Wednesday, July 01, 2009

Namaku Apa Ya?

Mau mengajukan permohonan cuti, langkah pertama membuka Portal korporat.

Perusahaan tempat saya bekerja punya 3 gedung berbeda, sehingga antar departemen bisa terpecah-pecah lokasi. Sistem administrasi kami sudah memanfaatkan sistem online. Termasuk meminimalkan kebutuhan kertas (paperless).

Lalu saya mengarahkan kursor meng-klik Log-in.. muncul dua kolom yang harus diisi, User ID dan Password.

Ups!

”Saya memakai nama apa ya? Password-ku apa ya?” kata saya dalam hati.

Hidup di zaman internet, kita pasti punya berbagai account e-mail di situs berbeda.

Lebih efisien dan gampang jika Nama dan Password sama untuk di semua alamat e-mail. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan, cara ini tidak bisa mutlak dilakukan.

Kehadiran berbagai situs internet dengan berbagai macam dan tujuan, menghasilkan fungsi berbeda sekaligus password belum tentu sama.

Pertama, alamat e-mail kita di perusahaan, untuk komunikasi resmi antar rekan sekantor termasuk pula ketika kita berurusan dengan ’dunia luar’ dengan membawa institusi. Tentu saja, nama yang terlampir di e-mail adalah nama formal seperti tercantum di KTP/kartu nama. Tinggal modifikasi sedikit dari nama lengkap saya yang terdiri dari 4 kata.

Ketika bekerja di hari pertama, saya harus menetapkan nama dan password e-mail perusahaan. Rekan dari bagian Teknologi perusahaan. Mereka yang nanti melakukan verifikasi. Jadi, tak mungkin saya memasukkan password yang sama dengan alamat e-mail pribadi kepada dia. Ini sama halnya dengan rela orang lain memiliki kunci untuk membuka peti dimana surat cinta kita tersimpan.

Alamat kedua, adalah alamat e-mail pribadi, nah ini account kita miliki di website Yahoo, Gmail, MSN, dan sebagainya. Ini sih bisa mengeksplorasi kreativitas dan asalkan gampang diingat.

Alamat e-mail pribadi ini biasanya digunakan untuk membuka akses kita menuju website jejaring sosial, seperti Facebook, Friendster, Multiply, dan sebagainya. Termasuk pula situs blogspot, milis/komunitas satu hobi, atau website kebutuhan khusus. Seperti penghitung trafik pengunjung blog, imageshack, dan portal koran e-paper.

Nah, kembali ke urusan isi form cuti. Langkah pertama saya coba mengisi dengan User ID dan Password yang sama dengan alamat e-mail kantor. Tidak berhasil.

Coba sekali lagi dengan modifikasi nama di internal outlook dan password e-mail saya masuk kantor. Lho? Kok nama Retno yang berbeda.... syukur baginya karena password ini cuma membuka jalan untuk rekap data cuti. Coba kalau urusan gaji, bonus, dsb?

Ohya, kami punya portal pembelian barang. Milik internal ditujukan bagi karyawan jika ingin membeli barang secara potong gaji. Saya coba masukkan, ternyata salah pula.

Huh! Yah, cara tercepat adalah me-reset. Mengganti nama di User ID sekaligus password. Saya telepon bagian Teknologi, dan ternyata karena urusannya untuk ’cuti’, saya harus mengontak HRD atau di tempat kami disebut Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).

Mbak dari bagian PSDM sempat bertanya, ”Pernah diganti nama dan passwordnya?”

Saya bingung. Kayaknya pernah, sekitar Maret lalu ketika saya mengisi form cuti. Dan otak ini blank... Haha.. salah satu kebiasaan jelek ketika membuat nama dan password semangat sekali membuatnya unik dan (terkesan) rahasia. Padahal, pasti mengisi nama dan password yang itu-itu saja.

Asal tahu, memang kebijakan mengisi formulir pengajuan cuti secara online baru berlaku Oktober tahun lalu, atau tepat sesudah saya menghabiskan cuti tahunan.

Dibantu bagian PSDM, saya berhasil membuat nama ID baru sekaligus password yang standar-standar saja. Akhirnya selesai pula pengajuan aplikasi cuti saya.

Lalu mata tertumbuk pada link Rekrutmen, iseng kuarahkan kursor ke Internal Rekrutmen... tekan.. dan .. kembali lagi terpampang Log-in permintaan User ID dan Password muncul.... Huh! Harus mengajukan lagi pertanyaan ke bagian PSDM, ini berurusan sama departemen mana. Lain kali saja. Mungkin ini upaya meminimalkan kutu loncat antar departemen ya? Walaupun tidak resign, tapi perpindahan satu orang tenaga kerja ke departemen lain, tentu akan meninggalkan posisi kosong di departemen lama.

Pengalaman yang saya peroleh, ada dua hal. Pertama, gunakan satu nama dan password sama untuk keperluan internal. Atau kedua, catat semua User ID dan password di satu kertas khusus. Mungkin kamu punya password andalan, tapi kadang meleset pula. Jangan anggap satu alamat e-mail dan password kantor seperti memiliki kunci ke semua pintu di satu gedung. Apalagi jika untuk urusan kantor saja kamu memiliki link yang beragam.

Monday, June 29, 2009

Akhir Pekan Menyenangkan

Saya mengalami Fabulous Weekend pada Sabtu kemarin.

Dimulai dari nonton premiere film Ice Age 3 (silahkan baca resensi filmnya di Ruang-Resensi yaa….). Sudah bangun pagi, mandi, dandan, melihat jarum jam masih terlalu dini untuk berangkat, saya kembali lenyeh-lenyeh di tempat tidur. Waks… bablas! Jarum jam menunjukkan pukul 9.45 padahal penayangan film pada pukul 10.00 WIB.

Catatan : saya tidak suka hadir tergesa-gesa dalam suatu pertemuan. Jadi, kondisi ’mepet waktu’ bagi saya agak bikin jantung gimana gitchu...

Untung jalan raya Jakarta tidak macet di pagi hari akhir pekan. Jam 10.15 saya sampai di bioskop, untung masih dapat duduk di Baris A. Baris A paling belakang, deretan bangku paling tinggi, dan paling aman bagi orang yang tingginya standar seperti saya.

Ohya, penayangan premiere atau pemutaran perdana dari suatu film, khusus untuk wartawan untuk penulisan resensi film, pengamat, atau undangan lainnya. Dalam jenis pemutaran ini, bangku tempat duduk kita bebas pilih sendiri. Jadi ada faktor siapa cepat dia dapat yang paling nyaman.

Tapi ternyata deret A masih ada yang kosong, bahkan kebetulan bertemu teman lama dari Kompas dan kami duduk bersebelahan. Lumayan... seusai film diputar, saya jadi punya teman bertukar pendapat tentang film tersebut.

Seusai menonton film, saya menyaksikan acara pembukaan program liburan sekolah di Mal Ciputra Jakarta. Ada demo masak.. tidak tertarik dengan resep makanannya. Kecuali promosi alat masaknya yang katanya bisa memudahkan membuat opera cake dan memasak ketupat hanya sekitar 15 menit. Wauw! Cocok untuk Lebaran dan menghemat gas. Tapi saya tidak tahu rasa yang dihasilkan.

Yang dinanti oleh saya dan tentu sebagian besar pengunjung, kehadiran penyanyi Vidi Aldiano. Waduh, saya kembali merasa teenager, terpana melihat manusia ganteng sekaligus bersuara bening seperti titel lagunya Nuansa Bening. Teman liputan saya ketawa menyaksikan saya termehek-mehek ikut bernyanyi, maju ke depan panggung memotret wajah Vidi via BB, upload foto di FB dan mengupdate status.

Hihi, Mas, untuk urusan konser musik rasanya saya selalu menjadi remaja belasan tahun :-p

Saya ikut bergoyang ketika Westlife manggung di Jakarta. Walaupun kecewa melihat 4 penyanyi asal Irlandia tak beda dengan bule-bule jalan Jaksa yang berperut buncit kebanyakan minum bir, menari di atas panggung sembari bernyanyi Up Town Girl.

Pernah ikutan termehek-mehek menyaksikan vokalis Andra & the Backbone berlagu ”.... kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu ........sempurna”.

Ohya! Perjalanan saya belum berhenti di Mal Ciputra Grogol. Sekitar jam 15.00 saya menjejakkan kaki di Istora Bung Karno, ke Pesta Buku Jakarta 2009. di sana bertemu teman-teman, akhirnya lima wanita pun melanjutkan acara makan malam di PIM. Sightseeing Zara, Sogo, dan Metro yang menempelkan pengumuman ”Sale”. Lanjut ngopi dan ngemil di J.Co sebelum pulang ke tempat tinggal masing-masing.

What a easy busy and happy day.

Friday, June 26, 2009

Gundah :(

Sekali lagi menangis di musim semi
Rasa ini hanya periode melingkar
Cerah, hujan, air mata mengalir, hati terpanah

Saat kelopak melayu dan berguguran di hari kelabu
Jauh melangkah kembali berputar dalam satu siklus

(Beri satu kesempatan lagi, atau bungkus saja hati ini ke laut terdalam?)

Wednesday, June 24, 2009

Membuat Katalog untuk Perpustakaan Pribadi

Sebagai upaya merintis punya Perpustakaan Pribadi, ataupun memelihara koleksi buku dsb dengan baik, tips membuat katalog semoga berguna :

Perpustakaan berisi kumpulan buku atau materi perpustakaan lainnya, seperti koleksi CD-Rom, kaset dan lain-lain.

Pertama-tama tentukan tujuan membangun perpustakaan. Apakah untuk pribadi sehingga sesuai minat pribadi, atau untuk umum (komunitas tertentu).

Perlu pertimbangan lokasi perpustakaan, anggaran, peraturan, dan pencegahan kehilangan.

Untuk memudahkan pencarian buku : buat katalog, buku induk, dan menempatkan buku berdasarkan Klasifikasi. Setiap buku yang dimiliki harus dicatat dalam Buku Induk yang memuat identitas buku (Judul, Pengarang, Penerbitan, Tanggal Pembelian, dan Keterangan).

Sebaiknya Buku Induk dibagi dalam Tahun untuk mengetahui bertambah atau berkurangnya koleksi buku per tahun.

Setiap buku memiliki Kartu Katalog yang terbuat dari kertas karton ukuran 12,5 x 7,5 centimeter yang memuat tanggal, Pengarang, Judul, Nama-Tahun-Kota Penerbit, Tahun Terbit, dan Kolom Keterangan yang bisa berisi ringkasan isi buku atau keterangan fisik buku.

Jika buku boleh dipinjamkan ke orang lain maka dibuat Kartu Peminjaman untuk mengetahui keberadaan buku.

Klasifikasikan buku berdasarkan isi. Misal warna merah (untuk karya umum), hijau (untuk hobi), kuning (untuk teknologi) dsb. Dengan catatan : warna dipakai untuk buku yang jumlahnya masih di bawah 300 buah.

Jika jumlah buku melebihi 300 buah (buku), gunakan pembagian Klasifikasi Dewey yang sudah umum dipakai.

Klasifikasi Dewey membagi buku dengan menggunakan nomor. Jika jumlah buku mencapai 1.000 maka gunakan nomor dengan 3 digit.

Keponakan Cerdas Tante Baik Hati

Sabtu lalu, beberapa keponakan melapor pada saya. Laporannya berupa prestasi kenaikan kelas dan hasil rapor. Maklum, Sabtu (20/6) lalu para pelajar memperoleh rapor hasil belajar selama satu tahun, termasuk pengumuman kelulusan SD.

Pertama, Rani via telpon mengabarkan dirinya berhasil naik dari kelas 2 ke kelas 3 SMP. Yang menakjubkan adalah dirinya juara pertama dari total 3 kelas. Ck..ck.. memang keponakan saya ini lebih cerdas ketimbang diri saya di usia sebaya. Finalis olimpiade Matematika se-Bogor, bisa lari keliling stadion sepakbola 3 putaran lebih, cepat menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, serta punya bakat dasar memperbaiki peralatan listrik (termasuk sudah ujicoba membetulkan alat perekam micro-tape milik saya).

Ohya, tapi dalam pembagian rapor semester sebelumnya, diingatkan guru untuk berlatih dalam pelajaran Mengarang sekaligus bahasa Indonesia (haha... dalam hal ini perlu berilmu dari tantenya yang bekerja sebagai peracik kata dalam industri media). Tapi sepertinya dia sudah memperbaiki nilai-nilai pelajaran yang kurang.

Lalu, menyusul Libby mengabari via pesan pendek, kalau pada hari itu dia lulus dan memperoleh medali Silver.. Aih, Libby ini smart, kritis dan punya sejumlah pertanyaan yang seandainya saya menjadi mamanya pasti bingung menjawabnya....haha.. Kini si Blossom Junior siap memasuki dunia SMP. Congrat Libby!

Sore hari, Ammar yang berusia 7 tahun mengabarkan naik ke kelas 2 SD. Memperoleh hadiah tabungan dari sebuah bank syariah.

Hoa.. senangnya punya keponakan-keponakan cerdas. Ini enaknya jadi Single Bahagia, tak perlu menanti 9 bulan 10 hari (plus strech mark, varises, mual-mual...hehe..maaf ya buat para ibu. Tidak bermaksud memojokkan cuma ini adalah contoh tanda-tanda kehamilan yang sampai saat ini belum saya alami) untuk memiliki unyil-unyil dari saudara maupun sahabat.

Tentu saja saya jadi berpikir hadiah apa yang menarik untuk mereka... Ohya, jangan berpendapat karena kita punya uang tentu bisa membeli perhatian anak-anak.

Anak kecil tentu tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tak hangat pada mereka. Jadi, saya bersyukur telah menjadi Tante Baik Hati.

Tuesday, June 23, 2009

Ingat Masa Lalu


Kadang-kadang terasa menyenangkan saat menepi dan mengenang masa lalu. Salah satu cara, mendengarkan kembali lagi lagu lama. Hanya diam, sambil otak mengingat suatu kejadian atau seseorang di waktu silam.

Seperti saat ini, saya mendengarkan lagu lama dari Def Leppard berjudul ”When Love and Hate Collide”. Lagunya bercorak slow rock asyik, mengingatkan saya pada seseorang.

Seseorang itu masa lalu saya. Seseorang yang penggemar dan sering memutar lagu-lagu grup band asal AS ini. Seseorang dari periode saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jago olahraga (I don’t know why I often have crush with Basketball player or Volleyball player, someone who love sport..), cakep (pastinya menurut ukuran dan hati saya), dan cara mata dia menatap diri ini (ahya, kalau saya jadi seleb dan wartawan bertanya apa yang menjadi daya tarik fisik saat saya pertama kali bertemu pria, maka saya bisa katakan “mata… pesona mata”.

Saya cemburu ketika dia akrab dengan seorang wanita yang konon ditaksir. Tapi saya juga punya yang lain. Lalu ketika saya akhirnya bersama dia, saya merasa menjadi makhluk paling bahagia. Bersama pria hangat dan good loooking.

Kami lalu terpisah jarak. Antar kota, antar provinsi.... hmm sound like the bus.

Salahkan dulu sarana komunikasi hanya telepon dan surat. Masih ingat dapat kartu pos dari dirinya yang membuat saya berulang kali membacanya. Salahkan saat itu tidak ada sarana e-mail, YM atau ponsel. Tapi walau prasarana telekomunikasi canggih, urusan relasi kan tergantung manusianya.

Salahkan diri yang suka gampang terpesona, lalu meredup, tak mampu menjaga hati. Gaya Libra sejati (ini kata temanku...). Pembicaraan di telepon yang..bikin..dia.. tapi sudahlah, memang saat itu masa naif bukan?

Kami ada pada masa sedang melihat dunia baru yang lebih lebar daripada sekadar gedung sekolah dan lapangan upacara.

Menjalin cinta pun butuh pembelajaran dan pengalaman. Saya ingat dia suka lagu ini, dia bilang kalau dengar lagu ini mengingatkan tentang kami. Saya cuma ngeh lagu ini enak di kuping, tahu arti judul jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan berulang disebutkan pas Reffrain. Tapi baru mencari lirik secara keseluruhan sekarang. Dan...Hah???.... Entahlah...

Saya hanya jadi merasa he was the precious one....it was!


When Love And Hate Collide

You could have a change of heart, if you would only change your mind
Instead of slamming down the phone girl, for the hundredth time
I got your number on my wall, but I ain't gonna make that call
When divided we stand baby, united we fall

Got the time got a chance gonna make it
Got my hands on your heart gonna take it
All I know I can't fight this flame
You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby, time after time

Without you
One night alone Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide

I don't wanna fight no more, I don't know what we're fighting for
When we treat each other baby, like an act of war
I could tell a million lies and it would come as no surprise
When the truth is like a stranger, hits you right between the eyes

There's a time and a place and a reason
And I know I got a love to believe in
All I know got to win this time

[Repeat Chorus]

[SOLO]

You could have a change of heart, if you would only change your mind
Cause I'm crazy 'bout you baby...Crazy...Crazy

Without you
One night alone
Is like a year without you baby
Do you have a heart of stone
Without you
One night alone
Is like a year without you baby
If you have a heart at all
Without you
Can't stop the hurt inside
When love and hate collide

Friday, June 12, 2009

Super Sensitive Mellow Lady

Manusia tak ada yang sempurna.
Kamu bisa jadi super..super.. sensitif.. mellow.. karena merasa disakiti, dihina, dilecehkan dalam kata-kata, dsb.

Kamu juga tidak sempurna di mata orang lain.

Bahkan yang katanya sempurna dalam ukuran-ukuran manusia : cantik/ganteng, pintar, cerdas, beruntung atau apapun, masih ada yang kurang di mata orang lain.

Tapi memang lebih gampang memandang kekurangan orang lain, daripada kekurangan diri sendiri.

Kalau memang ga ingin disakiti, yaaa lebih baik angkat kaki dan menepi di sudut tepi.

Tapi ga mungkin kan?

Sabar... Sabar.. Sabar...
(sambil denger lagu ”Supermassive Black Hole” nya Muse... )

Ooh, baby don’t you know I suffer?
Oh, baby can you hear me moan?
You caught me under false pretenses
How long before you let me go?

Ooh, you set my soul alight
Ooh, you set my soul alight


………

Saya mengambil cermin dan berkaca. Lebih dari sekadar membetulkan bedak dan memulas lipstik di bibir yang tadi sudah hilang tersapu makan siang. Saya pandang ke dalam.. bercermin diri mengoreksi hati yang kelabu.

Thursday, June 11, 2009

Surat Itu....

Tanganku masih kaku,
usai menulis larik syahdu di kertas biru
berharap cemas kau terima pesanku
kukemas dalam senandung rindu

Masih kumenanti di stasiun itu
sambil memandang buyung bermain gundu
waktu bergulir dalam tunggu
masih kutimang pena darimu
menoreh surat untukmu...



*Balasan puisi untuk teman milis

Wednesday, June 10, 2009

Sst..Nikmati Sendiri Saja

When the day is long and the night, the night is yours alone,
When you're sure you've had enough of this life, well hang on
Don't let yourself go, 'cause everybody cries and everybody hurts sometimes

Sometimes everything is wrong. Now it's time to sing along
When your day is night alone, (hold on, hold on)
If you feel like letting go, (hold on)
When you think you've had too much of this life, well hang on

'Cause everybody hurts. Take comfort in your friends
Everybody hurts. Don't throw your hand. Oh, no. Don't throw your hand
If you feel like you're alone, no, no, no, you are not alone

If you're on your own in this life, the days and nights are long,
When you think you've had too much of this life to hang on

Well, everybody hurts sometimes,
Everybody cries. And everybody hurts sometimes
And everybody hurts sometimes. So, hold on, hold on
Hold on, hold on, hold on, hold on, hold on, hold on
Everybody hurts. You are not alone



Mendengarkan lagu Everybody Hurts versi The Corrs, bikin saya speechles.
Lagu ini karya R.E.M dan dinyanyikan pertama kali pada 1992, tapi saya lebih senang ketika lagu ini dilantunkan kuartet asal Irlandia di 2000-an. Suara Andrea Corr yang menyayat, dipadu dengan gesekan biola …hff..

Mari dengarkan ketika kamu merasa kehilangan, merasa menit-menit terlalui dalam kekosongan.

Hanya ingin waktu yang ramah memeluk diri
Bukan butuh seseorang untuk menumpahkan isi hati
Karena cukup cerita ini kamu kunci tak berbagi pada mereka
Mari kita anggap cerita kamu sebagai permainan dan terpercik api


Kita pernah salah
Bertemu di waktu yang tak tepat
Atau tengah menganggap dunia ini taman bermain
Terlalu lama kita bersuka ria
Melempar dadu nasib berharap membawa peruntungan ke kita mau



atau

Indonesia Aneh Ya (Tentang Miss Indonesia)

Di depan laptop sembari mulai menyantap menu makan siang. Seorang teman nyelonong mempostingkan via Yahoo Messenger (YM) berita ini :

Miss Indonesia 2009 Tak Mahir Bicara Bahasa Indonesia

Jakarta - Setelah menyandang gelar Miss Indonesia 2009, Kerenina Sunny Halim segera belajar Bahasa Indonesia. Dia pun akan memperdalam pengetahuan tentang adat dan budaya Indonesia.

"Saya memang kurang mahir berbahasa Indonesia, dan hanya bisa sedikit-sedikit saja," Kerenina mengakui kelemahannya. "Saya sekarang ambil home schooling dari Amerika langsung, di rumah pun sehari-hari saya memakai bahasa Inggris, jadi memang jarang bicara dengan bahasa Indonesia," katanya. Ia pun mengaku belum paham budaya, adat, dan provinsi di Indonesia. "Saya janji akan memperdalam semua hal tentang Indonesia, khususnya untuk memperlancar bahasanya."


Berikut link-nya : http://showbiz.vivanews.com/news/read/65131-miss_indonesia_2009__belajar_bahasa_indonesia

XXXXXX: kaya gitu kok bs jd miss indonesia
enoXXXX: kok bisa menangggg
enoXXXX: jd definisi "Miss Indonesia" apa dunk..



Haha... aneh!

Pemenang Miss Indonesia ini bakal dikirim ke kontes Miss World, masing-masing membawa bendera negara, menonjolkan definisi kecantikan dan kepintaran menjawab pertanyaan juri, dan secara langsung maupun tidak mempromosikan negara.

Jadi, si Kerenina ini seperti 'sales 'yang mempromosikan suatu produk yang dia sendiri tidak tahu ’knowledge produk-nya’.

Beneran lho, ini jadi menjungkir balikkan pemikiran saya tentang penjurian kontes yang berjuluk Puteri, Miss, Ratu Ayu, dsb yang konon mencari wanita belum menikah memiliki beauty, brain dan behaviour acung jempol. Termasuk juga pemahamannya tentang budaya negeri sendiri. Waktu penjurian apa aja yang dinilai ya sehingga pengetahuannya tentang budaya, adat, dan nama-nama provinsi di Indonesia bisa dilakukan upgrade menyusul???

Ohya, mungkin kita maklumi saja. Dari segi kosa kata Indonesia pun terjadi sinkronisasi antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia : Miss + Indonesia. Sehingga bisa dimengerti yang menang pun IndoInggris. Atau memang inilah realitas masyarakat Indonesia saat ini?

Friday, May 29, 2009

Ketika Penyakit Maag Kambuh

Saya berdiri memperhatikan setumpuk kemasan berdimensi 15x6x7,5 cm. Saya sedang berpikir mau membeli satu atau dua.

Tiba-tiba suara ini terdengar di samping saya. "Ohya, biskuit abon untuk nenek," suara cowok itu datang dari samping saya seraya mengambil sebuah kemasan yang tengah saya perhatikan tadi dan berlalu bersama pasangannya.

Hah? Untuk nenek???
Argggg....Hnmffghwgghh........ Sialan lu, biskuit Malkist rasa Abon Sapi yg tengah saya perhatikan itu makanan saya.

Dan kamu sebut biskuit itu untuk nenek??
Ups, tapi memang sih dulu kalau baru dapat honor ngajar sbg asisten dosen pun saya membelikan almarhumah nenek saya biskuit ini. Beliau senang mengunyah biskuit Malkist yang beliau sebut 'roti kapal' dengan mencelupkannya ke dalam susu sarapan pagi.

Dan kini saya mengikuti selera almarhumah nenek saya di usia yg lebih muda 50% gara-gara sakit maag.

Yap sudah setahun saya menghindar dari dokter internis langganan. Dokter tsbt sudah mengingatkan saya u/rutin check-up memantau penyakit maag mayan parah tapi selama ini saya abaikan.

Minuman bersoda, makanan bersantan, kue tart penuh krim, rum dan ketan-ketanan sudah lama saya hindari. Perut ini memang menolak varian tersebut.

Tapi jangan tanyakan soal kopi. Uff.. setiap hari harus minum kopi kental meskipun katanya itu big NO NO untuk penderita tukak lambung.

Hingga akhirnya pada Kamis (21/5) yang seharusnya sebagai hari menikmati libur, justru aku tepar di tempat tidur. Perut melilit hingga sesak nafas, kepala pusing berputar-putar, mual, menolak makan maupun minum. Jika saya runut ke belakang, gara-gara deadline kerjaan saya mampu menggelontorkan kopi ke dalam tenggorokan 3 gelas sehari, dan menunda makan.

Hiks! Kalau lagi sakit, baru tersadar betapa nikmatnya jika badan ini sehat! Kalau kata dokterku : jangan minum kopi, makan teratur dan hindari stres. Yampun.... yang namanya makhluk hidup pasti ada pemikiran mengganjal...Bahkan Mowgli yang tinggal di hutan pasti pernah stres. Terutama saat menghindar dari terkaman harimau Shere Khan :))

Kini saya sudah 9 hari tanpa minum kopi. Gantinya : teh hangat, teh tarik sachet dari Max Tea (varian teh susu mengimitasi lidahku akan rasa kopi hangat plus creamer), atau minum air putih hangat.
Lalu berupaya menyimpan biskuit atau buah-buahan di simpan di dalam kotak roti kemanapun pergi, dan berupaya makan 3 kali sehari on-time.

Monday, May 25, 2009

Tentang Dia yang Nyaris Sempurna

: My Muse


Pada suatu hari aku mengisi waktu dengan menangis tiada henti
Meringkuk di kasur menyekap diri di tempat tidur
Merasakan ada yang terbang dari raga
Ada yang hilang dari dalam tubuh yang –ternyata- masih bernyawa
Aku jadi mengerti arti ”Hampa” akibat peristiwa kehilangan
Sangat..sangat...memahami.

Aku terus menangis hingga suatu titik air mata tak ada yang keluar, semua cairan di badan telah sirna terkuras
Keanehan pun terjadi
Perasaan ini kemudian muncul
Aku menemukan diri dalam jiwa yang baru
Ajaib! Hampa itu seolah membawa terbang satu sukma lain dari badan ini
Air mata seolah membaptis diri, sementara Rasa itu membuatku hilang ingatan
Tepatnya ingatan tentang kita dan suatu masa bersama.

Aneh?
Kurasa tidak.
Kita memang dua jiwa tegar tak saling membutuhkan
Suatu kesempatan kita pernah bertemu dan saling suka (atau seolah demikian?)
Bertemu-berpisah-bersua-berpisah-bertemu lagi
Hingga percaya pada nujum bahwa bertemu-berpisah berulang kali pertanda memang langkah kita untuk bersama
Lalu kita berubah menjadi dua sosok asing saling bersaing minta pengakuan pasangan

Ada cerita bimbang, ada kisah kekasih intermediate
Dan kita menyadari bahwa mata kita tak saling menatap dalam binar cinta
Akhirnya salah satu dari kita berani menyudahi

Air mata mencuci semua cerita hingga kita saling tak mampu mengingat
Aku mengidap amnesia
Samar ingatan terasa ada satu putaran waktu kugenggam si nyaris sempurna
Dan kuhembuskan ia dari telapak tangan ke dalam pusaran angin
Aku pun berbisik ’Pernah Menemukan’ tanpa ingin mengenang kembali.

Lost in Nowhere (Mati Ide)

Senin 9.40 PM.
Seharusnya malam ini saya bekerja.
Ruangan kantor yang sepi, AC yang adem tak menyemburkan hawa dingin menusuk, tapi bikin comfort memandangi layar monitor di cubicle, hanya bunyi ketikan keyboard di sudut ruangan (artinya, cuma ada 2 orang, saya dan orang lain, di ruangan ini).

Tapi saya ga mampu untuk merealisasikan niat menyelesaikan kerjaan malam ini.
Apa yang salah?

Saya sudah siap berkorban... ikuti kalimat yang kucabut dari ”Cerita Dalam Keheningan” karya Zara Zettira ZR yang menurutku pembenaran dari yang kujalani saat ini..... ”Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, selalu ada pengorbanan. Selalu harus ada yang hilang. Misalnya, untuk mendapatkan uang kita harus bekerja. Bekerja berarti kita kehilangan waktu untuk diri kita sendiri. Untuk mendapatkan, kita harus kehilangan.”

Waktu yang saya habiskan demi pengakuan diri.
Waktu yang saya pakai untuk kesempatan mengikuti pelatihan dari kantor.
Waktu yang saya alokasikan untuk sosialisasi : menyeimbangkan pekerjaan dengan relationship atau atas nama menjalin tali silaturahmi.

Saya tiba-tiba sadar bertanya pada diri.. mengapa ide jadi susah berkelebat di otak?
Bisa saya katakan saya mendapatkan duit dari ’ide’dan ’kata-kata yang kurangkai menjadi kalimat’. Tapi kenapa kini susah untuk mendapat ide?
Saya sudah jadi seperti robot. Mesin massal pemuntah kata.
Termasuk pula kegiatan aerobik bukan lagi bagian dari pelepas penat. Tapi sekadar alokasi waktu 1-1,5 jam yang rutin kulakukan untuk menjalankan rangkaian gerakan ritmis yang kupercaya membakar kalori, menjaga badanku tetap bugar dll.
Tapi rasanya bugar itu hanya sebatas bentuk. Tidak menyentuh pikiran dan hati.
Badan saya perlu istirahat. Otak ini tak ingin bekerja.

Ups.. saya jadi ingat! Kapan terakhir membuat coretan di blog ini yang in-depth tentang pikiran saya? Sepertinya memang sudah lama tak kulakukan...

Sepertinya saya tahu yang harus kulakukan malam ini.
Shut down komputer. Rapikan meja dan kemasi barang-barang. Pulang lalu tidur.

Friday, May 22, 2009

Maaf

: semua yang kucintai & mencintai


Potret ini hampir lapuk dalam badai hidup
kutemukan kembali dalam keheningan usai hujan mendera
bersama Dia yang kucinta yang mengusap helai rambutku.

Telapak jemarinya mengingatkanku pada harum maskulin pertama kuhirup
saat Ayah memeluk sembari membisikkan doa jadikan malaikat kecil cahaya dunia
membangkitkan simpul syarafku tentang wangi mawar disemai Ibu sembari mencium pipi gembil bocah berambut jagung.

Semakin dalam kuhela nafas, semakin jauh relung ingatanku terlempar
Ketika aku menjadi bongkah batu berkeinginan besar
Mengemas pemberontakan masa muda bersama hela naif menyesakkan dada orang yang mencintaiku sepanjang tarikan nafas
Maafkan aku si bibir silet pernah menghunus benak bersama kata menikam
Ampuni si anak hilang yang kembali bersarang.

Lalu telapak jemari itu perlahan merengkuh pinggangku
Menarik kepalaku ke dalam dada, mengirimkan sinyal ketulusan hati
Aku hanya bisa mengalirkan sungai dari danau di jelaga mata ini
Sesak dada sirna menyapu selingkuh pikiran yang kukemas bersama senyum muslihat
Meluapkan kata ’maaf’ tak terucap untuk setiap tipu lidah dan laku tak layak

Beri aku kesempatan untuk kesempatan yang kalian pernah sempat berikan......
.... Aku tebus dalam jalan tulus.

Tuesday, May 19, 2009

Ikhlas

Setelah beberapa hari lalu mengungkapkan kekecewaan, semalam Saya sadar bahwa itu tandanya saya tidak ikhlas.

Hihi... jadi malu sendiri ;-))

Saya bilang Ikhlas Melepas, tapi jika mengomel, masih ingat kejadian menyakitkan atau bikin kesal di waktu yang lalu, itu berarti saya Kecewa.

”Muatan Ikhlas berarti bermuatan cinta kasih. Lepas, tanpa berharap pamrih".
(Kutipan dari tulisan Yusuf Mansur yang kubaca semalam....)

Krak!
Rasanya ada yang pecah di batin ini. Lebih lega. Lebih ringan.

Friday, May 15, 2009

Relasi (Kadang) Mengecewakan

Tahun 2009, masih bulan Mei.
Lima bulan yang bikin saya kenyang pengalaman dalam urusan relationship.
Mungkin ini konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial, dimana manusia tidak bisa menjadi individu ego, namun menjalin relasi dengan orang lain namun membuat hati cape.

Ga ngegosipin orang lain, ga jaminan kamu ga diomongin orang lain.

Berbuat baik, belum tentu kamu selalu menjumpai orang lain yang baik padamu.

Pertemanan baru tapi ada ketidak jujuran....maksudnya apa sih????

Lalu Subyek yang sama, yang berulang kali bikin saya nangis, ga karuan, kecewa,... tapi ndableg-nya masih tetap saya terima dengan besar hati.

Saya ga berharap teman-teman bisa datang bezuk saat Papa saya sakit, tapi kenapa saya tersentil dengan status FB teman yg mengatakan dia sadar teman sebenarnya kala dia dirawat di rumah sakit.... Buset!! Apa bezuk 1-2 jam lebih berarti dibandingkan persahabatan selama bertahun-tahun... Padahal waktu itu Saya cukup pengertian dengan alasan dia lagi sakit mata, di hari lain mengatakan ada rencana bezuk tapi tiba-tiba sakit perut. Dan jika, dia bertanya kenapa saya tak bisa bezuk : Namanya cari makan dengan menjadi buruh orang lain....sniff :(

(Take a deep breath, Eno!...)

Wednesday, May 13, 2009

Setia

Pernah hatiku mengukir namamu
Menelisik lembar kehidupan
Cerita yang menuliskan kisah
Melukiskan tautan jemari
Dan semua kisah dua jiwa

Semua masih terasa dalam perjalanan
Hanya mata kita tak lagi memandang dalam bara
Ucap kita tak menyiratkan percaya
Kita masih duduk saling merengkuh
Sembari menatap langit
Menatap janji terbang melayang


(Damn! Gw capee........)

Tuesday, May 12, 2009

Menghargai Pasangan

Teruskanlah
(Agnes Monica)

Pernahkah kau bicara tapi tak didengar
Tak dianggap sama sekali
Pernahkah kau tak salah tapi disalahkan
Tak diberi kesempatan

(Reff)
Kuhidup dengan siapa ku tak tahu kau siapa
Kau kekasihku tapi orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah kau begitu

Kau tak butuh diriku aku patung bagimu
Cinta bukan kebutuhanmu

(Back to Reff)

Kau dengan dirimu saja kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah kau begitu



Kalau dengar lagu Agnes Monica yg "Teruskanlah" bikin ingatanku melayang pada sebuah episode dimana Saya jadi pemeran utama wanita dan Dia yang ga mau gw sebut lagi namanya sebagai pemeran utama pria.

Kalau kata orang, semua ada hikmah, maka hikmah menjalani episode itu bahwa saya menjadi tegar, saya bisa menjadi batu yang tetap membeku saat hujan badai menerpa. Setelah fase terdahsyat, setiap gerusan air bah hanya mengikis satu kisah yang segera terlupakan hanyut terbawa arus.

Saya pernah menemukan My Muse dan Cahaya Pagi yang selalu kusebut nama dalam bisik. Yang kuyakin karena Dia cinta, maka saya tak perlu memupuk dan memelihara cinta itu.

Tapi semakin sering mendengar lagu ini, kamu jadi bisa memikirkan mungkin justru Pemeran Utama Wanita bisa sebagai Pelaku dan bukan Korban.

Ada Pengalaman. Kisah masa lalu tak perlu terus dipupuk untuk terpuruk, tapi jadikanlah pembelajaran.

Teruskanlah belajar menghargai bentuk terbaik yang pernah Tuhan berikan. Jangan sampai lupa mensyukuri hingga Dia pergi angkat kaki.

Belajar menghargai dengan menekan ego dan hadapi dengan sabar karena dua jiwa harus mampu kamu takar sehingga menghasilkan senyawa yang pas. Ingat percobaan di Laboratorium Kimia tentang bahaya ledakan ketika 2 larutan dicampurkan akibat takaran berlebihan, dan senyawa yang gagal ketika takaran kurang?

Friday, April 24, 2009

Apa Keinginan Kamu?

“No, apa keinginan kamu?”

Aku bingung jawabnya ketika disodori pertanyaan itu….. terasa abstrak ....apa yaaa.....?

Pertanyaan ini dilontarkan padaku saat menyeruput kopi di sebuah kafe. Jadinya bingung jawab apa :

mau kudapan apa dari Daftar Menu di resto?

Masa depan?

Kayak latihan menjawab wawancara kerja tentang keinginan diri pada 2, 5, atau 10 tahun ke depan.

Atau saya kaget dgn pertanyaan di saat saya lagi menikmati hidup bagai air mengalir sehingga bingung menjawab apa yang menjadi impian atau langkah ke depanku?

Karena terlalu banyak keinginan?... :

Maka ku-coba me-list "Keinginan", dari hal sederhana sampai ajaib!


Ingin makan coklat Hawaiian Macadamia Nuts sekotak penuh. Tanpa mau berbagi dengan orang lain dan tanpa merasa bersalah terhdp dampak kenaikan berat badan :-p

Ingin menikmati hidup di Bali dengan daftar kegiatan meliputi: belajar membuat lukisan Kamasan, membaca buku yang berderet dalam lemari, belajar surfing dan berenang di pantai.. Ohya, duitnya dari mana? Rasanya dengan berprofesi sebagai Penulis Lepas, saya bisa mengerjakan order di mana saja. Jadi intinya duit mengalir sambil menikmati hidup.

Masih lanjutan poin sebelumnya : ingin mengenakan bikini super mini di Pantai Kuta..tapi karena timbangan berat badan membumbung sejak bekerja dan susah untuk turun lagi, maka dengan potongan badan yang tak seperti Bar Rafaelli, maka tentu ini hal mustahil dan super tak masuk akal hehehe...

Ohya, aku juga ingin memiliki perpustakaan pribadi atau taman bacaan. Bedanya, kalau Perpustakaan Pribadi cenderung sebagai sebuah sudut khusus di rumah tempat menaruh koleksi bukuku secara rapi. Termasuk juga koleksi prangko, kartu pos, dan CD musik yang kupunya. Kutata secara cozy sekaligus tempat ’bertapa”.

Sementara kalau Taman Bacaan berarti aku membolehkan orang lain membaca koleksi buku yang kumiliki. Untuk keinginan terakhir ini, ada fungsi sosial sekaligus komersial. Namun aku tak tahu sejauh mana diri ini mau serius mewujudkan dan bagaimana merealisasikan konsep.

Ingin menginjakkan kaki di Grand Canyon atau Kathmandu. Atau walaupun aku takut terhadap badut, tapi seandainya aku ada rezeki mengunjungi Disneyland Jepang juga ga nolak :))

Ingin belajar bahasa Perancis meski bahasa Inggris pun ”belum beres”.

Ahya... ini keinginan melankolis : Ingin memasrahkan diri dalam jemari kukuh di bawah langit malam bertabur bintang. Sembari memandangi cendawan-cendawan cilik yang muncul seusai hujan menerjang.

Thursday, April 23, 2009

Pesta Ini Sudah Usai

Ini pesta terencana Ratu Agenda
Pujangga Angin pun menyelinap
Menyalakan bingar mendesiskan pora
Ajak dansa purnama
Hitung : Satu... Dua.. Tiga..
(Duel tiga hati, siapa yang bertahan?)

Bibir-bibir yang sudah sering melempar tipu
Kerling berbohong dan ucap cinta dalam daun gugur
Hingga rontok di musim dingin

Salahkan dua orang melempar surat
Dalam nyala kembang api
Lalu terbakar dalam bara
Berpesta semalam bertahun tinggalkan bayang
(Siapa manusia-manusia yang kalah?)



(Gambar dikutip dari : www.worklessparty.org)

Wednesday, April 22, 2009

Gambar Meneduhkan di sela Deadline




Gemesin ya gambarnya?
Mimik mukanya seolah menikmati alunan musik yang berasal dari earphone (meski secara kesehatan sih, dilarang ya bayi yang gendang telinganya masih rentan menggunakan earphone).

Hanya saja, gambar ini menghibur banget di saat aku lagi full-deadline sekarang ini.

thx untuk temanku yg sudah men-forward gambar ini.

Monday, April 20, 2009

Sun Tzu (The Art of War) @My Gloomy Monday

Rapat Senin pagi :
Kamu kok tidak ingat berapa jumlah pemasang iklan hingga Jumat lalu? (Hihi.. tersindir nih.. ngakunya pakai BB, kok teutep ga update)

Kenapa kamu belum mulai membuat partitur? (hei! sekarang pihak yang terkait belum kasih on hands order, dah ditanya lho, sehingga pihak kami belum bisa memastikan jumlah space kosong untuk kami garap).

Kenapa...... (Ih, waktu itu Anda langsung berkata demikian, sekarang kok lempar kesalahan di gw...)

Anda kan Jenderal bermukim di dalam benteng pertahanan, sementara Saya si Panglima di lapangan. Jadi siapa yang lebih tahu medan perang????

Siap, ga siap, Saya harus siap menang perang, membawa bintang tanda jasa untuk Anda.

(Pelajaran kupetik : Siapkan Data; Sikap Manajerial; dan Komunikasi Lintas Koordinasi!)

Saturday, April 18, 2009

Hakuna Matata

Did you know :
40% of your worries may never happen
30% of your worries are about past events and nothing can be done about them
10% of your worries are about petty things
12% of your worries are about your health or diet, your weight, etc. and will only aggravate the situation

So : STOP WORRYING TODAY!

(Source : Raffles HealthNews – a Publication Magazine by Raffles Medical Group Singapore)

**
Film kartun produksi Walt Disney pada pertengahan 90-an, Lion King, memuat kalimat yang saat ini kujadikan tagline hidup. ”Hakuna Matata” yang artinya lebih kurang ”Tak Perlu Khawatir”.

Jalani saja : every journey has the end….every step has the finish line to stop. Every problem has the way to solve.

**

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

Hakuna Matata?
Yeah. It's our motto!
What's a motto?
Nothing. What's a-motto with you?
Those two words will solve all your problems


...

...

Hakuna Matata! What a wonderful phrase
Hakuna Matata! Ain't no passing craze
It means no worries for the rest of your days
It's our problem-free philosophy
Hakuna Matata!


(Lirik lagu “Hakuna Matata” yang musiknya digarap oleh Elton John, dan lirik oleh Tim Rice --- dalam film terjalin sebagai dialog antara Timon, Pumbaa dan Simba)

Wednesday, April 15, 2009

Menanti

: Di Sini Tepi Tanpamu

Kunanti kau di sudut bangku
hingga dentang dua belas kali berbunyi
Walau daku dikutuk jadi labu
Setia kutunggu hingga langit bumi beradu

Tentang Rindu Ini

Selalu ada puisi dalam rindu mendekap
Ada rentang dalam kisah tertunda
Semua menyatukan kita dalam selemparan jarak
Lalu kisah kita hantarkan saat rindu ini melebur

Tak usah cerita soal mimpi buruk mencabik
Sajikan senyum termanis meski kaki menjejak kerikil bimbang
Rindu ini terlalu cair untuk waktu yang beku


***

Aku Ingin Mencintaimu Sepenuh Hati – fase 2

Rangkul diri ini dalam gelombang memeluk
Saat kilau mata tak berbicara senyum pun tak terkata
Pasrahkan diri teraduk dalam biduk kau unjuk
Takluk diriku dalam rasa bertabur percaya



Jakarta, 14 April 2009

Tuesday, April 14, 2009

Air di Musim Penghujan

Tahun kelahiranku berunsur kayu, di bawah naungan zodiak berelemen Yin. Simbol Yin adalah air, kontradiksi dengan Yang bersimbol api.

Dalam teori unsur Cina, Air menghasilkan Kayu. Dan berarti pula, Kayu melemahkan Air yang melemahkan Logam, yang melemahkan Tanah, yang melemahkan Api yang melemahkan Kayu.

Sementara dalam alur berpikirku, ”Air melapukkan Kayu”. Sebagai contoh, lihat saja, langit-langit rumah yang bergelombang dan menganga akibat deraan hujan. Contoh lainnya batu besar bakal pecah akibat tetesan air terus-menerus.

Dan, entah mengapa air seolah mengikutiku. Saat baru lahir dalam hitungan hari dan minggu, saya harus mengungsi ke hotel di kawasan Candi gara-gara kota Semarang dilanda banjir rob.

Saya tumbuh besar di Bogor. Saya cinta kota ini, tapi tidak suka dengan curah hujannya yang tinggi. Lembab. Dinginnya kadang membuat saya harus meringkuk berselimut tebal di ranjang, di lain waktu kadang hidungku yang mengulah dengan mengeluarkan semacam bunyi ringkikan. Bukan bengek. Semula saya kira ini sinusitis, tapi ternyata lebih tepatnya alergi dingin. Dokter THT mengatakan ini akibat tulang hidungku yang sedikit bengkok. Terlihat normal dari luar, tapi dari hasil rontgen tulang, itu ibarat palang pintu setengah tertutup (atau setengah terbuka... tergantung dari mana sudut pandangmu) untuk sirkulasi udara.

Zaman kuliah pun pernah mengalami banjir di kamar kos. Saat itu saya mahasiswa dan baru pertama kali melanglang ke daerah Jakarta Barat sehingga memutuskan perlu menyewa sebuah kamar kos di jalan Dr. Muwardi. Apalagi, kuliah di semester pertama banyak mata kuliah dan praktikum di jam pagi.

Lalu, awal tahun ini kamar kos-ku bocor. Malam hari saya harus menyelamatkan barang sejauh mungkin dari tetesan air yang menitik kecil namun melaju pasti.

Yin berkonotasi terhadap feminin, hitam,dan bersifat pasif. Sepertinya sesuai dengan sifatku yang melankolis dan enggan berkonfrontasi. Mungkin pula sebagai pembenaran diri bahwa : kadang cara terbaik menikmati hidup adalah mengikuti gejolak hidup bagai air mengalir.

(Coretan ini dibuat pada : 17 Januari 2009.... ternyata baru selesai sekarang)

Gambar dikutip dari : www.zcache.com)

Aku Ingin Mencintaimu Sepenuh Hati

Aku ingin mencintaimu sepenuh hati
Bersama lekuk bidang dalam senyum mentari

Aku menyayangimu bagai buih di laut
menyelam samudra menikmati geliat ombak
Menelan asin garam, merintih tergores karang
Pasrah berputar-putar dalam riak samudra


Jakarta, 15 februari 2009

Bongkah Hati


Kau cuil bongkah hati
Satu cuplikan, sekeping, sekerat, sejengkal
Hingga lumat dalam dekapmu


Jakarta, 13 Feb’09

Monday, April 13, 2009

Jadi Golput di Negeri Seberang

Saya tidak tahu mau milih siapa di Pemilu 9 April 2009. Tapi yang pasti, saya berencana menggunakan Hak Pilih alias tidak mau golput.

Dari Selasa (7/4) hingga Kamis (9/4), saya pergi ke Singapura atas tugas kantor. Kamis siang usai meeting di Mercure Roxy Hotel, saya naik taksi melesat ke KBRI di Singapura yang letaknya di Chatsworth. Sesampainya di sana, auch! Saya sudah terlambat. Election day closed at 3.00 PM, sementara saya sampai di sana jam 3.40 PM. Dan di belakang saya berhenti pula taksi berisi keluarga (2 putra dan ibu) yang mengalami nasib sama.

Tak sampai semenit, di belakangnya datang lagi taksi dengan seorang kakek sebagai penumpang di dalamnya. Pasti mereka berniat sama seperti saya, “Want to be a good citizen”.

Aih! Saya kok kayak the truly Indonesian people : jam karet. Telat -padahal hanya- 35-40 menit! Dan sniff.. melayang pula uang saya sebesar S$10 plus 40 sen untuk bayar taksi dari East Coast Park menuju Chatsworth. (Saya jadi membayangkan dengan uang tersebut saya bisa membeli kaus Singapura seharga antara S$7 - 12 di Mustafa Centre. Atau tas eco-friendly di Metro, atau apapun lah di Takasimaya supaya menenteng tas belanja berbahan kertas yang bisa dipakai ulang menunjukkan kita sudah pernah mampir di tempat -yang katanya- the must shop you have to go when you’re in Singapore lah..).

Batal men-contreng dan gagal memiliki pengalaman ikut pemilihan umum di negeri seberang, saya pun berlalu dari Kedutaan. Destinasi berikutnya : ke rumah tante saya. Hmmm... lucky me! Di sana sudah menanti kue muffin (hmmm masih anget-anget baru keluar dari dalam microwave) disajikan bersama kopi susu hangat. Ganti baju, melemaskan kaki lalu sambil menikmati kudapan tersebut, Benji, anjing jenis beagle peliharaan tante saya, tidur manis di bawah kaki saya.

Ngobrol sama Siti, pembantu RT di rumah tante, dia mengatakan ikut pemilihan umum via pos. Lha? Apaan tuh? Berdasarkan cerita mbak Siti, sebatas masih kuingat, ia menerima surat suara dari kantor kedutaan yang bisa dicontreng di rumah dan dikirimkan kembali via kantor pos. Ada batas waktu 10 hari pengembalian via pos (CMIIW)... Ah ya sudahlah.... lebih baik pikirkan saja bagaimana menikmati extend yang baik di Negeri Singa :-)

Monday, April 06, 2009

Karma

Kaka……: eno bogooooooorrrrrrrrr

Me: iyaaaaaaaaaaaaa

Kaka……: lg ngapain buuuuuuukkkkkk.......

Me: biasa deh.. update antivirus. ugh besok dah kerja lagi ya 

Me : lagi ngapain? siapin berita besok?

Kaka.......: yup...........supersib nih...... reporter pade bandelllllllllllll

Me: pada ga masuk ya? jd teringet saat dirimu jd reporter?

Kaka..... : iya.........karma kallliiiiiiiiiiiii he he he

Me: hehehe



Ini cuplikan chat antara Saya dengan "Kaka" yang bukan Kaka pemain bola Brasil yang sedang merumput di AC Milan. Namun kesamaan keduanya adalah semangatnya -satu semangat ngejar bola, yang teman saya ini semangat ngejar berita- buktinya teman saya ini sudah naik posisi jadi Redaktur, sementara saya menyingkir dari dunia kewartawanan dan beralih jadi Tukang Nulis.

Obrolan ranah maya ini terjadi Minggu malam. Para pekerja media harian, seperti wartawan, redaktur, fotografer, hingga anak disain yang bertanggung jawab di bagian layout, umumnya bekerja dan masuk kantor pada Minggu. Karena mereka menyiapkan berita untuk koran terbit Senin.

Nah, bagi kami (saya, Kaka, dan teman wartawan lainnya) kadang atau beberapa kali terjadi bahwa Minggu menjadi hari ”paceklik berita”. Kerja mencari berita bagi wartawan harian terjadi antara Senin sampai Jumat. Syukur banget jika pada hari sebelumnya, Jumat, kami memperoleh berita yang bisa ’disimpan’ untuk tayang Senin. Tapi kalau momen liputan itu ramai-ramai dengan wartawan media lain atau merupakan isu hangat tentu hasil pencarian berita di hari Jumat tak bisa ’ditabung’ untuk Ahad nanti.

Salah satu poin berita adalah "kebaruan", jadi dari hasil liputan menjelang weekend kami tambahkan dengan komentar atau dari narasumber lain (bisa pengamat, ahli, atau cross opinion dari sumber terkait). Nah masalah lain jika narasumber tak bisa dihubungi di hari yang galibnya sebagai hari libur. Makanya, beberapa dari kami kadang punya narasumber favorit karena bisa dihubungi kapan saja dan tidak pelit kasih statement hehehe... Lebih baik lagi jika memang kami punya persediaan...tapi itu kan idealnya?! Seringkali selama sepekan itu sudah pusing dengan ”berita kejar hari ini tayang hari esok” ketimbang menyimpan berita.

Belum lagi godaan lain, misalkan melihat teman, saudara dsb yang memang hari Minggu libur. Duh.. tidur di rumah atau enakan jalan-jalan (Ka, jadi mencoba ingat-ingat siapa yaa yang sering nonton sama pacarnya dulu, setelah itu baru ke kantor??? Hehe....)!

Ga heran pula ada yang ngakalin ngetik di hari Sabtu dan ga nongol di hari Minggu. Keuntungan cara tersebut : bisa berakhir pekan dengan santai, ga ketemu sama bos (Redaktur), dan matikan ponsel supaya ga bisa dihubungi sama orang kantor hahaha....

Anehnya pula kondisi tubuh tiba-tiba sering drop di akhir pekan. Demam, meriang, sakit perut, dsb akhirnya absen tidak masuk kantor. Nah, kalau sudah begini, serahkan pada Redaktur untuk kelimpungan mengisi halaman...haha, makanya ini yang antara Saya dan Kaka diskusikan sebagai ”Karma” ketika dia sudah pada posisi Redaktur.

Tulisan ini bukan bermaksud membuka pikiran ’nakal’ dari junior lho...Yah, that's reality ketika kamu bergelut menjadi wartawan media harian bahkan reporter televisi. Ketika jadwal kerja kamu ber-anomali dengan jadwal kerja umumnya orang.

”Itulah minggu....kadang bawa kesenangan kadang bawa kesusahan..........tapi ga papa kan, masih bs dihandle???” begitu kata Kaka.

Yap, saya sih yakin temanku ini bukan redaktur yang cuma sekadar terima berita dari anak buah. Tapi masih semangat cari berita dan menjalin relasi dengan narasumber supaya tetap ter-update isu di lapangan.

Wednesday, April 01, 2009

Aku vs Kamu

Ketika Aku-Kamu semakin berjarak
Aku melihat lengkung senyummu di antara awan
Terpetakan dalam biru langit
Bersama sekerat hati semakin merindu

Ada beribu kisah terlalui, selalu kembali ke Kamu
Sepertinya kita tengah dalam satu siklus
Melingkar berputar berakhir di Kamu
Mungkin Kamu perlu memegang kunci pembuka pintu hati
Seseorang di dalam bakal menyambutmu
Ia duduk termenung menghitung waktu terbawa angin
Saat Kamu datang Ia tergagap menyapa,
”Mau...maukah Kamu....menemani Aku...hingga... ujung .... senja...nanti?”



Jakarta, Februari 2009

Satu Purnama Hadir

Satu purnama hadir
menuntun kita ke bulan berikut,
Mengajakmu menghitung hari terulur
Ternyata kita masih menikmati satu purnama
Menanti hingga bulan bulat penuh,
Merangkum hati selalu merindu.


Jakarta, 13 Februari 2009 (Edited)
(Foto jepretan sendiri)

Monday, March 23, 2009

Kehilangan

Hari ini saya tiba-tiba berpikir tentang “Kehilangan”.
Bukan kehilangan barang, bukan kehilangan kekasih hati, bukan kehilangan kesempatan unjuk prestasi kerja, bukan pula kehilangan kesadaran.
Akan tetapi, kehilangan ...... sniff ... untuk menyebut dan menuliskannya saja, Saya tidak berani.

Pulang ke rumah Bogor akhir pekan kemarin, saya mendengar berita Ibu mertua kakakku sakit parah, hingga butuh perawatan rumah sakit. Beliau memang sudah lama mengidap Diabetes.

Saat pulang ke rumah juga, saya baru tahu Papa lagi flu. Kedengarannya sih sepele. Sakit standar.”Agh, sakit flu aja....,” begitu pasti orang berkilah jika mendengar sakitnya seseorang. Akan tetapi, sakit flu bagi orang sudah tua, mantan perokok berat dan memiliki riwaya jantung, sakit flu masalah besar.

Setelah beberapa hari makan obat dokter, Papa saya tetap bermasalah dengan pernafasannya. Sesak nafas. Senin ini saya pun mengantarkan ayah saya ke Unit Gawat Darurat (UGD). Alhamdullilah... setelah diuapi (memang alat semacam ini sudah tersedia di rumah tapi ternyata rusak :( ... hiks jadi malu, terjebak masalah mendasar : kalau tidak perlu maka tak diperhatikan performanya), kondisi fisik beliau membaik dan dokter mengizinkan pulang ke rumah. Syukur alhamdullilah :)

Tentu pulang bersama sejumlah obat, surat rujukan ke laboratorium, dan nasehat ini itu.

Hanya saja, selama menunggu beliau di ruang yang didominasi putih, sembari memandang sejumlah pasien terbujur tak berdaya di kiri kanan, sejumlah pikiran terlintas...

Ya ampun! Betapa pucatnya Papa saya (....Ya Tuhan! Saya masih butuh banyak waktu untuk berbakti membalas kasih sayang orangtua)….

Ya ampun! Saya menyesal pernah merokok, pernah melakukan sejumlah pantangan hidup sehat (.... Ya Tuhan! Saya belum punya cukup uang untuk membahagiakan kedua orangtua..)....

Ya Tuhan! Ampuni saya jika pernah menjadi anak bandel, atau tak baik budi terhadap orangtua.....

Saya belum begini begitu...

Ya Tuhan, Saya memanjatkan doa beri kesempatan kedua orangtuaku panjang umur, kesehatan yang baik, dan masa tua bahagia. Berilah Saya kesempatan memperbaiki diri untuk menjadi anak yang lebih baik bagi kedua orangtua. Amin.

Jadi ingat : untuk meluangkan waktu lebih sering menelpon rumah Bogor, lebih penyabar, dll.

Cinta Pertama

Alam berdansa dalam langit merah jambu
Seranum pipiku kala kita bertemu
Ada sensasi berbeda ketika kau hujam mataku
Bersama lingkar jemari bertaut
Ku ta’u ini rasa pertama kali

Langit tersenyum dalam warna lembayung
Saat kita memburai benang asa dipintal bersama
Bernyanyi sambil mencabik puisi toreh di batu janji
Kisah ini kita larung dalam rindu beku yang mencair
Hingga bermuara di ujung malam

Esok masih misteri milik kita
Kita nikmati hari ini hingga raga memanggil ke peraduan
Bermimpi bulan sabit melengkungkan senyum
Sensasi pertama kita kenang dalam kotak belahan hati



Bogor, 23 Maret 2009

Catatan : puisi ini kubuat sbg balasan puisi untuk rekan baru di milis. 'mayan... temanya menggodaku untuk olah kata di sela sengkarut pikiran.

Sunday, March 22, 2009

Forgiven Not Forgotten

Seorang perempuan mendatangi toko buku. Ia menghampiri penjual yang sedang terkantuk-kantuk menunggu pembeli di tengah siang.

”Saya mau beli penghapus,” kata perempuan.

”Penghapus apa? Pensil? Bolpen? White board?” tanya si penjual.

“Saya ingin menghapus seseorang dari ingatan,” kata perempuan.

Penjual bengong. Lalu ia menggeleng. ”Saya hanya menjual penghapus pensil, tinta, atau tip-ex. Kertas label juga bisa menutup yang salah. Penghapus papan tulis. Tapi saya tak tahu ada alat untuk menghapus ingatan. Maaf Anda mungkin bisa cari di toko lain.”

Perempuan itu mengucapkan terima kasih dan berlalu. Ia menghampiri tempat servis komputer. ”Aku pernah dengar, memori bisa dihapus,” kata dia. ”Bisakah memori tentang seseorang kumusnahkan?” kata perempuan.

Tukang servis komputer menggeleng. ”Saya hanya bisa memformat ulang komputer. Tapi, setahuku daya simpan di otak tak bisa sengaja dihapus. Kecuali... ih amit-amit, amnesia!”

Perempuan pun mulai gundah. Setengah mengeluh Ia berkata pelan seolah pada diri sendiri. ”Kudengar waktu bisa menghapus kenangan. Tapi mengapa saya tidak lupa?”


(Gambar dikutip dari : ”Pandorasbox” by Jasonchan Picture)

21 Saran Sukses

Dari portal internal kantor, saya mengutip "21 Saran Sukses" dari H. Jackson Brown, Jr., dan mencoba menerjemahkannya secara bebas. Terasa bernas dan semoga menarik bagi rekan lain yang baca.... :

1. Nikahi orang yang tepat. Hal ini mempengaruhi 90% kebahagiaan atau kesedihan Anda.

2. Bekerja pada bidang yang Anda minati, sehingga waktu dan talenta Anda tak terbuang percuma.

3. Berikan lebih dari yang orang lain minta, dan lakukan hal tersebut dengan senang hati.

4. Jadilah orang yang paling bersemangat dan paling positif yang pernah Anda kenal.

5. Jadilah pemaaf bagi diri sendiri maupun orang lain.

6. Jadilah murah hati (dermawan)

7. Jadilah orang yang berlapang dada

8. Rajin, rajin, rajin. Alias tekun.

9. Disiplin menabung, lakuka hal ini bahkan dalam kondisi pendapatan Anda kecil sekalipun.

10. Perlakukan orang lain sebagaimana cara kamu ingin diperlakukan.

11. Komitmen pada diri sendiri untuk senantiasa melakukan peningkatan atau perbaikan diri.

12. Komitmen pada diri sendiri untuk kualitas

13. Sadari bahwa sumber kebahagiaan bukan berasal dari barang yang dimiliki, jabatan atau martabat/gengsi, tapi berbasis pada relasi dengan orang-orang yang Anda cintai dan hormati.

14. Jadilah orang yang setia (loyal)

15. Jadilah orang yang jujur

16. Berinisiatif atau self-starter

17. Jadilah orang yang tegas atau berani ambil keputusan, meski kadang keputusan itu salah.

18. Berhenti mencari kambing hitam. Bertanggung jawablah pada kehidupan Anda sendiri.

19. Berani dan teguh hati. Jika kamu menelisir kembali jejak kehidupan yang sudah kamu alami, kamu hanya menyesali apa yang tidak berani kamu (coba) lakukan, dan bukan sebaliknya menyesali apa yang sudah kamu perbuat.

20. Sayangi dan tunjukkan kasih sayang pada orang-orang yang kamu cintai.

21. Jangan melakukan sesuatu yang TIDAK membuat Ibu-mu bangga.

Wednesday, March 18, 2009

Maret 2009

Sudah bulan Maret ya?
Sudah menjalani Kuartal I pada tahun 2009....

Kemarin memotong rambutku pendek. Aku sering beralasan 'potong rambut itu tanda memulai suatu semangat baru'. Walau ga jelas sendiri, semangat baru seperti apa, tujuannya apa, atau latar belakangnya kenapa. Sebenarnya ketika kita memotong rambut, tentu kita akan tampil (sedikit) berbeda dan -berharap- menulari sel-sel otak untuk semangat.

Kuartal-I momen merefleksi hal-hal yang telah kita lakukan antara Januari sampai Maret. Mumpung belum bertumpuk jadi sejumlah hal tertunda dan terlupa (lalu menyesal mengapa diri ini kurang gigih mewujudkan rencana jadi kenyataan).

@Maret : rencana kerja; melihat kembali rencana tahun ini dan merevisi beberapa hal yang ternyata belum jadi prioritas atau karena kondisi di sekitar menyebabkan kita perlu ganti langkah; financial check-up; menyeimbangkan kehidupan antara menjadi manusia pribadi vs makhluk sosial.

@Maret : medical checkup?

@Maret : tersadar diri ini 'kutu' di bumi. Belum ada apa-apanya, ga boleh sirik sama orang lain sekaligus bersyukur pada yang sudah dimiliki, dan mencoba mengisi hidup dengan cara-cara baik.

Tuesday, March 17, 2009

Reuni

Malam ini kami bertemu
Mengenang tautan yang sama
Sepintas semua berubah
Alam telah memahat pengalaman
Asam garam menggerus rupa
Terlelap kami dalam bilangan jam
Merayakan siklus kehidupan


*terinspirasi kumpul2 di BirdCage 13 maret 09

Monday, March 16, 2009

Sepasang Kunang-Kunang


Sepasang kunang-kunang terlalu lama tersimpan dalam tas
Hari ini kuintip mereka berdemo ingin lepas
Biarkan mereka menjadi cahaya bebas
Dalam temaram malam di lampu sudut rel



Jakarta, 11 Maret 2009
* membalas posting puisi rekan BuMa: Sepasang Kunang-Kunang di Dalam Tasku

Coba Menulis Puisi Lagi

Kucoba menulis puisi lagi
Dalam bilik sunyi usai badai menerpa
Buku catatan usang terlempar di bawah meja

Aku ingin kembali menulis puisi
Terpatah-patah kueja kata yang terekam dalam benak
Jemariku terlalu lama menari dalam panggung papan kunci
Hingga lupa menggenggam pena
Mengulang cara klasik menggulirkan rasa

Aku tumpul lama tak berpuisi........

Kahlil di Dinding Kerjaku dan Cerita Tengah Bulan

Otakku compang camping
Penat berpikir
Ototku ngilu beradu
Lelah bergerak

Kubuka kotak roti dari rumah
Kulihat Kahlil di depanku meloncat cari perhatian
”Ihh kamu mau minta bekalku?” makiku dalam hati
Ternyata dia cuma membisikanku begini, "Kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan apabila engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka akan lebih baik jika engkau meninggalkannya.....” (*)
Huh! Pasti dia mau berlanjut dengan perkataan, ”Dan mengambil tempat di depan gapura candi dan meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cinta ... ” (*)
”Hush, sana! Rayu saja May Zubaidah,” balasku.

Aku butuh sepi merenung sendiri
Sudut cubicle menggodaku terpekur
Di siang bolong di hari deadline

Ucapan Kahlil kutempel di dinding kerja
Kuhafal lamat-lamat sambil mengunyah roti
Aku mau kembali jadi anak es em pe
Menghafal puisi pujangga dunia
Dan menemukan kalimat sama dalam sepotong surat cinta
Kiriman tetangga kelas

Dulu aku menjinjing tas Echolac dan membayangkan diri jadi orang dewasa
Berangkat kerja dan punya duit sendiri
Tak ta’u ada pasang surut dan berada di tengah-tengah
Aku tatap zig zag layar monitor dan kalender meja
Konsentrasi..konsentrasi.... Aku tak sudi melihat dompet tertawa
Mempertontonkan mulut ompong di tengah bulan



(*) Sang Nabi – Kahlil Gibran

Karena 3 Kata



Ada kepak kupu-kupu bergerak di jantung hati
A-ha! Aku hafal debar itu
Ada binar dalam kerling mataku
A-ha! Aku hafal gaya itu

Kala jantungku ku berdebar-debar, darah berdesir mengencang
Pasti karena 3 kata
Kala otak ini tak mau berjalan seiring logika
Hanya karena 3 kata
Kata itu : Aku .. Jatuh… Cinta..

Ada yang menyebutku : bodoh, naif, lugu, romantis melankoli
Hahaha... Aku mau menikmatinya
Setelah hibernasi 3 musim
Hohoho.... aku sebenarnya tak ingat membilang selama tidur
Hanya pagi ini aku terbangun
Rasa bergulir pada tombol ”On” untuk 3 kata : Aku.. Jatuh.. Cinta...

Friday, March 13, 2009

Empati -2 dan Bersyukur




Teror telepon gelap.
Kerja yang padat dan multitasking.
Komentar ngawur di blog.
Diskusi milis.
Peristiwa bak mandi (di cerita ”Empati -1").
Saya yang terlalu sensitif bagai reaksi ulat bulu nempel di kulit. Sehingga komentar yang di hari biasa juga ga masalah bagi otak dan hati, kini bereaksi mengharubiru jiwa dan pikiran.

Mungkin saya sedang diuji kekuatan mentalnya.
Mungkin saya murid Perguruan Kapak Maut Naga Geni, sedang mengalami uji ilmu kesabaran, kepekaan, berhati lapang sekaligus berkulit badak, sebelum naik peringkat menjadi lebih mumpuni.
Rangkaian peristiwa yang bikin saya semangat ke gym. Ikuti gerakan instruktur aerobik penuh semangat, menendang lebih keras, semakin banyak keringat tercecer di lantai.... halah!

Komentar nyelekit (mungkin suatu waktu bakal kuhapus) karena bikin panas kuping tapi menyentil saya mendaftarkan sejumlah nikmat dari Tuhan yang saya lupa untuk sujud syukur? Bersyukur memiliki orangtua yang menyayangi diri, kakak-kakak yang sibuk dengan aktivitas masing-masing (yah, lebih baik gitu kan ketimbang 4 orang x 2 (dengan pasangan) sibuk mengurusi aku?!).

Bersyukur telah diberi otak sesuai tes-tes terukur : IQ yang di antara 'di atas normal' dan 'cerdas', lulus berijazah dari TK-SD-SMP-SMA-universitas. Bergelar Sarjana Teknik Geologi tapi tak bekerja sesuai bidang ilmu. Mungkin saya tidak semakmur penghasilan rekan-rekan yang bekerja sesuai gelar sarjana, tapi saya bisa mengatakan diri ini menikmati kerja sesuai hobi (menulis) ..Ohya, membaca komik Tintin di waktu kecil menginspirasiku untuk menjadi wartawan dan thanks God, ternyata menjadi kenyataan. Sepertinya itu contoh yang bisa kutularkan pada anak kecil untuk benar adanya : berani bermimpi dan suatu waktu keinginan kamu itu terwujud.

Bersyukur pula pekerjaan telah mengantarku jalan-jalan ke pelosok tanah air yang belum tentu bisa dan mau kulakukan jika dari kantung sendiri. Bisa belanja dan hunting di mal atas nama pekerjaan maupun kesenangan pribadi, bisa bangun kesiangan tanpa merasa bersalah, bisa berkhayal asalkan ada output advertorial yang bikin puas klien?

Bersyukur sebenarnya saya ’tidak sendiri’, ada orang-orang yang menyayangi kamu. Uff... maaf kan saya yang melupakan kalian, kurang berempati, tidak membalas kasih sayang kalian secara layak, ... maaf.. maaf... saya manusia biasa yang tak luput dari sikap egois.

Ohya, kan menjelang akhir pekan? Saya melirik buku yang saya beli dari pameran Islamic Book Fair Jumat pekan lalu : Fiqih Wanita; the Great Women; kumpulan tulisan Yusuf Mansur; Balthasar’s Odyssey. Bakal mulai saya baca pada malam ini. Haha.. saya kok jadi teringat wajah teman saya yang mengernyitkan muka ketika pertama kalinya menyaksikan saya mencari buku agama di rak toko buku pada Ramadan tahun lalu.... Yap, mungkin saya tambah dewasa dan menyadari saya tiada lancar melangkah tanpa restu-Nya.

(P.S. : tak kesal lagi soal kamar mandi)

Empati -1

Pagi Hari
Terbangun jam 9 lewat..hmm don't ask, itu namanya sudah kesiangan masuk kantor. Pasti pula tidak ada seorang rekan kos yang masih tersisa.

Secara tak tertulis acara mandi pagi penghuni kos di tempat saya sudah terjadwal. Saya punya jam di tengah-tengah dan resiko tersalip dua teman terakhir. Yang kantornya dekat semakin bisa belakangan mandi, bukan?!

Buru-buru ke kamar mandi dan...tak salahkah pandangan mataku? Meski tak mengenakan kacamata, tapi saya bisa melihat jelas bahwa air di bak mandi nyaris tidak ada. Atau sangat rendah, terlihat dari gelembung buih yang memenuhi bak seolah ada yg menjadikan tempat tampung air sebagai ember cuci baju raksasa. Itu buih deterjen!

Saya segera mencari mbak M, pembantu kos. Jika memang mau membersihkan kamar mandi, kok dibiarkan begitu?! Eits, rasanya bukan kebiasaan dia meninggalkan kerja nanggung-nanggung padahal jam tersebut dia menjemput putranya dari TK.

Dan satu hal lagi, kamar mandi ini dibersihkan pembantu pria di hari Sabtu. Saat anak-anak kos biasanya lebih sepi karena pada pulang kampung atau beraktivitas lainnya.

Langsung di otak ku melintas ini kerjaan mbak A, rekan satu kos saya. Saat saya mau menjadi penghuni kos ini, ibu kos dan mbak M sudah mewanti-wanti hati-hati dengan mbak A yang penghuni senior. (Saya sudah pernah mengalami punya induk semang yang cerewet; mendengar keluhan teman yang pembantu kos seenaknya gara-gara dipercaya sangat sangat bangett oleh majikan, tapi baru kali ini mendengar pemilik kos justru takut sama penyewa kamarnya).

Setelah saya mengisi kos ini, secara keseluruhan sih mbak A itu baik. The problem is : dia sangat peduli kebersihan/kerapihan sementara pembantu ibu kos tak selaras dalam hal tersebut. Saya sih berpikir mbak M pembantu kos itu punya batas kemampuan. Yang penting jujur dan tak mengganggu privasi, serta tak lupa menyiapkan fasilitas dan hak anak kos. Asalkan saya atau setiap anak kos punya kamar yang nyaman dan aman untuk numpang tidur dan menaruh barang.

Mbak A ga sungkan-sungkan untuk ribut kenapa lantai ruangan tengah (tempat anak kos berkumpul dan lebih sebagai perlintasan kami memasuki kamar masing-masing) belum disapu atau dipel, lalu tak keberatan untuk mengepel lantai. Terserah jika A merasa senang dengan hal itu tapi jadi terasa lain karena seluruh anak kos perlu tahu bahwa dia yang melakukan hal tersebut. Sniff....

Ok, back to our first topic, jadinya saya mandi pagi hari itu dengan rajin menampung air di gayung dari kran untuk wudhu yang tersedia di kamar mandi. Ohya, saya pikir, jika memang mbak A yang melakukan ”aksi busa”, maka dia yang teratur ritmenya (jam mandi, jam berangkat kerja dan pulang kerja) pasti sore nanti bakal menyelesaikan cuci bak mandi.

Malam Hari
Waks?! Saya pulang dalam kondisi bak mandi masih sama. Pembantu kos langsung kukonfirmasi memang tidak melakukan hal itu, dan ia memastikan Koko membersihkan bak selalu pada setiap Sabtu.

Lalu saya kembali ke atas. Saat bertemu muka dengan mbak A, langsung kutanya kenapa bak mandi penuh busa.... dan seperti kuduga, dia yang melakukan dengan alasan bak mandi kotor. Dan kotoran-kotoran yang menempel di permukaan bak bakal terlepas kalau direndam air bercampur larutan Rinso (sumpah... aku jadi berpikir mbak ini kebanyakan liat iklan di tv).

Mukaku langsung manyun dan berkomentar, ”Tapi merepotkan orang lain. Kan masih ada yang perlu ke kamar mandi. Tadi pagi saya harus nampung air di gayung.”

”Tadi saya juga begitu kok. Tampung di gayung. Abis airnya kotor, itu lho, ada kayak nempel-nempel di bak. Minggu lalu juga aku yang bersihin,” kata dia. Buset deh.. terserah mbak kalau menyukai gaya gayung. Tapi lain ceritanya kalau orang lain melakukannya tanpa kenikmatan! Buang waktu pula buat yang sudah kesiangan bangun.

”Kalau airnya kotor, pakai Dettol aja mbak.”

Saya pun berlalu pergi.

(Dalam hatiku, pantesan Koko makin malas-malasan bersihin kamar mandi. Wong ada sukarelawan.....)

Akupun ngeloyor masuk ke kamar tidur. Lalu ke kamar mandi dengan meletakkan ember di bawah kran air. Kuputar kencang-kencang supaya terdengar bunyi berisik saat air berkecepatan tinggi mengalir menyentuh permukaan ember kosong. Kebetulan kamar dia sebelahan kamar mandi, lalu tak lama kemudian terdengar pula suara mesin pompa (yang lagi-lagi letaknya berdekatan dengan kamarnya).

Sebenarnya malam itu saya bisa tidak mandi, tapi rasanya kekesalan sudah diubun-ubun. Kenapa sih ada orang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkan pengaruhnya ke orang lain? Sifat yang disebut empati dengan mencoba memposisikan diri seandainya dia jadi ’korban’ yaitu saya? Tak usah memikirkan saya, tapi pada schedule mandi pagi (secara normal) ada si C yang masuk setelah mbak A. Selain itu, jika menunggu A mencuci bersih bak mandi hingga esok hari, maka si T dan Z (yang kantor lebih jauh sehingga duluan mandi) harus ’menikmati’ ritual gayung pula karena (saya yakin) A tidak bakal mau mengganggu jam tidur serta bangun lebih pagi demi menyelesaikan pe-er nya.

Ikut Sosialisasi Pajak

"Gimana, No? Makin ngerti setelah ikut sosialisasi?" tanya teman setelah melihatku kembali ke meja kerja.

"Makin sadar kalo gw ga punya harta untuk dilaporkan," jawabku sambil garuk-garuk kepala gaya bego.

Iya,benar! Saya jadi tergerak malam ini melakukan financial checkup setelah siang tadi di kantor kami diadakan Sosialisasi Pengisian dan Pelaporan SPT 2008. Yang jelas, saya secara gampang tinggal mengembalikan formulir : ..... yang menandakan saya tidak mempunyai penghasilan lainya kecuali bunga bank dan/atau bunga koperasi.

Haha.. keta’uan kan kemampuan finansial saya? (Betapa kasihannya diri saya.....)

Namun dalam formulir yang harus diserahkan kembali ke Kantor Pajak sesuai alamat KTP, kita harus mengisi Harta vs Utang secara detail.

Yang menarik adalah ucapan Bapak dari Kantor Pajak yang suaranya serak-serak bikin saya menerka pastilah orang ini perokok berat jenis Dji Sam Soe atau rokok kretek lainnya. (eh padahal belum tentu ya.. buktinya saya sendiri pernah merokok dengan salah satu alasan supaya suara cempreng saya berubah jadi berat walaupun tak berhasil. Ohya, lebih kurang begini kata Bapak 234 itu,”Kenaikan harta berjalan meningkat seiring perolehan pendapatan seseorang. Inilah yang menjadi dasar kami dari Direktorat Pajak untuk meminta Anda mengisi kolom harta.”

Ohya, saya memang masuk ruangan ketika acara sedang berlangsung dan membahas pengisian kolom jumlah keseluruhan harta yang dimiliki pada akhir tahun dan jumlah keseluruhan kewajiban/utang pada akhir tahun.

Sebagai contoh, harta berupa rumah dinilai sebesar harga perolehan transaksi, sedangkan jika rumah tersebut masih berstatus Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sisa saldo pokok KPR hingga 31 Desember 2008 (CMIIW....)

Poin lain yang saya ingat : bunga bukan deposito (pinjaman uang yang kita berikan pada teman dengan janji pengembalian uang.. rentenir? atau contoh lain, membantu teman dengan menyuntikkan modal usaha), saham, klaim warisan termasuk yang perlu kita cantumkan dalam formulir. Juga jika kita memiliki kendaraan bermotor, tanah, deposito dan tabungan. Sedangkan tabungan pensiun spt DPLK atau asuransi baru dianggap sebagai harta jika sudah dicairkan.

Dan, jika pasangan suami istri bekerja maka hukum yang berlaku satu account NPWP saja yaitu suami sebagai kepala rumah tangga. Hanya saja, dalam pengembalian formulir ke Kantor Pajak harus menyertakan bukti potongan bahwa istri bekerja.

Pantas saja, rekan-rekan peserta satu per satu menghilang sebelum sosialisasi yang berlangsung di Ruang Rapat Besar selesai. Yang masih tersisa di ruangan serta menyimak dengan antusias mayoritas bapak-bapak dan ibu-ibu yang jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah jari-jari tangan (gw yakin di rumahnya para wanita tersebut menjabat sebagai Direktur Keuangan sekaligus Direktur Jenderal Anggaran RT.. hehehe).

O my gosh, rasanya hidup saya sudah dibelit pajak : rekening bank tempat gaji numpang lewat sudah kena biaya administrasi dan pajak. Makan, nonton, beli album penyanyi dalam compact disk, airport tax, hingga melewati jalan raya pun saya di-cuci otak dengan kalimat ”Jalan ini Dibangun berkat Pajak yang Anda bayarkan” sembari membayar tiket tol yang selalu naik dari tahun ke tahun dengan alasan akan kembali dalam bentuk kenyamanan pengguna.

Tahun lalu, saya membiarkan berkas-berkas pengisian pajak dan semacam itu teronggok di meja saya, lalu tercampur bersama buku dan lembaran kertas kerja lainnya. Tahu-tahu sebulan kemudian kartu NPWP sudah ada di tangan saya. Tak ada yang perlu dilaporkan, sudah ’dibereskan kantor’. Demikian pula tahun ini saya belum punya harta (saya lebih suka menyebutkan kata ”belum” sebagai doa melapangkan jalan menuju ”sudah”) tapi bukan berarti kamu tidak perlu paham kan?!

Saya mau belajar mengisi formulir pajak sebagai bagian dari orang yang melek finansial. (Atau bagian dari menjadi warga negara yang baik? Hehe... )Selain itu, acara tadi mengetuk kesadaran saya melakukan financial check-up, apakah ada yang salah dengan cara saya mengelola penghasilan pribadi selama ini.

Tuesday, March 10, 2009

Peka




Duduk bersila di tengah padang rumput
menikmati desau angin menggesek daun
mendengar alunan mereka berbisik
bersama angin menggoda helai rambut
tergelung menari bersama udara

Dengarkan suara hati dan intuisi terdalam
nikmati cahaya mentari merajam pori-pori tubuh
hingga menyesap dalam aliran darah
merayakan degup manusia hidup


Jakarta, 10 Maret 2009


(Gambar dikutip dari : www.leavingbio.net))

Monday, March 09, 2009

Across the Universe

Libur selama 3 hari tak terasa hampir berlalu ketika kuisi dengan berbagai aktifitas rumahan. Mulai dari beres-beres, membaca buku hingga menonton film.

Membaca buku sebagai bagian dari relaksasi dan penyegaran otak ternyata tak terlalu efek. Saya ’melahap’ dua buku hingga tuntas. Ternyata isi kedua buku terasa muram, meski saya temukan juga kalimat-kalimat bermakna (saya catat di notes siapa tahu nanti bakal berguna untuk kutipan), sedih namun ada pula bagian lucu. Namun saya berjanji akan meresensi buku-buku tersebut dan mempostingnya di blog Ruang-Resensi.

Lalu, pada hari terakhir liburan saya menonton film Across the Universe. Saya tertarik menonton film ini gara-gara di kantorku ada semacam komunitas penggemar/diskusi film yang memasukkan film ini ke dalam agenda. Tidak ikut nonton bareng, saya cari-cari di tempat jualan dvd bajakan (hehe....)

Pada dasarnya film ini merupakan kisah cinta berlatar tahun 60-an dan Perang Vietnam. Kalau tertarik baca resensi filmku, klik di sini. Sepanjang 1 jam 49 menit berbagai lagu Beatles menjadi penguat cerita. Semula saya berpikir, Omigod, gua kan ga demen dan hampir ga tahu lagu Beatles. Ohya, cuma satu lagu genjreng-genjreng yang liriknya seperti ini : Please Mr. Postman.. oh yeah...

A-ha! ternyata benar istilah tak berani mencoba, maka kamu tak tahu batas toleransimu terhadap sesuatu yang (sepertinya) tak kau suka. Lagu-lagu di dalam film terdengar enak di telinga. Ringan. Secara keseluruhan, saya bisa menyatakan telah mengisi liburan dalam cara yang, mengutip ucapan Mario Teguh, Superb!!

Saturday, March 07, 2009

Gatal Klarifikasi Mengapa Bahagia Menjadi Single : Gara-Gara Komentar di Blog

Blog pribadi menurut saya adalah online diary, yang terserah pemilik mau diisi dengan hal apa saja. Tapi tentu saja tak semua layak dibagi kepada para pembaca, misalkan menjelek-jelekkan orang lain, menyinggung perasaan orang lain atau menyangkut isu sensitif seperti unsur SARA. Hanya saja, komentar hasil postingan tulisan, membuat diri ini gatal mengklarifikasi.

Ternyata blog ini menimbulkan penasaran siapa saya, atau wanita seperti apa pemilik blog bernama cantik Aura-Azzura.

Sahabatku yang juga memiliki blog pribadi, Merry dan Ajeng, pernah curhat dan kesal mengalami komentar dari ’makhluk ajaib’. Kini giliran blog saya!

'Makhluk ajaib’ biasanya mereka menggunakan nama samaran, tidak terdeteksi asal atau profil, hanya sekadar mampir, dan berkomentar yang menjelek-jelekkan pemilik blog. Dunia maya ternyata memberi ranah baru bagi para pengecut.

Tapi para ’makhluk ajaib’ itu pastilah punya banyak waktu luang sehingga mampu menyia-nyiakan bandwidth untuk menghakimi seseorang hanya dari blog yang mereka buat.

Tentu teman-teman saya lebih tahu diri saya. Misalkan Ajeng sudah mewakili kekesalanku dalam tulisan di blog-nya berjudul : Small Brain in the Ass....

Tapi mari kita simak pernyataan si makhluk menyebutkan dirinya Dodol. (Nama adalah doa, dan sepertinya memang dia sudah berdoa bahwa dirinya berotak lemot, gampang jamuran dan berbau seperti dodol) di 2 dari 3 postingan blog saya :

Me-Time
dodol said...
tuh kan bener, sesuai dengan tebakan gw di blog elo sebelomnya. udah matre, hobi belanja, pemalas lagi. siapa coba cowok yang mau ngelamar elo? mending loe nabung deh dari sekarang buat masa tua elo, sebab lo ga akan punya suami n anak yg akan ngerawat elo. tapi kalo ortu lu kaya raya sih ya tunggu aja warisannya dan lo silakan hura2 n males2an terus.


***
Belanja Itu Ritual Sakral Wanita
dodol said...
Dari blog2 elu, tercermin bahwa elu adalah cewek matre, gila belanja, boros, sok fashion, tapi ngga cakep2 amat.
Tarohan, lu masih jomblo kan? Denger ya, kami para cowok males banget buat jadi pacar atau bahkan suami cewek sejenis elo. Kalopun ada yang mau paling ada "maksud2" laen.
Jadi loe cari aja sana deh cowok kaya hidung belang yg mau biayain gaya hiudp loe yg gila2an.

***

Saya jadi kembali mempertanyakan apakah stigma di masyarakat menyatakan wanita lajang –tapi karena 'lajang' bisa diplesetkan menjadi 'jalang'- maka selanjutnya saya tulis sebagai ’single’, serta bekerja secara halal sehingga ada uang untuk belanja ini itu, adalah aneh/salah?

Revolusi Industri dan Perang Dunia (PD) II memberi pergeseran wanita yang semula bekerja domestik kemudian terjun bekerja di pabrik dsb, bertujuan mencari nafkah dan menopang kehidupan keluarga. Saat PD II, kaum pria banyak yang pergi ke medan perang maka pada saat bersamaan wanita menggantikan posisi kerja pria menjadi buruh di pabrik. Tapi, seiring perkembangan zaman, jumlah wanita bekerja meningkat dan tujuan bukan lagi mencari duit semata. Eksistensi diri karena peningkatan strata pendidikan, dan kesempatan mengembangkan keahlian. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mengenal teman-teman wanita yang sukses menyeimbangkan karir dan kehidupan keluarganya.

Saya sendiri kadang ditanya, ”Kapan kirim undangan?”, ”Kapan menikah?” dan saya hanya membalas sambil tersenyum manis saja. Karena (pengalaman nih) kalau saya bilang ”Belum ada”, maka saya justru di-hakimi lagi dengan pernyataan, ”Kamu kebanyakan milih...” hihi.. saya kan juga bukan selebritas yang perlu mengkonfirmasi bahwa saat ini sedang dekat dengan pria berinisial A, kencan bersama B, atau pergi nonton dengan si Z.

Kadang klarifikasi detil tak dibutuhkan. Bukankah ketika kamu menjalin relasi kasih sayang harus berpegang pada prinsip kenang yang baik-baik saja dari suatu hubungan dan don't share it to anyone? Ketika putus, tentu kamu sebal mendapati mantan yang menjelek-jelekkan kamu, atau jika mantan sudah menikah lebih dulu ketimbang saya, maka teman-teman saya (walau tanpa komentar langsung) tentu menyadari bahwa mantan saya yang selingkuh duluan ketimbang saya.

Inti dari relasi kasih sayang adalah ’Komunikasi dan Saling Percaya’. Lalu, apakah saya perlu melanjutkan ke jenjang pernikahan suatu relasi yang salah satu pasangan tidak percaya sama kesetiaan saya? Ketika dia mulai membuka handphone saya melihat isi sms di dalamnya serta nama-nama kontak di dalamnya : jelas tidak nyaman! Mungkin orang lain ada yang oke-oke saja dengan kelakuan itu, tapi yang jelas bukan saya! Ketika pasangan sudah mulai menyuruh saya harus mengikuti maunya, sudah mencoba melayangkan tangan ke muka saya yang ngga cakep-cakep banget (tapi waktu awal bertemu bagi dia tentu cukup manis sehingga dia mau mengejar saya), yang saya bayangkan adalah pernikahan yang berakhir ke Kalyanamitra, rumah sakit atau lembaga apapun yang berurusan dengan KDRT.

Yap! wanita single juga pernah digoda dengan ”cowok hidung belang” yang mengiming-imingi tinggal di apartemen, disantuni lahir-batin dan menjanjikan menyandang gelar ’istri’ meski entah yang keberapa. Tapi, maaf, saya lebih memilih bangun pagi, bekerja dari Senin sampai Jumat, tegang urat leher dan otak 40 jam seminggu, dapat uang dari jerih payah sendiri, sehingga saya membutuhkan istirahat yang disebut ”Me-Time”.

Tapi saya juga bertanya mana derajat yang lebih rendah : ’cowok hidung belang’ atau cowok bejat mengobral kata ’sayang’ atau ’aku cinta padamu’ berbuntut ajakan check-in di hotel? Hasil terlalu dini membaca kisah Oh Mama Oh Papa dari Majalah Kartini, saya mencuri baca sewaktu di Sekolah Dasar, telah menyadarkan saya bahwa perempuan rentan pada kasus-kasus semacam ini. Sehingga, buat apa kamu (para wanita) melakukan perbuatan yang ”I lost it last night” dilanjutkan penyesalan, ketakutan hamil tak diinginkan, atau terkena penyakit seksual menular?!

Wanita single pekerja melek finansial sehingga sadar perlunya memiliki tabungan pensiun/persiapan masa tua. Namun pembahasan tentang perencanaan keuangan bukan menjadi topik pilihan kami di blog karena sudah ada pakar yang lebih berkompeten berbicara.

Saya tidak tertarik mengupas di blog bahwa saya punya sejumlah keponakan lucu-lucu dari teman dan saudara. Saya bersyukur menjadi bagian dari pengamat tumbuh kembang mereka ibarat ibu menyaksikan pertumbuhan anaknya. Pernah sedih saat mereka sakit dan menemani mereka saat di rumah sakit, atau bahagia bermain bersama. Saya juga secara berkala berkunjung ke panti asuhan, hanya saja karya saya tidak seberapa dibandingkan perusahaan yang perlu melaporkan kinerja CSR-nya.

Mengutip kalimat dari buku When God Winks, ”kita ibarat memegang 1 ujung benang transparan, dia memegang ujung yang lain. Tapi benang itu belum kita dan dia gulung sampai bisa saling ketemu". ...Saya tetap percaya dengan konsep berpasangan. Saya anggap ada The One dalam kehidupan saya dalam relasi kasih sayang: mungkin dia pernah hadir, mungkin sekarang sudah ada, atau suatu waktu bakal hadir. Tapi yang jelas, Tuhan punya rahasia skenario yang saya jalani dan nikmati sekarang. Jadi, kesimpulannya, sampai saat ini memang saya single, pekerja kantoran yang bahagia dengan gaji dan fasilitas yang saya peroleh, dan saya bersyukur atas kehidupan saya.

Justru orang-orang berpikiran dodol seperti komentar orang bernama Dodol yang perlu dikasihani. Setiap orang punya skenario hidup untuk dijalani. Dan daripada gatal mengomentari tetangga, lebih baik mari kita bertanya pada diri sendiri : Apakah Saya sudah bahagia, bersyukur, dan menjalankan skenario kehidupan milik sendiri dengan sebaik-baiknya???

Friday, March 06, 2009

Me-Time

Saya sedang merasa tidak mau melakukan apa-apa. Ingin mengunci diri di kamar, menghabiskan waktu bersama setumpukan buku maupun film.

Buku yang kupilih bergenre fiksi, chicklit, komik, atau apapun kisah yang ringan. Saya masih memiliki setumpuk buku yang sudah dibeli, namun hingga saat ini belum kubaca sama sekali. Kemudian mengisi hari bersama film bergenre komedi romantis. Menikmati setiap scene film yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, atau sebaliknya, menangis termehek-mehek. Lebih seru lagi sambil bergelung di balik bed cover kuning favoritku.

Yang penting : tidak mau berpikir dan menjadi orang paling malas di dunia. Gejala ini mungkin erat hubungannya dengan tanggalan merah pada Senin besok (9/3). Buat karyawan dengan jam kerja 5 hari seminggu, dari Senin sampai Jumat, berarti kesempatan libur panjang.

Setiap orang membutuhkan ”Me-Time”, yaitu sejumlah waktu yang dihabiskan untuk diri sendiri.

(Foto : buku-buku koleksi pribadi. Gambar dikutip dari : http://imagecache2.allposters.com)

Thursday, March 05, 2009

Belanja Itu Ritual Sakral Wanita


Ada benarnya komentar lebih susah mengenali wanita bersepatu Christian Louboutin ketimbang ber-BlackBerry. Perlu ketelitian ekstra untuk memperhatikan alas di bawah sepatu berwarna merah khas sepatu asal Perancis itu, ketimbang menemukan wanita yang sedang berjalan tapi matanya tak menatap jalan ketika di mal.

Sebuah handheld tergenggam di tangan, dan jemari sibuk bergerak kiri-kanan. Kadang senyum di raut wajah menyiratkan apa aktivitas yang mereka kerjakan. Pasti seputar SMS, chat via Yahoo Messenger (YM), atau Facebook.

Cara lain mengetahui : jika status di Facebook (FB) nya sering ganti dalam hitungan belasan hingga puluhan menit, atau cuma dalam hitungan jam, atau ada tulisan "....Lagi belanja di...", ”....Lagi menikmati (nama makanan) di... ”, ”Otw ke ....” Nah! Sudah ketahuan kan perangkat apa yang digunakan untuk meng-update status tsbt?!

Hmmm.. mungkin sudah BB-addict? Tapi terasa beda-beda tipis dengan kelompok narsis, supaya orang tau dia punya BlackBerry.

Tapi, saya jadi malu sendiri sempat menjadi bagian dari narsis itu. Kejadiannya Sabtu lalu, saat berada di department store saya justru kangen mendengar siulan burung atau ting-tung bunyi sms. Maka saya update -lah status saya di FB :” ...is Sightseeing Shopping... love this kinda activity :)) ”

Di YM kucantumkan status yang sama. Lalu terjadilah chatting bersama seorang teman. Status di YM-nya bikin gatal komentar, dan ternyata temanku yang sedang sekolah di Jerman itu sami mawon ’gatal jempol’ saat menunggu di bandara. Kami pun melakukan diskusi. Yah, isi percakapan kami jenis ladies talk....(alias ga penting! bukan demi bisnis bernilai jutaan hingga miliaran) Semua saya lakukan sembari naik tangga eskalator, menyusur lantai atas, hingga masuk ke gerai perlengkapan olahraga.

Sebentar menclok di Adidas (hello.. mana sentuhan Stella McCartney ya??), lalu melirik Puma yang koleksi desainnya semakin chic dan modis. Diadora yang ternyata not bad (tapi untuk sepatu yang kusukai, ga ada ukuran kaki ku..), lalu bingung memilih antara running shoes putih berlogo swoosh atau Reebok Salon-II.

Lama-kelamaan saya tidak konsentrasi melihat deretan sepatu sport yang terpajang di rak. Akhirnya diskusi kami akhiri dengan saya katakan mau pilih-pilih sepatu dulu.

Saya bisa menyimpulkan : Belanja adalah Ritual Sakral Wanita. Tiada hal lain yang boleh mengganggu kenyamanan kaum hawa selain ’mengganggu’ mbak/mas SPG untuk minta ambilkan model ini, warna itu, pilah pilih ukuran S,M, atau L.

Eh, tapi saya juga punya ’penemuan’ baru dan sepertinya resep jitu menghindari rayuan mbak/mas SPG dengan handheld Berry hitam-ku yang sebesar telapak tangan. Ceritanya saya mampir ke electronic centre yang letaknya di lantai 3 mal yang sama. Ini termasuk gerai favorit kumasuki, dan mata tertumbuk pada sebuah televisi LCD. ”Aih, bagusnya buat dipasang di kamar tidur di Bogor,” pikirku dalam hati.

Saya pun memperhatikan kertas putih yang ditempel di kiri tv mencantumkan harga dan spesifikasi produk. Pada lembaran kertas itu ada pula dicantumkan mekanisme cicilan 6 bulan, 12 bulan. Si mbak SPG pun menghampiri. Setelah tanya ini itu secara detail, lalu berpikir waras (masih sadar bahwa masih banyak alokasi uang untuk keperluan lain), saya pun berkata sambil tersenyum manis, ”Makasih, Mbak. Tapi saya perlu diskusi dulu sama bapak-nya anak-anak,” sembari mengeluarkan Be’ib –nama BlackBerryku- sambil berlalu pergi..... (Hihihi.. sok sibuk pencet-pencet seperti kirim SMS, padahal nge-cek Zodiak Hari Ini).

(Gambar dikutip dari : http://candlefind.com)