Thursday, January 21, 2010

Puisi Panik - Hanya Sepenggal

Hap..hap...hap..
Lompat langkah besar-besar
Bum...bum..jantung berdentum
Sigap cepat tulang berderak-derak

***
Ih, binun mau nulis puisi gimana, yang jelas itu menunjukkan kondisiku yang lagi serba hethic, buru-buru. Uf, sebenarnya aku ga suka terburu-buru seperti ini. Tapi besok saya sudah harus terbang ke Singapura, sementara print tiket yang sudah diberikan sekretaris kami pada Jumat lalu, hilang. Yang salah saya lho :(

Snif, untung yang kemarin ternyata fotokopian dari cetak e-ticketpesawat, sehingga ketika saya minta tolong print-kan ulang ke mbak Evie (bagian administrasi kami), dia memberikan yang memang cetak awalnya. Lengkap bersama amplop karton berlogo Garuda sebagai tempat menyimpan tiket. Hihi..senangnya...

Tapi masalah kedua : Jakarta diguyur hujan lebat, lengkap bersama geledek dan angin kencang yang tercirikan dari pohon bergoyang yang bisa kusaksikan dari jendela kantor lantai 2. Hua..hua... kenapa sih langit menangis tidak di saat yang tepat? :(
Aku kan mau keluar kantor buru-buru, sembari menenteng gondolan barang anti kena air?!

Calm down Eno..calm down..Don't be panic.

*Catatan : coretan puisi yang lama kubuat. Waktu itu kusangka hilang tanpa sempat kusimpan. Saat itu kondisi jaringan pun sedang masalah sehingga tidak terpikir bahwa si jaringan dari blogger ini sendiri sudah menyimpankannya buat si penulis blog.

Thursday, January 07, 2010

AlasanTidak nge-Blog

Lagi menebak-nebak penyebab saya belakangan ini jarang nge-blog, alias memposting tulisan di dalam blog. Dan saya menemukan beberapa alasan.

Sibuk bekerja adalah alasan utama saya tak sempat membuat tulisan pribadi maupun puisi untuk dituangkan dalam blog.

Hanya saja, kalau memang waktumu benar-benar tersita untuk aktivitas pekerjaan, mengapa kamu bisa menyelesaikan kasus rumah harta Natalie Brooks dalam waktu 6 jam, bahkan 10 kali menamatkan Agatha Christie-Peril at End House. Sempat menjadi gadis berkemampuan paranormal Cate West, atau membangun pertanian di Ranch Rush.

Semua nama diatas adalah bagian dari games yang saya mainkan. Iya. Saya kecanduan nge-games PC alias maniax game house (kalau merujuk istilah teman saya tentang genre permainan ini).

Kini saya berpikir memang kegiatan bermain games ini bukan sekadar membunuh waktu luang, tapi menghilangkan waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk aktifitas produktif lainnya.

Mau contoh aktifitas produktif? Tidur untuk mengistirahatkan badan yang lelah plus menghindari hitam di bawah mata akibat kurang tidur. Atau membaca buku, menyetrika, merapikan kamar, termasuk menulis puisi dan/atau blog.

Alasan ketiga mengapa kuantitas tulisan blog saya berkurang. Yaitu karena keberadaan Facebook dan Twitter.

Kapasitas “What’s on Your Mind” Facebook sebanyak 420 karakter atau Twitter dalam 140 karakter. Tentu berbeda jauh dengan membuat tulisan sebanyak 1500, 2500, 3000 bahkan tanpa batas di sebuah blog pribadi.

Ada dalih mengatakan bahwa “Kuantitas (jumlah) tak menjamin kualitas (mutu)”. Namun sebenarnya “menulis” adalah suatu kegiatan seumur hidup.

Sekali kamu belajar berenang dan menguasai salah satu gaya maka kamu bakal mampu berenang seumur hidup. Belajar naik sepeda bakal membuatmu mampu ngegowes sepanjang hayat.

Meski lama tak berenang ataupun bersepeda, saat kamu harus nyemplung atau mengayuh maka pada permulaan kamu tertatih-tatih kemudian melesat seperti kemampuanmu semula.

Ini berbeda dengan “menulis”. Menulis menjadi satu rangkaian dengan kepekaan menangkap kondisi lingkungan, sosial, alam sekitar dan yang terjadi di sekitarmu.

Jika lama tidak menulis blog, bukan saja kegiatan menulis hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan (bagi saya yang memang sehari-hari bekerja sebagai Penulis iklan), melainkan juga termasuk melupakan tujuanku semula untuk membuat blog pribadi di dunia maya.

Tujuan membuat blog pribadi, bisa jadi sederhana. Sarana mengeluarkan pikiran. Menceritakan kembali pengalaman, mengemukakan opini/pendapat, ide dan sebagainya. Lalu meningkat menjadi sarana membagi informasi yang ternyata berguna bagi blogwalker alias pengunjung situs.

Lalu bagaimana jika cetusan pikiran itu saya alihkan ke Facebook? Memang ada sarana Notes, atau men-share dari Multiply ke FB.

Termasuk mengomentari status teman, dan memang ini sebagai bagian sosial pengganti fisik kita yang tak mampu bersilaturahmi ke teman, saudara, kenalan dan siapapun yang terlink di dalam si Muka Buku milik kita.

Namun saya menjadi malas untuk menyelesaikan kalimat 1-2 paragraf yang terlanjur dibuat untuk menjadi satu artikel utuh dan diposting. Jika tak selesai, toh tak ada kejaran deadline, atau peringatan dari rekan-rekan Trafik, AE, atau desain tentang tenggat waktu.

Facebook pribadi merambah pula pada kegiatan memainkan games. Menyemai benih di lahan maya bernama Tiki Farm. Lalu memetik panen, menjual hasil panen untuk menggunakan hasil penjualan tersebut sebagai dana membeli bibit tanaman, binatang, perangkat kehidupan.
Sebuah evolusi yang benar-benar menyenangkan…tapi (sebenarnya) tetap khayalan.

Kesadaran di awal 2010 -ada yang salah dengan cara saya mengelola waktu- dan ingin kembali menyemai cerita di kebun blog-ku.

Monday, January 04, 2010

Happy New Year 2010

Happy New Year
Wishing You…..

12 months happiness
52 weeks fun
365 days laughter
8.670 hours good luck
525.600 minutes joy
31.536.000 seconds success


*mengcopy-paste ucapan selamat Tahun Baru dari teman, yang kurasa sangat cocok untuk semangat mengisi tahun 2010*

Tuesday, December 29, 2009

Pergi ke Panti Asuhan

Akmal mengintip dari balik tubuh Teteh. Mata nan bundar berusaha ingin tahu tentang siapa yang ada di depannya.
Lalu berturut-turut datang Rizka dan Kemal. Kepala pelontos Rizka membuat mata memandang mengira dirinya anak laki-laki. Minus anting-anting pula sebagai penanda anak perempuan. Hanya jika kita memandang raut wajahnya yang manis serta baju pink yang membalutnya siang itu menandakan dia perempuan.

“Kemarin ada benjolan seperti bisul di kepala. Jadi rambutnya kami potong supaya (bisulnya) gampang diobati,” kata Teteh.

Rizka dan Akmal pun beraksi di depan kami yang duduk di ruang tamu. Mereka mondar-mandir membawa tas sekolah ber-troli, kemudian kejar-kejaran bersama bocah tetangga yang datang menimbrung.

Teriakan mereka pun memecah konsentrasi saat bercakap-cakap, meski tak menyulut kemarahan. Senyum dan sapaan sesekali kuarahkan pada mereka. Rizka pun bereaksi tertawa dan mau mendekat. Hanya Akmal memilih melihat dari jauh, namun kami sadar dia mencari perhatian kami.

Akmal dan Rizka adalah anak penghuni suatu Panti Asuhan Yatim Piatu berada di Bogor. Meski tidak tinggal dan hanya kebetulan bermukim di sekitar panti, kisah Kemal pun tak kalah mengharukan. Ibunya meninggal tertabrak kereta api, dan sang ayah justru menikah lagi dengan wanita lain. Ibu tirinya kejam, senang memaki dan marah-marah, sehingga Kemal pun akhirnya diurus oleh sang kakek nenek di Bogor.

“Kemal sudah pintar mengaji tapi tak mau sekolah,” kata Teteh tentang si ikal berumur 4 tahun. Agh, mungkin tak ada orang yang mau menganyomi membujuk Kemal ke sekolah?

Siang itu saya ‘hanya’ mampir. Bocah-bocah lain penghuni panti yang total mencapai 15 anak sedang pergi memetik rambutan di kebun sekolah yang satu yayasan dengan panti itu.

Cari perhatian! Itu pendapat saya tentang mereka. Saya membayangkan diri ini hanya salah satu sosok yang datang dan pergi. Sama seperti puluhan tamu lain yang tertera di Buku Tamu, menghantarkan sesuatu dan berlalu.

Hari itu saya diketukkan sesuatu : Indahnya Berbagi dan Mengasihi.

Monday, December 14, 2009

Bekerja Keras

……”She is fantastic and I love her and I wish her the best,” Ellen told her audience. “She deserves to rest. She has worked really, really hard.”

Demikian komentar Ellen DeGeneres –pemandu acara talkshow bertitel sama dengan namanya- kepada para pemirsa acaranya, atas keputusan Oprah Winfrey untuk pensiun dan mengakhiri talkshow-nya pada 2011. Berakhirnya acara Oprah Show yang menginspirasi banyak orang ini sebagai penanda karier Oprah selama 25 tahun di dunia pertelevisian.

Pernyataan diatas membuat saya berpikir dan membalikkan kepada diri sendiri : sejauh mana kamu sudah bekerja maksimal hingga disebut orang lain “kamu telah bekerja keras?”

Kemudian, bekerja (sangat) keras tentu perlu memiliki hal-hal terukur sebagai penanda keberhasilan. Lalu, berapa lama kamu ingin bekerja dan pada usia berapa kamu menetapkan usia pensiun serta ingin menikmati buah pekerjaanmu selama ini.

Sensasi Rasa Ini

Sedang kangen rasa ini Kangen rasa semangat meletup
Kangen sensasi kupu-kupu menari di perutku
Menari dalam pusaran angin
Menyatu bersama semesta


Sedang merindu rasa rindu di suatu masa
Menganyam benang menjala asa
Ketika pendar di mata menyetrum ke dada


Sedang kangen rasa ini
Kangen saat kukecup dunia bersama senyum
Kini kududuk menikmati pajangan usang
Kusulut api menebar bara
Hilang …. berputar ke awal


* Perlu kembali ke titik nol *

Thursday, November 19, 2009

Bekerja dari Rumah



Ide bekerja dari rumah beberapa kali melintas dalam benakku dan terasa menarik. Sebagai tukang merangkai kata, saya sering terpikir untuk bekerja dari rumah.
Bermodalkan notebook, dibantu perangkat alat telekomunikasi seperti telepon dan akses internet, maka pekerjaan kantor dapat selesai dan dikirimkan dari rumah.

Tidak stres terjebak kemacetan jalan raya atau hal lain yang biasa dialami di kantor. Apalagi untuk orang yang harus merawat keluarga, misalkan orangtua atau anak.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CareerBuilder.com, hampir sepertiga dari responden mengatakan pernah melaksanakan pekerjaan dari rumah. Tapi tidak total 8 jam seperti umumnya jam kerja perkantoran.

Sebanyak 25% dari responden mengatakan kurang dari 1 jam untuk pekerjaan kantor mereka, ketika mereka mengerjakannya di rumah, dan sebanyak 53% menghabiskan waktu 3 jam, dan hanya 14% yang benar-benar selama 8 jam.

Nah, apa yang mereka fokuskan selain memenuhi tugas profesional mereka, jika berada di rumah? Ternyata mengurus anak berada di urutan teratas sebagai alasan untuk bekerja dari rumah (22%). Melakukan percakapan pribadi melalui telepon, atau berselancar di Internet (17%), nonton TV atau tidur (15%), keperluan pribadi (11%), dan melakukan pekerjaan rumah tangga (9%).

Memang kemajuan teknologi memungkinkan orang bekerja di mana saja, termasuk di rumah. Ketika bekerja dari rumah membawa perbaikan dalam keseimbangan antara pekerjaan VS kehidupan pribadi, hal ini juga menciptakan keinginan untuk terus termotivasi.

Hanya saja, jika masih berbenturan dengan peraturan kantor atau memang kamu belum bisa disiplin, lebih baik jadilah orang yang fokus. Tetapkan bahwa waktu di rumah untuk beristirahat dan urusan pribadi; sedangkan maksimalkan jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Meski resiko sesekali membawa pulang pekerjaan akibat tuntutan deadline atau lainnya, kadang bisa terjadi.

Rosemary Haefner, Wakil Direktur Sumber Daya Manusia dari CareerBuilder.com. membagi tips cara mengefektifkan bekerja dari rumah :

Tetapkan schedule
Awali hari seperti Anda mau berangkat ke tempat kerja. Ganti baju tidur, mandi dan lakukan aktivitas rutin.

Lokasi
Jangan bekerja di depan TV, dekat dengan radio atau satu ruangan dengan orang yang mungkin bisa mengganggu konsentrasi kamu. Pilih lokasi yang tenang dan teratur, yang membuat kamu bakal menyelesaikan pekerjaan kamu.

Buat Target
Buat daftar target spesifik untuk hari ini dan centangkan jika hal itu telah kamu selesaikan. Ini memastikan kamu ingin untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jangan lupa jam makan siang
Ciptakan waktu yang tepat untuk telepon pribadi, keperluan pribadi, pekerjaan rumah, olahraga dan aktivitas-aktivitas non kantor lainnya. Kalau perlu tempatkan timer agar kamu mengetahui kapan saatnya kembali bekerja.

Istirahat
Sudah tentu jangan lupa meluangkan waktu untuk beristirahat.

Wednesday, November 18, 2009

Malu Aku….

Minggu ini sepertinya adalah momen saya kembali konsentrasi bekerja di kantor, setelah sebulan lebih jarang terlihat akibat urusan pribadi.

Ternyata inilah rasanya kembali ke tempat bekerja setelah sekian lama menghilang. Merasa ada yang asing atau berbagai kejadian juga kualami.

Awal pekan : seolah scanner absen ga mengenali sidik jari ku. Saya harus berulang kali meletakkan jari ke mesin pemindai. Lalu, di mejaku bertebaran mulai dari surat-surat, kertas rekap administrasi, hingga paket pos.

Sstt, saya sampai melihat seorang rekan kantor dan dalam hati berkata, “Namanya siapa ya…?” Ternyata memang ada anak baru.

Tapi pengalaman Rabu ini yang cukup ..memalukan.. hehehe.

Pagi hari saya melihat teman menyantap mie ayam. Duh, jadi tergoda juga untuk menyantap makanan yang sama. Karena perut masih penuh terisi sarapan, akhirnya baru menjelang siang saya hendak memesan.

Mau menyuruh OB (office boy) pergi membelikan, Saya tekan extension 223 yang dalam hati kuingat ada di ruangan Dapur.

“Halo.. siapa nih?” begitu sapaanku ketika telpon sudah diangkat.

“Vidi, mbak..”

Saya diam sebentar. perasaan OB ga ada yang namanya Vidi tapi ya sudahlah siapa tahu ada orang baru atau pindahan dari dapur divisi lain.

“Ini Eno penulis. Beliin mie ayam dong….”

“Salah sambung mbak”

Wuaks!

Pasti muka saya bersemu merah, dan hanya bisa berkata pendek. “Maaf” dan mematikan sambungan telpon.

Saya segera tersadar. Ya ampun! ada 2 nomor extention yang selalu gampang diingat : bagian Teknologi (IT) dan Dapur yang angkanya nyaris sama.. meski sebenarnya kalau kamu memencet tombol telepon akan berbeda lokasi angka.

Hahahaha… asli saya seperti mau ditelan bumi. Membayangkan muka teman-teman di bagian Teknologi dan jika mengetahui ketololan/kenaifan saya… Mualu… rasanya untuk sementara saya tidak berani melalui ruangan Teknologi.

External HD

Bentuknya sepintas seperti agenda seukuran paspor. Benda setebal buku jari itu adalah External HD (singkatan dari External Hard Disk).

Sesuai dengan namanya, fungsinya sebagai media penyimpanan secara eksternal. Jadi, seperti memiliki Flash Disk namun dalam ukuran lebih maxi. Bisa sebagai penyimpan file-file tulisan, foto-foto, gambar-gambar, musik, games, presentasi kerja hingga kebutuhan spesifik misalnya program komputer bagi programmer.

Selama ini saya memindahkan foto-foto jepretan dan artikel yang saya kumpulkan selama ini sebagai penulis ke dalam cakram padat (CD). Lama-kelamaan CD-R/CD-RW pun menumpuk di sudut lemari. Sebuah CD memiliki kapasitas memori sebanyak 700 MB.

Saya yang berniat going paperless lalu berpikir untuk memiliki sebuah External HD. Varian kapasitas antara 120 GB, 160 GB, 250 GB, 500 GB, bahkan ada yang mencapai 1 TB.

Saya sudah mencatat beberapa ukuran kapasitas plus harga. Bahkan seorang teman menyatakan ada yang mencapai 1 TB dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih. Saya sempat bertanya pada seorang teman, malah dia tertawa dan berkata, “Emang perlu sebanyak itu No….”

Tapi dia tidak menjelaskan lebih detil sehingga saya juga malas bertanya lebih lanjut.

Kemudian pada satu kesempatan, mumpung mau pergi ke pameran komputer, saya bertanya pada teman yang lain.

“Kamu pasti familiar dgn external HD ya? Jadi bingung ..misalkan 160 GB setara apa? misalkan sama dgn memuat 1 partisi drive C/D di dalam komputer kah?” tanya saya.

Maklumlah, dalam benak pemikiran saya yang sederhana, External HD kayak kulkas saja. Semakin besar kapasitas, alias semakin besar ukuran GB, berarti semakin banyak yang mampu dimuat.

Lalu si Rommy temanku menjelaskan intinya tergantung apa yang mau saya simpan. Karena semakin banyak yang disimpan tentu membutuhkan kapasitas semakin besar.

“Sebagai contoh film membutuhkan sekitar 700-an MB,” kata dia.

1GB = 1000MB
1TB = 1000 GB = 1jutaMB

“Jadi kalau MP3 rata-rata besarnya 5MB, maka HDD 1TB kira-kira bisa menyimpan sebanyak 200ribu lagu,” pungkasnya.

Lalu saya pun terpana dan membatin, Itu mah sekalian gua membuka usaha unduh MP3 aja yakkk…. hahaha.

Dari survei di pameran Indocomtech berlangsung pada 4-8 November lalu, saya menemukan External HDD merek Western Digital berkapasitas 320 GB berharga kurang dari Rp 700 ribu.

Setelah first-thing-first menentukan prioritas, saya pun memutuskan tidak membeli dulu. Akhirnya saya justru pulang memboyong printer dan sebuah flash-disk mungil berkapasitas 4GB.

Tuesday, November 17, 2009

Menelusuri Kemana Perginya Gaji Bulanan

(Tulisan ini juga dimuat di QB Headlines)

Gaji bulanan memang andalan kehidupan sehari-hari seorang pegawai kantoran seperti saya. Saya hanya berpikir, mengapa semakin sulit menyisihkan tabungan, apakah ada yang salah dalam mengelola keuangan pribadi.

Memang sih biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tak berlari secepat harga-harga kebutuhan pokok, sekunder dan lain sebagainya.

Di koran New Straits Times kubaca tentang mengatur belanja bulanan. Saya jadi mau mencoba sebagai bagian financial check-up, berikut tipsnya :

Pertama-tama tulis rencana pengeluaran bulanan. Ini mencakup belanja rumah tangga dan biaya hiburan.

Simpan semua bon-bon bukti belanja paling lambat sebulan. Seminggu sekali tuliskan secara rinci kamu telah belanja apa saja berdasarkan bon pengeluaran itu.

Terserah mengategorikan jenis pengeluaran, asalkan Anda bisa mengambil gambaran akurat tentang kondisi finansial yang ada.

Misalkan saja dari hasil belanja di supermarket bisa kamu detilkan ke dalam jenis daging, susu, minuman, makanan kalengan, cemilan atau apapun yang memberikan gambaran kemana saja perginya uang tersebut.

Atau ketika berbelanja di department store untuk beli pakaian. Siapa tahu ternyata biaya minum kopi lebih mahal ketimbang sepotong baju di bulan ini.

Dari daftar tersebut, kita jadi tahu apa saja yang bisa dikurangi atau dibenahi.

Meskipun ada yang dapat dikurangi atau tidak, tetap masukkan ke dalam rencana belanja. Lalu masukkan sejumlah budget ke dalam amplop berbeda. Uang ini akan digunakan untuk membeli barang-barang yang anda rencanakan.

Catatan : Jangan tambahkan uang ke dalam amplop hingga akhir bulan. Ini membantu sikap disiplin dan cerdas berbelanja.

* Teman yang mendengar niatku berkata, “No, taruhan, berapa hari kamu rajin mencatat pengeluaran harian?”… hehehe

Ilusi (Iklan) Layar Kaca

Cinta gampang diraih berkat hilang noda di wajah.
Cinta mudah didapat berkat tubuh sukses melewati pintu yang nyaris menjepit.
Kekasih hati muncul berkat rambut lembut indah tergerai. Mudah dibelai.

Oh.. apa jantung hati tak boleh berwujud pangeran kodok?
Bagaimana dengan kisah Si Bangkong???

Seolah panah Cupido hanya mau menombak makhluk indah ciptaan dewa. Meniadakan faktor kromosom X dan Y sebagai bagian penciptaan manusia. Artinya, kalau memang bukan keturunan cantik/ganteng, apakah mau marah sama ibu-bapak?

Inilah dunia ilusi, ketika tak ada yang tak indah di layar kaca.

Jadi ingat cerita “Beauty and the Beast” atau karya klasik Victor Hugo berjudul “Si Bongkok dari Notre Dame”, si Quasimodo pun bernasib tragis.

*September Story*

Wednesday, November 04, 2009

Tidak Menunda Pekerjaan

Jangan tunda hingga esok apa yang bisa Anda kerjakan hari ini.

Begitu bunyi kata mutiara yang melekat di dinding depan meja kerjaku. Sebaris pesan yang kutempelkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari resolusi pekerjaan.

Berhasilkah saya mempertahankan ritme itu?

Terkadang berhasil, akan tetapi kebanyakan saya lebih sukses menerapkan pola selesai menjelang tenggat-waktu. Rata-rata ide tulisan mengalir deras di saat-saat terakhir.

Pada dasarnya bukan karena penunda kerja sehingga diri ini menempelkan sebaris kalimat motivasi di depan dinding meja kerja.

Jangan katakan saya malas. Sebagaimana manusia biasa, kita pernah mengalami ingin menunda pekerjaan baru seusai menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Saya akui lebih tepatnya “lot things to do in the same time” atau banyak pekerjaan dan hal-hal yang harus kulakukan di waktu nyaris bersamaan.

Tahun ini sebagai upaya menyeimbangkan pekerjaan sekaligus meluangkan waktu untuk orangtua.

Tahun ini kuanggap juga sebagai refleksi kesehatan. Selama ini badan gampang sekali terserang flu/pilek. Sepertinya badan doyan bercinta dengan virus flu yang selalu kuasumsikan kenapa badan bakal ambruk jika di-push bekerja. I hate that! Siapa pula yang suka ingusan, badan demam, sambil menatap layar monitor komputer dalam mata nanar.

Siapa pula yang senang tidur di ranjang dengan sekujur badan meriang, sementara otak melayang ke pekerjaan kantor yang tertunda, dan telepon dari kantor tak henti berdering meski sudah mengatakan izin sakit.

Memang benar kita harus hidup sehat, jangan gampang stress dan mengatur pola makan.

Akan tetapi, hasil tes alergi pada akhir Oktober, membuat saya merasa, “Mungkin ini biang penyakitku selama ini. Ada yang ternyata harus kuubah dalam pola kehidupan”.

Dari hasil pemeriksaan darah ditemukan saya memiliki alergi dan bisa jadi alergi yang memicu flu. Dokter spesialis yang memeriksaku, mengajukan bermacam poin yang membuat saya mengubah kebiasaan.

Salah satunya, going paperless dan mengurangi koleksi buku di dalam kamar. Ini bertujuan meminimalkan tempat debu bersarang.

Prioritas utama, saya coba terapkan pada perilaku tidak menunda apa yang bisa saya kerjakan hari ini. Membereskan pekerjaan, merapikan kamar, serta mengubah pola hidup.

Monday, November 02, 2009

Narablog

Saya baru tahu kalau istilah "Blogger" telah diterjemahkan menjadi "Narablog".

Kata temanku, "nara" berarti "seseorang".

Narasumber = seorang sumber. Ini istilah yang ditujukan bagi seseorang yang menjadi sumber kutipan wawancara, memberi informasi yang diperlukan wartawan/penulis. Tapi kalau Narablog = seorang blog? lha, kok Kata Benda + Kata Benda?

Blogger Antyo Rentjoko dalam artikel Pendapat-Koran Tempo, Selasa 3 November 2009, menyebutkan jika sudah lama ngeblog, lebih dari 5 tahun, maka disebut "pemain lama".

Oke, saya juga sudah mulai menulis di blogspot sejak 2005. Jadi termasuk pemain lama? Pemain lama yang timbul tenggelam dalam mengupdate situsnya namun berusaha tetap hadir di ranah maya.

Walah.... ya sudahlah. Apa artinya istilah. Yang penting kalian ngerti kamsudnya.

Oke! saya sudah vakum sebulan tak menjadi "narablog". Sekarang saatnya kembali
menyemaikan kata di langit Azzura, mengutarakan Aura hati dan jati diri.

Mengambil Langkah dalam Satu Sesi Kehidupan

Kadang logika dan intuisi telah mengarahkan ke satu hal yang benar. Akan tetapi, hati (baca “perasaan”) sering bertolak belakang. Ingin bermain-main lebih lama.

Benar kata orang. Seringkali yang disebut berbahaya, tidak baik, dsb terlihat bagai kembang api cantik di langit malam tapi memercikkan bara ke tubuh.

Dan permainan telah berakhir. Saya putuskan untuk kulumat tamat. Siapa yang kalah? Entahlah. Hidup tak bisa disamakan dengan skor pertandingan olahraga. Menang dan kalah bukan hal mutlak. Hanya saja, hidup ini adalah keseimbangan. Sudah ada porsi masing-masing.

Hidup ini adalah pilihan-pilihan. Dan saya sudah memilih…..(dan siap dengan segala konsekuensinya).

Keberhasilan Tertunda

Adilkah hidup ini?”

Seketuk kalimat yang membuatku bertanya….Ada apa?

Lalu aku menyadari ini sebuah pertanyaan ketika seseorang merasa kecewa.

"Kamu sodorkan tanya itu karena kamu sedang bermasalah. Iya?"

Hanya diam yang menjawab.

Semoga saya mampu mensyukuri setiap kehidupanku. Semoga tak bakal melontarkan pertanyaan itu. Baik ke diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepadaNya.

Jika ada rintangan, semoga itu menjadi keberhasilan tertunda yang akan kuraih pada waktu yang tepat.

(Gambar dikutip dari : www.josephinewall.co.uk)

Tuesday, September 29, 2009

Kembali ke Titik Nol

Mata air itu telah menjelma menjadi sendang
Tempat bersuci membasuh hati
Berteman padang seluas mata memandang
Ku bersila bersama sebatang pena di tangan
Siap menggurat kertas putih belum tercoret




* Mencoba merenungi putaran takdir,memaknai arti kembali Fitri di bulan Syawal 1430H.
* Dan maksud gamblangnya tuh, “Abis Lebaran, terbitlah nol rekening”. Hayo kerja sana, kumpulkan duit lagi buat bisa mudik dan ber-Hari Raya di tahun depan. Hihihi….

Monday, September 28, 2009

Anak Usaha RIM

Foto ini kiriman Rahadian Seno alias Mas Seno di http://seno.or.id atau http//jaringankomputer.net

Saya ketawa abiss, kok ya ‘kreatif’ benar untuk memilih nama merek. Copy + paste lengkap dengan logo dan tipografi yang sama dengan BlackBerry keluaran Research in Motion (RIM).

Atau memang sekarang RIM telah mendiversifikasi bisnis hingga memiliki anak usaha di bidang apparel ya?? Hahaha….

Friday, September 25, 2009

Selembar Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri Buatan Tangan

Kartu ini datang Jumat siang tadi ke alamat kantorku.
Amplop coklat, tanpa nama pengirim, tanpa kop surat ataupun surat bukti kurir.
Amplop distapler sebanyak 4 sisi di sepanjang permukaan atas, ditambahkan 2 stapler lagi ke dekat permukaan bibir amplop, tempat mengelem amplop.

Pada permukaan aku bisa merasakan bentuk bergelombang di dalamnya.

Ih, kayak misterius ya?

Ternyata setelah kubuka, isi amplop (seperti perkiraanku) kartu ucapan Selamat Idul Fitri dari suatu korporat. Yang unik, kartu ini buatan tangan. Desain sampul berupa kubah mesjid yang dibuat dari kain flannel. Di tengahnya ada lingkaran bulat membentuk wujud bedug, ditempeli dua butir cengkeh sebagai bentuk pemukul bedug.

Lengkap di atas kubah, ada bintang yang biasa kita beli di toko prakarya atau alat-alat jahit.

Pada bagian belakang, ada tertera tulisan : Khusus diproduksi untuk Carrefour oleh Kelompok Belajar anak-anak Dhuafa/Pemulung “Sekolah Kami”.

Saya jadi berpikir, “Kapan terakhir kali mendapat kartu Lebaran buatan sendiri?”

Ingatan saya kembali ke masa kuliah, ketika bersama temanku Hanny dan Tantri, membuat kartu ucapan Lebaran bersama yang kami buat sendiri di saat libur kuliah. Sembari menanti bedug magrib kah saat itu? Sudah lupa…..

Tumpukan kartu ucapan yang datang menjadi kebahagiaan sendiri ketika merasa ada yang care kepada kita. Kerepotan mencari kartu ucapan di toko buku pun menjadi kehebohan bersama teman-teman SMP/SMA.

Sekarang Kartu Lebaran pun jadi benda jarang kuterima. kemajuan zaman melalui pesan pendek ponsel, status di Facebook, atau kiriman surat elektronik (e-mail) telah menggantikan fungsi selembar Kartu Lebaran.Saya termasuk salah satu di antara pemanfaat cara mengirimkan ucapan era serat optik.

Lebih simpel, langsung cepat sampai, menghemat waktu dan mengikis biaya pengiriman. Selain itu, di era pemanasan global dan isu lingkungan, kartu juga menambah kebutuhan kertas yang berasal dari pemotongan pohon di hutan.

Meski belum pernah pula saya menemukan data valid berapa biaya energi terkuras untuk menyalakan internet, memindahkan data kilobyte dari suatu server, atau transponder, ah don’t know what exactly cara kerjanya… yang penting kabar cepat sampai... ;)

Hari ini ada perasaan melankolis menerima selembar kartu buatan tangan di tahun 2009.

Jari-Jari Istirahat Seminggu

Internet dan gadget sering dianalogikan sebagai alat yang membuat kita merasa dunia dalam genggaman.

Dan selama seminggu libur Lebaran, saya tak 'menggenggam dunia'. saya menyentuh ponsel sesekali : berbalas pesan pendek, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Lalu BlackBerry nyaris tak ku utak-atik. Bahkan jumlah e-mail mencapai lebih dari 2 ribu kubiarkan. Walaupun ada satu pembelajaran bahwa jangan membiarkan BB nyaris habis baterai, saking dibiarkan, sehingga bikin deg-degan dan akhirnya harus dibawa ke galeri Customer Service operator, untunglah cuma masalah dibiarkan baterai drop. Hihihi… syukur…syukur.. daripada harus membeli baterai orisinal yang kudengar mencapai Rp 500 ribu. Busyet! Merogoh kocek dalam-dalam pascaLebaran rasanya amit-amit buanget!


Laptop pun tak kubuka untuk sekadar main game, termasuk browsing internet. Bahkan tak pula menonton TV. Nyaris aku tak mengikuti perkembangan berita yang dalam benak sudah kuhafal pasti tentang laporan arus mudik, atau berita tertangkap dan tewasnya Noordin M. Top yang tentu saja tenggelam di tengah kesibukan orang mempersiapkan diri mudik di Hari Raya.

Anehnya, setelah seminggu berlibur, saya baru tersadar buku jari-buku jari ini tidak merasa nyeri seperti hampir tiap malam kualami. Mungkin ini pengaruh mengonsumsi suplemen Devil’s Claw. Konon kata mbak penjaga SPG toko healthcare, si Cakar Setan ini efektif mengurangi asam urat. Nah, bukankah nyeri-nyeri di persendian gejala asam urat?

Tapi saya jadi menyadari, gejala nyeri di jari-jari akibat terlalu semangat atau terus-menerus mengetikkan jemari di papan keyboard, menggeser mouse, goyang jempol menekan keyboard QWERTY si BlackBerry.

Hmmm …. Ternyata nikmat sekali seminggu mengistirahatkan jemari. Hanya menggunakan fungsi tangan dan jemari untuk memegang, menggenggam, membantu aktivitas di rumah, dan bersalaman sambil mengucap “Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H. Mohon Maaf Lahir dan Batin Jika Selama Membuat Tulisan-Tulisan di Blog ada Salah-Salah Kalimat. (Menulis hanya mencurahkan isi pikiran dan benak yang tak berusaha menyinggung seseorang, sesuatu, suku, agama, kebudayaan, sosial).

Friday, September 11, 2009

Bintang Jatuhku

Kamu dulu Bintang Jatuhku
Alim, santun, pintar
Kini kukirim kamu sekaleng bintang
Pletak! Kau pun berbintang-bintang
Imajiku rontok