Saturday, February 09, 2008

Terima Kasih Masih Diberi Umur

Gong Xi Fa Cai…. Happy New Year.

Dari mitos kuketahui bahwa masyarakat Cina mengganggap hujan di hari pertama tahun baru merupakan pertanda keberuntungan dan rezeki. Namun, pengalaman saya di hari pertama Tahun Tikus rasanya bukan menyenangkan.

Kamis lalu (7/2), saya melewatkan Tahun Baru Cina ke 2559, di angkasa. Dlaam penerbangan pulang dari Denpasar ke Jakarta.

Sebelum saya terbang, orang rumah sudah menelpon bahwa Jakarta sempat hujan lebat. Demikian pula dengan kondisi Bali di hari terakhir saya berada, sedang mendung dan sempat diguyur hujan. Apalagi pengalaman terjebak banjir Jumat sepekan sebelumnya dan ’perjuangan’ menempuh jalur ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang tergenang air setinggi ban mobil masih melekat.

Penumpang Garuda Indonesia A330-300 pada malam itu tidak terlalu banyak. Menurut informasi pramugari, pesawat kami ini maskapai ekstra karena banyaknya penumpang yang terbang dari Jakarta ke Denpasar. Dan kondisi sebaliknya terjadi dari Denpasar-Jakarta. ”Sigh, pastilah banyak orang yang memanfaatkan hari libur Imlek dari Kamis itu untuk berlibur ke Pulau Dewata. Sementara saya justru pulang sehabis menunaikan tugas,” kata saya dalam hati.

Penerbangan jam 19.00 WITA on time. Dengan jarak tempuh sekitar 993 kilometer, pesawat berpintu 8 buah melintas di atas kota: Denpasar, Jember, Surabaya, Bandung sebelum sampai di Jakarta. Perjalanan semula terasa lancar. Seperti umumnya, setelah take-off hingga mencapai kestabilan mengangkasa, penumpang boleh melepaskan sabuk pengaman (seat belt). Setelah itu, pramugari mulai membagikan makanan. Saya jadi ingat bahwa hari itu ’spesial’ dari sajian yang dibagikan di pesawat Garuda. Sebuah plum manis yang disimpan dalam plastik dan diikat dalam pita emas, disajikan bersama kartu merah tertera ucapan ”Selamat merayakan Tahun Baru Imlek”.

Namun sekitar 25 menit sebelum kami tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, pesawat bernomor GA 441 mengalami turbulensi. Penumpang musti memasang sabuk pengaman. Dan tak lama kemudian kami yang duduk terasa berguncang, bahkan dua kali kami melompat dari tempat duduk. Hanya tali pengencang seat belt yang menahan kami agar tetap dalam posisi aman.

Kaget? Yap. Jantung terasa berdebar-debar. Dan denyutan tersebut baru hilang setelah pesawat mendarat mulus di landasan. Seusai momen terkaget yang mendebarkan itu, ”Asuransi” menjadi satu kata melintas dalam benak saya.

Kemudian, saya memandang sekeliling. Tiba-tiba saya ‘meratapi’ kesendirian saya. Duduk di pojok jendela deretan bangku A, bersebelahan dengan sayap pesawat tanpa penumpang di sebelah saya. Saya memandang sebelah kanan. Seorang bapak keturunan asing (sepertinya Jepang) duduk terpekur sendirian. Bapak itu sepertinya dalam perjalanan bisnis dilihat dari sisi penampilan dan tas laptopnya. Sementara di ujungnya pasangan muda –sepertinya pengantin baru- tampak saling merangkul. Sang pria memeluk erat pasangan wanitanya yang duduk di dekat jendela yang sepertinya ketakutan.

Bangku deret tiga penumpang di sebelah belakang, sepasang wisatawan Cina setengah baya saling berpegangan tangan.

Saya tiba-tiba merasa na’if. Kenapa hal pertama yang saya ingat adalah ”asuransi”. Saya memang telah dibekali asuransi dari kantor, belum lama ini juga melengkapi diri dengan asuransi pribadi yang melindungi diri dari kecelakaan di kendaraan umum. (Sebagai orang yang sering ditugaskan pergi-pergi, saya memutuskan perlu mengambil asuransi itu). Dan tersadar saya tidak punya pasangan, baik kekasih maupun suami, yang bakal meratapi atau kehilangan saya.

Saya merasa jika saya sampai pada ujung umur, tidak ada orang yang kehilangan. Dalam arti tiada ’anak yang kehilangan ibu’ , maupun ’pria kehilangan pasangan’. Tanpa beban. Mata saya menumbuk kursi di depan yang diduduki pasangan suami istri paruh baya. Mungkin mereka saat itu sedang saling menggenggam tangan dan menerawang memikirkan anak atau cucu mereka yang tengah menunggu di rumah.

Aigh... kenapa saya lupa pada kedua orangtua saya? Kenapa saya lupa saya punya banyak teman-teman yang kemungkinan besar juga meratapi ’kepergian’ku. Saya merasa ingin ketemu bapak dan ibu, serta para ’cuplis’ di rumah Bogor. Di rumah ortu, ada dua keponakan tinggal, masing-masing berusia 6 tahun dan 13 tahun dengan kenakalan yang bikin kangen. Air mulai menitik di kedua bola mata. Saya langsung memutuskan harus pulang ke rumah Bogor, bukan ke kos seperti rencana semula.

Saya segera mengucapkan doa, melantunkan berbagai ayat yang melekat dalam otak, di dalam hati. Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya masih diberi umur. Saat mata menumbuk pada kilau cahaya lampu –kota Jakarta- saya merasa bahagia. Betapa saya cinta kota metropolitan tempat saya mencari nafkah yang sebentar lagi akan kujejakkan kaki.

Thanks God! Saya berjanji tidak mau menikmati wahana permainan yang sengaja mencari debar jantung di Dunia Fantasi (Dufan) untuk sementara waktu. Untuk beberapa waktu saya tidak bakal mencari-cari permainan yang memacu adrenalin. Ternyata ketika kita berada dalam kondisi seperti bermain roller coaster namun dalam kondisi ’pacuan adrenalin sebenarnya,’ antara hidup dan mati, itu bukan hal lucu.

Terima kasih Tuhan. Engkau masih memberi saya kesempatan mengisi hidup ini, semoga dengan hal-hal berguna dan amal kebaikan. Amin.

2 comments:

deTak riNdu said...

kujadi terharu baca ceritanya...
kpn nieh kesemarang.
insyaallah lam bulan ini saya mo kejakarta deh...

Niken said...

I take a look at your picture..
U look nice..
:0