Thursday, May 29, 2008

"Berlebihan" atau "Tidak di Saat yang Tepat"? (Promosi Tung Desem)

Motivator Tung Desem Waringin mau tebar duit Rp 100 juta di Parkir Timur Senayan tgl 1 Juni nanti. Menurut berita yang saya baca di website Detik ini, hal tersebut dilakukan terkait peluncuran buku terbarunya.

Yah! Orang ini memang terkenal dengan trik marketing yang bombastis dalam mempromosikan bukunya. Sebelumnya, waktu mempromosikan buku ”Financial Revolution”, Tung naik kuda menyusuri jalan Sudirman. Memancing perhatian masyarakat melalui hal spektakuler sepertinya menjadi triknya. Saya yang mengulas rencana promosi bukunya, secarat tidak langsung juga menjadi media promosional bagi motivator berusia 42 tahun itu.

Namun, trik di atas apakah tidak berlebihan? Maksudku, di tengah sebagian besar masyarakat tengah ’berteriak’ akibat kenaikan harga BBM, diikuti sejumlah kenaikan bahan pokok (malah, sudah jauh hari harga-harga barang kebutuhan sudah naik duluan), transportasi, gas habis, dsb?

Bahkan, baca Koran Tempo hari ini (Kamis, 29/5) tarif jalan tol Jakarta-Cikampek yang naik, saya perkirakan bakal berimplikasi terhadap kenaikan komoditas dan produk tertentu. Bukankah jalur tol tersebut adalah rute ’gemuk’ dan strategis? Jalur sepanjang 72 kilometer sebagai akses Pantai Utara Jawa (Pantura), menghubungkan Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Berapa banyak truk yang bolak balik mengangkut komoditas, bahan baku atau produk hasil jadi dari pabrik-pabrik di luar Jakarta? Sudah harga bensin melonjak, komponen harga transportasi (tarif tol) ikut loncat. Dari dulu pengelola jalan tol selalu berdalih demi meningkatkan pelayanan.

Ya ampun! Saya membayangkan Parkir Timur Senayan pada Ahad nanti bakal dipadati orang-orang seperti antri sembako. Ada yang pingsan, kecapean, atau berakhir rusuh. Memang dalam berita di website tidak dijelaskan, apakah uang dalam bentuk lembaran. Atau kalau dalam bentuk recehan, hehe.. siap-siap bawa baskom dan helm supaya kepala ga benjut kena sambit!

Silahkan saja cara berpromosi demikian dilakukan. Hanya saja, momennya sekarang ini kurang tepat. Di tengah orang sedang mengantri menjadi ’rakyat miskin’ dan mencairkan bantuan tunai langsung.

Akan tetapi, kalau gua ga ada kerjaan, daripada bengong di kos, mungkin acara tersebut bisa diagendakan dalam kegiatanku di hari libur. Sambil bawa body protector, sepatu kets, dan tas besar, supaya gesit di antara keramaian.

2 comments:

Ariantini Yatim said...

Secara teknik promosi sepertinya Tung sukses, karena taktiknya original dan terbukti memang di cover media banyak banget. Tapi secara manusiawi ya rada miris, melihat rakyat lari2 tua muda anak2 rebutan uang, kok seperti jaman susahhh banget.

aura-azzura said...

nah itu dia, mbak Tini. mungkin secara promosi ide nya orisinil. tp, bisa tergelincir dikatakan ga sensitif thdp kondisi masyarakat terkini.

dan apakah promosi itu akan kena sasaran atau malah menciptakan kesan Tung adalah orng yg tidak peka/tidak sensitif?