Kemarin berencana nonton Laskar Pelangi schedule sore di Djakarta XXI. Tapi ternyata kehabisan, maka saya dan teman berburu ke Cineplex21 yang lokasinya tidak melalui jalur ’3 in 1’.
Dari TIM, Megaria XXI, lalu ke Plaza Semanggi : pilihan film ternyata sama : Barbi3, Suami-Suami Takut Istri, Cinlok.
Mentok semua! Setelah berpikir batal nonton, terakhir kami mampir di Pacific Place dan nonton di BlitzMegaplex. Dan baru saya sadari mengapa konsumen Indonesia perlu memiliki pilihan bioskop di luar jaringan Cineplex21.
Karena di Blitz, saya masih bisa menemukan film asing lainnya. Tidak seperti pilihan di Cineplex21, semua film yang ditayangkan adalah film lokal termasuk Laskar Pelangi. Tapi jujur saja, apakah kamu rela meski berstatus film-maniak dan yang penting nonton film terbaru, mau merogoh dompet untuk menyaksikan film Indonesia yang sebutkan di atas??
Kebangkitan film Indonesia di awal 2000-an kalau tidak salah dimulai dari film ’Bintang Jatuh’-nya Rudi Soedjarwo. Lalu ada ’Eliana,Eliana’ yang mendapat predikat Best Young Cinema dan penghargaan khusus dari juri NETPAC/FIPRESCI. Dan, tentu saja film cinta remaja yang alurnya terjalin manis sekaligus sukses secara komersial yaitu ’Ada Apa dengan Cinta’.
Nah, rasanya waktu itu kita bisa berharap memperoleh cerita yang berkualitas dan masuk akal dari film dibandingkan sinetron televisi. Belakangan, konsep sukses menangguk penonton = jumlah film Indonesia semakin banyak, namun jangan harapkan kualitas cerita. Coba saja lihat dari poster filmnya, sudah bisa membayangkan cerita apa yang ditawarkan : Ga jauh-jauh dari komedi dangkal mengandalkan slapstick, judul yang memancing pikiran mesum, kalau pemeran wanita cantik dan berbodi seksi, sedangkan karakter pria ga jauh-jauh dari gaya Bo Bo Ho - blo’on.
Memang film semacam itu pun sudah pasti ada yang menonton. Entah iseng, pengen liat artis favoritnya, dsb, namun saya berpikir apakah para produser film ataupun para para sponsor film tidak sayang membuang uang untuk cerita film yang ...duh..
Wednesday, October 08, 2008
Saturday, October 04, 2008
My Precious Time
Teman saya menikmati liburan selama 3 minggu selama Lebaran. Hasil akumulasi dari cuti, libur Lebaran dan day-off. Saya berandai-andai menikmati libur 3 minggu seperti teman saya tsbt :
Pada awal liburan, saya bakal puas-puasin tidur. Kalau perlu 2 hari 2 malam bakal bangun tidur, makan, tidur lagi, bergelung di balik selimut sembari baca buku dan terlelap kembali.
Lalu, menjelajah di dunia Internet sampai teler. Mulai dari cek e-mail, urun komentar di milis, meng-update tulisan blog, hingga menerima invite teman-teman dari jejaring sosial. Dari membaca artikel berita penting sampai membaca hal remeh seperti zodiak.
Membersihkan kamar sembari pasang Audio keras-keras sambil menari mengikuti lirik lagu milik Tompi. ”.......Hujan badai akan kutempuh/bintang di langit akan kuraih/... Cintamu telah menjadi candu/Cintamu telah membuatku membisu/Cintamu ohh seindah lagu/membuatku tak bisa berpaling darimu/Kau adalah belahan jiwa... (Ga tau kenapa lagi tergila-gila dengan lagu itu).
Merapikan lemari pakaian, menyortir baju-baju termasuk aksesoris pelengkap seperti tas, gelang, kalung, dan sepatu untuk menghasilkan konsep baju mix n’ match. Supaya dandanan terlihat beda dan fresh ketika back to work.
Kemudian, punya cukup hari jalan-jalan ke luar kota. Jelajah belanja baju termasuk makan batagor di Bandung? Wisata Kota Tua di Semarang sembari berburu kue moaci a la Kota Atlas yang nikmatnya bikin kangen?
Belajar masak : coba bikin macaroni schotel yang resepnya dikutip dari kakak.
Andai...andai... tapi –yah- liburan yang kupunyai cuma seminggu. Ga boleh sirik sama liburan panjang orang lain, dan ternyata kebanyakan aku habiskan untuk beberes persiapan Idul Fitri di rumah orang tua. Menjadi kebiasan di hari Lebaran bagi orang tua saya untuk menerima sanak saudara bersilaturahmi.
My precious time pada akhirnya bukan kesempatan menikmati hari secara bebas merdeka, tapi menghabiskannya untuk kepentingan bersama keluarga. Yah memang diantara 365 hari dalam setahun, waktu saya (atau hampir sebagian besar orang) seperti bekerja, istirahat, hangout dsb berbasis pada kepentingan diri sendiri.
Pada akhirnya saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin jika ada salah ucap, kata-kata dalam blog ini yang kurang berkenan di hati pembaca :)
Pada awal liburan, saya bakal puas-puasin tidur. Kalau perlu 2 hari 2 malam bakal bangun tidur, makan, tidur lagi, bergelung di balik selimut sembari baca buku dan terlelap kembali.
Lalu, menjelajah di dunia Internet sampai teler. Mulai dari cek e-mail, urun komentar di milis, meng-update tulisan blog, hingga menerima invite teman-teman dari jejaring sosial. Dari membaca artikel berita penting sampai membaca hal remeh seperti zodiak.
Membersihkan kamar sembari pasang Audio keras-keras sambil menari mengikuti lirik lagu milik Tompi. ”.......Hujan badai akan kutempuh/bintang di langit akan kuraih/... Cintamu telah menjadi candu/Cintamu telah membuatku membisu/Cintamu ohh seindah lagu/membuatku tak bisa berpaling darimu/Kau adalah belahan jiwa... (Ga tau kenapa lagi tergila-gila dengan lagu itu).
Merapikan lemari pakaian, menyortir baju-baju termasuk aksesoris pelengkap seperti tas, gelang, kalung, dan sepatu untuk menghasilkan konsep baju mix n’ match. Supaya dandanan terlihat beda dan fresh ketika back to work.
Kemudian, punya cukup hari jalan-jalan ke luar kota. Jelajah belanja baju termasuk makan batagor di Bandung? Wisata Kota Tua di Semarang sembari berburu kue moaci a la Kota Atlas yang nikmatnya bikin kangen?
Belajar masak : coba bikin macaroni schotel yang resepnya dikutip dari kakak.
Andai...andai... tapi –yah- liburan yang kupunyai cuma seminggu. Ga boleh sirik sama liburan panjang orang lain, dan ternyata kebanyakan aku habiskan untuk beberes persiapan Idul Fitri di rumah orang tua. Menjadi kebiasan di hari Lebaran bagi orang tua saya untuk menerima sanak saudara bersilaturahmi.
My precious time pada akhirnya bukan kesempatan menikmati hari secara bebas merdeka, tapi menghabiskannya untuk kepentingan bersama keluarga. Yah memang diantara 365 hari dalam setahun, waktu saya (atau hampir sebagian besar orang) seperti bekerja, istirahat, hangout dsb berbasis pada kepentingan diri sendiri.
Pada akhirnya saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin jika ada salah ucap, kata-kata dalam blog ini yang kurang berkenan di hati pembaca :)
Thursday, September 25, 2008
Perhatikan Makanan yang Kamu Makan
Pertama kali membaca berita tentang susu bayi mengandung melamine di Cina, saya telusuri merek susu yang mengandung bahan baku plastik itu. Lalu saya pun merasa lega. Rasanya berita itu jauuuuuuuh karena nama merek yang ’aneh’ dan tidak familiar dalam ingatan saya yang sering berbelanja di supermarket. Selain itu, berita di situs itu menyebutkan negara tujuan susu diekspor dimana Indonesia tidak termasuk.
Tapi, semalam saya kaget saat menyaksikan tayangan berita malam di TV. Badan POM melakukan sweeping produk susu dari Cina dan turunannya ke supermarket. Tampak beberapa merek yang cukup familiar untuk ditarik dan diperiksa : coklat M&M’s, Sneakers, dan Oreo Wafer.
Wah semua itu pernah saya makan (sambil membayangkan, semoga usus saya tidak selicin pantat mangkuk melamin)! Dari tayangan berita, alasan M&M’s ditarik dari peredaran untuk diperiksa, karena pabrikan berada di Cina.
Nah, dalam hal ini dalil belanja ”Ada harga ada kualitas” rontok! Sebungkus coklat M&M’s jauh lebih mahal ketimbang coklat Cha-Cha yang berbentuk nyaris sama –coklat dibalut gula manis. Coklat Sneakers yang dipadu dengan karamel dan kacang didalamnya punya rasa lebih nendang ketimbang Silver Queen. Tapi sayangnya beli satu Sneakers bakal habis sekali lahap ketimbang si SQ yang terdiri dari 6 kubik coklat... saya bisa mematahkan sepotong demi sepotong, sehingga makannya terasa lebih lama :)
Merek yang berasal dari luar negeri, belum tentu lebih baik ketimbang yang dari negeri sendiri. Akhirnya sebagai konsumen harus lebih hati-hati dalam memperhatikan kemasan di label. Termasuk, dalam kandungan nilai gizi dan asal negara, kejelasan perusahaan pengimpor jika produk itu dari luar negeri, atau nama produsen.
Saya sering ragu membeli produk makanan yang hanya mencantumkan nama pabrik tanpa pencantuman alamat pabrikan yang jelas, serta penulisan ”Telah disetujui oleh Depkes RI” pada kemasan. Bahkan sering pula tidak menyebutkan tanggal produksi dan tanggal kadaluwarsa. Biasanya ini terjadi pada produk (buatan) rumahan.
Sudah berapa lama saya terbiasa dengan makanan dalam kemasan. Meski menyadari mengonsumsi makanan dalam kemasan berarti berurusan dengan bahan pengawet. Tapi yah! Pertimbangan kepraktisan.
Jadi teringat kejadian di sore harinya. Ketika saya berteriak Mayday! untuk menstruasi hari pertama. Badan yang pegal-pegal dan perut melilit ini membuat saya teringat satu merek sari asam dalam kemasan, lalu langsung menitip belikan pada kakak saat ia mau berbelanja.
Namun, Mama saya melarang. Lebih baik yang alami dan menyuruh saya untuk membuat sendiri jamu. Bahan baku berupa kunyit dan asam sudah tersedia di dapur!
Haduh! Perut sudah mulas, dan masih harus mengolahnya sendiri? Saya yang anak kos-kosan sudah terbiasa yang instan. Selain unsur kepraktisan, tentu lebih gampang menyimpan. Istilahnya : Tinggal glek! Tinggal seduh! (silahkan teruskan sendiri dengan menyebut semua tagline minuman/makanan dalam kemasan).
Tapi tak ada salahnya mulai memilah apa yang masuk ke dalam badan. Apakah perlu mengonsumsi satu produk makanan tertentu, dalam bentuk kemasan seperti apa.
Memang yang alami lebih baik. Hanya saja....lalu saya berpikir....apa saya harus memelihara sapi betina dan memerah susu supaya dapat yang fresh?!
Tapi, semalam saya kaget saat menyaksikan tayangan berita malam di TV. Badan POM melakukan sweeping produk susu dari Cina dan turunannya ke supermarket. Tampak beberapa merek yang cukup familiar untuk ditarik dan diperiksa : coklat M&M’s, Sneakers, dan Oreo Wafer.
Wah semua itu pernah saya makan (sambil membayangkan, semoga usus saya tidak selicin pantat mangkuk melamin)! Dari tayangan berita, alasan M&M’s ditarik dari peredaran untuk diperiksa, karena pabrikan berada di Cina.
Nah, dalam hal ini dalil belanja ”Ada harga ada kualitas” rontok! Sebungkus coklat M&M’s jauh lebih mahal ketimbang coklat Cha-Cha yang berbentuk nyaris sama –coklat dibalut gula manis. Coklat Sneakers yang dipadu dengan karamel dan kacang didalamnya punya rasa lebih nendang ketimbang Silver Queen. Tapi sayangnya beli satu Sneakers bakal habis sekali lahap ketimbang si SQ yang terdiri dari 6 kubik coklat... saya bisa mematahkan sepotong demi sepotong, sehingga makannya terasa lebih lama :)
Merek yang berasal dari luar negeri, belum tentu lebih baik ketimbang yang dari negeri sendiri. Akhirnya sebagai konsumen harus lebih hati-hati dalam memperhatikan kemasan di label. Termasuk, dalam kandungan nilai gizi dan asal negara, kejelasan perusahaan pengimpor jika produk itu dari luar negeri, atau nama produsen.
Saya sering ragu membeli produk makanan yang hanya mencantumkan nama pabrik tanpa pencantuman alamat pabrikan yang jelas, serta penulisan ”Telah disetujui oleh Depkes RI” pada kemasan. Bahkan sering pula tidak menyebutkan tanggal produksi dan tanggal kadaluwarsa. Biasanya ini terjadi pada produk (buatan) rumahan.
Sudah berapa lama saya terbiasa dengan makanan dalam kemasan. Meski menyadari mengonsumsi makanan dalam kemasan berarti berurusan dengan bahan pengawet. Tapi yah! Pertimbangan kepraktisan.
Jadi teringat kejadian di sore harinya. Ketika saya berteriak Mayday! untuk menstruasi hari pertama. Badan yang pegal-pegal dan perut melilit ini membuat saya teringat satu merek sari asam dalam kemasan, lalu langsung menitip belikan pada kakak saat ia mau berbelanja.
Namun, Mama saya melarang. Lebih baik yang alami dan menyuruh saya untuk membuat sendiri jamu. Bahan baku berupa kunyit dan asam sudah tersedia di dapur!
Haduh! Perut sudah mulas, dan masih harus mengolahnya sendiri? Saya yang anak kos-kosan sudah terbiasa yang instan. Selain unsur kepraktisan, tentu lebih gampang menyimpan. Istilahnya : Tinggal glek! Tinggal seduh! (silahkan teruskan sendiri dengan menyebut semua tagline minuman/makanan dalam kemasan).
Tapi tak ada salahnya mulai memilah apa yang masuk ke dalam badan. Apakah perlu mengonsumsi satu produk makanan tertentu, dalam bentuk kemasan seperti apa.
Memang yang alami lebih baik. Hanya saja....lalu saya berpikir....apa saya harus memelihara sapi betina dan memerah susu supaya dapat yang fresh?!
Tuesday, September 23, 2008
Pintu Hati
Satu pintu hati tertutup
Dan buka pintu yang lain
Lalu banyak cerita silih berganti
Si romantis sejati duduk termangu
"Sebut aku si romantis sejati, merindukan ksatria cahaya dan bintang jatuh. Mencari danau bening di ujung pelangi"
Dan buka pintu yang lain
Lalu banyak cerita silih berganti
Si romantis sejati duduk termangu
"Sebut aku si romantis sejati, merindukan ksatria cahaya dan bintang jatuh. Mencari danau bening di ujung pelangi"
Friday, September 19, 2008
Turning Point (Persiapan Lebaran)
Sudah Jumat ya?
Badanku sepertinya sudah mengirimkan sinyal-sinyal perlu di-recharge berlibur. Definisi ’liburan’ di sini : cukup pulang ke Bogor, menghirup hawa Kota Hujan, atau baca buku sembari bergelung di kasur. Ohya, juga punya niat saat ini harus melanjutkan ketikan novel fiksi yang draft-nya belum sempat kuteruskan. Eno wants to be fiction writer :D
Ohya, tapi rasanya weekend ini tidak bisa benar-benar ’menghilang’ dari aktivitas. Lebaran sudah tinggal 11 hari lagi. Berarti mulai sibuk bantu ortu –khususnya Mama- untuk persiapan Lebaran.
Bila orang berkata, enaknya menjadi anak bungsu karena paling tidak punya beban dari ortu.. hoho... ga sepenuhnya benar. Contohnya saya! Mungkin waktu saya kecil, memang betul sejumlah ’keringanan’ yang menjadi privilege menjadi si bontot. Kalau ada acara keluarga di rumah :, di hari-H cuma salam tamu dan cabut masuk kamar, dan tinggal nunggu waktu makan alias ngunyah (ga bantu masak, ga bantu beberes). Sebaliknya kalau giliran orangtua pergi ke acara keluarga, saya sepertinya lepas dari tugas menemani ortu.
Tapi sejak kakak satu persatu menikah dan punya kehidupan sendiri, praktis saya mendapat limpahan tugas.
Tiba-tiba mendapat telepon untuk menemani ibu pergi ke acara keluarga di akhir pekan, dititipin ini itu, termasuk sesekali menemani ortu yang rutin check-up ke dokter.
Untuk Lebaran yang sebentar lagi dirayakan umat muslim, berarti orangtua saya mendapat kunjungan dari keluarga besar. Mama saya yang memang jago masak, sudah pasti menunjukkan kehandalannya. Menu istimewa tahunan dari ketupat, gulai kambing, bebek panggang, malbi, nasi briani dsb. Beliau selalu menemukan ide menu masakan untuk dihidangkan di hari istimewa.
Sudah pasti kalau ada orang di rumah (baca : Saya) bakal kebagian membantu :)) Minimal belanja barang lah.... Di luar urusan masak – yang menjadi urusan Mama, kakak saya yang memang doyan masak, atau pembantu kalau kebetulan tidak mudik – saya membereskan rumah, mempersiapkan piring makan, termasuk belanja kue kering, permen, cari amplop kecil untuk angpao, dan setiap tahun kok mendapat tambahan tugas baru ya?? Seperti tahun ini berburu mencari pecahan uang kecil.
Dari sisi pribadi, saya merasa juga ada perubahan dalam diri. Sense kekeluargaan saya membaik :) Yah misalkan jadi bisa lebih bergaul dan kenal sanak saudara.
Tahun ini juga kegiatan puasa saya membaik. Ups, sori, jujur saja. Selama ini dengan alasan sakit maag, ga mampu, dan pembenaran lainnya, saya malas menjalankan puasa. Sholat juga kagak.... . Uf, memang untuk urusan relasi bersama yang Diatas, hubungan saya berlangsung ”mati-hidup”. Namun, yaaa... setiap orang kan ada masa Turning Point. Meski Turning Point saya masih tersendat-sendat dan belum 180 derajat, hanya saya bisa berkata : sudah lebih baik ketimbang sebelumnya.
Mungkin saya sudah berada pada kesadaran pribadi. Menyadari bahwa saya lupa bersyukur atas seluruh rakhmat yang dilimpahkan olehNya, yang semua itu tertutup oleh ’kerikil’ bentuk ketidak puasan diri. Masih merasa selalu kurang dan kurang, sehingga tak ingat akan rezeki yang sudah Ia berikan.
Ketika saya mampu membuang ratusan ribu untuk hal-hal duniawi seperti belanja dan nongkrong ngopi sambil chit-chat, beli baju dan kosmetik, serta mampir perawatan ke klinik kecantikan; Saya justru tidak ingat untuk membeli mukena baru, dengan hanya memiliki dua mukena andalan yang sudah berbilang tahun. Seharusnya saya kan tampil cantik di depanNYa sama halnya ingin tampil cantik di antara orang-orang.
Teman baikku tertawa karena baru pertama kali itu saya mampir ke rak buku-buku agama sewaktu kami jalan berdua ke toko buku Gramedia di Plaza Semanggi. (Haha.. Ajeng memang sudah tahu banget diriku...ya, kan, Jeng?).
Setiap orang mempunyai Turning Point-nya masing-masing. Entah itu berlangsung drastis atau perlahan. Biarkan saya sendiri yang memaknai turning point, dan seberapa besar saya mampu berubah. Selain hak (sangat) pribadi, setiap orang memiliki takaran sendiri untuk itu.
Badanku sepertinya sudah mengirimkan sinyal-sinyal perlu di-recharge berlibur. Definisi ’liburan’ di sini : cukup pulang ke Bogor, menghirup hawa Kota Hujan, atau baca buku sembari bergelung di kasur. Ohya, juga punya niat saat ini harus melanjutkan ketikan novel fiksi yang draft-nya belum sempat kuteruskan. Eno wants to be fiction writer :D
Ohya, tapi rasanya weekend ini tidak bisa benar-benar ’menghilang’ dari aktivitas. Lebaran sudah tinggal 11 hari lagi. Berarti mulai sibuk bantu ortu –khususnya Mama- untuk persiapan Lebaran.
Bila orang berkata, enaknya menjadi anak bungsu karena paling tidak punya beban dari ortu.. hoho... ga sepenuhnya benar. Contohnya saya! Mungkin waktu saya kecil, memang betul sejumlah ’keringanan’ yang menjadi privilege menjadi si bontot. Kalau ada acara keluarga di rumah :, di hari-H cuma salam tamu dan cabut masuk kamar, dan tinggal nunggu waktu makan alias ngunyah (ga bantu masak, ga bantu beberes). Sebaliknya kalau giliran orangtua pergi ke acara keluarga, saya sepertinya lepas dari tugas menemani ortu.
Tapi sejak kakak satu persatu menikah dan punya kehidupan sendiri, praktis saya mendapat limpahan tugas.
Tiba-tiba mendapat telepon untuk menemani ibu pergi ke acara keluarga di akhir pekan, dititipin ini itu, termasuk sesekali menemani ortu yang rutin check-up ke dokter.
Untuk Lebaran yang sebentar lagi dirayakan umat muslim, berarti orangtua saya mendapat kunjungan dari keluarga besar. Mama saya yang memang jago masak, sudah pasti menunjukkan kehandalannya. Menu istimewa tahunan dari ketupat, gulai kambing, bebek panggang, malbi, nasi briani dsb. Beliau selalu menemukan ide menu masakan untuk dihidangkan di hari istimewa.
Sudah pasti kalau ada orang di rumah (baca : Saya) bakal kebagian membantu :)) Minimal belanja barang lah.... Di luar urusan masak – yang menjadi urusan Mama, kakak saya yang memang doyan masak, atau pembantu kalau kebetulan tidak mudik – saya membereskan rumah, mempersiapkan piring makan, termasuk belanja kue kering, permen, cari amplop kecil untuk angpao, dan setiap tahun kok mendapat tambahan tugas baru ya?? Seperti tahun ini berburu mencari pecahan uang kecil.
Dari sisi pribadi, saya merasa juga ada perubahan dalam diri. Sense kekeluargaan saya membaik :) Yah misalkan jadi bisa lebih bergaul dan kenal sanak saudara.
Tahun ini juga kegiatan puasa saya membaik. Ups, sori, jujur saja. Selama ini dengan alasan sakit maag, ga mampu, dan pembenaran lainnya, saya malas menjalankan puasa. Sholat juga kagak.... . Uf, memang untuk urusan relasi bersama yang Diatas, hubungan saya berlangsung ”mati-hidup”. Namun, yaaa... setiap orang kan ada masa Turning Point. Meski Turning Point saya masih tersendat-sendat dan belum 180 derajat, hanya saya bisa berkata : sudah lebih baik ketimbang sebelumnya.
Mungkin saya sudah berada pada kesadaran pribadi. Menyadari bahwa saya lupa bersyukur atas seluruh rakhmat yang dilimpahkan olehNya, yang semua itu tertutup oleh ’kerikil’ bentuk ketidak puasan diri. Masih merasa selalu kurang dan kurang, sehingga tak ingat akan rezeki yang sudah Ia berikan.
Ketika saya mampu membuang ratusan ribu untuk hal-hal duniawi seperti belanja dan nongkrong ngopi sambil chit-chat, beli baju dan kosmetik, serta mampir perawatan ke klinik kecantikan; Saya justru tidak ingat untuk membeli mukena baru, dengan hanya memiliki dua mukena andalan yang sudah berbilang tahun. Seharusnya saya kan tampil cantik di depanNYa sama halnya ingin tampil cantik di antara orang-orang.
Teman baikku tertawa karena baru pertama kali itu saya mampir ke rak buku-buku agama sewaktu kami jalan berdua ke toko buku Gramedia di Plaza Semanggi. (Haha.. Ajeng memang sudah tahu banget diriku...ya, kan, Jeng?).
Setiap orang mempunyai Turning Point-nya masing-masing. Entah itu berlangsung drastis atau perlahan. Biarkan saya sendiri yang memaknai turning point, dan seberapa besar saya mampu berubah. Selain hak (sangat) pribadi, setiap orang memiliki takaran sendiri untuk itu.
Tuesday, September 16, 2008
Usaha Mencari Pecahan Rp 1000-an
Senin, 15 Sept’08 :
“Mbak, bisa tukar uang?”
”Sudah habis, Mbak. Stok kami terbatas. Besok saja datang lagi,” kata mbak di petugas Service Counter (SC) BCA.
Tentu dia mengerti di musim jelang Lebaran seperti sekarang, yang dimaksud dengan ’tukar uang’ adalah menukarkan sejumlah duit menjadi pecahan kecil seperti Rp 1000, Rp 5000 dst dalam lembaran mulus.
”Mungkin harus lebih pagi ya, Mbak?” tanyaku. Memang waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00 lewat.
”Besok saja datang jam 10-an.”(
Dalam hati agak ragu, namun saya pikir mungkin persediaan uang dari pusat baru datang jam segitu, dan si mbak yang bernama sama dengan nama saya tersebut tentu lebih tahu kondisi internal bank).
Selasa, 16 Sept’08 :
(Tepat jam 10-an)
“Mbak, mau tukar pecahan Rp 1000, ada?” tanyaku sambil menyunggingkan senyum ramah meski cukup lama mengantri. (Namanya juga bulan puasa, musti belajar bersabar hehe.. Apalagi buat yang model ”sumbu kompor pendek” alias meledak-ledak dan bukan penyabar).
”Wah kalau yang Rp 1000 sudah habis. Cepat, Mbak. Besok saja coba datang lagi,” kata si Service Counter (SC). Orang yang bertugas kebetulan berbeda dengan yang kemarin.
(Gimana sih? Kemarin dengan gaya meyakinkan suruh saya datang jam 10-an saja. Tapi... benar kan dugaanku.. harusnya datang lebih pagi!)
”Oh, ya sudah! Kalau tukaran Rp 5000-an ada kan?”
Mbak itu mengangguk. Lalu, setelah ia kembali ke depan meja counter sembari membawa permintaanku, kami berbasa-basi sebentar.
”Cepat ya mbak habisnya yang 1000-an. Habis sudah mau Lebaran sih,” kataku
”Iya nih, Mbak. Padahal Lebaran masih 2 minggu lagi. (Bank) ini dekat pasar sih, jadi uang pecahan seribuan selalu habis,” kata si Mbak SC.
Saya tersenyum seraya mengangguk. Penjelasannya masuk akal. Bank ini memang berada di Pasar Mayestik.
Kemudian, saya berjalan menuju BNI yang letaknya berdekatan. Jawabannya juga sama. Pecahan Rp 1000-an sudah habis.
Rabu, 17 Sept’08 :
Bakal mencoba lagi. Bangun dan nongol di Bank, harus lebih pagi... :))
Baru tahun ini saya harus ’berburu’ recehan 1000 ke bank. Selama ini, untuk kebutuhan pecahan ’salam tempel’ di hari Lebaran, saya dan ortu biasanya titip kepada kakak yang menukarkan bareng dengan kebutuhan kantornya.
Nah! Berhubung kakak saya sekarang sudah resign dan total jadi ibu rumah tangga, saya yang kini menggantikan tugas itu.
Duh! Saya jadi teringat kalau di luar Hari Raya, punya tumpukan Rp 1000-an di dompet tanda SOS. Sudah sekarat. Tapi kalau bulan Ramadan –menjelang Lebaran- uang itu berharga. Bahkan, menjadi obyek buruan saya 2 hari ini :))
Yah! Kalau sudah mentok, saya tukar nantinya ke ibu-ibu yang biasa menawarkan jasa tukar duit di terminal Lebak Bulus.
“Mbak, bisa tukar uang?”
”Sudah habis, Mbak. Stok kami terbatas. Besok saja datang lagi,” kata mbak di petugas Service Counter (SC) BCA.
Tentu dia mengerti di musim jelang Lebaran seperti sekarang, yang dimaksud dengan ’tukar uang’ adalah menukarkan sejumlah duit menjadi pecahan kecil seperti Rp 1000, Rp 5000 dst dalam lembaran mulus.
”Mungkin harus lebih pagi ya, Mbak?” tanyaku. Memang waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00 lewat.
”Besok saja datang jam 10-an.”(
Dalam hati agak ragu, namun saya pikir mungkin persediaan uang dari pusat baru datang jam segitu, dan si mbak yang bernama sama dengan nama saya tersebut tentu lebih tahu kondisi internal bank).
Selasa, 16 Sept’08 :
(Tepat jam 10-an)
“Mbak, mau tukar pecahan Rp 1000, ada?” tanyaku sambil menyunggingkan senyum ramah meski cukup lama mengantri. (Namanya juga bulan puasa, musti belajar bersabar hehe.. Apalagi buat yang model ”sumbu kompor pendek” alias meledak-ledak dan bukan penyabar).
”Wah kalau yang Rp 1000 sudah habis. Cepat, Mbak. Besok saja coba datang lagi,” kata si Service Counter (SC). Orang yang bertugas kebetulan berbeda dengan yang kemarin.
(Gimana sih? Kemarin dengan gaya meyakinkan suruh saya datang jam 10-an saja. Tapi... benar kan dugaanku.. harusnya datang lebih pagi!)
”Oh, ya sudah! Kalau tukaran Rp 5000-an ada kan?”
Mbak itu mengangguk. Lalu, setelah ia kembali ke depan meja counter sembari membawa permintaanku, kami berbasa-basi sebentar.
”Cepat ya mbak habisnya yang 1000-an. Habis sudah mau Lebaran sih,” kataku
”Iya nih, Mbak. Padahal Lebaran masih 2 minggu lagi. (Bank) ini dekat pasar sih, jadi uang pecahan seribuan selalu habis,” kata si Mbak SC.
Saya tersenyum seraya mengangguk. Penjelasannya masuk akal. Bank ini memang berada di Pasar Mayestik.
Kemudian, saya berjalan menuju BNI yang letaknya berdekatan. Jawabannya juga sama. Pecahan Rp 1000-an sudah habis.
Rabu, 17 Sept’08 :
Bakal mencoba lagi. Bangun dan nongol di Bank, harus lebih pagi... :))
Baru tahun ini saya harus ’berburu’ recehan 1000 ke bank. Selama ini, untuk kebutuhan pecahan ’salam tempel’ di hari Lebaran, saya dan ortu biasanya titip kepada kakak yang menukarkan bareng dengan kebutuhan kantornya.
Nah! Berhubung kakak saya sekarang sudah resign dan total jadi ibu rumah tangga, saya yang kini menggantikan tugas itu.
Duh! Saya jadi teringat kalau di luar Hari Raya, punya tumpukan Rp 1000-an di dompet tanda SOS. Sudah sekarat. Tapi kalau bulan Ramadan –menjelang Lebaran- uang itu berharga. Bahkan, menjadi obyek buruan saya 2 hari ini :))
Yah! Kalau sudah mentok, saya tukar nantinya ke ibu-ibu yang biasa menawarkan jasa tukar duit di terminal Lebak Bulus.
Thursday, September 11, 2008
Putri Kecil Ayah

Aku zat kecil di jagad raya
Ketika ditangkap tangan maya
Dan terbang bersama bangau
Mengetuk pintu rumahmu
Aku menjadi putri kecilmu
Ada saat kurindu pangkuanmu
Kumabuk wangi aftershavemu
Lalu ku pun berlari
Mencari kedamaian di pelukmu
Ada saat ku menjadi elang liar
Enggan pulang ke sarang
Langkah ku yakin dari restumu
Meski ......entah.... kamu ikhlas atau elus dada
Kini ku berdiri di depan gerbangmu
Sembari mendesiskan bisik
Aku selalu menjadi ”Daddy’s little girl”
(PS : Tiba-tiba kangen dengan ayahku)
Jakarta, 10 September 2008
P.E.R.C.A.Y.A
:Sinis (?)
Bengong-bengong longok kotak mimpi
Pandangi artis berbalut kerudung
Bulan lalu masih kulihat ber-hot pants di Citos
Oh ya! Satu bulan Nona tutup aurat
Bulan berikut terserah anda.....
Panjang pendek kain cita memang urusan pribadi
Pencet-pencet remote control
Terpana cantiknya Shahnaz berjilbab
Kubayangkan pake baju sama di hari Lebaran
Dapat pujian ’super soleha’ dari camer.... Aih!
Lho! Habis siraman rohani, ada undian berhadiah pula?
Bukan lotere, bukan judi
Uff..uf.. itu namanya rezeki di bulan suci
Ada Super Toy di kanal berita
Namanya juga ’toy’ atau ’mainan’
Super sotoy.. super main-main
Jadi mainan di sawah tetangga
Aku berjingkat usai bedug bertalu
Bongkar lemari meraih mukena beraroma kamper
Baca kompas jangan salah arah, sejadah kugelar
Lamat-lamat aku berbisik, ”Hanya Pada-Mu Aku P.E.R.C.A.Y.A”
Jakarta, 7 September 2008
Bengong-bengong longok kotak mimpi
Pandangi artis berbalut kerudung
Bulan lalu masih kulihat ber-hot pants di Citos
Oh ya! Satu bulan Nona tutup aurat
Bulan berikut terserah anda.....
Panjang pendek kain cita memang urusan pribadi
Pencet-pencet remote control
Terpana cantiknya Shahnaz berjilbab
Kubayangkan pake baju sama di hari Lebaran
Dapat pujian ’super soleha’ dari camer.... Aih!
Lho! Habis siraman rohani, ada undian berhadiah pula?
Bukan lotere, bukan judi
Uff..uf.. itu namanya rezeki di bulan suci
Ada Super Toy di kanal berita
Namanya juga ’toy’ atau ’mainan’
Super sotoy.. super main-main
Jadi mainan di sawah tetangga
Aku berjingkat usai bedug bertalu
Bongkar lemari meraih mukena beraroma kamper
Baca kompas jangan salah arah, sejadah kugelar
Lamat-lamat aku berbisik, ”Hanya Pada-Mu Aku P.E.R.C.A.Y.A”
Jakarta, 7 September 2008
Tuesday, September 09, 2008
September
Aku menyukai September
Ia membelaiku dalam jemari hujan
Bersenandung nyanyian bumi di telinga
Mengetuk lamunan saat ku berkerudung senja
Menanti yang tak kunjung tiba
Kau sibuk menggores hari namun lupa berdansa
Saksikan aku menari bersama harum tanah di bawah temaram bulan
Oktober, November, Desember... aku panggil nama kalian
Namun aku semakin tenggelam bersama September
Jakarta, 8 September 2008
Ia membelaiku dalam jemari hujan
Bersenandung nyanyian bumi di telinga
Mengetuk lamunan saat ku berkerudung senja
Menanti yang tak kunjung tiba
Kau sibuk menggores hari namun lupa berdansa
Saksikan aku menari bersama harum tanah di bawah temaram bulan
Oktober, November, Desember... aku panggil nama kalian
Namun aku semakin tenggelam bersama September
Jakarta, 8 September 2008
Monday, September 08, 2008
Narsis

“Yang ini kayak pake konde di depan,” komentar teman sambil menunjuk salah satu foto.
”Lha.. abis fotografernya ga kasih kesempatan dandan dulu,” kataku. Haha... memang dasarnya gembil.. ya tetap gembil aja. Padahal komentar teman itu sih bukan soal ’pipi’, tetapi soal ’rambut poni ga jelas’ di atas mataku itu.
Sudahlah.. yang penting ternyata tampangku bisa masuk media ... Jadi ingat cerita-cerita masa wartawan dulu, katanya ada teman yang sering sengaja berdiri melakukan wawancara di belakang sang narasumber. Usai sesi wawancara guyub (alias, rame-rame) bersama berbagai media dari televisi, cetak, radio, bahkan internet, sang teman wartawan itu nelpon ke keluarga di rumah. ”Mak.. Anakmu masuk tipi.... ntar liat siaran berita.......”
Thursday, September 04, 2008
Patah (Episode I-III)
Episode I (Musnah)
Ia…
Hanya ujung bintang berekor
Melesat, mempesona……
Musnah
**
Episode II (Emosi)
Ouch!
It’s hurt!
Aduh!
Patah!
Ada yang punya perekat?
**
Episode III (Stabil)
Remah-remah kenangan terbakar jadi abu
Ku larung ke sungai menderas
Mengaliri dua belah pipi hingga mengering
Jakarta, awal 2008
Ia…
Hanya ujung bintang berekor
Melesat, mempesona……
Musnah
**
Episode II (Emosi)
Ouch!
It’s hurt!
Aduh!
Patah!
Ada yang punya perekat?
**
Episode III (Stabil)
Remah-remah kenangan terbakar jadi abu
Ku larung ke sungai menderas
Mengaliri dua belah pipi hingga mengering
Jakarta, awal 2008
Tuesday, September 02, 2008
Work.. Aholic..
Jangan katakan ini hari apa
Aku tahu! Ini Jum’at
Badan juga sudah mengirimkan alarm
Tulang berdentam-dentam terasa remuk
Berharap ada tidur panjang Sabtu besok
Jangan telpon aku
Jangan katakan waktu mencuri usia kita
Hingga lupa bercinta dan berpeluk
Aku memang kecanduan Senin sampai Jumat
Membuka agenda usang berjudul ’Demi Karir’
Karir dan gaji, sebenarnya tak tau demi yang mana
”Cinta, kamu lupa cinta kita,” kata kamu suatu waktu
Aku mau jawab, ”Bekerja lebih gampang ketimbang memahami kamu”
Jakarta, Jumat 29 Agustus 2008
Aku tahu! Ini Jum’at
Badan juga sudah mengirimkan alarm
Tulang berdentam-dentam terasa remuk
Berharap ada tidur panjang Sabtu besok
Jangan telpon aku
Jangan katakan waktu mencuri usia kita
Hingga lupa bercinta dan berpeluk
Aku memang kecanduan Senin sampai Jumat
Membuka agenda usang berjudul ’Demi Karir’
Karir dan gaji, sebenarnya tak tau demi yang mana
”Cinta, kamu lupa cinta kita,” kata kamu suatu waktu
Aku mau jawab, ”Bekerja lebih gampang ketimbang memahami kamu”
Jakarta, Jumat 29 Agustus 2008
Monday, August 25, 2008
Ide Penulisan Iklan melalui Pertanyaan Esensial

Perhatikan gambar berikut ini. Mata (eye = jika diucapkan, lafal terdengar hampir sama dengan pengucapan ”I” dalam Bahasa Inggris), Lebah (bee = dalam pengucapannya terdengar hampir sama dengan ”B” dalam Bahasa Inggris), dan garis horisontal tersusun teratur membentuk huruf ”M” yang khas untuk logo IBM.
Yap! Logo tersebut memang untuk IBM. Saya suka ide permainan kata/sanjak; atau permainan ucapan (akibat penulisan dan lafal yang berbeda seperti dalam Bahasa Inggris). Karena terdengar lebih ’unik’, terkesan lebih komunikatif, santai, namun bisa pula berpikir sejenak lalu tersenyum.
Contohnya seperti dalam logo tersebut. Bukan logo kaku seolah merepresentasikan dunia korporasi yang birokratis, formil dengan mengatas namakan ’profesionalisme’.
Nah, baru tahu setelah baca buku ”Citizen Brand” yang ditulis oleh Marc Gobé bahwa logo tersebut hasil kreatifitas Paul Rand. Rand, pencipta ilustratif logo ABC, Westinghouse, UPS, dan logo IBM, yang juga dosen Yale University dan desainer grafis paling berpengaruh di abad ke-20. (Karya-karya Rand lainnya bisa dilihat dengan mengetikkan namanya sebagai kata kunci di Google. Haha.. memang ini masih tetep situs pencarian favorit..... dan termudah dalam ingatan saya, yang antara lain menghasilkan alamat www.logoblog.org).
Rand, mengutip dari buku Citizen Brand, mengatakan bahwa efektivitas logo berdasarkan 6 faktor penting, meliputi :
1. keunikan
2. visibilitas
3. kemampuan adaptasi
4. keterkenangan
5. universalitas
6. keabadian
Selain itu, menjawab tiga pertanyaan esensial :
1. siapa audiensinya?
2. bagaimana merek ini dipasarkan?
3. apa medianya?
Saya berpendapat, pertanyaan esensial itu pun cocok ketika kita membuat tulisan iklan (advertorial) di suatu media massa. Yang jika dijabarkan yaitu :
1. Fokus tulisan atau apa isu yang mau diangkat oleh pemasang iklan. Misalkan apakah topik yang mau diangkat itu menyangkut keunggulan produk, kegiatan kampanye perusahaan baik berkaitan bisnis maupun fungsi sosial (CSR), kemajuan yang dicapai berkaitan dengan ulang tahun korporasi dll.
2. Penggunaan kaidah tulisan non fiksi berupa data 5W + 1H
3. Siapa target pembaca (mengikuti segmen pembaca media pemasangan advertorial)
Berpegang dalam pertanyaan esensial untuk advertorial ini, dalam prakteknya penulis juga –mau tidak mau- harus memahami klien. Kita akan mengalami perbedaan gaya dengan konsep menulis berita yang independen. Wartawan hanya menyesuaikan dengan visi & misi media, gaya penulisan media, maupun segmen pembacanya.
Sementara karakter klien (pemasang iklan) bermacam-macam. Ada yang bertipe easy. Mereka tinggal membrief apa saja yang mereka mau dimuat (poin 1) dan selebihnya (di poin 2 dan 3) terserah pada penulis. Lalu setelah penulisan jadi, koreksi dan membaca ulang yang mereka lakukan, lebih kepada persoalan kebenaran atau kevalidan data dalam penulisan.
Ada pula yang bergaya toko serba ada. Istilah kerennya ’multiangle’. Alias semua musti masuk untuk dituliskan dalam 1 space yang mereka bayar. Misalkan komentar dari beberapa petinggi harus masuk semua. Atau meskipun tulisan menyangkut keunggulan A, si klien juga senang jika keunggulan lainnya B,C,...Z juga disinggung.
Sehingga, intinya penulis iklan yang kudu mampu menerjemahkan kemauan klien.
(Gambar dikutip dari : www.logoblog.org)
Thursday, August 07, 2008
Berani Bermimpi Lagi

…………… As I make my way back to you
You gave me faith
And you gave me a world to believe in
You gave me a love to believe in
And feeling this love
I can rise up above
And be strong, and be whole once again ........
(A World to Believe In – Celine Dion)
Lagu ini terdapat di album Celine Dion “Taking Chances”. Sebelumnya, aku tidak terlalu peduli apa isi lagu-lagu di album ini. Saya membeli cakram padat itu karena iming-iming suatu bank penerbit kartu kredit. Jika saya membeli CD Taking Chances dengan kartu kredit bank tersebut, maka saya bisa mengambil CD Ultimate Santana secara gratis. Jadi, saya –sebenarnya- mengejar Santana :))
Semalam, sembari membaca buku yang baru kupinjam di perpustakaan, saya bongkar kumpulan CD saya, untuk menemaniku melahap barisan kata. Koleksi CD terus terang memang belakangan ini tidak banyak. Seiring kemudahan jalur pemutar musik mp3 dan iPod, ketimbang membawa diskman, koleksi CD ku kini terbatas pada yang benar-benar kukira bakal everlasting kusukai . Hmmm......... The Cardigans? Aghh malas konsentrasi membaca diiringi lagu yang upbeat. Lalu pilih Andrea Bocelli, kemudian pindah ke Celine Dion yang jarang kuputar.
Beranjak dari satu lagu ke lagu berikutnya, hingga tiba di Track 10, sontak saya terdiam mendengar lirik lagu di atas. Lirik sederhana. Namun entah mengapa, menggugah ingatan saya tentang seseorang.
Pernahkah kamu berada dalam posisi mengejar angin? Dan ketika kamu menangis, terpuruk, merasa galau, mendadak kamu mendapat rengkuhan hangat dari seseorang? Ketika kamu jatuh, lalu seseorang itu memegang tangan kamu?
Tidak dekat di mata, namun selalu membawa kamu pulang ke ’rumah’? Seseorang yang’sedikit’ kamu lupakan dengan alasan jarak maupun kesibukan?
Hanya saja, diriku senang ketika selalu ada tempat untuk bersandar. Ada dirinya yang mengusap bahumu, serta memastikan kamu adalah The Precious? Bahwa kamu terlalu berharga untuk dicampakkan, terlalu dungu untuk merasa rendah diri, terlalu berlebihan merasa tidak sempurna? Memang manusia tidak ada yang sempurna! Keindahan manusia adalah ketidaksempurnaan itu .......................
Agh, saya ingin membuang puing-puing sakit hati. Ingin mengikis rasa teraniaya, dan makhluk termalang sedunia.
Seperti dalam senandung Celine Dion, ”... Cause your love heals my souls. Once again. I can live I can dream. Once Again. ‘Cause you made me believe…..”
(Gambar Dreamquest : dikutip dari www jasonchanart com)
(Gambar Angel : dikutip dari www squidoo com)
Kreatif Kalau Kepepet
Kurang dari seminggu sebelum konser di Jakarta, Alicia Keys menuntut seluruh pernak-pernik berbau rokok harus dihilangkan dari arena konser. ”Saya tidak mendorong anak-anak di dunia untuk merokok,” katanya.
Semua berawal dari langkah Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Campaign for Tobacco Free Kids mengirimkan surat kepada Keys, mempertanyakan komitmen penyanyi R&B asal AS itu untuk tidak ikut serta mempromosikan rokok, yang notabene menjadi sponsor utama pertunjukan Alicia Keys di Jakarta, awal Agustus lalu.
Seperti dikutip dari Majalah Tempo, Edisi 4-10 Agustus 2008, Amerika melarang perusahaan rokok menjadi sponsor acara musik dan olahraga sejak 1998. Tiga tahun berikutnya, perusahaan rokok membuat standar pemasaran internasional, yang antara lain, tak menggunakan selebritas untuk promosi, tidak mendorong anak muda merokok, dan tidak beriklan secara masif.
Ini kondisi yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun ada koridor Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Dalam PP tersebut juga mencantumkan aturan materi iklan.
Di sini, ada dualisme dalam memandang rokok. Industri rokok sebagai salah satu pemberi pemasukan besar bagi negara melalui cukai, dan membuka lapangan kerja cukup besar. Di pasar modal, saham-saham perusahaan rokok termasuk yang blue chips.
Di sisi lain, sisi kesehatan menjadikan produk berbahan baku tembakau ini juga digebuk, serta diikat kebebasannya dalam beriklan.
Namun, justru di tengah ketatnya tata cara mengiklankan diri, rokok merupakan salah satu dari sekian produk dengan iklan yang paling inovatif. Tim marketing atau perusahaan periklanan mereka menjadi putar otak dengan sejumlah larangan pemerintah.
Saya acungkan jempol untuk kreator A-Mild. Saya kagum dengan gaya Bentoel mengangkat ke-Indonesiaan, mengingatkan kita akan negeri yang elok, yang sama rasanya ketika melihat salah satu iklan rokok Marlboro membuatku ingin pergi ke Grand Canyon. Atau gelitik aura mistis para peri (ibunda Pertiwi?)dari negeri dongeng-nya Gudang Garam.
Etika Pariwara Indonesia menyebutkan dalam iklannya : Tidak menampilkan produk rokok, atribut rokok maupun perlengkapan merokok, atau memperagakan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, rokok atau orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok. Selain itu, penayangan di televisi hanya boleh disiarkan malam hari. Mulai dari 21.30 hingga 05.00 waktu setempat.
Industri rokok termasuk paling wahid dalam aktivitas below the line dengan mensponsori pertunjukan musik, olahraga, hingga beasiswa.
Ini mungkin salah satu bukti nyata bahwa kreativitas dan inovasi justru muncul akibat sejumlah pembatasan. Mungkin analogi serupa ketika mepet deadline (tenggat waktu) membuat ide paling oke muncul?!
Duh.. kalau yang terakhir ini jangan dibiasakan deh :D
Semua berawal dari langkah Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Campaign for Tobacco Free Kids mengirimkan surat kepada Keys, mempertanyakan komitmen penyanyi R&B asal AS itu untuk tidak ikut serta mempromosikan rokok, yang notabene menjadi sponsor utama pertunjukan Alicia Keys di Jakarta, awal Agustus lalu.
Seperti dikutip dari Majalah Tempo, Edisi 4-10 Agustus 2008, Amerika melarang perusahaan rokok menjadi sponsor acara musik dan olahraga sejak 1998. Tiga tahun berikutnya, perusahaan rokok membuat standar pemasaran internasional, yang antara lain, tak menggunakan selebritas untuk promosi, tidak mendorong anak muda merokok, dan tidak beriklan secara masif.
Ini kondisi yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun ada koridor Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Dalam PP tersebut juga mencantumkan aturan materi iklan.
Di sini, ada dualisme dalam memandang rokok. Industri rokok sebagai salah satu pemberi pemasukan besar bagi negara melalui cukai, dan membuka lapangan kerja cukup besar. Di pasar modal, saham-saham perusahaan rokok termasuk yang blue chips.
Di sisi lain, sisi kesehatan menjadikan produk berbahan baku tembakau ini juga digebuk, serta diikat kebebasannya dalam beriklan.
Namun, justru di tengah ketatnya tata cara mengiklankan diri, rokok merupakan salah satu dari sekian produk dengan iklan yang paling inovatif. Tim marketing atau perusahaan periklanan mereka menjadi putar otak dengan sejumlah larangan pemerintah.
Saya acungkan jempol untuk kreator A-Mild. Saya kagum dengan gaya Bentoel mengangkat ke-Indonesiaan, mengingatkan kita akan negeri yang elok, yang sama rasanya ketika melihat salah satu iklan rokok Marlboro membuatku ingin pergi ke Grand Canyon. Atau gelitik aura mistis para peri (ibunda Pertiwi?)dari negeri dongeng-nya Gudang Garam.
Etika Pariwara Indonesia menyebutkan dalam iklannya : Tidak menampilkan produk rokok, atribut rokok maupun perlengkapan merokok, atau memperagakan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya, rokok atau orang sedang merokok, atau mengarah pada orang yang sedang merokok. Selain itu, penayangan di televisi hanya boleh disiarkan malam hari. Mulai dari 21.30 hingga 05.00 waktu setempat.
Industri rokok termasuk paling wahid dalam aktivitas below the line dengan mensponsori pertunjukan musik, olahraga, hingga beasiswa.
Ini mungkin salah satu bukti nyata bahwa kreativitas dan inovasi justru muncul akibat sejumlah pembatasan. Mungkin analogi serupa ketika mepet deadline (tenggat waktu) membuat ide paling oke muncul?!
Duh.. kalau yang terakhir ini jangan dibiasakan deh :D
Wednesday, August 06, 2008
Bunuh Diri & Saat dariNya
Sore hari, tiba-tiba masuk SMS dari kamu.
Saya jadi ingin membagi cerita kebahagiaan denganmu.
Namun, tulisan di layar LCD berdimensi tak lebih lebar dari panjang jempol jariku, membuat saya menunda membicarakan soal rasa senangku.
Rasanya, bukan saat yang tepat menceritakan tentang angan yang membuncah di saat orang lain sedang merasa kehilangan. Kamu baru pulang melayat teman, seorang aktivis, sekaligus mantan rekan kerja yang meninggal dunia. Maaf... aku sendiri lupa apakah sudah menekan keypad menyatakan turut berduka cita. Tapi yang jelas aku menunda ceritaku. Entah mengapa, persoalan ’kematian’ menimbulkan inspirasi yang ingin kutuang dalam puisiku.
Padahal sebelumnya saya sempat membahas tentang ”bunuh diri” dalam chatting bersama Merry dan Ajeng di pagi hari. Ini bukan persoalan depresi. Lebih kepada kita mengakhiri sendiri ujung usia kita, dengan meminjam istilah ”lengser keprabon madeg pandita”. Men-cut off umur di saat kita pada titik puncak keindahan diri, masih merasa cantik/ganteng, badan masih langsing belum mekar gara-gara melahirkan, belum punya beban.
Akan tetapi pelaku bunuh diri tentu kalah nyali dengan rekan almarhum - teman dari teman saya tsbt - yang berjuang melawan kanker sambil teguh berjuang mempertahankan idealismenya...
Kasus bunuh diri –dalam pendapatku – jadi seperti seseorang yang takut menghadapi masa depan. Bayangkan ketika seseorang melontarkan ucapan, ”Ya ampun... bodoh betul mengakhiri hidup saat masih belia,” sembari memandang tubuh kaku yang mati bunuh diri.
Bunuh diri adalah langkah bodoh ketika dunia masih menawarkan banyak hal yang belum kita reguk dalam keindahan hidup ini! Dari super remeh, super bodoh maupun na’if, atau mewujudkan impian yang bagi sebagian orang terlihat sepele atau standar. Misalkan belum mendaki Gunung Bromo meski banyak orang menyatakan Bali lebih romantis sebagai tempat berbulan madu.
Belum menikmati diving di Bunaken versus berbikini super mini di pantai, menjejak Kashmir, dan belum beribadah Umroh.
Belum pula membuat ibu tersenyum bahagia karena diri ini tertib menjalankan ibadah agama.
Belum mencoba duduk di belakang kemudi mini cooper tua dan melaju di Jakarta raya. Atau belum menemukan ciuman yang membuat diri melayang di udara seperti ditulis dalam roman picisan; belum merasakan janin tumbuh berkembang dalam rahim hingga melahirkannya; belum menyaksikan anak-anak yang ceria bermain sembari memelukku seraya berkata ”Bunda” ; dan belum melihat siapa Presiden RI di 2009, dsb.... dst.
Jadi.. biarkan Ia yang memutuskan kapan kita kembali. Kita hanya manusia yang berusaha mengisi waktu di dunia ini dengan hal-hal berguna.
Mungkin aku hanya mampu ikut menyatakan sedih melalui kata-kata sederhana di bawah ini.
***
Kehilangan
Banyak cerita kita bagi
Dari ranting jatuh hingga langit runtuh
Tentang cara mengisi waktu sampai ujung umur
Lalu kita pun diam termangu,
”Kita belum bicara sehidup berdua,”
Entah siapa yang nyaring berlagu
Ideologi memberangus hati bertaut
***
Ketika Saatnya Tiba
Kata kamu : tak ada kata ”Siap”
Hidup hanya mengumpulkan bekal dan menabur remah
Seperti Hansel menebar roti menjejak arah
Lalu burung-burung bersorak menemukan kudapan
Atau kau menjadi Gretel mengunyah gubuk coklat
Dan bertemu penyihir kelaparan
Semua ada sebab dan akibat
Sekali mengudar benang umur tiada mampu digulung kembali
Semua berujung di rumah tempat bersarang
Malaikat pun mengintip dari belakang .....
PS : turut berduka cita, Lelaki Agustus-ku.......
Jakarta 6 Agustus 2008
Saya jadi ingin membagi cerita kebahagiaan denganmu.
Namun, tulisan di layar LCD berdimensi tak lebih lebar dari panjang jempol jariku, membuat saya menunda membicarakan soal rasa senangku.
Rasanya, bukan saat yang tepat menceritakan tentang angan yang membuncah di saat orang lain sedang merasa kehilangan. Kamu baru pulang melayat teman, seorang aktivis, sekaligus mantan rekan kerja yang meninggal dunia. Maaf... aku sendiri lupa apakah sudah menekan keypad menyatakan turut berduka cita. Tapi yang jelas aku menunda ceritaku. Entah mengapa, persoalan ’kematian’ menimbulkan inspirasi yang ingin kutuang dalam puisiku.
Padahal sebelumnya saya sempat membahas tentang ”bunuh diri” dalam chatting bersama Merry dan Ajeng di pagi hari. Ini bukan persoalan depresi. Lebih kepada kita mengakhiri sendiri ujung usia kita, dengan meminjam istilah ”lengser keprabon madeg pandita”. Men-cut off umur di saat kita pada titik puncak keindahan diri, masih merasa cantik/ganteng, badan masih langsing belum mekar gara-gara melahirkan, belum punya beban.
Akan tetapi pelaku bunuh diri tentu kalah nyali dengan rekan almarhum - teman dari teman saya tsbt - yang berjuang melawan kanker sambil teguh berjuang mempertahankan idealismenya...
Kasus bunuh diri –dalam pendapatku – jadi seperti seseorang yang takut menghadapi masa depan. Bayangkan ketika seseorang melontarkan ucapan, ”Ya ampun... bodoh betul mengakhiri hidup saat masih belia,” sembari memandang tubuh kaku yang mati bunuh diri.
Bunuh diri adalah langkah bodoh ketika dunia masih menawarkan banyak hal yang belum kita reguk dalam keindahan hidup ini! Dari super remeh, super bodoh maupun na’if, atau mewujudkan impian yang bagi sebagian orang terlihat sepele atau standar. Misalkan belum mendaki Gunung Bromo meski banyak orang menyatakan Bali lebih romantis sebagai tempat berbulan madu.
Belum menikmati diving di Bunaken versus berbikini super mini di pantai, menjejak Kashmir, dan belum beribadah Umroh.
Belum pula membuat ibu tersenyum bahagia karena diri ini tertib menjalankan ibadah agama.
Belum mencoba duduk di belakang kemudi mini cooper tua dan melaju di Jakarta raya. Atau belum menemukan ciuman yang membuat diri melayang di udara seperti ditulis dalam roman picisan; belum merasakan janin tumbuh berkembang dalam rahim hingga melahirkannya; belum menyaksikan anak-anak yang ceria bermain sembari memelukku seraya berkata ”Bunda” ; dan belum melihat siapa Presiden RI di 2009, dsb.... dst.
Jadi.. biarkan Ia yang memutuskan kapan kita kembali. Kita hanya manusia yang berusaha mengisi waktu di dunia ini dengan hal-hal berguna.
Mungkin aku hanya mampu ikut menyatakan sedih melalui kata-kata sederhana di bawah ini.
***
Kehilangan
Banyak cerita kita bagi
Dari ranting jatuh hingga langit runtuh
Tentang cara mengisi waktu sampai ujung umur
Lalu kita pun diam termangu,
”Kita belum bicara sehidup berdua,”
Entah siapa yang nyaring berlagu
Ideologi memberangus hati bertaut
***
Ketika Saatnya Tiba
Kata kamu : tak ada kata ”Siap”
Hidup hanya mengumpulkan bekal dan menabur remah
Seperti Hansel menebar roti menjejak arah
Lalu burung-burung bersorak menemukan kudapan
Atau kau menjadi Gretel mengunyah gubuk coklat
Dan bertemu penyihir kelaparan
Semua ada sebab dan akibat
Sekali mengudar benang umur tiada mampu digulung kembali
Semua berujung di rumah tempat bersarang
Malaikat pun mengintip dari belakang .....
PS : turut berduka cita, Lelaki Agustus-ku.......
Jakarta 6 Agustus 2008
Labels:
puisi (coretan sastra),
renungan diri
Monday, August 04, 2008
Missing Link (?)
Aneh!
Selalu ada kamu di sudut lengangku.
Apakah kamu lengkung rinduku di kaki pelangi,
saat ku mencari ujung lazuardi?
Jakarta, 4 Agst' 08
Selalu ada kamu di sudut lengangku.
Apakah kamu lengkung rinduku di kaki pelangi,
saat ku mencari ujung lazuardi?
Jakarta, 4 Agst' 08
Friday, August 01, 2008
The Dark Knight

Batman is back!Jagoan kelam ini favoritku dari zaman kecil dulu.
Kenapa?
Dalam benak diriku yang masih anak kecil – pada waktu itu- dia keren dengan topeng dan jubah hitamnya. Dia juga punya banyak peralatan untuk melawan musuh-musuhnya.
Jika saya deskripsikan sekarang, Batman a.k.a Bruce Wayne paling humanis. Dia manusia biasa yang ingin membumi hanguskan kejahatan. Ia bukan manusia yang mampu mengeluarkan jaring laba-laba seperti Spiderman. Bukan pula si Superman (aghh! Dari dulu aku ga kuattt lihat jambul Mr. Clark Kent/Kal-El).
Batman sudah sering difilmkan di layar lebar. Tentu yang paling kuingat di era 90-an dengan aktor bergonta-ganti berperan sebagai Bruce Wayne. Mulai dari Michael Keaton. Ia membuat penasaran jika melihat sosoknya berbalut jubah kelelawar. Akan tetapi, imaji jadi rontok ketika melihat sosok dia dlm balutan Bruce Wayne... Maka sosok Val Kilmer paling guanteng untuk menjadi Batman. Makanya Batman Forever jadi film favorit saya.
Tapi acungkan jempol untuk “The Dark Knight”. Serba gelap. Muram. Dan salut untuk (almarhum) Heath Ledger yang mampu menghidupkan peran Joker, musuh Batman, dengan sangat-sangat bagus!! Benar-benar Joker yang cerdas dan mampu memainkan ’kartu’ dengan tak disangka.
Satu nama lagi yang menghidupkan film ini adalah Aaron Eckhart. Lupakan sosok pria membumi di No Reservations. Eckhart berperan sebagai Harvey Dent, jaksa wilayah yang memandang hidup dalam hitam-putih. Saksikan Dent bermetamorfosa menjadi sosok jahat. (bagi penggemar berat Batman, terdengar familiarkah nama nya??)
Film yang sangat sayang jika dilewatkan. Unsur sadisme tidak separah misalkan Spiderman-3, tapi memang film ini untuk Dewasa karena alur cerita yg berat. Dalam arti, bukan film yang sekadar memindahkan jagoan komik ke pita seluloid.
Thanks jg untuk rekan-rekan ku yang mengajak ku menonton di saat aku lagi up and down. Terhibur banget....
Bukan Superhero
Saat Memutuskan Berpisah

Saya bukan penonton setia tayangan Infotainment. Hanya menikmati tayangan tsbt ketika TV di kantor berada di saluran yang sedang menayangkan gosip selebritas terkini. Atau, mau tidak mau mata mata tertuju pada berita tsbt saat buka-buka website.
Tapi kasus rencana perceraian pasangan pemusik yang penuh dengan layangan tuduhan miring antar kubu, membuat saya bertanya, ”Kemana cinta itu berlalu?”
Kemana perasaan yang dulu bersemayam di hati, dan terwakili melalui syair lagunya yang romantis dan ’menyentuh’. Rasanya kisah cintanya dari awal bertemu hingga bisa menikah, menjadi kisah bisa dikategorikan sebagai perjuangan cinta karena telah melewati berbagai rintangan.
Saya tidak bisa membayangkan mengakhiri hubungan, dan mantan saya menyebarkan kejelekan saya kepada orang-orang. Rasanya ada kode etik tak tertulis, bahwa ketika relationship harus berakhir, kenang yang baik-baik saja. Ingat saat kamu menikmati masa berduaan bersamanya dan selalu tersenyum. Dan ketika orang bertanya kenapa kamu mengakhiri hubungan, kamu hanya berujar, ”Kami ternyata punya banyak perbedaan prinsip yang tak bisa disatukan.”
Perbedaan prinsip toh macam-macam. Mulai dari : beda agama, keuangan, cara pandang terhadap hal-hal prinsip, cara memaknai hubungan itu sendiri, atau masih banyak hal lain yang kadang buat orang lain terasa remeh. Tak perlu juga kamu detilkan prinsip itu seputar ‘dia pria yang ringan tangan’ atau ’dia sangat ringan mulut’ (kecuali memang ’prinsip’ itu berujung pada visum rumah sakit atau pengaduan kekerasan ke kepolisian).
Tapi semua itu tak perlu diumbar. Bukan hal yang perlu diutarakan. Meski silahkan meraba dari aura wajah, puisi atau tanda-tanda fisik yang meski ditutupi seolah tak bisa menipu orang lain, bahwa kita sedang berada dalaam fase kesedihan. Biar itu jadi rahasia pribadi!
Hanya saja, sebagai catatan : Masalah ’beda prinsip’ bisa saja kamu beberkan secara detil, pada orang yang dapat memahami hatimu di saat ’pasang’ dan ’surut’.
(Gambar dikutip dari : www.jasonchanpicture.com)
Friday, July 25, 2008
(Friday.. I Love) This Day
How beautiful I start my day.
I’m look beautiful with my new hair.
Across the street with Barry White tune’s dancing in my head.
I’ve heard people say that
Too much of anything is not good for you, baby
Oh no
…
……
Can't get enough of your love babe
Oh, some things i can't get used to
No matter how I try
Just like the more you give, the more I want
And baby, that's no lie
Oh no, babe
Na..na..na.. I love this day.
Start a new day.
I’m look beautiful with my new hair.
Across the street with Barry White tune’s dancing in my head.
I’ve heard people say that
Too much of anything is not good for you, baby
Oh no
…
……
Can't get enough of your love babe
Oh, some things i can't get used to
No matter how I try
Just like the more you give, the more I want
And baby, that's no lie
Oh no, babe
Na..na..na.. I love this day.
Start a new day.
Berharap dalam Malam

Ketika malam memeluk
Hangat mendekap dalam peraduan
Berharap dalam mimpi kau dekap aku
Dan menghapus sesalku
Saat malam merambat
Ada setangkup rindu kusemat
Ku tak berani menyatakannya....
Kusemakin menggelung
Sesak menangkap udara
Ada bulir mata membasahi bantal
Jakarta, 23 Juli 2008
(Gambar dikutip dari www.yoganga.com)
Tajam Lidahmu Menyambar Kesombonganku (Izinkan Aku)
Izinkan aku
Berpeluk dalam dekap mu
Sekali lagi......
Izinkan aku
Menghapus bimbangmu
Membisikkan maaf
Agh!!!
Tajam lidahmu
menyambar kesombonganku
Pedas! Pedas! Pedas!
Jakarta, 23 Juli 2008
Berpeluk dalam dekap mu
Sekali lagi......
Izinkan aku
Menghapus bimbangmu
Membisikkan maaf
Agh!!!
Tajam lidahmu
menyambar kesombonganku
Pedas! Pedas! Pedas!
Jakarta, 23 Juli 2008
Berhenti Merokok
Kubakar tembakau
Sedot, kepul dan buang
Agh!
Ada bayangmu di sela asap
Leherku tersedak
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Selalu ada kamu
di sudut euforia pribadiku
Puih! Ini saatnya berhenti menyulut api
Di bibir merah jambu
Ingat pesan kamu, tak mau ingat kamu
Ku buang rokok ke dalam keranjang sampah
Fotomu pun terbakar
Jakarta, 23 Juli 2008
Sedot, kepul dan buang
Agh!
Ada bayangmu di sela asap
Leherku tersedak
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Selalu ada kamu
di sudut euforia pribadiku
Puih! Ini saatnya berhenti menyulut api
Di bibir merah jambu
Ingat pesan kamu, tak mau ingat kamu
Ku buang rokok ke dalam keranjang sampah
Fotomu pun terbakar
Jakarta, 23 Juli 2008
Thursday, July 24, 2008
Lengkung Senyum Cantelan Rindu
Maaf sedikit melupakanmu
Ketika Ku tak mampu mengirim sandek untukmu
Ketika Ku tak kuasa menahan waktu
Untuk sejenak mengingatmu
Namun, percaya padaku
Aku hendak mengatakan,
"Di ujung lengkung senyummu, Ku kaitkan rinduku"
Dec 7, '07
Multiply 8:23 AM
Ketika Ku tak mampu mengirim sandek untukmu
Ketika Ku tak kuasa menahan waktu
Untuk sejenak mengingatmu
Namun, percaya padaku
Aku hendak mengatakan,
"Di ujung lengkung senyummu, Ku kaitkan rinduku"
Dec 7, '07
Multiply 8:23 AM
Tuesday, July 22, 2008
Dari Bidadari Untuk Bintang
Wahai bintang di langit terang,
Mengapa kau dekap hujan membawa kelabu,
Tak tahukah kamu sang bidadari gundah karenanya?
”Ingin kusampaikan semburat cinta di ujung lengkung langit, untuk sang kejora,” kata bidadari.
Dan sembari menghela nafas, sang bidadari pun berbisik, ”Cinta membutuhkan ketulusan, pengorbanan, rasa percaya, dan cinta itu sendiri.”
21 Juli 2008 – dalam dekap langit di sudut jagad raya.
Mengapa kau dekap hujan membawa kelabu,
Tak tahukah kamu sang bidadari gundah karenanya?
”Ingin kusampaikan semburat cinta di ujung lengkung langit, untuk sang kejora,” kata bidadari.
Dan sembari menghela nafas, sang bidadari pun berbisik, ”Cinta membutuhkan ketulusan, pengorbanan, rasa percaya, dan cinta itu sendiri.”
21 Juli 2008 – dalam dekap langit di sudut jagad raya.
Sedih
Pagi ini, datang ke kantor (Selasa 22/7) dan lihat pengumuman.
Saya tidak lulus tes Business Conversation. Sedih! Mengikuti kursus bahasa Inggris bertujuan memperbaiki keterampilan bahasa asing, dan karena dibayari kantor karena ada pengakuan kompetensi diri diantara sekian pekerja di kantor, selain ini kesempatan untuk meningkatkan skor TOEFL/TOEIC untuk tujuan sekolah lagi.
Yah, masih ada kesempatan lain..... :(
Saya tidak lulus tes Business Conversation. Sedih! Mengikuti kursus bahasa Inggris bertujuan memperbaiki keterampilan bahasa asing, dan karena dibayari kantor karena ada pengakuan kompetensi diri diantara sekian pekerja di kantor, selain ini kesempatan untuk meningkatkan skor TOEFL/TOEIC untuk tujuan sekolah lagi.
Yah, masih ada kesempatan lain..... :(
Thursday, July 17, 2008
Terbang
Nomormu, kuhapus ya?
Tak bakal ada tanya kabar
Tak bakal ada pesan pendek
Hanya ada peluk rindu via udara
dan kutahu...
itu bakal memudar bersama waktu
Posting BuMa, 28 Maret 2007
(Note : kutemukan coretan ini setelah bongkar2 arsip lama)
Tak bakal ada tanya kabar
Tak bakal ada pesan pendek
Hanya ada peluk rindu via udara
dan kutahu...
itu bakal memudar bersama waktu
Posting BuMa, 28 Maret 2007
(Note : kutemukan coretan ini setelah bongkar2 arsip lama)
Wednesday, July 16, 2008
Perbaikan Kemampuan Diri
Hari sudah malam. Hampir jam 9 malam, dan mata ku pun berkunang-kunang memandangi selembar kertas yang penuh dengan gambar bulatan berderet rapi.
Ternyata hampir 2 jam saya konsentrasi dengan tes Bahasa Inggris sebagai bentuk placement test atau tes awal sebelum kursus, untuk mengetahui kemampuan kita dan disesuaikan dengan level kursus.
Uff! Tapi saya jadi bisa membayangkan kondisi diri jika mau kuliah sambil kerja. Yap! Dari awal terjun ke dunia kerja, saya berpikir suatu waktu harus ambil strata pendidikan S2. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan, peningkatan karir, atau memang kondisi eksternal seperti faktor lingkungan keluarga yang memang menempatkan pentingnya pendidikan. Dalam niat saya –pada waktu itu- saya mencari pengalaman dalam dunia kerja, lalu berhenti pada satu titik (masa) untuk kembali sekolah lagi. Inginnya sih sekolah di luar negeri.
Akan tetapi, ternyata keinginan ini tenggelam bersama kesibukan kerja. Gaji yang disisihkan untuk menabung pun selalu kembali ke titik nol disebabkan hal-hal lain.
Akhirnya, saya menjadi realistis : saya butuh pekerjaan, menikmati karir, dan tidak ingin melepas pekerjaan kantor. Jadi, keinginan berikutnya adalah kuliah sambil kerja. Profesi tidak kutinggalkan sementara niat menimba ilmu tetap jalan.
Sekolah atau pendidikan pascasarjana bukan di prioritas saya. Kesempatan pembelajaran bisa diperoleh dari mana saja. Pekerjaan sehari-hari, orang yang engkau temui dalam kehidupan, orang tua, bahkan anak kecil.
Pendidikan formal pun bisa diperkaya melalui kursus, seminar, diskusi bersama orang berkompeten. Dengan terbatasnya waktu luang karena kerja, tentu kesempatan kursus Bahasa Inggris yang dibiayai kantor, tidak ingin saya lewatkan.
Maka saya semalam pun ’terdampar’ di ruang meeting kantor. Bersama sekitar 30 rekan lain, kami relakan waktu pulang kantor untuk mengikuti tes reading, listening, dsb yang bikin pusing.
Pusing karena saya tanpa persiapan belajar sebelumnya. ”Lho, tapi ngapain belajar? Ambil kursus karena belum mahir. Ini kan baru tes penempatan untuk mengetahui semahir apa kamu dan pantasnya di Level mana?”
Pusing karena memang otak sudah terlalu jenuh untuk berpikir selewat 8 jam konsentrasi kerja.
Tapi rela pusing demi suatu perbaikan. Perbaikan kemampuan Bahasa Inggris ku.
Semoga hasilnya cukup bagus & saya rajin mengikuti kursus Business Conversation tsbt sampai tamat :)
Ternyata hampir 2 jam saya konsentrasi dengan tes Bahasa Inggris sebagai bentuk placement test atau tes awal sebelum kursus, untuk mengetahui kemampuan kita dan disesuaikan dengan level kursus.
Uff! Tapi saya jadi bisa membayangkan kondisi diri jika mau kuliah sambil kerja. Yap! Dari awal terjun ke dunia kerja, saya berpikir suatu waktu harus ambil strata pendidikan S2. Hal ini bertujuan untuk menambah wawasan, peningkatan karir, atau memang kondisi eksternal seperti faktor lingkungan keluarga yang memang menempatkan pentingnya pendidikan. Dalam niat saya –pada waktu itu- saya mencari pengalaman dalam dunia kerja, lalu berhenti pada satu titik (masa) untuk kembali sekolah lagi. Inginnya sih sekolah di luar negeri.
Akan tetapi, ternyata keinginan ini tenggelam bersama kesibukan kerja. Gaji yang disisihkan untuk menabung pun selalu kembali ke titik nol disebabkan hal-hal lain.
Akhirnya, saya menjadi realistis : saya butuh pekerjaan, menikmati karir, dan tidak ingin melepas pekerjaan kantor. Jadi, keinginan berikutnya adalah kuliah sambil kerja. Profesi tidak kutinggalkan sementara niat menimba ilmu tetap jalan.
Sekolah atau pendidikan pascasarjana bukan di prioritas saya. Kesempatan pembelajaran bisa diperoleh dari mana saja. Pekerjaan sehari-hari, orang yang engkau temui dalam kehidupan, orang tua, bahkan anak kecil.
Pendidikan formal pun bisa diperkaya melalui kursus, seminar, diskusi bersama orang berkompeten. Dengan terbatasnya waktu luang karena kerja, tentu kesempatan kursus Bahasa Inggris yang dibiayai kantor, tidak ingin saya lewatkan.
Maka saya semalam pun ’terdampar’ di ruang meeting kantor. Bersama sekitar 30 rekan lain, kami relakan waktu pulang kantor untuk mengikuti tes reading, listening, dsb yang bikin pusing.
Pusing karena saya tanpa persiapan belajar sebelumnya. ”Lho, tapi ngapain belajar? Ambil kursus karena belum mahir. Ini kan baru tes penempatan untuk mengetahui semahir apa kamu dan pantasnya di Level mana?”
Pusing karena memang otak sudah terlalu jenuh untuk berpikir selewat 8 jam konsentrasi kerja.
Tapi rela pusing demi suatu perbaikan. Perbaikan kemampuan Bahasa Inggris ku.
Semoga hasilnya cukup bagus & saya rajin mengikuti kursus Business Conversation tsbt sampai tamat :)
Friday, July 11, 2008
Idealisme Bersama Sekotak Nasi
Dalam posting di milis/blog Mas Rio dari Trans TV membuat saya tertarik mengomentari. Ia menuliskan (saya singkat saja) pada rapat program Reportase Sore, Rabu (25/6/08) memberi teguran keras kepada reporternyaTrans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.
Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.
Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.
Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.
Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”
Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.
Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.
Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.
Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.
Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.
Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”
Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.
Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.
Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.
Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.
Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.
Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."
Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?
Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....
Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).
Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.
Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.
Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.
Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.
Sekarang memang banyak wartawan muda yang cerdas dan pintar, sebagai hasil pendidikan perguruan tinggi dan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih. Namun, sayangnya, banyak di antara mereka tidak atau belum paham tentang “lika-liku permainan” pembentukan citra di media, yang sering dimainkan justru oleh para tersangka kasus korupsi, atau pihak-pihak yang sedang berurusan dengan hukum.
Etika jurnalistik, tentang prinsip menjaga jarak dan independensi dari narasumber (apalagi narasumber yang terkait kasus korupsi), tampaknya juga belum terlalu dihayati. Menikmati paket makanan dari Artalyta mungkin juga dianggap hal biasa saja, dengan alasan “berita toh tidak akan terpengaruh hanya oleh memakan sekotak nasi.”
Pengaruh dari era kebebasan informasi, teknologi informasi (TI), dan pengaruh televisi yang menunjukkan para presenter/reporter cantik/ganteng dan (seolah) cerdas dan kritis, menjadi salah satu poin daya tarik bagi kaum muda untuk terjun ke dunia media massa. Ini berbeda dgn kondisi dulu ketika profesi 'wartawan' bukan pilihan utama. Kadang dipandang karena tidak ada kesempatan bekerja di tempat lain, makanya masuk ke dunia ini. Image saat saya masuk ke dunia jurnalistik masih stereotipe : bakal digebukin aparat, miskin ga bisa kaya.
Memang reporter muda atau wartawan/jurnalis sekarang adalah anak-anak cerdas. Ini tentu hasil pengaruh kondisi masyarakat era 80-an yang lebih baik sehingga gizi anak-anak pun lebih bagus. Saya asumsikan anak muda yg terjun ke dunia cetak/tv/radio sekarang kan lahir di tahun 80-an.
Selain itu, mereka dari perguruan tinggi terkenal dengan penguasaan ketrampilan lebih handal. Bisa bahasa Inggris (atau malah menguasai lebih dari 1 bahasa asing), aktif di kampus, dan ada pula jebolan perguruan tinggi luar negeri. Sehingga, dengan banyaknya peminat, HRD industri media pun memiliki banyak pilihan untuk seleksi karyawannya.
Akan tetapi, mereka berangkat dgn idealisme yang berbeda (atau hilang)? karena kondisi skrng juga berbeda. Dulu, mungkin, kondisi represif dr pemerintah justru memacu semangat kebenaran, namun kondisi skrng tentu berbeda. Era TI memudahkan kita dapat sumber referensi bahkan berhubungan dengan narasumber melalui media e-mail, YM, atau tinggal klik situs resmi perusahaan untuk mencari latar belakang atau siaran pers.
Saya ingat masa-masa awal menjadi wartawan di sebuah koran ekonomi. Setiap jam 10.00 wib, saya dan teman-teman wartawan lain yang juga rata-rata fresh graduate harus cabut dari kantor. Masalah utama karena seorang redaktur senior kami bakal menegur seandainya lewat dari jam segitu kami masih di kantor. Misalkan, ”Eno, kamu kok masih di kantor? Cari dong berita di luar sana!” kata si redaktur senior yang sudah ubanan itu.
Saya dan teman-teman sebenarnya tertawa degan kelakuan bos saya tersebut yang masih beranggapan wartawan harus ke lapangan mencari berita. ”Ya ampun! Hari gini bos, kita kan bisa nelpon narasumber via handphonenya, kirim email bahkan pada narasumber TI mereka senang wawancara melalui chatting.”
Akan tetapi, memang tidak sepenuhnya bos saya yang beda zaman itu salah. Di ’lapangan’ kita mengenal teman seperjuangan alias rekan reporter dari media lain. Dari mereka kadang kita mendapat ilmu, belajar cara berinteraksi dan teknik wawancara, kondisi berita yang sedang bergulir, hingga adanya acara di suatu tempat yang bisa kita liput.
Lapangan adalah ’medan gerilya’ mencari berita sebenarnya, dan bukan di belakang meja.
Kemajuan Public Relation (PR) pun berpengaruh. Sekarang mereka bukan lagi menyodorkan amplop, tapi bentuk-bentuk lain atau perhatian yg mungkin kl dinominalkan akan setara dgn duit yg diselipkan di amplop.
Saya sendiri selama 4,5 thn berstatus wartawan jg jadi belajar dr pengalaman.Pernah ada PR yang sangat baik hati dan -saya kira- mereka/dia baik kepada saya krn kami tidak sekadar kenal dan profesional. akan tetapi akrab di luar kerja. Namun, ternyata, ketika saya tidak berstatus wartawan di desk yg kebetulan dia tdk gawangi dr sisi PR, maka saya pun 'didepak'. Sakit hati? Lumayan walaupun ga inget2 banget sama 'teman' itu krn masih banyak rekan-rekan di liputan yg lebih tulus. Ia tetap saya anggap teman saya dalam kategori 'kenalan'. Tapi saya jadi belajar 'itulah hidup di dunia jurnalistik'.
Adapula yg tanpa tedeng aling-aling langsung mematikan telpon ketika saya berkata, "Oh maaf, mas/mbak, saya tidak di ...(nama media).... " klek! mati. Tidak ada basa-basi untuk bertanya saya skrng bekerja di mana, di media mana.
Tapi seorang PR perusahaan IT di negeri ini pernah pula bercerita, mereka mndpt pertanyaan dari prinsipal di luar negeri. Prinsipal di negeri jiran itu aneh dgn konsep jumpa pers di Indonesia. Menurut si prinsipal, wartawan di negara nya datang on time di acara jumpa pers, mendengarkan penjelasan dr pihak narasumber, nanya2 dan jika sudah mendapat semua bahan tulisan yg dibutuhkan, pulang! Tidak ada acara coffe break, tidak ada acara makan siang sembari ngobrol ngalur ngidul di antara narasumber dan wartawan. Yah si PR mengatakan, "Inilah adat Indonesia."
Ya mungkin ini ada salahnya budaya pula. Adat Indonesia kan ketika pengundang menyuguhi makan dan minum, sementara di sisi lain si tamu juga merasa sungkan kl tidak makan/minum penganan yg disuguhkan. ”Ga enak kalau tidak makan karena sudah ditawarkan,” batin sang tamu yang berstatus wartawan. Akhirnya, dari perbincangan saat lunch mungkin barrier antara jurnalis vs narasumber itu pun mencair. Apalagi jika si jurnalis memang di plot untuk menggawangi desk dimana narasumber itu bergerak. Nah, pastilah nanti timbul perasaan "tidak enak, tidak enak...karena sudah akrab"?
Jika wartawan posting di desk liputan yang tidak menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti liputan Gaya Hidup, Teknologi Informasi, atau Resensi Film/Budaya, mungkin tak masalah. Akan tetapi, apa yang terjadi jika ini terjadi pada desk liputan Nasional, departemen, Ekonomi? Cerita bisa lain....
Nah, disinilah mungkin wartawan muda juga terjebak. Ga berpikir ini nasi kotak dari siapa? Apa maksud si Anu ngasih nasi kotak? Atau mereka juga sayang mengeluarkan uang di dompet mereka karena kebetulan ada nasi gratis di depan mata? (Nah, perlu ditelaah juga soal gaji jurnalis).
Tapi, yah itu tadi. Mungkin idealisme dan sikap kritis mereka kurang tergali. Sikap kritis mereka sebatas "kalau manusia gigit anjing, itu baru berita". Seperti yg pernah saya lihat di tayangan berita sebuah stasiun televisi swasta, si presenter dgn gencar menyudutkan kepala sekolah institusi kelautan dlm kasus penganiayaan murid baru. Saya tidak membela si kepala sekolah, hanya saja dari cara bertanya si presenter kita bisa membaca bahwa di benak si presenter 'kepala sekolah bersalah'. Itu juga sudah menyalahi etika jurnalisme kan? Ketika prinsip tak berpihak dan cover both side lupa dipegang oleh si presenter.
Yah ini sekelumit pikiran dari mantan wartawan yang kini jadi penulis iklan.
Thursday, July 10, 2008
OCD.... Obsesif...
Oprah Show merupakan tayangan televisi yang tak ingin saya lewatkan. Makanya, saya berusaha untuk memasang kanal TV di saluran tersebut setiap jam 10.00 wib di kantor. Apalagi pada jam tsbt biasanya ruangan kantor juga masih sepi. Walaupun teman-teman sudah ada di ruangan, mereka juga tidak terlalu peduli apa acara yang sedang ditayangkan di TV. Semua pada berkonsentrasi pada monitor komputer masing-masing dan suara dari kotak kaca itu cuma menjadi ”alunan merdu” teman bekerja.
Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.
Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.
Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”
Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.
Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.
Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).
Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.
Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.
Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!
Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.
Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.
Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.
Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.
Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)
Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?
Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.
Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.
(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)
Ok, cukup pengantarnya... Intinya, tayangan pada Kamis (12/6) kemarin bagi saya terasa touchy. Tentang seorang nenek beranak 4 yang sayang membuang barang-barang miliknya. Akhirnya, rumahnya laksana gudang, penuh tumpukan baju, perkakas dsb. Akhirnya, malah mengundang rayap yang menghancurkan kayu-kayu rumah, mengundang jamur, dan tikus-tikus di basement.
Suami dan anak-anaknya -demi kasih sayang- membiarkan istri atau ibu mereka untuk ’menikmati’ kondisi tsbt. Sebagai contoh, 12 tahun mereka tidak pernah makan bersama di ruang makan. Kenapa? Ya itu tadi! Ruang makan sudah tertimbun barang-barang.
Aduh! Aku bisa merasakan kesedihan sang ibu paruh baya ketika harus ”berpisah” dari barang-barangnya. Jika bagi sebagian penonton tangisan si nenek itu terasa berlebihan saat ia membuang barang-barangnya, maka bagi saya itu perasaan yang sama terjadi pada saya. Ketika bimbang dan berpikir, ”Eh, mungkin suatu hari aku butuhkan lagi?”
Merunut ke Belakang
Saya tidak sempat menyelesaikan tontonan, karena harus pergi daripada janji temu terlambat. Tapi yang jelas, problem semacam itu menimpa saya. Tidak separah itu. Tayangan kasus semacam itu di Oprah Show (OS) bukan yang pertama. Jadi ingat sekitar 3 tahun lalu, mbak Titi datang ke kos ku di tempat lama. Waktu itu saya nge-kos di kawasan Manggarai. Ia kaget melihat kamarku. Hmmm....memang semua tertata rapi, tapi setiap sudut kamar ku ada tumpukan barang. Entah itu majalah atau koran, deretan buku-buku fiksi bercampur dengan komik, tape deck, di bawah kolong tempat tidur juga kumasukkan tumpukan makalah/materi seminar ditambah kotak sepatu berisi pernak-pernik. Catatan : sepatu dan sandal ku ditaruh di luar. Belum lagi, laci plastik susun dua berfungsi sebagai meja rias dan di dalamnya kutaruh peralatan make-up.
Selang beberapa hari kemudian, Mbak Titi mengatakan saya seperti seseorang yang belum lama ini ditayangkan di OS. Dan itu termasuk penyakit, dan disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Agh, waktu itu saya tidak percaya. Obsesif? Obsesif terhadap sesuatu? Saya masih tidak percaya.
Hingga suatu hari, aku pergi ke toko buku. Sebuah buku tiba-tiba menarik perhatianku. Lupa judul bukunya (sudah kutaruh di Bogor), intinya bercerita tentang kisah nyata seorang perempuan yang telah melakukan operasi plastik di usia 21 tahun. Dan itu terjadi berulang kali karena ketidak puasan terhadap yang ada di diri. Kelainan/penyakit yang dialami oleh perempuan bermarga Donohue itu termasuk kategori OCD. Waktu kecil saya senang untuk menghitung segala sesuatu –itu juga katanya temasuk OCD. Ingin meletakkan barang semua secara teratur, menurut abjad, ... itu OCD (dan terjadi pada saya! Minimal pernah pada suatu masa saya alami hal tsbt).
Akan tetapi, kok kayaknya berlebihan ya? Mungkin orang itu memang psiko, ada sesuatu yang korslet, namun kalau saya sih memang namanya juga hanya punya ruang kuasa di satu kamar saja. Jelas semua barang harus digubruk di satu tempat. Entahlah.. yang jelas setelah itu, saya memang harus menyortir barang karena pindah kos. Dan salah satu pembenaran adalah bertahun-tahun jadi anak kos, tentu barang-barang kita semakin banyak seperti layaknya pindahan rumah skala mini. Setiap kos punya ketentuan beda dan mengakibatkan barang kebutuhan baru. Dan ini menjadi ’harta gono-gini’ setiap pindah kos.
Ketika saya pindah kos ke tempat sekarang, saya sendiri terpana ketika menghitung saya punya 3 sepatu kets, 5 sepatu fantofel, dan 2 sandal cantik. Ohya ini di luar sandal jepit yang lebih dari sepasang.
Tas? Uff, lebih banyak lagi. Oke, kopor andalan untuk perjalanan dinas memang satu. Tapi tas dari ukuran maxi, hingga tas yang cuma cukup untuk menyimpan tisu saku pun ada. Akan tetapi, baik sepatu maupun tas andalan ke kantor maupun jalan-jalan, tetap yang itu-itu saja!
Waktu itu teman ku yang membantuku pindahan sampai menyuruh saya berjanji untuk ’menghabiskan’ dulu sepatu yang ada. Tidak boleh beli-beli yang baru dulu! Demikian pula dengan tas.
Saya harus menatar diri tidak pernah lagi membeli aksesori (uff.. saya maniak anting-anting.. lho kok, tapi gelang manik-manik pun juga banyak kok...) karena yang ada sudah cukup untuk menjadi miss matching selama 365 hari. Eh bukan jumlah aksesoriku ratusan seperti itu, tapi pokoknya item lebih dari cukup untuk mendukung padu padan dengan busana yang kupunya.
Eits! Jangan sangka kamarku jorok dan meja kantorku berantakan. Tidak. Aku cukup menata semuanya. Cuma, ya itu! Ada barang di setiap sudut... Sudah lama ingin menyortir bahan-bahan artikel di meja, tapi selalu tertunda (atau kutunda?). Hanya saja, rasanya jika saya bertanya pada rekan wartawan media cetak, bukankah memang demikian adanya? Dalam arti, berbagai tumpukan bahan termasuk makalah seminar, company profile, atau buku laporan memang tersimpan rapi. Ini memudahkan kita ketika hendak menuliskan sesuatu dengan mengolah bahan tulisan yang kita punya untuk memperkaya artikel.
Kata terapis yang membantu penyembuhan si nenek di acara OS, jika ada surat yang lebih dari 2 hari tidak berguna, maka musnahkan! Nah, di mejaku rasanya ada yang sudah berusia 2 tahun lebih.
Semalam, di kamar, aku menyortir bon-bon kartu kredit dan slip transaksi pembayaran. Menemukan buku tabungan yang telah penuh terisi dan tak terpakai, dan sampai saat ini belum kubuang. Berbagai kuitansi dan slip pembelian, termasuk juga copy resep dari dokter yang umurnya lebih dari 3 tahun lalu. Tentu mereka tidak bakal mencari ’pelanggan loyal’ melalui lamanya menyimpan kuitansi :)
Belajar ”Membuang”
Mungkin bagi orang lain, membuang barang adalah hal mudah. Tapi ternyata bagi saya tidak. Kalau dirunut, waktu kecil –sebagai bungsu dari kakak-kakak yang jauh lebih besar- saya terbiasa main sendiri, punya ruangan yang sepertinya berubah menjadi daerah teritori milik pribadi tanpa diganggu orang lain. Di ruangan yang semula di set menjadi dapur kering, akan tetapi tidak pernah digunakan karena orang tuaku bertugas di luar kota dan saya tinggal di rumah tersebut bersama nenek, saya otomatis menguasai ruangan itu lengkap dengan lemari seukuran tempat baju berukuran tinggi untuk menyimpan segala mainan. Hehe..saya masih ingat, saya waktu itu dijuluki si ’goni gotot’ alias penyimpan segala barang oleh nenek dan kakak-kakak. Entah julukan dari mana asal kata itu, mungkin istilah dari Medan/Deli karena nenek saya berasal dari sana?
Hingga akhirnya aku sempat merasakan punya kamar tidur lengkap kamar mandi sendiri. Selalu ada ruang untuk menyimpan barang.. mungkin itu yang terjadi pada diri ini. Sehingga saya selalu memutuskan ’simpan’ dan menunda untuk memutuskan ’layak/buang’.
Saya tidak setara seperti si nenek yang perlu melakukan ’garage sale’ dan menjual setiap barang nya US$1 (atau US$10) dan menghasilkan US$13.000 dari cuci gudangnya. Hanya perlu lebih ’tega’ untuk membuang barang. Meski secara perlahan dan membiasakan diri “keep it” or “damp it”.
(Berani mengakui, berarti mencoba untuk memperbaiki diri)
Sunday, July 06, 2008
Ketika Cinta
Hanya Dalam Satu Batas Waktu

Ada janji diucapkan saat kita bertemu
Kamu mencumbu sembari bilang hatimu untuk aku
Sementara aku berjanji kita setia selamanya
Hingga waktu melapukkan cinta kita
Dan aku mengatakan, ”Beruntung Aku pernah memilikimu”
Terima kasih untuk rengkuh kecupmu
Hapus bayangku dari benakmu ketika bertemu untuk berpisah
(Gambar dikutip dari www.housetohome.co.uk)
Tuesday, July 01, 2008
Nenek dan Kayu
Tubuh renta mengusung kayuAsam garam terukir di gurat wajahmu
Seolah sama dengan urat umur yang tergores di pepohonan
Mau kemana kau bawa kayu itu, Mbah?
Mengutip persenan dari sampah kerat sisa ukiran
Atau kau jadikan energi terbarukan dalam kapasitas otakmu?
(Energi terbarukan =kayu bakar)
Jepara, 28 Juni 2008
Belanja di Jepara
Setelah tugas di Pati selesai, saya sempatkan melanglang ke Jepara. Kebetulan jam berangkat Kereta Api (KA) jam 21.00 WIB dari Semarang. Maka jam 14.00 WIB mobil pun melaju dari Pati, menuju Jepara, menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam perjalanan akhirnya sekitar jam 15.30 WIB kami sampai di pintu masuk Jepara.
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan kerajinan ukir kayu. Dan ternyata, selama 4 jam belanja-belanja di wilayah berjuluk ”Jepara Bumi Kartini” (karena tempat kelahiran RA. Kartini), kesimpulan saya : daerah yang cukup resik dengan jalan raya beraspal yang rapi, memiliki andalan desa-desa yang menjadi sentra kerajinan rakyat seperti : Sentra Konveksi Kalinyamatan, Sentra Tenun Ikat Troso, dan Sentra Meubel Ukir Tahunan. Semua sentra itu kelihatan jelas dari pinggir jalan raya karena adanya plang besar di depan pintu masuk desa sentra.
Tempat pertama kami singgahi Desa Troso sebagai kawasan Sentra Tenun Ikat. Patokan mencapai daerah itu adalah dekat Pasar Pecangaan. Khas kain adalah bahan dasar yang berasal dari kain rayon/katun yang ditenun dan diikat. Pelayan di salah satu toko yang kami sambangi mengatakan, untuk menghasilkan kain 2,25 x 1,16 meter (m) bisa mencapai 10 potong per hari. Kebetulan tempat memproduksi berada di belakang toko.
Ciri lain adalah potongan kain yang tidak rata (tidak seperti umumnya kain pabrikan). Mereka menjual kain panjang untuk taplak meja, jenis kain bercorak lukis, katun panjang untuk ikat leher, dan jumputan.
Setelah mabok pilih-pilih –maklum, saya memang penggemar kerajinan kain tradisional- akhirnya saya memilih kain syal panjang yang bisa membalut leher yang sedang didera radang tenggorokan dan sepotong kain lebar 2,25 x 1,16 meter yang bisa digunakan sebagai selimut di KA. (foto : kain lebar yang kusuka).
Ohya, saya juga membeli Palang Panjang dari kayu berfungsi sebagai penyangga kain tradisional yang hendak dipajang di dinding. Maksudnya sih, buat oleh-oleh untuk nyokap yang punya berbagai kain songket. (hehe.. ketauan kan hobi berburu kain ini turunan dari siapa?).
Setelah agak lama berburu kain, kami melanjutkan perjalanan ke Sentra Meubel Ukir Tahunan, yang memang berseberangan tempat dengan Pasar Tahunan. Yah kalau di tempat ini barang-barang juga menarik mata. Akan tetapi, sebagai orang yang belum punya rumah (alias masih tinggal bersama orangtua), maka saya tidak terlalu semangat dengan produk yang ditawarkan : kursi Thailand (istilah untuk kursi bale-bale), kursi berbentuk gendang yang cukup unik, hingga set kaca rias bersama mejanya.
Adapula ”benda-benda kecil” seperti tempat meletakkan Al Qu’ran, kotak tisu, congklak, rak penyimpan koran, dan kotak perhiasan.
Kelebihan dari produk, mereka cukup mengikuti tren desain furnitur/interior masa kini dipadu dengan permainan warna yang menarik mata. Maklum saja, kerajinan ukir Jepara sudah tersohor hingga diekspor. Dan akhirnya, saya juga membeli beberapa item dari tempat ini.
(jika ingin melihat foto-foto lebih banyak, silahkan berkunjung ke Multiply saya. Atau klik judul di atas).
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, identik dengan kerajinan ukir kayu. Dan ternyata, selama 4 jam belanja-belanja di wilayah berjuluk ”Jepara Bumi Kartini” (karena tempat kelahiran RA. Kartini), kesimpulan saya : daerah yang cukup resik dengan jalan raya beraspal yang rapi, memiliki andalan desa-desa yang menjadi sentra kerajinan rakyat seperti : Sentra Konveksi Kalinyamatan, Sentra Tenun Ikat Troso, dan Sentra Meubel Ukir Tahunan. Semua sentra itu kelihatan jelas dari pinggir jalan raya karena adanya plang besar di depan pintu masuk desa sentra.
Tempat pertama kami singgahi Desa Troso sebagai kawasan Sentra Tenun Ikat. Patokan mencapai daerah itu adalah dekat Pasar Pecangaan. Khas kain adalah bahan dasar yang berasal dari kain rayon/katun yang ditenun dan diikat. Pelayan di salah satu toko yang kami sambangi mengatakan, untuk menghasilkan kain 2,25 x 1,16 meter (m) bisa mencapai 10 potong per hari. Kebetulan tempat memproduksi berada di belakang toko.
Setelah mabok pilih-pilih –maklum, saya memang penggemar kerajinan kain tradisional- akhirnya saya memilih kain syal panjang yang bisa membalut leher yang sedang didera radang tenggorokan dan sepotong kain lebar 2,25 x 1,16 meter yang bisa digunakan sebagai selimut di KA. (foto : kain lebar yang kusuka).
Ohya, saya juga membeli Palang Panjang dari kayu berfungsi sebagai penyangga kain tradisional yang hendak dipajang di dinding. Maksudnya sih, buat oleh-oleh untuk nyokap yang punya berbagai kain songket. (hehe.. ketauan kan hobi berburu kain ini turunan dari siapa?).
Setelah agak lama berburu kain, kami melanjutkan perjalanan ke Sentra Meubel Ukir Tahunan, yang memang berseberangan tempat dengan Pasar Tahunan. Yah kalau di tempat ini barang-barang juga menarik mata. Akan tetapi, sebagai orang yang belum punya rumah (alias masih tinggal bersama orangtua), maka saya tidak terlalu semangat dengan produk yang ditawarkan : kursi Thailand (istilah untuk kursi bale-bale), kursi berbentuk gendang yang cukup unik, hingga set kaca rias bersama mejanya.
Adapula ”benda-benda kecil” seperti tempat meletakkan Al Qu’ran, kotak tisu, congklak, rak penyimpan koran, dan kotak perhiasan.
Kelebihan dari produk, mereka cukup mengikuti tren desain furnitur/interior masa kini dipadu dengan permainan warna yang menarik mata. Maklum saja, kerajinan ukir Jepara sudah tersohor hingga diekspor. Dan akhirnya, saya juga membeli beberapa item dari tempat ini.
(jika ingin melihat foto-foto lebih banyak, silahkan berkunjung ke Multiply saya. Atau klik judul di atas).
Jkt-Semarang-Pati (Dream Come True)
Kamis siang, 26-6-2008.
“Eno, kamu mau liputan 3 hari ke Pati?” tanya Mas Dian, senior penulis di kantor.
“Hah?” saya berpikir tentang batuk-batuk yang menjajah tenggorokan. Berpikir tentang akhir pekan yang bakal kulewatkan dengan makan vitamin, minum obat batuk, tidur.... dan tidur.
Tapi.. tapi.. ke Pati dan naik kereta api?!
Hehe.. itu sih Dream Come True. Aku pertama kali ke Pati, sebuah wilayah karesidenan di Jawa Tengah sekitar tahun 1997. Jalan darat bersama teman kuliah untuk melakukan pemetaan, sebagai bagian dari skripsi, di wilayah Grobogan. Kami berbekal peta menelusuri jalur Pantura dan melewati Pati. Dalam ingatan saya, Pati terkenal sebagai pusat 2 pabrik cemilan berbasis kacang terbesar di Indonesia, Kacang Garuda dan Kacang Cap Dua Kelinci. Kotanya relatif bersih sekaligus panas. Meski berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani”, seolah menunjukkan sebagai daerah sentra pertanian (di tengah kota kamu bakal menemukan patung Pak Tani dengan tubuh kekarnya yang menjinjing kacang-kacangan, seolah menegaskan ’inilah jantung kehidupan Pati’) akan tetapi kabupaten ini sekaligus berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Nah, salah satu yang terkenal adalah Terasi Juwana.
Di sana pertama kalinya saya makan Nasi Gandul di suatu warteg yang dekat dengan stadion olahraga. Nasi berkuah santan dimakan bersama jeroan yang kita pilih-pilih dulu, seperti lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, termasuk juga tempe dan perkedel. Lalu jeroan itu ibu penjualnya gunting-gunting (benar lho, jeroan dicacah dengan gunting. Bukan pisau seperti umumnya dalam pengolahan masakan). Nasi khas Pati itu dihidangkan di alas daun pisang.
Wah! Rasanya eunak banget!! (Mungkin juga faktor kelaparan hehe..). Dari rasanya ada kuah santan trus dicampur kecap manis-pedas.
Berbeda dengan nasi liwet ala Solo, atau nasi Gudeg ala Yogya, ataupun nasi timbel ala Sundaan, yang mudah ditemui di Jakarta, maka nasi Gandul khas Pati ini jarang ditemukan di ibukota.
Selain itu, belakangan ini saya kangen berwisata kere ala zaman kuliah. Menjadi backpacker menyandang ransel, naik bis menyusuri kota Semarang atau ke Solo (daerah yang memang relatif asyik untuk dijelajahi, kebetulan banyak saudara di sana sehingga ada perasaan sebagai kampung ke-2).
Intinya, saya tidak ingat lagi menuliskan secara detil diskusi saya bersama Mas Dian. Yang jelas, akhirnya Jumat sore saya sudah berada di dalam KA Sembrani tujuan Jakarta-Surabaya, untuk pergi ke Semarang. Berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.45 WIB, saya pertama kalinya pula menikmati perjalanan KA yang lebih jauh dari Jakarta-Bogor ala KA Pakuan.
Tentengan saya? Carill merah jambu berukuran 3 liter (tas ransel merek Explorer yang masih awet dari zaman kuliah dan mempertahankan ciri feminin saya melalui pilihan warna pink-nya), berisi beberapa potong baju yang dikemas di dalam plastik trash bag (ingat : supaya tidak basah jika tertembus air ataupun ’kecelakaan’ lain yang terjadi dalam penyimpanan barang), serta berbagai pernak-pernik liputan. Pokoknya harus pakai carill pinky tersebut!
KA Sembrani ini ber-AC, kebetulan pula saya duduk di baris paling depan dalam Gerbong 5 (nomor kursi di deret ke-13 dan ternyata PT KAI termasuk yang tidak percaya takhyul misalkan menggantinya dengan angka 12A atau langsung lompat ke angka bangku 14).
Setiap kursi dilengkapi bantal, kita juga memperoleh makanan dan pinjaman selimut dari petugas. Cuma.... silahkan terkaget selimut itu ditarik sama petugas sambil berteriak ”Semarang.....Semarang....” (maksudnya sudah hampir sampai ke Semarang dan penumpang silahkan bersiap-siap).
Hehe.. cara yang jitu untuk membangunkan penumpang yang tengah terlelap pukul 01.00 pagi! Btw, sebelum sampai di Stasiun Tawang-Semarang, KA akan berhenti dulu di Stasiun Poncol. Ohya, seperti dikutip dari Wikipedia, Stasiun Poncol itu terletak di Jalan Poncol Semarang, khusus untuk kereta ekonomi dan angkutan barang. Ada sekitar 10 menit KA berhenti distasiun tsbt, sampai akhirnya saya pun menjejak di Stasiun Tawang pada pukul 2.30 WIB.
Dari stasiun, sudah menunggu pihak dari Departemen Sosial yang menjemput kami dan langsung menuju Pati. Melewati Demak dan Kudus, serta jalan yang pada beberapa bagian sedang mengalami peningkatan kondisi jalan, akhirnya sampailah kami ke kota berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani” pada pukul 04.00 pagi.
Catatan lain : jika ingin naik kereta api di malam hari, jangan lupa bawa topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat. Untuk rekan-rekan yang sulit tidur (seperti saya) mungkin perlu pula menelan Antimo. Ssst.. obat anti mabuk itu punya fungsi sebagai pelelap tidur lho! Tapi jangan sering-sering makan obat ini sebagai pengganti obat tidur ya! Saya sangat tidak menyarankan....!! :D
Ohya, amankan juga barang-barang berharga kamu. Masukkan semua barang berharga (seperti dompet, kamera, handphone, bahkan laptop) di dalam satu tas yang kamu kepit selama perjalanan. Karena meski gerbong eksekutif, rekan saya mengalami kecopetan kamera digital SLR yang diselipkan di laci kursi di depannya. Bahkan, si pencuri punya waktu untuk mengganti isi tas kamera dengan aqua gelas! Dan berdasarkan cerita porter kami, ada pula orang yang kehilangan laptop. Tas notebook yang disimpan di bagasi atas kursi, tetap di tempat. Akan tetapi, isinya diganti dengan koran-koran!
Ohya, sebagai catatan mungkin berguna bagi teman-teman yang mau mencoba naik KA. Dari Semarang, saya pulang naik KA Kamandanu kelas eksekutif (walaupun tidak menjamin keamanan, karena rekan saya kehilangan kameranya justru di sana). Kami naik kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI tujuan Semarang-Jakarta (PP) ini jam 21.00 WIB. Dalam lembaran tiket tertera jam tiba di Jakarta kurang lebih 3.00 dinihari. Namun ternyata, KA sampai di Gambir pada jam 7.00 WIB. Yah! Kebanyakan berhenti-berhenti untuk menunggu kereta dari jalur lain lewat.
Barang layak bawa :
- Topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat.
- Tas kemas yang kita peluk selama perjalanan untuk menyimpan barang penting
- Botol aqua (meski dapat minum juga dari pihak KAI, tapi air mineral ini berguna juga untuk urusan ke toilet), tisu basah, tisu saku, dan obat kumur-kumur (sebagai pengganti acara sikat gigi bersama pasta gigi).
- Obat-obatan
- Buku bacaan sebagai teman perjalanan (meski jika tidak beruntung kita mendapat kursi yang lampunya mati).
PS : bagaimana rencana makan Nasi Gandul? Terealisasi meski bukan di tempat yang sama, dan dengan rasa yang tidak senikmat pertama kali.
“Eno, kamu mau liputan 3 hari ke Pati?” tanya Mas Dian, senior penulis di kantor.
“Hah?” saya berpikir tentang batuk-batuk yang menjajah tenggorokan. Berpikir tentang akhir pekan yang bakal kulewatkan dengan makan vitamin, minum obat batuk, tidur.... dan tidur.
Tapi.. tapi.. ke Pati dan naik kereta api?!
Hehe.. itu sih Dream Come True. Aku pertama kali ke Pati, sebuah wilayah karesidenan di Jawa Tengah sekitar tahun 1997. Jalan darat bersama teman kuliah untuk melakukan pemetaan, sebagai bagian dari skripsi, di wilayah Grobogan. Kami berbekal peta menelusuri jalur Pantura dan melewati Pati. Dalam ingatan saya, Pati terkenal sebagai pusat 2 pabrik cemilan berbasis kacang terbesar di Indonesia, Kacang Garuda dan Kacang Cap Dua Kelinci. Kotanya relatif bersih sekaligus panas. Meski berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani”, seolah menunjukkan sebagai daerah sentra pertanian (di tengah kota kamu bakal menemukan patung Pak Tani dengan tubuh kekarnya yang menjinjing kacang-kacangan, seolah menegaskan ’inilah jantung kehidupan Pati’) akan tetapi kabupaten ini sekaligus berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara. Nah, salah satu yang terkenal adalah Terasi Juwana.
Di sana pertama kalinya saya makan Nasi Gandul di suatu warteg yang dekat dengan stadion olahraga. Nasi berkuah santan dimakan bersama jeroan yang kita pilih-pilih dulu, seperti lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, termasuk juga tempe dan perkedel. Lalu jeroan itu ibu penjualnya gunting-gunting (benar lho, jeroan dicacah dengan gunting. Bukan pisau seperti umumnya dalam pengolahan masakan). Nasi khas Pati itu dihidangkan di alas daun pisang.

Wah! Rasanya eunak banget!! (Mungkin juga faktor kelaparan hehe..). Dari rasanya ada kuah santan trus dicampur kecap manis-pedas.
Berbeda dengan nasi liwet ala Solo, atau nasi Gudeg ala Yogya, ataupun nasi timbel ala Sundaan, yang mudah ditemui di Jakarta, maka nasi Gandul khas Pati ini jarang ditemukan di ibukota.
Selain itu, belakangan ini saya kangen berwisata kere ala zaman kuliah. Menjadi backpacker menyandang ransel, naik bis menyusuri kota Semarang atau ke Solo (daerah yang memang relatif asyik untuk dijelajahi, kebetulan banyak saudara di sana sehingga ada perasaan sebagai kampung ke-2).
Intinya, saya tidak ingat lagi menuliskan secara detil diskusi saya bersama Mas Dian. Yang jelas, akhirnya Jumat sore saya sudah berada di dalam KA Sembrani tujuan Jakarta-Surabaya, untuk pergi ke Semarang. Berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.45 WIB, saya pertama kalinya pula menikmati perjalanan KA yang lebih jauh dari Jakarta-Bogor ala KA Pakuan.
Tentengan saya? Carill merah jambu berukuran 3 liter (tas ransel merek Explorer yang masih awet dari zaman kuliah dan mempertahankan ciri feminin saya melalui pilihan warna pink-nya), berisi beberapa potong baju yang dikemas di dalam plastik trash bag (ingat : supaya tidak basah jika tertembus air ataupun ’kecelakaan’ lain yang terjadi dalam penyimpanan barang), serta berbagai pernak-pernik liputan. Pokoknya harus pakai carill pinky tersebut!
KA Sembrani ini ber-AC, kebetulan pula saya duduk di baris paling depan dalam Gerbong 5 (nomor kursi di deret ke-13 dan ternyata PT KAI termasuk yang tidak percaya takhyul misalkan menggantinya dengan angka 12A atau langsung lompat ke angka bangku 14).
Setiap kursi dilengkapi bantal, kita juga memperoleh makanan dan pinjaman selimut dari petugas. Cuma.... silahkan terkaget selimut itu ditarik sama petugas sambil berteriak ”Semarang.....Semarang....” (maksudnya sudah hampir sampai ke Semarang dan penumpang silahkan bersiap-siap).
Hehe.. cara yang jitu untuk membangunkan penumpang yang tengah terlelap pukul 01.00 pagi! Btw, sebelum sampai di Stasiun Tawang-Semarang, KA akan berhenti dulu di Stasiun Poncol. Ohya, seperti dikutip dari Wikipedia, Stasiun Poncol itu terletak di Jalan Poncol Semarang, khusus untuk kereta ekonomi dan angkutan barang. Ada sekitar 10 menit KA berhenti distasiun tsbt, sampai akhirnya saya pun menjejak di Stasiun Tawang pada pukul 2.30 WIB.

Dari stasiun, sudah menunggu pihak dari Departemen Sosial yang menjemput kami dan langsung menuju Pati. Melewati Demak dan Kudus, serta jalan yang pada beberapa bagian sedang mengalami peningkatan kondisi jalan, akhirnya sampailah kami ke kota berjuluk ”Pati Bumi Mina Tani” pada pukul 04.00 pagi.
Catatan lain : jika ingin naik kereta api di malam hari, jangan lupa bawa topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat. Untuk rekan-rekan yang sulit tidur (seperti saya) mungkin perlu pula menelan Antimo. Ssst.. obat anti mabuk itu punya fungsi sebagai pelelap tidur lho! Tapi jangan sering-sering makan obat ini sebagai pengganti obat tidur ya! Saya sangat tidak menyarankan....!! :D
Ohya, amankan juga barang-barang berharga kamu. Masukkan semua barang berharga (seperti dompet, kamera, handphone, bahkan laptop) di dalam satu tas yang kamu kepit selama perjalanan. Karena meski gerbong eksekutif, rekan saya mengalami kecopetan kamera digital SLR yang diselipkan di laci kursi di depannya. Bahkan, si pencuri punya waktu untuk mengganti isi tas kamera dengan aqua gelas! Dan berdasarkan cerita porter kami, ada pula orang yang kehilangan laptop. Tas notebook yang disimpan di bagasi atas kursi, tetap di tempat. Akan tetapi, isinya diganti dengan koran-koran!
Ohya, sebagai catatan mungkin berguna bagi teman-teman yang mau mencoba naik KA. Dari Semarang, saya pulang naik KA Kamandanu kelas eksekutif (walaupun tidak menjamin keamanan, karena rekan saya kehilangan kameranya justru di sana). Kami naik kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI tujuan Semarang-Jakarta (PP) ini jam 21.00 WIB. Dalam lembaran tiket tertera jam tiba di Jakarta kurang lebih 3.00 dinihari. Namun ternyata, KA sampai di Gambir pada jam 7.00 WIB. Yah! Kebanyakan berhenti-berhenti untuk menunggu kereta dari jalur lain lewat.Barang layak bawa :
- Topi kupluk untuk tidur, selimut tipis, dan baju hangat.
- Tas kemas yang kita peluk selama perjalanan untuk menyimpan barang penting
- Botol aqua (meski dapat minum juga dari pihak KAI, tapi air mineral ini berguna juga untuk urusan ke toilet), tisu basah, tisu saku, dan obat kumur-kumur (sebagai pengganti acara sikat gigi bersama pasta gigi).
- Obat-obatan
- Buku bacaan sebagai teman perjalanan (meski jika tidak beruntung kita mendapat kursi yang lampunya mati).
PS : bagaimana rencana makan Nasi Gandul? Terealisasi meski bukan di tempat yang sama, dan dengan rasa yang tidak senikmat pertama kali.
Friday, June 27, 2008
Batuk… Batuk..
Batuk!
Huh! Mengapa sakit ini tidak mengenal waktu.
Suara ku memang jadi lebih berat –apakah terdengar lebih sexy kah? – padahal bakal ke luar kota.
Sudah berusaha sembuh tanpa ke dokter. Dari minum obat batuk tidak berdahak, air minum hangat, vitamin C, FG troches, hingga jamu tolak angin.
Ada yang menyarankan jamu obat batuk. Tapi ketika kutanya apa nama/merek, dia nyengir bilang ga tau karena yang membelikan jamu obat batuk itu nyokapnya. (Hehe.. halo Ajeng.. )
Huhuhu! Belum sembuh juga hingga Jumat pagi ini. Malah suaraku semakin menipis.
Ya Allah, semoga suaraku masih bertenaga untuk melontarkan tanya/wawancara pada Sabtu besok.
Huh! Mengapa sakit ini tidak mengenal waktu.
Suara ku memang jadi lebih berat –apakah terdengar lebih sexy kah? – padahal bakal ke luar kota.
Sudah berusaha sembuh tanpa ke dokter. Dari minum obat batuk tidak berdahak, air minum hangat, vitamin C, FG troches, hingga jamu tolak angin.
Ada yang menyarankan jamu obat batuk. Tapi ketika kutanya apa nama/merek, dia nyengir bilang ga tau karena yang membelikan jamu obat batuk itu nyokapnya. (Hehe.. halo Ajeng.. )
Huhuhu! Belum sembuh juga hingga Jumat pagi ini. Malah suaraku semakin menipis.
Ya Allah, semoga suaraku masih bertenaga untuk melontarkan tanya/wawancara pada Sabtu besok.
Wednesday, June 25, 2008
Melihat Lebih Dalam

Pendapat Saya tentang Kamu :
- Saya sebal kamu baru bangun tidur, belum mandi tapi menelpon saya menanyakan kabar dan rencana di hari Sabtu. (Ingin rasanya menyeret kamu ke kamar mandi, mengguyurkan air dingin supaya tampil resik).
- Ga bisa dimintai pendapat (alias, "Gw harus cari jawaban sendiri dehhh..")
Pendapat Kamu tentang Saya :
- Smart, meski terkadang takut-takut ambil kesimpulan.
- Tegas, meski terkadang mudah sensi.
- Impresif, meski terkadang kurang fokus.
Dari dua versi (opini Kamu dan Saya), baru Saya sadari Kamu bisa mengeluarkan pendapat tentang siapa Saya secara lebih dalam. Sementara Saya masih berada di level ’permukaan’. Saya jadi merasa bahwa diri ini harus lebih bijaksana, bukan hanya melihat fisik dan sejumlah kekurangan.
Padahal -kalau dipikir-pikir- Saya juga kadang malas mandi di hari Sabtu pagi. (Semua orang juga mungkin merasakan hal sama di libur akhir pekan). Apalagi, sebagai anak kos-kosan yang perlu ”kerja domestik” dulu. Beres-beres, nyuci, nyetrika dsb. Mandi jadi urutan paling belakangan :D
Saya juga mesti survive, harus bisa menentukan pilihan tanpa menunggu saran orang. Kamu kan tidak (selalu) ada di dekat Saya. Suatu hari Kamu –mungkin saja- tidak untuk Saya.
Saya adalah Saya. Tapi Saya harus belajar melihat lebih ’ke dalam’.
(Foto : ”Menerawang Awan" by Eno, April 2008. Lokasi : Desa Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam).
Monday, June 23, 2008
Nasionalisme atau Profesionalisme
Bagi Belanda, Guus Hiddink adalah 'pengkhianat'.
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Ia orang Belanda, dan menjadi pelatih tim Rusia.
Tim Rusia ini yang menekuk Belanda 3-1 pada laga perempat final Euro'08.
Ditinjau dari sudut nasionalisme, mungkin benar Meneer Hiddink yg berusia 61 tahun tersebut, berperan dalam kekalahan tim negaranya.
Tapi coba lihat dari sisi lain. Yaitu profesionalisme kerja.
Rusia sudah membayar mahal bagi Hiddink, berbagai fasilitas-fasilitas, untuk melatih tim nasional negara pecahan Uni Soviet itu. Dan Hiddink sudah memberikan hasil terbaiknya. Alias bahasa kasarnya, "Gw sudah menggaji lu. Maka, lu kasih otak, pikiran, tenaga lu"
Profesionalisme menuntut komitmen, tanggung jawab untuk memberikan hasil terbaik, termasuk perjuangan panjang menghasilkan tim yang solid. Yap! sepak bola kan kerja tim. Dan bola itu bundar :) Yang menang kadang bisa ketebak, kadang juga mengejutkan.....
Dalam pekerjaan, entah kasus yang saya alami sendiri, atau teman, kita juga temukan persoalan bayaran jadi 'pembatas' kita unjuk kemampuan. Saya pernah minta tolong dalam suatu urusan kerja, dari awal saya sudah sebutkan kondisi bahwa bayaran tidak bakal besar dan kondisi lain yg bakal terjadi, sebelum memulai kerjasama. Nah, dalam proses terjadi kesulitan berhubungan dgn orang tsbt, minta materi dikoreksi tanggapannya dingin, dan saya pun menangkap kesan bahwa dalam hati ia mengatakan proyek limpahan gw lebih kurang,"Gile lu..Bayar cuma segitu kok banyak tuntutan!"
Sebagai orang yang bekerja dalam bidang jasa, saya pribadi paham memuaskan klien adalah hal sulit. Lebih dari paham, karena saya mengalami. Karena yang baik menurut kita belum tentu bagus buat dia). Misalkan konsep tulisan, foto, layout, yang dari sisi klien tidak oke. Padahal -menurut kita- atau dari berbagai tolok ukur (sudut pandang teknik komunikasi, desain,angle foto dsb) produk yg kita buat sudah oke. Belum lagi perjuangan 'jungkir balik' dalam proses pembuatannya...hehe... Bahkan, saya pernah sakit hati gara-gara advertorial yang saya buat diubah total sama klien! Dalam hati saya membatin,"Kalau gitu, kenapa ga dari awal kamu saja sendiri yang membuat??".
Saya pribadi juga pernah membatin untuk kasus lain,"Duh, permintaan kamu banyak banget ya!"
Seorang teman pernah mengeluh betapa susahnya membetulkan tampilan websitenya gara-gara programmer-nya tidak berada dalam satu kota, dan berstatus kontrak. Setiap dikabarkan masalah yang terjadi, sepertinya tidak ada antisipasi atau perbaikan dari sana. Dan, lagi-lagi, kita menemukan orang yang seolah tidak Total Football dalam komitmen kerjanya. Entah berapapun bayaran yang kamu dapat, asalkan sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak, maka harus ada komitmen. Ada Hak dan Kewajiban yang musti dipenuhi.
Motivator Parlindungan Marpaung dalam suatu pelatihan pengembangan diri mengatakan pekerjaan bisa disebut sebagai karir jika memberi peluang untuk maju. ”Peluang Untuk Maju” bertolok ukur jika Anda:
- memperoleh tanggung jawab lebih besar,
- bertemu dengan hal-hal baru,
- karir lebih baik dan berjenjang,
- dan tantangan lebih besar
”Untuk maju, jadilah profesional. Yaitu orang yang memiliki keahlian atau spesialisasi. Dan jalankan pekerjaan dengan memegang semangat profesionalisme,” kata pelatih (trainer) bersertifikasi dari John C. Maxwell, Amerika Serikat.
Profesionalisme ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu :
- sikap (50 %)
- hubungan sosial kita bersama orang lain (25%)
- kemampuan teknis (15%)
- pengetahuan (10%).
Bentuk profesionalisme lain adalah memegang komitmen, dengan kata lain menjalankan apa yang dikatakan, dan bersikap konsisten. Selain berpikir luas, kita juga mau open minded,terbuka untuk saran dan pendapat orang lain.
(Eno lagi senang bahas soal kerja nih ;) tulisan sebagian juga saya posting di MP, silahkan klik judul di atas untuk membuka pranala terkait).
Wednesday, June 18, 2008
Katakan dengan "Blog"

Speak out! Jadilah Blogger!
Ada pepatah sederhana yang diwakili tiga monyet lucu : “Three monkeys – See No Evil –Hear No Evil –Say No Evil”. Pepatah tsbt lahir saat belum ada yang namanya Teknologi Informasi.
Daripada ngurusin orang lebih baik tidak usah memandangi, tidak usah mengomentari, tidak usah mendengar gosip (apalagi pembicaraan miring ngomongin orang lain).
Zaman sekarang, kemukakan opini/pendapat/pikiran dll yg positif di blog.
(Gambar ini tidak tahu pasti bersumber dari mana. Cuma hasil kiriman teman di e-mail)
Sunday, June 15, 2008
Majalah Syur Muncul Lagi?
Sabtu kemarin, saya menemani ibu ke acara keluarga. Dari menjemput opung di kawasan Pondok Cabe, kami meluncur ke Menteng. Kita mesti mewaspadai rute-rute macet di akhir pekan, yaitu mal. Tentu saja, dalam hal ini berarti : Pondok Indah Mal, Senayan City dan Plaza Senayan.
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Supir kami memotong dari Pondok Pinang, lewati Permata Hijau, Bumi, dan tembus Sudirman melalui jalan Sisingamangaraja. Saat berhenti di lampu merah Sudirman, mata saya tertumbuk pada penjaja koran. Tepatnya ke produk yang tengah mereka jajakan di tangan. Tiga majalah mereka genggam dalam satu tangan, bertumpuk susun memanjang ke bawah. Dan ketiga majalah tersebut menampilkan cover wanita dalam pose aduhai....
Diantara majalah yang mereka genggam, yang saya ingat cuma satu. Yaitu, Playboy. Satu majalah lainnya diwakili simbol berupa lingkaran bulat dengan segaris lurus membentuk panah ke atas (simbol ’lelaki’ dalam biologi), dan satu lagi tidak familiar sama sekali. Mungkin juga karena belum pernah melihat majalahnya. Apalagi penjaja majalah tidak tertarik berlama-lama untuk menawarkan dagangan mereka kepada saya yang perempuan. Tentu saja, dagangan mereka menyasar pria.
Cuma saya jadi teringat lagi beberapa hari sebelumnya, saya juga melihat majalah bercover seronok di suatu gerai majalah di pusat perbelanjaan. Headline dalam cover majalah itu juga menjurus ke ’itu’. Saat itu, saya berpikir, ”Lho kok muncul kembali media model begini.” Seingat saya, setelah heboh majalah Playboy Indonesia, dan RUU Pornografi dan Pornoaksi (yang saya ga ingat kelanjutan dari RUU tsbt), majalah dan tabloid yang berbau pornografi dilarang beredar.

Nah lho, kok sekarang muncul lagi? Memang paska Yunus Yosfiah, menteri penerangan di paska reformasi 1998, mencabut pemberlakuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) mempermudah lahirnya surat kabar, majalah, berita radio, televisi dan situs berita online. Meski ada dampak positif berupa kebebasan pers, tapi dampak lain yah.... majalah dengan cover vulgar (termasuk isi yang menjurus) seperti itu juga marak. Secara kasat mata, kita bisa membedakan, jika berbentuk tabloid, cetakan dalam kualitas seadanya termasuk bahan kertas yang murah. Selain itu, pose para model tampil seronok asal terbuka. Misalkan model menunduk menampilkan belahan dada yang ”blewah” alias montok, atau bagian depan ditutup dengan sehelai handuk atau kain (yang membuat imaji pembaca, model tidak mengenakan sehelai benang pun di belakang handuk itu), atau tali beha dipelorotkan. Sementara untuk yang majalah, selain bahan kertas yang lebih tebal dan mahal sehingga hasil cetak juga luks; biasanya juga berkonsep didukung pengambilan foto yang lebih artistik dan desain grafis oke.
Akan tetapi, fokus media dalam bentuk tabloid atau majalah tersebut sama. ”Memuaskan dahaga mata (khususnya kaum pria).” Isi tulisan juga seputar lifestyle yang yah... begitulah. Saya singkat saja media seperti itu sebagai ”majalah syuur.”
Nah, waktu itu majalah syuur sempat ditertibkan dan dilarang. Sempat pula terjadi penggebrekan kantor redaksi majalah khusus pria oleh suatu ormas agama. Ohya, mungkin karena sekarang ormas itu ditertibkan aparat keamanan, investor media berani lagi untuk menerbitkan majalah syuur. Sejauh ini, saya belum menemukan media syuur dalam bentuk tabloid. Akan tetapi, saya jadi bertanya, bagaimana nasib aturan pelarangan penerbitan majalah syuur?
Saya pribadi bukan pendukung pembredelan majalah syuur. Biarkan orang yang punya selera demikian pergi membeli. Asalkan majalah seperti ini punya aturan atau pembatasan dalam tempat berjualan.
Saya TIDAK SETUJU jika para loper koran bebas menjual majalah syuur di lampu merah. Aduh, seandainya saya ibu yang tengah membawa anak kecil, saya pastilah risih atau berdebar-debar menanti pertanyaan anak saya. Atau apakah harus menutup mata anak saya? Berarti semua mata juga punya kebebasan memandangi ’dada-dada menantang’ dan bagaimana jika pengemudi di belakang setir tidak konsentrasi dan mengakibatkan tabrakan?
Sebagai perempuan, secara pribadi saya risih. Saya yang punya ”onderdil sama” dengan yang dipajang di cover majalah tersebut, merasa saya tengah ”ditelanjangi” atau ”tampil telanjang” di mata supir saya yang satu mobil. Nah, bagaimana pula perasaan para wanita yang ada di dalam taksi, bis umum, atau pejalan kaki di pinggir jalan raya?
Selayaknya media seperti itu diberi pembatasan hanya dijual di lapak atau agency koran. Dan tidak seenaknya dijual di tepi lampu merah. Selain itu, ada aturan jelas mengenai umur pembeli, misalkan harus yang sudah berumur 18 tahun ke atas, yang boleh membeli media tersebut.
Pelarangan bukan hal efektif apalagi di saat batasan-batasan makin lebur di tengah globalisasi dan internet. Tapi apakah pemerintah tidak mau berpikir untuk memberi batasan dalam hal lokasi penjualan media syuur? Jika tayangan televisi dan bioskop saja sudah punya lembaga sensor untuk batasan boleh dan tidak untuk sesuatu yang ditampilkan. Televisi dan bioskop saja masih dibatasi dengan ketersediaan akses listrik, kemampuan finansial untuk membeli si kotak kaca atau tiket bioskop. Sementara media cetak bisa ditaruh di mana saja.
Hmm, semoga tulisan saya ini dibaca oleh para pihak yang memiliki kepentingan dalam mengambil sikap tegas.
(Gambar dikutip dari : www.uniquetranslations.dk)
Aku, Malam dan Kunang-Kunang

Kunang-kunang, maafkan aku
membuatmu tersulut api cemburu
Ketika kucumbu malam
Ia hanya teman menanti di tepi danau
Menunggu bintang membawaku terbang
Kunang-kunang, ku tahu sedihmu
Nyalang sorotmu saat kupeluk malam
Ia memang hangat memeluk
Bukan surya yang garang membara
Membakar sayapmu, melepuhkan kulitku
Aku mereguk malam
Aku pun memimpikan bintang
Kini diriku pun kalut,
Adakah bintang ingat diriku,
Atau dia terpana kilaumu
P.S. : Biasanya aku mengasosiasikan malam ’berpasangan’ dengan bintang. Tapi postingan rekan BuMa membuat aku terpikir ide menyandingkan malam bersama kunang-kunang. Hehe...mungkin akibat jarang ingat kunang2 karena terakhir melihat si hewan malam ini sekitar 10 tahun di daerah Karangsambung, Kebumen.
(Gambar dikutip dari : "fairies & fireflies067" dari www.flashbacks-photo.com)
Doa Bola

Waktu kecil :
Ya Tuhan,
Izinkan aku terbangun malam nanti
Ku ingin nonton bola bersama ayah
Beringsut dari kamar ke depan tv
Dan terlelap di dada ayah
Waktu remaja :
Ya Tuhan!
Ganteng sekali si kaus nomor 9
Izinkan negara mereka menang
Waktu dewasa :
Ya Tuhan,
Semoga ayahku tidur lelap
Lebih baik ia istirahat cukup daripada nonton
mmmm... (diam sejenak)
oh ya, Tuhan, bukan aku melanggar peraturanMu
tapi izinkan aku menang adu intuisi
dan biarkan aku menikmati duitnya
(Gambar dikutip dari www.gemstoneking.net)
Wednesday, June 11, 2008
Malaikat Kecil

Lantunan doa pun dipanjatkan saat engkau datang :
jadilah engkau cahaya di bumi, dan kasih di sepanjang masa
Seperti sinar mentari membelah hari, menyambut malaikat kecil
Beri kerling matamu agar kami merasakan surga
Genggam jemariku, mari bermain dan kuperkenalkan dunia.
P.S. : terinspirasi dari rekan di BuMa yang baru punya bayi, sebagai balasan puisi.
(gambar : tidak tahu pasti sumbernya. ini gambar favorit saya hasil kiriman teman)
Melepas Masa Lalu
Semalam ada kamu, menyambutku dan memelukku Kita berpelukan bahagia..... kita sangat bahagia
Hanya ada saling pandang dan rangkulan mesra.
Semalam,
Senyum kamu terindah diantara sejuta senyumanmu
Tanpa bicara, mata kita melontarkan kata.
Hari ini aku terbangun
Aku tahu makna mimpiku
Kita sudah ikhlas saling melepas
Tak ada tangis, hanya bayang kelabu yang sirna,
Kusambut pagi ini dengan cahaya.
Jakarta, awal juni’08
(Gambar dikutip dari : easy dream interpretation)
Celoteh Hari Ini
Pernahkah kamu mengalami hari yang rasanya 'hambar' banget?? Males? Duh, ini kejadian di Kamis, 5 Juni lalu, dengan kondisi lagi deadline, plus beberapa tugas yang juga menumpuk, tapi otak kayak tidak kompromi untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
hari ini aku lagi enggan berpikir
tak mau jadi kerbau kerja setelah terlecut
tapi otak tak mau bersahabat
meski hari ini tenggat waktu
hari ini aku tak mau terima telpon
meski kuangkat pula seraya menyunggingkan senyum manis
berharap senyum terlarut bersama suara merduku
menjawab aneka ini itu
sore ini aku bakal pergi undangan
entah basa basi apa yang bakal kupasang
bertemu kaum -yang katanya-sosialita
berbicara dari remeh temeh, politik, ekonomi dan entah apa lagi
sore nanti aku bakal menghabiskan waktu tak terbatas
sesap anggur sembari berharap aku mampu lalui hari
wajahku kurias make-up bekal cium pipi kiri-kanan
mungkin di tengah kejenuhan,
aku bermimpi ada pangeran menculikku dari pesta itu
hari ini aku ingin berlindung di balik selimut
dalam kamar sepetak kusebut kerajaan pribadi
membayangkan pantai bermandi cahaya dan ombak menyambutku
tapi jatah liburku sudah dibantai cuti bersama... aduh!
Subscribe to:
Posts (Atom)

