Monday, December 01, 2008

Bibir Sumbing

“Lho, gue kan Batman, masih bangun malam-malam,” kataku.

”Hehehe.... Tahu apa beda Batman dan Superman?” balas si lelaki, sebut saja X. Lalu ia melanjutkan perkataan, ”Batman pakai celana dalam di dalam, sedangkan Superman pakai celana dalam di luar,” katanya.

”Hehehe...”

”Tahu apa beda lain dari Batman dan Superman?” kata X.

”Batman pakai topeng, sedangkan Superman tidak pakai,” jawabku.

”Bukan. Batman itu sumbing, sedangkan Superman dobel sumbing,” kata X.



Saya speechless. Maksud lu apa???

Yap! Saya memang lahir dengan berbibir sumbing. Saya sadar, parut itu memang terlihat di mata orang-orang yang memandang wajah saya. Namun, saya anggap baru kali ini mendengar ucapan paling menohok dari seseorang.

Apakah saya menjadi terhina? Yap! Memang!

Tapi, apakah gara-gara ucapan itu saya merasa rendah diri? Tidak!

Apakah saya jadi merendah, menganggap diri tidak pantas untuk dekat-dekat dirinya? No way!

Justru, saya bisa menilai kedangkalan otak pria tersebut, yang cuma tau berkelakar gaya Srimulat. Menembak kekurangan orang. Apalagi cuma berani berkomentar demikian via telepon. Lebih jauh lagi, siapa pula yang duluan mengejar-kejar dan menelepon? Situ kan? Bukan saya yang mencari Anda. Aih, mungkin kejantanan dia memang hanya sejempol. Sejengkal pun tidak layak untuk saya jadikan teman.

Dalam peristiwa lain, beberapa waktu lalu saya pergi tugas ke luar kota. Bapak yang bertugas mengantar-jemput kami selama di sana, dalam suatu sesi pemecah kesunyian di mobil, berkata :

”Bapak wakil bupati juga sumbing,” kata dia. Saya jelas mengerti maksud kata ’juga” dalam obrolan dia.

”Ohya?” hanya itu jawaban saya. Hanya dalam hati saya membatin, ”Biar sumbing tapi beliau jadi wakil bupati. Sedangkan kamu? Cuma jadi supir….”

Bibir sumbing hanya tidak enak dilihat oleh mata yang memandang. Selebihnya, tidak ada yang patut dikasihani. Kami dikaruniai otak yang normal (contohnya, dalam suatu tes IQ saya bahkan termasuk kategori di atas rata-rata) dan bentuk fisik yang sama dengan manusia lainnya.

Dengan kata lain, kami bisa berpikir, dan memanfaatkan semua kemampuan panca indera. Tidak butuh fasilitas-fasilitas khusus yang memposisikan kami handicapped. Persoalan yang kami hadapi hanya perlu dipecahkan dengan uang dan operasi plastik. Atau make-up koreksi melalui kosmetik.

Memang ini problemnya. Kaum bibir sumbing menderita Pelecehan Mental, antara lain :
1. Akan menyakitkan hati jika ibu-ibu hamil menatap muka kami, lalu terlihat mengusap-usap perutnya yang melendung. Duh, ketauan sekali di dalam hati dia berkata ”Amit-amit. Semoga bayi saya tidak lahir seperti itu”. (Tapi tentu bayi orang tersebut tidak bakal berbibir sumbing gara-gara melihat orang berkondisi demikian).
2. Kami berotak normal, dan tidak ada kekurangan fisik. Sehingga dalam persaingan kerja, pelajaran, olahraga dsb orang-orang ’kalah’ mencari kelemahan dengan menjadikan kondisi muka kami sebagai sasaran tembak. Seolah berkata, ”Halah, mau kamu menang, duit punya, tapi kamu kan Sxxxxxx. Ada kekurangan yang diberikan sama kamu.”
3. Mendapat pertanyaan tolol dari orang, ”Di bibir kamu itu kenapa?” seraya memperagakan tangan di atas mulutnya.
4. Mendapat pengalaman tidak simpatik dari seorang dokter bedah plastik wanita saat saya berusaha wawancara untuk liputan kesehatan. Wanita itu judes, tidak ramah, dan sombong. Mungkin memang begitu kelakuannya, namun aku jadi menangkap kesan dia mengira saya adalah wartawan miskin yang bermanis-manis dulu, lalu jika sudah kenal, minta dioperasikan gratis. Cuih..! Padahal, saya (notabene : pakai uang orangtua) sudah merasakan bedah plastik negeri tetangga jauh sebelum kamu menjadi dokter bedah kenamaan di Indonesia!

Bagi saya pribadi, memang syukur mendapat orang tua cukup berada sehingga mampu membawa saya ke dokter bedah plastik. Jadi, tidak selalu kelahiran dalam kondisi seperti ini berasal dari kalangan miskin.

Selain itu, dari kecil orangtua saya tidak membeda-bedakan saya dengan saudara saya yang lain (yang normal). Bahkan, meski anak bungsu tidak mengalami over proteksi. Sekarang saya paham bahwa mungkin itu bagian dari pelajaran bahwa dunia tidak bakal seramah di rumah.

Apakah karena keturunan? Berdasarkan suatu literatur, kawin antar kerabat atau saudara bisa memicu (yang jelas ini bukan terjadi di keluarga saya). Akibat kekurangan seng di saat hamil. Bagi tubuh, seng dibutuhkan enzim tubuh. Atau kekurangan vitamin B6 dan B kompleks, infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat-obatan atau jamu.

Ingatan saya tentang rumah masa kecil, keluarga kami memelihara berbagai jenis hewan karena kakak-kakak saya doyan binatang. Mulai dari burung (perkutut, merak, nuri), anjing, ikan, ayam, kelinci hingga monyet. Jadi saya bakal menggaris bawahi untuk tidak memiliki hewan peliharaan di dalam rumah.

Pernahkah saya marah kepada Tuhan? Bertanya mengapa Ia tidak tersenyum ketika menciptakan saya? Pernah! Tapi, marah-marah tidak bakal membuat saya berubah menjadi Milla Jovovich. Kemudian saya anggap ini jadi pengingat diri untuk menjadi manusia yang rendah hati. Pandai memilih kata-kata yang diucapkan, supaya apa yang meluncur dari bibir ini bukan hinaan terhadap orang lain, bukan nge-gosip gomongin orang.

Kaum berkondisi seperti ini pastilah orang yang sensitif. Meski dia berbalut baju mewah, berkosmetik Elizabeth Arden, dan bersepatu Jimmy Choo.

Namun, lahir dengan kondisi ini, jangan menjadi rendah diri dan tertutup. Justru harus Sadar Diri dan Jaga Diri.

Sadar Diri bahwa hidup ini adalah kompetisi. Harus bekerja ekstra ketimbang ’orang normal’. Tidak mungkin bersaing dari sisi wajah, namun berlatih untuk mengisi otak. Muka ga menarik, tapi badan dirawat. Harus ada sisi lain yang membuat mampu menegadahkan muka. Termasuk membuktikan bisa mencari uang sendiri. Tidak berlebihan memang, tapi yang penting cara halal, cukup untuk belanja dan sebagian ditabung. Bukan parasit menunggu tunjangan dari orang tua.

Membuat kita jaga diri, khususnya untuk yang perempuan. Kalau kita tidak menghormati diri, apalagi kehormatan lain yang bisa kita banggakan? Bagaimana dalam kisah cinta? Perempuan berkondisi demikian sepertinya lebih sulit dalam kisah cintanya dibanding pria. Mungkin memang kondisi seperti ini membuat kita (perempuan) bisa menjadi teman yang baik, namun dianggap bukan pasangan yang bagus. Kesannya bahwa kita dikutuk dewa. Namun saya tidak bakal meringkuk menangis di sudut tempat tidur gara-gara itu. Daftar nama pria yang pernah kukencani berderet, pacaran dan patah hati juga bagian dari hidupku seperti wanita lainnya. Bibir yang tampilannya tak menarik ini, juga sudah lebih dari sekali dikecup - dan lelaki tersebut yang memulai duluan, paling tidak membuktikan meski kondisi bibir saya begini, tidak ada masalah dalam hal itu- berarti dia yang tertarik, bukan??

Kita toh hidup bukan untuk menjadi Cinderella menunggu Pangeran Tampan. Hanya masalah waktu untuk menemukan pria yang melihat kita lebih dari ’itu’. Jika suatu waktu pangeran itu hadir, tentulah bukan HANYA melihat kita dalam segurat parut mengganggu di wajah. Karena –seperti saya bilang di awal- parut ini bisa hilang berkat operasi atau koreksi kosmetik. Mari menjalani hidup sembari menanti orang yang bakal melihat sejumlah kelebihan kita : cerdas, baik hati, setia, penuh kasih sayang, teman dalam suka maupun duka, dsb

Semoga tulisan ini menginspirasi rekan-rekan berkondisi sama.

PS : Mr. X belum pernah merasakan ciuman maut saya... :p

4 comments:

Merry Magdalena said...

Ih siapa yg berani ngomong gitu no?? Sini gue tonjok mukanya sampe nyonyor. Dia otaknya di dengkul apa di pantat sih?? Sini no aduin ke gue siapa orangnya! Ggrrrrrrrr!!! pasti mukanya ancur total tuh orang sampe sirik sama Eno ku tersayang...

Restituta Arjanti said...

eno, baca postingan ini, ada 2 kesimpulanku tentang si mr. x. pertama, matanya rusak karena nggak bisa liat manisnya senyum eno. kedua, orangnya norak dan cuma menilai orang dari penampilan luarnya.

eh tambah 1 lagi, orangnya katro dan "nggak" banget. lawakan tentang batman vs. superman kan uda basi banget. nggak banget lah yaw!

M Fahmi Aulia said...

laki2 yg memalukan!
*speechless*

Hesti Kusuma Wardani said...

haiiii, saya sependapat dengan kamu. aku juga penderita bibir sumbing ko.beranjak ABG kita minder tapi setelah dewasa kita akan tau hikmah dibalik Allah menciptakan itu semua kenapa. Kita jauh lebih tegar qo dibanding orang yang normal