dengan sekretarisnya –berarti asisten pribadinya- yang perempuan. Akan tetapi, karena kemacetan dan kemalaman, si sekretaris sudah mengabarkan bahwa dia pulang tanpa menunggu saya dan rekan).
Foto memang menipu. Lalu, saya pun sudah terlebih dahulu melakukan kesalahan awam. “Judge the book by it cover”. Ketika penelusuran diri dia di google (sebelum wawancara) membentuk opini saya bahwa dirinya sosok Midas -si pengubah perusahaan kolaps menjadi pencetak laba, si "think tank " di belakang inovasi bisnis- dan tentulah saya bakal bertemu sosok ‘keras’, ‘kaku’, yang bakal perlu penggalian atau ‘colekan menuju topik yang ia sukai’ untuk membuatnya berbicara.
Namun, ternyata pembicaraan mengalir dengan gaya bicaranya yang cenderung filosofis. Sesekali juga ketawa. Diantara berbagai hal yang dilontarkan bapak 3 anak itu, ada satu hal yang mengetuk hati saya malam ini. Yaitu pendapat dirinya tentang faktor-faktor penting kemajuan seorang karyawan di perusahaan. Pesannya, sebagai pekerja ada tiga hal yang harus dipegang : Bekerja pintar; Bekerja jujur; dan, Bertaqwalah dengan yang Diatas.
Bekerja keras, lembur, belum tentu menghasilkan output bagus. Yang penting soal 'pintar mengatur waktu' dan...tentu menghargai waktu yang tidak bakal kembali.
Jujur.. yah! dimana-mana menjadi manusia harus punya modal kepercayaan. Jika sekali tidak dipercaya oleh orang lain, maka sulit untuk menumbuhkan rasa percaya kembali (lebih parah lagi jika itu berbuntut soal nama baik kita).
Dan ingat, semuanya tentu atas restu Yang Maha Kuasa di atas. Kembali lagi pada persoalan mencari ketenangan, bersyukur, dan bekerja pintar dan 'lurus' juga merupakan bentuk menghargai karunia dari Dia.
Malam itu, seperti titik akhir rangkaian panjang setelah seharian saya tenggelam dalam diskusi bersama rekan-rekan yang berbeda dengan topik soal ’bekerja’ ; ’pindah kuadran’ ; ’masa depan’.
(Gambar dikutip dari www.savagechickens.com/images/chickenwork.jpg)
Tuesday, April 08, 2008
Dangkal…Dangkal….
Habis membaca tulisan seorang freelancer. “Pusing bacanya! Ide yang bagus, akan tetapi pengerjaan yang dangkal, isi tulisan kurang tergali. Dangkal. ” ujarku mengomentari dalam hati. Tentu komentar tadi tidak kulontarkan ke freelancer tersebut. Aku memuji idenya yang mengajak pembaca merasakan denyut perubahan suatu daerah sebagai hasil pembangunan dari tahun ke tahun.
”Pertahankan gaya itu! Tapi... (nah, ini pernyataan biasa sebelum masuk ke hal inti) sebagai pembaca diriku sulit menemukan data atau angka-angka sebagaimana yang dibutuhkan ketika kita membaca suatu laporan,” ujarku.
Ia tak membalas kata-kataku.
Kemudian, diriku kembali ke pekerjaanku. Memandangi layar widescreen 14,3 inci dan menemukan diri masih tak ada ide untuk melanjutkan tulisan kejar deadline sebagai bagian pekerjaan kantor.
Agh! Saya jadi memaki diri sendiri. “Dangkal! Dangkal!” Aku merasa tulisanku tidak ada ’aura’ nya untuk dihadirkan kepada pembaca. Diri ini rasanya tak terbawa dalam baris kata-kata yang mengalir dan menjiwai isi tulisan.
Hehe..ironis ya? Bisa mengomentari pekerjaan orang lain, akan tetapi pusing untuk pekerjaan sendiri. Huh! Inilah resiko menulis ”Made by Order”, sementara jiwa dan perasaan belum tune-in dengan materi yang perlu dipaparkan. Mungkin itu pula perasaan si freelancer itu ketika mengerjakan tugas yang saya komentari barusan.
Ini yang istilahnya problem menulis tanpa ada jiwa yang menyatu dengan materi yang mau dipaparkan. Salut kepada para penulis, yang telah menuliskan karyanya dan berhasil menulis buah pikiran secara bebas. Berarti mereka itu kaum yang telah : ”Menulis Dengan Merdeka.”
”Pertahankan gaya itu! Tapi... (nah, ini pernyataan biasa sebelum masuk ke hal inti) sebagai pembaca diriku sulit menemukan data atau angka-angka sebagaimana yang dibutuhkan ketika kita membaca suatu laporan,” ujarku.
Ia tak membalas kata-kataku.
Kemudian, diriku kembali ke pekerjaanku. Memandangi layar widescreen 14,3 inci dan menemukan diri masih tak ada ide untuk melanjutkan tulisan kejar deadline sebagai bagian pekerjaan kantor.
Agh! Saya jadi memaki diri sendiri. “Dangkal! Dangkal!” Aku merasa tulisanku tidak ada ’aura’ nya untuk dihadirkan kepada pembaca. Diri ini rasanya tak terbawa dalam baris kata-kata yang mengalir dan menjiwai isi tulisan.
Hehe..ironis ya? Bisa mengomentari pekerjaan orang lain, akan tetapi pusing untuk pekerjaan sendiri. Huh! Inilah resiko menulis ”Made by Order”, sementara jiwa dan perasaan belum tune-in dengan materi yang perlu dipaparkan. Mungkin itu pula perasaan si freelancer itu ketika mengerjakan tugas yang saya komentari barusan.
Ini yang istilahnya problem menulis tanpa ada jiwa yang menyatu dengan materi yang mau dipaparkan. Salut kepada para penulis, yang telah menuliskan karyanya dan berhasil menulis buah pikiran secara bebas. Berarti mereka itu kaum yang telah : ”Menulis Dengan Merdeka.”
Wednesday, April 02, 2008
( Lagi-lagi) Tentang Bekerja dan Semangat
Seorang teman menanggapi saya yang berkomentar soal mobilitas dirinya yang tidak ada cape-capenya. Dia hanya komentar, "Kerja itu ibadah. Jadi bukan hanya untuk kita, tapi juga buat Allah.."
Haha.. Saya tidak tahu pasti juga apakah dia memang sekadar menanggapi, memang begitulah dia menanggapi hidup dan pekerjaannya, atau memang dia workaholic.
Tapi, pernyataan dia paling tidak mengetuk salah satu pintu kesadaranku : Benar juga! Kita harus mempertanggung jawabkan cara kita mengisi hidup di dunia. Dan tentu Sang Pencipta tak ingin ciptaannya hanya bermalas-malasan dan menggerutu pada pekerjaan. Setiap pekerjaan ada hikmah dan rezeki. Dan di setiap 'sandungan' ada pembelajaran di berikutnya.
Renungan ini terjadi ketika saya mengeluh betapa semakin padatnya pekerjaanku. Dan semakin bervariasinya macam tugasnya.
Haha.. Saya tidak tahu pasti juga apakah dia memang sekadar menanggapi, memang begitulah dia menanggapi hidup dan pekerjaannya, atau memang dia workaholic.
Tapi, pernyataan dia paling tidak mengetuk salah satu pintu kesadaranku : Benar juga! Kita harus mempertanggung jawabkan cara kita mengisi hidup di dunia. Dan tentu Sang Pencipta tak ingin ciptaannya hanya bermalas-malasan dan menggerutu pada pekerjaan. Setiap pekerjaan ada hikmah dan rezeki. Dan di setiap 'sandungan' ada pembelajaran di berikutnya.
Renungan ini terjadi ketika saya mengeluh betapa semakin padatnya pekerjaanku. Dan semakin bervariasinya macam tugasnya.
Monday, March 10, 2008
Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data
Menulis membutuhkan data. Namun ada problem lain muncul saat kita menyimpan data tertentu terlalu lama. Apakah itu?
Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.
Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.
Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.
Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.
"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."
Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".
Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.
Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.
Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.
Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.
Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.
Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.
(Tulisan ini pernah diposting di www.netsains.com dengan judul "Kiat Menulis: Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data" by Dewi Retno in Category : Communication on 2007-08-30 atau klik judul diatas).
Salah satu unsur dalam tulisan adalah data. Meskipun kita menulis fiksi, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa ngibul dan musti fakta. Misalkan saja jika membuat cerita berlatar belakang sejarah.
Akan tetapi, kesibukan mencari data penunjang, bisa saja membuat kita justru lupa untuk mulai menulis ide kita.
Belum lama ini saya membaca buku "Berani Berekspresi" karya Susan Shaughnessy, yang diterbitkan oleh Penerbit MLC (2004). Buku berisi berbagai renungan penulis yang selesai dalam satu halaman, sehingga setiap halaman berisi kutipan berbeda, yang diperkirakan dapat memotivasi niat menulis dari pembacanya.
Satu hal yang mengena ada pada halaman 107. Kata-katanya saya kutip lebih kurang seperti ini : … Riset adalah sebuah godaan. Hanya sedikit yang bisa ditulis tanpa riset; akan tetapi, riset bisa menghambat tulisan. Ia bisa menyerap habis waktu menulis hari ini. .. Kita harus menerapkan batas, dan mulai menulis dengan data yang ada.
"Aku akan mengakui bahwa waktu untuk menulis sudah tiba. Aku akan menerima keterbatasan risetku, dan menulis apa yang kubisa dengan bahan-bahan yang sudah kumiliki."
Pada intinya, Ibu Susan menyentil saya bahwa, "Jangan tenggelam dalam pengumpulan data".
Kadang kita merasa data yang kita kumpulkan belum cukup, dan menjadi merasa bersalah karena "tidak cukup tahu". Kadang kita sudah memiliki ide dalam membuat tulisan. Namun, sering pula kita beralasan artikel yang rencananya kita buat masih memerlukan informasi lagi. Masih perlu browsing internet, bongkar-bongkar buku yang di simpan entah dimana (alias lupa taruh) atau alasan lainnya.
Namun 1 hari hanya terdiri dari 24 jam yang terbagi lagi ke dalam waktu untuk bekerja, urusan keluarga, sosialisasi, makan, dan tidur. Jam yang kita luangkan untuk menulis dalam sehari, terbatas.
Gara-gara kita merasa data yang sudah dikumpulkan belum memadai, kita biarkan data tersebut menjadi kumpulan coretan di dalam notes. Tidak diolah. Dan, notes kemudian menjadi tumpukan pemenuh laci meja. Pada akhirnya, kita lupa. Kalaupun ingat, kita sudah malas untuk menulis ide yang dahulu terbersit di dalam kepala.
Kerangka
Dalam berbagai buku-buku komunikasi tentang panduan menulis, kita sering diingatkan untuk membuat kerangka tulisan (outline), yaitu garis-garis besar untuk membuat struktur tulisan. Kerangka tulisan memberi gambaran tulisan kita agar fokus, singkat, jelas dan padat. Berdasarkan outline yang kita buat tersebut, akan menuntun kita membuat satu bentuk tulisan.
Baik, silahkan buat outline terlebih dahulu berdasarkan data yang ada. Setelah itu? Ibarat puzzle, cari data yang kurang untuk melengkapi tulisan. Jangan lupa tentukan deadline. Yaitu, tenggat waktu tulisan tersebut harus selesai. Dengan demikian, kita telah mampu merencanakan, melaksanakan dan menyelesaikan suatu proyek tulisan.
Jika dalam pencarian data yang kurang, kita menemukan hal-hal lain yang sepertinya belum sesuai fokus outline kita, silahkan simpan juga. Siapa tahu data tersebut dapat dikembangkan di kemudian hari. Dalam bentuk tulisan dengan angle berbeda, atau dengan informasi lebih baru.
(Tulisan ini pernah diposting di www.netsains.com dengan judul "Kiat Menulis: Jangan Terlalu Tenggelam dalam Data" by Dewi Retno in Category : Communication on 2007-08-30 atau klik judul diatas).
Tulisan Dimulai dari Ide

Pernahkah kamu ‘mati ide’ dalam membuat tulisan? Saya sih pernah, bahkan sering. Makanya pekerjaan kantor berulangkali saya selesaikan menjelang tenggat (deadline). Atau ketika blog saya lama terbengkalai, tidak ada postingan baru gara-gara tidak punya ide.
Padahal, sebenarnya ’ide’ bisa diperoleh dari mana saja dan kapan saja. Ketika tengah menikmati siraman air di saat mandi, membaca buku, menonton televisi, mendengar berita di TV atau radio, bahkan saat terjebak dalam kemacetan.
Masalahnya, bagaimana agar ide tersebut tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya lupa akibat kesibukan pekerjaan, atau akhirnya topik itu tidak menarik lagi untuk diulas.
Oleh karenanya, supaya tidak lupa, segera catat ide yang terlintas di dalam benak kita, ke dalam block note. Selain notes atau block note, kita bisa simpan ide ke dalam menu pesan pendek/sms di handphone, communicator, dan folder khusus di dalam laptop.
Sebaiknya, memampatkan ide tsbt ke dalam sebuah judul. Mengapa ”Judul”? Karena judul itu menyederhanakan gagasan ke dalam bentuk yang singkat. Ide berupa judul paling tidak sudah menggambarkan pikiran kreatif kita.
Bisa pula saat itu kamu sudah menemukan judul dan beberapa data pendukung yang ingin kamu masukkan ke dalam tulisan.
Jangan lupa untuk mengolah ide menjadi satu tulisan utuh. Ketika kita bakal mengolah satu judul menjadi tulisan, jabarkan Judul itu ke dalam Outline (kerangka tulisan).
Outline atau kerangka tulisan membantu kita dalam menentukan bentuk/isi tulisan. Kerangka tulisan ini bisa berupa tulisan per paragraf/alinea.

Supaya ide tidak menguap karena ’basi’ atau kelamaan dan terlupakan, deadline menjadi cara terbaik untuk merealisasikan ide. Yah, kalau untuk advertorial atau pemuatan artikel yang memang tugas kantor saya sehari-hari, maka tulisan itu memiliki tenggat tayang yang sudah menjadi harga mati.
Nah, bagaimana kalau kita perlakukan pula tulisan di blog dengan tenggat publikasi atau deadline pula?!
Monday, March 03, 2008
Mencintai (Sebuah Awal)
“Ajarkan aku mencintaimu,” bisikku
Menemaniku tergagap berbisik,
”Jadilah bintang, cahaya terang, di telaga tenang”
Jariku masih gemetar
Bergetar menyibak helai rambutmu
Menelusuri lekuk bidang dan membaui aromamu
Buat aku percaya
Saat kita bertukar degup dan kecup
Menemaniku tergagap berbisik,
”Jadilah bintang, cahaya terang, di telaga tenang”
Jariku masih gemetar
Bergetar menyibak helai rambutmu
Menelusuri lekuk bidang dan membaui aromamu
Buat aku percaya
Saat kita bertukar degup dan kecup
Diskusi Istri ke Suami (Kenaikan Harga)
Bang,
Minyak goreng, cabe merah, rawit, bawang….
Semua naik!
Bang, pusing nih!
Sudah lama coret daging merah
Ayam tiren atau bukan, wallahuallam
Sayur, oncom, tahu
Yang penting 3 kali sehari
Minyak tanah ngantri,
El pi ji....makan duit
Kayu bakar nemu dimana?
Tapi........
Bang, kita masih saling cinta kan?
Maaf kalau pipiku kini kasar
Harga pembersih muka juga naik :(
Minyak goreng, cabe merah, rawit, bawang….
Semua naik!
Bang, pusing nih!
Sudah lama coret daging merah
Ayam tiren atau bukan, wallahuallam
Sayur, oncom, tahu
Yang penting 3 kali sehari
Minyak tanah ngantri,
El pi ji....makan duit
Kayu bakar nemu dimana?
Tapi........
Bang, kita masih saling cinta kan?
Maaf kalau pipiku kini kasar
Harga pembersih muka juga naik :(
Kangen..(Ketik..Tidak..)
:Untuk di seberang
”Adakah kangen di sela kesibukanmu?”
Tak ada jawab
”Kamu tak mau menyakiti?”
Hanya diam
Rindu ini di ujung jari
Ketik...tidak.. ketik..tidak..tid...ket...
Kamu tak tahu
Hati pun butuh testimonial
Tunggu dan tunggu
Jari mengklik status
”I’m busy” dan .... pergi
(ketika perasaan terwakili via YM)
”Adakah kangen di sela kesibukanmu?”
Tak ada jawab
”Kamu tak mau menyakiti?”
Hanya diam
Rindu ini di ujung jari
Ketik...tidak.. ketik..tidak..tid...ket...
Kamu tak tahu
Hati pun butuh testimonial
Tunggu dan tunggu
Jari mengklik status
”I’m busy” dan .... pergi
(ketika perasaan terwakili via YM)
Dari Pikiran Kosong
Bedebah!
Baru hari keempat,
Saya sudah merindunya
Pikiran jahanam mana
Yang dulu membuang dirinya??
Baru hari keempat,
Saya sudah merindunya
Pikiran jahanam mana
Yang dulu membuang dirinya??
Subscribe to:
Posts (Atom)


