Thursday, September 20, 2007

Renungan Ramadhan


Saya lagi tidak puasa, tapi harus menahan haus dan lapar. Alasannya, saya harus menghormati yang sedang menjalankan ibadah tersebut. Ketika saya mulai berpuasa, tidak ada yang memahami saya baru tahap penyesuaian, sementara orang sudah menghitung hari ke-4.

Para penjaja makanan dekat kantor rata-rata pulang kampung, tanpa berpikir masih ada peluang konsumen (dengan kata lain, ada peluang penghasilan). Kenapa orang harus mudik di saat awal Ramadan, padahal masih ada waktu lebih kurang 30 hari berjualan buat tambahan uang pulang saat Lebaran?

Di antara 12 bulan dalam setahun, kenapa hanya 1 bulan menjadi momen kita beramal dan beribadah?

Dan kenapa hanya 1 bulan, kita harus menahan emosi, memilih tutur kata untuk dilontarkan, menata perilaku, di atas menahan haus & lapar?

Berapa kali kamu membicarakan orang, baik kelebihan maupun kekurangannya? Berapa kali sehari kamu berkeluh kesah yang ujung-ujungnya menunjuk orang lain sebagai biang problematika? Berapa kali kamu ‘menginjak’ orang demi kesenangan dan kenyamanan pribadi?

Mengapa harus saya yang menahan diri, padahal orang itu menyebalkan? Katanya emosi gampang meledak kalau lagi menjalankan ibadah puasa, tapi aku rasa di luar bulan Ramadan pun ada kelakuan seseorang yang sudah dari sononya……. Harus orang tersebut yang bercermin dan mengubah perilaku, dan bukan kita (saya dan orang lain di sekitarnya).

Jadi, mending saya cabut tidak usah melihat mukanya. Terserah momen Ramadan akan berlanjut menjadi perayaan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan, tapi kadang ada perilaku yang tidak bisa dibasuh dengan bersidekap tangan dan cium pipi kiri dan kanan, lalu mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Lebih baik saya angkat kaki, dan mencari keteduhan di tempat lain.

(photo by : Eno)
(location : Pantai Senggigi, Lombok, 9 Nov'06)

2 comments:

Restituta said...

gimana menu buka puasa dari kantor, eno? :D

aura-azzura said...

so far sih enak2 lho, tp kl menunya ga oke, gua cabut :p