Saturday, January 26, 2008

Saya dan Manajemen Waktu

”Wah, SMS nya pagi banget. Jam 4 lewat...,” kata Saya.
”Lho. Memang biasa bangun pagi-pagi gitu,” ujarnya.
Ups. Tiba-tiba sejumlah perasaan khas wanita menyerang saya. Saya jadi takut, dia berpikir, ”Pasti nih cewek tidak sholat subuh (memang iya..)”, atau ”jadi cewek kok malas ya. Bangunnya siang boo....”

Saya speechless... Cuma berkomentar, ”Iya nih bangun kesiangan....” dan terusan yang tidak kukatakan: makanya aku baru balas SMS dengan telpon ini di saat jam makan siang.

”Lho, memangnya ga kenapa-kenapa sama kantor?” tanyanya.
”Mmm.... kantorku lumayan fleksibel sih. Asalkan kerjaan beres, memenuhi 8 jam kerja sehari.”

(hehe Eno bo’ong ah. Liat tuh lembaran daftar absensi yang dibagiin setiap awal bulan. Di selembar kertas itu tercetak lengkap tanggal dan hari kerja, jam masuk, dan jam pulang. Ada pula keterangan jumlah jam kerja, lembur dan keterlambatan dari jam masuk yang seharusnya 08.30 ! Memang benar tidak ada punishment, alias resiko tanggung sendiri. Datang siang hari berarti menyelesaikan kerja jauh di malam hari.)

”Iya..Iya...” balasnya. Setelah itu kami mengobrol singkat ga penting dibahas di blog ini. Tapi di hari berikutnya dia menyapa saya via SMS dalam waktu lebih siang. . :))

***

Saya mau membahas Time Management atau Manajemen Waktu. Saya ga ngerti deh apakah memang orang itu sudah bawaan dari sononya bisa bangun pagi, cara membagi waktunya yang baik, atau memang kantornya yang strict terhadap jam kerja.

Saya juga tidak mengerti apakah bidang engineering memang lebih teratur ketimbang pekerja kreatif. Rasanya selama saya menyandang profesi sebagai wartawan, dan kini penulis iklan, adalah hal susah untuk masuk kantor di pagi hari.

Sewaktu menjadi wartawan media cetak harian, teman-teman di kantor tertawa kalau melihat jam undangan yang pagi hari. Pagi hari ini berarti dibawah jam 10.00 WIB. Bukan karena kita doyan acara menjelang makan siang (ups sori...pasti wartawan sanggup bayar makan siang dari kantong sendiri!), akan tetapi rata-rata kami baru bisa bangun jam 9.00-an. Bahkan ada yang lebih. Ini terjadi karena ketika orang lain/pekerja kantoran sudah balik ke rumah atau masih terjebak kemacetan otw home, kami masih sibuk mengetik, mengejar deadline, bahkan tak jarang masih menelpon narasumber minta konfirmasi. Selesai kirim tulisan ke redaktur belum tentu langsung pulang. Kadang itu saatnya kita ngumpul di warung kopi, ngobrol, membahas liputan hari ini, dan kalau mau serius adalah memikirkan suatu isu untuk dikembangkan dalam liputan esok hari.

Kalau pulang ke kos, kadang ada rasa sirik dengan teman kos yang sudah istirahat dan bersiap tidur, sementara kita baru pulang. Tapi menjadi kenikmatan tersendiri pula ketika mendengar ’gedebak-gedebuk’ rekan kos yang berangkat kerja, takut terkena macet dan tak mau terlambat datang, sementara kita masih bisa melingkar di tempat tidur. Keuntungan lain adalah tidak mengantri kamar mandi.

Namun, persoalan yang kini saya hadapi adalah jika kamu baru kerja di saat mentari sudah bersinar galak (dengan asumsi datang kantor jam 10-an ke atas) maka terjadilah ritme kerja yang mundur dan baru kelar malam hari.) Akhirnya, ada pula beberapa urusan tertunda keesokan hari. Asumsi Jika baru pulang malam hari, maka otomatis bangun siang, dan terjadilah ritme masuk kerja siang hari dan pulang malam hari..

Masalahnya mata saya sudah terbiasa menjadi makhluk malam. Sekali saya disentil begadang, maka waktu tidur saya bergeser menjadi jam 3 atau 4 pagi. Dan bangun bukannya bisa cepat.. minimal baru bangun jam 9.00 pagi.

Insomniakah ini termasuk? Saya sendiri kuat melek sejak kecil. Akan tetapi, saya berusaha di tahun ini untuk mencoba mengatur waktuku lebih baik.

No comments: